Showing posts with label trading saham. Show all posts
Showing posts with label trading saham. Show all posts

Tuesday, May 30, 2023

Bursa Efek Selayang Pandang

Selagi bersih-bersih, saya menemukan brosur Bursa Efek Selayang Pandang. Brosur tersebut sudah lawas, tapi isinya masih relevean untuk investor saham saat ini.

 
 
 Silahkan anda baca dan semoga bermanfaat.
 
 
 
 
Poin nomor 6, 7, dan 8 tentang "Apa yang menentukan pergerakan harga saham?" patut dicerna para pemain saham. 
 

 
 
Poin nomor 11 menyatakan bahwa anda harus mencari tahu sendiri cara bermain saham yang cocok untuk anda.


Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2023 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Wednesday, October 26, 2022

Ilmu Paling Penting di Bursa Saham

Tulis Gerald M. Loeb di buku The Battle for Investment Survival:

 

 

 

In my opinion, far and away the most important thing to master in Wall Street is the tape. It is possible to see only the tape, and nothing else, and make a lot of money.

Menurut saya, ilmu paling penting untuk didalami di bursa saham adalah pergerakan harga. Dengan hanya mengandalkan membaca pergerakan harga, seseorang bisa untung banyak dari saham.

 

The way to learn to read the tape is to try it. Try it, one stock at a time, with small positions. A very few will have the advantage of knowing someone who understands it. Most of the books and courses (excepting a very few) are theoritical.

Cara belajar membaca pergerakan harga saham adalah dengan mencobanya. Cobalah (belajar membaca pergerakan harga saham) dengan membeli satu saham dengan posisi kecil dan ikuti gerak harga saham tersebut. Sedikit orang yang kenal dan tahu orang yang mengerti pergerakan harga saham. Kebanyakan buku dan kursus (kecuali hanya segelintir) hanya berdasarkan teori saja. 

 

Stocks that are high and going higher are good buy. Stocks that are "cheap" and growing cheaper don't interest me from a buying angle.

Saham yang sudah tinggi dan masih naik adalah saham yang layak dibeli. Saham yang "murah" dan bertambah murah tidak menarik bagi saya untuk dibeli.

 

 

Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2022 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

 

Saturday, April 30, 2022

Cara Tepat Membeli (Lagi) Saham

Tulis Gerald M. Loeb di buku The Battle for Investment Survival:

 


 

The right way to do it is to pyramid. I have a buying power of 1,000 shares. I think Studebaker is going up. I buy 100 shares. It doesn't go up when it should, or worse, goes down. I sell it out. The loss can be charged to insurance, or experience, or as necessary cost of getting started right. Next, I buy 100 Chrysler. It begins to advance as I anticipated. So I buy 200 more. It still does well, so I buy another lot. And so on. .  .  

 If these principles were always practiced, one would always be long the right quantity of the right stock, because the measure of what stock to buy and how much of it to buy is the action of the market itself.

 

Cara yang tepat adalah melakukan piramid. Saya punya modal untuk membeli 1,000 saham. Saya pikir Studebaker akan naik. Saya beli 100 saham. Ia tidak naik seperti yang diharapkan, atau lebih buruk, turun. Saya jual. Kerugian tersebut dianggap sebagai asuransi, atau pengalaman, atau biaya yang harus dibayar untuk memulai dengan tepat. Selanjutnya, saya beli 100 saham Chrysler. Ia mulai naik seperti yang diharapkan. Jadi saya beli 200 lembar lagi. Ia masih juga naik, jadi saya beli lagi. Dan begitu seterusnya.

Kalau prinsip in selalu dilaksanakan, anda akan selalu memegang saham tepat dengan jumlah tepat, karena tolok-ukur saham apa yang layak dibeli dan berapa banyak yang layak dibeli ditentukan oleh pergerakan harga saham tersebut sendiri.

 

---###$$$###---

 

Poin-poin penting dari anjuran Gerald M. Loeb di atas:

  1. Tidak perlu takut membeli saham karena anda khawatir saham akan turun.
  2. Kalau setelah dibeli harga saham turun (sampai titik cut-loss yang sudah ditentukan sebelumnya), jual. Secepatnya. Jangan ragu.
  3. Kalau setelah dibeli saham naik, cari kesempatan baik untuk membeli lagi.
  4. Kalau masih juga naik, jangan takut untuk membeli lagi.
  5. JANGAN beli saham yang turun.
  6. LEBIH JANGAN lagi membeli lagi saham yang tambah turun (Average Down).
  7. BELI saham yang naik.
  8. Jangan takut memBELI LAGI saham naik yang masih naik (Average Up).
  9. Tidak perlu takut membeli saham karena anda khawatir saham akan turun. Dan siklus ini berlanjut lagi ke nomor 2 sampai nomor 9.

 

Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2022 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

Sunday, December 26, 2021

Averaging Down: Tips & Saran

Apa itu "Averaging Down"?

Averaging Down dalam bermain saham artinya adalah membeli lagi saham (yang anda sudah punya) di harga lebih rendah dengan tujuan menurunkan harga beli rata-rata.

Di pos "Arti Istilah 'Averaging Down'" saya kemukakan bahwa secara umum, melakukan Averaging Down adalah tindakan yang salah.

Masalahnya, saya merasa bahwa banyak pemain saham sering melakukan Averaging Down. Mayoritas melakukan Averaging Down karena mereka tidak tahu bahwa itu tindakan yang salah. Tapi tidak sedikit pula pemain saham yang tahu bahwa Averaging Down adalah tindakan yang salah tapi tetap saja mereka lakukan.

Karena itu, di bawah ini saya akan memberikan tips dan saran Averaging Down agar tindakan yang salah tersebut tidak menjadi fatal.

 

Tips dan Saran "Averaging Down" Pertama

Karena tindakan Averaging Down secara umum adalah tindakan yang salah, saran saya yang pertama adalah: JANGAN melakukan Averaging Down.

Daripada melakukan Averaging Down, lebih baik anda cut-loss (jual rugi) saja saham tersebut.

Tapi mas Iyan, sergah anda, saya tidak mau cut-loss. 

Nah, kalau anda masih juga tidak mau cut-loss, silahkan lanjut ke Tips Kedua

 

Tips dan Saran "Averaging Down" Kedua

Kalau anda bersikukuh masih ingin melakukan Averaging Down walaupun sudah tahu bahwa tindakan itu salah, belilah lagi saham tersebut hanya kalau sudah turun (relatif) banyak.

Artinya begini: kalau anda punya saham CAPE dan CAPE biasanya bergerak naik-turun 10% per hari, JANGAN Average Down ketika CAPE turun hanya 10% (atau kurang) dari harga beli anda. Belilah CAPE kalau harganya sudah turun lebih dari 10%, misalkan 20 atau 30%.

Mengapa?

Karena kalau anda membeli lagi CAPE saat ia turun sedikit, dan CAPE masih turun lebih dalam, kerugian anda akan bertambah banyak.

Mohon diingat bahwa anda melakukan Averaging Down dengan harapan setelah anda beli CAPE lagi, CAPE akan berhenti turun dan berbalik naik. Masalahnya, kalau anda belinya terlalu dekat (dari harga beli pertama), kemungkian besar CAPE masih akan turun lebih dalam lagi.


Tips dan Saran "Averaging Down" Ketiga

Saat melakukan Averaging Down (pertama), belilah saham dalam jumlah relatif sedikit dari saham yang sudah anda miliki.

Artinya begini: Kalau anda sudah punya saham CAPE sebanyak 100 lot, dan saham CAPE turun dan anda mau membeli lagi, belilah lagi (pertama kali) dalam jumlah 50 lot atau kurang.

Artinya juga, JANGAN BELI saham yang di Average Down dalam jumlah LEBIH BANYAK dari yang sudah anda miliki.

Mengapa?

Masih alasan sama seperti di atas: setelah anda beli lagi saham CAPE, saham tersebut masih bisa turun lagi.



Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2021 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Monday, August 23, 2021

Kapan Saat Membeli Lagi Saham Yang Sudah Punya?

Tulis Gerald M. Loeb:

Belief that a stock is in buying range justifies a small initial purchase. If the stock declines, it should be sold at a small and quick loss. But if it advances and the indications which supported the original purchase continue favorable, additional purchase can be made at prices which the buyer still considers abnormally low. But once the price has risen into estimated normal or overvaluation areas, the amount held should be reduced steadily as quotations advance.

 

 

Kalau menurut anda saham layak dibeli, cobalah beli saham tersebut dalam jumlah (relatif) kecil. Kalau setelah itu harga saham turun, saham tersebut harus dijual cepat saat rugi masih sedikit. Tapi kalau harga saham naik, silahkan beli lagi saham tersebut kalau menurut anda harga masih (relatif) murah. Setelah harga saham naik ke harga wajar atau bahkan lebih dari wajar, sebaiknya saham tersebut dijual sedikit-demi-sedikit saat harga naik.


---###$$$###---

 

Menelaah tulisan Gerald M. Loeb di atas, anda bisa mendapatkan poin-poin berikut:

  1.  Kalau menurut anda saham layak dibeli, silahkan (coba) beli (dalam jumlah sedikit).
  2. Anda tidak tahu saham tersebut akan naik atau akan turun.
  3. Kalau turun, langsung cut-loss.
  4. Kalau naik, silahkan dipegang (saham yang sudah ada), atau boleh juga beli lagi kalau menurut anda harga saham masih akan naik lagi.
  5. Kalau naiknya sudah (relatif) banyak, silahkan mulai dijual sedikit-demi-sedikit. Tidak perlu langsung menjual semua.
  6. PENTING: Beli saat harga saham naik.
  7. Juga PENTING: Jangan menambah beli kalau harga saham turun. Kalau harga turun, CUT-LOSS.



Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2021 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

 

Sunday, June 27, 2021

Setelah Membeli Saham: Hold, Jual, Beli lagi?

Tulis Gerald M. Loeb di buku The Battler for Investment Survival: 

 

As soon as security is purchased, the buyer loses the power to avoid a decision. It becomes necessary for him to decide whether to hold or sell. As an inexorable consequence, the percentage of correct conclusions must be lowered. Therefore, intelligent investors expect to make a great many more error in closing transactions than in opening them.

Begitu saham dibeli, pembeli kehilangan kuasa untuk menghindari keputusan. Ia harus menentukan apakah saham tersebut harus dipegang atau dijual. Sebagai konsekuensinya, persentase keputusan tepat (saat menutup posisi) adalah lebih rendah. Karena itu, investor berpengalaman sadar bahwa ia akan membuat (lebih) banyak kesalahan saat menutup posisi daripada saat membuka posisi.


When nothing but cash is held, no decision need be made at all unless conditions are completely satifactory.

Saat kita hanya memegang uang tunai, keputusan tidak perlu dibuat terkecuali kalau konsidi sangat mendukung.

 

Another reason why selling at the right time is more difficult than buying is that the development of a frame of mind in which only real bargains are sought carries with it a tendency to lose confidence too early.

 


 

---###$$$###---

 

Setelah membeli saham, anda harus (dan tidak bisa tidak) mengambil keputusan.

Apakah saham tersebut tetap dipegang (hold), alias tidak dijual.

Apakah saham tersebut harus dijual.

Bukan itu saja. Masih ada satu keputusan lagi: Apakah saham tersebut harus dibeli lagi.

Jadi mas Iyan, ada 3 keputusan yang harus kita lakukan setelah membeli saham. Gak terlalu ruwet kan?

Bagus kalau anda berpikir hal ini tidak ruwet.

Tapi saya adalah orang yang ruwet dan sering meruwetkan masalah yang (kelihatannya) tidak ruwet.

Lho?

Memang setelah membeli saham, ada 3 keputusan utama yang harus anda tentukan: pegang (hold), jual, dan beli lagi. Tapi bukan itu saja. Banyak hal detil yang harus dipertimbangkan.

Kalau saham dipegang, dipegangnya sampai kapan? Sampai harga berapa?

Kalau saham dijual, jualnya di harga berapa? Sekarang atau nanti? Jualnya saat saham masih naik atau tunggu saham turun? Di harga Bid atau di harga Offer? Jualnya sebagian atau seluruhnya? Kalau sebagian, berapa bagian yang dijual sekarang?

Kalau saham dibeli lagi, belinya di harga berapa? Sekarang atau nanti? Belinya saat saham masih naik atau saat saham turun? Di harga Bid atau di harga Offer? Belinya berapa banyak? Apakah sama jumlah lotnya dengan pembelian pertama? Atau lebih sedikit? Atau lebih banyak?

 

Jadi, mohon dimaklumi:

Saat memutuskan membeli saham (membuka posisi), anda akan membuat banyak keputusan beli yang salah.

Tapi saat anda sudah membeli saham, anda akan membuat LEBIH BANYAK lagi keputusan salah.

 

 

Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2021 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Tuesday, November 16, 2010

10 Tips Cara Mencegah Petaka Trading

Protected by Copyscape Online Plagiarism Tool


Ada tips menarik dari GFT tentang cara mencegah tragedi trading. Coba download di link berikut: GFT's 10 Tips to Avoid Trading Tragedy.

Kalau saja sekuritas saham di sini memberikan tips seperti, pemain saham pemula, baik investor ataupun trader, akan mengerti resiko main saham dan lebih berhati-hati.

Tips tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Learn the rules of the road. Pelajari rambu-rambu jalan.
  2. Pick a route and stick to it. Pilih rute dan jalankan.
  3. Practice. Berlatihlah.
  4. Check the conditions before placing a trade. Pelajari keadaan sebelum melakukan trading.
  5. Know how far you can afford to go. Tahu berapa jauh anda dapat bertahan.
  6. Know where to stop along the way. Tahu kapan harus berhenti.
  7. Avoid road rage. Jangan emosi di jalan.
  8. Know what type of driver you are. Tahu anda tipe pengemudi seperti apa.
  9. Remember, slow and steady. Ingat, perlahan tapi pasti.
  10. Never be afraid to explore a new path. Jangan takut untuk mencoba jalan baru.
Catatan: Saya tidak punya account di GFT dan tidak terafiliasi sama sekali dengan mereka. 







Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2010 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

Saturday, October 16, 2010

Investasi Saham atau Trading Saham, Mana Lebih Baik? (Bagian II)

Protected by Copyscape Online Plagiarism Tool

Pos ini adalah lanjutan dari "Investasi Saham atau Trading Saham, Mana Lebih Baik? (Bagian I)."

Setelah membaca Bagian I, anda mungkin menjadi bingung dan bertanya, "Jadi sebenarnya mana yang lebih baik, investasi saham atau trading saham?"

Saya tidak bermaksud membingungkan anda tetapi ingin menunjukkan satu prinsip penting yang harus anda pegang jika mau sukses main saham:

Hanya karena pakar menganjurkannya, tidak berarti hal itu baik untuk anda.
 

[Prinsip ini harus juga anda terapkan pada semua saran di blog ini: jangan ditelan bulat-bulat; bandingkan dulu dengan kondisi anda.]

Mengapa?

Karena anjuran pakar sifatnya umum tetapi anda adalah unik. Begini contohnya: pakar kesehatan menganjurkan kita untuk berolahraga, suatu anjuran yang baik. Tapi "berolahraga" itu tidak spesifik. Apakah artinya kita harus angkat beban atau lari atau berenang atau main badminton? Apakah kita harus melakukannya setiap hari, dua hari sekali, tiga hari sekali, atau setiap minggu? Kalau berolahraga melebihi kemampuan fisik, kita malahan bisa sakit atau cedera, bukannya sehat.

Jadi, untuk menentukan apa yang baik untuk kita, kita jangan menerima langsung semua yang dianjurkan pakar, tetapi harus terlebih dahulu menganalisa diri kita sendiri. Untuk menjawab pertanyaan "Mana yang lebih baik, investasi saham atau trading saham" anda harus terlebih dahulu menimbang tiga hal berikut:

  1. Tingkat kesabaran anda
  2. Waktu yang dialokasikan
  3. Toleransi terhadap resiko

Tingkat kesabaran

Kalau anda tipe sabar, investasi lebih cocok; kalau tidak sabar, trading lebih cocok.

Saya rasa ini cukup jelas. Jika anda tipe tidak sabar tapi memilih strategi beli-dan-pegang, anda akan tergoda menjual ketika saham baru naik sedikit. Setelah anda jual, saham mungkin akan naik dan terus naik. Anda kehilangan kesempatan untung lebih banyak karena ketidaksabaran anda.


Waktu yang dialokasikan

Kalau anda tidak bisa meluangkan banyak waktu, jangan memilih trading. Pilihlah investasi.

Investasi jangka panjang memberi anda kesempatan untuk mengambil keputusan tanpa buru-buru. Strategi ini juga membebaskan anda dari keharusan memantau harga saham setiap menit.


Lain dengan trading. Kalau anda memilih trading tapi anda sering sibuk dengan kegiatan lain, saham anda mungkin sudah turun ketika anda sempat memantau harganya.


Toleransi terhadap resiko

Kalau anda punya toleransi tinggi terhadap resiko, pilih investasi; kalau tidak, pilih trading.

Kalimat di atas terdengar kontradiktif, tapi tidak demikian. Investasi jangka panjang berarti kita beli-dan-pegang saham terus menerus.
Artinya, seorang investor harus tahan mental melihat saham yang ia miliki turun dari Rp 5000 ke 4000 ke 3000 ke 2000 ke 1000. Selama kondisi perusahaan memenuhi kriteria yang ia terapkan, si investor tetap memegang saham tersebut.

Tapi perlu juga anda perhatikan bahwa selama anda memegang saham suatu perusahaan, kondisi perusahaan bisa berubah dari baik menjadi buruk karena hal-hal yang tidak kita perhitungkan.

Ada baiknya saya ilustrasikan dengan contoh. Misalnya kita beli-dan-pegang saham pabrik A di harga Rp 1000. Setelah 1 tahun, saham itu naik menjadi 1200. Anda senang karena, di atas kertas, sudah untung 20%. Tiba-tiba pabrik A hangus dilalap api. Saham A anjlok dari Rp 1200 menjadi 500. Dalam sekejab, posisi untung 20% berbalik menjadi rugi 50%. Saham A mungkin saja naik lagi ke 1200, tapi tidak ada jaminan hal itu akan terjadi. Kalaupun terjadi, mungkin memakan waktu lama.

Berbeda dengan trading. Trading berarti kita hanya memegang saham dalam waktu pendek. Kalau saham naik, kita jual; kalau turun sampai titik cut loss, juga kita jual. Kita tidak terpengaruh oleh resiko perusahaan atau resiko pasar jangka panjang.

Saya sendiri memilih menjadi trader karena toleransi saya terhadap resiko sangatlah rendah. Saya tidak tahan melihat saham yang saya miliki turun. 

Misalkan saya membeli saham KIJA di 165. Beberapa hari kemudian KIJA turun ke 155. Untuk investor buy-and-hold, posisi rugi Rp 10 (6%) adalah hal yang tidak perlu dipikirkan. Tapi bagi saya, kerugian 6% ini membuat saya tidak enak makan, tidak enak tidur. Daripada tidak bisa tidur, lebih baik KIJA tersebut saya jual dan menelan rugi 6%.

Setelah menganalisa tiga hal di atas, anda siap menentukan sendiri mana yang lebih baik untuk anda, investasi saham atau trading saham. 






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2010 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

Saturday, October 9, 2010

Investasi Saham atau Trading Saham, Mana Lebih Baik? (Bagian I)

Protected by Copyscape Online Plagiarism Tool

Sejak Warren Buffet menjadi orang kedua terkaya di dunia versi majalah Forbes pada tahun 1990an, hampir semua pakar menyatakan bahwa satu-satunya strategi main saham yang menghasilkan adalah investasi saham jangka panjang (buy-and-hold) seperti yang dilakukan Mr. Buffet. Kalau anda tidak percaya, si pakar akan menyebut nama Warren Buffet. Lah, wong orang yang melakukan investasi saham buy-and-hold berhasil menjadi orang terkaya di dunia, berarti buy-and-hold adalah strategi terbaik, begitu argumentasi si pakar.

Namun sejak tahun 2008, kala Amerika diterpa krisis sub-prime mortgage yang membangkrutkan Lehman Brothers, banyak orang mulai bertanya-tanya apakah buy-and-hold adalah satu-satunya strategi tepat main saham. Mengapa baru timbul keraguan saat itu? Tidak lain karena investor yang beli-dan-pegang saham Amerika sejak tahun 2000 sampai dengan 2008 mendapat imbal hasil nol, bahkan negatif.

Kalau beli-dan-pegang tidak menguntungkan pada periode tersebut, mungkinkah strategi trading saham lebih baik?

Mungkin saja. 


Tapi untuk menentukan mana yang lebih baik, kita harus membandingkan imbal hasil (return) kedua strategi tersebut. Nah, di sini kita dihadang masalah. Di satu pihak kita dapat dengan mudah menghitung imbal hasil buy-and-hold: kita hanya perlu membandingkan harga saham waktu kita beli dan harga saham sekarang. Tapi di pihak lain kita sulit menentukan imbal hasil trading saham karena ada ribuan bahkan jutaan cara melakukan trading. Dengan begitu banyaknya cara trading saham, yang manakah yang layak kita pakai sebagai bahan perbandingan?

Memang, secara teoritis trading saham bisa jauh lebih menguntungkan daripada buy-and-hold. Begini maksud saya: kalau kita bisa membeli saham di harga terendah tahunan (low of the year) dan menjual di harga tertinggi pada tahun itu (high of the year), dan melakukan itu setiap tahun selama bertahun-tahun, imbal hasil kita akan amat sangat lebih tinggi dari strategi beli-dan-pegang. 


Masalahnya, tidak pernah ada satu orangpun yang berhasil melakukan hal ini dan hampir tidak mungkin ada yang bisa melakukan hal ini secara konsisten.

Mungkin kesulitan yang saya sebut di atas adalah alasan lain (selain Warren Buffet sang investor buy-and-hold yang menjadi orang terkaya di dunia) mengapa pakar selalu merekomendasi strategi beli-dan-pegang saham. Dengan menganjurkan strategi ini si pakar dapat dengan mudah menghitung imbal hasil dari data yang ada. "Kalau anda mulai buy-and-hold pada tahun 2000," kata si pakar, "sekarang ini investasi anda naik 5%. Tapi kalau anda mulai sejak tahun 1990, investasi tersebut sudah naik 500%." 


Tapi kalau si pakar merekomendasikan trading, ia sulit menghitung imbal hasil teoritis yang kita dapat karena ia tidak tahu harus memakai data yang mana. Daripada sulit menjelaskan, lebih baik ia merekomendasikan beli-dan-pegang saja.

Nah, kalau tidak ada data imbal-hasil trading saham untuk kita bandingkan dengan strategi beli-dan-pegang, bagaimana kita bisa menyatakan mana yang lebih baik?


Lanjut ke "Investasi Saham atau Trading Saham, Mana Lebih Baik? (Bagian II)"








Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2010 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]