Sunday, February 16, 2014

Support & Resistance Saham: Arti, Definisi, Makna, Karakteristik (Bagian 3)

Pos ini adalah lanjutan dari pos "Support & Resistance: Arti, Definisi, Makna, Karakteristik (Bagian 2)."

Untuk membaca seri ini dari awal, silahkan klik di sini "Support & Resistance: Arti, Definisi, Makna, Karakteristik (Bagian 1)."

 
Dari pos sebelumnya anda sudah sudah tahu makna Support & Resistance bagi pemain saham. Sekarang tiba saatnya kita membahas karakteristik Support & Resistance.


Karakteristik Support & Resistance

Ada 3 karakteristik Support & Resistance yang penting anda ketahui:


1. Support & Resistance tergantung pada indikator* yang anda pakai.

Apa arti dari pernyataan ini?

Artinya, titik Support & Resistance menurut indikator yang satu akan berbeda dengan titik Support & Resistance menurut indikator yg lain.

Dengan kata lain, titik Support & Resistance menurut garis Trend akan berbeda dengan titik Support & Resistance menurut Moving Average, berbeda dengan titik Support & Resistance menurut Parabolic SAR, berbeda dengan titik Support & Resistance menurut titik Fibonacci Ratio, berbeda juga dengan titik Support & Resistance menurut Pivot Point. Dan seterusnya.

Karena beraneka-ragamnya indikator Analisa Teknikal, dan karena masing-masing pemain saham kemungkinan besar memakai indikator yang berbeda, ini berarti pula bahwa—untuk saham PGAS, misalnyatitik Support & Resistance menurut anda kemungkinan besar berbeda dengan titik Support & Resistance menurut saya, berbeda pula dengan titik Support & Resistance menurut analis dari perusahaan broker anda.

[* Catatan: yang saya maksud "indikator" di sini mencakup tidak hanya indikator Analisa Teknikal pada umumnya tapi juga termasuk price-action (gerak harga), tampilan grafik, skala grafik, dan lain-lain.] 



2. Support & Resistance tergantung bingkai waktu grafik yang anda pilih.

Grafik/chart yang paling umum dipakai pemain saham (Indonesia) adalah grafik harian (daily chart). Perlu anda ketahui bahwa selain grafik harian, ada juga grafik dalam bingkai waktu lebih panjang (grafik mingguan/Weekly chart, grafik bulanan/Monthly chart), dan grafik dalam bingkai waktu lebih pendek (misalnya grafik 60-menit/60-minute chart).

Nah, titik Support & Resistance di bingkai waktu (time frame) yang satu akan berbeda dengan titik Support & Resistance di bingkai waktu yang lain.

Artinya, titik Support & Resistance di Daily Chart akan berbeda dengan titik Support & Resistance di Weekly Chart, akan berbeda pula dengan titik Support & Resistance di Monthly Chart, akan berbeda pula dengan titik Support & Resistance di 60-minutes chart.

(Tentang apa manfaat melihat grafik dengan bingkai waktu berbeda akan saya bahas di pos tersendiri di masa depan.)

Apa pengaruh bingkai waktu pada Support & Resistance?

Pada umumnya, semakin pendek bingkai waktu yang anda pilih, makin sempit rentang antara Support & Resistance. Contoh: kalau misalkan Support & Resistance jangka pendek KIJA adalah 220 & 235 (rentang Rp 15), Support & Resistance jangka lebih panjangnya bisa jadi adalah 200 dan 260 (rentang Rp 60).



3. Resistance yang  tertembus secara meyakinkan akan beralih peran menjadi Support; Support yang tertembus secara meyakinkan akan beralih peran menjadi Resistance.

John J. Murphy di buku Technical Analysis of the Financial Market menyatakan bahwa peralihan peran ini adalah aspek yang sangat menarik tapi tidak banyak diketahui orang.

(Mungkin pada waktu John J. Murphy pertama kali menulis tentang hal ini, karakteristik ini belum diketahui banyak orang. Tapi untuk sekarang ini, karakteristik ini wajib dipahami semua analis teknikal.)

Bagaimana Resistance beralih peran menjadi Support? Bagaimana Support beralih peran menjadi Resistance? Sebelum saya menjelaskan hal ini lebih detil, silahkan anda perhatikan dulu Figure 3 dan Figure 4 di bawah ini.


Figure 3. Resistance Berubah Menjadi Support [Source: Technical Analysis of The Financial Market, p.62]

Figure 4. Support Berubah Menjadi Resistance [Source: Technical Analysis of The Financial Market, p.62]

Mengapa Resistance bisa beralih peran menjadi Support?

Akan lebih mudah dimengerti kalau saya jelaskan dengan ilustrasi.

Misalkan sudah beberapa kali anda perhatikan bahwa kalau saham WSKT (Waskita Karya) yang anda miliki naik ke harga 600, setelah itu ia berbalik turun. Hal ini anda artikan bahwa Resistance WSKT ada di harga 600.

Nah, ketika WSKT naik lagi ke harga 600, anda memasang Offer jual di 600. Setelah laku, dasar lagi apes, kali ini WSKT tidak berbalik turun tapi malah terus naik.

605, 610, 615, 620, 625, 630.

"Saham sialan," umpat anda ke monitor komputer. "Begitu gue jual, dia langsung naik. Nanti kalau turun ke 600, gue beli lagi deh."

Keesokan hari WSKT benar turun: 625, 620, 615, 610, 605.

Anda lekas-lekas memasang order beli (Bid) di 600. Tapi masalahnya, bukan cuma anda yang berpikiran seperti itu. Pemain saham lain yang belum sempat membeli WSKT juga berniat membeli di 600 dan memasukkan order Bid 600. Alhasil, volume Bid di 600 menjadi sangat tebal.

Anda menunggu sambil berdoa agar order beli anda lekas "match" (terlaksana). Celakanya, sebagian pemain saham lain tidak sabar menunggu. Mereka bersedia membeli lebih mahal sedikit dan mulai membeli di harga 605. Karena aksi beli ini, pemain saham lainnya ikut-ikutan memborong saham ke atas. WSKT bergerak naik lagi: 605, 610, 615, 620, 625, 630.

Dari ilustrasi ini anda bisa melihat bahwa Resistance WSKT di 600 sekarang beralih peran menjadi Support.


Bagaimana dengan kebalikannya: mengapa Support bisa beralih peran menjadi Resistance?

Misalkan juga sudah beberapa kali anda perhatikan bahwa kalau saham BSDE turun sampai ke Rp 1000, setelah itu ia berbalik naik. Hal ini anda artikan bahwa Support BSDE ada di harga 1000.

Nah, ketika BSDE turun lagi ke 1000, anda memasang order beli di 1000. Banyak juga pemain saham lain yang memasang order Bid di 1000 karena—kalau tebakan anda dan mereka benar—BSDE seharusnya berbalik naik setelah menyentuh harga 1000.

Beberapa menit kemudian order beli anda "match" (terlaksana). Tapi lagi-lagi masih apes, kali ini BSDE tidak berbalik naik tapi melanjutkan turunnya.

990, 980, 970, 960, 950.

Anda kecewa berat karena kondisi anda sekarang rugi.

Tapi, keesokan harinya, BSDE merangkak naik. 960, 970, 980, 990.

"Nah, kalau BSDE naik ke 1000," pikir anda,"akan gue jual saham tolol itu. Rugi fee biarin dah, daripada rugi lebih banyak lagi."

Berdasarkan niat tersebut, Anda memasang jual (Offer) di 1000. Masalahnya, bukan cuma anda yang berpikir seperti itu; pemain saham lain yang membeli BSDE di 1000 juga berpikiran sama: mereka juga memasang Offer jual di 1000. Alhasil volume Offer di 1000 sangat tebal.

Anda menunggu sambil berdoa agar BSDE anda lekas laku. Celakanya, sebagian pemain saham lain tidak sabar menunggu. Mereka bersedia rugi sedikit dan mulai menjual di harga 990. Karena aksi jual ini, pemain saham lainnya ikut-ikutan menjual ke bawah. BSDE bergerak turun lagi: 990, 980, 970...930.

Dari ilustrasi di atas, anda bisa lihat bahwa Support BSDE di 1000, sekarang beralih peran menjadi Resistance.

Nah, sekarang anda sudah tahu bahwa Resistance yang  tertembus secara meyakinkan akan beralih peran menjadi Support dan Support yang tertembus secara meyakinkan akan beralih peran menjadi Resistance. Tapi hal yang lebih penting anda pahami adalah implikasi/pengaruh karakteristik ini bagi anda sebagai pemain saham.

Apa pengaruh karakteristik ini bagi pemain saham? Silahkan lanjut baca ke pos "Support & Resistance Saham: Arti, Definisi, Makna, Karakterstik (Bagian 4)." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

    Tuesday, February 11, 2014

    Konsultasi Trading Plan Saham: Setelah Beli

    Setelah anda membeli saham, tahukah anda apa langkah selanjutnya yang harus anda lakukan?

    Hampir semua pemula berpikir bahwa langkah selanjutnya adalah MENUNGGU saham naik.

    Bagaimana kalau tidak naik? Kalau tidak naik, ya tidak perlu dijual. Kalau turun? Ya tunggu sampai naik. Kalau masih terus turun? Ya terus tunggu sampai naik.

    Oke, kalau saham naik, bagaimana? Tunggu naik lebih banyak. Kalau sudah naik lebih banyak? Tunggu naik LEBIH banyak lagi. Kalau setelah itu turun? Ya tunggu sampai naik lagi. Kalau masih turun? Tetap tunggu naik. Kalau masih terus turun? Ya terus tunggu sampai naik.

    Lah?

    Tidak heran toh kalau mayoritas pemain saham rugi. Bahkan tidak sedikit juga yang modalnya habis.

    Nah kalau begitu, apa langkah berikut setelah membeli saham?

    Langkah berikut setelah membeli saham tergantung apa yang terjadi pada saham yang anda beli. Dan yang mungkin terjadi ada tiga:

    1. Setelah anda beli, saham naik.
    2. Setelah anda beli, saham turun.
    3. Setelah anda beli, saham (relatif) tidak naik tidak turun.

    Dengan adanya 3 kemungkinan, berarti anda harus menyiapkan langkah selanjutnya untuk 3 kemungkinan ini. Langkah-langkah inilah yang saya namakan Trading Plan (Rencana Trading) Setelah Beli. Bagaimana cara menyiapkan Trading Plan Setelah Beli ini sudah saya jelaskan di pos "Cara Main Saham Untuk Pemula: Setelah Beli".

    Masalahnya, sebagai pemula sangat mungkin anda mengalami kesulitan dalam membuat Trading Plan ini. Mungkin juga anda sudah bisa membuat Trading Plan lengkap, tapi anda tidak yakin dengan keabsahan Trading Plan tersebut.

    Nah, untuk membantu anda mengatasi masalah ini, saya membuka konsultasi premium menyiapkan Trading Plan untuk saham yang sudah anda beli. Konsultasi Trading Plan Setelah Beli ini dilakukan via email, berlaku untuk semua saham di Bursa Efek Indonesia.

    Bagaimana cara kerjanya?

    Anda mengirimkan email ke saya dengan menyebutkan nama saham yang sudah anda beli. Setelah bursa saham tutup pada hari itu, saya akan mengirimkan email Trading Plan untuk saham tersebut. Trading plan tersebut mencakup titik cut-loss, harga jual, trailing-stop dan target harga, dan batas waktu.

    Anda bisa memakai Trading Plan itu apa adanya, atau anda bisa juga menyesuaikan Trading Plan itu sesuai kondisi anda. Intinya, anda sudah tahu apa yang harus dilakukan. Tap harus diingat bahwa anda yang bertanggung-jawab atas pelaksanaan Trading Plan tersebut.


    Biaya konsultasi:

    Rp 1.250.000 2.500.000 anda mendapat 10 kupon dengan masa berlaku 1 bulan; 1 kupon berlaku untuk 1 Trading Plan. Artinya, dalam 1 bulan anda berhak mendapatkan 10 Trading Plan. 

    Layanan konsultasi ini sudah dimulai pada tanggal 01 April 2014 dan untuk saat ini tempat sudah penuh. Kalau anda ingin bergabung, silahkan email untuk dicatat dalam waiting-list.



    Konsultasi Trading Plan ini:

    1. Ditujukan untuk individu yang mau BELAJAR cara menyiapkan Trading Plan.

    2. Bertujuan melatih anda untuk terbiasa SELALU menyiapkan Trading Plan.

    3. Memberikan contoh Trading Plan dengan harapan di masa depan anda bisa menyiapkan sendiri Trading Plan.

    4. Tidak cocok untuk individu yang baru mau mulai main saham. Silahkan coba main saham dulu beberapa bulan lalu pertimbangkan apakah anda perlu ikut konsultasi ini.

    5. Sama sekali TIDAK MENJAMIN anda akan untung (walaupun anda melaksanakan Trading Plan yang disiapkan). Karena tujuannya adalah belajar, malahan hampir pasti anda akan rugi.

    6. Bukan untuk individu yang bertujuan untuk cepat kaya dari bermain saham.



    Syarat & Ketentuan Untuk Ikut Konsultasi Trading Plan:

    1. Anda sudah (pernah) membeli saham.

    2. Anda sudah membaca pos "Cara Main Saham Untuk Pemula: Setelah Beli", "Cara Cut-Loss Untuk Stop Kerugian Saham", "Cara Menjual Saham Agar Profit Maksimal." 

    3. Anda memperkenalkan diri via email ke terusbelajarsaham@gmail.com, dengan (sedikit-dikitnya) informasi nama, usia, profesi, kota domisili, sudah berapa lama main saham, perusahaan broker yang anda pakai, bingkai waktu main saham (jangka panjang atau jangka pendek), apakah untung atau rugi selama ini, modal yang sudah dicemplungkan, dan informasi lain yang menurut anda penting untuk saya ketahui.

    4. Karena konsultasi ini adalah layanan eksklusif one-on-one, saya hanya bisa menerima peserta dengan jumlah terbatas. Begitu tempat yang tersedia sudah penuh, pendaftar baru bisa ikut HANYA KALAU ada peserta lama yang mengundurkan diri.

    5. Saya berhak menolak layanan pada siapapun tanpa memberikan alasan apapun.



    Himbauan:

    Karena layanan ini tujuannya adalah belajar, saya menyarankan semua peserta untuk memakai hanya SEBAGIAN KECIL dari total modal  dan sebaiknya tidak lebih dari Rp 10.000.000. 



    Disclaimer, Peringatan, dan Bantahan:

    1. Konsultasi Trading Plan ini adalah layanan memberikan informasi dengan tujuan membantu anda belajar membuat sendiri Trading Plan saham.


    2. Jasa konsultasi Trading Plan ini TIDAK MENJAMIN keuntungan. Bahkan, karena sifatnya adalah BELAJAR, hampir pasti anda akan rugi.

    3. Semua transaksi saham beresiko rugi.

    4. Semua keputusan anda dalam melakukan jual-beli saham, dengan atau tanpa Trading Plan yang saya siapkan, adalah tanggung-jawab anda sendiri. Artinya, semua keuntungan yang didapat adalah hak anda; sebaliknya, semua kerugian yang anda derita adalah juga tanggung-jawab anda.

    4. Saya dan blog Terus Belajar Saham TIDAK BERTANGGUNG JAWAB atas segala kerugian anda dalam bentuk apapun.




    Pertanyaan Yang Mungkin Anda Tanyakan:

    Tanya: Kok mahal, Pak?

    Jawab: Layanan ini adalah layanan eksklusif one-on-one. Karena sifat yang eksklusif ini, biaya yang saya kutip di atas termasuk murah karena saya perlu waktu cukup lama untuk menyiapkan Trading Plan KHUSUS untuk saham anda. Ini berbeda dengan layanan rekomendasi saham yang merekomendasi saham yang SAMA ke SELURUH pelanggan. Artinya, rekomendasi untuk anda sama persis dengan rekomendasi untuk 10 atau 100 atau bahkan 1000 pelanggan lainnya.

    Layanan sama-rata ini ibaratnya anda berobat ke Puskemas; layanan saya ibaratnya anda berobat ke klinik spesialis. Anda bisa sembuh berobat ke Puskesmas ataupun ke klinik spesialis. Tapi di klinik spesialis anda mendapatkan layanan eksklusif khusus untuk anda.

    Harapan saya, setelah mengikuti konsultasi ini 6-12 bulan anda sudah bisa membuat Trading Plan sendiri dan tidak perlu melanjutkan konsultasi ini.



    Tanya:  Mengapa cuma 10 Trading Plan per bulan?

    Jawab: Tujuan layanan ini adalah agar anda BELAJAR main saham dengan Trading Plan yang jelas. Menurut pengalaman saya, melaksanakan 10 Trading Plan dalam sebulan sudah cukup banyak untuk pemula.

    Ingat: tujuannya adalah BELAJAR, dan anda perlu waktu agar pelajaran tersebut meresap ke otak anda.



    Tanya: Kalau untuk investasi, apakah 10 Trading Plan tidak kebanyakan?

    Jawab: Untuk investasi, mungkin saja 10 Trading Plan dalam sebulan terlalu banyak.

    Tapi saya ulangi sekali lagi: layanan ini adalah untuk BELAJAR membuat Trading Plan. Setelah anda BISA membuat Trading Plan, anda bisa menerapkan Trading Plan di bingkai waktu investasi anda (jangka pendek maupun jangka panjang).

    Kalau anda belajar main gitar, berlatih 10 jam per bulan akan membuahkan hasil lebih cepat daripada berlatih 1 jam per bulan.

    Demikian juga dengan belajar Trading Plan. Kalau anda berlatih hanya 1 Trading Plan per bulan, anda perlu 60 bulan untuk melaksanakan 60 Trading Plan. Kalau anda berlatih 10 Trading Plan per bulan, anda akan menyelesaikan 60 Trading Plan dalam 6 bulan.



    Tanya: Ada contoh Trading Plannya seperti apa?

    Jawab: Anda mengirimkan email dengan data saham yang sudah anda beli, harga beli, tanggal beli, lot beli. Misalkan email anda: 10 Feb Beli PGAS 4900; 5 lot.

    Saya akan membalas: Cut-Loss 4650, Target Harga I 5100. Kalau Target Harga I tercapai: jual setengah, lalu naikkan Cut-Loss (Trail Stop) ke 4900. Target Harga II 5300. Batas Waktu: 10 hari.



    Tanya: Kalau saya belum beli saham, boleh gak tanya rekomendasi saham?

    Jawab: Layanan ini BUKAN layanan rekomendasi saham. Anda sendiri yang harus memilih saham yang anda mau beli.



    Tanya: Tapi kalau misalkan saya tertarik membeli saham A tapi belum beli. Boleh gak saya tanya rekomendasi bapak untuk saham tersebut?

    Jawab: Sekali lagi, layanan ini BUKAN layanan rekomendasi saham. Tapi anda BOLEH menanyakan Trading Plan untuk saham yang menarik perhatian anda.

    Kalau anda menanyakan saham tertentu, saya MENGANGGAP anda sudah membeli saham tersebut. Nah, dari Trading Plan yang saya balas ke anda, anda bisa putuskan sendiri apakah saham tersebut cukup menarik untuk dibeli.

    Kalau saham yang anda tanyakan sangat berpotensi rugi, saya akan menambahkan himbauan: HINDARI SAHAM INI UNTUK SAAT INI.

    (Selama konsultasi saya akan membimbing anda memilih saham-saham yang menurut sayalebih prospektif. Tapi tetap saja anda yang harus memilih sendiri saham yang anda mau beli.)



    Tanya: Kalau saya sudah mengikuti ajaran bapak di pos "Cara Main Saham Untuk Pemula: Setelah Beli", "Cara Cut-Loss Untuk Stop Kerugian Saham", "Cara Menjual Saham Agar Profit Maksimal", dan sudah bisa membuat Trading Plan, apakah masih perlu ikut layanan ini?

    Jawab: Kalau anda sudah BISA membuat Trading Plan sendiri, anda TIDAK perlu ikut layanan ini.

    Tapi saya memakai indikator tersendiri untuk menentukan titik cut-loss, target harga, trail stop, batas waktu. Jadi, kemungkinan besar Trading Plan yang saya siapkan tidak sama dengan Trading Plan yang anda siapkan.



    Tanya: Misalkan saham yang saya beli naik dan terjual di Target Harga I. Lalu saya pake Trail Stop dan Trail Stop saya tercapai dalam bingkai target waktu. Kalau saya menanyakan Trading Plan selanjutnya, apakah kupon dipotong?

    Jawab: Ya, kupon dipotong karena 1 kupon berlaku untuk 1 Trading Plan. Lagipula, kalau posisinya sudah untung, sebaiknya anda BELAJAR melanjutkan sendiri Trading Plan tersebut.


    Kalau masih ada pertanyaan lainnya tentang jasa konsultasi ini, silahkan email saya di terusbelajarsaham@gmail.com.






    Pos-pos yang berhubungan:
    [Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

      Tuesday, February 4, 2014

      Price-to-Earnings Ratio: Trailing & Forward (Bagian 2)

      Pos ini adalah lanjutan dari "Price-to-Earnings Ratio: Trailing & Forward (Bagian 1)."


      Dari pos "Price-to-Earnings Ratio: Trailing & Forward (Bagian 1)" anda sudah tahu perbedaan Trailing PER dan Forward PER.

      Tapi kisah tentang PER masih belum selesai: masih ada satu PER lagi yang disebut Consensus PER.


      Consensus PE Ratio

      Untuk menjelaskan Consensus PER, ada baiknya saya sajikan dalam sebuah ilustrasi.

      Misalkan pada tanggal 05 April 2014 harga saham Bank BNI (BBNI) adalah Rp 4000. Beberapa hari sebelumnya, BBNI mempublikasikan Laporan Keuangan Tahun 2013 yang sudah diaudit: Laba Per Saham BBNI di tahun 2013 adalah Rp 200. Ini berarti:

      Trailing PER BBNI = Harga Saham/Laba per Saham  
      = 4000/200 = 20

      Karena menghitung Trailing PER menggunakan data faktual, data Trailing PER BBNI pada tanggal 05 April 2014 di koran atau situs online apapun adalah (seharusnya) sama, yakni 20.

      Sampai di sini masih cukup jelas, kan? Mari kita mengeruhkan suasana.

      Misalkan juga, pada hari itu analis bernama Sumi dari Ramal Sekuritas mempublikasikan riset terkininya tentang BBNI. Sumi memprediksi sepanjang tahun 2014 BBNI akan berhasil meraih laba per saham sebesar Rp 400. Ini berarti:

      Forward PER BBNI (versi Sumi) = 4000/400 = 10

      Memprediksi laba saham di masa datang tidak hanya boleh dilakukan Sumi dan Ramal Sekuritas. Artinya? Analis lain boleh juga melakukan hal yang sama.

      Katakan, pada hari yang sama Minu dari Nujum Investama tidak mau kalah dengan Sumi dan mempublikasikan riset terkininya tentang BBNI. Minu  memprediksi bahwa di tahun 2014 BBNI akan meraih laba per saham Rp 800. Ini berarti, menurut Minu dari Nujum Investama:

      Forward PER BBNI (versi Minu) = 4000/800 = 5

      Nah lho?

      Menurut Sumi Forward PER BBNI adalah 10. Menurut Minu Forward PER BBNI adalah 5. Mana yang benar?
       
      Tunggu dulu. Ceritanya belum selesai.

      Umpamakan juga, surat kabar Bisnis Saham mau mencantumkan data Forward PER BBNI. Editor koran Bisnis Saham, bung Adil, menerima data riset terkini dari Ramal Sekuritas dan Nujum Investama. Tapi bung Adil bingung harus mencantumkan data Forward PER yang mana.

      Bung Adil berpikir, kalau memilih data Sumi, mungkin Minu marah. Tapi kalau memilih data Minu, mungkin Sumi yang marah. Bagaimana caranya supaya Sumi dan Minu tidak marah?

      Bung Adil menelurkan ide cemerlang: pakai saja KEDUA data tersebut. Caranya? Pakai saja rata-rata dari laba per saham  prediksi kedua analis.

      Forward PER BBNI versi koran Bisnis Saham =
      Harga saham / [(Laba versi Sumi + Laba versi Minu)/2]=

      4000 / [(400 + 800)/2] = 6.7

      Nah, hasil perhitungan Forward PER seperti inilah yang disebut Consensus (Forward) PER.

      (N.B.: Kalau bung Adil mendapat data dari 10 analis, Consensus Forward PER adalah harga saham dibagi rata-rata dari 10 data laba per saham dari 10 analis tersebut.)


      Sampai di sini, kita tahu bahwa Forward PER BBNI  menurut Sumi adalah 10, menurut Minu Forward PER BBNI adalah 5, menurut surat kabar Bisnis Saham Forward PER BBNI adalah 6.7.

      Jadi, yang mana yang benar? 

      Siapa yang tahu?

      Karena semua data Forward PER adalah berdasarkan prediksi, hanya waktu yang akan membuktikan siapa yang benar, siapa yang salah.


      Pesan moral pos ini:

      Pertama, Analisa Fundamental sering harus memakai data PREDIKSI, bukan data faktual. Memprediksi artinya menerka, menebak. Menebak berarti bisa (sering) salah. Kalau tebakannya salah, hasil analisa fundamentalnya juga salah. 

      Kedua, ketika anda membandingkan PER saham, anda harus tahu persis PER apa yang anda bandingkan. Apakah Trailing PER? Atau Forward PER dari satu analis? Atau Consensus (Forward) PER dari banyak analis?

      (Ilustrasi di atas adalah satu contoh lagi untuk tidak serta-merta percaya pada siapapun, bahkan analis terkemuka. Premis ini sudah saya tulis di pos "Valuasi Indeks Saham Indonesia Terlalu Tinggi?")
       






      Pos-pos yang berhubungan:
      [Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

        Saturday, February 1, 2014

        Price-to-Earnings Ratio: Trailing & Forward (Bagian 1)

        Anda sudah tahu arti Price-to-Earnings Ratio (biasa disingkat PE Ratio atau PER)? Anda sudah tahu juga cara menghitung PER? (Kalau anda belum tahu, silahkan baca dulu pos "Arti Istilah 'Price-to-Earnings Ratio'".)

        Berbekal pengetahuan di atas, mungkin anda bersemangat untuk mulai menganalisa saham berdasarkan PER. Sebelum mulai, anda perlu tahu bahwa PER yang anda lihat di penyedia-data (surat-kabar, situs online, dll) yang satu belum tentu sama dengan PER di penyedia-data yang lain.

        Kok bisa tidak sama? Bukankah data saham seharusnya sama?

        Nah, untuk menjawab pertanyaan ini, anda perlu tahu dulu bahwa Price-to-Earnings Ratio itu terbagi atas 2 macam: Trailing PER dan Forward PER.

        Apa bedanya?

        Mari kita bahas bersama.


        Price-to-Earnings Ratio (PER)

        Anda masih ingat rumus menghitung PER?

        Price-to-Earnings Ratio (PER) = Harga Saham/Laba Per Saham

        Pada rumus di atas, data Harga Saham yang umum dipakai adalah harga saham terkini. 

        (Kalau anda ingin tahu PER saham pada tanggal tertentu, data Harga Saham yang dipakai adalah harga saham pada tanggal tersebut.)

        Bagaimana dengan data Laba Per Saham? Nah, data Laba Per Saham inilah yang membedakan Trailing PER dan Forward PER.


        Trailing PE Ratio

        Laba Per Saham yang dipakai untuk menghitung Trailing PER adalah data laba per saham terakhir yang dipublikasikan perusahaan. Dengan kata lain, data Laba Per Saham yang dipakai adalah fakta, hal yang SUDAH terealisasi, yang sudah terjadi di masa lalu, yang sudah (bisa) diketahui oleh khalayak ramai.

        Bagaimana dengan Forward PER?


        Forward PE Ratio

        Laba Per Saham yang dipakai untuk menghitung Forward PER adalah data laba per saham di masa yang akan datang.

        Lho? mata anda membelalak. Masa datang kan belum terjadi, kok bisa ada data laba?

        Pertanyaan yang cerdas.

        Anda benar bahwa masa datang belum terjadi; karena itu data laba per saham di masa depan ini tidak mungkin berdasarkan fakta. Artinya? Data laba di masa datang yang dipakai untuk menghitung Forwar PER ini adalah PREDIKSI analis fundamental saham.

        Prediksi. Alias forecast. Alias perkiraan. Alias ramalan. Alias tebakan.

        Mengapa para analis saham berusaha memprediksi laba di masa yang akan datang?

        Tentang hal ini, anda perlu ingat bahwa pemain saham selalu melihat ke masa yang akan datang. Data yang sudah dipublikasikan adalah berita basi karena hal yang sudah terjadi dan diketahui pasarbiasanyatidak menggerakkan harga saham. Yang biasanya menggerakkan harga saham adalah prospek di masa yang akan datang.

        Lho?

        Akan lebih jelas kalau anda membaca contoh berikut:

        Misalkan di awal tahun 2014 Kalbe Farma mempublikasikan data laba Rp 200 per saham di laporan keuangan tahun 2013. Setelah data ini diketahui umum, para pemain saham ingin tahu apakah laba perusahaan tahun 2014 (dan di masa-masa yang akan datang) akan meningkat atau menurun.

        Kalau laba akan meningkat, berarti harga saham pada saat ini relatif murah dibanding prospek masa datang. Artinya: saham patut dibeli. Kalau laba akan menurun, berarti harga saham saat ini relatif mahal dibanding prospek masa datang. Artinya: saham patut dijual.

        Pertanyaannya: Bagaimana cara mendapatkan angka laba di masa datang? Satu-satunya cara adalah dengan memprediksi, dengan menebak.

        Nah, kalau anda bisa memprediksi secara terpelajar dengan tepat laba perusahaan di masa datang, anda bisa membeli/menjual saham di harga sekarang untuk prospek di masa datang.

        Tidak heran kalau para analis fundamental saham berlomba-lomba menebak laba perusahaan di masa datang. 

        Tentu saja tidak asal-asalan menebak; menebaknya harus secara terpelajar ("educated guess") dengan menggunakan data yang tersedia. Tapi yang namanya nebakwalaupun secara terpelajar sekalipun—berarti bisa (sering) salah. (Silahkan baca juga pos "Valuasi Indeks Saham Indonesia Terlalu Tinggi?")

        Sekarang anda sudah tahu perbedaan Trailing PER dan Forward PER. Sudahkah saatnya anda mulai menganalisa saham berdasarkan PER?

        Belum.

        Masih ada hal lain yang perlu anda ketahui tentang PER. Mau tahu? Silahkan lanjut baca ke pos "Price-to-Earnings Ratio: Trailing & Forward (Bagian 2)."






        Pos-pos yang berhubungan:
        [Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]