Saturday, October 16, 2010

Investasi Saham atau Trading Saham, Mana Lebih Baik? (Bagian II)

Protected by Copyscape Online Plagiarism Tool

Pos ini adalah lanjutan dari "Investasi Saham atau Trading Saham, Mana Lebih Baik? (Bagian I)."

Setelah membaca Bagian I, anda mungkin menjadi bingung dan bertanya, "Jadi sebenarnya mana yang lebih baik, investasi saham atau trading saham?"

Saya tidak bermaksud membingungkan anda tetapi ingin menunjukkan satu prinsip penting yang harus anda pegang jika mau sukses main saham:

Hanya karena pakar menganjurkannya, tidak berarti hal itu baik untuk anda.
 

[Prinsip ini harus juga anda terapkan pada semua saran di blog ini: jangan ditelan bulat-bulat; bandingkan dulu dengan kondisi anda.]

Mengapa?

Karena anjuran pakar sifatnya umum tetapi anda adalah unik. Begini contohnya: pakar kesehatan menganjurkan kita untuk berolahraga, suatu anjuran yang baik. Tapi "berolahraga" itu tidak spesifik. Apakah artinya kita harus angkat beban atau lari atau berenang atau main badminton? Apakah kita harus melakukannya setiap hari, dua hari sekali, tiga hari sekali, atau setiap minggu? Kalau berolahraga melebihi kemampuan fisik, kita malahan bisa sakit atau cedera, bukannya sehat.

Jadi, untuk menentukan apa yang baik untuk kita, kita jangan menerima langsung semua yang dianjurkan pakar, tetapi harus terlebih dahulu menganalisa diri kita sendiri. Untuk menjawab pertanyaan "Mana yang lebih baik, investasi saham atau trading saham" anda harus terlebih dahulu menimbang tiga hal berikut:

  1. Tingkat kesabaran anda
  2. Waktu yang dialokasikan
  3. Toleransi terhadap resiko

Tingkat kesabaran

Kalau anda tipe sabar, investasi lebih cocok; kalau tidak sabar, trading lebih cocok.

Saya rasa ini cukup jelas. Jika anda tipe tidak sabar tapi memilih strategi beli-dan-pegang, anda akan tergoda menjual ketika saham baru naik sedikit. Setelah anda jual, saham mungkin akan naik dan terus naik. Anda kehilangan kesempatan untung lebih banyak karena ketidaksabaran anda.


Waktu yang dialokasikan

Kalau anda tidak bisa meluangkan banyak waktu, jangan memilih trading. Pilihlah investasi.

Investasi jangka panjang memberi anda kesempatan untuk mengambil keputusan tanpa buru-buru. Strategi ini juga membebaskan anda dari keharusan memantau harga saham setiap menit.


Lain dengan trading. Kalau anda memilih trading tapi anda sering sibuk dengan kegiatan lain, saham anda mungkin sudah turun ketika anda sempat memantau harganya.


Toleransi terhadap resiko

Kalau anda punya toleransi tinggi terhadap resiko, pilih investasi; kalau tidak, pilih trading.

Kalimat di atas terdengar kontradiktif, tapi tidak demikian. Investasi jangka panjang berarti kita beli-dan-pegang saham terus menerus.
Artinya, seorang investor harus tahan mental melihat saham yang ia miliki turun dari Rp 5000 ke 4000 ke 3000 ke 2000 ke 1000. Selama kondisi perusahaan memenuhi kriteria yang ia terapkan, si investor tetap memegang saham tersebut.

Tapi perlu juga anda perhatikan bahwa selama anda memegang saham suatu perusahaan, kondisi perusahaan bisa berubah dari baik menjadi buruk karena hal-hal yang tidak kita perhitungkan.

Ada baiknya saya ilustrasikan dengan contoh. Misalnya kita beli-dan-pegang saham pabrik A di harga Rp 1000. Setelah 1 tahun, saham itu naik menjadi 1200. Anda senang karena, di atas kertas, sudah untung 20%. Tiba-tiba pabrik A hangus dilalap api. Saham A anjlok dari Rp 1200 menjadi 500. Dalam sekejab, posisi untung 20% berbalik menjadi rugi 50%. Saham A mungkin saja naik lagi ke 1200, tapi tidak ada jaminan hal itu akan terjadi. Kalaupun terjadi, mungkin memakan waktu lama.

Berbeda dengan trading. Trading berarti kita hanya memegang saham dalam waktu pendek. Kalau saham naik, kita jual; kalau turun sampai titik cut loss, juga kita jual. Kita tidak terpengaruh oleh resiko perusahaan atau resiko pasar jangka panjang.

Saya sendiri memilih menjadi trader karena toleransi saya terhadap resiko sangatlah rendah. Saya tidak tahan melihat saham yang saya miliki turun. 

Misalkan saya membeli saham KIJA di 165. Beberapa hari kemudian KIJA turun ke 155. Untuk investor buy-and-hold, posisi rugi Rp 10 (6%) adalah hal yang tidak perlu dipikirkan. Tapi bagi saya, kerugian 6% ini membuat saya tidak enak makan, tidak enak tidur. Daripada tidak bisa tidur, lebih baik KIJA tersebut saya jual dan menelan rugi 6%.

Setelah menganalisa tiga hal di atas, anda siap menentukan sendiri mana yang lebih baik untuk anda, investasi saham atau trading saham. 






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2010 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

33 comments:

  1. Pak Iyan, terima kasih atas jawaban dari pertanyaan saya yang sebelumnya. Setelah membaca beberapa tulisan bapak tentang investasi saham atau trading saham, saya mempunyai pertanyaan yang cukup menggelitik pikiran saya. Misalkan ada seorang nasabah yang menpunyai target rata2 cuan perhari sebesar 1%. Berarti perbulannya sebesar 22% (sesuai hari kerja) dan per tahunnya sebesar 240% Nasabah tsb tidak memperdulikan saham apa saja yang akan dibeli sepanjang si broker merekomendasikannya. Nah, katakanlah dia menginvestasikan dananya sebesar 200 juta per tanggal 1 Agustus. Dari daftar portofolionya per tgl 1 Agustus s/d 12 Agustus (10 hari kerja) nasabah tsb telah melakukan transaksi jual beli sebesar 870 juta. Dengan saldo akhir sebesar 26 juta. Pertanyaan saya apakah dalam waktu 10 hari nasabah tsb telah mencapai target yang ditetapkan olehnya? Apa komentar dari Pak Iyang mengenai simulasi tersebut? Terima Kasih.

    ReplyDelete
  2. Johnny, sebelum menjawab pertanyaan anda saya mau mengklarifikasikan kalimat "Dengan saldo akhir sebesar 26 juta." Mungkin maksud Johnny adalah "Dengan saldo akhir UNTUNG 26 juta"? Saya coba menjawab dengan asumsi bahwa itulah yang Johnny maksud.

    Untung Rp 26 juta dalam 10 hari kerja dengan modal Rp 200 juta memang berarti persentase keuntungan adalah 1% per hari. Ini hasil yang sangat baik, apalagi kalau si investor adalah pemain baru.

    Pertanyaannya: Mungkinkah seorang investor mengalami hal tersebut di atas. Mungkin, sangat mungkin. Tapi Johnny harus perhatikan: bermain saham adalah berlari marathon, bukan berlari cepat (sprint).

    Maksud saya begini. Banyak pemain saham baru yang melipatgandakan modalnya dalam beberapa bulan karena faktor keberuntungan dan faktor nekad. Saking mudahnya ia mendapat untung, ia menganggap dirinya jenius, seorang "Super Trader." Karena meremehkan pasar, suatu saat ia akan merugi dan terus-menerus merugi. Semua keuntungan sebelumnya akan habis, bahkan modalnya pun ikut tergerus. Ia menang dalam lari sprint tapi kalah telak ketika lari marathon.

    Intinya: sangatlah mungkin seorang pemain saham mendapat keuntungan 20-30% per bulan dalam jangka waktu pendek, bahkan untuk pemain saham pemula sekalipun. Apalagi saat kondisi market bullish seperti sekarang ini. Nah pertanyaan berikut, mungkinkah seorang investor untung 20% per bulan selama bertahun-tahun?

    Kemungkinan selalu ada, tapi amat sangat kecil. George Soros anda Warren Buffet berhasil menjadi investor kelas kakap dunia dengan return konsisten hanya 20-40% per TAHUN. Jadi kalau ada investor Indonesia yang bisa untung konsisten 240% per tahun, dalam beberapa tahun niscaya ia akan menjadi orang terkaya di dunia.

    Ada satu hal lagi yang perlu Johnny ingat: tidak setiap hari pasar memberi kesempatan mendapat untung. Kalau anda sudah lama berkecimpung di pasar, anda akan tahu ada hari-hari, minggu-minggu, bulan-bulan di mana pasar begitu sepinya sampai-sampai anda sudah sangat senang kalau tidak rugi.

    Kesimpulannya: target laba 240% per tahun sangat sulit dicapai. Tentukan target yang lebih masuk akal, misalnya 20% per TAHUN.

    Tapi kalau Johnny kenal investor yang bisa konsisten untung 240% setiap tahun, tolong infokan ke saya. Saya mau belajar dari beliau.

    ReplyDelete
  3. mas Iyan, terima kasih ya tulisan2nya sangat mudah dicerna, bermanfaat buat saya yg masih nubie ini.

    Saya melihat faktor fee/komisi beli atau jual utk broker belum dimasukkan dlam perhitungan. Walaupun kecil, tapi jika sering juga lumayan. Mungkin bisa dibuat komparasi, investor vs trader harian vs trader mingguan vs trader bulanan. :)

    Kalau di mix boleh kan. Investor iya, trader iya.

    Entah kenapa, ada saham2 yang jika saya denger/baca namanya saja sudah bikin adem di hati. Saham itu lah yg saya pilih jadi "pendamping hidup" saya.

    Ada saham yang "bitchy", menggoda, liar, naik cepat, turun cepat, itu saham yg seru utk dijadikan pacar... Hahahaha...

    ReplyDelete
  4. Bang Muflin, trims sudah mampir dan meninggalkan komentar.

    ReplyDelete
  5. Pak Iyan, pertanyaan saya singkat saja:
    1. Untuk tipe investor jangka panjang, apakah tidak perlu menerapkan strategi 'cut loss' untuk investasinya?
    2. Untuk sistem IPOT yang Bapak gunakan, apakah ada fee-nya juga apabila kita menggunakan 'cut loss' ? mohon petunjuknya pak.

    Terima kasih atas perhatiannya, blog ini sangat bagus, semoga menjadi berkah buat orang banyak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1. Menurut saya (karena banyak yang berpendapat lain), trading atau investasi TETAP harus menerapkan 'cut loss.' Bedanya, kalau trading, mungkin rugi 5% saja sudah harus 'cut loss'; kalau investasi, mungkin rugi 10-20% baru 'cut loss.'

      2. Saya tidak jelas dengan maksud Reinhard ttg fee untuk 'cut loss.' Cut-loss adalah menjual, menjual saham ada fee-nya.

      Kalau maksud Reinhard adalah menggunakan sistem IPOT di mana anda memprogram harga di mana sistem akan cut-loss otomatis, ini adalah fitur dari IPOT dan tidak dikenakan fee tambahan (tapi tetap harus bayar fee jual).

      Delete
  6. Hi Pak Iyan,

    iya maksud saya begitu pak, karena saya sedang ditawarkan sistem sekuritas 'tertentu' (mungkin tidak perlu saya sebut namanya), program cut loss tersebut akan terkena fee perharinya walaupun harga saham tidak menyentuh nilai cut loss yang kita program tersebut,

    Contoh: kita beli saham di Rp. 1,000, lalu cut loss di Rp. 800, di H + 1 saham menyentuh di angka Rp. 900 (belum menyentuh nilai cut loss), tapi fee tetap dibebankan ke kita dan cut loss harus diaktifkan kembali setelah 24 jam (kalau lewat dari 24 jam, maka cut loss nya akan off plus fee dan harus diaktifkan lagi).

    Apakah cara bekerja sistem seperti itu adalah sesuatu hal yang normal pak? atau mungkin orang sekuritas nya yang salah menjelaskan? hehe....

    Terima kasih atas perhatiannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya jadi Reinhard, saya tidak bersedia bayar fee tambahan hanya untuk memasukkan titik cut-loss. Apalagi fee-nya dibebankan setiap 24 jam. Belum cut-loss aja kita sudah rugi. Tidak masuk akal.

      Kalau memang anda tidak sempat memonitor sendiri harga saham, sebaiknya buka rekening broker full-service (dilayani manusia). Lalu titip pesan ke broker utk menghubungi anda, kalau harga saham mendekati harga cut-loss.

      Saya sendiri belum pernah memakai sistem cut-loss di IPOT, tapi setahu saya, tidak ada fee tambahan untuk melakukan hal ini. Sistem ini adalah fitur dari perusahaan untuk menarik nasabah, bukan cara untuk menambah pemasukan.

      Delete
  7. Pak Iyan, terima kasih banyak untuk sharingnya mengenai transaksi saham yang menurut saya matetinya telah tersusun dengan baik, jadi memudahkan kami "newbie" belajar mengenai hal ini.

    Saat ini saya ingin melakukan investasi jangka panjang (buy & hold) saham dengan 20-30% asset pribadi karena saya percaya perusahaan tersebut terus berkembang dan 10% untuk trading, apakah hal ini wajar berdasarkan best practice yang Bapak lakukan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eoshi, terima kasih untuk komentarnya yang positif.

      Mengenai alokasi asset Eoshi 20-30% untuk Buy & Hold dan 10% untuk trading, secara sepintas OK. Tapi saya tidak tahu Eoshi sudah berpengalaman berapa tahun main saham, apakah sudah punya rumah atau belum.

      Kalau belum punya rumah, beli dulu. Baru sisanya (kalau ada) untuk main saham. Kalau anda bukan pemain saham profesional, alokasi asset pribadi terbesar seharusnya adalah pada rumah yang anda tinggali.

      Kalau baru mulai main saham sendiri (bukan masuk reksa dana), sebaiknya mulai dengan persentase asset SEKECIL mungkin. Mengapa? Karena pada tahun-tahun pertama hampir pasti Eoshi akan rugi.

      Kalau masuk reksa dana dengan alokasi 20-30% asset (di luar kepemilikan rumah) saya rasa tidak masalah.

      Delete
  8. menurut mas iyan brapa modal pertama yang harus kita keluar kan supaya kita bisa meninjau itu saham yang bagus atau saham yang "gorengan" aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya tidak mengerti maksud Fitra.

      Saham "gorengan" atau "bagus" tidak tergantung modal yang harus kita keluarkan. Disebut "gorengan" kalau fluktuasi saham sangat tajam; artinya, naik turun nya sangat cepat dan dalam persentase yang besar.

      Delete
    2. jdi kira kira berapa modal yang harus di kluarkan untung pemula mas iyan

      Delete
    3. Silahkan baca pos "Berapa Sebaiknya Modal Awal Main Saham."

      Delete
  9. Terimakasih pa iyan sebelumnya atas penjelasan dalam blog ini yang sangat bermanfaat bagi pengetahuan saya terutama tentang pasar modal. Saya mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi tentang saham dan mulai tertarik untuk berinvestasi pada saham namun ilmu saya masih sedikit sehingga mohon dibimbing agar tidak salah melangkah dalam memulai. Saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan untuk memulai melakukan trading

    1. Bagaimana cara bila kita hendak menjual atau membeli saham ?
    2. Jangka waktu trading itu satu bulan atau seperti apa ?
    3. Apakah jika kita memilih trading kita berhak mendapatkan dividen ?

    Mohon dibantu atas pertanyaan saya pak. Terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1. Silahkan baca pos "Bagaimana Cara Membeli Saham Indonesia."

      http://terusbelajarsaham.blogspot.com/2013/03/bagaimana-cara-membeli-menjual-saham.html

      2. Tidak ada batas waktu untuk trading. Anda yang menentukan jangka waktu itu sendiri.

      3. Dividen tidak ada hubungan dengan trading atau tidak. Silahkan baca pos "Arti Istilah Cum dan Ex Dividen."

      http://terusbelajarsaham.blogspot.com/2011/07/arti-istilah-cum-dan-ex-dividen.html

      Delete
  10. Hallo pak Iyan,

    Saya berencana untuk membuka rekening di sekuritas, saya masih belum punya pengalaman sama sekali dalam bermain saham.

    Saya tertarik dengan saham PGAS yang naik-turun konsisten di kisaran 5.300-5.400.

    Jika misal, saya beli saham tersebut di harga 5.300 lalu menunggu naik hingga 5.350 dan jual, lalu saya tunggu lagi saham turun ke kisaran 5.300 lalu beli dan jual ketika 5.350 begitu seterusnya,

    apakah dengan cara begitu saya bisa mendapatkan untung yang konsisten pak, sekitar 0,93% dipotong fee jual+beli+pajak = 0,6% jadi sekitar 0,23% ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau anda bisa KONSISTEN beli di harga bawah dan jual (beberapa poin) di harga atas, tentu saja anda akan mendapat untung.

      Tapi main saham (ataupun instrumen finansial apapun) TIDAK SEMUDAH contoh yang Nur kemukakan.

      Katakan anda berhasil melakukan contoh anda 10 kali berturut-turut (kemungkinan yang sangat kecil terjadi), anda untung 10 x 0.23% = 2.3%.

      Tapi pada kali kesebelas, setelah anda beli PGAS (di 5300) lalu PGAS turun ke 4800. Anda rugi Rp 500 atau sekitar 9.4%.

      Sepuluh kali jual-beli cuma untung 2.3%.
      Sekali rugi langsung rugi 9.4%.
      Total rugi setelah jual-beli 11x: 7.1%.

      Ini BUKAN cara main saham yang benar.

      Yang harus anda USAHAKAN terjadi adalah kebalikan skenario di atas. Artinya, boleh saja anda RUGI 10X sebesar 2.3%, tapi kalau lagi UNTUNG sekali saja, usahakan untungnya 9.4%.

      Delete
  11. Oh ternyata begitu pak,

    Tapi susah pak membaca pattern dari saham yang dapat gain besar, saya takut rugi pak karena tidak bisa membaca pattern history harga sahamnya

    Jika misal di harga 4800 saya hold saja pak, walau menunggu beberapa minggu sampai harganya menguat itu bagaimana pak. Seperti kejadian di minggu ini saham PGAS sempat turun ke 5.250 ternyata keesokan harinya market bullish pak menguat hingga 5.450.

    Saya lihat saham-saham dengan fundamental kuat seperti PGAS ini sangat menarik pak, karena bergerak osilasi selama beberapa bulan belakangan, naik turun yang sedikit ini berarti potensi untung kan pak ya,patternnya seperti "sudah terbaca" begitu pak.

    Apakah berarti saham-saham trendless seperti ini bisa dibilang menjanjikan keuntungan yang hampir pasti pak, dibanding saham-saham trending yang walau menjanjikan gain besar tapi juga berisiko rugi besar pak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau rencana anda adalah untuk mengambil untung kecil terus, sah-sah saja. Silahkan dicoba.

      Kalau saham turun, rekomendasi saya cuma satu: CUT-LOSS.

      Saya pribadi tidak tertarik pada saham TRENDLESS. Saya selalu berusaha mencari saham yang UPTREND.

      Delete
  12. Pak Iyan,

    kalo saya minat menjadi investor jangka panjang, saya pilih Mandiri Sekuritas dengan MOST.. menurut bpk gmn?

    oh ya, kalo resiko yg saya tanggung termasuk resiko menengan, apa saya masih cocok sbg investor jangka panjang ya pak?
    saya terbentur di masalah waktu yg terbatas kalo untuk memantau stand by terus..

    thx

    ReplyDelete
  13. Saya tidak pernah pakai MOST Mandiri Sekuritas, jadi saya tidak tahu bagus tidaknya. Tapi karena Mandiri Sekuritas adalah perusahaan besar, tidak ada salahnya dicoba.

    Bingkai waktu (time frame) investasi harus anda yang tentukan sendiri. Tidak ada salahnya juga anda mencoba menjadi investor jangka panjang dengan toleransi resiko menengah.

    Coba dulu, kalau cocok lanjutkan. Kalau tidak cocok, coba cara lain.

    ReplyDelete
  14. Bung Iyan,..!!
    mungkin saya 1 dari banyak orang yang menyukai blog anda.
    yang tentunya saya punya banyak alasan mengatakan itu. gak cukup kalo mau ditulis semua disini.

    Bung iyan, saya ada pertanyaan ne,.!!

    kalau kita sudah buy order saham A, dan dalam proses antri,- (blm dapat saham A tsb),

    Lalu, apakah kita bisa langsung sell order (antri jual) saham A (malaupun saham A itu belum kita pegang alias belum kita miliki) ..??

    thans, sebelumnya,...!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung dzaka,

      Kalau saham masih antri beli (belum MATCH atau TRADE DONE), anda TIDAK BISA antri jual.

      Setahu saya, default sistem online trading sekuritas akan MENOLAK order jual saham yang belum anda miliki. Silahkan anda coba.

      Delete
  15. salam kenal pak iyan, bersyukur saya ketemu blog ini. saya ingin tanya pak, setelah lulus kuliah ekonomi saya ingin sekali menempuh jalur pendidikan formal segala seluk beluk tentang saham dan teman2nya. menurut pak iyan, saya sebaiknya ambil sertifikasi apa dan kuliah S2 apa ya kalo saya ingin berkarir jadi broker di suatu perusahaan (nantinya sih berkhayal hanya bekerja dari rumah). terima kasih pak ditunggu rekomendasinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Nandini,

      Saya pribadi berpendapat bahwa belum ada jurusan PENDIDIKAN FORMAL yang benar-benar menyiapkan seseorang untuk berkarir sebagai "pemain" (investor atau trader) saham.

      MBA mungkin mempersiapkan anda untuk mengelola keuangan perusahaan, tapi tidak untuk mengelola portofolio saham.

      Lagipula, hampir semua teori yang anda pelajari di perguruan tinggi adalah teori yang dibuat profesor-profesor yang bukan pemain saham. Teori-teori mereka bisa dikatakan bagus, tapi banyak asumsi-asumsi yang dipakai yang tidak sesuai dengan kondisi pasar sebenarnya.

      Kalau anda tidak percaya pada saya, saya harap anda percaya pada Peter Lynch dan Joel Greenblatt.

      Peter Lynch (penulis buku "One Up On Wall Street") dan Joel Greenblatt (penulis buku "The Little Book that Still Beats the Market" dan "You Can Be a Stock Market Genius") berpendapat bahwa pendidikan MBA tidak banyak membantu untuk sukses bermain saham. Perlu anda ketahui bahwa Peter Lynch dan Joel Greenblatt adalah pemain saham ulung, dan kedua-duanya punya gelar MBA dari universitas ternama.

      Jadi, saran saya adalah adalah anda TERJUN LANGSUNG ke dunia transaksi saham. Tapi dalam proses belajar, jangan mencemplungkan uang dalam jumlah nominal besar.

      Terjun langsung bisa dengan langsung menjadi pemain saham, atau bisa juga dengan bekerja di perusahaan broker saham.

      Kalau mau mancing ikan, anda tidak perlu kuliah 4 tahun untuk belajar biologi ikan. Akan lebih produktif kalau anda langsung saja memancing ikan di kolam/laut mendompleng pemancing-pemancing yang sudah berpengalaman.

      Delete
  16. wah sarannya bermanfaat sekali pak. saya terus terang menanyakan pemdidikan formal karena mlihat teman yang ambil sertifikasi CFA. sedangkan goal saya nantinya memang ingin bisa trading for living. lalu jika tidak ada pendidikan formal, apa ada buku yang bagus untuk bisa saya pelajari pak sbg pemula? saya dulu pernah meminta modul belajar CFA sama teman saya tapi karena sudah jarang ketemu jadi tidak kesampaian. bukan hanya itu, kebanyakan orang indo hanya buat buku untuk meraup kentungan, isinya bukan yang benar2 menuntun kita melangkah lebih jauh dari posisi qt sekarang ini (sbg pemula). jadi saya bingung memilihi buku apa sebagai bahan pembelajaran

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sertifikasi CFA dan sertifikasi-sertifikasi lainnya hanya berguna kalau anda ingin MENCARI KERJA.

      Bursa saham TIDAK PEDULI apakah anda punya gelar MBA, CFA, CTA (Chartered Technical Analyst), dan lain-lain. Artinya, hanya karena anda punya gelar MBA, CFA, CTA, tidak berarti anda akan untung main saham. Tidak ada hubungan sama sekali antara sertifikasi dan kemampuan mencari uang dari transaksi saham.

      Tapi kalau tujuan anda adalah untuk mencari kerja, sertifikasi-sertifikasi tersebut tentu bermanfaat.

      Tentang buku-buku bagus tentang saham, silahkan kunjungi halaman "BUKU."

      http://terusbelajarsaham.blogspot.com/p/astore.html

      Buku rekomendasi saya semuanya dalam bahasa Inggris. Saya setuju dengan anda bahwa penulis buku saham di Indonesia banyak yang mengejar keuntungan dengan janji-janji bombastis.

      Delete
  17. halo pak Iyan, terimakasih blognya sangat membantu. saya ada beberapa pertanyaan pak.

    1. saya sudah melakukan trading dengan nilai cut loss 10% seperti pak Iyan sarankan, dan puji syukur sampai sekarang belum pernah terkena titik cut loss tesebut meskipun baru beberapa kali transaksi dibandingkan dahulu yang sering merugi. tetapi saya ada masalah ketika akan menetapkan harga jual saham saya,mengingat saya adalah trader harian - mingguan dengan mengincar saham murah. apa pak Iyan bisa memberi saran pada gaya trading saya ini terutama pada titik harga jual?

    2. saya mahasiswa semester 6 dan pada libur kuliah ini ingin mengajukan magang, saya ingin mengajukan magang ke perusahaan investasi untuk menambah ilmu investasi khususnya analisis. tapi saya merasa dilemma untuk tidak melakukan magang dan focus di trading saham pada libur kuliah. apa bapak juga bisa memberikan saran? perusahaan investasi apa saja yang terkenal di Indonesia?

    mohon maaf pertanyaan saya panjang pak. selalu sehat dan tetap profit pak Iyan. terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1. Tentang titik harga jual, silahkan baca pos "Cara Menjual Saham Agar Profit Maksimal."

      http://terusbelajarsaham.blogspot.co.id/2013/05/cara-menjual-saham-profit-maksimal.html

      2. Saya tidak tahu perusahaan investasi terkenal di Indonesia. Tentang apakah mau magang atau trading, itu adalah pilihan yang harus anda tentukan sendiri.

      Delete
  18. Om iyan..maaf, sepertinya setelah diproteksi, link-link tulisannya menjadi tidak bisa diklik..hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masa sih?

      Saya akan coba cek ulang. Selama ini, setahu saya link tetap bisa diklik.

      Delete
  19. Terima kasih sebelumnya... kalau boleh saya katakan ink blog paling baik untuk belajar saham, lebih pada meminilisir kerugian dari pada bicara untung..termotivasi saya untuk belajar terus..selamat buat bapak

    ReplyDelete

Pertanyaan dan komentar anda akan saya jawab sesegera mungkin. Maaf, saya tidak menerima pertanyaan dan komentar anonim. Promosi, iklan, link, dll, apalagi hal-hal yang tidak berhubungan dengan main saham TIDAK AKAN ditampilkan.