Saturday, October 9, 2010

Investasi Saham atau Trading Saham, Mana Lebih Baik? (Bagian I)

Protected by Copyscape Online Plagiarism Tool

Sejak Warren Buffet menjadi orang kedua terkaya di dunia versi majalah Forbes pada tahun 1990an, hampir semua pakar menyatakan bahwa satu-satunya strategi main saham yang menghasilkan adalah investasi saham jangka panjang (buy-and-hold) seperti yang dilakukan Mr. Buffet. Kalau anda tidak percaya, si pakar akan menyebut nama Warren Buffet. Lah, wong orang yang melakukan investasi saham buy-and-hold berhasil menjadi orang terkaya di dunia, berarti buy-and-hold adalah strategi terbaik, begitu argumentasi si pakar.

Namun sejak tahun 2008, kala Amerika diterpa krisis sub-prime mortgage yang membangkrutkan Lehman Brothers, banyak orang mulai bertanya-tanya apakah buy-and-hold adalah satu-satunya strategi tepat main saham. Mengapa baru timbul keraguan saat itu? Tidak lain karena investor yang beli-dan-pegang saham Amerika sejak tahun 2000 sampai dengan 2008 mendapat imbal hasil nol, bahkan negatif.

Kalau beli-dan-pegang tidak menguntungkan pada periode tersebut, mungkinkah strategi trading saham lebih baik?

Mungkin saja. 


Tapi untuk menentukan mana yang lebih baik, kita harus membandingkan imbal hasil (return) kedua strategi tersebut. Nah, di sini kita dihadang masalah. Di satu pihak kita dapat dengan mudah menghitung imbal hasil buy-and-hold: kita hanya perlu membandingkan harga saham waktu kita beli dan harga saham sekarang. Tapi di pihak lain kita sulit menentukan imbal hasil trading saham karena ada ribuan bahkan jutaan cara melakukan trading. Dengan begitu banyaknya cara trading saham, yang manakah yang layak kita pakai sebagai bahan perbandingan?

Memang, secara teoritis trading saham bisa jauh lebih menguntungkan daripada buy-and-hold. Begini maksud saya: kalau kita bisa membeli saham di harga terendah tahunan (low of the year) dan menjual di harga tertinggi pada tahun itu (high of the year), dan melakukan itu setiap tahun selama bertahun-tahun, imbal hasil kita akan amat sangat lebih tinggi dari strategi beli-dan-pegang. 


Masalahnya, tidak pernah ada satu orangpun yang berhasil melakukan hal ini dan hampir tidak mungkin ada yang bisa melakukan hal ini secara konsisten.

Mungkin kesulitan yang saya sebut di atas adalah alasan lain (selain Warren Buffet sang investor buy-and-hold yang menjadi orang terkaya di dunia) mengapa pakar selalu merekomendasi strategi beli-dan-pegang saham. Dengan menganjurkan strategi ini si pakar dapat dengan mudah menghitung imbal hasil dari data yang ada. "Kalau anda mulai buy-and-hold pada tahun 2000," kata si pakar, "sekarang ini investasi anda naik 5%. Tapi kalau anda mulai sejak tahun 1990, investasi tersebut sudah naik 500%." 


Tapi kalau si pakar merekomendasikan trading, ia sulit menghitung imbal hasil teoritis yang kita dapat karena ia tidak tahu harus memakai data yang mana. Daripada sulit menjelaskan, lebih baik ia merekomendasikan beli-dan-pegang saja.

Nah, kalau tidak ada data imbal-hasil trading saham untuk kita bandingkan dengan strategi beli-dan-pegang, bagaimana kita bisa menyatakan mana yang lebih baik?


Lanjut ke "Investasi Saham atau Trading Saham, Mana Lebih Baik? (Bagian II)"








Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2010 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

9 comments:

  1. oooo..... :o baru saya mengerti.... artikel anda sangat membantu kebetulan ini adalah jawaban yg saya cari selama ini.
    bisa anda berikan contohnya investasi saham apa? apakah seperti investasi UL (asuransi) atau invest di reksadana?
    kalau trading saham dimana, apakah di BEI? berarti bisa dicairkan kapan saja bukan, tidak perlu menunggu 10tahun?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Rahayu,

      1. Saya tidak merekomendasi saham spesifik. Blog ini lebih banyak ke diskusi fakta, filsafat, konsep, logika, mekanisme, dan teknik main saham.

      2. Investasi saham yang saya diskusikan di sini adalah investasi dan trading saham LANGSUNG (dilakukan anda sendiri) di Bursa Efek Indonesia. Reksadana dan UL (unit link) adalah investasi saham secara TIDAK LANGSUNG.

      3. Saham bisa anda jual kapan saja setelah anda beli.

      Ada baiknya Rahayu baca halaman "Kurikulum" untuk membaca pos-pos yang sesuai dengan kondisi anda.

      http://terusbelajarsaham.blogspot.com/p/kurikulum.html

      Delete
  2. Bung Iyan, Anda sangat kooperatif, I Like it,.!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kooperatif gimana ya maksudnya? (Sambil saya garuk-garuk kepala yang gatal).

      Delete
  3. Thanks pak Iann :) sangat membantu saya sebagai seorang awam yang ingin memulai trading saham. Saya akan jadikan blog bapak sebagai tolak ukur blog saham lainnya karena saya pikir blog bapak sangat sangat berkompeten!! :) sukses selalu pak ian

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung The Sword, terima kasih sudah meluangkan waktu meninggalkan komentar.

      Delete
  4. bung Ian..apakah untuk investasi kita lebih baik memilih saham-saham yang BLUE CHIP /LQ 45 karena lebih terjamin dan untuk Trading kita gunakan saham-saham kelas 2, mohon pencerahannya?
    o iya..bisa nggak dijelasin dan contoh penggunaan metode-metode analisa teknikal untuk menentukan support dan resistanc (MA,MACD,BOLinger band dan lain-lain) terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk pemula, saya anjurkan memilih saham Blue-Chip karena gejolak harga saham-saham ini relatif lebih kecil dibanding saham "kelas 2."

      Artinya, saat anda masih belajar INVESTASI ataupun TRADING, sebaiknya main saham BlueChip atau LQ45.

      Menentukan Support Resistance akan saya bahas, tapi karena keterbatasan waktu menulis, mungkin tidak dalam waktu dekat. Mohon bersabar.

      Delete
  5. terima kasih atas ilmunya......sangat bermanfaat buat sy yang baru belajar investasi saham n pelan pelan pengen juga jadi trader

    ReplyDelete

Pertanyaan dan komentar anda akan saya jawab sesegera mungkin. Maaf, saya tidak menerima pertanyaan dan komentar anonim. Promosi, iklan, link, dll, apalagi hal-hal yang tidak berhubungan dengan main saham TIDAK AKAN ditampilkan.