Saturday, December 26, 2020

Kombinasi Indikator MACD dan Stochastics

Di pos "Cara Menarik Garis Trend/Trendline" Mas Herlambang meminta tanggapan saya tentang cara ia mengkombinasikan beberapa indikator dan anggapan bahwa indikator satu dan yang lainnya saling mendukung. Begini yang ditulis Mas Herlambang:

". . . pada platform trading yang saya pakai ada 3 kolom grafik, teratas candlestick, tengah stochastic, bawah MACD.

Selama ini dalam menggunakan stochastic saya gabung dengan MACD. Sebelum memutuskan entry, saya lihat dahulu MACD. Berdasarkan pengamatan dari grafik beberapa saham dan dengan data time-frame yang berbeda-beda, kalau MACD line berada di bawah, dan kemudian memotong trigger dan menuju ke atas, berarti saatnya entry (menurut saya). Kemudian baru saya lihat stochastic posisinya bagaimana, kalau %K dan %D berpotongan dan menuju ke atas, memang layak untuk entry.

Begitu juga sebaliknya, langkah yang saya ambil untuk exit posisi.

Bagaimana menurut mas Iyan? Mohon pencerahannya."

Setelah membaca ulang jawaban yang saya tulis di pos tersebut, saya merasa jawaban tersebut melenceng dari pertanyaan yang diajukan Mas Herlambang.

[Silahkan baca juga pos "Pakai Berapa Macam Indikator Analisa Teknikal?"]

Jawaban yang lebih tepat adalah sebagai berikut:

 


Menurut saya, pengamatan Mas Herlambang sudah tepat.

Kondisi MACD (Moving Average Convergence Divergence) line berada di bawah dan menuju ke atas adalah sinyal uptrend.

Kondisi Stochastics %K menembus ke atas %D adalah tanda saham berbalik arah dari kondisi oversold (jenuh jual). Hal ini adalah sinyal beli yang diberikan Stochastics.

Jadi kalau Mas Herlambang memutuskan entry (beli saham) kalau kedua kondisi (bullish) di atas terpenuhi, hal tersebut adalah Trading Plan yang bagus.

Tapi yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah KOMBINASI kedua kondisi indikator analisa teknikal tersebut?

Kombinasi gimana maksudnya, mas Iyan, tanya anda dalam hati.

Oke, saya jelaskan yaa.

Di pos "Prinsip Mendasar Analisa Teknikal (Technical Analysis)" saya tulis bahwa Analisa Teknikal terbagi atas dua metode utama: Trend-following dan Oscillator.

Indikator trend-following berfungsi memprediksi apakah saham yang sedang bergerak naik (uptrend) atau turun (downtrend) cenderung akan melanjutkan aksinya atau cenderung berbalik arah. Sedangkan indikator oscillator berfungsi memprediksi suatu saham yang bergerak dalam kisaran apakah sudah jenuh jual atau jenuh beli.

Dengan menggunakan indikator analisa teknikal MACD dan Stochastics berarti Mas Herlambang menggunakan satu indikator Trend-following dan satu indikator Oscillator.

Hal ini, menurut saya, adalah cara yang tepat mengkombinasikan indikator Analisa Teknikal. Kalau anda ingin memakai lebih dari satu indikator Analisa Teknikal, sebaiknya anda mulai dengan satu indikator Trend-following ditambah satu indikator Oscillator.

Mengapa?

Karena dengan menggunakan satu indikator Trend-following dan satu indikator Oscillator, anda kemungkinan akan mendapat kombinasi yang lebih baik daripada kalau anda menggunakan dua indikator dari jenis yang sama.

Kok bisa?

Saya jelaskan lebih lanjut yaa.

Di pos "Beli Saham Apa?" saya menganjurkan anda untuk membeli saham yang sedang uptrend. Pertanyaannya: Bagaimana cara tahu suatu saham sedang uptrend atau tidak?

Nah, untuk mencari tahu apakah suatu saham sedang uptrend, anda bisa menggunakan indikator Trend-following seperti MACD.

Masalahnya, setelah indikator Trend-following memberi sinyal bahwa suatu saham sedang uptrend, kapan sebaiknya anda membeli saham tersebut?

Apakah langsung beli saat itu juga?

Atau tunggu dulu?

Kalau tunggu, apakah tunggu turun atau tunggu tambah naik lagi?

Untuk menjawab pertanyaan ini, anda bisa menggunakan indikator Oscillator seperti Stochastics: beli ketika saham sedang naik dari posisi Oversold (jenuh jual).

 

---###$$$###---

 

Nah, hal yang saya jabarkan di atas adalah teori-nya. Praktek-nya tidak semudah teori.

Yang penting: kalau anda sudah tahu mengapa sebaiknya mengkombinasikan indikator analisa teknikal Trend-following dan Oscillator, pengetahuan analisa teknikal anda sudah jauuuh di atas rata-rata.


 

 

Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2020 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Sunday, November 15, 2020

Pilih Mana: Main Saham Untung atau Rugi Sedikit?

I believe in being a B++. I believe that the happiest and best position to occupy in life is somewhere comfortably above average, but not too exceptional. This means that you can be quite successful, if you want to be, without being too neurotic about it. The top is too exposed, too vulnerable.

Lucy Kellaway, Financial Times, Monday, 03 January 2005, page 4.

 

Terjemahannnya kira-kira begini:

Saya percaya (kelebihan) menjadi seorang B++. Saya percaya bahwa posisi paling baik dan bahagia dalam kehidupan adalah jauh di atas rata-rata, tapi tidak terlalu luar biasa. Ini berarti anda bisa cukup sukses, kalau anda mau, tapi tidak perlu terlalu berharap. Posisi paling atas terlalu terekspos, terlalu berbahaya.

 

---###$$$###--- 


Bagaimana dengan anda?

Apakah anda selalu bercita-cita, berambisi, menjadi yang terbaik, yang teratas, yang terhebat? Menjadi manusia A?

Atau anda puas kalau sudah berkecukupan? Cukup naik kelas, cukup naik jabatan, cukup makan? Menjadi manusia B++?

Nah, mayoritas pemain saham berambisi meraih nilai A.

Masa sih? tanya dalam hati hati.

Setiap pemain saham, termasuk pemula, berambisi untuk meraih untung (nilai A). (Hampir) Tidak ada yang berambisi untuk RUGI sedikit (nilai B).

Tapi faktanya berlawanan dengan ambisi: mayoritas pemain saham (pemula) rugi. Ada yang rugi kecil (nilai C), ada yang rugi besar (nilai D), ada yang rugi sangat besar (nilai F).

Kalau faktanya seperti itu, tidakkah sebaiknya ambisi untung itu direvisi turun menjadi tidak rugi?

Nah, seperti yang saya tulis di pos Target Laba Main Saham, target seorang pemula adalah untuk RUGI TIDAK TERLALU BANYAK. Untuk seorang pemula, rugi tidak terlalu banyak ini adalah nilai B++.

Kalau begitu anda pilih yang mana: berambisi untung tapi nyatanya rugi banyak, atau berambisi rugi sedikit dan nyatanya rugi sedikit?

 

 

Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2020 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Tuesday, October 20, 2020

Cara IPO Dutch-auction di Bursa Saham

Proses penjatahan dan penentuan harga IPO (Initial Public Offering = Penawaran Saham Perdana) biasanya dilakukan dengan cara book-building.

Tapi selain book-building, ada cara lain: Dutch-auction IPO.

Source: Wall Street Journal 07 July 2005 Page M1

 

Prosesnya—mengacu pada artikel Wall Street Journal di atas—adalah sebagai berikut:

 

1. Perusahaan yang ingin melakukan IPO menentukan jumlah saham yang ingin dijual (pada contoh di atas: 5 juta saham) dan mengumumkan rentang harga (misalkan: $21 - $25).

 

2. Investor memasukan minat beli secara elektronis dengan menyebutkan jumlah saham yang dipesan dan harga pesanan.

 

3. Penjamin emisi dan direksi perusahaan mengumpulkan semua data minat beli, diurutkan dari harga pesanan tertinggi ke bawah sampai pesanan mencapai 5 juta lembar saham.

Contoh di atas: 

  • 1.8 juta saham dipesan di harga $25.
  • 2.6 juta saham dipesan di harga $24.
  • 3.6 juta saham dipesan di harga $23 (total pesanan sampai harga ini adalah 8 juta saham sudah melebihi 5 juta saham yang ditawarkan).
  • 2.4 juta saham dipesan di harga $22 ke bawah. (Pesanan tidak dipenuhi sama sekali).

 

4. Pesanan di harga $23 ke atas mendapat jatah 5/8 dari jumlah yang dipesan dengan harga $23. 


Mengapa jatah 5/8 dari jumlah pesanan?

Karena jumlah saham yang ditawarkan 5 juta sedangkan jumlah minat beli sampai harga $23 adalah 8 juta. Semua investor yang memesan pada harga $23 ke atas mendapat jatah proporsional 5/8 dari jumlah yang mereka pesan.



Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2020 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]