Saturday, October 6, 2018

Untung Main Saham 1% Setiap Hari. Mungkinkah?

Di pos "Investasi Saham atau Trading Saham, Mana Lebih Baik (Bagian II)" seorang pembaca, Johnny Kee, bertanya, ". . . Misalkan ada seorang nasabah yang mempunyai target rata-rata cuan (untung) per hari sebesar 1%. Berarti per bulannya sebesar 22% (sesuai hari kerja) dan per tahunnya sebesar 240%. . . Apa komentar dari pak Iyan mengenai simulasi tersebut?"

Figure 1. Dixit Card (02) from Dixit Revalations Board Game

Jawaban (saya edit dari jawaban asli agar lebih enak dibaca):

. . . Mungkinkah seorang pemain saham untung 1% setiap hari selama bertahun-tahun? Mungkin saja. Tapi mohon Johnny perhatikan: bermain saham adalah layaknya berlari marathon, bukan berlari cepat (sprint).

Maksud saya begini: Banyak pemain saham pemula yang melipatgandakan modalnya dalam beberapa bulan karena faktor keberuntungan dan faktor nekad. Saking mudahnya ia mendapat untung, ia (mungkin) menganggap dirinya jenius, seorang "Super Trader."

Karena merasa jenius, sang "Super Trader" ini cepat-lambat akan meremehkan pasar. Alhasil, suatu saat ia akan merugi dan terus-menerus merugi. Semua keuntungan yang didapat akan habis, bahkan modalnya pun akan ikut tergerus.

Ia menang lari sprint tapi jatuh terkapar saat lari marathon.

Intinya: (sangat) mungkin seorang pemain saham mendapat keuntungan 20-30% per bulan dalam jangka waktu pendek, bahkan untuk pemain saham pemula sekalipun. Apalagi kalau kondisi market lagi bullish.

Pertanyaan berikutnya: kalau gitu mungkinkah seorang pemain saham untung 20% per bulan selama bertahun-tahun?

Kemungkinan selalu ada, tapi amat sangat kecil.

George Soros dan Warren Buffet berhasil menjadi investor kelas kakap dunia dengan return konsisten hanya 20-40% per TAHUN. Jadi kalau ada investor Indonesia yang bisa untung konsisten 240% per tahun, dalam beberapa tahun niscaya ia akan menjadi salah seorang investor terkaya di dunia.

Belum terjadi, kan?

Ada satu hal lagi yang perlu Johnny ingat: tidak setiap hari pasar memberi kesempatan mendapat untung. Kalau anda sudah lama berkecimpung di pasar modal, anda akan tahu bahwa ada hari-hari, minggu-minggu, bahkan bulan-bulan di mana pasar tidak memberikan kesempatan untuk mendapat untung sampai-sampai anda sudah sangat senang kalau tidak rugi.

Kesimpulannya: target laba 240% per tahun sangat sulit dicapai. Bahkan untuk pemain saham yang sudah expert sekalipun. Jadi untuk seorang pemula, sebaiknya tentukan target yang lebih masuk akal, misalkan 20% per tahun.

Tapi kalau Johnny kenal investor yang bisa konsisten untung 240% per tahun setiap tahun, tolong informasikan ke saya. Saya mau sungkem pada beliau agar diajarkan caranya.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2018 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, September 22, 2018

Risk-to-Reward Ratios Main Saham. Pentingkah?

Di pos "Belajar Analisa Teknikal atau Analisa Fundamental?" seorang pembaca, Daenuri Nunu, bertanya:

1. Menurut Mas Iyan seberapa penting risk-to-reward ratio dalam trading saham?

2. Apakah Mas Iyan menerapkan risk-to-reward ratio dalam trading plannya?

3. Jika memang penting dan Mas Iyan menggunakannya, bagaimana cara terbaik menerapkannya, apakah menentukan risk dulu baru kemudian rewardnya, atau reward terlebih dahulu baru kemudian risknya?

Bung Daenuri Nunu menambahkan bahwa, "Pertanyaan ini saya ajukan karena berdasarkan pengalaman saya yang baru seupil ini, konsisten menggunakan cut-loss memang sangat berperan penting dalam menjaga modal, namun ternyata itu tidak cukup untuk untung konsisten."

[Catatan: Risk-to-Reward Ratio adalah Rasio Resiko terhadap (Potensi) Laba.]

Figure 1. The Lost Expedition Board Game by Peer Sylvester

Jawaban saya:

1. Risk-to-reward Ratio SANGAT penting dalam bermain (trading ataupun investasi) saham.

2. Tentu saja.

3. Risk-to-reward Ratio tidak bersifat absolut karena saat mengira-ngira Risk-to-Reward Ratio suatu saham, anda hanya MENEBAK. Dengan kata lain: hanya karena anda mengira-ngira (menebak) potensi Reward adalah 3 kali Risk, tidak berarti hal tersebut pasti akan terjadi.

Cara yang benar menerapkan Risk-to-reward Ratio adalah dengan menentukan (menebak) RISK(resiko)-nya dulu. Selama menurut anda Risk LEBIH KECIL daripada potensi Reward, silahkan dilaksanakan.

Sekali lagi saya ingatkan: TIDAK ADA YANG TAHU pasti potensi reward yang akan terjadi di masa datang. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengontrol resiko.

Motto saya: Control the risk. Let the reward rewards you.


---###$$$###---


Catatan tambahan untuk jawaban di atas:


1. Contoh Risk-to-Reward Ratio 3:1

Misalkan saham KECE harganya Rp 1.000.

Menurut anda, KECE berpotensi naik ke harga 1.150.

Menurut anda juga, KECE—kalau sampai turun—paling-paling turun ke harga 950.

Potensi Reward = 1150 - 1000 = 150

Potensi Risk = 1000 - 950 = 50

Risk-to-Reward Ratio = 150 : 50 = 3 : 1


2. Tahu dari mana potensi Reward suatu saham?

Tidak ada yang tahu pasti potensi reward suatu saham.

Ketika anda mengira-ngira (alias nebak) bahwa saham KECE berpotensi naik ke harga 1.150, hal tersebut hanyalah perkiraan/tebakan. Artinya, hanya karena anda merasa saham KECE berpotensi naik ke 1.150 tidak berarti saham tersebut PASTI akan naik sampai 1.150.

Bisa saja yang terjadi adalah saham KECE naik ke 1.100 lalu turun. Bisa juga naiknya cuma sampai 1.050 lalu berangsur turun. Atau malahan KECE tidak naik dari 1.000 tapi langsung turun.

Dengan kata lain, anda TIDAK BISA mengontrol potensi reward suatu saham.


3.  Tahu dari mana potensi Risk (resiko) suatu saham?

Kalau harga saham sedang turun, tidak ada yang tahu pasti saham akan berhenti turun di harga berapa.

Artinya, hanya karena anda menebak bahwa saham KECE—kalau sampai turun—paling-paling turun ke harga 950, tidak berarti kalau saham KECE akan PASTI BERHENTI turun ketika mencapai 950.

Tapi berbeda dengan potensi Reward, potensi Risk bisa anda kontrol.

Caranya?

Tentukan titik CUT-LOSS di 950.

Artinya, kalau saham KECE turun mencapai 950, anda langsung menjual (rugi) saham tersebut di harga 950. Kalau setelah itu harga saham masih terus turun, anda sudah tidak menanggung resiko lagi.


Poin nomor 2 dan 3 adalah yang saya maksud pada kalimat "Sekali lagi saya ingatkan: TIDAK ADA YANG TAHU pasti potensi reward yang akan terjadi di masa datang. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengontrol resiko."






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2018 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Friday, August 24, 2018

Kuliah Apa Agar Bisa Untung Main Saham?

Di pos "Investasi Saham atau Trading Saham, Mana Lebih Baik? (Bagian II)" seorang pembaca blog ini, Nandini, bertanya, ". . . kuliah S2 apa ya kalo saya ingin berkarir jadi di broker di suatu perusahaan (nantinya sih berkhayal hanya bekerja dari rumah)."

Intinya, Nandini ingin tahu jurusan pendidikan formal apa yang bisa mempersiapkan dirinya agar bisa untung main saham.

Figure 1. University Card from 7 Wonders Board Game

 Jawaban saya:

Saya pribadi berpendapat bahwa belum ada jurusan PENDIDIKAN FORMAL yang mempersiapkan seseorang untuk berkarir sebagi "pemain" (investor atau trader) saham.

Mengejar gelar MBA mungkin mempersiapkan anda untuk mengelola keuangan perusahaan, tapi tidak mempersiapkan anda untuk mengelola portofolio saham.

Lagipula, hampir semua teori tentang investasi ataupun portofolio saham yang diajarkan di universitas adalah teori yang dibuat profesor-profesor yang bukan pemain saham. Teori-teori mereka mungkin bagus, tapi banyak asumsi-asumsi yang dipakai tidak sesuai dengan kondisi pasar sesungguhnya.

Kalau anda tidak percaya pendapat saya, saya harap anda percaya pada Peter Lynch dan Joel Greenblatt (dua orang penulis buku best-seller tentang investasi saham).

Peter Lynch (penulis buku "One Up on Wall Street") dan Joel Greenblatt (penulis buku "The Little Book that Still Beats the Market" dan "You Can Be a Stock Market Genius") berpendapat bahwa pendidikan MBA tidak banyak membantu untuk sukses bermain saham. Perlu anda ketahui bahwa Peter Lynch dan Joel Greenblatt adalah investor saham ulung. Dan mereka punya gelar MBA dari universitas ternama. Tapi mereka dengan gamblang menyatakan bahwa gelar MBA tidak banyak membantu mereka menjadi investor saham ulung.

Jadi, saran saya adalah agar anda TERJUN LANGSUNG ke dunia transaksi saham. Tapi dalam proses belajar, janganlah mencemplungkan uang dalam jumlah nominal besar.

Terjun langsung bisa dengan langsung menjadi pemain saham, atau bisa juga dengan bekerja di perusahaan broker saham.

Kalau anda mau mahir mancing ikan, anda tidak perlu kuliah 4 tahun untuk belajar biologi ikan. Akan lebih produktif kalau anda langsung memancing ikan di kolam/laut mendompleng pemancing atau nelayan yang sudah berpengalaman.

Pesan moral:

Pendidikan formal bukan faktor penting untuk sukses main saham. Walaupun anda tidak lulus SD—asalkan anda bisa baca, tulis, hitung (duit) dan anda rajin berlatih jual beli saham—anda tetap berpeluang sukses main saham.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2018 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]