Saturday, August 17, 2019

Pegang Uang Tunai atau Beli Saham?

People expect too much of investment. They think, incorrectly, that they must always keep their money "working."

Orang berharap terlalu banyak dari investasi. Mereka berpikir, keliru, bahwa mereka harus selalu membuat uang mereka "bekerja."



If investment were merely what most people think it is—just buying something for income—fortunes would be extremely easy to establish by simply letting the money compound itself.

Kalau saja investasi adalah seperti yang kebanyakan orang pikir—cuma membeli sesuatu untuk menghasilkan untung—kekayaan akan sangat mudah didapat dengan hanya membiarkan uang berbunga majemuk.

. . . When the prices of things one buys are going down, the principal danger of loss is selecting a bad risk or paying too much for it. If we were sure prices would fall, cash itself would become an ideal investment.

. . . Ketika harga barang turun, bahaya terbesar adalah memilih resiko yang salah atau membayar terlalu mahal untuknya. Bila kita yakin harga (saham/barang) akan turun, uang tunai bisa jadi adalah investasi yang ideal.

--Gerald M. Loeb di buku The Battle for Investment Survival






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2019 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Sunday, July 28, 2019

Apa Kelebihan Investasi di Bursa Saham?

Saya tulis di pos "Main Saham BUKAN Cara Cepat Menjadi Kaya" bahwa menurut Gerald M. Loeb "tidak ada yang lebih sulit daripada meraih untung secara konsisten di bursa saham."

[Kalau ada orang yang berusaha meyakinkan anda bahwa SANGAT MUDAH meraih untung di bursa saham KALAU anda membeli sesuatu dari dirinya, peganglah uang anda erat-erat. Jangan berikan uang anda kepada orang yang ingin menjerumuskan anda.]

Kalau sangat sulit meraih untung konsisten di bursa saham, lalu apa gunanya belajar saham?



Tulis Gerald M. Loeb di buku The Battle for Investment Survival:

What are the virtues of Wall Street? Is the subject worth studying at all?

Apa kelebihan berinvestasi saham? Apakah subjek tersebut layak dipelajari?

The principal virtues of Wall Street are its continuous quotations and the comparatively satisfactory liquidity of selected securities. There is no alternative investments, such as, for example, real estate, which can give the "Man of the Street" the ease and low cost of purchase and sale, the ready and frequent appraisal, the high liquidity and the protection from fraud possessed by the active security dealt in an auction market.

Kelebihan utama bursa saham adalah kutipan harga berkesinambungan dan likuiditas saham tertentu. Tidak ada alternatif investasi lain, seperti misalnya properti, yang bisa memberikan orang biasa kemudahan dan biaya murah dalam berjual-beli, taksiran harga terkini, likuiditas dan proteksi dari penipuan sebagaimana yang diberikan saham yang aktif diperdagangkan di bursa saham.

Therefore, by all means, don't pass up Wall Street; but try to make the best of it; realize its pitfalls; don't expect the impossible.

Oleh karena itu, bagaimanapun juga, jangan mengabaikan bursa saham; tapi berusaha cari solusi terbaik darinya; sadari bahayanya; jangan berharap terlalu muluk.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2019 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Tuesday, June 11, 2019

Main Saham BUKAN Cara Cepat Menjadi Kaya

Nothing is more difficult, I truly believe, than consistently and fairly profiting in Wall Street. I know of nothing harder to learn...

Tidak ada yang lebih sulit daripada meraih untung secara konsisten di bursa saham.




Into this field the outsider turns for quick and easy profit, or a high income, or a haven of safety. On the average, he gives it less thought than most of his activities, and he is usually careless as to whom he consults or through whom he deals. Frequently he fails to distinguish between results obtained by chance and those secured through knowledge...

Orang awam mengharapkan keuntungan cepat dan mudah dan penghasilan besar dari bursa saham. Umumnya ia hanya meluangkan sedikit waktu dan pikiran untuk hal ini dibanding aktivitas lainnya. Dan ia biasanya ceroboh memilih siapa yang ia percaya. Seringkali ia tidak bisa membedakan antara hasil yang didapat semata-mata karena beruntung dengan hasil yang didapat karena ia benar-benar tahu apa yang ia lakukan.

Knowledge born from actual experience is the answer to why one profits; lack of it is the reason one loses. Knowledge means information and the ability to interpret it marketwise.

Pengetahuan yang didapat dari pengalaman adalah jawaban mengapa seseorang meraih untung; kurangnya pengetahuan adalah alasan mengapa seseorang merugi. Pengetahuan berarti informasi dan kemampuan meng-interpretassi informasi tersebut ke dalam konteks bursa (saham).

--Gerald M. Loeb di buku The Battle for Investment Survival






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2019 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, May 11, 2019

Diversifikasi Portofolio Investasi. Perlukah?

Most of today's advisors are telling us to diversify into stocks, bonds, foreign stocks, and perhaps gold, to spread the risk; Loeb tells us to put all eggs in one basket and watch the basket. On this point, he and Buffet agree: it's most profitable to own a few stocks than to diversify for the sake of diversity. "The great fortune," Loeb notes, "are made by concentration."

Mayoritas penasehat (keuangan) menyarankan kita untuk mendiversifikasi (investasi) ke saham, obligasi, saham luar negeri, dan emas, untuk  menyebar resiko; Loeb menyarankan kita untuk menempatkan semua telur di dalam satu keranjang dan menjaga keranjang tersebut. Untuk poin ini, Loeb dan Buffet setuju: adalah lebih menguntungkan memiliki beberapa saham daripada mendiverfikasi (ke banyak saham) hanya semata-mata untuk diversifikasi. "Kekayaan besar," kata Loeb, "adalah hasil dari konsentrasi."



If the market conditions aren't favorable, Loeb sits on his cash for long periods—"it's far better," he says, "to let cash sit idle than to invest it for income."

Kalau kondisi pasar tidak bagus, Loeb memegang uang tunai dalam waktu lama—"lebih baik," kata Loeb, "untuk membiarkan uang tunai duduk santai daripada menginvestasikannya."

--John Rothchild di Foreword buku The Battle for Invesment Survival





Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2019 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Sunday, April 28, 2019

Analisa Saham a la Benjamin Graham. Perlukah?

This idea that owning stocks in good companies will pay off eventually has become an article of faith for modern investors, big and small. Loeb disagrees with it.

Ide memegang saham perusahaan bagus suatu saat pasti menghasilkan untung telah menjadi keyakinan utama investor modern, besar dan kecil. Loeb tidak setuju dengan ide ini.



To Loeb, the stock market is too fickle and too irrational to provide any security to the rational stockpicker who buy stocks on the company's merits. Analyzing companies a la Graham is as useless as giving medical check-ups to soldiers in the foxholes—with all the mortars being lobbed in, their vital signs tell you nothing about their chances for survival.

Bagi Loeb, bursa saham terlalu berubah-rubah dan terlalu tidak rasional untuk memberikan rasa aman bagi pemilih saham rasional yang membeli saham berdasarkan nilai-nilai perusahaan. Menganalisa perusahaan dengan cara (Benjamin) Graham adalah sama tidak bergunanya seperti melakukan check-up medis pada tentara di medan perang—dengan peluru dan bom beterbangan, kondisi kesehatan tentara-tentara tersebut tidak bisa dijadikan acuan keselamatan mereka.

--John Rothchild di Foreword buku The Battle for Invesment Survival






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2019 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Sunday, April 21, 2019

Trader Saham Cepat vs. Beli-Pegang-Terus

In 1935, when Gerald Loeb wrote his memorable book, investors could be divided into two main camps: the Buy-Holders and the Skittish Trader. . .

Pada tahun 1935, ketika Gerald Loeb menulis buku The Battle for Investment Survival, pemain saham dapat dibagi dalam dua kubu utama: para Beli-Pegang dan para Trader Cepat. . .



In Loeb's day, the Skittish Traders had a much larger following than the Buy-Holders, with Loeb as the principal spokesperson for moving in and out of the stock market: cutting losses, taking the profits and running, and getting out while the getting was good.

Saat itu, Trader Cepat lebih banyak jumlahnya daripada para Beli-Pegang, dengan Loeb sebagai pemrakarsa utama untuk keluar masuk dari pasar saham: cut loss, ambil untung dan kabur, dan jual saat kondisi sedang bagus.

--John Rothchild di Foreword buku The Battle for Invesment Survival






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2019 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Sunday, April 14, 2019

Faktor Kesuksesan Investor/Pemain Saham

What success investors eventually have is governed by their abilities, the stakes they possess, the time they give to it, the risks they are willing to take and the market climate in which they operate.

Sukses (para) investor tergantung pada kemampuan diri, modal yang mereka miliki, waktu yang mereka curahkan, resiko yang berani mereka ambil, dan iklim pasar saat mereka beraksi.

--Gerald M. Loeb di buku The Battle for Investment Survival 






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2019 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, February 16, 2019

Tanggapan Pengalaman Main Saham Mas Herlambang, Bagian 1

Pos ini adalah komentar saya untuk tulisan Mas Herlambang di pos "Pengalaman Main Saham Pembaca Blog Ini."


---###$$$###---


1. (Dampak) Psikologis Main Saham

Poin nomor 1 dari Mas Herlambang adalah cara menangkal dampak psikologis rugi main saham.

Yang dilakukan Mas Herlambang adalah dengan punya lebih dari satu akun online trading dan tidak membuka akun yang sedang rugi merah membara.

Terus terang, saya tidak setuju dengan cara ini.

Kalau kerugian di portofolio sudah sampai membuat stress, seharusnya kerugian tersebut langsung direalisasi alias di CUT-LOSS.

Kalau ruginya masih belum mencapai titik harus Cut-Loss, seharusnya dampak psikologis kerugian tersebut tidak/belum membuat stress.

Tapi . . .

Kalau cara Mas Herlambang ini manjur untuk Mas Herlambang, lakukan terus. Tidak usah peduli apakah bung Iyan setuju atau tidak. Setiap pemain saham punya cara tersendiri untuk trading/investasi saham.

Hal ini adalah seperti yang Mas Herlambang tulis di bagian akhir pos tersebut, "Profesi trader menurut saya adalah profesi yang unik, jadi jika ada 1000 trader, bisa jadi ada 1000 cara juga yang digunakan."

Tepat sekali.

Cara apapun yang anda lakukan dalam main saham, selama cara tersebut (akhirnya) memberi keuntungan, adalah cara yang tepat. Cara tersebut tepat dan benar untuk anda tapi belum tentu tepat untuk orang lain.

Dengan kata lain: JANGAN PERNAH merasa bahwa cara yang anda lakukan adalah cara yang paling benar. Silahkan jelaskan MENGAPA anda melakukan apa yang anda lakukan. Tapi biarkan orang lain berpikir, mencoba, belajar, dan menarik kesimpulan sendiri.

Mengapa?

Karena setiap orang punya cara tersendiri untuk bisa (konsisten) untung main saham.

"Tapi bagaimana dengan Cut-Loss?" tanya anda. "Bukankah bung Iyan selalu SELALU menekankan sampai terdengar seperti MEMAKSA pembaca blog ini untuk Cut-Loss?"

Pertanyaan yang sangat baik. Dan akan saya jelaskan.

Saya memang selalu SELALU menenkankan pemula untuk Cut-Loss. Bukan karena Cut-Loss adalah cara yang pasti tepat dan benar untuk semua orang. Tapi karena kalau anda tidak mau dan tidak rela Cut-Loss saat anda baru belajar main saham, kemungkinan besar modal anda sudah keburu habis SEBELUM anda menemukan cara main saham yang tepat untuk anda.

Mohon diingat: saat anda baru mulai main saham, pengetahuan anda masih minim. Apapun yang anda lakukan kemungkinan (lebih) besar salah. Namanya juga lagi belajar. Tidak perlu malu kalau rugi. Cut-Loss saja dan coba lagi.

Bisa saja akhirnya anda berkesimpulan bahwa Cut-Loss tidak tepat untuk anda. Tidak masalah. Tapi modal (dan tekad) anda harus bisa bertahan sampai anda mengambil kesimpulan tersebut.  

Lanjut baca ke pos "Tanggapan Pengalaman Main Saham Mas Herlambang Bagian 2." [belum terbit, mohon berkunjung kembali.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2019 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, February 2, 2019

Pengalaman Main Saham Pembaca Blog Ini

Di pos "Untung Rugi Main Saham Ada di Tangan Anda," pembaca setia blog ini—Herlambang—menceritakan pengalaman dirinya main saham sejak 4 tahun lalu sampai saat ini.

Saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Mas Herlambang untuk sharing ini.

[Saya juga mengundang pembaca-pembaca lain blog Terus Belajar: Main Saham untuk menceritakan pengalamannya. Berbagi pengalaman bukan hanya membantu orang lain, tapi juga membantu anda dalam menelusuri kelebihan dan kekurangan anda dalam bermain saham.]


---###$$$###---


Dear Mas Iyan.

Salam profit.

Sebenarnya saya agak grogi mau menceritakan pengalaman saya disini, khawatirnya dianggap ngawur atau apalah bahasa lainnya. Tapi baiklah tetap saya ceritakan karena tujuannya juga agar mendapat koreksi dan masukan dari seorang professional trader. Dan maaf sebelumnya apabila nanti bahasanya acak2an.

Setelah melakukan trading selama beberapa tahun, disertai dengan jatuh bangunnya, maka ada beberapa pengalaman berharga yang dapat saya ambil, dan saya juga meluangkan waktu untuk melakukan riset terhadap market, untuk saya aplikasikan sebagai bahan perbaikan pada trading2 berikutnya.

Ada 5 hal yang dapat saya sampaikan disini yaitu sebagai berikut.


Yang pertama terkait dengan psikologis. Psikologis ini sangat penting ketika melakukan aktivitas trading, terutama psikologis dalam menghadapi kerugian. Contoh kongkrit dari pengalaman saya, jika saya melihat portofolio di OLT “kebakaran” atau merah membara dan minus dalam, maka akan membuat hati gundah, dan hal ini justru memancing semakin banyak kesalahan dalam trading.

Nah, untuk permasalahan psikologis diatas, maka saya mengatasinya dengan cara membuat akun lebih dari satu. Tercatat saat ini saya sudah memiliki 4 akun dan kebetulan yang aktif 3 dan 1 non aktif. Sebelumnya 5 akun, tapi sudah saya tutup 1 jadi tinggal 4.Dengan cara ini saya mampu mengatasi kepanikan karena OLT yang portonya sedang “membara” tidak akan saya lihat.

Yang kedua terkait dengan pemilihan emiten. Saya sudah berkali2 jatuh bangun di saham gorengan. Pernah profit fantastis, tapi juga pernah rugi besar, sehingga ujung2nya ya impas saja, bahkan saya merasa rugi secara psikologis. Bagi pembaca setia blog mas iyan ini yang pernah main di saham gorengan akan merasakan sendiri bagaimana sensansinya. Nah, dari pengalaman tersebut saya memutuskan untuk berhenti dari main saham gorengan karena saya adalah seorang pemula. Bagi profesional trader, bisa jadi saham gorengan justru menjadi ladang profit yang paling menggiurkan karena volatilitasnya yang sangat tinggi.

Kemudian bagaimana saya memilih emiten. Jujur saja saya termasuk orang yang malas untuk mempelajari LK, membanding2kan fundamental antar emiten seperti PER, PBV, ROA, ROE, EBITDA, de.el.el.., sehingga dari hal tersebut saya memilih emiten cukup dari LQ45 saja ditambah emiten yang notabene “plat merah” atau BUMN. Lalu apa alasannya, kenapa LQ45 ? Alasannya adalah karena secara umum emiten2 penghuni LQ45 memiliki fundamental yang relatif “baik” ditambah lagi memiliki likuiditas yang tinggi, sehingga kalaupun salah ambil posisi dan mau “dibuang”, gampang. Kemudian kenapa BUMN ? Karena emiten BUMN saya anggap relatif “aman”, dan dari pengalaman saya, sampai saat ini saya masih memiliki 3 saham emiten swasta yang “mogok” lama dan tidak bisa dijual, karena adanya permasalahan hukum dan sebagainya. Padahal notabene emiten tersebut juga pernah parkir sebagai anggota LQ45. (to be continued..maaf sementara itu dulu nanti dilanjut lagi)



[Waduh, jadi tersanjung mas kalau sharing saya mau dijadikan pos di blog ini. Monggo mas tidak mengapa.]

Poin2 selanjutnya yang dapat saya sampaikan adalah sebagai berikut.

Yang ketiga terkait dengan money management. Diawal2 trading karena tidak menggunakan money management, lebih sering bonyoknya daripada untungnya. Sangat sering kena gocek ke level cutloss, padahal harga sudah berhasil breakout dari resisten kuatnya misalnya. Toh akhirnya harga melambung juga melanjutkan kenaikannya sehingga membuat saya manyun..haha. Untuk melakukan buyback pasca cutloss membutuhkan mental yang jauh lebih besar daripada ketika melakukan cutloss itu sendiri. Mungkin bagi profesional trader hal ini adalah sesuatu hal yang sudah biasa.

Kemudian bagaimana saya menerapkan money management ? Jika mengincar suatu saham, maka saya alokasikan dana maksimal 2/3 saja dari modal, dan 1/3nya lagi cash buat cadangan. Dari 2/3 dana tadi saya bagi lagi menjadi 12 bagian. Dari 12 bagian itu saya bagi lagi ke 3 akun. Jadi peluru 1-4 untuk membeli di akun 1, pembelian ke 5-8 di akun 2, pembelian ke 9-12 di akun 3.

Yang keempat terkait dengan bagaimana cara entrynya. Pembelian pertama tentunya disesuaikan dengan hasil analisis. Untuk pembelian ke-2 dan seterusnya dilakukan setiap kali ada tanda2 reversal baik kondisi naik maupun turun. Cara menganalisisnya adalah saya meriset saham2 LQ45 BUMN yang sedang downtrend dan penurunannya sudah mencapai 20%-40% atau lebih. Kemudian saya catat emiten2 tersebut beserta harganya saat itu. Atau agar tidak lupa dilakukan pembelian pertama, atau cukup beli 1 lot saja salah satu emiten yang saya pilih, sebagai penanda agar selalu terpantau di portofolio OLT, dan selanjutnya diamati terus grafik harganya dan ketika muncul tanda2 reversal dilakukan pembelian pertama dan seterusnya. Hasil dari pengamatan terhadap saham2 LQ45, jika sudah turun 20%-40% maka akan relatif lebih cepat untuk berbalik arah menjadi uptrend. (duh kolom komennya ngga muat saya putus disini


(lanjutan)

Yang kelima terkait dengan waktu entrynya. Jadi kapan waktu yang tepat untuk membeli saham ? Waktu yang saya maksud adalah waktu pada saat jam trading sedang berjalan. Sebelumnya saya suka membeli ketika harga sedang naik, sekitar pukul 9 – 11 karena takut ketinggalan kereta. Tapi ternyata disore hari keretanya mogok dan “kempes” lagi, jadi minus dah. Lebih pusing lagi jika esok hari dan esoknya lagi harganya semakin turun dan semakin dalem. Jadi ternyata pada jam2 tersebut menurut saya bukan waktu yang tepat untuk membeli, tapi justru waktu untuk jualan. Berdasarkan pengalaman tersebut saya sekarang lebih suka untuk membeli di sore hari, sekitar pukul 15.30 – 16.00. Karena dari pengamatan, pada jam2 tersebut pergerakan harga sudah cenderung stabil, walaupun tidak menutup kemungkinan pada saat closing ada kejadian harga ditarik ataupun bahkan dibanting. Lalu bagaimana jika sampai closing tidak dapat barang ? Jika menurut prediksi besar kemungkinannya untuk naik dan benar2 ingin dapat barang, untuk hal ini biasanya saya haka separuh dan separuh lagi nge-bid di harga tertinggi. Tapi jika hasil prediksinya biasa2 saja, cukup ngebid saja tanpa haka, kalaupun tidak kebagian ya sudah terima saja.

Sebagai tambahan, saya juga sudah stop menggunakan dana margin, karena menurut saya menggunakan margin sangat berbahaya bahkan justru bisa menghabiskan modal, kecuali bagi profesional trader. Tapi memang dengan disediakannya dana margin di OLT sangat menggoda untuk digunakan karena rasa serakah yang muncul untuk mendapatkan untung besar. Oleh karena itu saya membuka akun syariah yang disana tidak menyediakan dana margin supaya tidak tergoda.

Demikian sharing pengalaman saya, mungkin ada hal2 detil lainnya yang terlewat karena lupa untuk saya ceritakan. Profesi trader menurut saya adalah profesi yang unik, jadi jika ada 1000 trader, bisa jadi ada 1000 cara juga yang digunakan. Saham juga sama, semua saham memiliki peluang yang sama untuk memberikan profit dan juga memberikan peluang kerugian. Bagi trader X, saham ABCD mungkin saja bisa memberikan profit konsisten. Tapi bagi trader Y, belum tentu bisa mendapat profit dari saham ABCD tersebut, karena kedua trader tersebut bisa jadi memiliki analisis, metode, sudut pandang, ataupun timing buy dan sell yang berbeda. Saran saya bagi sesama pemula mari terus semangat belajar secara mandiri, semakin sering kita mengasah diri Insya Allah kita akan semakin mahir.

Semoga bermanfaat. Ditunggu komentar dan koreksinya dari mas Iyan untuk perbaikan kedepannya.

Terima kasih.



---###$$$###---


Ingin tahu tanggapan saya? Silahkan lanjut baca ke pos "Tanggapan Pengalaman Main Saham Mas Herlambang, Bagian 1."
 



Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2019 oleh Herlambang. Diterbitkan di blog terusbelajarsaham.blogspot.com dengan persetujuan penulis. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]