Showing posts with label menengah. Show all posts
Showing posts with label menengah. Show all posts

Wednesday, March 8, 2017

Main Saham Cara Nicholas Darvas

Salah satu buku main saham favorit saya adalah buku Nicholas Darvas How I Made $2,000,000 in the Stock Market. Sejak saya beli belasan tahun lalu, buku ini sudah saya baca lebih dari 10 kali.

Mengapa?

Figure 1. Sampul Buku Nicholas Darvas How I Made $2,000,000 in the Stock Market

Buku tersebut mudah dimengerti, enak dibaca, dan mencerminkan pengalaman nyata pemain saham.

Saat pertama kali membaca buku tersebut, saya merasakan dan mengalami apa yang dirasa dan dialami Nicholas Darvas pada saat ia baru mulai main saham. Kalau saja saya sudah membaca buku tersebut SEBELUM nyemplung bermain saham, mungkin kerugian awal saya bisa jauh lebih kecil.

Nah, setelah membaca buku tersebut berulang kali, saya merasa bahwa (salah satu) poin terpenting bagaimana Nicholas Darvas berhasil meraih untung $2,000,000 bisa anda temukan di bagian Author's Introduction.

Bunyinya: 

I built a fortune with serenity by avoiding premature selling yet making an exodus from most of my stocks with the use of a single tool: the trailing stop-loss.

Saya mendulang harta secara tenang dengan menghindari menjual saham terlalu cepat tapi juga keluar dari mayoritas saham yang saya miliki dengan memakai satu cara: trailing stop-loss.

Lanjutnya:

I have discovered no loss-free Nirvana. But I have been able to limit my losses, without compromise, to less than 10 percent whereever possible. Profits are a function of time, and so good reasons have to exist to keep a profitless purchase longer than tree weeks.

Saya menemukan bahwa tidak ada Nirwana tanpa kerugian. Tapi saya bisa membatasi kerugian, tanpa kompromi, di bawah 10 persen selama memungkinkan. Laba berhubungan erat dengan waktu, jadi harus ada alasan jelas untuk memegang saham yang tidak menguntungkan lebih dari tiga minggu.

My stop-loss method had two effects. It got me out of the wrong stock and onto the right one. And it dit it quickly. My methods obviously wouldn't work for everyone. It worked for me. And, by studying what I did, I hope you find this book helpful and profitable for you.

Metode stop-loss saya memberikan dua efek. Metode tersebut membuat saya keluar dari saham yang salah dan masuk ke saham yang benar. Dan metode tersebut melakukannya dengan cepat. Metode saya tentu saja tidak cocok untuk semua orang. Metode tersebut cocok untuk saya. Dan, dengan mempelajari apa yang saya lakukan, saya berharap anda terbantu dengan buku ini dan bisa mendapatkan untung.


---###$$$###---


"Tapi bung Iyan," kata seorang pembaca setia blog ini,"bukankah anda selalu mewanti-wanti untuk menghindari buku main saham yang judulnya bombastis?"

Betul. Saya selalu mengingatkan pembaca blog ini untuk menghindari buku/janji/promosi/iklan yang bombastis karena yang bombastis dan berlebihan biasanya akan mengakibatkan anda membayar mahal tapi bukannya untung malahan buntung.

How I Made $2,000,000 in the Stock Market.

Memang judul tersebut termasuk bombastis. Tapi saya malahan menyarankan anda untuk membaca buku tersebut.

Mengapa?

Coba anda baca lagi judul buku di atas:

How I Made $2,000,000 in the Stock Market.

Terjemahannya: Bagaimana Saya (Nicholas Darvas) Meraup Untung $2 juta di Bursa Saham.

Coba anda cerna.

Nicholas Darvas TIDAK menjanjikan bahwa anda akan bisa untung $2,000,000 setelah membaca buku tersebut. Di buku tersebut Nicholas Darvas hanya menceritakan pengalaman bagaimana IA berhasil mendapat untung $2,000,000 di bursa saham. Jadi, isi buku tersebut sesuai dengan judulnya.

Tambahan lagi, Nicholas Darvas tidak berusaha menjual seminar/pelatihan/software.

Itulah alasannya saya menyarankan buku tersebut.

Jadi, segera BELI hard-copy dan BACA buku tersebut.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Thursday, February 16, 2017

Beli Saham Naik Yang Mana?

Silahkan lihat Chart 1 dan 2 di bawah ini.

Chart 1

Chart 2

Pada Chart 1 harga saham naik dari sebelumnya bergerak turun/downtrend. Pada Chart 2 harga saham naik dari sebelumnya bergerak horizontal/sideway.

Kalau harus memilih antara membeli saham seperti di Chart 1 atau saham seperti di Chart 2, anda pilih yang mana? Dengan kata lain, menurut anda mana yang lebih Bullish, Chart 1 atau Chart 2?

(Kalau anda belum tahu arti Bullish, silahkan baca pos "Arti 'Bullish' dan 'Bearish' di Bursa Saham." Silahkan baca juga pos )

Coba anda pikirkan dulu beberapa menit.






Sudah?

Nah, menurut Stan Weinstein di buku Secrets for Profiting in Bull and Bear Markets, yang lebih Bullish adalah Chart 2.

(Untuk memudahkan diskusi, kata "Bullish" di pos ini kira-kira artinya adalah "kuat naiknya.")

Chart 3 (Source:Stan Weinstein's Secrets for Profiting in Bull and Bear Markets, page 17)

Chart 4 (Source: Stan Weinstein's Secrets for Profiting in Bull and Bear Markets, page 17)

 
Saya kutip pernyataan Stan Weinstein:

". . . the steeper the angle of descent of a declining trendline (Chart 3), the less bullish its implications are when it's overcome. . . However, the closer to horizontal the trendline is when it's broken on the upside (Chart 4), the more bullish the implications are."

Terjemahannya kira-kira begini:

Semakin curam derajat penurunan garis tren yang sedang turun, semakin tidak bullish implikasinya ketika garis trend tersebut ditembus. Akan tetapi, semakin mendekati horisontal garis tren ketika ditembus ke atas, semakin bullish implikasinya.

Apa artinya?

Artinya, kalau anda harus memilih antara saham naik yang sebelumnya bergerak turun dan saham naik yang sebelumnya bergerak mendatar, sebaiknya pilih saham naik yang sebelumnya bergerak (relatif) mendatar.

Mengapa?

Karena saham yang sebelumnya bergerak mendatar, kalau naik—biasanya—akan naik lebih kencang daripada saham yang sebelumnya bergerak turun.

Kok bisa begitu?

Mau tahu apa sebabnya saham yang sebelumnya bergerak mendatar kalau naik—biasanya—akan naik lebih kencang daripada saham yang sebelumnya bergerak turun? Silahkan lanjut baca ke pos "Beli Saham Naik Yang Mana? Bagian 2." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]

Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Wednesday, January 18, 2017

Tahukah Anda Nilai Portofolio Saham Anda?

Kalau saya bertanya,"Berapa nilai portofolio main saham anda?" bisakah anda menjawab?

(Nilai portofolio main saham adalah jumlah dari nilai saham yang anda miliki ditambah nilai dana tunai di rekening transaksi saham anda.)

"Gampang dong bung Iyan," jawab anda. "Saya buka saja program online trading, klik portofolio dan langsung deh keliatan."

Memang mudah.

Tapi kalau saya tanya lagi, "Tahukah anda  nilai portofolio saham anda kemarin? minggu lalu? bulan lalu? tahun lalu?"

Lho?

Saya rasa (kemungkinan besar) anda tidak bisa menjawab.

"Bung Iyan," kata anda, "emang ada gunanya tahu nilai portofolio saham kemarin atau minggu lalu atau bulan lalu atau tahun lalu?"

Tentu.

Manfaat pertama: kalau anda tahu nilai portofolio minggu lalu, bulan, lalu, tahun lalu, anda bisa DENGAN MUDAH menghitung persentase return (imbal hasil) main saham anda sejak minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu.

Contoh: Misalkan nilai portofolio saham anda setahun lalu adalah Rp 100 juta dan nilai portofolio saham anda hari ini adalah Rp 110 juta. Berbekal data ini anda bisa dengan mudah menghitung imbal hasil (return) main saham anda selama setahun ini.

Return setahun ini = Rp 110 juta - Rp 100 juta = Rp 10 juta.

Persentase Return setahun ini = Rp 10 juta/Rp 100 juta = 10%.

Mudah, kan?

Nah, kalau anda TIDAK tahu nilai portofolio saham anda di masa lalu, (relatif) sulit menghitung dengan pasti persentase return anda. Apalagi kalau anda menambah/menarik modal pada tahun berjalan, akan lebih sulit lagi menghitung persentase return kalau anda tidak tahu nilai portofolio di masa lalu.

"Oke, oke," kata anda. "So bung Iyan, bagaimana caranya saya tahu nilai portofolio saham kemarin, minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu?"

Caranya mudah: Setelah bursa tutup, buka aplikasi online trading anda dan CATAT nilai portofolio saham. Anda boleh mencatat di buku, notes, atau smartphone anda. Anda bisa juga langsung memasukkan data nilai portofolio saham anda di spreadsheet (Microsoft Excel dan sejenisnya).

Dan yang paling penting: lakukan hal ini SETIAP HARI.

"Wah, repot juga ya?"

Nah, kalau mencatat nilai portofolio anda setiap hari anda kategorikan "repot," saya ragu akan keseriusan anda belajar main saham karena mencatat nilai portofolio saham setiap hari adalah tindakan manajemen modal (money management) yang paling dasar dan paling mudah.

Tambahan lagi, dengan mencatat nilai portofolio saham SETIAP HARI, anda MEMAKSAKAN DIRI untuk melihat FAKTA perkembangan main saham anda.

Maksudnya?

Kalau posisi lagi untung, tanpa disuruh pun, anda akan terus-menerus memantau perkembangan portofolio saham. Benar gak?

Tapi tatkala posisi lagi rugi, kemungkinan besar anda malas melihat nilai portofolio saham anda yang semakin hari semakin kecil. Benar gak?

Nah dengan setiap hari mencatat nilai portofolio saham, anda mau-tidak-mau suka-tidak-suka akan tahu nilai portofolio anda yang berkembang atau menyusut.

Kalau portofolio menyusut dan anda catat setiap hari, kemungkinan lebih besar anda akan lebih rela dan lebih cepat cut-loss sebelum kerugian menjadi lebih besar lagi. Ini adalah manfaat kedua dari mencatat nilai portofolio saham setiap hari.

Bagaimana kalau portofolio berkembang? Apakah ada manfaatnya mencatat nilai portofolio yang naik?

Tentu.

Mau tahu apa manfaatnya? Silahkan lanjut baca ke pos "Tahukan Anda Nilai Portofolio Saham Anda? Bagian 2. [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.] 






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, May 14, 2016

Harga Saham Naik. Beli, Jual, atau Bengong? Tanggapan

Sebelum membaca pos ini, silahkan baca dulu pos "Harga Saham Naik. Beli, Jual, atau Bengong?" dan komentar/pilihan pembaca.

Di pos "Saham Naik. Beli, Jual, atau Bengong?" saya mengajak anda untuk memikirkan langkah apa yang akan anda lakukan kalau saham AAPLyang selama 6 bulan terakhir bergerak di kisaran harga Rp 950 sampai dengan Rp 1.050—tiba-tiba hari ini naik ke harga Rp 1.100 dengan volume transaksi 10x rata-rata.

Dan ada 2 skenario yang saya berikan: anda BELUM PUNYA saham AAPL dan anda SUDAH PUNYA saham AAPL.

[Terima kasih kepada semua yang sudah meninggalkan komentar/pilihan. Pilihan yang disertai penjelasan mengapa anda memilih yang anda pilih akan saya komentari satu-per-satu setelah pos ini dipublikasikan.]

Setelah membaca pos tersebut dan memilih, sangat mungkin anda ingin tahu pilihan mana yang lebih baik untuk masing-masing skenario tersebut.

Tapi tujuan utama saya menulis pos tersebut BUKAN untuk membahas pilihan mana yang lebih baik.

Lho?

Tujuan utama saya adalah untuk membuka mata anda bahwa, saat bermain saham, pilihan anda (sangat) DIPENGARUHI kondisi apakah anda BELUM/TIDAK PUNYA atau SUDAH PUNYA suatu saham.

Kok gitu?

Mari kita bahas. 

Coba anda perhatikan kondisi dasar skenario AAPL di atas : saham AAPLyang selama 6 bulan terakhir bergerak di kisaran harga Rp 950 sampai dengan Rp 1.050—tiba-tiba hari ini naik ke harga Rp 1.100 dengan volume transaksi 10x rata-rata. Skenario I: anda BELUM PUNYA saham AAPL. Skenario II: anda SUDAH PUNYA saham AAPL.

Perhatikan juga bahwa yang harus anda analisa adalah pernyataan "saham AAPLyang selama 6 bulan terakhir bergerak di kisaran harga Rp 950 sampai dengan Rp 1.050—tiba-tiba hari ini naik ke harga Rp 1.100 dengan volume transaksi 10x rata-rata." Apakah menurut analisa anda kondisi ini Bullish, Bearish, atau tidak jelas?

[Kalau anda belum tahu arti Bullish dan Bearish, silahkan baca pos "Arti 'Bullish' dan 'Bearish' di Bursa Saham."] 

Kalau menurut anda kondisi saham AAPL Bullish, sebaiknya anda punya saham tersebut.

Kalau menurut anda kondisi saham AAPL Bearish, sebaiknya anda tidak punya saham tersebut.

Kalau menurut anda kondisi saham AAPL tidak jelas, sebaiknya anda juga tidak punya saham tersebut.

Perhatikan juga bahwa yang membedakan Skenario I dan Skenario II hanya kondisi apakah anda BELUM PUNYA atau SUDAH PUNYA saham AAPL. Kondisi dasar kedua skenario itu sama.

Nah, kalau kondisi dasarnya sama, bukankah seharusnya kesimpulan anda juga sama, tanpa dipengaruhi kondisi apakah anda BELUM PUNYA atau SUDAH PUNYA saham tersebut?

Artinya, kalau menurut analisa anda kondisi AAPL  Bullish pada skenario BELUM PUNYA saham, seharusnya  pada skenario SUDAH PUNYA saham analisa anda juga sama: AAPL Bullish. Kalau kondisi Bullish, seharusnya anda beli saham tersebut kalau BELUM PUNYA. Kalau SUDAH PUNYAseandainya anda tidak membeli lagisetidak-tidaknya anda tidak menjual saham tersebut.

Dengan kata lain, kondisi apakah anda BELUM PUNYA atau SUDAH PUNYA saham seharusnya tidak mempengaruhi pilihan anda.

Kata kunci pada kalimat di atas adalah SEHARUSNYA. 

Tapi nyatanya, dari semua komentar/pilihan yang masuk, mayoritas penjawab memilih pilihan yang berbeda, tergantung apakah ia BELUM PUNYA atau SUDAH PUNYA saham AAPL. Contoh: BELUM PUNYA: beli langsung; SUDAH PUNYA: jual sebagian.

Memang, ada beberapa pembaca yang menjawab tanpa terpengaruh oleh apakah ia BELUM PUNYA atau SUDAH PUNYA saham AAPL. Jawaban mereka: BELUM PUNYA: beli langsung; SUDAH PUNYA: beli lagi. (Catatan: ini juga adalah pilihan saya.)

"Oh gitu ya," kata anda. "Apakah ini berarti pilihan yang sama tanpa terpengaruh BELUM PUNYA atau SUDAH PUNYA saham adalah tindakan yang lebih baik?"

Belum tentu. Setiap orang toh punya cara main saham dan profil resiko yang berbeda.

Lagipula, memilih dalam kondisi berandai-andai tidaklah sama dengan memilih dalam kondisi sesungguhnya.

Ketika berandai-andai, anda (juga saya) mungkin bisa dengan mudah memilih membeli lagi saham AAPL walaupun SUDAH PUNYA saham tersebut. Tapi kalau kejadian sesungguhnya adalah anda sudah punya saham tersebut senilai Rp 1 milyar (dengan harga beli rata-rata Rp 1.200) dan saham tersebut sudah anda pegang (alias nyangkut) lebih dari 6 bulan*, kemungkinan besar anda TIDAK AKAN  membeli lagi saham AAPL. Walaupun secara teknikal saham tersebut memberi sinyal akan naik. Walaupun secara logika pilihan tersebut adalah yang lebih logis. 

[* Catatan: pada contoh ini, dimisalkan anda adalah swing trader yang biasanya memegang saham tidak lebih dari 4 minggu dan dimisalkan juga total modal main saham anda Rp 2 milyar.]

Apa artinya?

Artinya anda HARUS tahu dan sadar bahwa BELUM/TIDAK PUNYA atau SUDAH PUNYA posisi akan MEMPENGARUHI pemikiran dan pilihan anda.

Saat anda TIDAK PUNYA posisi, anda bisa melihat fakta, kondisi, dan situasi dengan pikiran lebih jernih dibandingkan saat anda SUDAH PUNYA posisi. Saat anda SUDAH PUNYA posisiterlepas apakah posisi tersebut untung ataupun rugi—pemikiran dan pilihan anda akan dipengaruhi posisi tersebut.

Hal ini adalah salah satu alasan mengapa kala posisi anda rugi, tindakan terbaik adalah secepatnya CUT-LOSS.

Mengapa?

Karena dengan cut-loss dan menutup posisi yang rugi ini anda akan bisa melihat fakta, kondisi, dan situasi secara objektif.

Pesan moral dari pos ini: kondisi apakah anda TIDAK/BELUM PUNYA atau SUDAH PUNYA suatu saham SEHARUSNYA tidak mempengaruhi pemikiran dan pilihan anda. Tapi faktanya adalah kondisi TIDAK/BELUM PUNYA posisi atau SUDAH PUNYA posisi PASTI akan mempengaruhi pemikiran dan pilihan anda. Sadarilah hal ini pada saat anda memilih tindakan selanjutnya yang akan anda lakukan.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2016 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]