Showing posts with label Pilih Mana. Show all posts
Showing posts with label Pilih Mana. Show all posts

Saturday, August 29, 2020

Beli 20 Jenis Saham atau 2 Saja?

 Pilih mana:

1. Beli 20 jenis saham masing-masing senilai Rp 1 juta. Total Rp 20 juta.

2. Beli 2 jenis saham masing-masing senilai Rp 10 juta. Total Rp 20 juta.

Silahkan anda pikirkan dahulu.

Sudah?

 


Menurut Gerald Loeb:

. . . large commitments, meaning thereby a few relatively large blocks of shares, are preferable to a great many small positions.

. . . beberapa jenis saham dengan nilai relatif besar adalah lebih baik daripada banyak jenis saham dengan nilai kecil.

 

 Mengapa lebih baik beberapa saham dengan nilai besar?

Confining oneself to situations convincing enough to be entered on a relatively large scale is a great help to safety and profit. One must know far more about it to enter the position in the first place, and one will retreat from a mistake much quicker if failure to retreat means an important loss.

Membatasi diri pada situasi yang meyakinkan untuk masuk dalam nilai besar sangat membantu untuk meraih untung dan mencegah rugi besar. Seseorang akan mencari tahu banyak sebelum membeli saham tersebut dan akan mundur cepat dari kesalahan apabila tidak mundur berarti rugi besar. 

 

Mengapa menghindari banyak jenis saham dengan nilai kecil?

A large number of small holdings will be purchased with less care and ordinarily allowed to run into a variety of small losses without full realization of the eventual total sum lost. Thus overdiversification acts as a poor protection against lack of knowledge.

Banyak jenis saham dalam nilai kecil biasanya dibeli dengan kepedulian rendah dan biasanya dibiarkan rugi tanpa menyadari rugi kecil di sana-sini kalau dijumlah bisa-bisa jadi rugi besar. Jadi, diversifikasi yang berlebihan adalah tameng bahwa anda tidak tahu apa yang anda lakukan.

 

---###$$$###---


Saya mau mengaku.

Saya selalu berusaha untuk melaksanakan petuah Gerald Loeb di atas. Tapi cukup sering saya melanggarnya.

Apalagi saat market sedang bullish dan banyak saham yang naik (saya senangnya membeli saham yang naik).

Saham INII naik. Saya beli.

Saham ITUU naik. Beli juga.

Saham GOYA naik. Beli.

Saham SANA naik. Gak dibeli gak tahan. Beli dikit aja.

Saham SINI naik juga. Kok menarik ya. Beli lah.

Tidak terasa, eeh sudah punya 15 saham di portofolio. Kecil-kecil nilainya. Tapi efek pusingnya sama dengan saham yang bernilai besar.

Dan faktanya: kalau jenis saham terlalu banyak di portofolio, biasanya saya rugi.

Saya harap anda lebih baik daripada saya dalam melaksanakan nasehat Gerald Loeb di atas.



Pos-pos yang berhubungan:

 [Pos ini ©2020 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, August 4, 2018

Trading Saham Cepat atau Investasi Jangka Panjang?

Di pos "Tanggapan Pilih Mana: Investasi Saham Jangka Panjang atau Trading Saham Jangka Pendek?" saya menyatakan bahwa anda harus mencari tahu sendiri apakah anda lebih cocok investasi saham jangka panjang atau trading saham cepat. Nah, di pos ini saya akan membahas topik tersebut dari sudut pandang lain.

MISALKAN anda BISA trading saham jangka pendek dan juga BISA investasi saham jangka panjang. Sebaiknya pilih yang mana?

Victor Sperandeo di buku Trader Vic —Methods of a Wall Street Master menyarankan:

Figure 1. Sampul Depan Buku Victor Sperandeo Trader Vic - Method of a Wall Street Master

Be an investor in the early stages of bull markets. Be a speculator in the latter stages of bull markets and in bear markets.

Terjemahannya kira-kira begini:

Jadilah investor (jangka panjang) pada permulaan pasar yang Bullish. Jadilah spekulator di akhir pasar Bullish dan saat pasar Bearish.

(Kalau anda belum tahu arti Bullish dan Bearish, silahkan baca pos "Arti 'Bullish' dan 'Bearish' di Bursa Saham.")

Saran Victor Sperandeo sangat penting dicamkan karena yang sering dilakukan pemain saham adalah kebalikan dari saran tersebut: Jadi investor saham jangka panjang saat pasar Bearish (alias nyangkut) dan jadi trader cepat saat pasar Bullish (alias kebelet jual).

Menjadi nvestor saham jangka panjang saat pasar Bearish—sebenarnya—tidak salah. Masalahnya: mayoritas investor saham jangka panjang saat pasar Bearish adalah karena saham yang mereka beli harganya turun. Dengan kata lain: mereka terpaksa menjadi investor jangka panjang karena sahamnya nyangkut. Bukan karena pilihan.

Menjadi trader cepat saat pasar Bullish juga—sebenarnya—tidak salah. Tapi, mayoritas trader saham cepat saat pasar Bullish adalah karena saham yang mereka beli harganya naik dan mereka ingin cepat-cepat merealisasikan profit. Masalahnya: setelah dijual, harga saham malah meroket. 

Oke, oke, kata anda. Tapi bagaimana caranya saya tahu market sedang Bullish atau sedang Bearish?

Pertanyaan yang sangat bermutu.

Saya sangat setuju dengan saran Victor Sperandeo di atas tapi saran tersebut akan saya sederhanakan agar anda TIDAK PERLU tahu apakah market sedang Bullish atau Bearsih.

Saran Iyan Terus Belajar Saham adalah sebagai berikut:

Jadilah investor saham jangka panjang saat saham anda naik. Jadilah trader jangka pendek saat saham anda turun.

Artinya, kalau saham yang anda beli naik, biarkanlah ia naik. Tapi kalau saham yang anda beli turun, lekas-lekaslah jual.

Jangan terbalik.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2018 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, November 18, 2017

Belajar Analisa Teknikal atau Analisa Fundamental?

Di pos "Belajar Apa Dulu: Analisa Fundamental atau Analisa Teknikal?" saya menganjurkan anda untuk mempelajari "kulit" kedua analisa tersebut lalu menentukan sendiri mana yang lebih cocok dengan karakter dan kemauan anda.

Tapi misalkan anda sudah mencoba Analisa Fundamental dan Analisa Teknikal tapi tetap masih bingung mau mendalami yang mana. Sebaiknya pilih yang mana: Analisa Teknikal atau Analisa Fundamental?

Figure 1. Pilih Belajar Analisa Fundamental atau Teknikal?

Saran saya: pilih belajar mendalam Analisa Teknikal.

Mengapa?

Pertanyaan tersebut akan terjawab kalau anda tahu apa sebabnya saya sepenuhnya meninggalkan Analisa Fundamental dan beralih ke Analisa Teknikal.

Mari saya ceritakan.

---###$$$###---

Di halaman "About" tertulis bahwa saya mulai serius main saham pada tahun 1997 sebagai investor jangka menengah yang mementingkan Analisa Fundamental. Karena gagal total, saya beralih menjadi pedagang saham purna-waktu (full-time trader) sejak tahun 2003 dan lebih mementingkan Analisa Teknikal.

Perlu saya tekankan di sini bahwa—menurut saya—pada tahun 1997 kemampuan Analisa Fundamental saya sudah di atas rata-rata pemain saham pada umumnya. Artinya, saya sudah tahu cukup banyak tentang Analisa Fundamental. Tapi toh tetap saja saya rugi. Besar.

Saat itu saya menyimpulkan bahwa kerugian yang saya derita dari mencoba Analisa Fundamental (kemungkinan besar) BUKAN karena analisanya yang salah. Tapi karena faktor-faktor lain seperti kondisi ekonomi makro (tahun 1997 Indonesia dilanda krisis moneter), karakter saya, dan lain-lain.

Karena bosan merugi terus, saya mulai mencoba Analisa Teknikal.

Nah, ketika saya mulai belajar Analisa Teknikal pada tahun 2000an awal, kemampuan Analisa Teknikal saya (relatif) sangat minim. Tapi anehnya kerugian saya saat itu justru jauh lebih kecil dibandingkan ketika saya main saham memakai Analisa Fundamental yang sudah saya dalami bertahun-tahun.

Tahu banyak Analisa Fundamental, rugi besar. Tahu sedikit Analisa Teknikal, rugi kecil.

Kalau anda adalah saya pada saat itu, anda pilih mana: terus memperdalam belajar Analisa Fundamental (dan terus rugi entah sampai kapan) atau mulai mendalami Analisa Teknikal (dengan harapan rugi kecil segera berubah menjadi untung)?

Itulah alasan pertama mengapa saya beralih dari Analisa Fundamental ke Analisa Teknikal.

Nah, dari pengalaman di atas saya menyimpulkan bahwa mendalami Analisa Teknikal (relatif) lebih menguntungkan daripada Analisa Fundamental.
 
Dan itulah alasannya mengapa saya menyarankan anda (yang bingung memilih antara Analisa Fundamental dan Analisa Teknikal) untuk memilih Analisa Teknikal: Analisa Teknikal lebih cepat memberi hasil (untung) dibandingkan Analisa Fundamental.

Kalau anda masih ragu, saya tambahkan beberapa lagi keunggulan Analisa Teknikal:
  1. Analisa Teknikal lebih mudah dipelajari dibandingkan Analisa Fundamental.
  2. Analisa Teknikal bisa untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, investasi jangka panjang sedangkan Analisa Fundamental hanya untuk investasi jangka panjang.
  3. Menggunakan Analisa Teknikal anda bisa memutuskan dalam hitungan menit untuk buy, sell, or hold suatu saham. Menggunakan Analisa Fundamental anda harus menghabiskan waktu berpuluh-puluh jam menelusuri laporan keuangan, rekomendasi broker, company report, dan lain-lain.

Masih banyak alasan lain mengapa Analisa Teknikal—menurut saya— lebih unggul daripada Analisa Fundamental. Silahkan lanjut baca ke pos "Keunggulan Analisa Teknikal vs. Analisa Fundamental." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]





Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, October 28, 2017

Tanggapan Pilih Mana: Investasi Saham Jangka Panjang atau Trading Saham Jangka Pendek?

Di bulan Maret 2016 di pos "Pilih Mana: Investasi Saham Jangka Panjang atau Trading Saham Jangka Pendek" saya bertanya kepada pembaca blog ini:

Pilih Mana:

1. Investasi saham jangka panjang (tahunan)
2. Investasi saham jangka bulanan
3. Trading saham jangka mingguan
4. Trading saham jangka harian
5. Tidak masalah investasi jangka tahunan, bulanan, ataupun trading jangka mingguan, harian. Yang penting untung.

Figure 1. Investasi Saham Jangka Panjang atau Trading Saham Jangka Pendek?

Terima kasih untuk anda yang sudah memilih dan meninggalkan komentar.

Yang mana adalah pilihan terbaik?

Yuk kita bahas.

---###$$$###---

Menurut saya, kalau pengalaman main saham anda lebih dari 5 tahun, pilihan yang terbaik adalah Nomor 5: Yang penting untung.

Tapi kalau pengalaman main saham anda kurang dari 5 tahun, pilihan yang terbaik adalah Nomor 5: Tidak masalah investasi jangka tahunan, bulanan ataupun trading jangka mingguan, harian.

Lho? Bukankah sama-sama Nomor 5?

Betul. Tak peduli berapa tahun pengalaman anda main saham, pilihan yang terbaik—menurut saya—adalah Nomor 5. Hanya saja, penekanannya yang berbeda.

Untuk anda yang sudah main saham lebih dari 5 tahun, saya asumsikan anda sudah—sedikit banyak—tahu bingkai waktu main saham yang cocok dengan karakter anda. Mungkin anda fokus dengan swing trading mingguan. Tapi anda juga tidak menutup kemungkinan untuk bereksperimen dengan bingkai waktu yang lain. Yang Penting Untung.

Masalahnya sedikit berbeda untuk anda yang pengalaman main sahamnya kurang dari 5 tahun.

Di pos "Target Laba Main Saham" sudah saya tulis bahwa target pemula main saham bukanlah untuk mencari untung tapi untuk tidak rugi terlalu banyak.

Jadi, kalau pengalaman main saham anda kurang dari 5 tahun, sebaiknya fokus anda bukan pada bagian "Yang penting untung" tapi pada "Tidak masalah investasi jangka tahunan, bulanan, ataupun trading jangka mingguan, harian."

Mengapa?

Ketika anda mulai main saham, hampir pasti anda main saham berdasarkan pandangan orang lain. Maksud saya, kemungkinan besar anda terjun main saham karena MEMBACA, MENDENGAR, MENONTON berita tentang pemain saham atau investor sukses di Indonesia ataupun di dunia: Anda ingin kaya seperti mereka dengan bermain saham.

Caranya?

Ikuti cara mereka.

Kalau anda baca/dengar/nonton bahwa si Anu bisa untung 5-10% per bulan dari trading saham jangka harian, anda tertarik untuk trading saham jangka harian.

Kalau anda baca/dengar/nonton bahwa si Itu bisa untung 8-15% per bulan dari trading saham mingguan, anda tertarik untuk trading saham jangka mingguan.

Kalau anda baca/dengar/nonton bahwa Warren Bufftet menjadi investor saham terkaya di dunia dari investasi saham jangka panjang, anda tertarik untuk investasi saham jangka panjang (tahunan).

Masalahnya...

Anda bukan si Anu. Anda bukan si Itu. Dan yang pasti, anda juga bukan Warren Buffet.

Anda adalah anda.

Bingkai waktu yang cocok dan menguntungkan untuk si Anu, Itu, Warren Buffet, BELUM TENTU cocok dan menguntungkan untuk anda.

Jangan salah mengerti. Saya tidak bilang anda jangan mencontoh bingkai waktu si Anu, Itu, atau Warren Buffet. Boleh kok.

Hanya saja, JANGAN LANGSUNG BERKESIMPULAN bingkai waktu mereka adalah bingkai waktu terbaik untuk anda.

Artinya, misalkan anda mulai main saham dengan trading saham harian dan tidak untung. Jangan menutup kemungkinan untuk mencoba trading jangka mingguan atau investasi jangka bulanan.

Misalkan juga anda mulai main saham dengan investasi jangka tahunan. Tapi anda stress melihat portofolio yang naik turun. Nah, jangan menutup kemungkinan untuk beralih ke bingkai waktu yang lebih pendek.

Pesan moral: Silahkan mulai belajar main saham dengan bingkai waktu pilihan (awal) anda. Kalau menguntungkan, lanjutkan. Kalau tidak menguntungkan, silahkan bereksperimen dengan bingkai waktu yang lain.

Dengan kata lain: JANGAN terlalu yakin bahwa pilihan (awal) anda adalah yang terbaik. Buka diri anda bahwa opsi lain BISA JADI lebih baik/cocok untuk anda. 






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Wednesday, August 9, 2017

Pilih Mana: Untung Sekaligus 240juta atau 12 x 20juta? Tanggapan (Bagian I)

Sebelum membaca pos ini, silahkan baca dulu pos "Pilih Mana: Untung Sekaligus 240juta atau 12 x 20juta?" dan baca juga semua komentar/pilihan pembaca.

Di pos "Pilih Mana: Untung Sekaligus 240juta atau 12 x 20juta?" tersebut saya mengajak anda untuk berpikir: kalau bisa memilih untung sekaligus 240juta di akhir tahun, untung sekaligus 240juta di awal tahun, atau untung 20juta setiap bulan selama 12 bulan, anda pilih yang mana?

Komentar/pilihan yang masuk sampai dengan tanggal 07 Agustus 2017 adalah sebagai berikut:

20 suara memilih nomor 3
6   suara memilih monor 1
1   suara bilang semua sama saja
Tidak ada yang memilih nomor 2

Dari hasil di atas terlihat bahwa mayoritas mutlak (> 70%) memilih nomor 3: untung 20juta setiap bulan selama 12 bulan.

Apakah ini pilihan yang terbaik? Apakah ini pilihan yang benar?

Mari kita bahas.


---###$$$###---


Perhatikan bahwa kalau melihat HANYA nilai portofolio/modal pada akhir tahun (tanggal 31 Desember tahun tersebut), kondisi pada saat itu adalah SAMA untuk semua opsi pilihan: nilai portofolio anda sama Rp 1.240.000.000.

Jadi, apa yang berbeda dari ketiga pilihan tersebut?

Yang berbeda adalah PROSES (perjalanan/journey) anda menuju nilai portofolio Rp 1.240.000.000 tersebut. Dan—yang penting anda ketahui— proses yang berbeda ini membebani psikologis anda dalam kapasitas yang berbeda.

Lho?

Mari kita bahas satu per satu.


Pilihan Nomor 3: Untung 12 x 20 juta 

Dari ketiga pilihan yang saya berikan, pilihan nomor 3 adalah pilihan dengan beban psikologis paling ringan.

Artinya, secara psikologis jauh lebih nyaman untung setiap bulan Rp 20 juta daripada untung sekaligus Rp 240 juta di awal tahun ataupun akhir tahun.

Jadi, tidak heran kalau nomor 3 adalah pilihan mayoritas pemilih.

Nah, tidak ada yang salah dengan pilihan ini, tapi masalahnya...

Main saham berbeda dengan bekerja pada pemberi kerja di mana anda konsisten mendapat gaji setiap bulan: dalam bermain saham, keuntungan yang anda dapatkan (cukup banyak) tergantung pada kondisi pasar.

Masalahnya, pasar tidak selalu kondusif memberikan kesempatan mendapat untung. Memang, ada kalanya pasar memberikan kesempatan mudah untung. Tapi sering juga pasar memberikan kesempatan untuk gampang rugi.

Dengan kata lain, anda ingin untung konsisten setiap bulan, tapi kondisi pasar tidak selalu memungkinkan.

Kok bisa begitu?

Potensi mendapat untung di saham tergantung pada pergerakan harga saham. Dan harga saham biasanya naik/turun BANYAK dalam kurun waktu (relatif) SINGKAT lalu bergerak sideways (tidak-naik-tidak-turun) untuk kurun waktu yang (relatif) lama.

Artinya, lebih besar kemungkinan anda untung Rp 240juta dalam 3 bulan lalu 9 bulan berikutnya anda tidak untung (atau bahkan rugi) daripada kemungkinan anda konsisten untung Rp 20juta setiap bulan selama 12 bulan.

Ini tidak berarti bahwa pilihan anda salah. Hanya saja anda perlu tahu dan sadar bahwa secara fakta lapangan, sulit untuk memenuhi harapan untung KONSISTEN setiap bulan berturut-turut selama 12 bulan dalam nilai yang—kurang lebih—sama.

Lanjut ke pilihan berikutnya.


Pilihan Nomor 1: Untung Sekaligus Rp 240 juta di Desember

Saya agak terkejut bahwa sekitar 20% pemilih memilih nomor 1.

Mengapa?

Karena secara psikologis, pilihan ini adalah pilihan dengan beban psikologis paling berat.

[Tebakan saya, pemilih Nomor 1 bukan/belum full-time trader di mana penghasilannya hanya dari bermain saham.]

Bayangkan kalau anda adalah seorang full-time trader dan hanya mendapatkan penghasilan dari bermain saham:

January anda tidak untung.

February, Maret, April anda untung lumayan tapi lalu rugi sampai semua keuntungan habis.

Mei, Juni, Juli anda rugi lumayan tapi lalu berhasil menutup kerugian tersebut.

Agustus, September anda lagi-lagi untung lumayan tapi akhirnya rugi lagi sampai cuma impas.

Oktober, November anda rugi sedikit lalu untung sedikit, tapi akhirnya cuma impas.

Desember anda untung Rp 240 juta.

Selama 11 bulan anda tidak pernah untung. Padalah setiap hari anda perlu uang untuk makan dan kebutuhan hidup mendasar lainnya.

Belum lagi kalau anak sakit, mobil/motor rusak, atap rumah bocor. Semua perlu duit padahal anda tidak ada penghasilan sama sekali.

Betapa berat beban psikologis tersebut.

Tapi saya tekankan kembali: tidak ada yang salah kalau anda memilih nomor 1.

Yang saya khawatirkan adalah apakah pemilih nomor 1 SANGGUP menanggung beban psikologis sedemikian berat selama berbulan-bulan dan tetap bertahan. Saya rasa MAYORITAS pemilih nomor 1 sudah keburu mengangkat bendera putih di bulan September dan beralih profesi.

Pesan tambahan kepada pemain saham pemula:

Kalau anda seorang pemula, jauh lebih besar kemungkinan anda RUGI KONSISTEN setiap bulan selama berbulan-bulan daripada kemungkinan anda tidak-untung-tidak-rugi.

Nah, beban psikologis TIDAK-UNTUNG-TIDAK-RUGI dari Januari sampai dengan November sudah beban yang berat. Coba bayangkan betapa lebih berat lagi beban psikologis kalau anda RUGI Rp 20 juta SETIAP BULAN dari Januari sampai dengan November.

Tidak heran toh kalau mayoritas pemula main saham hanya bertahan beberapa bulan saja.


---###$$$###---


Lalu bagaimana dengan pilihan nomor 2 yang TIDAK DIPILIH satu orang pun: Untung sekaligus Rp 240 juta di Januari lalu tidak ada untung lagi sampai dengan Desember?

Anda tidak tertarik?

Bagaimana kalau saya katakan bahwa nomor 2 ini adalah pilihan saya?

Apakah sekarang anda tertarik untuk tahu alasannya?

Mau tahu? Silahkan lanjut baca ke pos "Untung Sekaligus 240 juta atau 12 x 20 juta? Tanggapan (Bagian II)." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Friday, July 28, 2017

Pilih Mana: Untung Sekaligus 240juta atau 12 x 20juta?

Misalkan anda main saham dengan modal Rp 1 milyar.

Pilih mana:

1. Bulan Januari sampai dengan November anda ada untung ada rugi, tapi totalnya impas tidak untung tidak rugi. Di bulan Desember anda untung Rp 240 juta. Nilai portofolio di akhir tahun itu Rp 1.240.000.000.

2. Bulan Januari anda untung Rp 240 juta. Bulan Februari sampai dengan Desember anda ada untung ada rugi, tapi totalnya impas tidak untung tidak rugi. Nilai portofolio di akhir tahun itu Rp 1.240.000.000.

3. Bulan Januari sampai dengan Desember setiap bulan anda untung Rp 20 juta. Nilai portofolio di akhir tahun itu Rp 1.240.000.000.


Silahkan memilih dengan menulis komentar.

Saya akan menulis pos tanggapan setelah ada minimum 25 pemberi komentar.

Setelah anda membaca komentar/pilihan pembaca di bawah, silahkan lanjut baca ke pos "Pilih Mana: Untung Sekaligus 240juta atau 12 x 20 juta? Tanggapan (Bagian I)."






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, May 21, 2016

Belajar Main Saham Dari Siapa? Bagian 1

Di bulan Januari 2016 saya menyurvey pembaca blog ini dengan pertanyaan ini:

Pilih mana:

1. Belajar saham dari analis saham
2. Belajar saham dari manajer investasi
3. Belajar saham dari pembicara seminar saham
4. Belajar saham dari perencana keuangan
5. Belajar saham dari broker saham
6. Belajar saham dari pemain saham

Total 199 suara masuk (terima kasih untuk anda-anda yang meluangkan waktu memilih) dengan hasil sebagai berikut:

20% (40 suara) memilih belajar saham dari analis saham
6% (11 suara) memilih belajar saham dari manajer investasi
1.5% (3 suara) memilih belajar saham dari pembicara seminar saham
1.5% (3 suara) memilih belajar saham dari perencana keuangan
3% (6 suara) memilih belajar saham dari broker saham
68% (136 suara) memilih belajar saham dari pemain saham

Dari jawaban yang masuk, mayoritas (68%) memilih belajar saham dari pemain saham.

Saya setuju.

Ibaratnya kalau anda ingin belajar memancing/menangkap ikan, anda sebaiknya belajar dari nelayan (penangkap ikan profesional).

Jadi, kalau anda ingin belajar main saham, anda sebaiknya belajar dari pemain saham profesional yang profesinya (dan penghasilan utamanya) adalah dari bermain saham.

Tapi, ada 2 masalah yang harus anda lalui kalau anda memilih belajar saham dari pemain saham.

Masalah apa, bung Iyan? tanya anda.

Pertama, banyak penjual buku/software dan penjual seminar yang menggembar-gemborkan dirinya sebagai pemain saham sukses dengan tujuan agar anda rela membayar mahal untuk ikut seminar yang mereka selenggarakan.

Dengan kata lain, anda harus pandai-pandai membedakan pemain saham profesional sungguhan dengan pembicara seminar berkedok pemain saham  yang menjanjikan akan mengajarkan cara cepat kaya dari main saham padahal mereka adalah serigala berbulu domba yang ingin memangsa anda dan uang anda.

Kedua, kalaupun anda bisa menemukan pemain saham profesional sungguhan, belum tentu ia punya waktu luang mengajarkan anda cara bermain saham yang benar. Kalaupun ia punya waktu luang, belum tentu ia berminat mengajarkan anda cara bermain saham yang benar.

Coba anda pikirkan: apa untungnya (si pemain saham profesional) membagikan rahasia dapur cara bermain saham kepada anda?

Artinya, kalau anda menemukan pemain saham profesional sungguhan, jangan malu membujuk, merayu, memohonbahkan kalau perlu, sungkemagar ia bersedia mengajari anda cara bermain saham yang benar.

Malu bertanya, sesat di jalan.

Malu membujuk, merayu, memohon, ya gak bakal diajarin. 

Sudah malu-maluin membujuk, merayu, memohon, bahkan sungkem aja pun belum tentu anda akan diajarin.

[Catatan: mohon jangan membujuk, merayu, memohon saya untuk mengajari anda privat cara bermain saham. Silahkan belajar dengan membaca "Kurikulum" blog ini. Dan kalau bersikeras ingin layanan privat, silahkan baca halaman "Konsultasi."] 

Tapi bung Iyan, gimana kalau saya tidak menemukan pemain saham yang mau ngajarin saya?

Kalau anda RELA membayar mahal (bayaran ini tidak harus dalam bentuk uang), saya yakin pasti ada pemain saham yang bersedia mengajar anda. Tapi kalau anda tidak mau membayar apalagi membayar mahal, alternatifnya adalah anda belajar (secara tidak langsung) dari tulisan (blog, buku) pemain saham profesional. (Pastikan bahwa blog/buku yang anda baca bukanlah kedok untuk menjual seminar.)

Tapi saya mau belajar langsung dari seseorang secara langsung, kata anda. 

Nah, ini dia. Tidak mau bayar tapi mintanya banyak.  

Nah, kalau anda ingin belajar langsung tapi tidak menemukan pemain saham yang mau mengajari anda, alternatif terbaik adalah belajar dari . . .

Analis saham?

Bukan, bukan belajar dari analis saham (yang dipilih 20% penjawab, suara kedua terbanyak) tapi dari . . .

Ingin tahu jawabannya? Silahkan lanjut baca ke pos "Belajar Main Saham Dari Siapa? Bagian 2." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2016 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, April 23, 2016

Harga Saham Masih Naik. Beli, Jual, atau Bengong?

Sebelum membaca pos ini, ada baiknya anda baca dulu pos "Saham Naik. Beli, Jual, atau Bengong?"

Misalkan saham AAPL selama 6 bulan terakhir bergerak di kisaran Rp 1.000 dengan harga paling tinggi Rp 1.050 dan harga paling rendah Rp 950.

Misalkan juga kemarin saham AAPL naik ke harga Rp 1.100 dengan volume transaksi 10x rata-rata. Dan hari ini saham AAPL masih lanjut naik dan beberapa saat sebelum market Close, harga AAPL bertahan di Rp 1.250.


Skenario I: Anda tidak punya saham AAPL

Pilih mana:

1. Beli langsung AAPL di  1.250.
2. Antri beli (bid) AAPL di harga < 1.250. (Kalau tidak dapat hari ini, anda berencana akan antri beli lagi besok.)
3. Tidak antri beli karena anda khawatir AAPL sudah kemahalan dan harganya akan turun.
4. Tidak melakukan apa-apa (alias bengong) karena tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan.


Skenario II: Anda sudah punya saham AAPL.

A. Anda beli saham AAPL 9 bulan lalu di harga 1.100.

Pilih mana:

1. Jual semua saham AAPL (yang anda punya).
2. Jual sebagian saham AAPL.
3. Tidak jual sama sekali karena masih yakin AAPL masih akan naik.
4. Beli lagi AAPL langsung di 1.250.
5. Antri beli (bid) AAPL di harga < 1.250.
6. Tidak melakukan apa-apa (alias bengong) karena tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan.


B: Anda beli saham AAPL kemarin di harga 1.100.

Pilih mana:

1. Jual semua saham AAPL (yang anda punya).
2. Jual sebagian saham AAPL.
3. Tidak jual sama sekali karena masih yakin AAPL masih akan naik.
4. Beli lagi AAPL langsung di 1.250.
5. Antri beli (bid) AAPL di harga < 1.250.
6. Tidak melakukan apa-apa (alias bengong) karena tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan.


Silahkan pilih dengan menulis komentar.

Pos tanggapan akan saya tulis kalau sudah ada sekurang-kurangnya 25 orang memberikan pilihan.

Jawaban yang disertai penjelasan detil dan alasan mengapa anda memilih yang anda pilih akan saya komentari satu-per-satu SETELAH saya menulis pos tanggapan.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2016 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Tuesday, March 29, 2016

Pilih Mana: Investasi Saham Jangka Panjang atau Trading Saham Jangka Pendek?

Pilih mana:

1. Investasi saham jangka panjang (tahunan).
2. Investasi saham jangka bulanan.
3. Trading saham jangka mingguan.
4. Trading saham jangka harian.
5. Tidak masalah investasi jangka tahunan, bulanan, ataupun trading jangka mingguan, harian. Yang penting untung.

Silahkan memilih dengan menulis komentar.

Pos tanggapan akan saya tulis kalau sudah ada minimal 25 orang memberikan pilihan.

Silahkan baca pos tanggapan "Tanggapan Pilih Mana: Investasi Saham Jangka Panjang atau Trading Jangka Pendek?"






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2016 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Monday, February 29, 2016

Harga Saham Turun. Beli, Jual, atau Bengong?

Misalkan saham BABA selama 6 bulan terakhir bergerak di kisaran Rp 1.000 dengan harga paling tinggi Rp 1.050 dan harga paling rendah Rp 950.

Misalkan juga hari ini saham BABA turun ke harga Rp 900 dengan volume transaksi 10x rata-rata.


Skenario I: Anda tidak punya sahamBABA

Pilih mana:

1. Beli langsung BABA di  900.
2. Antri beli (bid) BABA di < 900.
3. Tidak antri beli (bid) karena menurut anda BABA masih akan turun. 
4. Tidak melakukan apa-apa (alias bengong) karena tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan.


Skenario II: Anda punya saham BABA

Pilih mana:

1. Jual semua saham BABA (yang anda punya).
2. Jual sebagian saham BABA.
3. Tidak jual sama sekali karena yakin BABA akan kembali naik.
4. Beli lagi BABA langsung di 900.
5. Antri beli (bid) BABA di < 900.
6. Tidak antri beli (bid) karena menurut anda BABA masih akan turun.
7. Tidak melakukan apa-apa (alias bengong) karena tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan.


Silahkan pilih dengan menulis komentar.

Pos tanggapan akan saya tulis kalau sudah ada sekurang-kurangnya 25 orang memberikan pilihan.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2016 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Monday, February 22, 2016

Harga Saham Naik. Beli, Jual, atau Bengong?

Misalkan saham AAPL selama 6 bulan terakhir bergerak di kisaran Rp 1.000 dengan harga paling tinggi Rp 1.050 dan harga paling rendah Rp 950.

Misalkan juga hari ini saham AAPL naik ke harga Rp 1.100 dengan volume transaksi 10x rata-rata.


Skenario I: Anda belum punya saham AAPL

Pilih mana:

1. Beli langsung AAPL di  1.100.
2. Antri beli (bid) AAPL di 1.050.
3. Antri beli (bid) AAPL di harga < 1.050.
4. Tidak melakukan apa-apa (alias bengong) karena tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan.


Skenario II: Anda sudah punya saham AAPL

Pilih mana:

1. Jual semua saham AAPL (yang anda punya).
2. Jual sebagian saham AAPL.
3. Tidak jual sama sekali karena sangat yakin AAPL masih akan naik.
4. Beli lagi AAPL langsung di 1.100.
5. Antri beli (bid) AAPL di 1.050.
6. Antri beli (bid) AAPL di harga < 1.050.
7. Tidak melakukan apa-apa (alias bengong) karena tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan.


Silahkan pilih dengan menulis komentar. 

Pos tanggapan akan saya tulis kalau sudah ada sekurang-kurangnya 20 orang memberikan pilihan. (Sudah terbit. Silahkan lihat di "Pos-pos Yang Berhubungan" di bawah.)






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2016 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]