Showing posts with label analisa saham. Show all posts
Showing posts with label analisa saham. Show all posts

Saturday, February 24, 2018

Mengapa Harga Saham Naik Turun?

Kalau anda memperhatikan saham yang aktif diperdagangkan di bursa, harga saham tersebut (biasanya) berfluktuasi naik-turun selama jam perdagangan bursa.

Nah, pernahkah anda memikirkan MENGAPA harga saham bergerak naik-turun dalam hitungan jam, menit, atau bahkan detik?

Figure 1. Mengapa Harga Saham Berfluktuasi Naik-Turun?

Apakah karena faktor fundamental perusahaan?

Rasa-rasanya sih tidak masuk akal kalau fundamental perusahaan berubah-rubah dalam hitungan jam, menit, atau bahkan detik.

Atau karena ada berita tentang emiten saham yang mempengaruhi harga saham?

Rasa-rasanya sih tidak setiap jam (apalagi setiap menit atau detik) ada berita tentang setiap emiten saham.

Kalau bukan karena fundamental dan bukan juga karena berita, lalu apa dong yang menyebabkan harga saham bergerak naik-turun setiap hari?

Menurut G. C. Selden di buku Psychology of the Stock Market:

Most experienced professional traders in the stock market will readily admit that the minor fluctuations, amounting to perhaps five or ten dollars a share in the active speculative issues, are chiefly psychological. They result from varying attidudes of the public mind, or, more strictly, from mental attitudes of those persons who are interested in the market at the time.

Terjemahannya kira-kira begini:

Mayoritas pemain saham profesional berpengalaman mengakui bahwa fluktuasi minor harga saham yang aktif diperdagangkan adalah semata-mata karena faktor psikologis. Gerak naik-turun ini adalah hasil dari perilaku publik yang berbeda-beda, atau lebih tepatnya, hasil dari perbedaan pandangan para pemain saham yang berpartisipasi di bursa pada saat itu.

Apa artinya?

Artinya, dalam jangka pendek, fundamental perusahaan bukanlah faktor dominan yang menentukan harga saham. Dalam jangka pendek, faktor dominan yang menentukan harga saham adalah pandangan para pemain saham yang berpartisipasi jual-beli saham tersebut pada saat itu.

Artinya juga, kalau anda main saham dalam jangka pendek, fundamental perusahaan, seharusnya, bukanlah faktor penentu untuk membeli atau menjual saham. Dengan kata lain, analisa fundamental tidak cocok untuk trading saham jangka pendek.

Jadi, analisa apa yang cocok untuk main/trading saham jangka pendek?

Analisa Teknikal.

Mengapa?

Karena Analisa Teknikal adalah rekaman "perbedaan pandangan para pemain saham yang berpartisipasi di bursa."

Kalau anda bisa meng-interpretasi dengan benar pergerakan harga saham via Analisa Teknikal, anda bisa menebak kecenderungan harga saham apakah dalam waktu dekat akan naik, turun, atau tidak-naik-tidak-turun.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2018 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Sunday, January 14, 2018

"Mengapa" Anda Membeli Saham yang Anda Beli?

Di pos "Cara Membeli Saham Untuk Pemula" saya tulis bahwa sebelum anda membeli saham, pertanyaan pertama yang harus anda cari jawabannya adalah beli saham apa dan mengapa.

Pemain saham biasanya tahu saham "Apa" yang mau ia beli. Tapi alasan "Mengapa" ia (berniat) membeli saham tersebut, mayoritas pemain saham tidak bisa menjawab.

Mengapa penting tahu alasan "Mengapa" anda membeli suatu saham?

Joel Greenblatt di buku The Little Book That Still Beats the Market menulis:

Figure 1. Sampul Depan Buku Joel Greenblatt The Little Book That Still Beats the Market

"Choosing individual stocks without any idea of what you're looking for is like running through a dynamite factory with a burning match. You may live, but you're still an idiot."

Memilih saham tanpa punya ide apa yang anda cari adalah seperti berlari di pabrik dinamit sambil memegang korek api yang menyala. Anda mungkin hidup, tapi tetap saja anda seorang idiot.

Coba anda tanyakan diri sendiri: Apa alasan anda membeli saham yang sudah anda beli?

Kalau anda tidak bisa menjawab berarti anda  memang hobi berlari di pabrik dinamit sambil membawa obor yang berkobar-kobar.






Pos-pos yang berhubungan:
 [Pos ini ©2018 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Tuesday, December 26, 2017

Analisa Teknikal Bukan Hanya Untuk Saham

Di pos "Belajar Analisa Teknikal atau Analisa Fundamental?" saya menyarankan anda—yang bingung memilih antara Analisa Teknikal atau Analisa Fundamental—untuk memilih Analisa Teknikal. Di pos tersebut saya memberikan beberapa alasan mengapa Analisa Teknikal, menurut saya, lebih unggul daripada Analisa Fundamental.

Nah, di pos ini saya akan memaparkan 1 lagi keunggulan Analisa Teknikal dibandingkan Analisa Fundamental.


---###$$$###---


Kalau anda mengikuti berita finansial di tahun 2017 ini, kemungkinan besar anda pernah membaca, mendengar, menonton berita tentang Bitcoin. Terutama tentang harga Bitcoin di bulan Januari 2017 sekitar USD 1,000 dan di bulan Desember hampir mencapai USD 20,000.



Misalkan anda ingin membeli Bitcoin dan sebelum membeli anda ingin menganalisa Bitcoin terlebih dahulu. Analisa apa yang bisa anda pakai? Analisa Fundamental? Atau Analisa Teknikal?


Bisakah Bitcoin dianalisa dengan Analisa Fundamental?

Bitcoin bukan perusahaan.

Bitcoin tidak memproduksi barang/jasa apapun.

Bitcoin tidak ada earning/penghasilan.

Bitcoin tidak punya asset.

Bitcoin bukan sumber daya alam yang harus ditambang/ditanam (dengan modal besar).

Bitcoin adalah uang elektronik (crypto currency) yang bisa diproduksi siapapun yang bersedia menyediakan computer power.

Berdasarkan fakta di atas, bisa disimpulkan bahwa tidak ada cara secara fundamental untuk menilai Bitcoin, untuk menilai apakah Bitcoin murah atau mahal.

Dengan kata lain, Bitcoin TIDAK BISA dianalisa dengan Analisa Fundamental.


Kalau begitu, bisakah Bitcoin dianalisa dengan Analisa Teknikal?

Bitcoin ada data harganya.

Bitcoin ada data volumenya.

Yang diperlukan untuk melakukan Analisa Teknikal adalah data harga (dan volume).

Jadi, Bitcoin BISA dianalisa dengan Analisa Teknikal.

[Catatan: BISA dianalisa dengan Analisa Teknikal TIDAK BERARTI bahwa analisa anda pasti benar dan menguntungkan.]


---###$$$###---


Nah, diskusi Bitcoin di atas menunjukkan bahwa Analisa Teknikal lebih versatile (serbaguna) dibandingkan Analisa Fundamental.

Dengan Analisa Teknikal anda bisa menebak apakah harga Bitcoin cenderung naik, cenderung turun, atau cenderung tidak-naik-tidak-turun. Dengan Analisa Teknikal, anda tidak perlu tahu apakah nilai Bitcoin (atau saham) masih murah atau sudah mahal. Kalau menurut anda harga cenderung naik, beli; kalau harga turun ke titik cut-loss (atau take profit), jual.

Simpel.

Itulah salah satu alasan mengapa saya sudah lama meninggalkan Analisa Fundamental dan mendalami Analisa Teknikal.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, November 12, 2016

Jangan Langsung Percaya Prediksi Analis/Ahli/Pakar Saham

Selama masa kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2016, (hampir) semua ahli, pakar, pengamat politik dan juga (hampir) semua survey, poll, jajak pendapat memprediksi Hillary Clinton akan menjadi presiden Amerika Serikat, mengalahkan Donald Trump.

Tidak ketinggalan, Warren Buffet—investor yang didewakan banyak investor saham—juga dengan lantang memihak Hillary Clinton.

Datanglah hari pemilu 08 November 2016. Hasilnya?

Donald Trump menang.

Semua ahli, pakar, pengamat politik SALAH.

Kok bisa?

Bukan itu saja.

(Hampir) Semua ahli, pakar, pengamat, analis saham Amerika Serikat memprediksi bahwa bursa saham Amerika Serikat akan ambruk jika Donald Trump terpilih menjadi presiden.

Nyatanya?

Dow Jones Industrial Average malah naik 1.5% pada tanggal 09 November 2016.

[Pada tanggal 09 November 2016 bursa-bursa Asia—yang lebih dulu buka sebelum bursa Eropa dan Amerika—ambruk duluan. Bursa-bursa Eropa juga ambruk paginya tapi berbalik naik SETELAH melihat bursa Amerika tidak ambruk.]

Lagi-lagi (hampir) semua ahli, pakar, pengamat, analis saham SALAH.

Kok bisa?

Mengapa bisa terjadi semua orang-orang yang (katanya) ahli, pakar tapi SALAH telak?

 Tentu saja bisa.

Seahli apapun seseorang dalam menganalisa dan memprediksi, harus anda camkan bahwa yang namanya prediksi ujung-ujungnya adalah NEBAK.

Kok nebak?

Karena tidak ada seorangpun tahu dengan pasti apa yang akan terjadi di masa depan.

Lalu, apakah salah menganalisa, memprediksi, menebak suatu hal akan terjadi?

Tidak salah kok..

Menebak sih sah-sah saja. Tapi...

Salah kalau si penebak mengutarakan seakan-akan tebakannya adalah fakta yang pasti akan terjadi.

Yang lebih salah lagi adalah kalau anda LANGSUNG percaya pada prediksi mereka.

Mengapa?

Kembali lagi: semua analisa, prediksi, forecast, ramalan, prakiraan ujung-ujungnya adalah NEBAK. Walaupun si penebak adalah ahli atau pakar yang sudah menggeluti profesinya selama puluhan tahun, yang namanya NEBAK berarti bisa (sering) salah.

[Silahkan baca juga pos "Valuasi Indeks Saham Indonesia Terlalu Tinggi?"]

Jadi, kalau anda tanpa cek dan ricek LANGSUNG percaya pada omongan/tulisan/pendapat/opini/pandangan/prediksi atapun survey/poll/jajak pendapat, dan hasilnya anda dirugikan, jangan salahkan orang lain. Yang salah adalah yang langsung percaya.

Apa artinya diskusi di atas untuk pemain saham?

Artinya: saat anda menganalisa saham, JANGAN menganggap bahwa analisa anda PASTI benar. Apalagi kalau anda baru beberapa tahun belajar menganalisa saham. Ingat: para ahli yang sudah puluhan tahun menganalisa saham pun masih akan sering salah. (Warren Buffet pun bisa salah. Apalagi anda dan saya.)

Artinya juga: kalau anda belum bisa menganalisa saham sendiri, silahkan mencari masukan, petunjuk, pedoman, bimbingan dengan membaca, mendengar, mempelajari perkataan/tulisan orang-orang yang sudah lebih berpengalaman. Tapi JANGAN LANGSUNG serta-merta percaya 100% pada prediksi mereka.

Cerna dan telaah sendiri apakah prediksi mereka masuk akal.

Cerna dan telaah sendiri apakah prediksi mereka memihak ("bias") atau tidak.

Cerna dan telaah dengan cermat apakah prediksi mereka mengandung maksud dan tujuan terselubung.

Cerna dan telaah juga bagaimana track-record (rekam jejak) prediksi mereka: lebih sering salah atau lebih sering benar.

Saya tutup pos ini dengan pesan moral berikut:

Just because all experts predict something will happen doesn't mean it will happen. - Iyan Terus Belajar Saham

Hanya karena semua pakar memprediksi suatu hal akan terjadi tidak berarti hal itu akan terjadi.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2016 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Thursday, May 30, 2013

Apakah Harga Saham Sudah Mahal?

Banyak pembaca yang bertanya,"Menurut Bapak Iyan, apakah harga saham ABCD sudah mahal?"

Kalau anda membaca halaman About, anda sudah tahu bahwa saya tidak memberikan rekomendasi saham spesifik.

Apakah TLKM sudah mahal? Apakaha WSKT sudah mahal?

Saya tidak bersedia menjawab.

Lho, kok pelit banget sih, gerutu anda.

Terus terang, saya memang pelit dalam hal tertentu. Tapi pelit bukanlah penyebab saya tidak bersedia menjawab apakah suatu saham sudah mahal atau masih murah. Saya tidak bersedia menjawab karena saya TIDAK TAHU.

Saya ulangi: Saya tidak tahu apakah saham sudah mahal atau belum.

Lagian, saya lebih baik tidak tahu.

Lho?

Yang meneliti apakah saham masih murah atau sudah mahal adalah analis fundamental. Saya bukan penganut analisa fundamental; saya penganut analisa teknikal.

Kalau sudah baca pos "Saham Yang Layak Dibeli Menurut Analisa Teknikal" anda tahu bahwa analisa teknikal menganjurkan membeli saham yang cenderung naik, bukan saham yang murah. Kalau saham cenderung naik, lambat-laun ia akan menjadi mahal.

Masalahnya, saham yang sudah mahal, biasanya malah naik terus dan jadi tambah mahal. (Kalau anda sudah main saham cukup lama, saya yakin anda pernah mencermati hal ini.) 

Bukan hanya itu. Saham yang sudah naik banyak bukan hanya makin naik terus, tapi juga naiknya makin cepat. Makin tinggi harganya, makin cepat naiknya.

Nah, kalau saya membaca atau mendengar bahwa saham ADHI atau TOTL atau WSKT atau WIKA atau KLBF atau KIJA atau LPCK atau MPPA sudah mahal, makin kurang keberanian saya untuk membeli saham-saham tersebut. Padahal saham-saham yang sudah mahal, kalau mereka bergerak naik, naiknya malahan amat sangat pesat .

Inilah sebabnya saya tidak tahu, tidak mau tahu, dan (berusaha) tidak peduli apakah saham sudah mahal atau tidak. Walaupun saham sudah naik banyak, kalau analisa teknikal yang saya pakai memberi sinyal beli, saya akan beli.

Membeli saham yang sedang naik, apalagi yang sudah naik banyak (dan menjadi mahal) tentu saja tidak saya anjurkan untuk pemula. Mengapa? Karena saham yang sudah naik tinggi, biasanya volatilitasnya juga tinggi. Artinya, saham tersebut cenderung naik tajam dan turun tajam. Kalau anda beli pada moment yang salah, besar kemungkinan anda akan rugi.

Lagipula, inti dari pos ini bukan menganjurkan anda untuk membeli saham yang mahal. Inti pos ini: anda tidak perlu tahu apakah saham sudah mahal atau belum karena pada dasarnya tidak ada yang tahu.

Saham yang sudah naik banyak, sudah mahal, bisa menjadi lebih mahal lagi. Maka dari itu, kalau saham yang anda miliki sedang naik pesat, biarkan ia naik. Tidak perlu coba-coba menerka-nerka apakah ia sudah kemahalan, apakah sudah saatnya jual. Apalagi pengetahuan anda dalam menganalisa saham masih minim (jangan tersinggung).

Kalau analis-analis profesional dengan data lengkap, pengalaman segudang, pendidikan tinggi, masih saja sering salah menebak harga saham yang wajar (Silahkan baca pos "Valuasi Indeks Saham Indonesia Terlalu Tinggi?"), bagaimana dengan prospek anda menebak apakah suatu saham sudah mahal?

Apakah ini berarti saham yang naik akan naik terus?

Tentu saja tidak. Saham yang naik, terus naik, pada akhirnya akan turun. Tidak ada saham yang terus naik dan tidak pernah turun. Tapi tidak ada juga yang tahu sampai di harga berapa saham tersebut akan naik sebelum akhirnya berbalik turun. 

Kalau turun, bagaimana?

Kalau turun, ya harus cut-loss.

Kalau anda sudah tahu cara cut-loss (silahkan baca pos "Cara Cut-Loss Untuk Stop Kerugiaan Saham") anda tidak perlu khawatir apakah saham yang anda beli sudah mahal. Kalau BENAR sudah mahal, saham tersebut akan turun dan anda jual rugi di titik cut-loss. Kalau saham tersebut masih naik, berarti belum mahal. Nyatanya masih ada (banyak) yang beli.

Kalau saham naik pesat jauh di atas titik cut-loss, kapan jualnya supaya saya tetap untung?

Kalau saham sudah berpotensi memberikan laba, anda perlu memakai teknik menjual yang disebut TRAILING STOP. Untuk jelasnya, silahkan baca pos "Cara Menjual Saham Agar Profit Maksimal."
 






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2013 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]  

Wednesday, May 22, 2013

Valuasi Indeks Saham Indonesia Terlalu Tinggi?

Saya baru saja membaca artikel di koran Kompas tanggal 06 Maret 2013 yang berjudul "Valuasi Indeks Sudah Terlalu Tinggi."

Figure 1. Artikel Valuasi Indeks Bursa Efek Indonesia Sudah Terlalu Tinggi - Kompas, Rabu 6 Maret 2013

[Kalau anda bertanya-tanya, "Kenapa Bung Iyan kurang kerjaan, di bulan Mei membaca koran bulan Maret?", nah, ini topik berbeda dan akan saya tulis di pos yang lain.]

Artikel tersebut mengutip perkataan Kepala Riset dan Analisa UBS Securities, Joshua Tanja. "Kita berekspektasi indeks akan kembali ke level 4,500. Jadi, untuk saat ini silahkan mengambil keuntungan yang sudah diperoleh dari kenaikan indeks sebelumnya."

Saya kutip lebih lanjut dari artikel tersebut:

Menurut Joshua, valuasi IHSG saat ini sudah terlalu tinggi. Dengan kata lain, IHSG sudah berada di fase jenuh beli. Rasio harga terhadap laba bersih (PER) IHSG menuru Joshua, suda mencapai 16,2 kali. Diperkirakan, tingkat PER yang pas saat ini adalah pada kisaran 13 kali.

Inti dari artikel tersebut: harga saham-saham di Bursa Efek Indonesia sudah terlalu tinggi, alias sudah sangat mahal. Saatnya jual, tunggu turun, lalu beli lagi.

Sebagai informasi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada tanggal 05 Maret 2013 tutup di angka 4751. Dua hari sebelumnya, tanggal 01 Maret, IHSG baru saja membuat rekor tertinggi (sampai saat itu) di angka 4811.

Nah, kalau IHSG di 4800 dinilai sudah terlalu tinggi, bagaimana dengan kondisi pada tanggal 20 Mei 2013 saat IHSG tutup di angka 5214?

Kalau 4800 sudah terlalu tinggi, 5200 seharusnya sudah amat sangat terlalu tinggi dong?

Terus terang, saya tidak tahu.

Lagipula, itu bukan pesan yang mau saya sampaikan di pos ini.

Pesan yang mau saya sampaikan adalah:


1. Jangan serta-merta langsung percaya pada apa yang anda baca, apa yang anda dengar.

Peter Lynch di bukunya One Up On Wall Street menyarankan anda untuk jangan langsung percaya pada siapapun. Di pos "Mau Investasi Saham? Baca Dulu Buku Peter Lynch 'One Up On Wall Street' (Bagian I)" saya merangkum perkataan Peter Lynch sebagai berikut:

Peter Lynch pada Bab Pendahuluan mengatakan bahwa ada satu hal utama yang perlu anda ketahui: Jangan mengikuti mentah-mentah saran para profesional! 

Jangan langsung percaya saran pakar ekonomi, jangan langsung mengikuti saran analis saham, jangan menelan bulat-bulat saran saya di blog ini, jangan pula langsung membeli saham rekomendasi Peter Lynch. 

Mengapa?

Jawabannya ada di nomor 2.


2. Analis bisa (sering) salah.

Tidak hanya analis-analis karbitan yang sering salah; analis kelas kakap yang bekerja di perusahaan sekuritas kelas dunia seperti UBS Securities pun bisa salah.

Coba anda bayangkan. Analis di perusahaan sekuritas kelas dunia tentu saja punya data yang lengkap, juga punya informasi terkini. Analis tersebut kemungkinan berpendidikan tinggi, punya gelar MBA, sudah lulus test CFA (Chartered Financial Analyst).

Data lengkap, informasi up-to-date, pendidikan tinggi, pengetahuan luas, pengalaman segudang. Kok masih salah?

Jawabannya ada di nomor 3.


3. Semua analisa saham, ujung-ujungnya adalah nebak.

Lho kok gitu, protes anda. Analisa fundamental kan berdasarkan laporan keuangan perusahaan. Kok dibilang nebak?

Laporan keuangan perusahaan adalah fakta masa lalu, sedangkan pergerakan harga saham selalu forward looking, memandang ke depan.

Coba anda pikirkan: siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan? Siapa yang tahu apakah perusahaan akan berhasil menghasilkan laba sebesar angka yang diprediksi analis? Siapa yang tahu apakah produk terbaru perusahaan akan laku keras di pasar? Kalau laku keras, berapa banyak yang akan terjual, berapa lama hal itu akan berlanjut?

Analis berbekal data lengkap bisa saja membuat educated guess, prediksi terpelajar. Tapi prediksi adalah tetap nebak. Anda bisa namakan prediksi, forecast, ramalan, prakiraan, target. Apapun namanya, ujung-ujungnya adalah nebak. Masih tidak percaya? Silahkan baca pos "Cara/Tehnik Menganalisa Saham."

Apakah ini artinya saya mengatakan analisa fundamental tidak perlu?

Sama sekali bukan begitu.

Analisa fundamental sangat penting untuk mengukur mahal-murahnya suatu saham. Tapi analisa fundamental bukan tipe analisa yang cocok untuk pasar yang sangat Bullish dan sangat Bearish. (Anda belum tahu arti Bullish dan Bearish? Silahkan baca pos "Arti 'Bullish' dan 'Bearish' di Arti Bullish dan Bearish di Bursa Saham.")

Dengan kata lain, ketika optimisme terlalu tinggi, saham yang sudah mahal, sudah tinggi harganya, bisa naik lebih tinggi lagi. Ketika pesimisme terlalu tinggi, saham yang sudah murah, sudah rendah harganya, bisa turun lebih rendah lagi. 

Karena alasan ini, pesan saya berikutnya adalah:


4. Jangan mendewakan satu cara dalam berinvestasi saham. 

Dunia ini penuh dengan orang-orang fanatik, yang menganggap hanya ada satu cara yang terbaik, hanya ada satu cara untuk melakukan sesuatu. Masalahnya, cara yang mereka anggap terbaik biasanya adalah satu-satunya cara yang mereka tahu, cara yang biasa mereka kerjakan.

Bagaimana mereka tahu dan begitu yakinnya bahwa cara mereka adalah yang terbaik, padahal mereka tidak pernah mempelajari cara yang lain?

Katakan saja anda untung besar investasi di saham tapi tidak pernah beli properti. Apakah dengan itu bisa anda simpulkan bahwa investasi saham adalah investasi yang terbaik? Bagimana kalau misalkan anda untung berlipat-lipat dari investasi properti tapi tidak pernah main saham. Apakah anda bisa dengan yakin menyatakan bahwa investasi properti lebih baik dari investasi saham? 

Saya sudah cukup tua dan berkecimpung cukup lama di dunia saham untuk menyadari bahwa TIDAK ADA CARA SATU-SATUNYA YANG TERBAIK UNTUK SEMUA ORANG. 

Ada cara terbaik untuk saya, ada cara terbaik untuk anda, tapi cara terbaik untuk saya tidak berarti adalah cara terbaik untuk anda.

Lagian, tidak ada analisa yang works all the time, yang selalu berhasil dan tidak pernah gagal. Kalaupun anda penganut aliran teknikal, sadarlah bahwa tidak ada analisa teknikal yang juga works all the time. Untuk lengkagpnya, silahkan baca pos "Prinsip Mendasar Analisa Teknikal (Technical Analysis) Bagian I." 

Kalau anda ingin sukses main saham, berusahalah untuk membuka pikiran anda dengan menerima hal-hal baru. Berusahalah menerima bahwa banyak jalan menuju Roma. Berusahalah menerima bahwa jalan yang anda pilih menuju Roma belum tentu jalan yang terbaik untuk orang lain. Berusahalah menerima perbedaan pandangan, sikap, tujuan, keyakinan, pendapat orang lain.

(Perhatikan: saya tidak meminta anda menerima pandangan orang lain. Yang saya minta adalah anda untuk menerima perbedaan pandangan, sikap, dll.)

Pasar saham hanya akan berfungsi kalau orang-orang punya pendapat yang berbeda. Kalau semua orang mau beli, tidak ada yang menjual, tidak ada saham yang bisa anda beli. Kalau semua orang mau jual, tidak ada yang mau beli, tidak ada saham anda yang terjual. 

Nah, sekarang sedikit intermezzo mengenai mengapa saya beralih dari analisa fundamental.

Saya sendiri sekarang condong memakai analisa teknikal. Saya meninggalkan analisa fundamental karena ketika mulai serius main saham di tahun 1990an, saya mendalami analisa fundamental tapi hasilnya saya rugi habis-habisan. Apakah ini berarti analisa fundamental itu jelek?

Sama sekali tidak.

Saya mengartikan kegagalan saya dikarenakan saya tidak mengerti betul analisa fundamental, dan juga karena analisa fundamental tidak cocok dengan bingkai-waktu main saham saya.

Kemungkinan yang lain adalah: saya memakai analisa fundamental ketika Krisis Moneter (krismon) menghantam Indonesia di tahun 1997. Ketika pesimisme amat sangat tinggi--seperti saya tulis di atas--saham yang sudah murah bisa turun menjadi lebih murah lagi. Kondisi seperti itu tidak berarti analisa fundamental jelek. Hanya saja, menerapkan analisa fundamental pada saat itu harus dibarengi dengan tingkat kesabaran tinggi (suatu karakter yang tidak saya miliki).

Kalau anda mau tahu saran saya menghadapi saham yang mencetak rekor harga tinggi terbaru, silahkan baca pos "Saham Naik ke Harga Tertinggi. Saatnya Jual?"         







Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2013 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

Saturday, April 23, 2011

Cara/Teknik Menganalisa Saham


Secara garis besar, ada tiga teknik/cara menganalisa saham:

  • Analisa Fundamental
  • Analisa Teknikal
  • Analisa Lain-lain 

Analisa Fundamental

Analisa Fundamental adalah cara menganalisa saham berdasarkan fundamental perusahaan yang biasanya tercermin dari laporan keuangan. Para analis saham meneliti asset, hutang, penjualan, biaya, laba/rugi, dan berbagai aspek lain perusahaan untuk menerka harga wajar saham.

Dari laporan keuangan, bagian yang paling harus anda perhatikan adalah laba perusahaan. Mengapa? Karena faktor penentu utama harga saham adalah laba perusahaan, atau tepatnya laba per saham. Untuk mempermudah perbandingan satu saham dengan yang lain, laba ini biasanya diungkapkan dalam price-earning-ratio (PER). Silahkan baca pos "Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku "One Up on Wall Street (Bagian V)."

Perlu anda ingat bahwa analisa fundamental mengharuskan anda memPREDIKSI kondisi keuangan perusahaan—terutama laba—di masa datang. Memprediksi adalah kata lain dari menebak; ketika menebak, analis terjenius pun bisa salah karena tidak seorangpun tahu apa yang akan terjadi di masa datang.

Masalah lain analisa fundamental adalah harga saham di bursa bergerak mendahului publikasi laporan tersebut. Artinya, saham sudah terlebih dahulu naik/turun sebelum laporan keuangan diumumkan. Pada saat laporan keuangan diumumkan ke publik, biasanya sudah terlambat bagi pemain saham untuk bertindak beli atau jual.

Mengapa?

Orang-orang dalam (insiders) sudah terlebih dulu tahu kondisi keuangan perusahaan, jauh sebelum laporan tersebut dipublikasikan. Sangat mungkin berita ini bocor ke segelintir pemain (bandar) saham yang memanfaatkan kesempatan ini untuk menjual atau membeli. Tindakan ini sebenarnya termasuk tindak pidana yang disebut “insider trading.” Tapi hampir belum pernah terjadi pelaku “insider trading” di Indonesia yang dipidanakan.

Bila anda tertarik pada analisa fundamental yang praktis, silahkan membaca pos "Mau Investasi Saham? Baca Dulu Buku Peter Lynch 'One Up on Wall Street' (Bagian I)."

Kalau anda ingin tahu inti dari analisa fundamental, silahkan baca pos "Apa Inti Analisa Fundamental?"


Analisa Teknikal

Analisa teknikal adalah cara menganalisa saham dengan memperhatikan pola harga dan volume saham.

Pola harga saham terbagi atas dua: Trending dan Trendless. Trending terbagi dua lagi: uptrend dan downtrend. Untuk jelasnya, silahkan baca pos "Arti Istilah Saham Trending Trendless" dan pos "Definisi Uptrend, Downtrend, Sideway."

Analisa teknikal juga bersifat PREDIKSI, jadi apapun metode yang anda pakai, anda bisa salah. Lagipula, tidak ada single analisa teknikal yang bisa berlaku pada semua keadaan.

Untuk mengetahui lebih jelas tentang analisa teknikal, silahkan baca pos "Prinsip Mendasar Analisa Teknikal (Technical Analysis) Bagian I."


Analisa Lain-lain

Analisa Lain-lain adalah cara menganalisa saham yang tidak termasuk dalam kategori analisa fundamental dan analisa teknikal. Ada dua contoh yang terbersit di benak saya.

Contoh pertama adalah analisa siklus tahunan seperti yang dikemukakan Jeff Hirsch, penyusun buku Stock Trader’s Almanac. Jeff merekomendasi agar pemain saham Amerika berinvestasi di saham dari bulan November ke April, lalu mengalihkan investasi tersebut ke fixed-income (atau deposito) dari bulan May sampai Oktober. Investor yang melakukan ini dapat meraup keuntungan berlipat-ganda dibanding kalau terus berinvestasi di saham sepanjang tahun.

Contoh kedua adalah cara Warren Buffet menganalisa saham atau perusahaan. Warren Buffet tidak hanya menganalisa laporan keuangan perusahaan tapi ia juga menganalisa orang-orang (manajer) yang mengelola perusahaan. Ia percaya bahwa kondisi perusahaan sangat tergantung kehandalan manajemen orang-orang tersebut. Jadi ketika Mr. Buffet membeli perusahaan, ia membeli perusahaan berikut para pengelola (manajer) perusahaan tersebut. 

Coba saja anda bandingkan logika Warren Buffet dengan klub sepak-bola. Kehandalan suatu klub sangat tergantung dari pemain-pemainnya. Tidak ada gunanya anda membeli klub Manchester United dengan harga mahal kalau semua pemainnya memutuskan pindah ke klub lain.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]