Showing posts with label indeks saham. Show all posts
Showing posts with label indeks saham. Show all posts

Saturday, August 20, 2011

Pengaruh Gejolak Dow Jones Pada IHSG Bursa Indonesia

Sebelum membaca pos ini sebaiknya anda membaca dulu pos “Makna‘Dow Jones’ Bagi Pemain Saham Indonesia.”

Tanggal 4 Agustus 2011 (waktu New York) indeks saham Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup anjlok 512.76 points atau 4.31%. Hari-hari berikutnya DJIA terus bergejolak. DJIA naik-turun lebih dari 400 points setiap hari dari tanggal 8 sampai dengan 11 Agustus dan mengukir rekor baru sebagai empat hari paling bergejolak dalam sejarah DJIA. 

Gejolak DJIA terjadi karena banyak hal: debt ceiling (pagu hutang) Amerika Serikat, downgrade S&P terhadap hutang Amerika, debt crisis (krisis hutang) Eropa. Tapi pada pos ini saya tidak membahas sebab-sebab anjloknya DJIA melainkan membahas bagaiman pengaruh naik-turun DJIA terhadap Strait Times Index (STI) Singapura dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI).

Untuk mempermudah perbandingan, marilah kita lihat tabel-tabel di bawah ini.

Date
Open
High
Low
Close
Change
% Change
4-Aug-11
11893.79
11893.79
11365.74
11383.68
-512.76
-4.31%
5-Aug-11
11384.29
11634.04
11126.32
11444.61
60.93
0.54%
8-Aug-11
11433.93
11433.93
10779.05
10809.85
-634.76
-5.55%
9-Aug-11
10810.91
11251.08
10588.55
11239.77
429.92
3.98%
10-Aug-11
11227.92
11227.92
10662.04
10719.94
-519.83
-4.62%
11-Aug-11
10729.85
11286.39
10729.85
11143.31
423.37
3.95%
Tabel 1. Dow Jones Industrial Average


Date
Open
High
Low
Close
Change
% Change
5-Aug-11
3107.01
3107.01
2973.92
2994.78
-112.23
-3.61%
8-Aug-11
2994.78
2994.78
2847
2884
-110.78
-3.70%
9-Aug-11
2884
2884
2884
2884
0
0.00%
10-Aug-11
2884
2913.13
2821.09
2821.09
-62.91
-2.18%
11-Aug-11
2821.09
2824.39
2720.21
2796.22
-24.87
-0.88%
12-Aug-11
2796.22
2850.59
2796.22
2850.59
54.37
1.94%
Tabel 2. Strait Times Index Singapura 


Date
Open
High
Low
Close
Change
% Change
5-Aug-11
4119.88
4119.88
3866.71
3921.64
-200.45
-4.86%
8-Aug-11
3920.82
3920.82
3714.92
3850.27
-71.37
-1.82%
9-Aug-11
3846.23
3873.54
3590.94
3735.12
-115.15
-2.99%
10-Aug-11
3736.04
3883.55
3736.04
3863.58
128.46
3.44%
11-Aug-11
3863.39
3871.28
3803.25
3869.36
5.78
0.15%
12-Aug-11
3868.63
3926.55
3864.42
3890.53
21.17
0.55
Tabel 3. Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia


Perlu anda ketahui bahwa waktu New York lebih lambat 11 jam dari Waktu Indonesia Barat (WIB). Jadi ketika bursa New York tutup pada tanggal 4 Agustus jam 16:00 waktu setempat, jam di Jakarta menunjukkan pukul 03:00 WIB tanggal 5 Agustus. Sedangkan Bursa Singapura buka pada jam 08:00 WIB pada hari yang sama dengan Indonesia.

Karena perbedaan waktu tersebut di atas, yang akan kita bandingkan adalah pengaruh DJIA Kamis, 4 Agustus pada STI dan IHSG Jumat, 5 Agustus; DJIA Jumat, 5 Agustus pada STI dan IHSG Senin, 8 Agustus, dan seterusnya. 

Mari kita mulai.

Hari Pertama

Tanggal 4 Agustus DJIA -4.31%; 5 Agustus STI -3.61% dan IHSG -4.86%. IHSG lebih turun 0.55% daripada DJIA menandakan IHSG lebih bearish. Tapi volatilitas IHSG biasanya lebih tinggi dari volatilitas DJIA, jadi perbedaan 0.55% ini adalah hal yang tidak significant. 

Perhatikan bahwa IHSG anjlok lebih dalam (4.86%) dibanding STI (3.61%). Ini adalah hal yang lumrah karena volatilitas IHSG memang biasanya juga lebih tinggi dari STI.


Hari Kedua 

Tanggal 5 Agustus DJIA +0.54%; 8 Agustus STI -3.70% dan IHSG -1.82%. Kenapa DJIA naik sedikit sedangkan STI dan IHSG anjlok banyak?

Bursa-bursa Asia anjlok karena perusahaan pemeringkat Standard and Poor (S&P) meng-“downgrade” hutang Amerika Serikat pada Minggu malam. Bursa New York pada hari Jumat adem-ayem karena pengumuman "downgrade" dilakukan S&P pada hari Minggu. Tapi bursa-bursa Asia sudah mengantisipasi pengaruh downgrade terhadap bursa New York yang baru akan buka pada Senin jam 20:30 WIB. Jadi pada hari Senin pagi, STI dan IHSG mendahului DJIA  duluan anjlok. 

Perhatikan bahwa STI -3.70%, jauh lebih banyak dari IHSG yang -1.82%. Dan kalau kita menjumlahkan penurunan tanggal 5 dan 8 Agustus, akumulasinya adalah sebagai berikut:

STI     = (-3.61%) + (-3.70%) = -7.31%
IHSG = (-4.86%) + (-1.82%) = -6.68%

Dari akumulasi ini anda melihat bahwa dalam dua hari STI turun lebih banyak dari IHSG (STI lebih bearish dari IHSG). 


Hari Ketiga

Tanggal 8 Agustus DJIA -5.55% karena efek downgrade S&P; 9 Agustus STI tutup libur nasional dan IHSG -2.99%.


Hari Keempat

Tanggal 9 Agustus DJIA +3.98%; 10 Agustus STI -2.18% melanjutkan turun karena hari sebelumnya tutup dan IHSG yang sudah turun hari sebelumnya, hari ini +3.44%. 

Anda bisa melihat bahwa bursa yang buka setelah libur hari sebelumnya biasanya mengikuti tren pasar hari sebelumnya. 


Hari Kelima

Tanggal 10 Agustus DJIA -4.62%; 11 Agustus STI -0.88% dan IHSG +0.15%. IHSG naik sedikit dibandingkan STI yang turun 0.88% dan DJIA yang masih parah, turun 4.62%. Di sini jelas terlihat bahwa IHSG lebih bullish dari STI dan jauh lebih bullish dari DJIA.


Hari Keenam

Tanggal 11 Agustus DJIA +3.95%; 12 Agustus STI +1.94% dan IHSG +0.55%. IHSG tidak naik banyak mengikuti DJIA dan STI karena IHSG tidak turun pada hari sebelumnya seperti bursa-bursa lain. 

Akumulasi perubahan dalam enam hari trading di atas:

DJIA = (-4.31%) + (0.54%) + (-5.55%) + (3.98%) + (-4.62%) + (3.95%) = -6.02%
STI    = (-3.61%) + (-3.70%) + (0%) + (-2.18%) + (-0.88%) + (1.94%) = -8.43%
IHSG  = (-4.86%) + (-1.82%) + (-2.99%) + (3.44%) + (0.15%) + (0.55%) = -5.54% 

Dari akumulasi naik-turun enam hari trading, anda bisa melihat bahwa IHSG turun paling sedikit dibanding DJIA dan STI. Jadi bisa disimpulkan bahwa IHSG relatif lebih bullish dari DJIA dan STI.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, August 13, 2011

Dow Jones Turun 513 Points Semalam. Tindakan Apa Yang Bisa Anda Lakukan? (Bagian II)



Biasanya, saham yang sudah turun drastis akan naik sedikit kalaupun akhirnya anjlok lagi. Yang terjadi pagi itu BBRI setelah anjlok ke 6600 pada pembukaan, pada pukul 10:00an sempat naik ke harga 6800. Jadi kalau anda "offer" di 6700 atau 6750, saham BBRI anda akan laku terjual. 

Tentu saja tindakan ini ada resikonya. Resikonya? Tidak ada jaminan saham anda akan naik ke harga "offer" anda. Bisa saja saham tersebut langsung turun lebih tajam dari  harga pembukaan.


3. Beli saham yang turun drastis

Saya mengatakan di atas bahwa saham yang turun drastis biasanya akan naik dulu sedikit kalaupun selanjutnya anjlok lagi. Mengikuti kaidah ini, kalau saham yang anda miliki anjlok jauh di bawah harga cut-loss, anda bisa mencoba membeli lagi saham tersebut di harga rendah untuk menurunkan harga rata-rata beli saham tersebut. Istilah keren tindakan ini adalah “average down.”

Tujuan anda meng-“average down” adalah untuk menjual semua saham yang anda miliki ketika saham tersebut naik sedikit. Karena harga beli rata-rata anda lebih rendah dari harga beli pertama, kerugian anda akan lebih kecil. 

PERINGATAN!  Strategi ini adalah strategi trading jangka pendek (bukan buy-and-hold) dengan resiko sangat tinggi dan sebaiknya tidak anda lakukan kalau anda berpengalaman bermain saham kurang dari 2 tahun.

Melanjutkan contoh BBRI di atas, katakan anda punya BBRI 10 lot dengan modal Rp 7000. Pada pembukaan pasar BBRI anjlok ke Rp 6600—di bawah harga cut-loss anda di Rp 6850—dan anda memutuskan membeli 10 lot BBRI lagi di harga 6600 ini dan langsung  meng”offer” semua (20 lot) saham tersebut di Rp 6750. Kalau laku di 6750, berarti anda mendapat untung Rp 150 dari 10 lot yang baru anda beli dan rugi Rp 250 dari 10 lot awal dengan total kerugian Rp 100. Ini kurang lebih sama dengan anda meng-“cut-loss” 10 lot saham awal BBRI anda di harga 6900. 

Secara teori, strategi di atas sangatlah baik, tetapi eksekusinya sangatlah sulit. Membeli saham ketika harga turun drastis memerlukan nyali baja. Lagipula bisa saja setelah anda membeli di harga rendah, saham tersebut malahan anjlok lebih rendah lagi. Kalau ini yang terjadi, bukannya kerugian berkurang malahan kerugian membengkak.

Di atas saya sudah memperingati anda untuk tidak melakukan strategi ini kalau anda berpengalaman bermain saham kurang dari 2 tahun. Ada satu hal lagi yang harus saya peringatkan: jangan melaksanakan strategi ini dalam jumlah uang melebihi kemampuan anda. Artinya, kalau posisi saham anda rugi dan anda tidak punya uang tunai untuk membeli lagi, jangan sekali-kali meminjam uang (memakai fasilitas “margin”/pinjaman dari perusahaan sekuritas) untuk melakukan “average down.” Sangat mungkin anda akan terkena “margin call” dan bangkrut disapu badai bursa. Belilah tambahan saham hanya kalau anda sendiri masih punya uang yang sudah dialokasikan untuk main saham. 

Nah, begitulah kira-kira pilihan yang bisa anda lakukan kalau saham anda di Bursa Efek Indonesia turun drastis. Saya tidak membahas strategi “short sell” dan strategi dengan “option” karena sampai saat ini di Indonesia “short sell” sulit dilakukan dan “option” belum diperdagangkan.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]