Showing posts with label analisa fundamental. Show all posts
Showing posts with label analisa fundamental. Show all posts

Wednesday, January 27, 2021

Haruskah Belajar Analisa Fundamental Agar Untung Main Saham?

Apakah dengan belajar Analisa Fundamental anda pasti bisa untung dari investasi/main saham?

Dengan kata lain: Haruskah anda belajar Analisa Fundamental agar bisa untung main saham?

Jawabannya adalah: TIDAK harus belajar Analisa Fundamental agar bisa untung main saham.

Kenapa saya begitu yakin?

Di halaman "About" saya tulis bahwa sejak tahun 2003 saya sudah meninggalkan Analisa Fundamental dan beralih penuh ke Analisa Teknikal. Sampai sekarang saya masih main saham dan bisalah untung sedikit-sedikit.

Kalau begitu, pikir anda dalam hati, berarti kalau mau untung main saham harus belajar Analisa Teknikal?

Mau tahu jawabannya?

Silahkan lanjut baca ke pos "Haruskah Belajar Analisa Teknikal Agar Untung Main Saham?"

 

 

Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2021 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

 

Tuesday, May 20, 2014

Banyak Data = Pasti Untung?

Minggu lalu, ketika membenahi lemari buku di rumah ibu, saya menemukan buku Indonesia Capital Market Directory tahun 1996.

Figure 1. Sampul Depan Indonesia Capital Market Directory 1996

Melihat Indonesia Capital Market Directory (ICMD) lawas itu, saya teringat masa-masa awal saya bermain saham. Nostalgia, gitu loh.

Kalau anda pernah membaca halaman "About" atau "Profil", anda tahu bahwa—sebelum menjadi trader yang mementingkan analisa teknikalsaya mulai bermain saham sebagai investor jangka menengah yang mementingkan analisa fundamental. Analisa fundamental berarti berusaha meneliti laporan keuangan perusahaan.

Di tahun 1997, mencari data keuangan perusahaan tidak semudah sekarang. Jaringan internet di Indonesia pada saat itu baru sebatas untuk email danseingat sayaBursa Efek Jakarta dan perusahaan-perusahaan publik belum ada yang memiliki website. 

Kenapa tidak di-google saja? tukas anda.

Tidak bisa. Google belum ada karena Google didirikan pada akhir tahun 1998.

Lalu, bagaimana cara mendapatkan data keuangan perusahaan?

Cara termudah yang saya tahu adalah berlangganan surat kabar Bisnis Indonesia dan mengkliping laporan keuangan tahunan perusahaan dari koran tersebut. Silahkan lihat contoh di bawah ini.

Figure 2. Laporan Keuangan Konsolidasi PT Dynaplast Tahun 1996

Mengkliping laporan keuangan menelan waktu dan memakan biaya (langganan koran). Lagipula, untuk analisa fundamental diperlukan data keuangan perusahaan beberapa tahun terakhir, bukan hanya tahun terakhir saja. Artinya saya harus mengkliping dan menyimpan laporan keuangan tahun ini untuk dibandingkan dengan laporan keuangan tahun-tahun berikutnya.

Nah, mengkliping laporan keuangan hanya empat atau lima perusahaan sudah cukup merepotkan. Tapi bagaimana kalau suatu saat saya tertarik menganalisa fundamental suatu perusahaan tapi saya tidak punya kliping laporan keuangannya?

Apa yang harus saya lakukan? Masa sih harus mengkliping laporan keuangan semua perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Jakarta?

Untung saja ada Indonesian Capital Market Directory (ICMD) yang diterbitkan Institute for Economic and Financial Research.

Di dalam ICMD, selain ringkasan laporan keuangan 3 tahun terakhir, juga bisa ditemukan rasio-rasio keuangan perusahan seperti PER (Price-to-Earnings Ratio), PBV (Price to Book Value), Dividend Payout, Dividend Yield, ROI (Return on Investment), ROE (Return on Equity), dan masih banyak lagi data lainnya. Silahkan lihat Figure 3 dan Figure 4.

Figure 3. Indonesian Capital Market Directory Hal.170 PT Dynaplast

Figure 4. Indonesian Capital Market Directory 1996 Hal.171 PT Dynaplast

Bermodal data historikal yang lebih banyak dan lebih lengkap, saya berasumsi bahwa saya akan bisa membuat keputusan investasi saham yang menguntungkan.

Kenyataannya?

Saya tetap saja merugi.

Kok bisa? tanya anda.

Saat itu, saya juga bingung. Barulah beberapa tahun kemudian saya menemukan jawabannya: pergerakan harga saham selalu forward looking (melihat ke depan) sedangkan laporan keuangan (data historikal) adalah melihat ke belakang. (Silahkan baca pos "Valuasi Indeks Saham Indonesia Terlalu Tinggi?") Dengan kata lain, membeli saham hanya berdasarkan analisa fundamental (data keuangan) masa lalu bukanlah resep tepat untuk mendapat untung.

Semua waktu dan tenaga yang saya curahkan untuk mengkliping dan menganalisa laporan keuangan sia-sia belaka.

Apa artinya untuk anda?

Artinya, kekuatan analisa bergantung pada logika di balik analisa tersebut, bukan pada jumlah data yang semakin banyak.

Pesan moral:

Kalau saat ini anda sedang belajar menganalisa saham, jangan beranggapan bahwa semakin banyak data historikal yang anda gunakan berarti semakin besar kemungkinan anda mendapat untung dari saham.
 






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

    Sunday, March 2, 2014

    Resiko & Masalah "Value Investing" Bagi Pemula

    Anda baru saja selesai membaca buku tentang Warren Buffet, tentang bagaimana ia menjadi salah satu investor terkaya di dunia karena menerapkan investasi jangka panjang "value investing."

    Terinspirasi buku tersebut, anda memutuskan untuk mengikuti jejak Warren Buffet menjadi "value investor". Mulailah anda menyelami analisa fundamental untuk mencari saham yang value/nilai-nya murah. (Silahkan baca pos "Apa Inti Analisa Fundamental.")

    Anda mengumpulkan data-data perusahaan, membaca laporan keuangan, menghitung rasio finansial. Setelah 3 bulan kurang tidur melakukan semua hal ini, anda menemukan saham PT Bagus Murah (kode saham PTBM) seharga Rp 2000 per lembar yang menurut anda memenuhi kriteria "value investing."

    Keesokan harinya, anda memasukkan order untuk membeli saham PTBM di harga 1950. Sebelum sesi perdagangan selesai, order beli anda terlaksana.

    "Ah, PTBM," pikir anda, "engkau adalah langkah pertamaku untuk menjadi Warren Buffet Indonesia."

    Nah, sambil menunggu cita-cita anda terwujud, izinkan saya bertanya: pernahkah anda memikirkan, kalau PTBM "value"nya murah di Rp 2000, kenapa anda bisa mendapatkan saham tersebut bahkan di bawah harga yangmenurut andamurah tersebut?

    Yang pasti bukan karena anda pintar membujuk penjual untuk memberi diskon. Toh, membeli saham di bursa tidak ada interaksi langsung anda penjual dan pembeli.

    Juga bukan karena saham PTBM yang anda dapatkan adalah saham KW(kualitas)2 atau KW3 karena saham tidak ada KW1 atau KW2 atau KW3: semua saham KWnya sama.

    Kalau begitu, apa penyebab anda bisa membeli PTBM di harga yangmenurut andanilainya murah?

    Untuk menjawab pertanyaan ini, anda terlebih dulu perlu tahu definisi "value." Nah, Jean V. Dubois mendefinisikan "value" suatu benda sebagai berikut:


    " . . . . The value of thing is always relative to a particular person, is completely personal and different in quantity for each living human—'market value' is a fiction, merely a rough guess at the average of personal values, all of which must be quantitatively different or trade would be impossible."

    Bahasa Indonesianya kira-kira begini:

    Nilai suatu benda selalu tergantung pada masing-masing individu, adalah sepenuhnya personal dan berbeda kuantitasnya untuk setiap manusia—'nilai pasar' adalah fiksi, hanyalah tebakan kasar dari rata-rata nilai menurut setiap individu, yang mana kuantitasnya harus berbeda atau jual-beli tidak mungkin terjadi.


    Dalam konteks main saham, definisi di atas menyatakan bahwa anda bisa mendapatkan saham yang—menurut andanilainya murah HANYA KALAU ada individu-individu lain yang menjual saham tersebut.

    Nah, mengapa individu-individu tersebut bersedia menjual di hargayang menurut andamurah? Apakah karena mereka murah hati? Apakah karena mereka ingin anda menjadi Warren Buffet Indonesia?

    Tentu saja tidak.

    Alasan mereka menjual di harga tersebut adalah karena menurut mereka harga saham tersebut nilainya mahal. Oke, kalaupun tidak mahal, setidak-tidaknya tidak murah.

    Kok begitu?

    Karena kalau semua pemain saham merasa bahwa nilai saham tersebut murah, tidak ada seorangpun yang menjual dan anda tidak akan mendapatkan saham di harga tersebut.
     

    Nah, menurut anda (pembeli) harganya murah; menurut penjual harganya tidak murah. Jadi, siapa yang benar?

    Pertanyaan tersebut akan terjawab hanya dengan berjalannya waktu.

    Artinya, kalau di masa depan harga saham PTBM naik, berarti valuasi si pembeli yang benar. Kalau di masa depan harga saham PTBM turun, berarti valuasi si penjual yang benar.

    Oke, mari kita misalkan dulu bahwa saham naik: anda yang benar. Kalau hal ini terjadi, cerita selesai. Cita-cita anda menjadi Warren Buffet bisa segera menjadi kenyataan.

    Tapi, menurut anda sejujurnya, berapa besar kemungkinan hal ini terjadi?

    Anda seorang "value investor" pemula yang masih hijau, baru saja menyelami analisa fundamental selama beberapa bulan, baru pertama kali membeli saham. Penjual bisa saja sudah main saham puluhan tahun, mungkin juga adalah investor yang kantongnya tebal, yang sudah mengerti analisa fundamental dan teknikal luar-dalam sebelum anda lahir.

    Nah, berapa besar kemungkinan bahwa anda yang benar?

    Kalau anda objektif, anda akan menjawab, "Kemungkinannya kecil."

    Setuju.

    Oke, mari kita lanjut dengan kemungkinan kedua: saham turun, berarti penjual yang benar. Kalau hal ini yang terjadi, anda menghadapi masalah besar pertama anda sebagai "value investor."

    Masalah besar? Masalah besar gimana?

    Mari kita bahas.

    Menurut analisa anda saham PTBM nilainya murah di harga Rp 2000. Tapi setelah anda beli, PTBM bukannya naik tapi malahan turun. Dan turunnya tidak tanggung-tanggung; dalam 3 bulan PTBM turun dari harga beli anda di 1950 ke 1500.

    Nah, harga PTBM yang turun menandakan bahwa valuasi anda salah. Apa yang seharusnya anda lakukan kalau anda salah?

    Kalau anda salah, seharusnya anda cut-loss. (Silahkan baca pos "Cara Cut-Loss Untuk Stop Kerugian Saham.")

    Masalahnya, analisa fundamental hampir TIDAK PERNAH secara gamblang menganjurkan cut-loss. Oleh sebab itu, banyak "value investor" pemula yang menyimpulkan bahwa investasi jangka panjang tidak perlu cut-loss, bahwa kalau harga saham turun, langkah selanjutnya adalah menunggu. Menunggu apa? Menunggu harga saham naik. (Silahkan baca pos "Arti Istilah 'Trading Plan'.")

    Menunggu saham naik bisa menjadi masalah besar untuk investor jangka panjang. Tapi masih ada masalah lain yang lebih berbahaya lagi karena cukup banyak "value investor" yang "cerdas" memakai logika.

    Logika yang mereka pakai bunyinya begini: kalau PTBM murah nilainya di 2000, bukankah PTBM di harga 1500 berarti nilainya LEBIH MURAH lagi? Kalau lebih murah, bukankah sebaiknya ia membeli lagi PTBM di harga yang lebih murah ini?

    Tindakan membeli lagi di harga lebih murah biasa disebut dengan istilah "averaging down." (Silahkan baca pos "Arti Istilah 'Averaging Down' Saham.")

    Masalahnya, bagaimana kalau setelah anda "average down" PTBM di harga 1500, harga PTBM melanjutkan anjloknya, katakanlah, ke harga 1000. Kalau 1950 murah, 1500 lebih murah, bukankah 1000 SANGAT LEBIH MURAH? Kalau sangat lebih murah, bukankah seharusnya anda beli LEBIH BANYAK lagi di harga 1000?

    Kalau setelah ke-sekian kali anda "average down" lalu harga PTBM naik, anda mungkin bisa balik modal atau bahkan untung. Tapi bagaimana kalau PTBM turun anda "average down", PTBM masih turun anda tetap "average down", dan PTBM masih saja turun dan anda sudah tidak punya uang untuk "average down" lagi?

    Pada saat itu saya yakin anda mulai menerima kenyataan pahit bahwa "value investing" tidak semudah yang anda bayangkan. Dan cita-cita anda untuk menjadi Warren Buffet Indonesia harus ditunda dulu untuk beberapa saat.


    Pesan yang ingin saya sampaikan di pos ini adalah:
    1. Value investing sangat sulit, tidak semudah penjelasan di buku atau seminar tentang Warren Buffet.
    2. Anda bisa mendapatkan saham yang menurut anda nilainya murah HANYA KALAU ada individu lain yang menganggap saham itu nilainya mahal (atau setidak-tidaknya tidak murah).
    3. Saham yang menurut anda nilainya murah bisa turun dan menjadi lebih murah lagi.
    4. Cut-loss bukan hanya harus dilakukan untuk trading saham jangka pendek tapi juga harus dilakukan untuk investasi saham jangka panjang.
    5. Terus membeli saham yang sedang terus turun karena menurut anda nilainya semakin murah adalah tindakan bodoh.







    Pos-pos yang berhubungan:
    [Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

      Tuesday, February 4, 2014

      Price-to-Earnings Ratio: Trailing & Forward (Bagian 2)

      Pos ini adalah lanjutan dari "Price-to-Earnings Ratio: Trailing & Forward (Bagian 1)."


      Dari pos "Price-to-Earnings Ratio: Trailing & Forward (Bagian 1)" anda sudah tahu perbedaan Trailing PER dan Forward PER.

      Tapi kisah tentang PER masih belum selesai: masih ada satu PER lagi yang disebut Consensus PER.


      Consensus PE Ratio

      Untuk menjelaskan Consensus PER, ada baiknya saya sajikan dalam sebuah ilustrasi.

      Misalkan pada tanggal 05 April 2014 harga saham Bank BNI (BBNI) adalah Rp 4000. Beberapa hari sebelumnya, BBNI mempublikasikan Laporan Keuangan Tahun 2013 yang sudah diaudit: Laba Per Saham BBNI di tahun 2013 adalah Rp 200. Ini berarti:

      Trailing PER BBNI = Harga Saham/Laba per Saham  
      = 4000/200 = 20

      Karena menghitung Trailing PER menggunakan data faktual, data Trailing PER BBNI pada tanggal 05 April 2014 di koran atau situs online apapun adalah (seharusnya) sama, yakni 20.

      Sampai di sini masih cukup jelas, kan? Mari kita mengeruhkan suasana.

      Misalkan juga, pada hari itu analis bernama Sumi dari Ramal Sekuritas mempublikasikan riset terkininya tentang BBNI. Sumi memprediksi sepanjang tahun 2014 BBNI akan berhasil meraih laba per saham sebesar Rp 400. Ini berarti:

      Forward PER BBNI (versi Sumi) = 4000/400 = 10

      Memprediksi laba saham di masa datang tidak hanya boleh dilakukan Sumi dan Ramal Sekuritas. Artinya? Analis lain boleh juga melakukan hal yang sama.

      Katakan, pada hari yang sama Minu dari Nujum Investama tidak mau kalah dengan Sumi dan mempublikasikan riset terkininya tentang BBNI. Minu  memprediksi bahwa di tahun 2014 BBNI akan meraih laba per saham Rp 800. Ini berarti, menurut Minu dari Nujum Investama:

      Forward PER BBNI (versi Minu) = 4000/800 = 5

      Nah lho?

      Menurut Sumi Forward PER BBNI adalah 10. Menurut Minu Forward PER BBNI adalah 5. Mana yang benar?
       
      Tunggu dulu. Ceritanya belum selesai.

      Umpamakan juga, surat kabar Bisnis Saham mau mencantumkan data Forward PER BBNI. Editor koran Bisnis Saham, bung Adil, menerima data riset terkini dari Ramal Sekuritas dan Nujum Investama. Tapi bung Adil bingung harus mencantumkan data Forward PER yang mana.

      Bung Adil berpikir, kalau memilih data Sumi, mungkin Minu marah. Tapi kalau memilih data Minu, mungkin Sumi yang marah. Bagaimana caranya supaya Sumi dan Minu tidak marah?

      Bung Adil menelurkan ide cemerlang: pakai saja KEDUA data tersebut. Caranya? Pakai saja rata-rata dari laba per saham  prediksi kedua analis.

      Forward PER BBNI versi koran Bisnis Saham =
      Harga saham / [(Laba versi Sumi + Laba versi Minu)/2]=

      4000 / [(400 + 800)/2] = 6.7

      Nah, hasil perhitungan Forward PER seperti inilah yang disebut Consensus (Forward) PER.

      (N.B.: Kalau bung Adil mendapat data dari 10 analis, Consensus Forward PER adalah harga saham dibagi rata-rata dari 10 data laba per saham dari 10 analis tersebut.)


      Sampai di sini, kita tahu bahwa Forward PER BBNI  menurut Sumi adalah 10, menurut Minu Forward PER BBNI adalah 5, menurut surat kabar Bisnis Saham Forward PER BBNI adalah 6.7.

      Jadi, yang mana yang benar? 

      Siapa yang tahu?

      Karena semua data Forward PER adalah berdasarkan prediksi, hanya waktu yang akan membuktikan siapa yang benar, siapa yang salah.


      Pesan moral pos ini:

      Pertama, Analisa Fundamental sering harus memakai data PREDIKSI, bukan data faktual. Memprediksi artinya menerka, menebak. Menebak berarti bisa (sering) salah. Kalau tebakannya salah, hasil analisa fundamentalnya juga salah. 

      Kedua, ketika anda membandingkan PER saham, anda harus tahu persis PER apa yang anda bandingkan. Apakah Trailing PER? Atau Forward PER dari satu analis? Atau Consensus (Forward) PER dari banyak analis?

      (Ilustrasi di atas adalah satu contoh lagi untuk tidak serta-merta percaya pada siapapun, bahkan analis terkemuka. Premis ini sudah saya tulis di pos "Valuasi Indeks Saham Indonesia Terlalu Tinggi?")
       






      Pos-pos yang berhubungan:
      [Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

        Saturday, February 1, 2014

        Price-to-Earnings Ratio: Trailing & Forward (Bagian 1)

        Anda sudah tahu arti Price-to-Earnings Ratio (biasa disingkat PE Ratio atau PER)? Anda sudah tahu juga cara menghitung PER? (Kalau anda belum tahu, silahkan baca dulu pos "Arti Istilah 'Price-to-Earnings Ratio'".)

        Berbekal pengetahuan di atas, mungkin anda bersemangat untuk mulai menganalisa saham berdasarkan PER. Sebelum mulai, anda perlu tahu bahwa PER yang anda lihat di penyedia-data (surat-kabar, situs online, dll) yang satu belum tentu sama dengan PER di penyedia-data yang lain.

        Kok bisa tidak sama? Bukankah data saham seharusnya sama?

        Nah, untuk menjawab pertanyaan ini, anda perlu tahu dulu bahwa Price-to-Earnings Ratio itu terbagi atas 2 macam: Trailing PER dan Forward PER.

        Apa bedanya?

        Mari kita bahas bersama.


        Price-to-Earnings Ratio (PER)

        Anda masih ingat rumus menghitung PER?

        Price-to-Earnings Ratio (PER) = Harga Saham/Laba Per Saham

        Pada rumus di atas, data Harga Saham yang umum dipakai adalah harga saham terkini. 

        (Kalau anda ingin tahu PER saham pada tanggal tertentu, data Harga Saham yang dipakai adalah harga saham pada tanggal tersebut.)

        Bagaimana dengan data Laba Per Saham? Nah, data Laba Per Saham inilah yang membedakan Trailing PER dan Forward PER.


        Trailing PE Ratio

        Laba Per Saham yang dipakai untuk menghitung Trailing PER adalah data laba per saham terakhir yang dipublikasikan perusahaan. Dengan kata lain, data Laba Per Saham yang dipakai adalah fakta, hal yang SUDAH terealisasi, yang sudah terjadi di masa lalu, yang sudah (bisa) diketahui oleh khalayak ramai.

        Bagaimana dengan Forward PER?


        Forward PE Ratio

        Laba Per Saham yang dipakai untuk menghitung Forward PER adalah data laba per saham di masa yang akan datang.

        Lho? mata anda membelalak. Masa datang kan belum terjadi, kok bisa ada data laba?

        Pertanyaan yang cerdas.

        Anda benar bahwa masa datang belum terjadi; karena itu data laba per saham di masa depan ini tidak mungkin berdasarkan fakta. Artinya? Data laba di masa datang yang dipakai untuk menghitung Forwar PER ini adalah PREDIKSI analis fundamental saham.

        Prediksi. Alias forecast. Alias perkiraan. Alias ramalan. Alias tebakan.

        Mengapa para analis saham berusaha memprediksi laba di masa yang akan datang?

        Tentang hal ini, anda perlu ingat bahwa pemain saham selalu melihat ke masa yang akan datang. Data yang sudah dipublikasikan adalah berita basi karena hal yang sudah terjadi dan diketahui pasarbiasanyatidak menggerakkan harga saham. Yang biasanya menggerakkan harga saham adalah prospek di masa yang akan datang.

        Lho?

        Akan lebih jelas kalau anda membaca contoh berikut:

        Misalkan di awal tahun 2014 Kalbe Farma mempublikasikan data laba Rp 200 per saham di laporan keuangan tahun 2013. Setelah data ini diketahui umum, para pemain saham ingin tahu apakah laba perusahaan tahun 2014 (dan di masa-masa yang akan datang) akan meningkat atau menurun.

        Kalau laba akan meningkat, berarti harga saham pada saat ini relatif murah dibanding prospek masa datang. Artinya: saham patut dibeli. Kalau laba akan menurun, berarti harga saham saat ini relatif mahal dibanding prospek masa datang. Artinya: saham patut dijual.

        Pertanyaannya: Bagaimana cara mendapatkan angka laba di masa datang? Satu-satunya cara adalah dengan memprediksi, dengan menebak.

        Nah, kalau anda bisa memprediksi secara terpelajar dengan tepat laba perusahaan di masa datang, anda bisa membeli/menjual saham di harga sekarang untuk prospek di masa datang.

        Tidak heran kalau para analis fundamental saham berlomba-lomba menebak laba perusahaan di masa datang. 

        Tentu saja tidak asal-asalan menebak; menebaknya harus secara terpelajar ("educated guess") dengan menggunakan data yang tersedia. Tapi yang namanya nebakwalaupun secara terpelajar sekalipun—berarti bisa (sering) salah. (Silahkan baca juga pos "Valuasi Indeks Saham Indonesia Terlalu Tinggi?")

        Sekarang anda sudah tahu perbedaan Trailing PER dan Forward PER. Sudahkah saatnya anda mulai menganalisa saham berdasarkan PER?

        Belum.

        Masih ada hal lain yang perlu anda ketahui tentang PER. Mau tahu? Silahkan lanjut baca ke pos "Price-to-Earnings Ratio: Trailing & Forward (Bagian 2)."






        Pos-pos yang berhubungan:
        [Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

          Friday, January 17, 2014

          Cara Membaca Laporan Keuangan Tahunan Perusahaan

          Bagaimana cara membaca laporan tahunan (annual report) perusahaan?

          Membaca laporan tahunan perusahaan adalah "makanan" utama analis fundamental. Karena saya sudah lama meninggalkan analisa fundamental untuk berkonsentrasi di analisa teknikal, saya tidak bisa banyak membantu anda dalam hal ini.

          Tapi saya punya artikel menarik yang mungkin bisa membantu anda: How to Read an Annual Report yang ditulis Jane Bryant Quinn di tahun 1980an untuk perusahaan kertas raksasa Amerika Serikat, International Paper. International Paper menggunakan artikel ini sebagai bagian dari kampanye The Power of Printed Word (Kekuatan Kata-kata Yang Dicetak).

          Walaupun Jane Bryant Quinn menulis artikel ini 30 tahun lalu, isinya masih relevan dengan kondisi sekarang.

          Tapi ada satu masalah: artikel ini ditulis dalam bahasa Inggris.

          Kalau anda kurang mengerti bahasa Inggris, saran saya: tetap paksakan diri anda untuk baca dari awal sampai akhir. Kalau anda mau belajar saham, mau tidak mau, suka tidak suka, anda perlu mengerti bahasa Inggris. Kalau tidak mengerti banyak, setidaknya harus mengerti sedikit.

          Kalau anda sudah berusaha tapi masih tetap kurang mengerti, silahkan tinggalkan pertanyaan atau komentar. (Tapi ada baiknya anda baca dulu komentar Mama Naunau, yang menurut saya, sudah merangkum dalam bahasa Indonesia inti dari artikel tersebut. Silahkan klik link "komentar" di bawah.)

          Figure 1. How to Read an Annual Report by Jane Bryant Quinn, p.1.

          Figure 2. How to Read an Annual Report by Jane Bryant Quinn, p.2.






            

          Pos-pos yang berhubungan:
          [Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

            Thursday, December 12, 2013

            Apa Inti Analisa Fundamental?

            Anda sedang belajar Analisa Fundamental?

            Belajar Analisa Fundamental artinya anda sudah mulai membaca laporan keuangan perusahaan.  Artinya anda juga mulai belajar Earning Per Share (EPS) (silahkan baca pos "Arti Istilah Earning Per Share"), Price-to-Earnings-Ratio (PER) (silahkan baca pos "Arti Istilah Price-to-Earnings-Ratio"), Price-to-Book Value (PBV), Debt-to-Equity-Ratio, dan indikator-indikator fundamental lainnya.

            Stop!

            Sebelum anda mendalami Analisa Fundamental lebih lanjut, sudah tahukah anda apa tujuan menghitung dan membandingkan indikator-indikator tersebut? Dengan kata lain, apa sebenarnya inti dari Analisa Fundamental?

            Belum tahu?

            Kebetulan. Di pos ini saya akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut.

            "Apa gunanya tahu inti dari Analisa Fundamental?" mungkin begitu gumam anda dalam hati.

            Ada, sedikit-dikitnya, 2 alasan:
            1. Kalau anda tahu apa yang anda cari, anda akan lebih mudah menemukan hal yang anda cari tersebut.
            2. Berbekal pengetahuan prinsip dasar/inti Analisa Fundamental  anda akan mengerti mengapa Analisa Fundamental begitu populer, jauh lebih populer dari Analisa Teknikal ataupun analisa-analisa jenis lainnya.
            Yuk, kita mulai.


            Prinsip Dasar/Inti Analisa Fundamental


            Apa sebenarnya prinsip dasar dari Analisa Fundamental? Tanpa bertele-tele, inti dari Analisa Fundamental adalah membeli saham murah.

            Lebih tepatnya:

            Inti dari Analisa Fundamental adalah membeli saham yang nilainya (relatif) murah.

            Yang harus anda camkan di sini adalah bagian kalimat "yang nilainya (relatif) murah."

            Mengapa?

            Karena saham yang nilainya murah tidak sama dengan saham yang harga Rupiahnya murah. Dengan kata lain, saham Rp 50 belum tentu lebih murah dari saham seharga Rp 20.000. 

            Karena murah mahalnya suatu saham tidak tercermin dari harga Rupiah saham tersebut, maka dari itu anda butuh Analisa Fundamental. Fungsi dari Analisa Fundamental adalah membandingkan saham berdasarkan indikator tertentu yang sejenis untuk mencari saham yang nilainya lebih murah.

            Nah, dengan tujuan mencari saham yang nilainya murah inilah anda menghitung PER atau PBV atau Price-to-CashFlow atau Price-to-Sales atau Price-to-Asset atau Debt-Equity-Ratio atau indikator-indikator lainnya.

            Berbekal, misalkan, PER sekelompok saham yang anda perhatikan, anda bisa mulai membandingkan PER saham tersebut satu dengan yang lain untuk mencari saham yangsecara PERnilainya paling murah.

            Itu saja.

            Itulah prinsip dasar dari Analisa Fundamental.

            Tapi prinsip yang sederhana dari Analisa Fundamental ini tidak berarti penerapannya juga sederhana.

            Mencari saham yang "nilainya" murah bukanlah pekerjaan mudah. Anda perlu meneliti dengan seksama laporan keuangan perusahaan, dan hal ini menyita waktu dan perlu usaha keras. Anda mungkin perlu juga membandingkan indikator kualitatif yang tidak mudah diterjemahkan menjadi angka. Lagipula, sesuatu yang murah menurut analisa anda belum tentu murah menurut analis-analis yang menulis di surat-kabar atau muncul di TV atau radio.

            Memang, Peter Lynch (dan juga saya) menyarankan anda untuk tidak langsung percaya analis-analis saham (Silahkan baca pos "Mau Investasi Saham? Baca Dulu Buku Peter Lynch 'One Up on Wall Street'"). Tapi kalau anda seorang pemula, seberapa yakin anda bahwa analisa anda lebih baik dari analisa pengamat saham yang sudah berpengalaman? 

            Satu hal lagi yang paling penting: Kalaupun anda berhasil menemukan saham yang nilainya (relatif) murah, tidak berarti saham tersebut pasti memberi anda untung.

            Bahwa menerapkan Analisa Fundamental untuk mencari saham "murah" adalah pekerjaan yang sukar akan saya bahas pada pos tersendiri. Pesan utama pos ini adalah bahwa inti dari Analisa Fundamental adalah mencari saham yang nilainya (relatif) murah.


            Mengapa Analisa Fundamental Populer

            Di pos "Saham Yang Layak Dibeli Menurut Analisa Teknikal" saya menulis bahwa ketika anda "shopping" apa yang anda cari? Anda mencari "good deal"; anda mencari diskon; anda mencari produk yang sedang promosi beli satu gratis satu. Intinya, ketika berbelanja anda berusaha mencari produk yang harganya lebih murah dari biasanya. Makin murah makin baik.

            Tidak bisa dipungkiri bahwa mendapatkan sesuatu dengan harga semurah mungkin adalah keinginan semua manusia.

            Jadi, tidaklah mengherankan kalau investor saham menerapkan prinsip di atas dalam membeli saham: cari saham yang (relatif) murah.

            Nah, prinsip dasar Analisa Fundamental untuk mencari saham yang murah cocok dengan sifat manusia yang ingin mendapatkan barang murah. Tidak heran kalau analisa ini adalah analisa yang paling populer di kalangan investor saham.

            (Perlu saya ingatkan bahwa "paling populer" tidak berarti paling cocok untuk anda.)

            Anda sudah tahu apa yang dicari Analisa Fundamental. Anda juga sudah tahu mengapa Analisa Fundamental populer. Nah, segera lanjutkan mendalami Analisa Fundamental!


            [Catatan:

            Bung Willy, top komentator di blog ini yang nge-blog di Billy the Pip, tidak sepakat dengan pernyataan saya tentang inti Analisa Fundamental (silahkan baca komentar-komentar di bawah). Menurut bung Willy:

            Inti dari Analisa Fundamental modern adalah membeli saham bagus yang relatif murah.

            Definisi bung Willy sangat baik. Tapi, ada beberapa alasan mengapa saya tidak mencantumkan kata "bagus."

            Pertama, bagus-jelek sifatnya subjektif. 

            Kedua, bagian kalimat "nilainya (relatif) murah" bermakna bahwa tujuan Analisa Fundamental bukanlah mencari saham murah semurah-murahnya, tapi saham yang DALAM ASPEK TERTENTU (ini yang saya maksud dengan "nilai") RELATIF  MURAH terhadap saham lain .

            Kalau aspek yang anda pakai adalah "bagus," berarti saham yang anda cari adalah saham "bagus" yang relatif murah. Kalau aspek yang anda pakai adalah "growth" (perkembangan), berarti saham yang anda cari adalah saham "growth" yang relatif murah.

            Kalau anda telusuri dengan teliti, kata kunci pada setiap Analisa Fundamental adalah "murah." 

            Ketiga, ketika membuat definisi, saya berusaha agar definisi tersebut seglobal mungkin. Definisi yang saya kemukakan mencakup Analisa Fundamental klasik (kuno) dan Analisa Fundamental modern.

            Maka dari itu saya tetap teguh bahwa:

            Inti dari Analisa Fundamental (klasik ataupun modern ataupun lainnya) adalah membeli saham yang nilainya (relatif) murah.

            Terima kasih bung Willy sudah membantu saya memperjelas isi pos ini.]






            Pos-pos yang berhubungan:
            [Pos ini ©2013 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]