Monday, January 9, 2012

Cara Membeli Saham Untuk Pemula (Bagian I)




(Catatan: Untuk anda yang SERIUS ingin belajar main saham, silahkan buka dan baca halaman "Kurikulum.")


Anda sudah buka rekening di sekuritas saham dan sudah tidak sabar untuk membeli saham. (Kalau anda belum punya rekening di sekuritas saham, silahkan baca pos "Bagaimana Cara Membeli Saham Indonesia" dan "Sekuritas/Broker Saham Mana Yang Bagus?")  Sebelum membeli saham, apa saja yang harus anda pertimbangkan? 

Menurut saya, anda harus melakukan tiga tahap tanya-jawab yaitu: 

I. Apa dan Mengapa 
II. Jumlah Berapa dan di Harga Berapa
III. Kapan dan Bagaimana

Mari kita telaah satu-persatu.

(Proses ini adalah salah satu bagian dari "Trading Plan" atau Rencana Trading.) 


I. Apa dan Mengapa 

Sebelum membeli saham, pertanyaan yang pertama harus anda jawab adalah: saham apa dan mengapa. Pemain saham biasanya tahu “Apa” yang mau ia beli. Tapi “Mengapa” ia membeli, mayoritas pemain saham tidak bisa menjawab. Jadi sebagai pemula, anda harus membiasakan diri bertanya “Mengapa,” apa alasan anda mempertaruhkan uang hasil kerja keras anda di saham, misalnya, ASRI (Alam Sutera Realty).

Alasan anda membeli suatu saham harus sespesifik mungkin. Jadi, jangan menjawab, “Karena saya mau mendapat untung.” Semua orang membeli saham karena mengharapkan untung. Yang harus anda jawab adalah mengapa saham tersebut berpotensi naik dan memberi anda keuntungan. Apakah karena saham itu murah, atau karena perusahaan sedang berekspansi, atau karena produknya laku keras. Atau bisa juga karena analisa teknikal Moving Average atau Stochastic atau MACD memberi sinyal bahwa saham cenderung akan naik. (Silahkan baca pos "Saham yang Layak Dibeli Menurut Analisa Teknikal.")

Memang, sangat sulit menjawab “Mengapa” suatu saham patut dibeli, apalagi kalau anda masih pemula. Anda perlu mempelajari cara menganalisa saham, baik dari segi fundamental, teknikal, ataupun analisa-analisa lainnya. (Silahkan baca pos “Cara/Teknik Menganalisa Saham.”) Diperlukan pengalaman bertahun-tahun bermain saham sebelum anda bisa menemukan alasan tepat “Mengapa” anda membeli saham. 

Karena itu, sebagai pemula, anda sebaiknya mulai dengan mencoba saran orang lain yang lebih berpengalaman dari anda. Saran ini bisa anda dapat dari membaca (buku, surat kabar, riset analis) atau langsung dari seseorang (broker, teman, saudara).

“Saya membeli UNVR karena menurut analis harganya murah dan fundamentalnya baik,” begitu misalnya jawaban anda. Sah-sah saja. Yang harus anda perhatikan adalah bagaimana track-record analis tersebut. Apakah sarannya pada masa silam cukup akurat? Kalau anda belum tahu track-recordnya, belilah saham yang ia sarankan dalam jumlah kecil. Dengan berjalannya waktu, coba ukur keakuratan analisanya. 

Bisa juga anda mengikuti saran dari buku yang anda baca. “Peter Lynch di buku ‘One Up on Wall Street’ menyarankan membeli saham yang labanya terus naik. "Karena laba perusahaan A naik terus, saya memutuskan untuk membeli sahamnya” adalah contoh jawaban yang cukup baik.

Kalau anda mendapat saran dari teman untuk membeli saham UNTR (United Tractor), jangan langsung membeli. Tanyakan alasan “Mengapa.” Kalau teman anda tidak bisa menjawab dengan memuaskan, jangan beli.   

Intinya: anda harus bisa menjawab “Mengapa” anda membeli suatu saham, tidak masalah apakah jawaban itu hasil pemikiran anda sendiri ataupun hasil pemikiran orang lain. Jangan sekali-kali membeli saham tanpa alasan karena jawaban pertanyaan “Apa” dan “Mengapa” ini adalah faktor utama penentu apakah anda akan untung atau buntung.

Perhatikan bahwa “Apa” dan “Mengapa” adalah dua pertanyaan yang berhubungan erat dan tidak bisa dipisahkan. Langkah yang paling umum adalah anda memutuskan “Apa”  yang mau dibeli, lalu anda mencari jawaban “Mengapa.”  Tapi bisa juga anda sudah menentukan alasan “Mengapa,” lalu baru anda tentukan “Apa” yang harus dibeli. 

Maksud saya begini: bisa saja anda sudah menentukan mau membeli saham Semen Gresik (SMGR). Artinya, anda sudah tahu “Apa” yang mau anda beli; sekarang anda perlu menjawab “Mengapa.”

Bisa juga anda melakukan kebalikannya. Misalkan anda menentukan hanya akan membeli saham dengan Price Earning Ratio (PER) (Silahkan baca pos "Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku 'One Up on Wall Street', Bagian V) di bawah 10. Anda sudah tahu “Mengapa”nya, jadi anda tinggal memilih-milih “Apa” saham yang harus dibeli. 

Tapi, protes anda, saya pemula banget dan tidak tahu sama sekali “Apa” yang harus saya beli, apalagi “Mengapa.” Terus saya harus mulai dari mana? 

Kalau anda tidak tahu harus mulai dari mana, saran saya adalah sebagai berikut: Pilihlah 5 sampai 10 saham yang menarik perhatian anda. Saham-saham pilihan ini adalah "Apa" yang akan anda beli.

Hindari saham-saham “gorengan” alias saham-saham kecil yang fluktuasi harganya sangat besar. Mulailah dengan saham-saham berkapitalisasi besar—yang masuk kategori “blue chip.” (Silahkan baca pos “Arti Istilah Saham 'BlueChip'”).

Mengapa ? 

Kemungkinan anda rugi besar di saham “blue chip” relatif jauh lebih kecil daripada di saham gorengan. Baca baik-baik kalimat sebelum ini: saya tidak bilang kemungkinan anda rugi relatif kecil, tapi kemungkinan anda rugi BESAR relatif lebih kecil.  Sebagai pemula, yang harus anda control adalah janganlah rugi besar sehingga mengancam keselamatan finansial anda.

Setelah menetapkan "Apa", pantaulah saham-saham tersebut. Baca berita, pelajari fundamental, ikuti pergerakan harga saham-saham tersebut. Setelah itu, tentukan apakah anda adalah investor jangka panjang atau trader jangka pendek? (Silahkan baca pos “Investasi Saham atau Trading Saham, Mana Lebih Baik”). Lalu tentukan analisa saham bagaimana yang lebih tepat untuk anda, apakah analisa fundamental atau analisa teknikal atau analisa cara lain. (Silahkan baca pos “Cara/Teknik Menganalisa Saham”).

Ketika anda membeli salah satu dari saham "Apa", catat alasan "Mengapa." Kalau hasilnya untung, lanjutkan. Kalau buntung, coba perbaiki alasan tersebut atau cari alasan yang baru. Pergerakan saham ada polanya. Carilah pola-pola gerak saham yang menghasilkan untung.

Dengan melalui proses di atas, perlahan-lahan anda akan menemukan jawaban “Mengapa” suatu saham layak dibeli. Suatu saat, dengan pengalaman yang cukup, anda tidak perlu lagi berpaku pada saran orang lain; anda bisa memformulasikan jawaban sendiri untuk menjawab “Mengapa” anda membeli suatu saham. Saat itulah anda sudah “naik kelas” dari pemain saham pemula menjadi pemain saham berpengalaman.