Sunday, May 13, 2012

Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku "One Up on Wall Street" (Bagian VII)

Pos ini adalah lanjutan dari "Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku 'One Up on Wall Street' (Bagian VI)." 

Hendak membaca pos ini dari awal? Silahkan klik di sini "Mau Investasi Saham? Baca Dulu Buku Peter Lynch 'One Up on Wall Street' (Bagian I)." 


Anda sudah tahu angka-angka yang perlu diperhatikan investor saham. Apa lagi yang perlu anda perhatikan?


VII. Mengecek Kembali Perkembangan Perusahaan 

Setelah anda membeli suatu saham untuk investasi jangka panjang, setiap beberapa bulan anda harus mengecek kembali perkembangan perusahaan tersebut. Ingat: investasi jangka panjang disebut buy-and-hold (beli-dan-pegang), bukan buy-and-forget (beli-dan-lupakan).

Coba anda teliti laporan keuangan kwartal terakhir, apakah laba perusahaan seperti yang anda harapkan. Coba anda ke toko dan lihat apakah produk andalan perusahaan tersebut masih laku keras. Untuk perusahaan yang bertumbuh cepat, alias Fast Grower, anda harus terus bertanya apa yang akan membuat perusahaan itu tetap tumbuh cepat.

Perlu anda ketahui bahwa ada tiga fase dalam kehidupan perusahaan: fase start-up, di mana perusahaan menyiapkan fondasi perusahaan; fase rapid expansion (tumbuh cepat), saat perusahaan berekspansi; dan fase mature (dewasa), yang juga dikenal dengan fase saturasi, saat perusahaan kehabisan akal untuk berekspansi. Fase-fase ini berhubungan erat dengan enam kategori perusahaan, jadi sebaiknya anda baca dulu pos "Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku 'One Up on Wall Street' (Bagian I)." 

Start-up adalah fase paling riskan untuk investor karena tidak ada yang tahu apakah perusahaan akan berhasil bertahan hidup. Fase rapid expansion paling aman untuk investor saham karena perusahaan bertumbuh cepat dengan menggandakan apa yang sudah terbukti memberi laba pada kocek perusahaan. Fase mature adalah fase bermasalah karena pertumbuhan mulai melambat.

Ketika anda memantau "cerita" atau perkembangan perusahaan, anda perlu mengira-ngira apakah perusahaan berpindah dari fase satu ke fase yang lain. Kalau menurut anda perusahaan sudah melewati dengan selamat fase start-up dan memasuki fase rapid expansion, mulailah akumulasi saham tersebut. Kalau sekira anda pertumbuhan perusahaan sudah melambat, mulailah jual saham tersebut.


Berikut ini adalah poin-poin terpenting dari bagian B. Picking Winners/Memilih Pemenang:
  • Understand the nature of the companies you own and the specific reasons for holding the stock. ("It is really going up!" doesn't count.) Mengertilah tentang sifat dasar perusahaan yang anda miliki dan alasan spesifik memegang saham tersebut.
  • By putting your stocks into categories you'll have a better idea of what to expect from them. Dengan memilah saham-saham anda ke dalam kategori, anda akan tahu apa yang bisa diharapkan dari mereka.
  • Big companies have small moves, small companies have big moves. Perusahaan besar (sahamnya) bergerak kecil, perusahaan kecil bergerak besar.
  • Consider the size of the company if you expect it to profit from a specific product. Pertimbangkan ukuran perusahaan jika anda berharap untuk mendapat untung dari produk tertentu.
  • Look for small companies that are already profitable and have proven that their concept can be replicated. Cari perusahaan kecil yang sudah menghasilkan laba dan membuktikan bahwa konsep mereka bisa dilipatgandakan.
  • Be suspicious of companies with growth rate of 50 to 100 percent a year. Curigai perusahaan yang laju pertumbuhannya 50 sampai 100 persen per tahun.
  • Avoid hot stocks in hot industries. Hindari saham trendy di industri trendy.
  • Distrust diversifications, which usually turn out to be diworseifications.  Jangan percaya diversifikasi, yang biasanya malah menjadi diperburukfikasi. Untuk lebih jelas tentang diperburukfikasi, silahkan baca pos "Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku 'One Up on Wall Street' (Bagian IV)."
  • Long shots almost never pay off. Tembakan jauh hampir tidak pernah berhasil.
  • It's better to miss the first move in a stock and wait to see if a company's plans are working out. Lebih baik ketinggalan gerakan awal dari suatu saham dan menunggu untuk melihat apakah rencan perusahaan berhasil.
  • People get incredibly valuable fundamental information from their jobs that may not reach the professionals for months or even years. Banyak orang mendapat informasi fundamental sangat berharga dari pekerjaannya yang baru akan diketahui profesional berbulan-bulan atau bertahun-tahun kemudian.
  • Separate all stock tips from the tipper, even if the tipper is very smart, very rich, and his or her last tip went up. Pisahkan tip saham dari pemberi tip, bahkan jika si pemberi tip sangat pintar, sangat kaya, atau tip terakhirnya naik.
  • Some stock tips, especially from an expert in the field, may turn out to be quite valuable. However, people in the paper industry normally give out tips on drug stocks, and people in the health car field never run out of tips on the coming takeovers in the paper industry. Beberapa tip saham, terutama dari ahli di bidangnya, bisa jadi sangat berharga. Namun, orang di industri kertas biasanya memberi tip tentang saham farmasi, dan orang di industri kesehatan tidak pernah kehasibsan tip tentang takeover (pengambilalihan) di industri kertas.
  • Invest in simple companies that appear dull, mundane, out of favor, and haven't caught the fancy of Wall Street. Investasilah di perusahaan yang simpel yang kelihatannya membosankan, tidak keren, tidak diminati, dan belum dilirik oleh Wall Street. Mau lebih jelas? Baca pos "Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku 'One Up on Wall Street' (Bagian III)."
  • Moderately fast growers (20 to 25 percent) in nongrowth industries are ideal investments. Perusahaan bertumbuh cepat (20 sampai 25 percent) di industri yang tidak bertumbuh adalah investasi ideal.
  • Look for company with niches. Cari perusahaan yang memiliki ceruk.
  • When purchasing depressed stocks in troubled companies, seek out the ones with the superior financial positions and avoid the ones with loads of bank debt. Ketika membeli saham yang turun drastis pada perusahaan bermasalah, cari saham dengan posisi finansial yang lebih baik dan hindari perusahaan yang terlilit hutang.
  • Companies that have no debt can't go bankrupt. Perusahaan yang tidak punya hutang tidak bisa bangkrut.
  • Managerial ability may be important, but it's quite difficult to assess. Base your purchases on the company's prospect, not on the president's resume or speaking ability. Kehandalan manajer mungkin penting, tapi sulit ditaksir. Dasarkan pembelian saham anda pada prospek perusahaan, bukan pada resume presiden direktur atau kemampuan bicaranya.
  • A lot of money can be made when troubled company turns around. Keuntungan besar bisa didapat dari perusahan bermasalah yang berubah arah. Kalau ingin lebih jelas, silahkan klik di sini untuk baca pos "Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku 'One Up on Wall Street' (Bagian II)."
  • Carefully consider the price-earnings ratio. If the stock is grossly overpriced, even if everything else goes right, you won't make any money. Pertimbangkan dengan seksama price-earning ratio. Jika stok terlalu mahal, kalaupun semuanya berjalan lancar, anda tidak akan untung. Tentang price-earning ratio, silahkan klik di sini untuk baca pos "Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku One Up on Wall Street (Bagian V)."
  • Find a story line to follow as a way of monitoring a company's progress. Cari cerita untuk diikuti sebagai cara memonitor perkembangan perusahaan.
  • Look for companies that consistently buy back their own share. Cari perusahaan yang konsisten membeli balik saham mereka sendiri.
  • Study the dividend record of a company over the years and also how its earnings have fare in past recessions. Pelajari sejarah dividen perusahaan dan bagaiman kondisi laba pada resesi dahulu. Untuk tahu arti dividen, silahkan klik di sini "Arti Istilah 'Dividen' Saham."
  • Look for companies with little or no institutional ownership. Cari perusahaan yang sedikit atau belum dimiliki institusi.
  • All else being equal, favor companies in which management has a significant personal investment over companies run by people that benefit only from their salaries. Kalau semua kondisi lain sama, pilih perusahaan yang manajemennya punya banyak saham di perusahaan sendiri daripada perusahaan yang dipimpin orang-orang yang hanya mengharapkan gaji.
  • Insider buying is a positive sign, especially when several individuals are buying at once. Pembelian oleh orang dalam adalah pertanda baik, terutama bila beberapa orang membeli pada waktu bersamaan.
  • Devote at least an hour a week to investment research. Adding up your dividends and figuring out your gains and losses doesn't count. Luangkan sedikitnya satu jam per minggu untuk riset investasi. Menjumlahkan dividen dan mencari tahu besar laba atau rugi anda tidaklah termasuk.
  • Be patient. Watched stock never boils. Bersabarlah. Saham yang dipelototi tidak akan mendidih.
  • Buying all stocks based on stated book value alone is dangerous and illusory. It's real value that counts. Membeli saham semata-mata berdasar book value (nilai buku) adalah berbahaya dan penuh ilusi. Yang terpenting adalah nilai aslinya.
  • When in doubts, tune in later. Jika ragu, tunda sampai lain waktu.
  • Invest at least as much time and effort in choosing a new stock as you would in choosing a new refrigerator.Investasikan sedikit-dikitnya waktu yang sama untuk membeli saham seperti waktu yang anda luangkan ketika memilih lemari pendingin.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2012 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

    12 comments:

    1. Saya baru selesai membaca bagian 1 sampai 7. Ulasan yang sangat bagus pak Iyan. Dari dulu saya selalu bingung dengan istilah EPS dan PER. Saya baru ngeh tentang cara hitungnya dari artikel sebelumnya.

      Btw bagaimana caranya kita tahu tentang insider buying ya pak? Apakah ada informasi tertentu yang harus kita cari sendiri, atau cukup memperhatikan volume yang tiba-tiba membengkak saja?

      Thanks in advance :)

      ReplyDelete
      Replies
      1. Kalau di Amerika Serikat, insider buying harus melaporkan pembeliaan tersebut ke SEC (Securities and Exchange Commission), jadi aksi beli mereka bisa diketahui masyarakat luas.

        Di Bursa Indonesia, setahu saya, tidak ada cara untuk tahu insider buying secara pasti. Anda benar bahwa volume saham yang tiba-tiba membengkak bisa menandakan insider sedang membeli sahamnya sendiri di bursa Indonesia.

        Delete
    2. Salam buat Pak Iyan.

      Saya hari ini baru saja mendarat di blog Pak Iyan dan sudah selesai membaca seluruh blog Pak Iyan. Mulai dari post pertama di tahun 2010, sampai di posting terakhir ini. Sangat menambah wawasan saya.

      Saya mohon ijin untuk menempatkan link blog Pak Iyan di blog saya ya.

      Hope to read your new posts soon!

      Regards,


      Devara Priya

      ReplyDelete
      Replies
      1. Devara, terima kasih sudah memberitahu menempatkan link blog ini di di blog Devara, Le Squire Trada. Semoga Devara cepat menjadi Knight Trader.

        Delete
      2. Waduh, jadi malu blog saya dikunjungi sama Pak Iyan. Masih berantakan soalnya. Juga isinya masih perlu pembenahan di sana sini.

        Amin pak, saya juga berharap paling tidak bisa menyamai Pak Iyan dari sisi skill tradingnya. Pak Iyan sekarang menjadi salah satu guru trading saya. (yang paling mengena: cut loss, cut loss, dan cut loss)

        Regards,


        Devara Priya

        Delete
      3. Saya pun masih terus belajar trading karena skill masih pas-pasan. Kenyataannya masih gak kaya-kaya. Hehehe.

        Kembangkan terus blog Devara. Tulis apa yang ada di benak dan hati anda; jangan copy-and-paste tulisan orang. Lebih baik hasilnya jelek tapi karya sendiri, daripada nyolong supaya kelihatan bagus. Blog kan bukan skripsi yang akan dinilai dosen, yang menentukan anda lulus atau tidak. Yang menilai blog adalah pembaca dan pembaca akan tahu apakah pos di blog kita asli atau hasil nyolong.

        Delete
    3. Menarik sekali rangkuman ide Lynch yang Bung Iyan sampaikan disini. Kita bisa melihat betapa Lynch memiliki persamaan dan perbedaan mendasar dengan investor besar lainnya akan bagaimana cara dia bermain saham. Misalnya ide Lynch tentang niches perusahaan yang mirip dengan moat (keunggualan kompetitif)-nya Buffet, juga idenya untuk mengincar saham perusahaan yang hanya memiliki sedikit kepemilikan institusional yang jelas berlawanan dengan huruf I pada CAN SLIM O'Neil yang justru menekankan bahwa saham yang patut dikoleksi harus dimiliki oleh banyak institusi (tapi jangan terlalu banyak juga institusinya supaya investor ritel tidak celaka kalau institusi memutuskan melepas saham tersebut secara besar2-an). Artikel yang sangat bermutu, Bung Iyan!

      BTW, rekan Iyan kapan lagi mau me-review literatur bagus lainnya tentang main saham? Anda jelas pernah membaca -dan malah merekomendasikan- buku O'Neil yang How to Make Money in Stocks, jadi boleh juga kalau rekan Iyan membahas teknik CAN SLIM dari O'Neil untuk review literatur berikutnya.

      ReplyDelete
      Replies
      1. "Signature style" Peter Lynch, O'Neil, Warren Buffet berbeda tapi mereka semua sukses. Artinya: banyak jalan menuju Roma. Tidak ada "cara terbaik" yang berlaku untuk semua orang. Ini sebabnya saya berusaha tidak pernah fanatik atau sesumbar bahwa cara "si anu" atau "cara begini" yang paling tepat, paling hebat, paling menguntungkan. Semua tergantung kondisi kita masing-masing.

        Saya berencana mengulas buku How To Make Money in Stocks; mudah-mudahan bisa terealisasi secepatnya.

        Terima kasih rekan Willy untuk komentar dan sarannya.

        Delete
    4. bener2 hebat bung Iyan ini hahaha jd ane gk usah baca lagi klo udah di review point penting2nya klo buku ' Beating The Street ' - Peter Lynch dha baca blom bang ?
      katanya bagus tp susah bgt cari bukunya harus di amazon -.-

      ReplyDelete
      Replies
      1. Bung Alfin, saya sudah baca Beating the Street. Buku tersebut bagus, seperti semua buku Peter Lynch yang lain.

        Saat-saat ini saya belum sempat saya untuk mengulas buku tersebut. Maaf ya.

        Delete
    5. Sebelum nya bapak sudah share cara investasi Peter Lynch di buku One Up on Wall Street, bapak sudah membahas dua dari tiga bagian bukunya, yaitu ; A) Preparing to Invest. Persiapan untuk Berinvestasi. B) Picking Winners. Memilih Pemenang.

      Share dong pak bagian ketiga nya yaitu ; C) The Long-Term View. Pandangan Jangka Panjang.

      Patut diketahui pak bagaimana seorang Peter Lynch bisa sukses dalam berinvestasi, dengan pandangan jangka panjangnya. Hehehehe :)

      Terima Kasih !

      ReplyDelete
      Replies
      1. Bagian C) The Long-Term View di buku One Up On Wall Street, seingat saya, adalah bagian yang paling pendek.

        Saat ini saya belum ada rencana untuk membahas Bagian C) tersebut. Jadi, ada baiknya anda baca langsung tulisan Peter Lynch di buku tersebut.

        Delete

    Pertanyaan dan komentar anda akan saya jawab sesegera mungkin. Maaf, saya tidak menerima pertanyaan dan komentar anonim. Promosi, iklan, link, dll, apalagi hal-hal yang tidak berhubungan dengan main saham TIDAK AKAN ditampilkan.