Wednesday, January 8, 2014

Support & Resistance Saham: Arti, Definisi, Makna, Karakteristik (Bagian 1)

Kala menonton atau mendengar analis saham ngoceh di TV atau radio, anda mungkin pernah mendengar kalimat "...saham Astra Agro Lestari (AALI) Support di 1200, Resistance di 1360." Mendengar kedua kata ini, mungkin anda selalu bertanya dalam hati ,"Support dan Resistance ini sebenarnya apaan sih?"

Kabar gembira! Anda tiba di tempat yang tepat karena Support dan Resistance adalah topik yang akan saya bahas di pos ini.

Untuk memudahkan pemahaman, pembahasan Support dan Resistance akan saya mulai dengan membahas padanan bahasa Indonesia kata Support dan Resistance, dilanjutkan ke definisi, lalu makna Support dan Resistance bagi pemain saham, dan diakhiri dengan sifat-sifat dasar (karakteristik) Support dan Resistance. 



Bahasa Indonesia Support dan Resistance

Agar bisa lebih mudah mengerti Support dan Resistance, langkah pertama adalah mencari padanan kata Support dan Resistance dalam bahasa Indonesia.

Setelah saya pikirkan berbulan-bulan, saya rasa saya menemukan kata-kata yang cocok. Menurut saya:

Support = Penopang

Resistance = Penghalang

Anda mungkin bertanya: Penopang apa dan Penghalang apa?

Karena kita sedang membicarakan saham, penopang dan penghalang yang saya maksud adalah Penopang dan Penghalang harga saham, lebih tepatnya Penopang dan Penghalang gerak harga saham.



Definisi Support dan Resistance

Mengapa disebut Support dan Resistance?

Nah untuk menjawab pertanyaan ini anda harus tahu lebih dulu definisi kedua kata ini dalam konteks main saham.

Menurut John J. Murphy di buku Technical Analysis of The Financial Market (saya intisarikan):

Support is a price level or area on the chart where buying interest is sufficiently strong to overcome selling pressure. Usually a support level is identified by a previous trough.
Support/Penopang adalah titik/kisaran harga pada grafik di mana minat beli cukup kuat untuk mengalahkan tekanan jual. Biasanya titik support adalah lembah sebelumnya
Resistance is a price level or area on the chart where selling pressure is sufficiently strong to overcome buying interest. Usually a resistance level is identified by a previous peak.
Resistance/Penghalang adalah titik/kisaran harga pada grafik di mana tekanan jual cukup kuat untuk mengalahkan minat beli. Biasanya titik resistance adalah puncak sebelumnya.

(Kalau anda belum tahu atau sudah lupa apa itu "lembah" dan "puncak" pada grafik saham, silahkan baca pos "Definisi Uptrend, Downtrend, Sideway.")

Agar anda lebih mudah mengerti, silahkan lihat Figure 1 dan Figure 2 di bawah.

Figure 1. Support dan Resistance Pada Uptrend [Source: Technical Analysis of The Financial Market, p.55]
Figure 2. Support dan Resistance Pada Downtrend [Source: Technical Analysis of The Financial Market, p.56]
 
Definisi Support dan Resistance ala John J. Murphy adalah definisi yang bagus, tapi agak ruwet. Seorang pemula kemungkinan sulit mengerti definisi tersebut, apalagi kalau ia tidak dibantu dengan melihat contoh (visual) di grafik.

Oleh karena itu, berdasarkan Figure 1 dan Figure 2, saya berusaha membuat definisi Support dan Resistance yang lebih sederhana. Menurut saya:

Support/Penopang adalah titik/kisaran harga di mana saham yang sedang turun berbalik arah menjadi naik.
Resistance/Penghalang adalah titik/kisaran harga di mana saham yang sedang naik berbalik arah menjadi turun.

Definisi ala Iyan Terus Belajar Saham ini tidak sempurna. Tapi dengan definisi ini, anda tidak perlu tahu apakah ada minat beli kuat yang mengalahkan tekanan jual; anda juga tidak perlu tahu apakah ada tekanan jual kuat yang mengalahkan minat beli.

Kalau harga turun berbalik arah naik, ini artinya minat beli lebih kuat sehingga mengalahkan tekanan jual. Kalau harga naik berbalik arah turun, ini artinya tekanan jual lebih kuat sehingga mengalahkan minat beli.

Dengan kata lainpada definisi sayaminat beli dan tekanan jual sudah tersirat dari pergerakan harga. Saham yang sedang turun akan berbalik arah naik HANYA kalau minat beli lebih kuat dari tekanan jual; saham yang sedang naik akan berbalik arah turun HANYA kalau tekanan jual lebih kuat dari minat beli.

Nah sekarang kita kembali ke pertanyaan: Mengapa disebut Support/Penopang dan Resistance/Penghalang?

Disebut Support/Penopang karena harga saham yang sedang bergerak turun diTOPANG (di kisaran harga Support) sehingga harga saham tersebut malah berbalik arah menjadi naik.

Disebut Resistance/Penghalang karena harga saham yang sedang bergerak naik diHALANG (di kisaran harga Resistance) sehingga harga saham tersebut malah berbalik arah menjadi turun.

Coba anda cerna dulu kalimat-kalimat di atas sebelum anda melanjutkan baca.

Sudah?

Oke, sekarang kita lanjut ke pertanyaan: apa makna Support dan Resistance bagi pemain saham? Silahkan lanjut baca ke pos "Support & Resistance Saham: Arti, Definisi, Makna, Karakteristik (Bagian 2)."






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

35 comments:

  1. terima kasih banyak bung Iyan,ini pos yg sudah saya tunggu2,dari pengalaman saya sendiri mengenai pemahaman support & resistance tidak terlalu terpatok pada grafik lagi,kalau saya amati pergerakan saham harian misalnya SIDO yang mana belum terbentuk support & resistance secara grafik,saya lebih menterjemahkan support pada jumlah konsentrasi lot yang sangat tinggi di harga bid / offer , ilustrasinya begini : bid 745 1000 lot offer 750 5000 lot , sedangkan di bawahnya ada bid 725 60000 lot dan offer 760 100000 lot , nah ini yang saya pahami sebagai support & resistance terdekat hari itu saja , apakah benar begitu bung iyan?
    mohon koreksinya jika salah , terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thomas,

      Konsentrasi (volume) yang tinggi BISA dijadikan sebagai acuan Suppport dan Resistance. Tapi ada kelemahannya: mungkin saja konsentrasi volume tinggi tersebut adalah "tempelan" bandar atau pihak-pihak yang bermaksud memaksa pemain saham lain menjual atau membeli saham. Setelah berhasil memperdaya orang lain, mereka mencabut (withdraw) antrian tersebut.

      Kalau konsentrasi volume tersebut adalah "real" dan BUKAN "TEMPELAN", titik tersebut bisa jadi adalah Support atau Resistance.

      Delete
    2. begitu ternyata penjelasan dari seorang pemain kawakan ya ( jadi merasa amatiran nih ), salut jawabannya sangat mengena karena sama sekali tidak terpikirkan oleh saya sampai kesitu , benar juga selama ini kelihatan aneh sekali bagi saya kalau tiba2 ada puluhan ribu lot yang hilang tiba2 dan saya cari ke harga2 lain tidak ada perpindahan sama sekali. Nah sekarang yang mau saya tanyakan , kalau memang ada trik2 memancing seperti itu , bagaimanakah kita bisa melihat apakah itu tempelan saja atau bukan ?

      Delete
    3. Terus terang, SULIT menentukan apakah Bid/Offer tebal itu tempelan atau bukan.

      Bandar-bandar dan pemain besar TAHU bahwa banyak pemain yang memperhatikan titik Support dan Resistance. Karena itu, mereka BERUSAHA memancing pemain-pemain yang GATAL untuk membeli/menjual di kisaran Support dan Resistance.

      Tapi, setiap bandar punya "modus operandi" berbeda-beda. Ada yang hobi TEMPEL-MENEMPEL, ada yang tidak.

      Jadi, menurut saya, anda bisa MENEBAK apakah suatu Bid/Offer adalah TEMPELAN hanya kalau anda sudah sering memperhatikan saham tersebut. Intinya: sulit untuk tahu pasti.

      Delete
  2. Selamat Tahun Baru, Bung Iyan!

    Moga2 masalah tahun lalu sudah selesai semua, tahun baru kita mulai dengan semangat baru.

    Saya pernah baca2 di materi ujian WPPE kalau Support dan Resistance sudah di-Indonesiakan menjadi Dukungan dan Penolakan. Rada aneh memang, tapi ya bisa jadi kawan2 yang broker lebih tahu. Penopang dan Penghalang juga enak kok kedengarannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat Tahun Baru juga, Bung Willy!

      Terima kasih untuk informasinya. Saya pernah baca Dukungan dan Penolakan sebagai terjemahan Support dan Resistance. Tapi saya tidak suka. Kedengarannya seperti bahasa politik. :D

      Oleh karena itu, saya memilih Penopang dan Penghalang.

      Delete
  3. Terima kasih pak Iyan. Posting yang baik di awal tahun, saya suka membacanya.....

    Fiat - Manado

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih juga bung Fiat sudah meninggalkan komentar.

      Delete
  4. ditunggu kelanjutan uptadenya hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sabar ya mang. Semoga minggu-minggu depan bisa terbit Support Resistance: Arti, Definisi, Makna, Karakteristik (Bagian 2).

      Agak malas nulis, karena saya tidak mau kasih contekan ke orang yang gembar-gemborin diri sebagai "pakar saham".

      Delete
  5. Selamat siang bung Iyan. saya salah satu pengagum tulisan2 anda. semua tulisan2 anda saya baca mulai dari awal hingga tulisan ini dan sy terus menunggu ulasan2 anda yg sangat luar biasa ini. mudah dipahami, bahasa sederhana, dan tidak bombastis. rasanya hanya anda yg menyatakan pemula main saham target rugi tidak sampai 20%, bukan untung. bisa capai target itu sudah luar biasa. ulasan yg nyata dan apa adanya. terus terang sebagai pemain pemula sy melahap setiap buku2 tentang perdagangan dan investasi saham, namun yg paling memberikan sy pencerahan dan menyadari resiko riilnya bermain di saham hanya tulisan2 anda. sy sempat tertawa kecil melihat ulasan perdebatan anda dengan yg mengaku sebagai pakar saham (sy juga yg termasuk membeli 2 edisi bukunya soalnya, hehehe). namun akhirnya sy yg awam saja bisa melihat mana yg benar2 pakar mana yg menobatkan dirinya sendiri sebagai pakar. btw teruslah menulis bung iyan. kita2 selalu menunggu tulisan2 anda yg simple, mudah dipahami, namun berbobot. kalo anda membuat buku nantinya dengan tulisan2 ini, sy yakin akan menjadi luar biasa. bravo.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Agung Nirwono, terima kasih sedalam-dalamnya untuk komentar dan dorongan semangat dari anda.

      Memang, akhir-akhir ini saya agak "empet" karena tulisan saya yang gratis (dengan tujuan untuk berbagi pengalaman dan pikiran) dicontek dalam bentuk buku, sesuatu yang bersifat komersil.

      Yang lebih ngeselin lagi, penyontek bilang begini ke saya,

      "Tapi sekali lagi ya pak... jika semua hal yg bapak minta sudah saya lakukan, seperti perjanjian di awal, saya harap selesai sampai di sini saja."

      Kok seakan-akan saya yang merepotkan dia? Kok seakan-akan saya ini preman yang menuntut ini itu?

      Permintaan utama saya cuma ini: JANGAN NYONTEK, JANGAN JIPLAK. Kalau nyontek, cantumkan sumber kutipan. Itu saja. Kalau tulisan saya tidak dijiplak, saya tidak pernah berniat berhubungan dengan "pakar saham."

      Saya paling tidak suka...koreksi...paling BENCI pada orang yang sudah salah malahan lebih galak, yang sudah dikasih hati malah minta ampela.

      Terus terang, sudah berminggu-minggu saya memikirkan apakah saya perlu terus menulis di blog ini atau stop. Apakah tulisan saya bermanfaat bagi pembaca? Kalau tidak bermanfaat, untuk apa saya menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer menulis, merevisi, menulis, merevisi? Tulisan saya mungkin sangat bermanfaat bagi penjiplak/penyontek, tapi saya menulis BUKAN UNTUK MEREKA.

      Untung saja ada pembaca seperti bung Agung dan pembaca-pembaca setia lainnya yang menyemangati saya untuk terus menulis. Tanpa komentar dan dukunngan dari ANDA (pembaca setia blog ini), kemungkinan besar saya sudah patah semangat.

      Sekali lagi TERIMA KASIH. Dukungan dan komentar anda adalah laksana BENSIN yang anda siram ke api semangat saya yang hampir padam.

      Catatan: Saya bukan PAKAR saham dan belum berani menyebut diri saya sebagai pakar. Sampai saat ini pun saya masih terus belajar.

      Delete
  6. Saya termasuk fans berat om iyan. Gini om, mungkin bisa mencerahkan newbi kyk saya... cara mendeteksi pergerakan buy dr foreigner gmn ya. Kadang2 tu saham sdh naik tinggi atau terjun bebas, brita di koran atau internet baru ramai. Kl analis mah mm sdh ilfill saya. Sering mleset :( trims sblmx

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya dulu juga sering mengikuti buy-sell dari Foreign (investor asing). Tapi akhirnya saya menyimpulkan bahwa mengamati saham berdasarkan pembeli Foreign TIDAK BISA dijadikan patokan jual-beli saham yang menguntungkan.

      Daripada berpatokan pada buy-sell Foreign/Domestic, lebih baik Nayan pelajari Analisa Teknikal. Saham akan naik kalau lebih banyak yang membeli daripada menjual, tidak peduli apakah yang membeli itu adalah investor Foreign/Domestic.

      Delete
  7. jgn berhenti berkarya bung iyan. kami masih haus akan informasi, ilmu, dan ulasan yg punya value tinggi, apa adanya, nyata, empiris dan substantif dari anda yg diulas dgn gaya ulasan yg sungguh enak dicerna. anda menyampaikan fakta, bukan mimpi bombastis di siang bolong. realistis. pemaparan anda terus terang menurunkan overekspektasi saya dari bermain saham. menyadarkan risk awareness diatas segalanya bukan mimpi menjadi kaya secara instan seperti biasa digembargemborkan penulis2 musiman lainnya. blog anda jauh lebih punya nilai dan manfaat dibandingkan beberapa buku sejenis yg sudah sy lahap habis. most of all, tentu saja anda sangat luar biasa dibandingkan dgn penulis2 buku lainnya, karena anda memberikannya secara gratis. pencerahan yg sy dpt selama sy membaca dan menyerap semua tulisan anda membuat kualitas investasi sy jauh lebih baik dan tentunya sy patut berterimakasih dgn bung Iyan. berkarya terus demi indonesia bung. bravo.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Agung, terima kasih sedalam-dalamnya sekali lagi.

      Dorongan dan komentar anda SANGAT berarti. Karena kata-kata anda yang sangat membesarkan hati, saya akan berusaha terus menulis dan menceritakan pengalaman saya dalam bermain saham.

      Delete
  8. Makasih atas pencerahannya ..... saya termasuk yang terlambat mempelajari saham ..... tapi tak apa .... siapa tahu berguna bagi, anak asuh saya, dan anak-anakku kelak .....

    ReplyDelete
  9. Seharusnya tidak ada kata TERLAMBAT untuk belajar. Kalau memang niat, umur 100 tahun pun masih perlu belajar. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih fast responya ......

      Karena saya udah menginjak usia senja .... saya punya pemikiran ingin masuk kesaham misalnya BMRI (Bank Mandiri ) untuk investasi jangka panjang, saya tahan misalnya 2 atau 1 tahun .... apakan ini langkah baik di bandingkan menabung atau deposit .....???

      Delete
    2. Bung Budi,

      Jangka waktu 1-2 tahun, sebenarnya, TIDAK termasuk jangka panjang untuk investasi. Jangka waktu 1-2 tahun kalau untuk investasi, sudah tergolong jangka pendek.

      Tapi kalau untuk trading saham, jangka waktu 1-2 tahun sudah termasuk jangka panjang banget.

      Kalau anda baca di halaman "About", saya menyatakan bahwa saya TIDAK merekomendasi saham spesifik. Jadi, mohon maaf saya tidak bisa menjawab apakah BMRI cocok untuk kasus anda.

      Delete
    3. Gini aja misalnya aku beli saham di saham "Blue Chip" aku tahan 1-2 tahun, dibanding aku simpan di deposito dengan kurun waktu yang sama dengan rate 5.5% pertahun ....... kita pilih mana, karena rate deposito di bawah tingkat inflasi .....

      Delete
    4. Misal kita nanam saham di saham "Blue Chip" selama 2 tahun dibanding saya depositokan uang saya dengan rate 5.5% per tahun ( di bawah inflasi tahun 2013), kalau Bung Yan saya pilih yang mana deposito atau saham ......

      Delete
    5. Tidak ada jaminan bahwa saham dalam 1-2 tahun akan memberi imbal hasil lebih baik dari deposito. Bisa saja anda mendapat imbal hasil jauh lebih tinggi, tapi bisa juga anda RUGI.

      Buku-buku atau penulis-penulis lain kebanyakan menyatakan bahwa imbal hasil saham dalam JANGKA PANJANG adalah lebih baik dari bunga deposito. Saya tidak sepenuhnya setuju.

      (Ingat: saya selalu memperingati anda untuk TIDAK LANGSUNG percaya pada klaim siapapun, walaupun ia adalah pakar sungguhan.)

      Suatu saat saya akan menulis pos tersendiri untuk membahas hal ini. Terima kasih sudah memberikan inspirasi kepada saya.

      Delete
    6. Pak Budi yang baik, pada tahun 1982, IHSG tercatat bernilai 100 perak saja. 30 tahun kemudian pada tahun 2012, IHSG tercatat bernilai 4000 perak. Itu setara dengan akumulasi bunga berbunga sebesar 13% setiap tahun.

      Artinya? Jika anda pasif saja menginvestasikan uang 100 juta rupiah pada tahun 1982 di Reksadana IHSG (anggap pada tahun itu RD Indeks sudah beredar), portofolio anda pada 2012 akan bernilai 4 milyar rupiah!

      Jangan lupa, kita bicara IHSG selama 30 tahun yang sudah mengalami saat-saat mengerikan macam krismon dahsyat 1998 dimana Indonesia nyaris kolaps betulan, maupun krisis KPR 2008 yang membuat banyak investor jatuh miskin dengan tragedi komoditas di Indonesia.

      Pertanyaan saya sekarang, jika kita asumsikan IHSG tetap konsisten memberikan rata-rata return 13% per tahun, menurut anda berapa nilai IHSG 30 tahun ke depan? Percaya atau tidak, IHSG akan tembus 150000 rupiah pada 2042!

      Artinya? Jika portofolio 100 juta tersebut didiamkan dari 1982 sampai 2042, RD IHSG itu akan bernilai 150 milyar rupiah!

      Anda pikir tidak mungkin? Ini sudah sudut pandang polos dari seorang Value Investor pasif yang hanya berbekal kepercayaan saja bahwa Indonesia yang sudah jatuh bangun selama 30 tahun terakhir masih akan terus maju dan jaya ke depannya loh, Pak.

      Delete
    7. Bung Willy, terima kasih untuk komentar anda.

      Tapi seperti jawaban saya pada mas Budi di atas, saya TIDAK sepenuhnya setuju dengan pandangan bahwa investasi jangka panjang pasti untung.

      Suatu saat saya akan menulis pos tentant pandangan saya ini.

      Delete
    8. Masalahnya 'panjang' disini mesti benar-benar 'panjang', Bung Iyan. Pasti untung ya tidak bisa dibilang, itu jelas menyesatkan kalau bilang 'pasti'. Risiko selalu ada, kita lihat saja Nikkei sekarang yang terus menerus bearish tidak karuan dari akhir 80-an sampai sekarang.

      Tapi saya tidak yakin IHSG akan mengalami bearish berlarut-larut seperti Nikkei. Dulu PER-nya Nikkei sempat tembus 200 sebelum kolaps, sedangkan IHSG sekarang masih banyak ruang untuk tumbuh dengan PER sekitar 13-an saja kalau tidak salah.

      BTW, untuk Pak Budi, 1-2 tahun itu masih tergolong pendek loh.

      Delete
    9. Walaupun benar-benar jangka waktu panjang, saya tetap TIDAK sepenuhnya setuju dengan pendapat bahwa investasi saham pasti lebih untung dari investasi lain.

      Perumpamaan IHSG tahun 1982 di 100 dan IHSG tahun 2012 di 4000 (kenaikan 40 kali lipat atau 4000%) adalah SEAKAN-AKAN dalam jangka panjang saham PASTI untung.

      Nah, bung Willy sendiri yang memberikan contoh Nikkei. Di tahun 1989 Nikkei mencapai level hampir 39.000. Sekarang di tahun 2014, 25 tahun kemudian Nikkei ada di level 15.000an. Jadi, setelah 25 tahun Nikkei masih turun 60%.

      Apakah IHSG akan seperti Nikkei? Saya rasa tidak. Tapi tidak berarti juga IHSG 30 tahun ke depan juga akan mengikuti derap IHSG 30 tahun sebelumnya.

      Delete
    10. Apakah IHSG akan seperti Nikkei? Saya rasa tidak. Tapi tidak berarti juga IHSG 30 tahun ke depan juga akan mengikuti derap IHSG 30 tahun sebelumnya.

      Tidak, tentu saja tidak. We never know the future. Namun, salah satu alasan kita berinvestasi ya karena kita percaya masa depan akan lebih baik dari sekarang. Dulu saya pernah tulis juga kan di artikel saya tentang Intelligent Investor?

      Bagi seorang investor, harapan tidak akan pernah padam walaupun hanya secuil saja. Karena kalau tidak ada lagi harapan, untuk apa lagi kita berinvestasi? Tidak peduli sesuram apa pun situasi yang dialami seorang Intelligent Investor, kita selalu percaya akan ada sesuatu yang menanti kita di masa depan. Ini juga yang telah ditulis Zwaig pada bab sebelumnya, yaitu kita berharap mencetak hasil yang secukupnya, dan tidak berlebih-lebihan. Blessed is he who expecteth nothing, for he shall enjoy everything.

      Delete
    11. Makasih Mas Yan dan Mas Wily ...
      Pencerahan dari Mas-mas semua sangat membantu atau memberi wawasan plus minus investasi di saham .... kami (Saya dan 3 karyawan toko saya yg honornya dibawah UMR ), akan mencoba ikut pelatihan yg diselenggarakan oleh IDX Lampung ( gratis ), semoga dari 3 orang karyawan toko ini, ada yang menjadi investor yg sukses. ke 3 karyawan yg bantu aku cukup potensial di bidang Matematika jadi aku rasa dia dalam jangka panjang mampu, membaca analisa teknikal untuk trading, sementara ini investasi jangka panjang dulu aja ....., sambil belajar jurus-jurus pada Bang Iyan dan Bang Willy ...... Both of you thank .....

      Delete
    12. Ada tambahan dikit, ketiga karyawanku itu termasuk tak beruntung maksudnya kemampuan akademis bagus tapi tidak mempunyai biaya atau kurang dukungan dari lingkungan untuk melanjutkan kejenjang lebih tinggi / kuliah .....

      Delete
    13. Bung Budi,

      Ikut pelatihan GRATIS yang diadakan IDX adalah langkah awal yang baik.

      Main saham tidak mudah dan tidak akan pernah menjadi mudah. Asalkan ekspektasi anda masuk akal, main saham bisa jadi opsi investasi yang baik.

      Main saham juga tidak perlu pendidikan tinggi dan IQ tinggi. Silahkan anda baca pendapat Peter Lynch di pos "Mau Investasi Saham? Baca Dulu Buku Petery Lynch 'One Up on Wall Street'."

      http://terusbelajarsaham.blogspot.com/2011/01/mau-investasi-saham-baca-dulu-buku_15.html

      Delete
    14. Iya, Bung Iyan benar. Saya juga percaya investor sejati selalu memiliki harapan yang secukupnya, dan tidak berlebih-lebihan. Selain dari Peter Lynch yang sudah dibahas Bung Iyan, ada juga pembahasan kecil-kecilan akan strategi main saham Value Investor yang diajarkan Benjamin Graham di blog saya Billy the Pip:
      http://billythepip.blogspot.com/2013/08/main-saham-ala-intelligent-investor-pre.html

      Pelatihan main saham bisa dari IDX atau dari perusahaan sekuritas, cuma biasanya yang dari sekuritas ada embel-embel agar jadi 'nasabah', walaupun tidak selalu begitu.

      Kalau di Lampung ada banyak perusahaan sekuritasnya, tidak Pak? Setahu saya perusahaan sekuritas di Indonesia terus membutuhkan tenaga-tenaga ahli baru (pialang, broker, trader, analis, dll), jadi pelatihan-pelatihan tersebut bisa saja menarik talenta-talenta terpendam untuk pasar modal Indonesia.

      Tesnya sendiri (WPPE, WPEE, WMI) justru tidak mahal, tetapi pelatihan profesinya itu yang bisa kebangetan mahalnya. Itu sudah seperti mau ambil sertifikat internasional CFA saja kalau serius ikut kursus profesional kalau di Jakarta.

      Delete
  10. Pak Iyan,

    Sebenarnya apa perbedaan: Swing trader, scalping trader, one day trading?

    Kalau saya membeli saham hari ini dan jual besok apakah saya termasuk dalam kategori swing trading atau scalping?

    Terima kasih

    ReplyDelete
  11. El Heze,

    Jangan pusingin hal-hal seperti ini.

    Lebih baik pusingin bagaimana cara mendapat untung.

    Kalau anda tanya saya apa pekerjaan saya, jawaban saya: saya bukan investor, bukan swing trader, bukan scalper, bukan day trader.

    Saya SPEKULAN. Alias Tukang Tebak.

    ReplyDelete
  12. MENJADI DIRI SENDIRI, Adalah yg terbaik, menurut pandangan saya. Semoga bung iyan tetap sehat, tetap mau berbagi ilmu, untuk pengunjung dan pembaca blog ini yang terus, terus...dan terus belajar saham"

    ReplyDelete

Pertanyaan dan komentar anda akan saya jawab sesegera mungkin. Maaf, saya tidak menerima pertanyaan dan komentar anonim. Promosi, iklan, link, dll, apalagi hal-hal yang tidak berhubungan dengan main saham TIDAK AKAN ditampilkan.