Friday, January 17, 2014

Cara Membaca Laporan Keuangan Tahunan Perusahaan

Bagaimana cara membaca laporan tahunan (annual report) perusahaan?

Membaca laporan tahunan perusahaan adalah "makanan" utama analis fundamental. Karena saya sudah lama meninggalkan analisa fundamental untuk berkonsentrasi di analisa teknikal, saya tidak bisa banyak membantu anda dalam hal ini.

Tapi saya punya artikel menarik yang mungkin bisa membantu anda: How to Read an Annual Report yang ditulis Jane Bryant Quinn di tahun 1980an untuk perusahaan kertas raksasa Amerika Serikat, International Paper. International Paper menggunakan artikel ini sebagai bagian dari kampanye The Power of Printed Word (Kekuatan Kata-kata Yang Dicetak).

Walaupun Jane Bryant Quinn menulis artikel ini 30 tahun lalu, isinya masih relevan dengan kondisi sekarang.

Tapi ada satu masalah: artikel ini ditulis dalam bahasa Inggris.

Kalau anda kurang mengerti bahasa Inggris, saran saya: tetap paksakan diri anda untuk baca dari awal sampai akhir. Kalau anda mau belajar saham, mau tidak mau, suka tidak suka, anda perlu mengerti bahasa Inggris. Kalau tidak mengerti banyak, setidaknya harus mengerti sedikit.

Kalau anda sudah berusaha tapi masih tetap kurang mengerti, silahkan tinggalkan pertanyaan atau komentar. (Tapi ada baiknya anda baca dulu komentar Mama Naunau, yang menurut saya, sudah merangkum dalam bahasa Indonesia inti dari artikel tersebut. Silahkan klik link "komentar" di bawah.)

Figure 1. How to Read an Annual Report by Jane Bryant Quinn, p.1.

Figure 2. How to Read an Annual Report by Jane Bryant Quinn, p.2.






  

Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

25 comments:

  1. Artikel yang sangat menarik, rekan Iyan. Walaupun mungkin mesti diadaptasi juga untuk Laporan Tahunan versi perusahaan Indonesia.

    Yang jelas Laporan Tahunan di Indonesia biasanya ada 2 versi. Annual Report yang versi user-friendly dan Laporan Tahunan yang versi serius. Yang user-friendly bisa untuk bacaan ringan, sedangkan investor yang serius sebaiknya fokus pada versi serius.

    Kalau tidak yakin versi mana yang saat ini rekan investor baca, bandingkan dengan Laporan Tahunan dari tahun sebelumnya yang ada pada situs IDX. Sejauh yang saya tahu, Laporan Tahunan di situs IDX selalu yang versi serius.

    Dan saya yakin kebanyakan orang tidak akan mau dan mampu membaca Laporan Tahunan versi serius. Tidak apa-apa, memang kebanyakan orang lebih cocok menjadi investor pasif. Hanya sebagian kecil dari umat manusia yang benar-benar mau dan mampu membaca Laporan Tahunan sebagaimana layaknya investor aktif. Pertanyaannya disini, apakah anda bersedia membayar harganya untuk termasuk dalam kelompok elit tersebut?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rekan Willy,

      Tulisan Jane Bryant Quinn di atas memang perlu diadaptasi untuk versi perusahaan Indonesia karena yang umum di Amerika belum tentu umum di Indonesia. Tapi karena sistem akuntansi Indonesia, sepertinya, mengacu ke sistem Amerika Serikat, apa yang ditulis Jane tetap relevan untuk pembaca di Indonesia.

      10 tahun terakhir, saya tidak lagi membaca Laporan Tahunan perusahaan. Tidak membaca Annual Report ini tidak ada pengaruhnya pada saya, karena saya trader jangka pendek.

      Delete
    2. Maaf, saya sedikit salah tulis di atas. Laporan Tahunan di IDX juga bisa saja masih yang user-friendly. Laporan Tahunan yang serius bisa dicari di situs perusahaan bersangkutan. Biasanya di link 'Investor Relations'.

      Annual Report itu yang saya maksud Laporan Tahunan yang user-friendly, sedangkan Financial Statement itu yang Laporan Tahunan versi serius. Fokuslah pada Financial Statement yang serius untuk analisis fundamental Laporan Keuangan Tahunan Perusahaan.

      Terima kasih pada mama naunau atas koreksinya.

      Delete
  2. Wah, pas bgt artikelnya pak, buat persiapan nanti menjelang rilisnya laporan keuangan... Jangan bilang pak iyan tidak banyak membantu kami dalam analisa fundamental, dengan memberikan insight atau hal-hal mendasar yg perlu diperhatikan dalam analisis fundamental, sudah sangat membantu lho pak. Mengenai rincian atau penjelasan teknisnya, atau cara hitung2nya, memang sudah tugas kami untuk terus belajar... walaupun klo besok-besok bingung trus tanya-tanya gpp ya pak?

    Jadi sebenarnya membaca lapkeu jangan langsung ke angka-angkanya, tapi harus mulai dari pernyataan auditornya, Catatan atas lap keu, surat dari manajemen ttg kondisi perusahaan saat ini dan proyeksinya di masa depan. Klo g ada yg aneh2, baru kita bisa menganalisa angka-angka dalam lapkeu tsb.
    Angka yang perlu dliperhatikan di lapkeu : working capital, pertumbuhan ekuitas, long term debt dan pertumbuhan penjualan.
    Dan setelah itu tetap harus dibandingkan lagi (bagian ini yg masih kurang jelas bagi saya, perbandingan dg industri sejeniskah, dg kondisi normal?? dan tahap selanjutnya baca berita terkait perusahaan dan kondisi politik ekonomi yg mempengaruhi perusahaan)
    Begitu kira2 maksudnya ya pak?

    Kemarin2 saya coba pake screener saham di ft.com, trus baca ringkasan kinerja perusahaan di webnya idx, klo oke, baru lihat laporan keuangan terakhir untuk hitung valuasinya. Boleh gak pake cara begini? soalnya klo mau menganalisa 460an lebih saham di idx, wedewwww...

    Terima kasih ya pak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Mama Naunau,

      Saya yang harus berterima-kasih kepada anda karena telah membuat "intisari" artikel Jane Bryant Quinn dalam bahasa Indonesia. Pasti akan sangat membantu pembaca lain.

      Bertanya apapun tentang saham, termasuk analisa fundamental, selalu akan saya coba jawab. Tapi karena analisa fundamental BUKAN spesialisasi saya, jangan telan bulat-bulat jawaban saya. Cari pendapat kedua (second opinion) dan masukan dari orang lain yang mungkin lebih ahli dari saya di bidang tersebut.

      [Tambahan: yang lebih tepat adalah untuk selalu mencari second, third, ataupun fourth opinion, WALAUPUN yang saja jawab adalah pertanyaan di bidang spesialisasi saya. Kalau anda mau sukses main saham, PASAL PERTAMA yang harus anda camkan adalah: Jangan LANGSUNG percaya pada apapun, siapapun, kapanpun, di manapun.]

      Mama Naunau sudah mengintisarikan dengan baik artikel di atas baik:

      "Jadi sebenarnya membaca lapkeu jangan langsung ke angka-angkanya, tapi harus mulai dari pernyataan auditornya, Catatan atas lap keu, surat dari manajemen ttg kondisi perusahaan saat ini dan proyeksinya di masa depan. Klo g ada yg aneh2, baru kita bisa menganalisa angka-angka dalam lapkeu tsb.
      Angka yang perlu dliperhatikan di lapkeu : working capital, pertumbuhan ekuitas, long term debt dan pertumbuhan penjualan.
      Dan setelah itu tetap harus dibandingkan lagi (bagian ini yg masih kurang jelas bagi saya, perbandingan dg industri sejeniskah, dg kondisi normal?? dan tahap selanjutnya baca berita terkait perusahaan dan kondisi politik ekonomi yg mempengaruhi perusahaan)"

      Mengenai "harus dibandingkan lagi", menurut saya, ini tergantung apa yang anda mau cari tahu. Perbandingan yang bisa anda lakukan adalah:


      1. Membandingkan data perusahaan SEKARANG (annual report terbaru) dengan data SEBELUMNYA. Perbandingan ini untuk melihat bagaimana perkembangan perusahaan dengan berjalannya waktu, apakah menjadi lebih baik atau lebih buruk, atau sama saja. Kalau lebih baik, seberapa baik, dsb.

      2. Membandingkan data perusahaan dengan perusahaan lain dalam industri sejenis.

      Mungkin saja perusahaan A tahun ini kondisi penjualannya menurun. Ini tidak harus berarti perusahaan A jelek. Bandingkan dulu dengan perusahaan lain dalam industri sejenis. Kalau kondisi perusahaan sejenis B, C, D, E malah jauh lebih buruk dari A, berarti A RELATIF lebih baik dari B, C, D, E.

      Anda harus ingat, dalam menganalisa saham, anda selalu membandingkan sesuatu RELATIF dengan yang lain.

      3. Membandingkan data perusahaan dengan kondisi ekonomi negara.

      Sebenarnya ini sudah tercermin dari perbandingan nomor 2 di atas. Kalau ekonomi secara umum bagus, kebanyakan perusahaan akan BERKEMBANG. Tapi ada perusahaan yang berkembang lebih pesat dari yang lain.

      Kalau ekonomi secara umum buruk, kebanyakan perusahaan akan mengalami kesulitan keuangan. Tapi dari perbandingan perusahaan sejenis, ada perusahaan yang RELATIF lebih baik dari yang lain.


      Boleh-boleh saja menganalisa saham dengan stock-screener dulu. Setelah menemukan beberapa kandidat, barulah kita ikuti dengan teliti.

      TAPI, menganalisa fundamental perusahaan amat sulit. Bahkan para profesional pun sering kesulitan. Itulah sebabnya saya beralih ke Analisa Teknikal.

      Kalau saya katakan kepada anda bahwa Analisa Teknikal bisa juga menyeleksi saham secara menguntungkan, dan caranya RELATIF lebih mudah daripada Analisa Fundamental, apakah anda tertarik?

      (Jangan salah mengerti: Saya tidak bilang "MUDAH", tapi saya bilang RELATIF lebih mudah, apalagi untuk pemula.)

      Delete
    2. Wah.... bukan tertarik lagi pak, tapi SANGAT TERTARIK!
      ya pasti memang gak mudah, mudah buat pak iyan belum tentu mudah juga bagi saya dan newbie lainnya.
      Tapi, saya pernah baca quotes "the road to success is always under construction", so saya siap belajar lebih giat.

      Terima kasih pak iyan atas penjelasannya.
      Menganalisa fundamental perusahaan memang cukup sulit. Sebelum mempercayai angka-angka dalam laporan keuangan, kita harus memastikan manajemennya jujur dan melaporkan sesuai kondisi sewajarnya, tanpa polesan rekayasa akuntansi.
      Menghitung valuasi sudah ada rumus2nya, tinggal pilih metodenya siapa, beberapa bahkan disediakan gratis. Tapi yakin tidak kita terhadap angka2 laporan keuangan yang akan kita input dalam rumus tsb?

      @pak willy
      saya lihat (bukan baca loh pak) annual report yg di web idx, yg ada foto2nya. hehehe. Soalnya disitu biasanya udah ada financial highlightnya segala macem.
      Selama ini belum baca lapkeu cuma sampai lap arus kas, ternyata musti baca CALK juga yah, dan pendapat auditornya juga.

      Delete
    3. Sampai saat inipun Analisa Teknikal masih TIDAK MUDAH bagi saya. Kalaupun sudah mengerti analisa teknikal pun, kita akan masih sering salah dalam EKSEKUSI jual-beli saham.

      Nah, EKSEKUSI jual-beli lebih identik dengan Analisa Teknikal daripada Analisa Fundamental.

      Ketika memutuskan suatu saham LAYAK dibeli menurut analisa apapun, artinya kita harus MEMBELI saham tersebut. Tapi banyak pertanyaan yang harus kita jawab sebelum kita membeli saham tersebut: belinya KAPAN, DI HARGA BERAPA, BERAPA BANYAK, SEKALIGUS atau DICICIL?

      Kalau harga saham turun setelah dibeli, beli lagi atau cut-loss? Kalau harga saham naik setelah dibeli, beli lagi atau jual untuk take profit?

      Analisa Fundamental tidak mengajarkan cara EKSEKUSI ini. Ini adalah alasan lain mengapa saya lebih condong menganjurkan PEMULA untuk belajar Analisa Teknikal (daripada Analisa Fundamental).

      Saya akan banyak mendiskusikan Analisa Teknikal di pos-pos yang akan datang. Tapi kalau anda TIDAK SABAR ingin belajar Analisa Teknikal praktis yang mudah dimengerti, silahkan beli dan baca buku Stan Weinstein "Secrets for Profiting in Bull and Bear Markets."

      Delete
    4. [Bung Willy, mohon maaf sedalam-dalamnya karena saya melakukan kesalahan menghapus komentar anda. Saya copy-paste komentar anda di bawah ini:]

      Willy telah membuat komentar baru pada posting Anda "Cara Membaca Laporan Keuangan Tahunan Perusahaan"

      [Tambahan: yang lebih tepat adalah untuk selalu mencari second, third, ataupun fourth opinion, WALAUPUN yang saja jawab adalah pertanyaan di bidang spesialisasi saya. Kalau anda mau sukses main saham, PASAL PERTAMA yang harus anda camkan adalah: Jangan LANGSUNG percaya pada apapun, siapapun, kapanpun, di manapun.]

      Hahaha... itu benar sekali, Pak Iyan. Biar yang ngomong ke saya itu Warren Buffet atau Lo Kheng Hong sekalian, kalau tidak cocok dengan gaya main saham pribadi kenapa harus saya turuti? Investor sejati itu berani tampil beda, terutama sekali jika cara main saham mereka pribadi sudah terbukti konsisten profitable dalam jangka panjang.

      Saya saja masih suka kelabakan kok kalau Laporan Tahunan-nya kelewat aneh-aneh, jadi lebih baik jujur saja pada diri sendiri kalau tidak mengerti dan mencari emiten lain yang lebih mudah dimengerti dan dianalisis fundamentalnya.

      Delete
    5. Aduh, saking semangatnya saya sampai salah tulis. Maksud saya di posting sebelumnya (mungkin belum di-approve sama Pak Iyan), bandingkan Laporan Keuangan anda dengan LK yang ada pada situs IDX atau situs perusahaan bersangkutan.

      Misalnya untuk Laporan Tahunan perusahaan BUMI. mama naunau benar, yang di situs IDX itu bisa juga 'sekedar' Annual Reports yang user-friendly dan bisa untuk bacaan ringan. Tapi kalau misalnya kita ke situs PT Bumi Resources Tbk, di link 'Investor Relations' akan ada pilihan 'Financial Statement' dan 'Annual Reports' kan? Biasanya yang Annual Reports itu versi Laporan Tahunan yang user-friendly dan bisa untuk bacaan ringan. Investor yang serius sebaiknya fokus pada 'Financial Statement' karena disitulah kita bisa mengunduh Laporan Keuangan betulan yang harus menjadi fokus analisis fundamental investor serius.

      Sekedar informasi, LK Tahunan yang serius merentang dari sekedar puluhan halaman yang straight to the point sampai ratusan halaman yang 'nauzubillah min zalik' luar-biasa berbelit-belit. Jangan lupa sediakan obat sakit kepala di meja kerja para rekan investor.

      Kalau saya cuma mau tahu angka-angkanya sih, saya baca saja situs independen seperti ft.com atau reuters.com, toh angkanya disitu sudah ada ringkasan atau financial highlight-nya yang cukup akurat. Tapi kalau saya mau tahu MENGAPA dan BAGAIMANA bisa sampai sekian KLAIM perusahaannya, mau tidak mau ya Laporan Tahunan yang serius harus saya baca juga detail-detailnya. Itulah sebabnya tidak semua orang mau dan mampu melakukan analisis fundamental dan menjadi investor aktif. Memang tidak semudah membalik telapak tangan sih.

      Delete
    6. Investor berpengalaman seperti bung Willy tentu saja tidak mudah percaya pada orang lain.

      Masalahnya: investor pemula rentan terhadap janji-janji surga dari orang-orang yang motifnya MENJUAL seminar/kursus atau sistem-trading.

      Celakanya, sudah bayar PULUHAN JUTA rupiah untuk biaya seminar atau sistem-trading, si pemula malahan kemungkinan akan RUGI RATUSAN atau MILYARAN rupiah karena mempraktekkan ajaran para penjual tersebut.

      Delete
    7. Omong2, saya mungkin kelewat ekstrim nadanya, sampai ada yang mengira bagian Annual Reports bisa diabaikan saja karena kita mau fokus laporan keuangan di Financial Statements.

      Bukan, bukan begitu. Laporan keuangan memang benar detailnya ada di Financial Statements, tetapi itu juga bisa dibaca bersamaan dengan Annual Reports agar ceritanya bisa lebih jelas lagi. Ada banyak info yang bermanfaat dari Annual Reports yang bisa melengkapi Financial Statements, jadi sayang kalau salah satunya kita abaikan. Kita kan butuh semua sumber info yang relevan untuk analisis fundamental.

      Mohon maaf kalau nada saya terkesan menyesatkan.

      Delete
  3. salam bung iyan, blog bung iyan merupakan blog yg sering saya kunjungi terutama jika ada postingan baru karena bahasa-nya mudah di mengerti oleh newbie seperti saya yang baru bermain saham selama satu tahun lebih sedikit. saya ingin sharing tentang pengalaman saya bermain saham dan minta pendapat bung iyan apa yg harus saya lakukan jika saya merasa terlalu percaya diri bertransaksi di pasar modal dan kadang2 merasa sombong biarpun hanya di dalam hati saya sendiri dan tidak pernah saya ungkapkan ke sahabat2 saya karena saya menghasilkan profit yang sangat signifikan selama saya bermain saham.pertama kali-nya sampai hari ini padahal saya mengerti masih harus banyak belajar dan tidak menjadi sombong. saya seolah merasa seakan-akan menjadi seorang jenius di pasar modal dan bisa menghasilkan profit jauh lebih banyak dari fund manager kondang sekalipun karena mungkin saya beruntung atau entah bagaimana saya juga kadang2 tidak mengerti dan percaya bisa menghasilkan profit besar dalam waktu setahun lebih. mohon bimbingan-nya bung iyan. terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam juga bung Lucky,

      Kalau anda bisa menghasilkan profit yang signifikan padahal baru main saham 1 tahun, SELAMAT. Saya tidak tahu apakah anda memang sudah mengerti apa yang anda lakukan atau hanya beruntung. Tidak masalah. Yang penting adalah anda TIDAK RUGI.

      Masalahnya: pemula yang langsung untung biasanya memang menjadi sombong, terlalu percaya diri, dan akhirnya MEREMEHKAN pasar. Kalau ini berkelanjutan, biasanya, keuntungan yang anda sudah anda dapat PLUS MODAL (yang mungkin sudah anda tambahkan ke modal awal) akan DIAMBIL kembali oleh pasar. Jadi, akhirnya anda RUGI lebih besar dari modal yang pertama anda setorkan.

      Saran saya: jangan terlalu pe-de, jangan menganggap remeh pasar. Anggaplah keuntungan yang sudah anda dapat sebagai berkah. Tapi jangan mengira bahwa untung akan selalu datang dengan mudah. Kalau anda tidak pernah menganggap remeh pasar, saya harapkan anda tidak mengalami apa yang saya sebut di atas.

      Delete
    2. Bung Iyan, advise yang senantisa memberikan sentilan berharharga buat sy. Kurang lebih pengalaman Bung Lucky serupa dengan yang sy alami.
      Meski trading dalam kurun waktu yang relatif lebih pendek, namun secara profit sy bersyukur bisa merasakan geliat cuan di lantai bursa.

      Memang dalam hal apa pun di dunia ini, tidak sepantasnya kesombongan ditonjolkan karena merasa sebagai orang yang telah berhasil. Pada hal keberhasilan yang dicapai baru sebagian kecil dari yang diberikan oleh Tuhan yang maha kaya.
      Kesombongan, takabur, serakah adalah sifat-sifat yang melekat di tubuk setiap orang. Untuk menjadi diri yang baik dalam hal apapun, maka seyogyanya untuk menghindarinya.

      Pernah sy baca dalam sebuah artikel tentang bertransaksi saham yang berpesan, agar pemain saham tidak lupa daratan ketika memperoleh keberuntungan.

      Demikian sedikit sharing untuk saling mengingatkan dalam hal yang positif.

      Delete
    3. Bung Chakepp, terima kasih untuk sharing-nya.

      Main saham, cepat atau lambat, akan mendatangkan kerugian yang signifikan. Ini hampir pasti. Yang penting adalah, kerugian itu tidak mematikan secara finansial.

      Untuk siapa saja yang sudah bisa untung ketika baru mulai main saham, saya ucapkan SELAMAT. Lanjutkan kesuksesan anda. Tapi jangan pernah menganggap remeh pasar karena pasar lebih besar dan lebih kuat dari anda.

      Delete
  4. Bung Iyan,

    Sependapat, benar apa yang anda utarakan, bahwa dalam bermain (bertransaksi) saham tidak seluruhnya memperoleh gain yang diharapkan.
    Demikian halnya yang sy alami sejauh ini. Ada kalanya dalam beberapa hari tidak mendapatkan profit dan justru harga turun lebih dalam.

    Jika beranalogi dalam sebuah game, permainan tidak selamanya selalu dimenangkan. Suatu ketika bisa memenangkan permainan secara beruntun dan disaat lain bisa menderita kekalahan.
    Yang terpenting menurut sya, bagaimana menerima kekalahan itu dan tidak sampai menderita kebobolan gol dalam jumlah banyak.

    Dengan menampilkan permainan yang baik tentunya kemenangan akan diperoleh dengan gemilang, namun bila harus menderita kekalahan tidak mengalami penderitaan berkepanjangan. Sehingga bisa recovery untuk permainan berikutnya dan bisa memetik hasil yang diharapkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Analogi bung Chakepp tepat sasaran.

      Petinju tidak akan selalu menang. Kalaupun menang, tetap saja babak-belur. Tapi yang penting: kalau kalah, jangan sampai koma apalagi tewas.

      Delete
    2. Sadis benar analoginya dengan petinju sampai tewas, Pak Iyan.... tapi ya memang benar demikian.

      Delete
    3. Hehe, bukan sadis bung Willy.

      Tapi biasanya petinju yang koma atau tewas adalah disebabkan mereka TIDAK MAU mengaparkan diri di kanvas, padahal sudah babak-belur dan tidak ada tenaga lagi. Kalau saja mereka lebih cepat mengaku kalah, kemungkinan besar mereka tidak akan koma (apalagi tewas) dan bisa bertanding lagi di lain hari.

      Delete
    4. detail analoginya benar2 passssss , sampe ketawa sendiri waktu bacanya , kayaknya kalau mau debat analogi harus pikir2 dulu nih... hahaha....

      Delete
    5. Hehehe.... Saya selalu tertarikdengan debat berdasarkan logika, bukan debat kusir ala preman di mana yang kuat yang menang. Prinsip saya adalah mendukung yang (logikanya) benar.

      Saya hobi beranalogi, tapi tidak berarti analogi saya selalu tepat dan benar. Yang penting, kalau salah ya ngaku.

      Delete
  5. Salam kenal bung Iyan.
    Sebagai pemain baru di bursa saham saya jadi mau tahu tentang advice yang seharusnya dilakukan, mumpung masih hangat komentar teman-teman sebelumnya yang sudah mendapatkan capital gain yang signifikan.
    1. Apakah bila sudah mendapatkan margin lebih dari 10% saham tersebut langsung dijual semua atau hanya 50% dari jumlah awal?
    2. Jika sudah dijual, apakah sebaiknya capital gain tsb kembali dibelikan saham yang sama atau saham lainnya
    3. Bung Iyan pernah ikut RUPS gak? apa sih manfaat ikut RUPS ? terutama bagi saya sebagai pemain baru di SAHAM. terima kasih Bung Iyan. Bravo untuk tulisannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1. Silahkan baca pos "Cara Main Saham Untuk Pemula: Setelah Beli."

      http://terusbelajarsaham.blogspot.com/2012/08/cara-main-saham-pemula-setelah-beli.html

      2. Ini harus anda pikirkan dan putuskan sendiri.

      3. Saya tidak pernah ikut RUPS. Ada orang-orang yang HOBI ikut RUPS karena, katanya, sering disediakan souvenir perusahaan dan kadang mendapatkan makan siang gratis.

      Delete
  6. malam pak Iyan,
    saya tahu pak Iyan sering menyatakan sudah meninggalkan analisa Fundamental, namun ada satu hal yang ingin saya tanyakan bagaimana kita sebagai technician menyikapi rilisnya laporan keuangan yang akan berdampak cukup signifikan terhadap pergerakan harga (trend) suatu saham.. contoh kasus kemarin ASII dibuka dengan gap down dan ditambah penurunan signifikan selama 2 hari ini setelah mengeluarkan LK Q1, padahal secara chart dari awal tahun saham ASII ini sedang cenderung uptrend, bagaimana secara analisa teknikal menyikapi kejadian-kejadian seperti ini?
    apa yang chartist harus lakukan menjelang dan setelah keluarnya LK dari emiten?
    terimakasih banyak atas jawabannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Analis teknikal murni (yang tidak peduli analisa fundamental) seyogyanya tidak perlu menyikapi Laporan Keuangan (LK).

      Kalau chart/grafik tidak memberikan gambaran yang jelas apakah harus buy, sell, hold beberapa saat sebelum LK diumumkan, sebaiknya saham tersebut dihindari.

      Barulah setelah LK keuangan keluar, dilihat lagi apakah ada gerakan yang jelas di grafik.

      Tapi kalau sudah ada posisi (sudah punya saham) sebelum LK diumumkan, anda harus konsisten sell/cut-loss/hold sesuai trading plan yang sudah ditentukan.

      Memang, gap-up dan gap-down sering menyulitkan trader dalam membuat keputusan karena titik beli yang sudah anda tentukan langsung dilampaui setelah harga gap-up. Atau titik cut-loss anda langsung dilampaui setelah harga gap-down.

      Delete

Pertanyaan dan komentar anda akan saya jawab sesegera mungkin. Maaf, saya tidak menerima pertanyaan dan komentar anonim. Promosi, iklan, link, dll, apalagi hal-hal yang tidak berhubungan dengan main saham TIDAK AKAN ditampilkan.