Sunday, March 2, 2014

Resiko & Masalah "Value Investing" Bagi Pemula

Anda baru saja selesai membaca buku tentang Warren Buffet, tentang bagaimana ia menjadi salah satu investor terkaya di dunia karena menerapkan investasi jangka panjang "value investing."

Terinspirasi buku tersebut, anda memutuskan untuk mengikuti jejak Warren Buffet menjadi "value investor". Mulailah anda menyelami analisa fundamental untuk mencari saham yang value/nilai-nya murah. (Silahkan baca pos "Apa Inti Analisa Fundamental.")

Anda mengumpulkan data-data perusahaan, membaca laporan keuangan, menghitung rasio finansial. Setelah 3 bulan kurang tidur melakukan semua hal ini, anda menemukan saham PT Bagus Murah (kode saham PTBM) seharga Rp 2000 per lembar yang menurut anda memenuhi kriteria "value investing."

Keesokan harinya, anda memasukkan order untuk membeli saham PTBM di harga 1950. Sebelum sesi perdagangan selesai, order beli anda terlaksana.

"Ah, PTBM," pikir anda, "engkau adalah langkah pertamaku untuk menjadi Warren Buffet Indonesia."

Nah, sambil menunggu cita-cita anda terwujud, izinkan saya bertanya: pernahkah anda memikirkan, kalau PTBM "value"nya murah di Rp 2000, kenapa anda bisa mendapatkan saham tersebut bahkan di bawah harga yangmenurut andamurah tersebut?

Yang pasti bukan karena anda pintar membujuk penjual untuk memberi diskon. Toh, membeli saham di bursa tidak ada interaksi langsung anda penjual dan pembeli.

Juga bukan karena saham PTBM yang anda dapatkan adalah saham KW(kualitas)2 atau KW3 karena saham tidak ada KW1 atau KW2 atau KW3: semua saham KWnya sama.

Kalau begitu, apa penyebab anda bisa membeli PTBM di harga yangmenurut andanilainya murah?

Untuk menjawab pertanyaan ini, anda terlebih dulu perlu tahu definisi "value." Nah, Jean V. Dubois mendefinisikan "value" suatu benda sebagai berikut:


" . . . . The value of thing is always relative to a particular person, is completely personal and different in quantity for each living human—'market value' is a fiction, merely a rough guess at the average of personal values, all of which must be quantitatively different or trade would be impossible."

Bahasa Indonesianya kira-kira begini:

Nilai suatu benda selalu tergantung pada masing-masing individu, adalah sepenuhnya personal dan berbeda kuantitasnya untuk setiap manusia—'nilai pasar' adalah fiksi, hanyalah tebakan kasar dari rata-rata nilai menurut setiap individu, yang mana kuantitasnya harus berbeda atau jual-beli tidak mungkin terjadi.


Dalam konteks main saham, definisi di atas menyatakan bahwa anda bisa mendapatkan saham yang—menurut andanilainya murah HANYA KALAU ada individu-individu lain yang menjual saham tersebut.

Nah, mengapa individu-individu tersebut bersedia menjual di hargayang menurut andamurah? Apakah karena mereka murah hati? Apakah karena mereka ingin anda menjadi Warren Buffet Indonesia?

Tentu saja tidak.

Alasan mereka menjual di harga tersebut adalah karena menurut mereka harga saham tersebut nilainya mahal. Oke, kalaupun tidak mahal, setidak-tidaknya tidak murah.

Kok begitu?

Karena kalau semua pemain saham merasa bahwa nilai saham tersebut murah, tidak ada seorangpun yang menjual dan anda tidak akan mendapatkan saham di harga tersebut.
 

Nah, menurut anda (pembeli) harganya murah; menurut penjual harganya tidak murah. Jadi, siapa yang benar?

Pertanyaan tersebut akan terjawab hanya dengan berjalannya waktu.

Artinya, kalau di masa depan harga saham PTBM naik, berarti valuasi si pembeli yang benar. Kalau di masa depan harga saham PTBM turun, berarti valuasi si penjual yang benar.

Oke, mari kita misalkan dulu bahwa saham naik: anda yang benar. Kalau hal ini terjadi, cerita selesai. Cita-cita anda menjadi Warren Buffet bisa segera menjadi kenyataan.

Tapi, menurut anda sejujurnya, berapa besar kemungkinan hal ini terjadi?

Anda seorang "value investor" pemula yang masih hijau, baru saja menyelami analisa fundamental selama beberapa bulan, baru pertama kali membeli saham. Penjual bisa saja sudah main saham puluhan tahun, mungkin juga adalah investor yang kantongnya tebal, yang sudah mengerti analisa fundamental dan teknikal luar-dalam sebelum anda lahir.

Nah, berapa besar kemungkinan bahwa anda yang benar?

Kalau anda objektif, anda akan menjawab, "Kemungkinannya kecil."

Setuju.

Oke, mari kita lanjut dengan kemungkinan kedua: saham turun, berarti penjual yang benar. Kalau hal ini yang terjadi, anda menghadapi masalah besar pertama anda sebagai "value investor."

Masalah besar? Masalah besar gimana?

Mari kita bahas.

Menurut analisa anda saham PTBM nilainya murah di harga Rp 2000. Tapi setelah anda beli, PTBM bukannya naik tapi malahan turun. Dan turunnya tidak tanggung-tanggung; dalam 3 bulan PTBM turun dari harga beli anda di 1950 ke 1500.

Nah, harga PTBM yang turun menandakan bahwa valuasi anda salah. Apa yang seharusnya anda lakukan kalau anda salah?

Kalau anda salah, seharusnya anda cut-loss. (Silahkan baca pos "Cara Cut-Loss Untuk Stop Kerugian Saham.")

Masalahnya, analisa fundamental hampir TIDAK PERNAH secara gamblang menganjurkan cut-loss. Oleh sebab itu, banyak "value investor" pemula yang menyimpulkan bahwa investasi jangka panjang tidak perlu cut-loss, bahwa kalau harga saham turun, langkah selanjutnya adalah menunggu. Menunggu apa? Menunggu harga saham naik. (Silahkan baca pos "Arti Istilah 'Trading Plan'.")

Menunggu saham naik bisa menjadi masalah besar untuk investor jangka panjang. Tapi masih ada masalah lain yang lebih berbahaya lagi karena cukup banyak "value investor" yang "cerdas" memakai logika.

Logika yang mereka pakai bunyinya begini: kalau PTBM murah nilainya di 2000, bukankah PTBM di harga 1500 berarti nilainya LEBIH MURAH lagi? Kalau lebih murah, bukankah sebaiknya ia membeli lagi PTBM di harga yang lebih murah ini?

Tindakan membeli lagi di harga lebih murah biasa disebut dengan istilah "averaging down." (Silahkan baca pos "Arti Istilah 'Averaging Down' Saham.")

Masalahnya, bagaimana kalau setelah anda "average down" PTBM di harga 1500, harga PTBM melanjutkan anjloknya, katakanlah, ke harga 1000. Kalau 1950 murah, 1500 lebih murah, bukankah 1000 SANGAT LEBIH MURAH? Kalau sangat lebih murah, bukankah seharusnya anda beli LEBIH BANYAK lagi di harga 1000?

Kalau setelah ke-sekian kali anda "average down" lalu harga PTBM naik, anda mungkin bisa balik modal atau bahkan untung. Tapi bagaimana kalau PTBM turun anda "average down", PTBM masih turun anda tetap "average down", dan PTBM masih saja turun dan anda sudah tidak punya uang untuk "average down" lagi?

Pada saat itu saya yakin anda mulai menerima kenyataan pahit bahwa "value investing" tidak semudah yang anda bayangkan. Dan cita-cita anda untuk menjadi Warren Buffet Indonesia harus ditunda dulu untuk beberapa saat.


Pesan yang ingin saya sampaikan di pos ini adalah:
  1. Value investing sangat sulit, tidak semudah penjelasan di buku atau seminar tentang Warren Buffet.
  2. Anda bisa mendapatkan saham yang menurut anda nilainya murah HANYA KALAU ada individu lain yang menganggap saham itu nilainya mahal (atau setidak-tidaknya tidak murah).
  3. Saham yang menurut anda nilainya murah bisa turun dan menjadi lebih murah lagi.
  4. Cut-loss bukan hanya harus dilakukan untuk trading saham jangka pendek tapi juga harus dilakukan untuk investasi saham jangka panjang.
  5. Terus membeli saham yang sedang terus turun karena menurut anda nilainya semakin murah adalah tindakan bodoh.







Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

30 comments:

  1. ibarat ada petir disiang bolong....

    Terimaksih bung iyan, sekali lagi tulisan anda sangat membatu saya.

    knapa ya kalau mau cut loss selalu galau? mungkin bung iyan ada jawabnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kok ada petir di siang bolong?

      Cut-loss memang selalu membuat galau. Tapi TIDAK cut-loss kemungkinan besar akan membuat anda LEBIH galau lagi.

      Delete
  2. iya bung ada petir di siang bolong?

    saya main saham persis yang bung iyan sampaikan diatas,
    terlalu bersemangat ingin menjadi penerus WB, saham pertama saya beli
    ENRG, BIPP, INPC
    saya ikuti hari demi hari BIPP dan INPC cenderung diam ditempat sedangkan ENRG dibanting2
    sampai saya ketemu blog bung iyan.....dengan galau saya jual semua ( walupun rugi) saya beliakan ASII ( biar harganya tinggi 6700 an), alhamdulillah gak galau lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. "Value investing" bisa jadi adalah cara investasi terbaik. Tapi tidak berarti "value investing" itu mudah. Faktanya, cuma ada SATU Warren Buffet di seantero jagat.

      Yang biasa bermimpi menjadi Warren Buffet Indonesia adalah pemain saham "kemarin sore" yang baru membaca buku atau mengikuti seminar cara sukses Warren Buffet. Kalau saja semudah itu, seharusnya sudah ada ribuan Warren Buffet Indonesia.

      Delete
    2. trimakasih bung iyan, dari dunia pasar modal saya belajar banyak hal,
      salut sama bung iyan, tidak ada promosi untung 100% perbulan dari saham... justru malah menggambarkan target rugi tidak besar dalam mendalami pasar.
      saya akan lebih giat belajar untuk menjadi tipe saya sendiri dalam saham.
      memang benar dalam saham tidak ada yang mudah dan instan
      kalo saham nya mie instan ada hehehe

      Delete
    3. @Nurrokhim.. Mohon maaf, bukan saya bermaksud membela, tapi BIPP, INPC, ENRG bukan termasuk saham2 yang memiliki moat tinggi dan manajemen yang bagus (INPC punya Tommy Winata, ENRG punya Bakrie). Justru saham2 tipikal WB adalah saham2 seperti ASII. Hanya sekedar opini. Salam :)

      Delete
    4. @doddy terimakasih koreksinya.... bukan maksud saya untuk menjelekkan tipe value investing, yang saya mau share adalah menjadi value investing ini tidak mudah. saya terbukti salah mengganalisa saham yang menurut saya nilai ya bagus waktu itu saya liat PEnya dibawah 5.
      sekali lagi terimakasih....saya akan belajar lebih giat lagi termasuk dari rekan doddy

      Delete
  3. Meskipun sebagian besar saya kurang sependapat dengan isi artikel ini, saya setuju untuk berhati-hati terhadap 'value trap'. Saham yg dikira murah, tp ternyata memang murahan. Salam, Doddy (DNACapitalGroup.com)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anda mungkin termasuk salah satu yang bercita-cita menjadi Warren Buffet Indonesia.

      Dan sah-sah saja anda kurang sependapat dengan saya. Tidak sependapat 100% pun boleh. Kalau semua orang sependapat, tidak ada saham bisa dibeli dan tidak ada saham bisa dijual.

      Delete
    2. Iya Bung Iyan, setuju sekali. Kalau semua investor, sulit bagi kami untuk membeli saham pada harga yang dibanting.. Justru karena ada pemain short term dan market yang tidak rasional, kami dapat membeli diharga yang terdiskon.. :)

      Salam

      Delete
    3. Saya juga senang kalau makin banyak "value" investor jangka panjang.

      Bhineka Tunggal Ika. Cara boleh berbeda, tujuan tetap sama.

      Delete
  4. Salam bung Iyan, ..
    Akhirnya bisa komentar juga di sini setelah dapat pencerahan dari bung Iyan, postingan yg bagus... tetap semangat ya.. masi banyak postingan yg kelom kelar .. hahaha
    Salam sukses
    Dino
    Surabaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dino, terima kasih sudah meninggalkan komentar.

      Delete
  5. mohon pencerahan bung iyan, mengenai cut loss untuk investasi saham jangka panjang? menggunakan support resistance atau persentase.. thankyou so much

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cut-loss jangka panjang ataupun jangka pendek bisa memakai sistem persentase, sistem nominal, atau analisa teknikal. Cara terbaik adalah dengan analisa teknikal, tapi anda perlu ilmu dan pengalaman yang memakan waktu lama.

      Cara paling mudah adalah sistem persentase. Anjuran saya untuk pemula: Mulailah dengan sistem persentase.

      Baca pos "Cara Cut-Loss Untuk Stop Kerugian Saham."

      http://terusbelajarsaham.blogspot.com/2010/12/cara-cut-loss-untuk-stop-rugi-main_13.html

      Bagaimana cara melakukan cut-loss untuk investasi jangka panjang dengan sistem persentase?

      Tentang cut-loss untuk investasi jangka panjang, Inti yang perlu anda ingat adalah sebagai berikut:

      Kalau bingkai waktu main saham makin pendek, harus makin cepat cut-loss. Artinya, turun 5-10% saja sudah harus cut-loss.

      Kalau bingkai waktu main saham panjang, cut-loss boleh lebih santai. Artinya, (mungkin) turun 10-20% baru cut-loss.

      Delete
  6. Sekali lagi, setelah membaca pos blog ini, saya ingin berdiskusi lebih jauh seputar newbie/pemula di bidang saham. Bahasan posting kali ini sangat menarik menurut saya.

    Saya punya ilustrasi, misal saham PTBM "dianggap" murah oleh buyer tipe fundamental pada kisaran 200. Dibeli dikoleksi sekian lot. Lalu dalam waktu sebulan, harga berjalan antara 180-200. Buyer terus melakukan average down kisaran tersebut, hingga "jatuh" menyentuh 150 pada saat sentimen negatif menyerang IHSG. Di sini buyer tetap average down hingga terkumpul sekian ribu lembar (puluhan lot) dengan harga rata2 nya 175 (koma sekian2).

    Minggu berikut nya, harga menyentuh level 190, secara hitungan rerata, maka gain didapat. Apa yang bijak dilakukan? Menaikkan rerata? Atau hold tanpa transaksi dengan menebak bahwa besok bisa lebih naik lalu menjual sedikit demi sedikit? Atau juga menunggu level harga "jatuh" di bawah rerata buyer (dibawah 175an) untuk mengkoleksi kembali?

    Kedua, misalkan ada seorang pegawai hotel. Disodorkan 2 saham bluechips yang dinilai pasar "sangat bagus". Saham 1, di bidang batubara, kemudian saham 2 di bidang pariwisata. Memilih berdasarkan bidang yang diketahui atau dikuasai, apakah menurut teori WB atau teori2 fundamental lainnya itu salah?

    Terakhir, (maaf bila sedikit out of Topic), seputar newbie/pemula, bila saham PTBM tadi memiliki 1 juta lembar saham yang dilempar ke pasar modal. Apakah mungkin atau apakah ada keadaan dari 1 juta lembar saham itu habis diserap oleh investor yang sama2 posisi menyimpan? Atau misal ada buyer dengan modal besar, memborong 900 ribu lembar dan hold, apakah hal tersebut justru menaikkan harga atau menurunkan harga?

    Terimakasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1. Apa yang sebaiknya anda lakukan TERGANTUNG apakah anda investor jangka panjang atau jangka pendek DAN TERGANTUNG apakah tren saham cenderung naik atau turun.

      Kalau anda investor jangka panjang dan tren naik, sebaiknya tunggu saham naik lebih banyak; kalau tren turun, sebaiknya dijual.

      Kalau anda investor jangka pendek dan tren naik, sebaiknya jual sedikit-sedikit; kalau tren turun, sebaiknya langsung dijual semua.

      Yang perlu anda pikirkan: kalau saham turun anda "average down" lalu saham naik anda tetap beli terus, pertanyaan saya: apa tujuan anda beli saham? Apakah untuk sekedar "koleksi"?

      2. Saya bukan pengikut Warren Buffet atau penganut analisa fundamental, jadi saya tidak tahu jawabannya.

      Kalau menurut Peter Lynch, anda sebaiknya beli saham di bidang yang anda kuasai.

      3. Kalau anda tanya saya "apakah mungkin", jawaban saya: Mungkin.

      Kalau saham beredar cuma sedikit, harga saham naik atau turun tergantung maunya yang punya saham banyak (alias si "bandar").

      Delete
  7. Fondasi bagi seorang value investor selain kejelian dan kesabaran untuk memilih saham yg befundamental bagus pada harga yg murah (wajar) , juga mental baja untuk sabar menunggu (bisa bertahun-tahun) harga saham itu akhirnya disadari oleh pasar ternyata memang under-valued. Karena kondisi mental inilah , maka value investor sejati , cuman sedikit jumlahnya (minor) di pasar. Mereka terkadang melawan pasar (contrarian) menjadi bebek ungu sendirian diantara gerombolan bebek lainnya. Mereka akan melakukan cut-loss bukan karena harga saham itu turun dalam, melainkan karena emiten saham tidak berprospek bagus lagi ke depannya atau karena salah pilih saham (ternyata saham tsb fundamennya kurang bagus dan atau kemahalan ).

    ReplyDelete
  8. Artikel yg menohok pak, untuk newbie yg baru belajar FA dikit dan menganggapnya holy grail untuk sukses main saham.
    Lihat saham apalagi bluechip yg harganya turun terus memang bikin pengen beli, obatnya saya ingat2 saja yg no 3, kadang ampuh kadang tidak, hehehe...

    Pak Iyan, artikel yg nonjok juga ditulis pak Satrio di
    http://rencanatrading.com/2012/05/31/valuasi-sebuah-sudut-pandang-dari-sisi-stick-and-carrot/
    Apa benar begitu pak? kasihan bgt ya ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mama naunau,

      Jangan salah mengartikan bahwa Fundamental Analysis (FA) tidak penting. FA penting. Tapi FA bukan satu-satunya cara menganalisa saham. Dan FA belum tentu cocok untuk anda. Yang tak kalah penting: FA itu sangat sulit, jadi jangan dengarkan orang-orang yang memberi kesan SEAKAN-AKAN FA itu mudah dan SEAKAN-AKAN value investing ala Warren Buffet adalah holy grail.

      Tentang artikel bung Satrio, bagian mana yang "kasihan bgt"?

      Delete
    2. Bagian dimana pemodal dikasi ilusi seolah2 harga saham masih dibawah valuasinya, sehingga masih dianggap undervalue sehingga pemodal mau terus membeli saham tsb. Entah bgmn caranya bisa mengakali valuasi, mungkin lapkeunya yg dibagus-bagusin atau bagaimana. Begitu sih sepenangkap saya, atau bagaimana sih yg sebenarnya?

      Delete
    3. Tentang bagian itu, saya setujug dengan bung Satrio. Ada pihak-pihak yang pintar mengakali valuasi.

      Saya tidak tahu persis bagaimana perusahaan mengakali valuasi, tapi karena valuasi biasanya diukur dari data laporan keuangan, ya data laporan keuanganlah yang dipoles.

      Oleh karena itu, "value investor" harus berhati-hati dan teliti ketika menganalisa fundamental perusahaan.

      Delete
    4. Apa kabar, Bung Iyan? Wah, saya pergi relatif lama untuk persiapan ujian CMT saya Mei ini, Bun Iyan malah sudah jauh sekali berkembang blognya. Luar biasa! Jadi sekarang Bung Iyan resmi jadi konsultan saham profesional?

      Kritikan Bung Iyan cukup menohok, tetapi saya sependapat karena saya sering menemui para 'nyangkuters' yang tidak mau mengaku 'kalah' walaupun sudah jelas-jelas salah melakukan valuasi. Setahu saja Benjamin Graham yang bapak Value Investor dan guru Warren Buffet saja melakukan Timing Cut Loss jika saham yang beliau anggap murah valuasinya ternyata memang saham murahan. Biasanya setiap 6 bulan sekali (ada rekan saya yang berpendapat Graham bisa menyimpan saham sampai 2 tahun baru meninjau lagi valuasinya, tetapi saya kurang sependapat untuk yang satu itu) setahu saya Graham akan tinjau ulang portofolionya, dan saham yang sepertinya prospeknya meragukan/murahan ya akan beliau buang.

      BTW, ide menyimpan saham bagus selamanya sebenarnya berasal dari Phillip Fisher, bukan Warren Buffet. Dan cara main saham ala Fisher itu harus ulet scuttlebutt (blusukan) terjun ke lapangan investigasi langsung kinerja riil emiten sepertinya layaknya seorang detektif. Ada 15 pertanyaan penting yang harus investor cari tahu dengan blusukan ke lapangan, dan jika nyaris semua jawaban akan pertanyaan itu positif, barulah saham layak disimpan (nyaris!) selama-lamanya. Buffet sendiri mengakui cara main saham dia terpengaruh oleh Graham (cerdas menafsirkan LK) dan Fisher (lihai menilai kinerja emiten riil). Jadi kalau dari sekedar baca LK saja langsung memutuskan saham layak disimpan selamanya ya itu adalah keputusan yang sangat naif dan nyaris bisa disebut goblok.

      Jadi Value Investor tidak boleh 'sok tahu', justru karena itu Graham memberi ide Marjin Aman sebelum melakukan Value Investing. Jika investor sudah berhasil mendapatkan nilai wajar akan suatu saham bagus, investor tidak boleh langsung membeli saham tersebut. Tunggu sampai marjin aman cukup, barulah saham boleh dibeli. Jika kata marjin aman membingungkan, silakan ganti kata 'marjin aman' dengan 'diskon'. Saran Graham untuk diskon adalah 50% dari nilai wajar. BTW, diskon sebesar itu sangat jarang terjadi di pasaran. Sebagai perspektif, IHSG hanya drop lebih dari 50% sebanyak 3 kali saja sepanjang sejarah, yaitu pada tahun 1991 (bubble Jepang pecah + perang Teluk), 1998 (krismon Asia Tenggara), dan 2008 (Lehman Brothers bangkrut + bubble komoditas pecah). Value Investor yang cerdik akan sangat waspada menjelang tahun 2020, karena IHSG cenderung memiliki siklus pasar 8 - 10 tahunan.

      Kunci keberhasilan Value Investor adalah sahamnya harus 'bagus' dan 'murah'. Saham bagus darimana? Nah, disinilah Buffet menekankan aspek kuantitatif (tafsir LK ala Graham) dan dan kualitatif (blusukan ala Fisher). Bahkan sepertinya Buffet lebih menekankan blusukan daripada tafsir LK sebagai investor, karena menilai kinerja bisnis dan manajemen riil itu lebih 'seru' (yang ini memang subjektif sih) daripada membaca LK yang 'kering' dan 'ngejlimet'. Kalau teman saya sesama Value Investor masih toleran invest di emitennya jika kenyataan riil di lapangan paling tidak masih 80% (ini rada subjektif juga memang, tapi intinya emiten tidak seniat itu untuk ngibul) sesuai dengan apa yang tercantum di LK.

      Delete
    5. Bung Willy, semoga sukses ujian CMT-nya. Luar biasa bung Willy ini: ikut CFA, ikut CMT.

      Tentang konsultasi saham: saya hanya memberikan pilihan kepada pembaca. Kalau mau konsultasi, monggo.

      Komentar bung Willy di atas sangat tepat dan saya setuju 100%.

      Inti pos saya BUKAN menjelek-jelekkan Analisa Fundamental. Walaupun saya sudah meninggalkan Analisa Fundamental, tidak berarti Analisa Fundamental jelek.

      Inti pos di atas adalah: Analisa Fundamental TIDAK MUDAH. Jadi, jangan sekali-sekali percaya pada "pakar" yang mengatakan SEAKAN-AKAN Analisa Fundamental itu mudah.

      Delete
  9. terima kasih mas iyan blog nya sgt bermanfaat utk menambah pengetahuan bagi pemula spt saya yg punya rencana main saham..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih telah meninggalkan komentar.

      Delete
  10. wah wah sangat menohok pak.
    saya sebagai pemula yang memilih jalur value invest, kini jadi sadar bahwa BETAPA saya belum tahu apa-apa justru stelah membaca artikel sampeyan ... emang bener sih, value investing tidak sesederhana yang dibayangkan.. saya akan terus belajar. thx pak! :)

    ReplyDelete
  11. Bung Sanda,

    Kalau value investing mudah, pasti sudah banyak Warren Buffet-Warren Buffet lainnya.

    ReplyDelete
  12. Tulisan yang langsung kena ke saya, karena hal ini baru saja saya alami.

    Sebelum saya membaca artikel ini, saya juga sudah berpikir untuk 'tidak usah takut kalau nilai sahamnya turun terus, kan berarti bisa beli lebih banyak lagi(averaging down)'.

    Memang kemungkinan untuk naik lagi tetap ada, tetapi benar seperti yang Pak Iyan tulis, saya jadi harus mengakui kalau saya tidak tahu apa-apa dan masih sangat kurang dalam menyelidiki perusahaan tersebut untuk memutuskan membeli atau tidak, dan membaca grafik saja tidak cukup.

    Satu lagi yang saya pelajari dari kejadian ini, untuk melakukan cut-loss itu rasanya lebih banyak proses mental melawan pikiran-pikiran 'siapa tahu harganya masih bisa naik' yang selalu muncul dan membuat kita selalu menunda untuk 'membeli' atau 'menjual'.

    Oh ya, apakah Pak Iyan sudah pernah menulis di blog ini tentang bagaimana kita menilai performa sebuah perusahaan dari laporan keuangannya?

    Terima Kasih untuk responnya yang cepat. ^_^






    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear William William,

      Di halaman "About" saya menulis bahwa saya sudah lama "meninggalkan" analisa fundamental dan sekarang ini lebih mementingkan analisa teknikal..

      Kalau anda ingin tahu tips membaca laporan keuangan, silahkan baca pos "Cara Membaca Laporan Keuangan Tahunan Perusahaan."

      http://terusbelajarsaham.blogspot.co.id/2014/01/cara-membaca-laporan-keuangan-tahunan.html

      Delete

Pertanyaan dan komentar anda akan saya jawab sesegera mungkin. Maaf, saya tidak menerima pertanyaan dan komentar anonim. Promosi, iklan, link, dll, apalagi hal-hal yang tidak berhubungan dengan main saham TIDAK AKAN ditampilkan.