Monday, July 17, 2017

Trading Plan Yang Menguntungkan Dengan Indikator Moving Average

Anda sudah kenal indikator analisa teknikal Moving Average (Rata-rata Bergerak)? Dengan bermodal indikator Moving Average saja, anda sudah bisa membuat Trading Plan yang menguntungkan.

Mau tahu caranya?

Scot Lowry di buku The Magic of Moving Averages memberikan trading plan sebagai berikut:

Figure 1. Sampul Depan Buku Scot Lowry The Magic of Moving  Averages

1. Eighteen day moving average crosses above the forty day moving average. (You are now looking for buying opportunity.)

Moving average 18 hari menyilang ke atas moving average 40 hari. (Anda sekarang menunggu kesempatan untuk membeli.)


2. Allow market price to drop below the eighteen day moving average, for the first time.

Tunggu harga turun di bawah moving average 18 hari, untuk kali pertama.


3. Place a BUY order above the eighteen day moving average.

Masukkan order BELI bila harga naik ke atas moving average 18 hari.


4. After confirmation of a fill from your broker, place a protective stop just below the forty day moving average.

Setelah berhasil membeli, tentukan titik cut-loss di bawah moving average 40 hari.
 

---###$$$###---


Apakah Trading Plan di atas PASTI menguntungkan?

Tentu saja tidak.

Seperti yang sering saya katakan, tidak ada yang ABSOLUT saat bermain saham. Tapi kalau anda melaksanakan trading plan Scot Lowry secara KONSISTEN, dalam jangka panjang kemungkinan besar anda akan untung.




Pos -pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Monday, June 26, 2017

Sukses Main Saham - Observasi Jack Schwager (Bagian 2)

Pos ini adalah lanjutan dari pos "Sukses Main Saham - Observasi Jack Schwager (Bagian 1)."

Figure 1. Sampul Depan Buku Jack D. Schwager The New Market Wizards


11.  Discipline

Disiplin adalah kata yang paling sering disebut oleh top trader yang di-interview Jack D. Schwager.

Ada 2 alasan mengapa disiplin sangat penting:

a. Disiplin adalah prasyarat untuk mengontrol resiko.
b. Disiplin diperlukan untuk menjalankan metode anda tanpa keraguan dan tanpa tebang-pilih transaksi mana yang harus dilakukan.


12. Understand That You Are Responsible

Untung atau rugi, anda yang bertanggung jawab atas hasil tersebut.

Kalaupun anda rugi karena mengikuti tips, nasehat, atau rekomendasi orang lain, yang salah adalah anda sendiri karena andalah yang memutuskan untuk mengikuti tips, nasehat, atau rekomendasi tersebut.


13. The Need for Independence

Anda harus berpikir sendiri. Lalu putuskan sendiri.

Setelah anda membuat keputusan, jangan dengar pendapat orang lain. Ikuti saja trading plan yang sudah anda siapkan.

Dengan kata lain: dengarkan saja apa kata pasar. Kalau anda untung, berarti anda benar. Kalau anda rugi, berarti anda salah (dan harus cut-loss secepat mungkin).


14. Confidence

Anda harus percaya diri. Tanpa kepercayaan-diri, anda akan selalu diombangambingkan pendapat orang lain.


15. Losing is Part of the Game

Merugi adalah bagian dari permainan.

Kalau anda takut rugi, anda tidak akan pernah membuka posisi. Tambahan lagi, kalau anda tidak rela cut-loss ketika rugi masih kecil, kerugian tersebut kemungkinan akan membengkak. Kalaupun tidak membengkak, kemungkinan besar anda akan kehilangan kesempatan (di saham lain) yang lebih menguntungkan.


16. Lack of Confidence and Time-Outs

Mainlah saham hanya saat anda percaya diri dan optimis. Kalau anda sedang tidak percaya diri dan tidak optimis, sebaiknya anda STOP main saham dulu. Ketika anda mulai main saham lagi, mainlah saham dengan modal sekecil mungkin.


17. The Urge to Seek Advice

Kata Linda Raschke (salah satu top trader yang di-interview di buku ini): "If you ever find yourself tempted to seek out someone else's opinion on a trade, that's usually a sure sign that you should get out of your position."

Terjemahannya: Kalau anda merasa perlu meminta pendapat orang lain tentang sebuah transaksi, itu biasanya adalah tanda nyata bahwa anda harus menutup posisi tersebut.


18. The Virtue of Patience

Sabar menunggu kesempatan yang tepat akan memperbesar kemungkinan sukses.

PERHATIAN, PERHATIAN.

Banyak pemain saham yang SALAH MENGERTI arti "sabar menunggu" ini.

Sabar menunggu yang dimaksud BUKANLAH sabar menunggu saham yang sudah rugi untuk berbalik menjadi untung.

Sabar menunggu yang dimaksud adalah sabar menunggu kondisi pasar di mana keuntungan mudah diraih.


19. The Importance of Sitting

Kesabaran bukan hanya penting saat anda menunggu kondisi yang tepat. Kesabaran juga sangat penting untuk TIDAK TERLALU CEPAT menutup posisi yang sedang memberikan untung.

Coba anda introspeksi diri: seberapa sering setelah anda menjual saham yang sedang naik, saham tersebut naik JAUH LEBIH TINGGI lagi?

Silahkan baca juga pos "Cara Menjual Saham Agar Profit Maksimal."


20. Developing a Low Risk Idea

Kata pepatah: High risk, high gain; low risk, low gain.

Resiko tinggi, keuntungan tinggi; resiko rendah, keuntugan rendah.

Trader top dunia BERUSAHA mencari transaksi yang beresiko rendah tapi berpotensi untung tinggi.



Lanjut baca ke pos "Sukses Trading Saham — Observasi Jack Schwager (Bagian 3)." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

Friday, June 9, 2017

Sukses Main Saham - Observasi Jack Schwager (Bagian 1)

Di buku The New Market Wizards, Jack D. Schwager memberikan 42 observasi tentang sukses trading/main saham:

Figure 1. Sampul Depan Buku Jack D. Schwager The New Market Wizards


1. First Things First

Pastikan anda benar-benar ingin main saham. Silahkan baca juga pos "Benarkah Anda Benar-benar Ingin Main Saham?"
 

2. Examine Your Motives

Pikirkan secara mendalam apa motif anda untuk main saham. Kalau motif anda main saham adalah untuk melakukan hal yang seru, lebih baik anda naik roller coaster atau melakukan bungee jumping.


3. Match The Trading Method to Your Personality

Sangat penting untuk memilih cara trading yang COCOK dengan kepribadian anda. Ada orang yang cocok trading jangka pendek, ada yang cocok investasi jangka panjang. Jadi, jangan merasa bahwa cara Warren Buffet adalah cara terbaik (karena belum tentu cocok dengan kepribadian anda).


4. It Is Absolutely Necessary to Have an Edge

Anda HARUS punya kelebihan ("edge). Tanpa "edge," anda tidak mungkin menang dalam jangka panjang. Nah, kalau anda tidak tahu "edge" anda, berarti anda belum punya "edge."


5. Derive a Method

Kalau mau punya "edge," anda harus punya metode (main saham) yang cocok untuk anda. Jenis metode yang anda gunakan tidak penting; yang penting adalah anda HARUS punya metode.


6. Developing a Method is Hard Work

Membuat suatu metode (main saham) memerlukan riset, observasi, dan pikiran. Proses ini perlu kerja keras dan waktu yang panjang. Anda pun akan sering gagal SEBELUM menemukan metode yang cocok untuk anda.


7. Skill Versus Hard Work

Kemampuan versus kerja keras. (Hampir) Semua orang bisa menjadi trader yang menghasilkan untung, tapi hanya segelintir orang yang akan menjadi Market Wizards.

Janganlah membandingkan diri dengan Warren Buffet atau trader-trader top dunia. Realistislah dalam menentukan target.


8. Good Trading Should Be Effortless

Trading yang baik seharusnya "mengalir" dengan mudah.


9. Money Management and Risk Control

Hampir semua Market Wizards merasa bahwa manajemen modal jauh lebih penting daripada metode trading.

Cara mengontrol resiko:

a. Pastikan resiko kerugiam anda pada masing-masing posisi KURANG dari 2 persen dari total modal anda.

b. Tentukan di muka titik Cut-Loss sebelum anda membuka posisi.

c. Kalau anda rugi 10-20% dari modal, berhenti main saham dulu. Analisa apa yang terjadi sebelum anda mulai main saham lagi.

Silahkan baca juga pos "Cara Cut-Loss Untuk Stop Kerugian Saham."


10. The Trading Plan

Main saham tanpa trading plan adalah seperti berlayar tanpa peta dan kompas. Silahkan baca juga pos "Arti Istilah 'Trading Plan'."


Lanjut baca ke pos "Sukses Main Saham - Observasi Jack Schwager (Bagian 2)."






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Tuesday, May 23, 2017

Jumlah Ideal Saham di Portofolio

Berapa jumlah ideal (jenis) saham di portofolio saham?

Saya sering mendapat pertanyaan di atas dan saya selalu menjawab: jumlah ideal jenis saham di portofolio saham TERGANTUNG pengalaman anda.

Nah, kalau anda seorang pemula, mulailah dengan 1 (SATU) jenis saham saja. Kalau memegang 1 saham belum (bisa) untung, JANGAN menambah jenis saham di portofolio.

Mengapa?

Karena semakin banyak jenis saham di portofolio TIDAK serta-merta berarti semakin besar kemungkinan anda mendapat untung.

Malahan—kalau anda belum tahu cara main saham— semakin banyak jenis saham di portofolio berarti semakin besar kemungkinan anda rugi besar dalam waktu singkat.

"Tapi bung Iyan," kata anda dengan mulut dimonyongkan,"bukankah kita harus men-diversifikasi portofolio?"

Betul, memegang 1 saham saja di portofolio tidak sesuai dengan azas diversifikasi.

(Catatan: diversifikasi artinya adalah menganekaragamkan jenis saham di portofolio saham dengan tujuan utama agar kerugian di satu/beberapa saham bisa ditutup dari keuntungan satu/beberapa saham lain.)

Tapi saran saya untuk hanya punya SATU jenis saham saja bukanlah saran agar anda menghabiskan SEMUA MODAL anda membeli saham ini. (Silahkan baca juga pos "Berapa Sebaiknya Modal Awal Main Saham?")

Belilah 1 saham ini dengan nilai SEKECIL mungkin. Lebih spesifik: SEKECIL mungkin ini seharusnya tidak lebih dari 10% modal main saham anda. Lebih baik lagi kalau tidak lebih dari 1% modal main saham anda.

"Tapi bung Iyan," sergah anda dengan mulut yang makin dimonyongkan, "kalau mainnya kecil begitu, untungnya juga kecil banget dong?"

Nah, ini dia.

Target seorang pemula BUKAN untuk mencari untung. Target pemula adalah untuk RUGI TIDAK TERLALU BANYAK. (Silahkan baca pos "Target Laba Main Saham.")

Membeli 1 saham dengan modal sekecil mungkin ini adalah sarana anda BERLATIH membeli dan menjual (untung ataupun rugi) saham.

Kalau anda rugi, ruginya tidak banyak.

Kalau anda beruntung mendapat untung, anggap keuntungan tersebut sebagai bonus. Jangan serta-merta merasa sudah pintar main saham. (Silahkan baca pos "Pilih Mana: Untung Lalu Rugi atau Rugi Lalu Untung?"

Mohon diingat bahwa diperlukan waktu bertahun-tahun sebelum anda bisa untung konsisten dari main saham. (Silahkan baca pos "Cara Terbaik Belajar Main Saham.")

Setelah anda melakukan hal ini selama MINIMUM 3 bulan dan sudah KONSISTEN tidak rugi terlalu banyak, anda boleh mulai punya 2 jenis saham di portofolio.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]


Wednesday, May 10, 2017

Bagaimana Grafik Bisa Membantu Anda di Bursa Saham

Bagaimana chart/grafik saham bisa membantu anda di bursa saham?

Figure 1. Cover Depan Buku William L. Jiler How Charts Can Help You in the Stock Market


William Jiller di buku How Charts Can Help You in the Stock Market menyatakan bahwa grafik saham tidak menjamin anda akan selalu untung, tapi ada beberapa hal yang bisa dilakukan grafik saham:

1. They can help determine when to buy dan when to sell, by indicating probable levels of support and resistance, and by signalling trend reversals....

Grafik saham bisa membantu menentukan kapan membeli dan kapan menjual, dengan mengindikasikan titik support dan resistance dan dengan memberi sinyal pembalikan trend....

(Silahkan baca juga pos "Support & Resistance Saham: Arti, Definisi, Makna, Karakteristik.")


2. They can call attention—by unusual volume or price behavior—to something happening in an individual company that can be most rewarding....

Grafik saham bisa memberitahu—dari volume yang tidak biasa atau dari perilaku harga—sesuatu sedang terjadi pada suatu perusahaan....


3. They can help determine the current trend—up, down or sideways—and whether the trend is slowing down or speeding up....

Grafik saham bisa membantu mencari tahu trend sekarang ini—naik, turun, atau sideways—dan mencari tahu apakah trend sudah melambat atau sedang melaju...

(Silahkan baca juga pos "Definisi Uptrend, Downtrend, Sideway.")


4. They provide a life history of a stock at a glance, and demonstrate whether one is buying on a rally or on a reaction, and whether the price is historically high or low....

Grafik saham dalam sekilas memberikan sejarah kehidupan suatu saham, dan memperlihatkan apakah seseorang membeli ketika saham sedang naik atau sedang turun, dan apakah harga saat itu tinggi atau rendah secara historikal...


5. They offer a means for confirming (or rejecting) a decision to buy that is based on economic data or other factors, including stock tips and hunches....

Sebelum membeli saham berdasarkan data ekonomi atau faktor lain, seperti tips dan "feeling," grafik saham memberi cara untuk mengkonfirmasi (atau menolak) apakah saham tersebut layak dibeli.


Kalau selama ini anda belum pernah memakai grafik saham dalam bermain saham, pertimbangkan untuk mulai memberdayakan grafik/chart saham.






Pos-pos yang berhubungan:



[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, April 22, 2017

Belajar Main Saham dari Thomas & Friends

Belajar tentang main saham dari film seri anak-anak Thomas & Friends? Masa sih?

Coba anda cerna lyric lagu "Accidents Will Happen" dan bandingkan dengan main saham.

[Catatan: bagian-bagian lyric yang menurut saya relevean dengan main saham saya tambahkan terjemahan bahasa Indonesianya.]




Thrills and spills on the railway

It's a life of happiness

But sometimes impatience
Tapi terkadang ketidaksabaran

can lead to carelessness
bisa membuat anda ceroboh

Some think they are smart cats
Sebagian berpikir mereka sangat pintar 

and some just know it all
dan sebagian merasa sudah tahu semua

But sooner or later
Tapi cepat atau lambat

we all find out that...
kita akan tahu bahwa

Accidents happen now and again
Petaka terjadi sekarang dan nanti

just when you least expect
saat anda merasa tidak mungkin 

Just when you think that life is OK
Ketika anda berpikir hidup berjalan OK

Fate comes to collect
Nasib datang menagih

Accidents happen now and again
Petaka terjadi sekarang dan nanti

When people or trains get smart
ketika orang atau kereta sok pintar

If you don't concentrate on
Jika anda tidak konsentrasi pada

the thing that you're doing
hal yang anda kerjakan

Accidents will happen just like that
Petaka akan terjadi begitu saja

Your best laid plans will turn upside down
Rencana yang tersusun rapi akan berantakan

if you get too confident
jika anda terlalu pede

But sometimes you will slip and slide
Tapi terkadang anda akan tergelincir dan jatuh

if that's Lady Luck's intent
bila itu adalah kemauan Dewi Fortuna

One minute you're riding high
Satu menit anda terbang tinggi

the next you're on the ground
menit berikutnya anda jatuh gedubrak

But please remember whatever the weather
Tapi mohon diingat apapun cuacanya 

You must take care cause...
Anda harus berhati-hati karena...

Accidents happen now and again
Petaka terjadi sekarang dan nanti

Sometimes just by chance
Terkadang hanya karena kebetulan

You gotta pick yourself up and dust yourself down
Anda harus berdiri dan kibaskan debu

Put it down to experience
Terima sebagai pengalaman

Accidents happen now and again
Petaka terjadi sekarang dan nanti

Just don't take it all to heart
Jangan dimasukkan hati

'cause if you don't concentrate on

the thing that you're doing

Accidents will happen just like that

The warning signs are there
Biasanya tanda peringatan sudah ada

for us to see most of the time
di hadapan kita

But sometimes we take chances and
Tapi kita mengambil resiko

ignore the danger signs
dan mengabaikan tanda bahaya

Fate can surprise you
Nasib bisa mengagetkan kita

with no reason or rhyme
tanpa alasan atau sebab

Make sure you learn your lesson
Pastikan anda belajar dari kejadian itu

You'll know better next time
Anda akan lebih bijaksana lain kali

Accidents happen now and again

just when you least expect

Just when you think that life is OK

Fate comes to collect

Accidents happen now and again

When people or trains get smart

If you don't concentrate on

the thing that you're doing

Accidents will happen just like that

Accidents happen now and again

Sometimes just by chance

You gotta pick yourself up and dust yourself down

Put it down to experience

Accidents happen now and again

Just don't take it all to heart

If you don't concentrate on the thing that you're doing

Whatever you're doing is not what you're thinking

Accidents

Incidents

Accident incidents

Accidents happen

just like that.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Tuesday, April 11, 2017

4 Tahap Pembelajaran Main Saham Nicholas Darvas (Bagian 2)

Pos ini adalah lanjutan dari pos "4 Tahap Pembelajaran Main Saham Nicholas Darvas (Bagian 1)."

Di tahap The Fundamentalist, Nicholas Darvas memutuskan untuk membeli saham berfundamental bagus, rating bagus, dan berdividen besar. Silahkan lihat Figure 1 di bawah ini.

Figure 1. Analisa Fundamental Nicholas Darvas [Source: How I Made $2,000,000 in the Stock Market by Nicholas Darvas]

Dari daftar saham di Figure 1, Nicholas Darvas memutuskan bahwa saham yang paling bagus adalah saham Jones & Laughlin.

Begitu yakinnya ia dengan analisanya, Nicholas Darvas menggadaikan rumahnya, meminjam uang dengan jaminan asuransinya, dan meminta pembayaran gaji di muka. Semua uang ini ia belikan 1000 lembar saham Jones & Laughlin seharga US$ 52.25/lembar.

Apa yang terjadi?

Tiga hari kemudian saham Jones & Laughlin—bukannya naik—malah mulai turun. Sebulan kemudian, saham Jones & Laughlin turun ke US$ 44 dan Nicholas Darvas stress tidak tertahankan dan memutuskan untuk menjual rugi.

Darvas tida habis pikir: Bagaimana mungkin saham yang berfundamental baik, memberikan dividen besar, bukannya naik malah turun?

Tapi nyatanya, itu yang terjadi.

Nicholas Darvas nyaris frustrasi. Ini yang ia tulis:

Gambling, tips, information, research, investigation, whatever method I tried to be successful in the stock market, had not worked out. I was desperate. I did not know what to do. I felt I could not go on.

Yet I had to go on. I must save my property. I must find a way to recoup my losses.

Judi, tips, informasi, riset, investigasi, metode apapun yang saya lakukan untuk sukses di pasar saham tidak ada yang berhasil. Saya putus asa. Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saya merasa tidak bisa bertahan.

Tapi saya harus bertahan. Saya harus menyelamatkan rumah saya. Saya harus mencari cara untuk menutup kerugian saya.


---###$$$###---


Setelah pengalaman pahit itu, setiap hari Nicholas Darvas menghabiskan berjam-jam mempelajari grafik saham. Akhirnya ia menemukan saham yang tidak pernah ia dengar: Texas Gulf Producing.

Darvas tertarik karena kelihatannya saham tersebut sedang naik. Darvas tidak tahu fundamental perusahaan tersebut dan tidak mendengar berita apapun tentang perusahaan tersebut. Yang ia tahu saham tersebut terus naik dari hari ke hari.

Bermodal nekad, Darvas membeli 1000 lembar saham Texas Gulf Producing di kisaran harga US$37.50.

Setiap hari Darvas tegang melihat harga saham tersebut terus naik. Setelah 5 minggu, Darvas memutuskan untuk menjual di harga US$43.25.

Keuntungan dari Texas Gulf Producing belum menutup semua kerugian Jones & Laughlin, tapi setidaknya Darvas sudah menutup lebih dari 50% kerugian.

Kata Darvas:

Apa gunanya mendalami laporan keuangan, mempelajari outlook industri, rating, price earning ratio?  Saham yang menyelamatkan saya dari malapetaka adalah saham yang saya tidak tahu apa-apa tentangnya. Saya memilih saham tersebut hanya karena 1 alasan: saham tersebut kelihatannya sedang naik.

Karena pengalaman inilah Nicholas Darvas memutuskan untuk mendalami analisa teknikal dan masuk ke tahap The Technician.

Analisa Teknikal apa yang dipakai Nicholas Darvas? Moving Average kah? MACD kah? Stochastis kah? Stop-and-Reverse (SAR) kah? Analis Volume kah?

Mau tahu analisa teknikal yang dipakai Nicholas Darvas? Silahkan lanjut baca ke pos "Analisa Teknikal Box Theory Nicholas Darvas." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Monday, April 3, 2017

Belajar Main Saham Perlu Duit

Beberapa saat lalu saya, abang saya mengirimkan pesan WhatsApp berjudul "Kisah Nyata Soal Pedagang Glodok."

Menurut saya, tulisan tersebut bagus dan relevan dengan blog ini. Di bawah ini adalah tulisan lengkap pesan tersebut:


Ko Abun sepanjang hidupnya rajin cari uang dan sangat hemat dalam membelanjakan uangnya.

Pada usia 25 tahun dia menikahi gadis cantik anak koleganya.

Umur 37 Abun sudah memiliki deposito 30 milyar di bank, tapi hidupnya tetap sederhana dan banyak makan makanan yang berlemak.

Abun tidak pernah piknik, dan tidak pernah beramal saking hematnya.

Usia 42 tahun Abun kena serangan jantung dan meninggal, meninggalkan warisan 45 milyar.

Istrinya kemudian kawin sama mantan pelayan tokonya.

Si pelayan toko bilang, "selama ini aku pikir aku kerja buat ko Abun, tahunya dia yang kerja buat saya."

Jadi, sebelum anda jadi Abun yang meninggalkan janda kaya, nikmatilah hidup dan gunakan uangmu untuk beramal, jadi orang baik.


D U I T

Duit...tak bisa dibawa mati, tapi tak ada duit rasanya mau mati.

Duit...tak bisa beli kasih sayang, tapi kasih sayang bisa melayang bila tak ada duit.

Duit...tak bisa beli tidur nyenyak, tapi tak ada duit tidur pun tak nyenyak.

Duit...tak bisa beli kesehatan, tapi untuk sehat diperlukan duit.

Duit...tak bisa beli kebijaksanaan, tapi untuk mendapatkan ilmu diperlukan duit.

Duit...orang bodoh nampak cerdik bila ada duit, tapi orang cerdik nampak bodoh bila tak ada duit.

Duit...bukan segalanya, tapi segalanya perlu DUIT.


(Catatan: Mohon maaf saya tidak tahu siapa penulis asli tulisan tersebut sehingga tidak memberi kredit kepada sang penulis. Kalau anda tahu siapa penulis aslinya, mohon informasikan.)


---###$$$###---


Pesan moral yang saya dapatkan dari tulisan di atas:

1. Duit bukan segalanya, tapi (hampir) segalanya perlu duit.

2. Kalau mau mendapatkan ilmu main saham, anda harus rela keluar duit.

3. Kalau anda seorang pegawai dan mau kaya mendadak, carilah bos seperti ko Abun.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, March 25, 2017

4 Tahap Pembelajaran Main Saham Nicholas Darvas (Bagian 1)

Ketika Nicholas Darvas belajar main saham, ia melalui 4 tahap proses pembelajaran.

(Kalau anda tidak tahu siapa itu Nicholas Darvas, silahkan baca dulu pos "Main Saham Cara Nicholas Darvas.")

Tahap 1: The Gambler (Penjudi)
Tahap 2: The Fundamentalist (Penganalisa Fundamental)
Tahap 3: The Tehnician (Penganalisa Teknikal)
Tahap 4: The Techno-Fundamentalist (Penganalisa Teknikal+Fundamental)

Di Tahap 1 (The Gambler), Nicholas Darvas melakukan apa yang umumnya dilakukan pemain saham pemula: beli saham berdasarkan tips/rumor/gosip/rekomendasi/newsletter/advisory service.

Hasilnya?

Rugi.

Di Tahap 2 (The Fundamentalist), Nicholas Darvas—berdasarkan pengalaman di Tahap 1— membuat aturan berikut:

1. I should not follow advisory services. They are not infallible, either in Canada or on Wall Street.

Saya tidak akan mengikuti jasa rekomendasi (saham). Mereka tidak selalu benar, di Canada ataupun di Wall Street.
  

2. I should be cautious with broker's advice. They can be wrong.

Saya harus berhati-hati dengan rekomendasi broker saham. Mereka bisa salah.


3. I should ignore Wall Street sayings, no matter how ancient and revered.

Saya tidak akan mempedulikan pepatah Wall Street, tak peduli seberapa tua dan dihormati pepatah tersebut.


4. I should not trade "over the counter"—only in listed stocks where there is always a buyer when I want to sell.

Saya tidak akan berjual-beli saham "over the counter"—dan hanya akan berjual-beli saham di bursa utama yang selalu ada pembeli ketika saya mau jual.
 

5. I should not listen to rumors, no matter how well-founded they may appear.

Saya tidak akan mendengarkan rumor, walaupun kedengarannya meyakinkan.


6. The fundamental approach worked better for me than gambling. I should study it.

Pendekatan fundamental memberi hasil lebih baik daripada berjudi. Saya harus mempelajarinya.


7. I should rather hold on to one rising stock for a longer period of time than juggle with a dozen stocks for a short period of time.

Saya lebih baik memegang dalam jangka waktu lebih panjang satu saham yang sedang naik daripada keluar-masuk lusinan saham dalam jangka waktu pendek. 


---###$$$###---


Di tahap The Fundamentalist, Nicholas Darvas memutuskan untuk tidak membeli saham berdasarkan tips, analisa, dan rekomendasi orang lain. Ia akan membeli saham berdasarkan analisa yang ia lakukan sendiri.

Tapi bagaimana caranya?

Bagaimana cara memilih saham mana yang akan naik (seperti yang ia sebut di poin nomor 7)?

Nicholas Darvas menyimpulkan bahwa ia seharusnya membeli saham ber-fundamental baik.

(Kalau anda ingin tahu apa yang dimaksud dengan ber-"fundamental baik," silahkan baca pos "Apa Inti Analisa Fundamental?"

Bagaimana hasilnya?

Mau tahu? Silahkan lanjut baca ke pos "4 Tahap Pembelajaran Nicholas Darvas (Bagian 2)."






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Wednesday, March 8, 2017

Main Saham Cara Nicholas Darvas

Salah satu buku main saham favorit saya adalah buku Nicholas Darvas How I Made $2,000,000 in the Stock Market. Sejak saya beli belasan tahun lalu, buku ini sudah saya baca lebih dari 10 kali.

Mengapa?

Figure 1. Sampul Buku Nicholas Darvas How I Made $2,000,000 in the Stock Market

Buku tersebut mudah dimengerti, enak dibaca, dan mencerminkan pengalaman nyata pemain saham.

Saat pertama kali membaca buku tersebut, saya merasakan dan mengalami apa yang dirasa dan dialami Nicholas Darvas pada saat ia baru mulai main saham. Kalau saja saya sudah membaca buku tersebut SEBELUM nyemplung bermain saham, mungkin kerugian awal saya bisa jauh lebih kecil.

Nah, setelah membaca buku tersebut berulang kali, saya merasa bahwa (salah satu) poin terpenting bagaimana Nicholas Darvas berhasil meraih untung $2,000,000 bisa anda temukan di bagian Author's Introduction.

Bunyinya: 

I built a fortune with serenity by avoiding premature selling yet making an exodus from most of my stocks with the use of a single tool: the trailing stop-loss.

Saya mendulang harta secara tenang dengan menghindari menjual saham terlalu cepat tapi juga keluar dari mayoritas saham yang saya miliki dengan memakai satu cara: trailing stop-loss.

Lanjutnya:

I have discovered no loss-free Nirvana. But I have been able to limit my losses, without compromise, to less than 10 percent whereever possible. Profits are a function of time, and so good reasons have to exist to keep a profitless purchase longer than tree weeks.

Saya menemukan bahwa tidak ada Nirwana tanpa kerugian. Tapi saya bisa membatasi kerugian, tanpa kompromi, di bawah 10 persen selama memungkinkan. Laba berhubungan erat dengan waktu, jadi harus ada alasan jelas untuk memegang saham yang tidak menguntungkan lebih dari tiga minggu.

My stop-loss method had two effects. It got me out of the wrong stock and onto the right one. And it dit it quickly. My methods obviously wouldn't work for everyone. It worked for me. And, by studying what I did, I hope you find this book helpful and profitable for you.

Metode stop-loss saya memberikan dua efek. Metode tersebut membuat saya keluar dari saham yang salah dan masuk ke saham yang benar. Dan metode tersebut melakukannya dengan cepat. Metode saya tentu saja tidak cocok untuk semua orang. Metode tersebut cocok untuk saya. Dan, dengan mempelajari apa yang saya lakukan, saya berharap anda terbantu dengan buku ini dan bisa mendapatkan untung.


---###$$$###---


"Tapi bung Iyan," kata seorang pembaca setia blog ini,"bukankah anda selalu mewanti-wanti untuk menghindari buku main saham yang judulnya bombastis?"

Betul. Saya selalu mengingatkan pembaca blog ini untuk menghindari buku/janji/promosi/iklan yang bombastis karena yang bombastis dan berlebihan biasanya akan mengakibatkan anda membayar mahal tapi bukannya untung malahan buntung.

How I Made $2,000,000 in the Stock Market.

Memang judul tersebut termasuk bombastis. Tapi saya malahan menyarankan anda untuk membaca buku tersebut.

Mengapa?

Coba anda baca lagi judul buku di atas:

How I Made $2,000,000 in the Stock Market.

Terjemahannya: Bagaimana Saya (Nicholas Darvas) Meraup Untung $2 juta di Bursa Saham.

Coba anda cerna.

Nicholas Darvas TIDAK menjanjikan bahwa anda akan bisa untung $2,000,000 setelah membaca buku tersebut. Di buku tersebut Nicholas Darvas hanya menceritakan pengalaman bagaimana IA berhasil mendapat untung $2,000,000 di bursa saham. Jadi, isi buku tersebut sesuai dengan judulnya.

Tambahan lagi, Nicholas Darvas tidak berusaha menjual seminar/pelatihan/software.

Itulah alasannya saya menyarankan buku tersebut.

Jadi, segera BELI hard-copy dan BACA buku tersebut.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Thursday, February 16, 2017

Beli Saham Naik Yang Mana?

Silahkan lihat Chart 1 dan 2 di bawah ini.

Chart 1

Chart 2

Pada Chart 1 harga saham naik dari sebelumnya bergerak turun/downtrend. Pada Chart 2 harga saham naik dari sebelumnya bergerak horizontal/sideway.

Kalau harus memilih antara membeli saham seperti di Chart 1 atau saham seperti di Chart 2, anda pilih yang mana? Dengan kata lain, menurut anda mana yang lebih Bullish, Chart 1 atau Chart 2?

(Kalau anda belum tahu arti Bullish, silahkan baca pos "Arti 'Bullish' dan 'Bearish' di Bursa Saham." Silahkan baca juga pos )

Coba anda pikirkan dulu beberapa menit.






Sudah?

Nah, menurut Stan Weinstein di buku Secrets for Profiting in Bull and Bear Markets, yang lebih Bullish adalah Chart 2.

(Untuk memudahkan diskusi, kata "Bullish" di pos ini kira-kira artinya adalah "kuat naiknya.")

Chart 3 (Source:Stan Weinstein's Secrets for Profiting in Bull and Bear Markets, page 17)

Chart 4 (Source: Stan Weinstein's Secrets for Profiting in Bull and Bear Markets, page 17)

 
Saya kutip pernyataan Stan Weinstein:

". . . the steeper the angle of descent of a declining trendline (Chart 3), the less bullish its implications are when it's overcome. . . However, the closer to horizontal the trendline is when it's broken on the upside (Chart 4), the more bullish the implications are."

Terjemahannya kira-kira begini:

Semakin curam derajat penurunan garis tren yang sedang turun, semakin tidak bullish implikasinya ketika garis trend tersebut ditembus. Akan tetapi, semakin mendekati horisontal garis tren ketika ditembus ke atas, semakin bullish implikasinya.

Apa artinya?

Artinya, kalau anda harus memilih antara saham naik yang sebelumnya bergerak turun dan saham naik yang sebelumnya bergerak mendatar, sebaiknya pilih saham naik yang sebelumnya bergerak (relatif) mendatar.

Mengapa?

Karena saham yang sebelumnya bergerak mendatar, kalau naik—biasanya—akan naik lebih kencang daripada saham yang sebelumnya bergerak turun.

Kok bisa begitu?

Mau tahu apa sebabnya saham yang sebelumnya bergerak mendatar kalau naik—biasanya—akan naik lebih kencang daripada saham yang sebelumnya bergerak turun? Silahkan lanjut baca ke pos "Beli Saham Naik Yang Mana? Bagian 2." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]


Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Thursday, February 2, 2017

4 Tahap Pergerakan Harga Saham

Stan Weinstein di buku Secrets for Profiting in Bull and Bear Markets menyatakan bahwa ada 4 tahapan pergerakan harga saham:

Tahap 1: The Basing Area (Area Dasar)
Tahap 2: Advancing Phase (Fase Naik)
Tahap 3: The Top Area (Area Puncak)
Tahap 4: The Declining Phase (Fase Turun)

Silahkan lihat Figure 1.

Figure 1. Grafik Tahapan Pergerakan Harga Saham Menurut Stan Weinstein

Menurut Stan Weinstein, waktu paling ideal bagi investor jangka panjang untuk membeli saham adalah ketika saham naik (breakout)  dari Basing Area (Tahap 1) ke Advancing Phase (Tahap 2).

Perhatikan bahwa Stan Weinstein tidak menyarankan investor jangka panjang untuk membeli saham ketika saham bergerak datar (Tahap 1 dan Tahap 3) dan juga tidak menyarankan—bahkan melarang—investor jangka panjang membeli saham ketika saham bergerak turun (Tahap 4).

Yang disarankan Stan Weinstein adalah membeli saham ketika saham NAIK (dari Basing Area ke Advancing Phase).

Kalau anda investor jangka panjang, coba anda analisa diri sendiri: apakah selama ini anda lebih sering membeli saham di Tahap 1, Tahap 2, Tahap 3, atau Tahap 4?

Kalau hasil analisa menunjukkan anda sering membeli saham di Tahap 1, 3, atau 4, dan hasilnya rugi, coba pertimbangkan saran Stan Weinstein.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Wednesday, January 18, 2017

Tahukah Anda Nilai Portofolio Saham Anda?

Kalau saya bertanya,"Berapa nilai portofolio main saham anda?" bisakah anda menjawab?

(Nilai portofolio main saham adalah jumlah dari nilai saham yang anda miliki ditambah nilai dana tunai di rekening transaksi saham anda.)

"Gampang dong bung Iyan," jawab anda. "Saya buka saja program online trading, klik portofolio dan langsung deh keliatan."

Memang mudah.

Tapi kalau saya tanya lagi, "Tahukah anda  nilai portofolio saham anda kemarin? minggu lalu? bulan lalu? tahun lalu?"

Lho?

Saya rasa (kemungkinan besar) anda tidak bisa menjawab.

"Bung Iyan," kata anda, "emang ada gunanya tahu nilai portofolio saham kemarin atau minggu lalu atau bulan lalu atau tahun lalu?"

Tentu.

Manfaat pertama: kalau anda tahu nilai portofolio minggu lalu, bulan, lalu, tahun lalu, anda bisa DENGAN MUDAH menghitung persentase return (imbal hasil) main saham anda sejak minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu.

Contoh: Misalkan nilai portofolio saham anda setahun lalu adalah Rp 100 juta dan nilai portofolio saham anda hari ini adalah Rp 110 juta. Berbekal data ini anda bisa dengan mudah menghitung imbal hasil (return) main saham anda selama setahun ini.

Return setahun ini = Rp 110 juta - Rp 100 juta = Rp 10 juta.

Persentase Return setahun ini = Rp 10 juta/Rp 100 juta = 10%.

Mudah, kan?

Nah, kalau anda TIDAK tahu nilai portofolio saham anda di masa lalu, (relatif) sulit menghitung dengan pasti persentase return anda. Apalagi kalau anda menambah/menarik modal pada tahun berjalan, akan lebih sulit lagi menghitung persentase return kalau anda tidak tahu nilai portofolio di masa lalu.

"Oke, oke," kata anda. "So bung Iyan, bagaimana caranya saya tahu nilai portofolio saham kemarin, minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu?"

Caranya mudah: Setelah bursa tutup, buka aplikasi online trading anda dan CATAT nilai portofolio saham. Anda boleh mencatat di buku, notes, atau smartphone anda. Anda bisa juga langsung memasukkan data nilai portofolio saham anda di spreadsheet (Microsoft Excel dan sejenisnya).

Dan yang paling penting: lakukan hal ini SETIAP HARI.

"Wah, repot juga ya?"

Nah, kalau mencatat nilai portofolio anda setiap hari anda kategorikan "repot," saya ragu akan keseriusan anda belajar main saham karena mencatat nilai portofolio saham setiap hari adalah tindakan manajemen modal (money management) yang paling dasar dan paling mudah.

Tambahan lagi, dengan mencatat nilai portofolio saham SETIAP HARI, anda MEMAKSAKAN DIRI untuk melihat FAKTA perkembangan main saham anda.

Maksudnya?

Kalau posisi lagi untung, tanpa disuruh pun, anda akan terus-menerus memantau perkembangan portofolio saham. Benar gak?

Tapi tatkala posisi lagi rugi, kemungkinan besar anda malas melihat nilai portofolio saham anda yang semakin hari semakin kecil. Benar gak?

Nah dengan setiap hari mencatat nilai portofolio saham, anda mau-tidak-mau suka-tidak-suka akan tahu nilai portofolio anda yang berkembang atau menyusut.

Kalau portofolio menyusut dan anda catat setiap hari, kemungkinan lebih besar anda akan lebih rela dan lebih cepat cut-loss sebelum kerugian menjadi lebih besar lagi. Ini adalah manfaat kedua dari mencatat nilai portofolio saham setiap hari.

Bagaimana kalau portofolio berkembang? Apakah ada manfaatnya mencatat nilai portofolio yang naik?

Tentu.

Mau tahu apa manfaatnya? Silahkan lanjut baca ke pos "Tahukan Anda Nilai Portofolio Saham Anda? Bagian 2. [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.] 






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Thursday, January 5, 2017

Arti Istilah "Marked-to-Market"

Apa arti istilah Marked-to-Market?

marked = ditandai, dinilai
(according) to = sesuai dengan
market (price) = harga pasar

Jadi, bahasa Indonesia "marked-to-market" kira-kira adalah: dinilai sesuai dengan harga pasar. (Catatan: Biasanya, yang dimaksud dengan harga pasar adalah harga pasar terkini.)

Apa maksudnya?

Mari kita lihat contoh berikut ini:

Misalkan anda mau menggunakan konsep "marked-to-market" untuk menilai portofolio saham. Nah, nilai portofolio anda adalah nilai dengan harga pasar terkini. Bukan nilai sesuai harga beli.

Artinya kalau anda punya 10.000 lembar saham KRAS yang anda beli di harga Rp 1.000—nilai beli Rp 10 juta—dan harga KRAS terkini adalah Rp 600, nilai KRAS anda secara "marked-to-market" adalah Rp 6 juta.

Bukan Rp 10 juta.

Pada contoh di atas, secara "marked-to-market," posisi saham KRAS anda adalah rugi Rp 4juta. 

"Tapi bung Iyan," kata anda, "saham KRAS tersebut kan belum saya jual. Kenapa perlu dihitung secara 'marked-to-market'?"

Nah, jawaban saya untuk pertanyaan bisa anda baca di pos "SahamTurun, Tidak Dijual. Sudah Rugi atau Belum?"

Mengapa anda perlu tahu konsep "marked-to-market"?

Karena mayoritas pemain saham—dari pemula sampai senior—menilai portofolio saham sesuai dengan harga beli.

Nah, dengan menilai portofolio berdasarkan harga beli berarti kalau harga saham turun dan saham belum dijual, mereka menganggap belum rugi.

Masalahnya, anggapan "belum rugi kalau belum jual" inilah yang biasanya membuat pemain saham TIDAK MAU/TIDAK RELA cut-loss. Kalau belum dijual kan belum rugi, pikir mereka, jadi kalau posisi rugi ya jangan dijual. Tunggu saja sampai harga naik, baru deh dijual.

Tapi fakta yang tidak bisa dipungkiri adalah kalau mereka harus jual sekarang, posisi mereka rugi.

Bagaimana kalau harga saham naik?

Masalah juga.

Kok bisa?

Banyak pemain saham (termasuk saya, kadang-kadang)—yang menilai harga saham sesuai dengan harga beli—merasa sudah untung kalau harga saham di atas harga beli. Walaupun saham belum dijual. Selama harga saham masih di atas harga beli, tidak perlu khawatir toh?

Masalahnya, bisa saja harga saham sempat naik, tidak dijual, lalu harga saham turun perlahan-lahan sampai di bawah harga beli. Karena sudah di bawah harga beli, faktanya adalah posisi sudah berubah dari untung menjadi rugi.

Kalau dari untung berubah jadi rugi, gimana dong?

Dengan menggunakan logika "kalau belum dijual berarti belum rugi" mereka tetap HOLD saham tersebut. Lagi-lagi mereka berpikir: tunggu saja sampai harga naik, baru deh dijual.

Kalau rugi, tidak mau cut-loss

Kalau untung, tidak mau jual.

Kalau dari untung berubah menjadi rugi, lebih-lebih lagi tidak mau cut-loss.

Dari contoh di atas bisa anda bayangkan sendiri mengapa mayoritas pemain saham rugi.


---###$$$###---


Jadi, apakah ini berarti sebaiknya anda memakai konsep "marked-to-market"?

Secara umum, jawaban saya adalah: Iyo.

(Tapi, seperti yang sering saya katakan, tidak ada yang absolut ketika bermain saham. Ada kalanya, konsep "marked-to-market" tidak tepat untuk digunakan.)

Dengan "marked-to-market," anda SELALU menilai portofolio saham anda pada harga NYATA terkini. Jadi anda tahu dengan pasti nilai portofolio saham sesungguhnya.

Mau tahu cara menggunakan konsep "marked-to-market" dalam bermain saham? Silahkan baca pos "Langkah Pertama 'Marked-to-Market' Portofolio Saham Anda." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]