Profil

Saya pertama tertarik pada saham waktu kelas I SMA. Waktu itu saya membaca majalah Fortune dan melihat bahwa setiap tahunnya saham bergerak antara harga terendah dan tertinggi dengan rentang cukup besar. "Kalau bisa membeli di harga terendah," saya berpikir, "lalu menjual di harga tertinggi, saya akan untung besar." Apa susahnya ya?

Dengan angan-angan tersebut, beberapa tahun kemudian saya membeli saham INCO saat IPO di tahun 1990. Tapi bukannya naik, INCO malah turun. Terus-menerus turun dari 9.000 menjadi 8.000, dari 8.000 menjadi 6.000, dari 6000 ke 5.000. Akhirnya saya mengangkat bendera putih dan menjualnya di harga Rp 4.000. Skor market vs. saya = 1-0.

Setelah bekerja dan menabung beberapa tahun, saya membuka account di Bomar Securities pada tahun 1997. Baru mulai main saham, saya digilas krisis moneter yang menghantam Indonesia. Rupiah anjlok dari Rp 2.000 per USD menjadi Rp 10.000. IHSG BEJ anjlok dari 700 ke 200. Seluruh modal investasi saya habis ditelan saham yang hancur lebur. Bahkan ada beberapa saham saya yang jadi nol. Market vs. saya = 2-0.

Babak-belur dihajar market, saya menangis, stress, sulit tidur, tambah kurus. Tapi menyerah, belum saatnya. Saya yakin kerugian yang saya alami adalah karena saya tidak punya kemampuan ("skill") bermain saham. Bukan karena saham adalah judi. Bukan karena pasar menipu saya. Bukan karena broker saya bodoh. Sama sekali bukan kesalahan orang lain tapi kesalahan saya sendiri.

Dengan tekad bulat, saya terus belajar. Perlahan-lahan kerugian semakin jarang mendera saya. Nekad, pada tahun 2003 saya memutuskan untuk menutup perusahaan saya dan bekerja penuh sebagai pedagang saham. Sampai sekarang, saya masih terus belajar main saham.

email: terusbelajarsaham@gmail.com
N.B.: email diperuntukkan HANYA untuk hal yang pribadi dan rahasia. Untuk bertanya atau berkomentar, silahkan lakukan di blog. Pertanyaan umum yang ditujukan ke email tidak akan ditanggapi.




72 comments:

  1. Mohon maaf, saya memberi komentar : Mas iyan belajar dari pengalaman anda yang sudah 2-0 saya juga sempat frustasi dari saham, Setelah membaca kesana dan kemari akhirnya saya mendapat kesimpulan yang mungkin dapat membantu teman2 yang lain. Setelah membaca dari puluhan atau ratusan tulisan mengenai saham pertama sekali tentunya mindset kita (saya) harus berkeyakinan bahwa saham adalah tempat untuk berinvestasi bukan tempat untuk bertrading (berdagang). Tugas utama kita adalah menemukan perusahaan yang benar-benar bagus mempunyai manajemen yang solid dan jujur. Hal ini yang sanggup dilakukan oleh warren buffet. Dia sanggup bertahan di kala harga hancur dan tidak menjual ketika harga gila2an naik. Dia sanggup membeli saham di tahun 1930an dan tidak menjual sampai sekarang. Berarti dia sanggup menganggap saham yang dia beli adalah saham yang tidak ada harganya. COba mas iyan renungkan kalo mas iyan tidak menjual saham inco, saya yakin keuntungan sudah berpuluh-puluh kali. Apalagi pengalaman mas iyan yang sudah belasan tahun di saham tentunya akan gampang memilih perusahaan yang benar2 konsisten memberikan keuntungan. Masalah yang utama bagi trader adalah ketika sahamnya sudah naik 10% saja tangannya sudah gatal untuk merealisasikan keuntungannya. Padahal keuntungan 10% untuk perusahaan yang bagus dan saham yang bagus sangat kecil. Ambil contoh saham klbf awal tahun 2012 harganya 3425 di akhir tahun harganya 5750 (harga sudah diperhitungkan dengan stock split) Ada keuntungan 67% disana dan mulai diatas tahun 2008 klbf tiap tahun rasanya memberi keuntungan diatas 30% apalagi kalo pemilik sahamnya seperti mas iyan yang sudah mengerti fundamental. Ketika keuntungan 10% direalisasikan harga saham bukannya makin murah malah semakin mahal dan trader semakin tidak berani membeli akhirnya malah melirik saham yang lain yang tidak jelas profilnya. Akhir kata saran saya : 1) anggaplah saham itu sebagai alat pengukur kekayaan anda. Semakin kaya anda semakin banyak koleksi saham anda. Hal ini terbukti sekarang Ukuran kekayaan bukan emas atau rumah tetapi seberapa banyak saham yang dimiliki oleh seseorang. 2) Pilihlah perusahaan yang bagus dan sahamnya juga bagus mis : saham klbf, cpin, group astra, dan koleksi terus jangan pernah di cuut loss kecuali anda benar2 butuh uang atau perusahaan itu mulai tidak lagi menguntungkan. Saya yakin kita (saya) sanggup.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Rudi sudah memberi saran panjang lebar. Saya tidak setuju dengan saran anda,tapi tetap saya berterima kasih.

      Saya tidak tahu anda sudah berapa lama main saham dan apakah sudah pernah merasakan market bearish bertahun-tahun. Contoh yang anda berikan adalah masa beberapa tahun terakhir ini, saat market sedang long-term bullish. Saya menduga anda tidak merasakan KRISMON tahun 1997 yang mendera pasar saham bertahun-tahun.

      Prinsip untuk tidak pernah cut-loss adalah prinsip yang amat sangat salah. Bahkan Warren Buffet pun melakukan cut-loss; hanya saja ia memegang saham cukup lama sebelum memutuskan cut-loss.

      Anda berpendapat apa yang baik menurut anda pasti juga baik untuk orang lain. Saya tidak setuju.

      Apa yang baik untuk anda, belum tentu baik untuk orang lain. Ingat: setiap orang berbeda, tapi perbedaan itu seharusnya disyukuri. Tanpa perbedaan, tidak akan ada market. Semua orang kalau hanya mau beli, mana ada barang yang bisa dibeli?

      Itulah sebabnya saya selalu menyarankan pembaca blog saya untuk menganalisa diri sendiri dulu sebelum memutuskan.

      Saya tidak pernah bilang cara saya adalah yang paling benar (untuk semua orang); tapi CARA SAYA ADALAH YANG PALING TEPAT UNTUK DIRI SAYA SENDIRI.

      Kalau Rudi memakai contoh INCO yang saya cut-loss, ketika INCO mulai naik tahun 2000-an dan saya trading saham tersebut, untung yang saya dapat amat jauh lebih banyak daripada kerugian cut-loss saya di tahun 1990-an.

      Kalau Rudi menganggap beli saham dan tidak perlu jual selamanya adalah tindakan paling tepat untuk anda, silahkan lakukan. Saya acungkan jempol karena anda punya pendirian. Tapi jangan serta-merta merasa cara anda adalah cara terbaik untuk semua orang lain.

      Saya juga tidak setuju pendapat anda bahwa cara investasi terbaik adalah dalam bentuk saham ("saham sebagai alat ukur kekayaan"). Ada orang yang lebih senang investasi emas; silahkan. Ada orang yang sukses investasi properti: monggo.

      Saran saya: belajarlah menghargai pendapat orang lain. Perbedaan sepatutnya disyukuri, bukan dipermasalahkan.

      Delete
    2. Awalnya saya tidak ingin berkomentar, tetapi saya merasa ada yang tidak beres dengan pencurahan dari rekan Rudi Edison terhadap rekan Iyan. Sepertinya rekan Edison menulis pendapatnya hanya berdasarkan hasil bacaan yang sangat textbook dan tidak berdasarkan pengalaman pribadi. Apakah rekan Edison sudah mengalami sendiri bagaimana euforia bull market dan pesimisme bear market yang berlebih-lebihan? Apakah rekan Edison pernah mengalami sendiri bagaimana sulitnya mengendalikan keseimbangan antara ketamakan dan kepanikan ketika harus memutuskan untuk jual, beli, atau tahan saham yang anda pegang? Kalimat anda yang terakhir itu menyiratkan bahwa rekan Edison sepertinya baru memiliki pengalaman sedikit sekali di jagat dunia persahaman, tetapi langsung berpendapat cara anda -berdasarkan bacaan2 anda- adalah yang paling benar. Jangankan rekan Iyan yang anda komentari langsung, saya yang sekedar membacanya saja merasa agak tidak nyaman karena nadanya terkesan menyudutkan.

      Saya pribadi telah mengembangkan sistem main saham yang saya sesuaikan dengan karakter saya sendiri dengan membaca dari artikel2 dan buku2 investor legendaris macam Kheng Hong, Buffet, Graham, Lynch, Fisher, Soros, Livermore, Mizrahi, sampai O'Neil, tetapi saya belum berani berpendapat bahwa sistem saya ini yang paling benar. Minimal saya ingin mengalami dulu bagaimana sistem saya bertahan baik dari bull market dan bear market, barulah saya akan berani promosi bahwa sistem saya ini telah berhasil dan tahan uji. Saya percaya pemain saham yang paling berhasil adalah mereka yang jujur terhadap diri mereka dengan mengembangkan sistem main saham yang memang cocok dengan karakter pribadi dan tetap rendah hati mengakui kesalahan ketika sistem mereka ternyata gagal.

      Moralnya disini ya Buffet memang benar adalah investor yang paling berhasil saat ini, tetapi cara dia berinvestasi bukanlah cara yang 100% pasti sesuai dan berhasil bagi semua orang. Buffet sendiri mengakui sistem investasi dia memiliki kelemahan, yaitu tidak cocok untuk saham yang sangat high-growth seperti Microsoft dan Apple. Bagi yang ingin investasi saham high-tech tentunya tidak bisa berguru dari Buffet, tetapi harus dari investor besar lainnya yang cukup sukses di sektor high-growth investing macam Fisher, Lynch, atau O'Neil. Dan jangan lupa Fisher adalah salah satu investor yang diakui Buffet sebagai guru besarnya setelah Graham. Kalau rekan Edison tidak paham apa yang saya kemukakan disini, berarti rekan Edison masih harus banyak belajar lagi akan investasi saham.

      Delete
  2. Mohon bantuannya pak. Saya blm paham untuk mengambil nilai bid dan ask harian yang ada di yahoo finance dimana kolomnya terdiri dari open, high, low, close, volume,dan adj close. yg mana pak yg kita ambil untuk nilai bid dan asknya. makasih pak.

    ReplyDelete
  3. Wah... Ternyata banyak hal yang perlu kita pelajari sebelum bermain sham, tak hanya membaca tapi pengalaman dan kepandaian mengambil tindakan. Saya sedang sekali menemukan blog ini.... Izinkan saya belajar ya pak Yan....

    ReplyDelete
  4. maaf mas nanya paling dasar... haruskah dengan modal besar untuk main saham... kayaknya menarik setelah ada BLOOMberg tv Indonesia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Main saham tidak perlu modal besar. Apalagi kalau sekedar untuk sampingan.

      Lain halnya kalau tujuan anda adalah "cari makan" dari main saham. Untuk ini anda perlu modal lumayan.

      Tapi yang perlu anda camkan adalah ini: lebih penting "skill" daripada uang. Ada "skill" bisa dapat uang. Ada uang tanpa "skill" kemungkinan besar akan rugi.

      Delete
  5. maaf pak iyan.saya awam di dunia saham.
    Bagai mana tuk Bermain saham bagi Pemula.

    Trimakasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silahkan baca halaman "About" dan "Kurikulum."

      Delete
  6. Bpk Iyan..Bapak telah berbuat baik kepada semua orang dengan menghadiahkan (terusbelajarsaham.blogspot.com)ini...hadiah berupa bimbingan tutorial intensif tentang saham yang diadun dengan pengalaman peribadi Bapak sendiri yang sudahpun membuktikan hasil kejayaan dan kekayaan.... Anak saya Zul Ilhami 18thn sekarang ini menjadi pelajar Bapak yang rajin mempelajari dan meneliti ilmu saham daripada tutorial Bapak dan saya tidak benarkan dia berpaling ke institusi pendidikan(Blog) yang lain sebelum dia menguasai dan upaya menyerapkan semua ilmu saham dari tempat pengajian Bapak.Mengapa?kerana di sini ilmu saham yang Bapak sampaikan mencukupi ,jelas,faktanya bercontoh, penyampaiannya santai,keterangannya menghibur dalam keseriusan.segalanya infomatif dengan tujuan akhir supaya mudah dipelajari oleh orang yang tidak kenal ABC saham dan menambahkan kefahaman orang yang sudahpun menyertai pasaran.Ya ..Pengalaman Bapak dalam saham mempunyai nilai khusus yang tersendiri untuk dihargai oleh orang yang mengerti nilai sesuatu tentunya ...Saya amat senang hati bersama-sama Bapak [terus belajar saham].

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Haiz Majda,

      Terima kasih untuk komentar anda. Sangat membesarkan hati.

      Delete
  7. Terima kasih mas sy mohon idzin belajar saham dari pengalaman mas yan yg ditulis dlm blog ini.

    ReplyDelete
  8. Saya juga mohon izin belajar saham dari website ini ya pak.

    Terima kasih.

    ReplyDelete
  9. Dear Mang Iyan
    Saya nubi
    Kebanyakan dari buku yang saya baca baik Buffet, Graham, Lynch adalah tipikal investor bukan trader, yang mau saya tanyakan adalah siapa referensi Mang Iyan dalam trading, karena yang saya baca dalam post-post anda, anda adalah trader murni dan sudah meninggalkan FA yang menjadi ciri khas investor jangka panjang (CMIIW), siapa saja Trader yang terkenal di international dan national
    terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mengenai buku-buku referensi trading, silahkan buka halaman "Buku".

      http://terusbelajarsaham.blogspot.com/p/astore.html

      Sebaiknya belajar trading dari buku luar negeri. Yang mengaku-ngaku trader handal lokal (bahkan memproklamirkan diri sebagai "pakar saham") biasanya adalah orang yang ingin menjual seminar.

      Tambahan lagi, banyak dari mereka yang pengetahuan dan pengalaman bermain sahamnya hanya pas-pasan. (Coba anda telusuri BERAPA TAHUN mereka sudah menjadi pemain saham FULL TIME).

      Lebih hebat lagi, ada yang mengaku "pakar" tapi ngejiplak.

      Penulis luar negeri, mayoritas lebih open dan jujur tentang trading mereka. (Walaupun mereka juga jualan subscription dll, tapi mereka tidak JANJI2 SURGA).

      Delete
    2. Makasih atas petunjuknya pak Iyan, akan saya teliti lagi buku2 rekomendasi nya
      Wah pak Iyan sedang menyindir bu EM ya..
      xixixi

      Delete
  10. Selamat sore pak iyan, mohon izin pak saya mau belajar dari blog ini , dan terimakasih udah mau buat blog ini pak, sanagt bermanfaat sekali :)
    Gini pak, yang saya tau sekarang untuk beli saham kan bisa dalam jumlah kecil misal 4 juta.... tapi yg saya liat mau buka rekening efek di sebuah perusahaan sekuritas, ada syarat depositi minimum pd rekening reguler adalah 10 juta .... anggap lah kita jadi setor 10 juta dan begitu trading, apak 10 juta ini wajib dibelanjakan dalam sekali transaksi atau bisa transaksi sedikit2 pak? misal kita beli saham senilai 4 juta dulu.. kemudian beberapa waktu kemuadian kita beli lg misal 3 juta dst ... ?
    terimakasih sebelumnya pak ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear arry,

      Deposit minimum adalah hanya DEPOSIT. Artinya, setoran awal harus minimum sebesar itu.

      Artinya juga, anda TIDAK WAJIB harus membelanjakan langsung total deposit tersebut. Anda boleh saja beli sedikit-sedikit.

      Tapi, silahkan cek juga apakah broker tersebut mempersyaratkan FEE (biaya transaksi) minimum. Sebaiknya pilih broker yang TIDAK ADA SYARAT fee minimum.

      Semoga membantu.

      Delete
  11. Bang Iyan, Saya izin belajar saham di blog nya ini ya...
    terimakasih sudah berbagi..
    salam sehat selalu..

    ReplyDelete
  12. Pak Iyan yang dulu dengan saya sekaran punya kesamaan: sama2 pingin jadi pemain saham full.. Senang kalau bisa belajar dari pemain saham full yang sudah pengalaman lama..

    Dari tulisan Pak Iyan diatas saya bisa menyimpulkan satu dari beberapa hal: Kalau mau jadi full time trader, harus siap dahulu.. Karena di pos Pak Iyang ditulis:

    "Dengan tekad bulat, saya terus belajar. Perlahan-lahan kerugian semakin jarang mendera saya." Karena Pak Iyan mulai bisa untung konsisten, Pak Iyag akhirnya jadi full time trader...

    Berarti kalau mau jadi FTT, kita harus siap 100% ya Pak? Saya terkadang berpikir menjadi full time walaupun sistem saya belum teruji 100%, tapi setidaknya saya sudah bisa untung lumayan...

    Bagaimana menurut Pak Iyan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau dibilang harus siap dulu, memang betul.

      Tapi kita tidak akan pernah siap 100%.

      Saya menjadi FULL TIME TRADER (FTT) setelah main saham kurang lebih 5-6 tahun. Dan dalam kurun waktu tersebut saya lebih sering dan lebih banyak ruginya.

      Kalau tentang sistem, sistem yang saya pakai terus berkembang (karena pasar juga terus berubah). Tapi sebelum anda menjadi FTT, anda SEBAIKNYA punya minimum satu sistem yang cukup konsisten memberikan untung.

      Bisa "untung lumayan" TIDAK MEMBUKTIKAN bahwa anda sudah bisa untung konsisten. Pastikan bahwa anda bisa "untung lumayan" saat market BULLISH, dan kalau rugi, rugi sekecil mungkin saat market BEARISH.

      Kalau sudah bisa "rugi kecil" pada saat mayoritas orang lain rugi banyak, itu tanda-tandanya anda siap menjadi FTT.

      Delete
    2. Wah menarik2... saya mulai paham Pak....

      Kalau berkenan Pak Iyan mungkin bisa share karena kebetulan saya dan Pak Iyan juga tipenya sama, yaitu swing trading alias nggak tahan kalau pegang saham lama seperti opa Warren:

      1. Pak Iyan pegang suatu saham rata2 berapa hari setelah Pak Iyan beli, kalau boleh tahu? Apakah diatas 1 minggu atau mgkn hanya 1 hari saja. Karena FTT kan pasti beli saham dengan modal besar, pengaruh ke psikologis

      2. Selama jadi FTT, apakah Pak Iyan hanya totally mengandalkan analisis teknikal? Apakah Pak Iyan pernah beli saham mungkin hanya dengan melihat bid-offer, top stock pokoknya apapun selain analisis teknikal dan bisa dapat untung?

      Terima kasih sebelumnyaa

      Delete
    3. 1. Tidak ada yang absolut. Tergantung kondisi pasar dan tergantung karakteristik masing-masing saham. Tapi biasanya saya pegang saham tidak lebih dari sebulan.

      2. Hanya dengan analisa teknikal.

      Melihat bid-offer itu termasuk analisa teknikal.

      Delete
    4. Apakah kita bisa menentukan saham akan diangkat selama beberapa menit pertama / satu hari bursa hanya dengan lihat bid offer pak? Bagaimana caranya?

      O iya saya juga menemukan beberapa orang yang sudah jadi FTT spt Pak Iyan dan saya juga bnyk belajar dari mereka. Para FTT mengaku kalau kondisi pasar sedang dalam keadaan sangat buruk, spt thn 2015, mereka bahkan tidak trading karena hrg saham yang terus turun.

      Kalau dari pandangan Pak Iyan sbg FTT, apakah dalam kondisi pasar spt 2015, Pak Iyan tetap melakukan trading Pak?

      Delete
    5. Kalaupun saya tahu cara menentukan apakah saham akan diangkat berdasarkan bid/offer, rasa-rasanya saya tidak mau ngajarin orang lain. Hehehe.

      Tahun 2015 transaksi BEI sepi. Saya tetap trading, tapi dalam size yang kecil.

      Kalau berhenti trading sama sekali, "mesin" jadi dingin dan perlu waktu lama untuk memanaskan "mesin" kalau-kalau market ramai lagi.

      Delete
    6. Hmmm... Pak Iyan kok bisa tahu nih kalau transaksi BEI 2015 sepi? Hehe.

      1. Liatnya dari mana Pak? Dikatakan sepi kalau apa? dikatakan ramai kalau apa?

      2. Lalu, kalau di software saham, seringkali dituliskan disamping IHSG: Volume, Value, Frequency.. Apa perbedaan antara ketiganya?

      Terima kasih

      Delete
    7. 1. Kalau anda sudah melihat Running Trade SETIAP HARI selama belasan tahun, anda akan tahu pasar sepi itu seperti apa.

      2. Volume: jumlah lot/lembar saham.
      Value: nilai Rupiahnya.
      Frequency: jumlah kali transaksi terjadi.

      Delete
    8. This comment has been removed by the author.

      Delete
    9. Pemain saham bangkotan kemungkinan besar akan memantau Running Trade.

      Pemain saham pemula sebaiknya hanya memegang MAKSIMUM 5 saham. Pemain saham tingkat menengah sebaiknya memegang MAKSIMUM 10 saham.

      Delete
    10. This comment has been removed by the author.

      Delete
    11. Saya kan bilang MAKSIMUM 5 untuk pemula, MAKSIMUM 10 untuk menengah (intermediate).

      Kalau anda mau pegang cuma 3 saham, silahkan. Kalau mau pegang cuma 1 saham pun, silahkan. Semua tergantung maunya anda.

      Modal 95-100jt seharusnya lebih dari cukup untuk pemula.

      Delete
    12. This comment has been removed by the author.

      Delete
    13. Saat saya menjadi Full Time Trader (FTT), saya sudah 6 tahunan main saham. Dan saya sudah melalui krismon paling parah di Indonesia di tahun 1997-98.

      Apakah saat itu sudah untung konsisten?

      Belum. Tapi saat itu saya sudah bisa kontrol kerugian.

      Delete
    14. This comment has been removed by the author.

      Delete
  13. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Modal 100 juta yang saya maksud adalah untuk beberapa tahun pertama BELAJAR MAIN SAHAM.

      Kalau menjadi FTT dengan modal 100 juta dan kalau anda bisa UNTUNG KONSISTEN 2% sebulan, penghasilan anda = Rp 2 juta/bulan. Apakah ini cukup untuk biaya hidup, hanya anda yang bisa jawab.

      Itu dengan ASUMSI anda untung KONSISTEN 2% per bulan, dan hal ini bukan hal mudah, apalagi untuk pemula.

      Banyak pemula yang main saham, untung 5-10% pada bulan-bulan pertama dan berASUMSI ini akan terus terjadi.

      JANGAN.

      Keuntungan tersebut bisa jadi hanya karena beruntung.

      Silahkan baca juga pos "Berapa Sebaiknya Modal Awal Main Saham?"

      https://terusbelajarsaham.blogspot.co.id/2011/05/berapa-sebaiknya-modal-awal-main-saham.html

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
    3. Masalah utama bukan modal 50juta atau 100juta.

      Masalah utama adalah asumsi anda "bisa return konsisten 8-10% per bulan."

      Jangan muluk-muluk.

      Delete
    4. This comment has been removed by the author.

      Delete
    5. 1. Tidak.

      2. Tidak.

      Kalau tujuan anda menjadi Full Time Trader adalah untuk santai atau malas-malasan, anda hampir tidak mungkin akan berhasil.

      Anda bisa sukses hanya kalau anda menyukai apa yang anda kerjakan.

      Delete
    6. This comment has been removed by the author.

      Delete
  14. Saya adalah FTT seperti tipe 1 yang anda tulis di atas.

    Kalau namanya Full Time Trader, seharusnya ya mantengin layar trading pada jam trading.

    Kalau beli saham lalu ditinggal, itu bukan FTT toh. Lah, gak FULL TIME trading kan. Mungkin yang ini lebih cocok disebut investor.

    Menurut saya, kalau seseoang BISA konsisten untung dari trading cepat saham, ia akan lebih memilih trading (jangka pendek). Masalahnya, (sangat) SULIT untuk bisa untung dengan trading jangka pendek. Mungkin itu sebabnya mayoritas pemain saham memakai time frame (relatif) long term.

    Tambahan lagi, FTT adalah pekerjaan yang melelahkan ( jasmani dan rohani). Kalau sudah jadi FTT, saya rasa sudah tidak punya waktu luang dan tenaga ekstra untuk kerja yang lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
    3. Tentang komputer yang saya pakai, silahkan baca pos "Perangkat Keras Untuk Bermain Saham."

      https://terusbelajarsaham.blogspot.co.id/2014/03/alat-komputer-untuk-bermain-investasi.html

      Tentang time-frame, saya memilih time-frame SEPENDEK MUNGKIN. Artinya, idealnya seh dalam hitungan menit SETELAH saya beli, saham LANGSUNG NAIK.

      Nah, itu idealnya. Kalau mau cari yang begini, tentu saja ujung-ujungnya akan sering cut-loss.

      Delete
    4. This comment has been removed by the author.

      Delete
  15. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1. Jangan putus asa dong. Anda kan baru main saham 2 tahun.

      Pernah anda pikirkan kah berapa tahun seorang pemain gitar harus latihan main gitar sebelum ia mentas dan mendapat bayaran? 2 tahun? Rasa-rasanya seh harus lebih.

      2. Kalau anda lihat di pos "Target Laba Main Saham (Bagian IV)," saya baru MULAI bisa untung (agak) konsisten di tahun 2006. Itu berarti hampir 10 TAHUN sejak saya mulai belajar main saham.

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
    3. Kalau sedang rugi, apalagi RUGI BESAR, sebaiknya berhenti trading dulu.

      Saya JARANG SEKALI berhenti trading sampai tidak trading sama sekali. Kalaupun sampai berhenti trading, paling-paling hanya berhenti 2-3 hari maksimum. (Ini adalah faktanya. Tapi saya TIDAK MENGANJURKAN anda untuk ikutan saya.)

      Yang lebih SERING saya lakukan kalau lagi rugi adalah MENGECILKAN position size.

      Delete
    4. This comment has been removed by the author.

      Delete
  16. Salam kenal Pak Iyan,saya sangat beruntung di awal saya main saham,saya sudah menemukan blog ini,sehingga dalam 2 tahun pertama ini tidak terlalu sering merugi dan cukup lumayan hasilnya.sejauh ini saya masih mengkombinasikan analisa teknikal yang saya lakukan yang banyak saya pelajari dari blog ini dan analisa fundamental yang biasanya direkomendasikan oleh broker sebagai bahan pertimbangan.Semoga Pak Iyan tak bosan berbagi ilmunya di blog ini,blog yang sangat mencerahkan dengan pilihan kata yang mudah dipahami.
    Terima kasih Pak,Salam sukses

    ReplyDelete
  17. Pak Iyan ada yang masih saya kurang mengerti tentang Saham berikut pertanyaannya :

    1.Apakah sama Saham yang ada di Pasar Primer dan Sekunder ?

    2.Apa keuntungan Emiten (Penerbit Saham) di Pasar Sekunder ? Seperti yang kita tahu Uang masuk ke Emiten Cuma pada saat IPO saja, nah kalau di pasar Sekunder dia dapat apa?

    3.Apakah kalau kita membeli Saham di BEI akan mendapat pembagian Deviden juga dari Emiten?

    4.Kalau Emiten mau menarik kembali Saham yang beredar di Bursa apa tidak rugi ? Misal pada saat IPO 10 November 2003 Saham BRI yang di jual pada harga Rp 875,- / lembar, dan pada awal bulan ini November 2016 harganya di BEI sudah Rp 12.325,- / lermbar. Apa tidak rugi kalau mau membeli kembali sahamnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1. Apa yang anda maksud Pasar Primer dan Sekunder?

      2. Tidak ada keuntungan langsung. Tapi perlu anda ingat bahwa emiten biasanya TIDAK MENJUAL SELURUH sahamnya di IPO.

      3. Silahkan baca pos "Siapa Yang Berhak Mendapat Dividen Saham."

      https://terusbelajarsaham.blogspot.co.id/2013/10/bagaimana-cara-mendapatkan-dividen-saham.html

      4. Terus terang saya tidak tahu.

      Delete
  18. mohon izin belajar dari pak Iyan yg memberikan gambaran secara komprensif, saya masih pemula d forex dan ingin belajar tentang saham akhirnya menemukan blog bapak.
    terimah kasih atas pencerahannya...

    ReplyDelete
  19. Sebelumnya terimakasih bung Iyan, karena blog ini saya terinspirasi main saham. Sebelumnya saya hanya ikut reksadana di ipot. Kemudian lihat blog ini begitu sederhana dan jelas bagi pemula dalam penjelasannya.Dua bulan pertama saya dapat keberuntungan pemula, beli 20 macam saham LQ45 dan hampir tiap hari dapat untung. Dengan profit yang begitu mudah, awalnya saya hampir tidak percaya isi lain dari blog ini bahwa pendapatan orang di saham mulai stabil dapat profit setelah main saham 2 tahun an. Tapi godaan menimpa saya ketika membeli saham gorengan yang melonjak tinggi dan turun mendadak. Di saham2 gorengan inilah walaupun saya kadang untung banyak tapi kerugiannya jauh lebih banyak. Sekarang saya putuskan untuk kembali pelan2 ke saham2 LQ45 sambil menunggu saham yang nyangkut pulih kembali. Main saham merupakan sambilan bagi saya. Jadi saya masih punya modal tiap bulan untuk main saham walaupun sebagian saham kemungkinan masih nyangkut lama. Terus semangat bung Iyan , untuk share pengalaman di blog ini.

    ReplyDelete
  20. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  21. 1. Karena saya sudah trading via telepon sebelum online trading ada.

    2. Hal ini sebaiknya anda tanya ke broker anda.

    ReplyDelete
  22. Pak Iyan mau tanya nih
    Misal kita mau short sell sebuah saham terus saham itu displit... Kalau untuk pembelian kembalinya berdasarkan jumlah lembar yang kita jual atau berdasarkan harga ketika akan membeli dikali split... Mohon pencerahannya Pak Iyan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebelum saya jawab pertanyaan anda, saya mau tanya: anda short sell saham di bursa mana?

      Delete
    2. Anda yakin anda diperbolehkan short sell saham di Bursa Efek Indonesia?

      Delete
  23. Engga boleh sih pak, kata broker.Tapi sama OJK diperbolehkan. Andai kata saya diperbolehkan, itu gimana pak skemanya ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena gak boleh short sell, lebih baik gak usah dipikirin.

      Delete
    2. Terima kasih jawabannya Pak Iyan :-)

      Delete
  24. wah sejak SMA ya, keren nih, kenalkan saya Wisnu, pemula yang baru buka akun tahun 2015.hehe sukses slalu dan terus belajar pokoknya

    ReplyDelete
  25. Salam kenal mas iyan... saya budi izin berkomentar dan bertanya mas mengenai waran... saya menggunakan account trading saham DANA REKSA. Di beberapa website menjelaskan bahwa membeli waran itu tidak sama dengan membeli saham reguler biasanya.. ada hak khusus dan jangka waktu tertentu untuk menebusnya (mohon koreksi jika saya salah). Akan tetapi sudah beberapa hari terakhir saya melakukan pembelian dan penjualan pada saham TRAM-W DWGL-W HOTL-W sperti jual beli pada saham umumnya, padahal sebelumnya saya tidak pernah membi saham induknya (TRAM DWGL HOTL). Pertanyaan saya lalu apakah yang membedakan saham waran dngan saham biasa? Apakah ada aturan khusus membeli dan menjualnya? . Terima kasih.. semoga suskses selalu bersama mas iyan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cara transaksi warrant SAMA dengan cara transaksi saham.

      Berbeda dengan saham,warrant ada masa kadaluwarsanya. Biasanya, warrant diperdagangkan 2-3 tahun sejak diterbitkan.

      Delete

Pertanyaan dan komentar anda akan saya jawab sesegera mungkin. Maaf, saya tidak menerima pertanyaan dan komentar anonim. Promosi, iklan, link, dll, apalagi hal-hal yang tidak berhubungan dengan main saham TIDAK AKAN ditampilkan.