Showing posts with label buku investasi. Show all posts
Showing posts with label buku investasi. Show all posts

Friday, April 29, 2016

Kaidah Investasi Saham "The Richest Man in Babylon"

Ketika berinvestasi saham ataupun investasi-investasi lainnya, anda harus tahu kaidah-kaidah investasi yang baik dan benar.

Kaidah investasi yang baik dan benar ini dibahas George S. Clason di buku The Richest Man In Babylon dengan tajuk The Five Laws of Gold (Lima Kaidah Tentang Emas).

[N.B.: kata "emas" di sini bisa ditukar dengan kata "uang," atau "harta."]

Figure 1. Sampul Depan Buku The Richest Man in Babylon karya George S. Clason

The Five Laws of Gold


1. Gold cometh gladly and in increasing quantity to any man who will put by not less than one-tenth of his earnings to create an estate for his future and that of his family.

Emas datang dengan mudah dan dalam jumlah yang bertambah ke orang yang menyisihkan minimum 1/10 penghasilannya sebagai dana investasi untuk masa depan dirinya dan keluarganya.


2.Gold laboreth diligently and contentedly for the wise owner who finds for it profitable employment, multiplying even as the flocks of the field.

Emas bekerja dengan rajin dan senang bagi pemiliknya yang bijaksana mencari investasi yang menguntungkan.


3. Gold clingeth to the protection of the cautious owner who invests it under the advice of men wise in its handling.

Emas melekat pada pemilik yang waspada menginvetasikan emas tersebut di bawah bimbingan orang-orang bijak.


4. Gold slippeth away from the man who invests it in businesses or purposes with which he is not familiar or which are not approved by those skilled in its keep.

Emas meninggalkan orang yang berinvestasi di bisnis atau hal-hal yang tidak ia ketahui secara mendalam ataupun di bisnis atau hal-hal yang tidak disetujui oleh orang-orang berpengalaman dalam bidang tersebut.


5. Gold flees the man who would force it to impossible earnings or who followeth the alluring advice of tricksters and schemers or who trusts it to his own inexperience and romantic desires in investment.

Emas lari dari orang yang memaksa untuk mendapat keuntungan tidak masuk akal atau dari orang yang terpikat bujuk rayu penipu dan komplotannya. Emas juga lari dari orang yang tidak berpengalaman investasi tapi berharap terlalu muluk.






Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2016 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Tuesday, May 20, 2014

Banyak Data = Pasti Untung?

Minggu lalu, ketika membenahi lemari buku di rumah ibu, saya menemukan buku Indonesia Capital Market Directory tahun 1996.

Figure 1. Sampul Depan Indonesia Capital Market Directory 1996

Melihat Indonesia Capital Market Directory (ICMD) lawas itu, saya teringat masa-masa awal saya bermain saham. Nostalgia, gitu loh.

Kalau anda pernah membaca halaman "About" atau "Profil", anda tahu bahwa—sebelum menjadi trader yang mementingkan analisa teknikalsaya mulai bermain saham sebagai investor jangka menengah yang mementingkan analisa fundamental. Analisa fundamental berarti berusaha meneliti laporan keuangan perusahaan.

Di tahun 1997, mencari data keuangan perusahaan tidak semudah sekarang. Jaringan internet di Indonesia pada saat itu baru sebatas untuk email danseingat sayaBursa Efek Jakarta dan perusahaan-perusahaan publik belum ada yang memiliki website. 

Kenapa tidak di-google saja? tukas anda.

Tidak bisa. Google belum ada karena Google didirikan pada akhir tahun 1998.

Lalu, bagaimana cara mendapatkan data keuangan perusahaan?

Cara termudah yang saya tahu adalah berlangganan surat kabar Bisnis Indonesia dan mengkliping laporan keuangan tahunan perusahaan dari koran tersebut. Silahkan lihat contoh di bawah ini.

Figure 2. Laporan Keuangan Konsolidasi PT Dynaplast Tahun 1996

Mengkliping laporan keuangan menelan waktu dan memakan biaya (langganan koran). Lagipula, untuk analisa fundamental diperlukan data keuangan perusahaan beberapa tahun terakhir, bukan hanya tahun terakhir saja. Artinya saya harus mengkliping dan menyimpan laporan keuangan tahun ini untuk dibandingkan dengan laporan keuangan tahun-tahun berikutnya.

Nah, mengkliping laporan keuangan hanya empat atau lima perusahaan sudah cukup merepotkan. Tapi bagaimana kalau suatu saat saya tertarik menganalisa fundamental suatu perusahaan tapi saya tidak punya kliping laporan keuangannya?

Apa yang harus saya lakukan? Masa sih harus mengkliping laporan keuangan semua perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Jakarta?

Untung saja ada Indonesian Capital Market Directory (ICMD) yang diterbitkan Institute for Economic and Financial Research.

Di dalam ICMD, selain ringkasan laporan keuangan 3 tahun terakhir, juga bisa ditemukan rasio-rasio keuangan perusahan seperti PER (Price-to-Earnings Ratio), PBV (Price to Book Value), Dividend Payout, Dividend Yield, ROI (Return on Investment), ROE (Return on Equity), dan masih banyak lagi data lainnya. Silahkan lihat Figure 3 dan Figure 4.

Figure 3. Indonesian Capital Market Directory Hal.170 PT Dynaplast

Figure 4. Indonesian Capital Market Directory 1996 Hal.171 PT Dynaplast

Bermodal data historikal yang lebih banyak dan lebih lengkap, saya berasumsi bahwa saya akan bisa membuat keputusan investasi saham yang menguntungkan.

Kenyataannya?

Saya tetap saja merugi.

Kok bisa? tanya anda.

Saat itu, saya juga bingung. Barulah beberapa tahun kemudian saya menemukan jawabannya: pergerakan harga saham selalu forward looking (melihat ke depan) sedangkan laporan keuangan (data historikal) adalah melihat ke belakang. (Silahkan baca pos "Valuasi Indeks Saham Indonesia Terlalu Tinggi?") Dengan kata lain, membeli saham hanya berdasarkan analisa fundamental (data keuangan) masa lalu bukanlah resep tepat untuk mendapat untung.

Semua waktu dan tenaga yang saya curahkan untuk mengkliping dan menganalisa laporan keuangan sia-sia belaka.

Apa artinya untuk anda?

Artinya, kekuatan analisa bergantung pada logika di balik analisa tersebut, bukan pada jumlah data yang semakin banyak.

Pesan moral:

Kalau saat ini anda sedang belajar menganalisa saham, jangan beranggapan bahwa semakin banyak data historikal yang anda gunakan berarti semakin besar kemungkinan anda mendapat untung dari saham.
 






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

    Wednesday, August 14, 2013

    Cara Investasi Saham Intelligent Investor

    Kalau anda sudah membaca pos "Mau Investasi Saham? Baca Dulu Buku Peter Lynch 'One Up On Wall Street'" anda tahu bahwa saya tidak terlalu suka buku The Intelligent Investor karya Benjamin Graham. Buku tersebut membosankan, susah dimengerti, dan tidak enak dibaca, begitu tulis saya di pos tersebut.

    Nah, ketika bung Willy (Top Komentator di blog ini) menyarankan saya untuk mengulas buku tersebut, yang ia katakan sebagai buku favoritnya, saya tidak terlalu semangat. Karena masih banyak buku investasi lain yang lebih menarik, buku The Intelligent Investor kemungkinan baru akan sempat saya ulas pada tahun 2088.

    "Kalau buku tersebut adalah favorit anda, kenapa tidak anda saja yang mengulas?" tanya saya ke bung Willy.

    Gayung disambut, bung Willy langsung setuju. Luar biasa.

    Jadi, untuk anda yang ingin tahu isi buku The Intelligent Investor, silahkan kunjungi blog bung Willy untuk baca pos "Main Saham ala Intelligent Investor Pre-Introduction."






    Pos-pos yang berhubungan:
    [Pos ini ©2013 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

    Sunday, May 13, 2012

    Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku "One Up on Wall Street" (Bagian VII)

    Pos ini adalah lanjutan dari "Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku 'One Up on Wall Street' (Bagian VI)." 

    Hendak membaca pos ini dari awal? Silahkan klik di sini "Mau Investasi Saham? Baca Dulu Buku Peter Lynch 'One Up on Wall Street' (Bagian I)." 


    Anda sudah tahu angka-angka yang perlu diperhatikan investor saham. Apa lagi yang perlu anda perhatikan?


    VII. Mengecek Kembali Perkembangan Perusahaan 

    Setelah anda membeli suatu saham untuk investasi jangka panjang, setiap beberapa bulan anda harus mengecek kembali perkembangan perusahaan tersebut. Ingat: investasi jangka panjang disebut buy-and-hold (beli-dan-pegang), bukan buy-and-forget (beli-dan-lupakan).

    Coba anda teliti laporan keuangan kwartal terakhir, apakah laba perusahaan seperti yang anda harapkan. Coba anda ke toko dan lihat apakah produk andalan perusahaan tersebut masih laku keras. Untuk perusahaan yang bertumbuh cepat, alias Fast Grower, anda harus terus bertanya apa yang akan membuat perusahaan itu tetap tumbuh cepat.

    Perlu anda ketahui bahwa ada tiga fase dalam kehidupan perusahaan: fase start-up, di mana perusahaan menyiapkan fondasi perusahaan; fase rapid expansion (tumbuh cepat), saat perusahaan berekspansi; dan fase mature (dewasa), yang juga dikenal dengan fase saturasi, saat perusahaan kehabisan akal untuk berekspansi. Fase-fase ini berhubungan erat dengan enam kategori perusahaan, jadi sebaiknya anda baca dulu pos "Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku 'One Up on Wall Street' (Bagian I)." 

    Start-up adalah fase paling riskan untuk investor karena tidak ada yang tahu apakah perusahaan akan berhasil bertahan hidup. Fase rapid expansion paling aman untuk investor saham karena perusahaan bertumbuh cepat dengan menggandakan apa yang sudah terbukti memberi laba pada kocek perusahaan. Fase mature adalah fase bermasalah karena pertumbuhan mulai melambat.

    Ketika anda memantau "cerita" atau perkembangan perusahaan, anda perlu mengira-ngira apakah perusahaan berpindah dari fase satu ke fase yang lain. Kalau menurut anda perusahaan sudah melewati dengan selamat fase start-up dan memasuki fase rapid expansion, mulailah akumulasi saham tersebut. Kalau sekira anda pertumbuhan perusahaan sudah melambat, mulailah jual saham tersebut.


    Berikut ini adalah poin-poin terpenting dari bagian B. Picking Winners/Memilih Pemenang:
    • Understand the nature of the companies you own and the specific reasons for holding the stock. ("It is really going up!" doesn't count.) Mengertilah tentang sifat dasar perusahaan yang anda miliki dan alasan spesifik memegang saham tersebut.
    • By putting your stocks into categories you'll have a better idea of what to expect from them. Dengan memilah saham-saham anda ke dalam kategori, anda akan tahu apa yang bisa diharapkan dari mereka.
    • Big companies have small moves, small companies have big moves. Perusahaan besar (sahamnya) bergerak kecil, perusahaan kecil bergerak besar.
    • Consider the size of the company if you expect it to profit from a specific product. Pertimbangkan ukuran perusahaan jika anda berharap untuk mendapat untung dari produk tertentu.
    • Look for small companies that are already profitable and have proven that their concept can be replicated. Cari perusahaan kecil yang sudah menghasilkan laba dan membuktikan bahwa konsep mereka bisa dilipatgandakan.
    • Be suspicious of companies with growth rate of 50 to 100 percent a year. Curigai perusahaan yang laju pertumbuhannya 50 sampai 100 persen per tahun.
    • Avoid hot stocks in hot industries. Hindari saham trendy di industri trendy.
    • Distrust diversifications, which usually turn out to be diworseifications.  Jangan percaya diversifikasi, yang biasanya malah menjadi diperburukfikasi. Untuk lebih jelas tentang diperburukfikasi, silahkan baca pos "Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku 'One Up on Wall Street' (Bagian IV)."
    • Long shots almost never pay off. Tembakan jauh hampir tidak pernah berhasil.
    • It's better to miss the first move in a stock and wait to see if a company's plans are working out. Lebih baik ketinggalan gerakan awal dari suatu saham dan menunggu untuk melihat apakah rencan perusahaan berhasil.
    • People get incredibly valuable fundamental information from their jobs that may not reach the professionals for months or even years. Banyak orang mendapat informasi fundamental sangat berharga dari pekerjaannya yang baru akan diketahui profesional berbulan-bulan atau bertahun-tahun kemudian.
    • Separate all stock tips from the tipper, even if the tipper is very smart, very rich, and his or her last tip went up. Pisahkan tip saham dari pemberi tip, bahkan jika si pemberi tip sangat pintar, sangat kaya, atau tip terakhirnya naik.
    • Some stock tips, especially from an expert in the field, may turn out to be quite valuable. However, people in the paper industry normally give out tips on drug stocks, and people in the health car field never run out of tips on the coming takeovers in the paper industry. Beberapa tip saham, terutama dari ahli di bidangnya, bisa jadi sangat berharga. Namun, orang di industri kertas biasanya memberi tip tentang saham farmasi, dan orang di industri kesehatan tidak pernah kehasibsan tip tentang takeover (pengambilalihan) di industri kertas.
    • Invest in simple companies that appear dull, mundane, out of favor, and haven't caught the fancy of Wall Street. Investasilah di perusahaan yang simpel yang kelihatannya membosankan, tidak keren, tidak diminati, dan belum dilirik oleh Wall Street. Mau lebih jelas? Baca pos "Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku 'One Up on Wall Street' (Bagian III)."
    • Moderately fast growers (20 to 25 percent) in nongrowth industries are ideal investments. Perusahaan bertumbuh cepat (20 sampai 25 percent) di industri yang tidak bertumbuh adalah investasi ideal.
    • Look for company with niches. Cari perusahaan yang memiliki ceruk.
    • When purchasing depressed stocks in troubled companies, seek out the ones with the superior financial positions and avoid the ones with loads of bank debt. Ketika membeli saham yang turun drastis pada perusahaan bermasalah, cari saham dengan posisi finansial yang lebih baik dan hindari perusahaan yang terlilit hutang.
    • Companies that have no debt can't go bankrupt. Perusahaan yang tidak punya hutang tidak bisa bangkrut.
    • Managerial ability may be important, but it's quite difficult to assess. Base your purchases on the company's prospect, not on the president's resume or speaking ability. Kehandalan manajer mungkin penting, tapi sulit ditaksir. Dasarkan pembelian saham anda pada prospek perusahaan, bukan pada resume presiden direktur atau kemampuan bicaranya.
    • A lot of money can be made when troubled company turns around. Keuntungan besar bisa didapat dari perusahan bermasalah yang berubah arah. Kalau ingin lebih jelas, silahkan klik di sini untuk baca pos "Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku 'One Up on Wall Street' (Bagian II)."
    • Carefully consider the price-earnings ratio. If the stock is grossly overpriced, even if everything else goes right, you won't make any money. Pertimbangkan dengan seksama price-earning ratio. Jika stok terlalu mahal, kalaupun semuanya berjalan lancar, anda tidak akan untung. Tentang price-earning ratio, silahkan klik di sini untuk baca pos "Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku One Up on Wall Street (Bagian V)."
    • Find a story line to follow as a way of monitoring a company's progress. Cari cerita untuk diikuti sebagai cara memonitor perkembangan perusahaan.
    • Look for companies that consistently buy back their own share. Cari perusahaan yang konsisten membeli balik saham mereka sendiri.
    • Study the dividend record of a company over the years and also how its earnings have fare in past recessions. Pelajari sejarah dividen perusahaan dan bagaiman kondisi laba pada resesi dahulu. Untuk tahu arti dividen, silahkan klik di sini "Arti Istilah 'Dividen' Saham."
    • Look for companies with little or no institutional ownership. Cari perusahaan yang sedikit atau belum dimiliki institusi.
    • All else being equal, favor companies in which management has a significant personal investment over companies run by people that benefit only from their salaries. Kalau semua kondisi lain sama, pilih perusahaan yang manajemennya punya banyak saham di perusahaan sendiri daripada perusahaan yang dipimpin orang-orang yang hanya mengharapkan gaji.
    • Insider buying is a positive sign, especially when several individuals are buying at once. Pembelian oleh orang dalam adalah pertanda baik, terutama bila beberapa orang membeli pada waktu bersamaan.
    • Devote at least an hour a week to investment research. Adding up your dividends and figuring out your gains and losses doesn't count. Luangkan sedikitnya satu jam per minggu untuk riset investasi. Menjumlahkan dividen dan mencari tahu besar laba atau rugi anda tidaklah termasuk.
    • Be patient. Watched stock never boils. Bersabarlah. Saham yang dipelototi tidak akan mendidih.
    • Buying all stocks based on stated book value alone is dangerous and illusory. It's real value that counts. Membeli saham semata-mata berdasar book value (nilai buku) adalah berbahaya dan penuh ilusi. Yang terpenting adalah nilai aslinya.
    • When in doubts, tune in later. Jika ragu, tunda sampai lain waktu.
    • Invest at least as much time and effort in choosing a new stock as you would in choosing a new refrigerator.Investasikan sedikit-dikitnya waktu yang sama untuk membeli saham seperti waktu yang anda luangkan ketika memilih lemari pendingin.






    Pos-pos yang berhubungan:
    [Pos ini ©2012 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

      Monday, August 29, 2011

      Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku "One Up on Wall Street" (Bagian VI)

       
      Hendak membaca pos ini dari awal? Silahkan klik di sini "Mau Investasi Saham? Baca Dulu Buku Peter Lynch 'One Up on Wall Street' (Bagian I)."


      VI. Angka-angka Lain Yang Perlu Diperhatikan Investor Saham 


      Percent of Sales (Persentase dari Penjualan) 

      Kalau anda tertarik pada suatu perusahaan karena produk yang dihasilkannya, langkah yang harus anda lakukan adalah meneliti seberapa besar kontribusi penjualan produk tersebut pada total penjualan. 

      Misalkan anda mencicip biscuit Roma Slai O’lai. “Enaaak banget,” pikir anda dan anda yakin produk itu akan laku keras. Anda menyelidiki dan tahu bahwa Slai O’Lai adalah produk dari Mayora Tbk. Langkah berikutnya adalah menyelidiki atau mengira-ngira seberapa besar kontribusi Slai O’Lai pada total penjualan Mayora. 

      Menginvestigasi lebih lanjut, anda tahu bahwa Mayora memproduksi puluhan produk seperti permen Kopiko dan Kis, biskuit Better dan Danisa, wafer Beng-beng dan Astor, juga Energen dan kopi Tora Bika. Karena begitu beragamnya produk Mayora, bisa anda perkirakan bahwa kalaupun Slai O’Lai laku keras, dampaknya tidak signifikan pada penjualan total Mayora dan tidak berpengaruh besar pada harga saham Mayora. Kebalikannya, kalaupun Slai O’Lai tidak laku, dampak negatifnya juga relatif kecil. 

      Lain kalau perusahaan hanya memproduksi satu atau dua produk. Kalau salah satu produk perusahaan tersebut laku keras, kontribusinya pada pendapatan perusahaan sangatlah besar yang pada akhirnya mendongkrak harga saham perusahaan tersebut. Kebalikannya, kalau produk tersebut tidak laku, perusahaan bisa bangkrut. 




      Price/Earnings Ratio (PER) 

      PER sudah saya bahas pada pos “Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku ‘One Up on Wall Street’ (Bagian V).” Tapi Peter Lynch menambahkan satu hal lagi yang perlu anda ketahui tentang PER: saham yang harganya wajar, PER nya seharusnya sama dengan persentase laju pertumbuhan laba perusahaan.  

      Artinya, perusahaan dengan PER 15, laju pertumbuhan labanya seharusnya sekitar 15% per tahun. Kalau anda menemukan saham dengan PER 15 sedangkan laju pertumbuhannya labanya 30%, saham tersebut adalah prospek yang menarik. Kebalikannya, kalau PER saham adalah 15 sedangkan laju pertumbuhan hanya 5%, saham tersebut adalah prospek yang jelek. 

      Cara sederhana menghitung laju pertumbuhan laba adalah dengan membandingkan laba tahun ini dengan laba tahun lalu. Bila laba tahun ini adalah Rp 120milyar sedangkan laba tahun lalu adalah Rp 100milyar, laju pertumbuhan laba = (laba tahun ini – laba tahun lalu) / laba tahun lalu x 100%

      = (120milyar – 100milyar) / 100 milyar x 100% = 20%



      The Cash Position (Posisi Kas) 

      Cash Position yang dimaksud Peter Lynch adalah Kas & Setara Kas dikurangi Hutang Jangka Panjang. Bagilah angka ini dengan jumlah saham beredar dan anda akan mendapat Cash Position Per Share (Posisi Kas Per Saham).

      Carilah saham yang Posisi Kas per Saham nya relatif tinggi dibanding harga saham. Misalkan harga saham Duitnumpuk Tbk. Rp 500 sedangkan Posisi Kas Per Saham nya Rp 400. Ini bisa anda artikan bahwa anda hanya membayar Rp 100 (500 – 400) untuk asset-aset lain perusahaan tersebut.



      The Debt Factor (Faktor Hutang) 

      Debt Factor yang biasanya dimaksud adalah Debt-to-Equity Ratio (DER). Anda dapat menghitung ini dengan melihat bagian kanan Neraca perusahaan, di mana tercantum Hutang/Kewajiban (debt) dan Modal (equity).

      Debt-to-Equity Ratio = Jumlah Hutang/Jumlah Modal

      Menurut Peter Lynch, perusahaan dengan neraca wajar mempunyai komposisi hutang sekitar 25% dan ekuitas 75% (DER = 25/75 = 0.33). Semakin kecil DER semakin kuat neraca perusahaan.



      Dividen 

      Dividen adalah bagian dari laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Ulasan tentang dividen bisa anda baca di pos "Arti Istilah 'Dividen' Saham."



      Cash Flow (Aliran Kas) 

      Cash Flow adalah uang yang diterima perusahaan karena aktivitas usahanya. Semua perusahaan menerima uang dari hasil usaha tapi ada perusahaan yang harus mengeluarkan modal lebih besar untuk mendapatkan hasil yang sama. 

      Contoh yang dikemukakan Peter Lynch adalah pabrik rokok dengan pabrik besi. Pabrik rokok tidak harus mengeluarkan banyak modal untuk meningkatkan produksi. Beli satu mesin baru atau cari ratusan buruh baru, alhasil produksi meningkat. Lain dengan pabrik besi yang kalau hendak menaikkan produksi harus menanamkan modal puluhan bahkan ratusan milyar rupiah. Pengeluaran untuk belanja modal yang besar akan mengurangi Aliran Kas perusahaan dan berdampak negatif terhadap posisi keuangan perusahaan.



      Inventories 

      Penjelasan tentang inventories biasanya dapat dilihat di bagian “diskusi manajemen mengenai laba” di laporan tahunan. Peter Lynch selalu memeriksa apakah inventories menumpuk. Tanda-tanda buruk adalah bila inventories menumpuk atau bila inventories bertambah lebih cepat daripada penjualan.



      Growth Rate (Laju Pertumbuhan) 

      Laju pertumbuhan yang dimaksud di sini adalah laju pertumbuhan laba. Di atas, anda sudah melihat bagaimana membandingkan PER dengan Growth Rate ini. Tapi ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan: perusahaan yang tumbuh 20% dengan PER 20 adalah prospek yang lebih baik daripada perusahaan yang tumbuh 10% dengan PER 10. 

      Kok begitu?

      Coba anda perhatikan tabel pertumbuhan laba di bawah ini.


      Company A
      Company B

      (20% earning growth)
      (10% earning growth)
      Base Year
      $1.00 a share
      $1.00 a share
      Year 1
      $1.20
      $1.10
      Year 2
      $1.44
      $1.21
      Year 3
      $1.73
      $1.33
      Year 4
      $2.07
      $1.46
      Year 5
      $2.49
      $1.61
      Year 7
      $3.58
      $1.95
      Year 10
      $6.19
      $2.59


      Pada awalnya Perusahaan A mendapat laba $1.00. Kalau PER nya 20 berarti harga sahamnya $20. Pada tahun ke 10, harga sahamnya menjadi
      20 (PER) x $ 6.19 (laba per saham tahun ke 10) = $123.80 

      Demikian juga pada awalnya perusahaan B mendapat laba $1. Dengan PER 10 berarti harga sahamnya $10. Pada tahun ke 10 harga sahamnya menjadi

      10 (PER) x $2.59 (laba per saham tahun ke 10) = $25.90 

      Anda bisa lihat sendiri bahwa PER tinggi bukanlah alasan untuk tidak membeli saham tersebut. Selama laju pertumbuhannya juga tinggi, saham dengan PER tinggi akan naik lebih cepat dibanding saham dengan PER rendah yang laju pertumbuhan labanya juga rendah.



      The Bottom Line (Garis Terbawah) 

      Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “bottom line”? “Bottom line” ini adalah garis terbawah pada Income Statement (Laporan Laba/Rugi) yaitu Laba Setelah Pajak. Tapi angka yang dipakai Peter Lynch untuk menganalisa perusahaan adalah Laba Sebelum Pajak. Laba Sebelum Pajak yang tinggi mengindikasikan bahwa perusahaan akan dapat bertahan lama kalau-kalau kondisi ekonomi memburuk. 

      Yang harus anda perhatikan adalah ketika ekonomi berangsur membaik (dari kondisi buruk), perusahaan dengan margin laba rendah adalah yang paling menonjol pertumbuhannya. Coba anda lihat perbandingan di bawah ini.


      Company A

      Status Quo

      Business Improves
      $100 in sales

      S110 in sales (prices up 10%)
      $88 in cost

      $92.40 in cost (up 5%)
      $12 pretax profit

      $17.60 pretax profit

      Company B

      $100 in sales

      $110 in sales (up 10%)
      $98 in cost

      $102.90 in costs (up 5%)
      $2 pretax profit

      $7.10 pretax profit


      Ketika ekonomi membaik dan perusahaan dapat menaikkan harga jual, laba Perusahaan A naik hampir 50% sedangkan laba Perusahaan B naik lebih dari 300%. Ini menunjukkan bahwa perusahaan dengan margin laba kecil bisa menghasilkan lonjakan laba sangat tinggi ketika ekonomi membaik. 

      Apa yang anda inginkan adalah saham dengan margin laba yang tinggi untuk anda pegang jangka panjang (buy-and-hold) dalam keadaan baik maupun buruk, dan saham dengan margin rendah jika saham tersebut adalah kategori Turnaround.

      Mau lanjut baca? Silahkan klik di sini "Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku 'One Up on Wall Street' (Bagian VII)." 






      Pos-pos yang berhubungan:
      [Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]
       

      Saturday, March 5, 2011

      Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku "One Up on Wall Street" (Bagian V)

       
      Hendak membaca pos ini dari awal? Silahkan klik di sini "Mau Investasi Saham? Baca Dulu Buku Peter Lynch 'One Up on Wall Street' (Bagian I)."



      V. Laba, Laba, Laba 

      Apa yang membuat perusahaan berharga sehingga harga sahamnya naik? Ada banyak teori untuk menjawab pertanyaan ini tapi bagi Peter Lynch, jawabannya adalah laba dan asset. Terutama laba.

      Anda mungkin pernah memperhatikan bahwa saham INCO, perusahaan penambang nikel, naik ketika harga nikel naik. Atau saham Apple naik karena iPhone dan iPad laku keras.

      Kalau anda perhatikan dengan seksama, ujung-ujung sebab kenaikan harga saham-saham tersebut adalah karena pasar memproyeksikan laba perusahaan akan naik. Artinya, pasar yakin laba INCO akan naik karena harga nikel naik; pasar yakin laba Apple akan naik karena produknya laku keras. Proyeksi kenaikan laba inilah yang mendorong pelaku pasar memborong saham, mendongkrak naik harga.

      Tapi bagaimana menggunakan data laba perusahaan untuk membandingkan saham?

      Misalkan anda membaca bahwa laba Indosat (ISAT) tahun 2010 adalah Rp 500 milyar dan laba Matahari Putra Prima (MPPA) adalah Rp 50 milyar. Apakah ini berarti keuntungan ISAT lebih besar dari MPPA, jadi anda lebih baik membeli saham ISAT?

      Bukan begitu.

      Anda jangan menggunakan data laba absolut untuk membandingkan saham. Yang pertama harus anda lakukan adalah menghitung laba per saham (earning per share atau biasa disingkat EPS).

      Misalkan saja jumlah saham beredar ISAT satu milyar lembar dan jumlah saham beredar MPPA juga satu milyar lembar. Anda dapat menghitung laba per saham masing-masing:

      Earning Per Share (EPS) ISAT = Rp 500 milyar / 1 milyar = Rp 500.

      Earning Per Share (EPS) MPPA = Rp 50 milyar / 1 milyar = Rp 50.

      [Untuk lebih jelasnya, silahkan baca juga pos "Arti Istilah Earning Per Share (EPS)."]


      Nah, sekarang anda tahu bahwa pada tahun 2010 EPS ISAT Rp 500 dan EPS MPPA Rp 50. Berarti anda lebih baik membeli saham ISAT karena EPSnya lebih tinggi dari MPPA?

      Bukan begitu. Masih ada satu tahap perhitungan lagi.

      EPS adalah informasi yang penting, tapi untuk mempermudah proses membandingkan satu saham dengan saham yang lain, anda perlu menghitung price/earning ratio (PER), rasio harga terhadap laba. (Price/harga yang dimaksud di sini adalah harga saham.) Cara menghitung PER adalah dengan membagi harga saham dengan EPS.

      Melanjutkan contoh di atas, misalkan harga saham ISAT Rp 5000 dan harga saham MPPA Rp 1000. Mari kita hitung PER masing-masing:

      Price Earning Ratio (PER) ISAT = Rp 5000 / Rp 500 = 10

      Price Earning Ratio (PER) MPPA = Rp 1000 / Rp 50 = 20

      [Silahkan baca juga pos "Arti Istilah Price-to-Earnings Ratio."


      Nah, sekarang anda tahu bahwa pada tahun 2010 PER ISAT adalah 10 dan PER MPPA 20. Kalau anda memakai logika matematika, anda berkesimpulan bahwa semakin rendah PER berarti semakin murah saham tersebut. Karena PER ISAT lebih rendah dari PER MPPA berarti ISAT lebih layak dibeli?

      Lagi-lagi bukan begitu.

      Analis atau pemain saham biasanya membandingkan PER saham satu dengan saham lain di industri yang sama. Artinya, PER ISAT—perusahaan telekomunikasi—biasanya dibandingkan dengan PER perusahaan telekomunikasi lainya. PER MPAAperusahaan ritel—biasanya dibandingkan dengan PER perusahaan ritel lainnya. Dengan membandingkan PER saham-saham di satu sektor industri, anda bisa mengira-ngira apakah saham itu murah, wajar, atau mahal RELATIF terhadap saham lain di industri sejenis.

      Membandingkan PER tidak hanya dilakukan pada saham-saham di industri yang sama. Anda juga bisa membandingkan PER berdasarkan negara atau berdasarkan tahun tertentu.

      Peter Lynch mengingatkan bahwa PER perusahaan dalam industri yang sama tidak selalu harus dalam kisaran PER yang sama. Misalkan saja kita membandingkan Dell Computer dengan Apple Computer, dua perusahaan dalam industri sejenis. PER Dell saat ini 11 dan PER Apple 20. Berdasarkan PER saja anda mungkin mengambil kesimpulan bahwa saham Apple mahal dan tidak layak dibeli. Tapi kenyataanya bisa saja saham Apple yang mahal malah terus naik dan saham Dell yang murah malah tidak naik. Mengapa hal ini terjadi?

      Untuk menjawab pertanyaan ini anda harus mengingat enam kategori perusahaan menurut Peter Lynch: Slow Grower, Stalwart, Fast Grower, Cyclical, Asset Play, atau Turnaround. (Untuk lebih jelas mengenai kategori perusahaan, silahkan baca pos “Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku ‘One Up on Wall Street (Bagian I).”dan pos "Enam Kategori Saham Menurut Peter Lynch.")

      Perusahaan dalam kategori berbeda akan mempunyai kisaran PER yang berbeda. Artinya, perusahaan Fast Grower biasanya ber-PER lebih tinggi dari Slow Grower atau Stalwart. Perusahaan Asset Play bisa saja ber-PER sangat tinggi tapi sahamnya tetap naik karena yang membuat perusahaan tersebut berharga adalah assetnya, bukan labanya.

      Jadi, hanya karena PER Apple Computer relatif tinggi, tidak serta-merta berarti saham tersebut mahal dan tidak layak dibeli. PER Apple tinggi mungkin karena ia berkategori Fast Grower, sedangkan PER Dell rendah karena ia berkategori Slow Grower.

      Tapi Peter Lynch juga mewanti-wanti anda untuk menghindari saham dengan PER amat sangat tinggi. Saham ber-PER tinggi harus terus menerus mendongkrak naik laba untuk menjustifikasi harga sahamnya yang tinggi. Kalau perusahaan tidak memenuhi ekspektasi ini, harga saham akan turun drastis.


      Future Earnings – Laba Masa Depan

      Main saham akan jauh lebih mudah kalau pemain saham bertransaksi saham berdasarkan PER masa lalu. (Ingat, data laba perusahaan yang dipublikasikan adalah data masa lalu, bukan masa berjalan atau masa datang. Jadi, pada tahun 2011 kita hanya tahu PER  nyata tahun 2010, bukan PER nyata 2011 karena tahun 2011 masih berjalan. Kalau ada analis yang mempublikasikan PER tahun berjalan, PER tersebut adalah PERKIRAAN.)

      Tapi masalahnya, pemain saham selalu berusaha memperkirakan laba perusahaan di masa datang, lalu memutuskan membeli atau menjual saham berdasarkan perkiraan tersebut. Analis memakai berbagai metode untuk memperkirakan Laba Masa Depan, tapi intinya hanya satu: semua hanyalah perkiraan. Jadi kalau ada yang memberitahu anda bahwa analisa fundamental adalah cara terbaik menilai harga saham wajar, tanyakan dulu apa asumsi dan perkiraan yang dipakai dalam analisa tersebut.

      [Untuk lebih jelasnya, silahkan baca juga pos "Price-to-Earnings Ration: Trailing & Forward."]

      Sangatlah sulit mengira-ngira Laba Masa Depan—bahkan untuk analis atau pemain saham professional—tapi setidaknya anda bisa mencari tahu apa dan bagaimana rencana perusahaan untuk mendongkrak laba. Pada dasarnya, ada lima cara perusahaan mendongkrak laba: mengurangi biaya, menaikkan harga, ekspansi ke pasar yang baru, menjual lebih banyak ke pasar lama, atau menutup usaha yang merugikan. Setelah anda tahu rencana perusahaan untuk meningkatkan laba, anda harus memantau secara berkala apakah rencana tersebut berjalan lancar.


      Selain Price Earning Ratio (PER), masih ada beberapa istilah dan angka yang perlu diketahui investor saham. Mau tahu? Lanjutkan baca ke “Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku ‘One Up on Wall Street’ (Bagian VI).






      Pos-pos yang berhubungan:
      [Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

      Saturday, February 26, 2011

      Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku "One Up on Wall Street" (Bagian IV)




      IV. Saham Yang Harus Dihindari

      Yang paling dihindari Peter Lynch adalah saham paling panas di industri terkini. Saham jenis ini memang bisa naik tinggi dalam waktu singkat tapi juga bisa ambruk seketika. Kalau anda adalah investor jangka panjang, bukan trader, lebih baik jangan menyentuh saham seperti ini.

      Saya tidak mengikuti saran Peter Lynch yang ini; saya sering main saham yang lagi hot. Mengapa saya berani tidak mengindahkan saran ini?

      Karena saya selalu memonitor pergerakan harga saham tersebut dan kalau posisinya sudah rugi saya langsung cut-loss. Yang saya sarankan adalah ini: jangan main saham hot sebelum anda belajar cara untuk cut-loss atau stop-loss. Untuk detilnya, silahkan baca pos “Mau Main Saham? Ingat Tiga Hal Maha Penting Ini” dan “Cara Cut-Loss Untuk Stop Kerugian Saham.”


      Selain saham terpanas di industri paling ngetrend, anda juga sebaiknya menghindari saham-saham berikut:
      • The Next Something
      • Diworseification
      • The Whisper Stock
      • The Middleman


      The Next Something - Anu Yang Berikut

      Setelah Aqua membuktikan bahwa banyak orang rela membayar mahal untuk air minum dalam kemasan, ratusan perusahaan terjun ke industri ini. Dalam waktu singkat para pengekor bangkrut satu persatu.

      Ketika bubble drink merebak di Indonesia awal 2000an, ratusan gerai menjamuri mal-mal. Coba anda perhatikan di mal sekarang, berapa gerai bubble drink yang bertahan.

      Ketika personal computer IBM muncul di tahun 1980an,  ratusan perusahaan ikut terjun ke industri ini. Saking kerasnya persaingan, IBM sendiri di tahun 2000an memutuskan untuk keluar dari industri PC. Kalau raksasa seperti IBM saja sulit bertarung di industri yang ia pelopori, coba bayangkan berapa besar kemungkinan sukses seorang pendatang baru?

      Jadi kalau anda tertarik membeli saham yang digembargemborkan sebagai Si Anu Yang Berikut, ingatlah apa yang terjadi dengan pengekor Aqua, pengekor IBM, dan pengekor-pengekor lainnya. Di industri yang paling hot, perusahaan pemimpin pasar saja bisa ambruk cepat, apalagi para pengekor.


      Diworseification - Diperburukfikasi

      Diworseification (terjemahan saya: diperburukfikasi) ini adalah plesetan Peter Lynch untuk diversifikasi. Artinya, banyak perusahaan, daripada membagikan dividen kepada pemegang saham, memilih melakukan diversifikasi (masuk ke industri berbeda baik secara langsung ataupun dengan membeli perusahaan yang sudah ada) untuk mengembangkan usaha. Masalahnya, diversifikasi ini kebanyakan bukannya menambah banyak pemasukan tetapi malah memperburuk keuangan perusahaan. Mengapa?

      Dua sebab yang utama adalah: perusahaan membayar terlalu mahal untuk akuisisi dan perusahaan masuk ke bisnis yang tidak ia kuasai. Dengan membayar terlalu mahal, sangat sulit bagi perusahaan untuk mengembalikan investasinya. Perusahaan juga biasanya tidak mengerti karakteristik bisnis barunya tersebut dan memberlakukan cara yang sama dengan bisnis intinya. Cara ini hampir tidak pernah berhasil.

      Coba saja anda perhatikan contoh sederhana berikut: banyak penyanyi sukses yang mencoba akting dan banyak aktor dan aktris yang mencoba menyanyi untuk menambah penghasilan mereka yang sudah besar. Mereka berpikir bahwa karena mereka adalah artis mereka dapat melakukan semua kegiatan seni. Tapi ada berapa penyanyi yang bisa berakting bagus dan ada berapa aktris yang bisa bernyanyi merdu?

      Demikian juga dengan perusahaan. Perusahaan yang sukses di bisnis pertambangan hampir tidak mungkin sukses di bisnis perfilman. Perusahaan produsen mobil hampir tidak mungkin sukses menjadi pengelola mal.

      Jadi kalau anda punya saham perusahaan yang melakukan diworseification, cepat-cepatlah jual saham tersebut.


      The Whisper Stock

      Saham Bisik-bisik dinamakan demikian karena biasanya orang membicarkannya dengan bisik-bisik.

      “Saham ini akan naik pesat,” bisik Jintan, teman anda,”karena perusahaan menang tender ratusan milyar. Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa, ya.”

      Anda tergiur dengan bisikan Jintan dan langsung membeli saham tersebut saat itu juga, tanpa melakukan cek dan ricek, karena takut ketinggalan kereta. Tapi setelah anda beli saham tersebut bukannya naik, malah turun.

      Intinya: jangan membeli saham berdasarkan bisikan orang.


      The Middleman

      Hindari saham perusahaan yang menjual produknya hanya ke satu atau dua pelanggan. Kalau pelanggan tersebut memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak pembelian, pendapatan perusahaan akan turun drastis dengan akibat harga sahamnya melorot tajam.


      Anda sudah tahu saham yang layak dibeli dan juga saham yang harus dihindari. Tapi sebenarnya, apa sih yang membuat harga saham naik? Mau tahu? Silahkan lanjut baca ke “Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku ‘One Up on Wall Street’ (Bagian V).”






      Pos-pos yang berhubungan:
      [Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]