Friday, October 31, 2014

Arti Istilah "Trading Plan"

Mungkin anda sering mendengar atau membaca nasehat bahwa dalam bertransaksi saham anda harus menyiapkan "trading plan."

Apa sih yang dimaksud dengan "trading plan"?

Nah, di pos ini saya akan membahas apa sebenarnya arti "trading plan," siapa saja yang harus menyiapkan "trading plan," mengapa harus menyiapkan "trading plan," dan mengapa mayoritas pemain saham tidak menyiapkan "trading plan."

Mari kita mulai.


Arti Trading Plan

trading = beli-jual atau jual-beli
plan = rencana

Jadi, trading plan artinya adalah rencana beli-jual, atau lebih tepatnya rencana beli dan rencana jual.

[Sebenarnya, yang lebih tepat adalah "rencana membuka posisi" dan "rencana menutup posisi."

Mengapa?

Karena di bursa tertentu, pemain saham bisa "membuka posisi" dengan menjual saham pinjaman (transaksi short-sell).

Tapi karena mayoritas pemain saham Indonesia tidak bisa bertransaksi short-sell, maka dari itu di pos ini saya mengidentikkan "rencana membuka posisi" dengan "rencana beli" dan "rencana menutup posisi" dengan "rencana jual."]


Siapa Yang Harus Menyiapkan Trading Plan

Kalau anda membaca buku ataupun blog saham, biasanya "trading plan" diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai "rencana trading."

Saya tidak suka terjemahan ini karena frase "rencana trading" bisa disalahtafsirkan seakan-akan hanya pemain saham jangka pendek (yang melakukan "trading") yang harus menyiapkan Trading Plan.

Padahal, semua orang yang berharap mendapatkan untung dari saham harus menyiapkan Trading Plan.

SEMUA orang.

Tidak terkecuali apakah ia pemain saham jangkan pendek (trader) ataupun pemain saham jangka panjang (investor). Tidak peduli apakah tujuannya adalah spekulasi atau investasi. Tidak peduli apakah ia laki-laki atau perempuan, tua atau muda, bermodal kecil atau besar, berpendidikan tinggi atau tidak. Pokoke, kalau berharap mau untung, HARUS menyiapkan Trading Plan.

Dengan kata lain, anda TIDAK PATUT BERHARAP bisa konsisten untung dari saham kalau anda tidak menyiapkan Trading Plan.


Mengapa Harus Menyiapkan Trading Plan

Misalkan anda seorang pelaut dan ingin berlayar dari Jakarta menuju Pontianak. Apakah anda langsung naik ke kapal, menarik jangkar, dan langsung berangkat? Tanpa mengecek kondisi cuaca? Tanpa memeriksa apakah alat navigasi berfungsi dengan baik? Tanpa memeriksa kondisi dan ketersediaan alat keselamatan seperti sekoci dan pelampung?

Tentu saja tidak. (Kecuali kalau anda memang tidak berniat sampai di tujuan dengan selamat.)

Nah, Trading Plan adalah seperti persiapan yang dilakukan pelaut profesional sebelum berlayar.

Sang pelaut akan mengecek laporan cuaca, apakah cuaca memungkinkan untuk berlayar dengan aman sampai tujuan. Ia juga akan memeriksa bahwa alat navigasi, apakah semuanya bekerja dengan baik. Tak lupa ia juga memastikan bahwa sekoci dan pelampung berkondisi baik, kalau-kalau alat-alat keselamatan tersebut diperlukan.

Memang, perencanaan yang baik tidak menjamin si pelaut pasti akan tiba di tujuan dengan selamat. Tapi tanpa perencanaan sama sekali, kemungkinan sangat kecil si pelaut akan sampai di tujuan dengan selamat.

Kalau pemikiran di atas kita terapkan pada Trading Plan bisa kita artikan bahwa menyiapkan Trading Plan TIDAK MENJAMIN anda pasti UNTUNG. Tapi tidak menyiapkan Trading Plan berarti HAMPIR PASTI anda akan BUNTUNG.


Mengapa Mayoritas Pemain Saham Tidak Menyiapkan Trading Plan?

Saya katakan di atas bahwa kalau anda berharap ingin mendapat untung dari saham, anda harus menyiapkan Trading Plan.

Pertanyaannya: mengapa mayoritas pemain saham tidak menyiapkan Trading Plan?

Apakah karena mereka tidak mau untung dan pengen rugi?

Tentu saja tidak.

Survei membuktikan bahwa semua orang terjun bermain saham karena berminat mendapatkan untung. Kalau gitu, mengapa mereka tidak menyiapkan Trading Plan?

Menurut saya, ada beberapa alasan.

Alasan pertama: tidak tahu cara membuat Trading Plan.

Nah, menasehati pemula untuk menyiapkan Trading Plan adalah laksana menyuruh balita yang baru belajar membaca A, B, C, D, untuk menulis artikel untuk surat kabar.

Bagaimana mungkin bisa menulis artikel padahal menulis satu kata saja belum bisa?

Menulis artikel yang menarik dan enak dibaca bukanlah hal mudah, bahkan bagi individu yang bergelar sarjana dan sudah membaca-menulis bertahun-tahun.

Demikian juga dengan Trading Plan. 

Membuat Trading Plan bukanlah hal mudah, bahkan bagi individu yang sudah main saham bertahun-tahun. Apalagi bagi pemula.

Jadi, menasehati pemula untuk menyiapkan Trading Plan tanpa menjelaskan caranya adalah nasehat yang baik tapi sama sekali tidak membantu. 

Alasan kedua: tidak menyadari bahwa Trading Plan harus mencakup rencana beli dan rencana jual.

Maksudnya?

Hampir semua pemain saham mencurahkan seluruh waktu dan pikirannya untuk rencana beli. Mereka menganggap bahwa kalau sudah merencanakan beli dengan benar, keuntungan pasti diraih.

Akibatnya, setelah membeli saham hampir semua pemain saham tidak tahu apa yang harus selanjutnya dilakukan. Di benak mereka, sekarang saatnya menunggu.

Menunggu apa?

Tunggu saham naik, kata mereka

Kalau tidak naik?

Tunggu sampai naik.

Kalau turun?

Ya tunggu naik.

Kalau terus turun?

Ya terus menunggu.

Kalau setelah itu naik?

Tunggu naik sampai mencapai harga beli.

Kalau sudah mencapai harga beli?

Tunggu naik sampai target keuntungan.

Kalau sudah mencapai target keuntungan?

Tunggu naik lebih tinggi lagi.

Kalau sudah naik lebih tinggi?

Tunggu naik LEBIH tinggi lagi.

Kalau setelah itu turun?

Kok masih nanya sih? Ya tunggu sampai naik lagi.

Lho?

Kalau bisa untung dari saham hanya dengan cara menunggu, bisa jadi tidak ada pemain saham yang rugi. Apakah semudah itu?

Tentu saja tidak.

Maka dari itu, ketika membuat Trading Plan jangan melulu memikirkan rencana beli saja. Curahkan juga waktu dan pikiran untuk memikirkan rencana jual.


Oke, kata anda. Sekarang saya sadar bahwa Trading Plan sangat penting. Bagaimana cara membuatnya?

Sebelum mulai membuat Trading Plan yang spesifik dan lengkap, anda perlu lebih dulu tahu langkah-langkah membuat rencana beli dan rencana jual. Mau tahu? Silahkan lanjut baca ke pos "Langkah-langkah Membuat Trading Plan." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]







Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Thursday, October 9, 2014

Cara Menarik Garis Trend/Trendline

Bagaimana cara mengetahui bahwa gerak harga saham cenderung sedang naik (uptrend) atau cenderung sedang turun (downtrend)?

Kalau anda sudah membaca pos "Definisi Uptrend, Downtrend, Sideway" anda mungkin ingat definisi Uptrend menurut Iyan Terus Belajar Saham:
Uptrend adalah serangkaian puncak yang lebih tinggi dan lembah yang lebih tinggi dengan MINIMUM dua puncak yang lebih tinggi DAN MINIMUM dua lembah yang lebih tinggi.

Berdasarkan definisi tersebut, bagaimana cara menyimpulkan dari grafik bahwa gerak harga saham sedang "uptrend" alias cenderung naik?

Salah satu cara adalah dengan menarik garis trend (trendline).

Nah, menarik garis trend tidak sulit. Untuk menarik garis "uptrend," cari titik terendah dan titik rendah kedua yang lebih tinggi dari titik pertama, tarik garis melalui kedua titik tersebut, dan voila! hasilnya adalah garis uptrend.

Tapi menarik garis trend seperti cara di atas ada masalahnya: garis trend tersebut tergantung titik yang anda pilih. Kalau anda memilih titik lain, anda akan mendapatkan garis trend (trendline) yang berbeda. Dengan kata lain, menarik garis trend sembarangan tanpa metode yang spesifik dan tepat, akan menghasilkan garis trend yang tidak konsisten.

Masalahnya, tidak banyak buku Analisa Teknikal yang menjelaskan secara spesifik cara konsisten menarik garis trend. Di buku Technical Analysis of the Financial Market, John J. Murphy-pun tidak menerangkan dengan jelas cara menarik garis trend.

Terus, gimana neh?

Untung saja ada Victor Sperandeo.

Victor Sperandeo di buku Trader Vic - Methods of a Wall Street Master menjelaskan cara yang ia pakai untuk menarik garis secara konsisten dan unbiased. Dari semua buku analisa teknikal yang pernah saya baca tentang cara menarik garis trend, metode yang dikemukakan Victor Sperandeomenurut sayaadalah yang terbaik.

Figure 1. Cover Buku Victor Sperandeo Trader Vic - Methods of a Wall Street Master

Metode menggambar trendine ala Victor Sperandeo adalah sebagai berikut:

1. Select the period of consideration: the long term (months to years), the intermediate term (weeks to months), or short term (days to weeks). It can also be smaller segment of any of these where a change of slope of the trendline is apparent.

Pilih periode yang akan dipakai: jangka panjang (bulanan sampai tahunan), jangka menengah (mingguan sampai bulanan), atau jangka pendek (harian sampai mingguan). Bisa juga dipilih segmen lebih kecil dari periode-periode ini asalkan perubahan kemiringan dari garis trend cukup jelas.


2. For an uptrend within the period of consideration, draw a line from the lowest low, up and to the highest minor low point preceding the highest high so that the line does not pass through prices in between the two low points (Figure 7.1 and 7.2). Extend the line upwards past the highest high point. It is possible that the line will go through prices past the highest minor high point. In fact, this is one indication of a change in trend, as will be demonstrated shortly.

Untuk trend naik pada periode yang anda pertimbangkan, tarik garis naik dari titik "low" terendah  ke titik "low" minor tertinggi sebelum "high" tertinggi sehingga garis tersebut tidak memotong harga lain di antara kedua titik "low" tersebut (Figure 7.1 dan 7.2). Perpanjang garis ke atas melewati titik "high" tertinggi. Garis tersebut bisa saja memotong harga yang terbentuk setelah "high" tertinggi. Jika terjadi, ini mengindikasikan perubahan trend.

Figure 7.1 dan 7.2 Cara Menarik Garis Uptrend [Source: Trader Vic - Methods of Wall Street Master, p. 72]
  

3. For a downtrend within the period of consideration, draw a line from the highest high point to the lowest minor high point preceding the lowest low so that the line does not pass through prices in between the two high points. Extend the line past the lowest high low point downward (Figure 7.3 and 7.4). 

Untuk trend turun pada periode yang anda pertimbangkan, tarik garis turun dari titik "high" tertinggi ke titik "high" minor terendah sebelum "low" terendah sehingga garis tersebut tidak memotong harga lain di antara kedua titik "high" tersebut. Perpanjang garis tersebut ke bawah melewati titik "low" terendah (Figure 7.3 dan 7.4).
 
Figure 7.3 dan 7.4  Cara Menarik Garis Downtrend [Source: Trader Vic - Methods of Wall Street Master, p. 73]

Menurut Victor Sperandeo, salah satu kesalahan terbesar yang dilakukan pemain saham amatir dan profesional adalah ketidakkonsistenan dalam mendefinisikan dan menggambar/menarik garis trend. Oleh karena itu, mulai saat ini kalau anda ingin menggambar/menarik garis trend secara benar dan konsisten, pakailah metode yang diajarkan Victor Sperandeo.







 Pos-pos yang berhubungan:
 [Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]