Saturday, March 25, 2017

4 Tahap Pembelajaran Main Saham Nicholas Darvas

Ketika Nicholas Darvas belajar main saham, ia melalui 4 tahap proses pembelajaran.

(Kalau anda tidak tahu siapa itu Nicholas Darvas, silahkan baca dulu pos "Main Saham Cara Nicholas Darvas.")

Tahap 1: The Gambler (Penjudi)
Tahap 2: The Fundamentalist (Penganalisa Fundamental)
Tahap 3: The Tehnician (Penganalisa Teknikal)
Tahap 4: The Techno-Fundamentalist (Penganalisa Teknikal+Fundamental)

Di Tahap 1 (The Gambler), Nicholas Darvas melakukan apa yang umumnya dilakukan pemain saham pemula: beli saham berdasarkan tips/rumor/gosip/rekomendasi/newsletter/advisory service.

Hasilnya?

Rugi.

Di Tahap 2 (The Fundamentalist), Nicholas Darvas—berdasarkan pengalaman di Tahap 1— membuat aturan berikut:

1. I should not follow advisory services. They are not infallible, either in Canada or on Wall Street.

Saya tidak akan mengikuti jasa rekomendasi (saham). Mereka tidak selalu benar, di Canada ataupun di Wall Street.
  

2. I should be cautious with broker's advice. They can be wrong.

Saya harus berhati-hati dengan rekomendasi broker saham. Mereka bisa salah.


3. I should ignore Wall Street sayings, no matter how ancient and revered.

Saya tidak akan mempedulikan pepatah Wall Street, tak peduli seberapa tua dan penting pepatah tersebut.


4. I should not trade "over the counter"—only in listed stocks where there is always a buyer when I want to sell.

Saya tidak akan berjual-beli saham "over the counter"—dan hanya akan berjual-beli saham di bursa utama yang selalu ada pembeli ketika saya mau jual.
 

5. I should not listen to rumors, no matter how well-founded they may appear.

Saya tidak akan mendengarkan rumor, walaupun kedengarannya meyakinkan.


6. The fundamental approach worked better for me than gambling. I should study it.

Pendekatan fundamental memberi hasil lebih baik daripada berjudi. Saya harus mempelajarinya.


7. I should rather hold on to one rising stock for a longer period of time than juggle with a dozen stocks for a short period of time.

Saya lebih baik memegang dalam jangka waktu lebih panjang satu saham yang sedang naik daripada keluar-masuk lusinan saham dalam jangka waktu pendek. 


---###$$$###---


Di tahap The Fundamentalist, Nicholas Darvas memutuskan untuk tidak membeli saham berdasarkan tips, analisa, dan rekomendasi orang lain. Ia akan membeli saham berdasarkan analisa sendiri.

Tapi bagaimana caranya?

Bagaimana cara memilih saham mana yang akan naik (seperti yang ia sebut di poin nomor 7)?

Nicholas Darvas menyimpulkan bahwa ia seharusnya membeli saham ber-fundamental baik.

(Kalau anda ingin tahu apa yang dimaksud dengan ber-"fundamental baik," silahkan baca pos "Apa Inti Analisa Fundamental?"

Bagaimana hasilnya?

Mau tahu? Silahkan lanjut baca ke pos "4 Tahap Pembelajaran Nicholas Darvas, Bagian 2." (Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.)






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Wednesday, March 8, 2017

Main Saham Cara Nicholas Darvas

Salah satu buku main saham favorit saya adalah buku Nicholas Darvas How I Made $2,000,000 in the Stock Market. Sejak saya beli belasan tahun lalu, buku ini sudah saya baca lebih dari 10 kali.

Mengapa?

Figure 1. Sampul Buku Nicholas Darvas How I Made $2,000,000 in the Stock Market

Buku tersebut mudah dimengerti, enak dibaca, dan mencerminkan pengalaman nyata pemain saham.

Saat pertama kali membaca buku tersebut, saya merasakan dan mengalami apa yang dirasa dan dialami Nicholas Darvas pada saat ia baru mulai main saham. Kalau saja saya sudah membaca buku tersebut SEBELUM nyemplung bermain saham, mungkin kerugian awal saya bisa jauh lebih kecil.

Nah, setelah membaca buku tersebut berulang kali, saya merasa bahwa (salah satu) poin terpenting bagaimana Nicholas Darvas berhasil meraih untung $2,000,000 bisa anda temukan di bagian Author's Introduction.

Bunyinya: 

I built a fortune with serenity by avoiding premature selling yet making an exodus from most of my stocks with the use of a single tool: the trailing stop-loss.

Saya mendulang harta secara tenang dengan menghindari menjual saham terlalu cepat tapi juga keluar dari mayoritas saham yang saya miliki dengan memakai satu cara: trailing stop-loss.

Lanjutnya:

I have discovered no loss-free Nirvana. But I have been able to limit my losses, without compromise, to less than 10 percent whereever possible. Profits are a function of time, and so good reasons have to exist to keep a profitless purchase longer than tree weeks.

Saya menemukan bahwa tidak ada Nirwana tanpa kerugian. Tapi saya bisa membatasi kerugian, tanpa kompromi, di bawah 10 persen selama memungkinkan. Laba berhubungan erat dengan waktu, jadi harus ada alasan jelas untuk memegang saham yang tidak menguntungkan lebih dari tiga minggu.

My stop-loss method had two effects. It got me out of the wrong stock and onto the right one. And it dit it quickly. My methods obviously wouldn't work for everyone. It worked for me. And, by studying what I did, I hope you find this book helpful and profitable for you.

Metode stop-loss saya memberikan dua efek. Metode tersebut membuat saya keluar dari saham yang salah dan masuk ke saham yang benar. Dan metode tersebut melakukannya dengan cepat. Metode saya tentu saja tidak cocok untuk semua orang. Metode tersebut cocok untuk saya. Dan, dengan mempelajari apa yang saya lakukan, saya berharap anda terbantu dengan buku ini dan bisa mendapatkan untung.


---###$$$###---


"Tapi bung Iyan," kata seorang pembaca setia blog ini,"bukankah anda selalu mewanti-wanti untuk menghindari buku main saham yang judulnya bombastis?"

Betul. Saya selalu mengingatkan pembaca blog ini untuk menghindari buku/janji/promosi/iklan yang bombastis karena yang bombastis dan berlebihan biasanya akan mengakibatkan anda membayar mahal tapi bukannya untung malahan buntung.

How I Made $2,000,000 in the Stock Market.

Memang judul tersebut termasuk bombastis. Tapi saya malahan menyarankan anda untuk membaca buku tersebut.

Mengapa?

Coba anda baca lagi judul buku di atas:

How I Made $2,000,000 in the Stock Market.

Terjemahannya: Bagaimana Saya (Nicholas Darvas) Meraup Untung $2 juta di Bursa Saham.

Coba anda cerna.

Nicholas Darvas TIDAK menjanjikan bahwa anda akan bisa untung $2,000,000 setelah membaca buku tersebut. Di buku tersebut Nicholas Darvas hanya menceritakan pengalaman bagaimana IA berhasil mendapat untung $2,000,000 di bursa saham. Jadi, isi buku tersebut sesuai dengan judulnya.

Tambahan lagi, Nicholas Darvas tidak berusaha menjual seminar/pelatihan/software.

Itulah alasannya saya menyarankan buku tersebut.

Jadi, segera BELI hard-copy dan BACA buku tersebut.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]


Thursday, February 16, 2017

Beli Saham Naik Yang Mana?

Silahkan lihat Chart 1 dan 2 di bawah ini.

Chart 1

Chart 2

Pada Chart 1 harga saham naik dari sebelumnya bergerak turun/downtrend. Pada Chart 2 harga saham naik dari sebelumnya bergerak horizontal/sideway.

Kalau harus memilih antara membeli saham seperti di Chart 1 atau saham seperti di Chart 2, anda pilih yang mana? Dengan kata lain, menurut anda mana yang lebih Bullish, Chart 1 atau Chart 2?

(Kalau anda belum tahu arti Bullish, silahkan baca pos "Arti 'Bullish' dan 'Bearish' di Bursa Saham." Silahkan baca juga pos )

Coba anda pikirkan dulu beberapa menit.






Sudah?

Nah, menurut Stan Weinstein di buku Secrets for Profiting in Bull and Bear Markets, yang lebih Bullish adalah Chart 2.

(Untuk memudahkan diskusi, kata "Bullish" di pos ini kira-kira artinya adalah "kuat naiknya.")

Chart 3 (Source:Stan Weinstein's Secrets for Profiting in Bull and Bear Markets, page 17)

Chart 4 (Source: Stan Weinstein's Secrets for Profiting in Bull and Bear Markets, page 17)

 
Saya kutip pernyataan Stan Weinstein:

". . . the steeper the angle of descent of a declining trendline (Chart 3), the less bullish its implications are when it's overcome. . . However, the closer to horizontal the trendline is when it's broken on the upside (Chart 4), the more bullish the implications are."

Terjemahannya kira-kira begini:

Semakin curam derajat penurunan garis tren yang sedang turun, semakin tidak bullish implikasinya ketika garis trend tersebut ditembus. Akan tetapi, semakin mendekati horisontal garis tren ketika ditembus ke atas, semakin bullish implikasinya.

Apa artinya?

Artinya, kalau anda harus memilih antara saham naik yang sebelumnya bergerak turun dan saham naik yang sebelumnya bergerak mendatar, sebaiknya pilih saham naik yang sebelumnya bergerak (relatif) mendatar.

Mengapa?

Karena saham yang sebelumnya bergerak mendatar, kalau naik—biasanya—akan naik lebih kencang daripada saham yang sebelumnya bergerak turun.

Kok bisa begitu?

Mau tahu apa sebabnya saham yang sebelumnya bergerak mendatar kalau naik—biasanya—akan naik lebih kencang daripada saham yang sebelumnya bergerak turun? Silahkan lanjut baca ke pos "Beli Saham Naik Yang Mana? Bagian 2." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]


Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]