Saturday, October 2, 2010

Target Laba Main Saham (Bagian IV)

Protected by Copyscape Online Plagiarism Tool

Pos ini adalah bagian keempat dari empat pos:
  1. Target Laba Main Saham (Umum)
  2. Target Laba Investasi Saham (Jangka Panjang)
  3. Target Laba Trading Saham (Jangka Pendek)
  4. Contoh Kasus Laba/Rugi Main Saham

 
Contoh Kasus Laba/Rugi Main Saham

 
Saya menggunakan data saya sendiri sejak tahun 1997 untuk contoh kasus laba/rugi main saham di sini. Dengan data tersebut, saya tidak bermaksud menyombongkan atau mempromosikan diri sendiri karena hasilnya biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa.

Ada beberapa sebab saya melakukan hal ini:
  1. Saya tidak punya data akurat investor biasa yang lain. Memang data laba investor terkemuka seperti Warren Buffet atau George Soros banyak dipublikasikan, tetapi sangatlah tidak layak membandingkan diri kita dengan mereka. Kita bukan Warren Buffet dan hampir tidak mungkin menyamai prestasi beliau.

  2. Saya ingin memaparkan hasil sesungguhnya yang ada laba dan juga ada rugi, tanpa dipoles untuk tujuan promosi, agar para pemain saham lain tidak minder kalau mereka sering merugi. Kalau kita mendengar semua orang lain untung tapi kita sendiri rugi, kemungkinan kita malu mengakuinya. Padahal mungkin orang yang mengaku untung itu hanya sesumbar dan menutupi kenyataan bahwa diapun sering rugi.

 
Laba/Rugi Main Saham Iyan

 
Tahun
IHSG (%)
Laba (%)
1997
-37
-40
1998
-1
-70
1999
+72
+10
2000
-39
-50
2001
-6
-10
2002
+10
+0
2003
+63
+15
2004
+45
+0
2005
+16
+13
2006
+55
+10
2007
+51
+120
2008
-51
+28
2009
+84
+37

 
Catatan:
  • Saya mulai main saham pada bulan Juni 1997
  • Tahun 1997 sampai dengan tahun 2002 saya melakukan strategi investasi jangka menengah, berubah ke trading jangka pendek dari tahun 2003 sampai sekarang.
  • Data laba/rugi tahun 1997 sampai dengan 2003 adalah perkiraan karena saya belum menyimpan data akurat.

 
Analisa

Dari tabel laba/rugi di atas kita melihat bahwa:
  1. Saya rugi selama 5 tahun--1997 s/d 2001—sebelum mulai mendapat untung. (Tahun 1999 memang untung 10%, tapi itu sangat buruk bila dibandingkan IHSG yang naik 72%.)
  2. Saya mulai untung pada tahun ketujuh, tahun 2003, tapi untung 15% tersebut walau memenuhi target trading pemain menengah (laba 1% per bulan) tetapi sangat kecil dibandingkan IHSG yang naik 63%.
  3. Hasil tahun 2004-2006 kurang lebih sesuai dengan target trading pemain menengah tapi kurang memuaskan karena IHSG naik lebih tinggi.
  4. Tahun 2007 saya mendapat untung 120% (dua setengah kali kenaikan IHSG sebesar 51%). Walau menggembirakan dan jauh di atas target trading pemain mahir (laba 3% per bulan), hasil itu mungkin hanya kebetulan saja. Saya tidak boleh mengambil kesimpulan dari sesuatu yang baru terjadi satu kali.
  5. Tahun 2008 dan 2009 saya kurang lebih mencapai target laba trading yang saya tentukan.

Bagaimana dengan hasil Anda?







Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2010 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

85 comments:

  1. Pak Iyan, kenapa berubah dr investasi ke trading jangka pendek? apakah ada alasan tertentu?

    ReplyDelete
  2. Terima kasih atas pertanyaannya.

    Alasannya karena saya gagal total sebagai investor. Saya mulai main saham ketika krisis moneter tahun 1997 (silahkan baca profil saya) dan rugi habis-habisan. Jadi saya trauma dengan investasi, beralih ke trading, dan lebih beruntung.

    Itu tidak berarti trading lebih baik dari investasi; cuma saya lebih cocok dengan trading. Kalau sempat, coba baca pos "Main Saham atau Investasi Saham, Mana Lebih Baik?"

    ReplyDelete
  3. Terimakasih pak Iyan sharingnya. Bikin buku donk pak, tulisan Bapak sangat jujur dan menarik, membuka wawasan dan berbeda dr buku2 yg saya baca ttg trading saham

    ReplyDelete
  4. Anonim, terima kasih untuk komentarnya.

    Saya menulis jujur apa adanya karena tujuan utama saya menulis adalah untuk menganalisa diri saya sendiri: mengapa saya rugi, mengapa keuntungan saya relatif kecil, mengapa saham yang saya beli langsung turun, mengapa return trading saya jauh di bawah return pasar (IHSG)?

    Kalau saya tidak jujur, bagaimana saya bisa tahu sumber kesalahan saya? Hanya dengan mengetahui kesalahan yang saya buat barulah saya dapat memperbaiki diri.

    Saya memang bercita-cita menulis buku tapi kemungkinan besar buku (tentang saham) tersebut adalah kumpulan tulisan di blog ini.

    Bukannya saya tidak mau menulis buku tersendiri. Tapi menulis dengan jelas dan lugas sangat sulit dan menyita waktu. Untuk menulis satu pos di blog ini saja saya rata-rata memerlukan waktu 3-5 jam untuk menulis, merevisi, merevisi. Maklum lah, kan saya penulis amatiran.

    Anonim, komentar positif dari anda mendorong saya untuk tetap menulis dan berbagi pengalaman kendati saya harus meluangkan banyak waktu.

    Sekali lagi, terima kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pak Iyan, ini yang juga sangat sering saya alami dan saya selalu bertanya2: Mengapa saham yang saya beli langsung turun?

      Terus terang saya tidak paham mengapa banyak saham yang saya beli langsung turun. Padahal, dari indikator juelas jelas saham itu rebound. IHSG juga naik waktu itu. Saham yang saya beli bukan saham gorengan..

      Sering saya analisis 3-5 saham yang secara teknikal jelas rebound. Lalu 1 saham diantaranya saya beli lha kok habis dibeli langsung turun. Malahan, 2-3 saham lainnya yang akhirnya nggak saya beli malah naik kencang...

      Karena Pak Iyan juga mengalami hal yang sama: engapa saham yang saya beli langsung turun? Saya ingin sedikit pandangan dari Pak Iyan, kira2 hal seperti itu apa penyebabnya menurut perspektif Pak Iyan?

      Terima kasih

      Delete
  5. Mantab gan artikelnya, jarang ada trader yg sharing untung / ruginya berapa. Di 2010 ini bagaimana hasilnya? Apalagi Nov dan Des yg relatif berdarah-darah. Jan 2011 jangan ditanya, pasti rugi besar ya, hehe. Saya dukung pembuatan bukunya, sebagai inspirasi trader-trader yang lain. Tks.

    ReplyDelete
  6. Oguds, terima kasih untuk komentar dan pertanyaannya.

    Saya berencana menulis pos tersendiri tentang imbal-hasil/return saya di tahun 2010. Berhubung anda sudah bertanya, saya jawab seadanya dulu ya.

    Tahun 2010, return saya +17%. Sangat buruk kalau dibanding return BEI yang naik 47%. Saya masih menganalisa kenapa hasil saya lebih jelek dari BEI.

    Pada Nov dan Des 2010 return saya kira-kira 0% karena saya hampir tidak trading.

    Pada Jan 2011, return saya -1%. Relatif baik kalau dibanding BEI yang turun 10-15%.

    Kenapa saya cuma -1%? Karena saya konsisten menerapkan prinsip cut-loss. Cut-loss adalah hal yang MAHA penting. Silahkan baca pos "Mau Main Saham? Ingat Tiga Hal Maha Penting Ini" dan pos "Cara Cut-Loss Untuk Stop Kerugian Saham."

    Pemain saham biasanya baru sadar pentingnya cut-loss waktu market turun tajam dan ia merasakan betapa menyiksanya posisi rugi besar.

    ReplyDelete
  7. Terima kasih Pak Iyan,
    tulisannya sangat bagus dan bermanfaat.
    saya baru bergabung dengan etrading dan mulai beli saham hari rabu kemaren. Belum seminggu sudah rugi 0.5%. Saya akan baca artikel yang lain dan terus belajar.
    sekali lagi terima kasih tulisannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yono, terima kasih untuk komentarnya. Semoga dengan terus belajar, Yono bisa cepat mendulang untung dari bermain saham.

      Delete
  8. pak iyan ,
    klo mw main saham ,
    syarat2ny apa saja !
    hrus pnya rekening atao apa ?

    ReplyDelete
  9. Kalau mau main saham, anda harus buka rekening di broker saham. Tanpa rekening, anda tidak bisa bertransaksi.

    Syarat-syarat membuka rekening bisa anda lihat di situs-situs mereka (e-Trading, IPOT, dll).

    ReplyDelete
  10. Pak Iyan, saya termasuk newbie soal saham meskipun saya sudah konsisten menerapkan DCA untuk membeli beberapa Reksadana Saham sejak tahun 2009. Berikut rangkuman hasil investasi RDS saya dengan menjalankan strategi DCA.
    2009 (5 bulan) = 5.12%
    2010 (12 bulan) = 23.69%
    2011 (12 bulan) = 21.92%
    2012 (6 bulan) = -0.73%

    Kalo dulu saya gak perduli soal harga, pokoknya tiap abis gajian pasti beli RDS, nahh saat ini saya baru terpikir untuk mulai "bermain" saham. Blog bapak sungguh patut jadi bahan bacaan bagi newbie kayak saya. Bahasa nya sangat mudah dimengerti dengan alur yang jelas. Bravo Pak Iyan ! :-)

    Ada beberapa pertanyaan nih Pak, maaf kalo pertanyaan nya cemen yaa :-p
    1. Saya masih bingung kriteria trading saham. Karena ada mekanisme T+3 di saham, apa bisa saya beli saham X hari ini kemudian kalo besok naik, saya jual lagi ?
    2. Bapak bilang, kalo kita punya toleransi tinggi terhadap resiko maka pilih lah investasi. Saya punya toleransi tinggi terhadap investasi, tapi mau juga belajar trading saham. Gimana Pak ?
    3. Saya masih bingung kriteria saham "gorengan". Apa yang harus kita liat untuk menentukan saham itu gorengan atau bukan ?
    4. Dalam menentukan target laba trading saham, apakah harus memperhitungkan biaya administrasi dan biaya jual/beli dari broker ? Karena biaya2 itu kan akan mengurangi laba kita Pak.

    Salam
    ///Andy

    ReplyDelete
    Replies
    1. Andy, terima kasih utk sharing hasil investasi reksadana saham yang sangat baik. Tapi saya mau tanya, apa singkatan dari DCA?

      Pertanyaan Andy sangat bagus dan memberi inspirasi saya untuk menulis blog untuk menjawab pertanyaan secara detil. Sekarang saya jawab secara ringkas dulu ya.

      1. Mekanisme T+3 adalah untuk PEMBAYARAN NET TRANSAKSI. Artinya kalau Andy beli sejumlah Rp. 5 juta dan menjual Rp. 1 juta pada hari yang sama, pada hari T+3 rekening Andy akan didebit Rp. 4 juta rupiah.

      T+3 tidak mempengaruhi kepemilikan saham, hanya untuk penyelesaian pembayaran. Jadi, setelah Andy membeli suatu saham, detik berikutnya pun Andy sudah bisa menjual saham tersebut.

      2. Kalau Andy punya toleransi tinggi pada resiko dan ingin belajar main saham sendiri, tentu saja tidak ada salahnya. Tapi mulailah dengan hati-hati.

      3. Saham "gorengan" biasanya adalah saham yang VOLUME tranksaksinya relatif kecil atau yang biasa disebut "tidak liquid." Karena volume kecil ini, harga saham bisa naik turun sangat cepat karena tidak banyak BID dan OFFER. Sebaiknya Andy beli saham-saham yang volume transaksi hariannya cukup ramai.

      4. Saya selalu menghitung laba NET setelah dipotong semua biaya transaksi dan membayar "gaji" saya sendiri.

      Semoga cukup jelas dan membantu.

      Delete
    2. Wahhh jawabannya ringkas tapi padat Pak, thanks yaaa.

      btw, DCA itu singkatan Dollar Cost Averaging (http://en.wikipedia.org/wiki/Dollar_cost_averaging). Jadi intinya saya rutin membeli RDS tanggal 28 tiap bulannya dengan jumlah rupiah yang tetap. Jadi pembelian bertahap gitu loh Pak, untuk meminimalisir kerugian akibat pergerakan harga NAB di RDS. hehehehehe ***maaf kalo saya jadi sok tau***

      Masih boleh nanya kan Pak ? :-p

      1. Uang cash kita untuk trading saham itu kan disimpan di RDI (Rekening Dana Investor) yaa Pak. Nahh, apakah tiap ada transaksi beli/jual yang kita lakukan, saldo RDI kita akan otomatis berubah saat itu juga ? Jadi misalnya ada saldo RDI 10juta, trus kita jual saham 40juta, maka saldo RDI kita langsung jadi 50juta. Dan saat itu juga kita bisa beli saham lagi maksimal 50juta. Gitu gak Pak ?

      2. Kalo dari beberapa artikel Bapak, hampir selalu memberi contoh "modal sekaligus". Bagaimana kalo saya sebagai pemula menggunakan modal bertahap ? Misalnya setiap bulan saya mampu menyisihkan 1juta (uang idle yang saya ikhlaskan meskipun habis/hilang) untuk main saham (murah). Apapun kondisi nya (untung/rugi) maka di bulan kedua modal saya tambahkan lagi 1juta dan begitu seterusnya. Untuk pemula, efektif kah cara itu Pak ?

      3. Kalo pemula sebaiknya menghindari saham "gorengan" yang tidak liquid, berarti sebaiknya main di saham blue-chips dong Pak ? Jadi saya rencana nya cuma mau main saham syariah (ISSI) aja Pak. Berarti pilihan saham liquid nya itu yang ada di index JII yaa Pak ?

      4. Untuk tabel Laba/Rugi main saham yang bapak sampaikan di artikel ini, itu membandingkan total modal (cash+fee) selama setahun terhadap total hasil investasi (cash-fee-gaji) di akhir tahun kan yaa ? Atau bagaimana perhitungan sebenarnya Pak ?

      Semoga gak bosan menjawabnya yaa Pak. Terima kasih
      ///Andy

      Delete
    3. Oh, DCA itu Dollar Cost Averaging. Kalau singkatan, saya gak bisa nebak artinya. Trims.

      Jawaban saya:

      1. Dana kita di Rekening Dana Investor (RDI) akan dipotong pada hari T+3, tidak langsung pada saat transaksi.

      Tapi kalau Andy main dengan fasilitas online trading--di mana dana nasabah biasanya mengendap di rekening broker (bukan di RDI) dan diperlakukan sebagai jaminan (trading limit)--dana "available" Andy langsung dipotong jumlah pembeliaan saat itu. Artinya Andy boleh beli saham lain cuma sejumlah uang yang tersisa.

      Jadi harus dibedakan antara berkurangnya "trading limit" dan berkurangnya (cash flow) dana.

      Bingung?

      Contoh: Andy ada dana awal Rp 10 juta di rekening IPOT (Indo Premier Online Trading). Hari ini (T+0) Andy beli saham Rp 2 juta. Di IPOT, saat itu juga "cash available" Andy tersisa Rp 8 juta. Karena "cash available" ini dianggap sebagai jaminan, jadi IPOT hanya memperbolehkan Andy beli saham lain sejumlah "trading limit" ini. Tapi pemotongan dana Rp 2 juta ini baru resmi dilakukan pada T+3.

      Kalau Andy punya dana Rp 10 juta dan pada hari ini (T+0) menjual saham sejumlah Rp 40 juta, "trading limit" Andy menjadi Rp 50 juta pada saat itu juga. Tetapi dana Rp 40 juta ini baru akan efektif masuk ke RDI Andy pada hari T+3. Artinya, kalau Andy mau menarik dana Rp 40 juta tersebut, baru bisa dilakukan setelah T+3.

      [Untuk mempermudah pembahasan, saya menyamakan "cash available" dengan "trading limit." Pada prakteknya, "trading limit" tidak selalu sama dengan "cash available," karena perhitungan trading limit dipengaruhi portofolio saham investor.]

      2. Contoh saya sebenarnya adalah modal bertahap, tapi bertahap setiap tahun, bukan setiap bulan. Saya tidak menyaranankan bertahap per BULAN karena waktunya yang relatif pendek. Tapi kalau mau dicoba, boleh saja.

      3. Pemula lebih baik mulai dengan main saham "blue chip" atau "semi blue chip." Yang penting, main saham yang liquid. Saham komponen indeks JII belum tentu semua liquid. Jadi Andy harus memilih sendiri dengan melihat volume transakasi saham-saham tersebut.

      4. Untuk memudahkan perhitungan Laba/Rugi main saham, saya memisahkan rekening bank untuk transaksi saham dari rekening bank untuk keperluan pribadi. Setiap akhir bulan, saya membayar "gaji" dari rekening ini. Jadi untuk menghitung Laba/Rugi pada akhir minggu/bulan/tahun, saya hanya perlu membandingkan dana pada saat itu dengan awal dana.

      Fee tidak perlu diperhitungkan lagi karena dana yang dibayar broker ke saya sudah dipotong fee transaksi.

      Intinya: hitungan Laba/Rugi saya adalah NET setelah dipotong fee, gaji, dan lain-lain.


      Semoga cukup jelas.

      Delete
    4. Mantabbhhh..... sangat amat jelas sekali :-p
      Terima kasih banyak Pak Iyan atas sharing nya. Jarang2 nih ada pemain saham yang mau share men-detail seperti Bapak.

      Semoga makin sukses Pak.
      Ditunggu artikel2 selanjutnya...

      Delete
  11. wah blog ini keren juga nih, bisa tanya jawab gratis..!!untuk pemula seperti saya memang direkomendasikan membaca semua artikel yang ada dsini.
    mau tanya nih pak Iyan, cara mencari rata nilai IHSG gmn caranya???klo ada di artikel ini tolong dikasih tau ya.
    mau tanya nih, kmrn saya beli saham ARTA di hrga 470, skrg harganya ciut jadi 420, brp ya kira2 harga cut loss nya supaya gk rugi lagi???

    ReplyDelete
    Replies
    1. IHSG adalah indeks berdasarkan market capitalization (kapitalisasi pasar). Apa itu market capitalization?

      Kapitalisasi pasar, misalnya, saham A adalah jumlah saham A dikali dengan harga saham A.

      IHSG adalah RATA-RATA dari kapitalisasi SEMUA saham yang ada di Bursa Efek Indonesia.

      Untuk lebih jelasnya, suatu saat saya akan menulis pos tentang cara menghitung indeks.

      Tentang ARTA, maaf saya tidak memberi rekomendasi tentang saham tertentu. (Silahkan baca ABOUT di blog ini.)

      Delete
  12. malam pak Iyan,
    saya ferry, saya begitu tertarik dengan main saham tetapi saya blm begitu mengerti tentang main saham itu. Akibat dari rasa penasaran saya yg tinggi itulah dalam beberapa hari ini saya mencari informasi ttg main saham. Awalnya hanya sekedar tertarik untuk mengkaji lebih dalam saja ttg ilmu main saham, akan tetapi rasa ketertarikan itu berubah menjadi rasa ingin mencoba terjun ke dunia main saham ini..

    nahh, keinginan saya ini sdkit terkendala krn saya tidak begitu tahu cara memulai ny dan link mana yg harus saya hubungi untuk pertama kalinya..

    untuk itulah mohon sekiranya pak iyan bs membantu memberi pencerahanya ttg ini,, Terima kasih banyak atas perhatian nya pak..
    kalau boleh nanti saya minta alamat email bapak spya saya bisa kirim pesan ke email bpk saja..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Langkah pertama untuk main saham adalah dengan membuka rekening transaksi saham di perusahaan broker saham. Coba google broker-broker Indo Premier, E-Trading, Philips Securities, Mandiri Sekuritas, BNI Sekuritas, dll.

      Setelah rekening siap, baru belajar dilanjutkan.

      Banyak orang yang bilang tertarik belajar, tapi tidak beraksi dan mau hasil instan. Tidak ada yang instan, tidak ada mudah.

      Alamat email saya bisa dilihat di "Mengenai Saya." Karena keterbatasan waktu, tidak semua email akan saya jawab.

      Delete
  13. malam pak iyan, saya seorang mahasiswa Teknik Informatika tingkat akhir, saya tadinya tidak tertarik saham, tp setelah kurang lebih 3 hari ini saya terus membaca blog bapak, saya jd tertarik dengan saham...

    pertanyaan saya, kalau saya hanya mempunyai uang sekitar 4jt apa saya bisa ikut main saham??? kalau boleh bisa bapak rekomendasi perusahaan sekuritas yg bagus??

    blog bapak sangat bagus, terus berkarya pak iyan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setahu saya, dengan uang Rp 4jt sudah bisa buka rekening online-trading.

      Saya cukup puas dengan sistem IPOT (Indo Premier Online Trading). Silahkan di-google.

      Terima kasih untuk pujiannya. Senang dan terharu rasanya ada yang menghargai tulisan saya.

      Delete
  14. Mantab pool artikel ini. Top markotop

    ReplyDelete
  15. Tanya Pak Iyan:
    Waktu pertama kali beli saham IPO INCO thn 90 dari harga 9000 ke 4000 (cutloss) prosesnya berapa tahun pak. Trus nanya banyak pemain saham tidak menganjurkan short selling, ngomong2 maksudnya apa pak. Terimakasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. He, anda mengorek "luka lama" yang saya coba lupakan. Hehehe.

      1. Seingat saya saya cut-loss INCO setelah kira-kira 2 tahun.

      2. Short selling adalah menjual saham yang kita pinjam dengan harapan saham tersebut turun, lalu kita beli kembali. Short-selling (prakteknya) BELUM bisa dilakukan di Bursa Indonesia, jadi silahkan dilupakan dulu.

      Delete
    2. Wah kebetulan bahas sedikit ttg short selling nih.. stlsaya gugling2 saya g nemu yang lengkap

      short selling itu berarti kan kita jual padahal g ada barang... Apakah bisa Pak? (anggap saja itu terjadi)... Misalnya saya nggak punya saham ADRO, terus tiba2 saya jual saham ADRO 100 lot.. apakah begitu Pak Iyan ttg short selling?

      Delete
    3. Kan di atas sudah saya sarankan utk tidak mikirin short selling.

      Delete
  16. wah kebetulan baca profile INCO :) Btw,Short-selling kelihatannya seperti praktek goreng menggoreng ya pak? karena memaksa harga saham berubah sesuai keinginan buyer. Terimakasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Short selling tidak berkaitan langsung dengan goreng menggoreng. Coba anda google untuk memahami arti short-selling.

      Delete
  17. Bpk iyan saya ingin tanya apa bpk trading menggunakan software prediksi saham ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya tidak memakai software prediksi saham; saya hanya melihat grafik standard yang disediakan stock data provider.

      Delete
  18. Malam Pak Iyan...
    Sebelumnya saya ingin menyampaikan tulisan di blog bapak ini benar2 sangat berguna buat saya.. Setidaknya saya jadi tahu harus memulai darimana untuk bermain saham..
    Tetapi ada sedikit kendala yg saya hadapi.. Saya masih sangat bingung melihat angka2 dan kode2 huruf yg ada di IPOT.. Saya belum paham betul maksudnya setiap kode2 tsb.. Mohon sekiranya Pak Iyan bisa membantu keterbatasan informasi saya..

    Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk mengetahui kode-kode di IPOT (atau broker-broker lain), silahkan baca manual yang disediakan. Atau hubungi Call Center masing-masing.

      Delete
  19. Pak Iyan,terima kasih tulisannya menambah banyak wawasan saya tentang saham.

    Saya mau tanya, pernah saya ikut seminar saham dikampus saya, dan guest speaker saat itu mengatakan kalau kita mau coba belajar saham, coba beli saham2 yg murah banget jd dgn modal terbatas kita coba belajar transaksi jual-beli saham dari saham murah yg kit abeli itu, misalnya beli saham PT. A harganya 200/lbr nanti pas dia naik ke 230/lbr baru jual,,,jadi modal yg kita keluarkan per lotnya (200/lbr*500lbr=100rb) tidak besar dan memang scr nominal labanya pun tidak besar.

    Apakah konsep semacam ini bisa dipakai untuk pemula pak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tifani, konsep tersebut boleh saja dicoba.

      Tapi membeli saham berdasarkan nominalnya yang murah tidak berarti akan untung.

      Kalau mau yang murah, kenapa tidak sekalian saja beli yang Rp 50? Kan harga saham di Bursa Efek Indonesia tidak bisa lebih rendah dari Rp 50.

      Saham menjadi murah karena lebih banyak penjual daripada pembeli. Artinya saham tersebut tidak diminati.

      Kalau Tifani beli sesuatu yang tidak diminati, mudahkah menjualnya kembali? Apalagi mengharapkan untung? Coba dipikirkan.

      Delete
    2. Logikanya om iyan benar2 memperkaya pemikiran pemula seperti saya, terimakasih om.

      Delete
  20. pak saya baru dapat info tentang saham dari artikel ini, apakah dengan modal 10 juta kita bisa jadi saham menengah,
    mohon konfirmasinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dengan 10juta menjadi saham menengah?

      Boleh diperjelas pertanyaan anda?

      Delete
  21. Pak, saya mau tanya donk..bisa ga kita jual saham tapi modal tidak disertakan, jadi contoh: saya beli saham GGRM 1lot di harga 50.000 senilai 25jt di pembukaan sesi I, lalu pada penutupan sesi I GGRM naik +300..nah yg saya mau jual +300nya itu, jadi modal 25jt kita tetap & bagaimana prosedurnya serta penarikan dananya?

    trims

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jual tapi modal tidak disertakan? Saya jadi bingung.

      Jual beli saham (di pasar Regular) minimum HARUS SATU LOT. Jadi anda tetap harus menjual 1 lot GGRM milik anda.

      Nah, setelah anda jual, tiga hari kemudian anda boleh menarik uang sebesar laba anda (Rp 300 per saham x 500 saham/lot = Rp 150.000). Jadi anda tetap menyisakan Rp 25 juta di rekening anda.

      Delete
  22. Salam kenal Pak Iyan.
    Mau tanya pak :
    1. Apa bisa pak, kita menentukan target laba harian dari trading saham ?
    2. Jika bisa, berapa % per hari keuntungan rata-rata yang bisa kita peroleh dari trading saham harian ? Contoh, modal = 100 juta.
    3. Mohon saran/ulasannya pak, dari pengalaman bapak, misal dengan modal 100 juta, butuh berapa lama BEP'nya pak. mungkin Bapak bisa memberikan program/rencana target BEP untuk kita secara wajar, berdasarkan pengalaman Bapak.

    Terima kasih atas atensinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1. Dengan menentukan target harian, anda terkadang memaksa diri untuk trading walaupun market tidak mendukung. Biasanya, hasilnya bukan untung malah buntung. Pasar Indonesia, menurut saya, tidak cukup liquid untuk SELALU trading harian.

      2. Lihat jawaban no.1.

      3. BEP maksud anda Break Even Point? Kalau anda tidak rugi, berarti anda break-even.

      Butuh berapa lama tergantung dari kemampuan anda, ketekunan anda belajar, kondisi market dll.

      Kalau setelah lima tahun main saham anda belum mulai meraih profit (walau sedikit), sebaiknya anda pertimbangkan kembali apakah main saham tepat untuk anda.

      Delete
  23. Selamat sore Pak Iyan yg naik,

    Terus terang saya baru membaca blog Pak Iyan beberapa pos saja, awalnya dari tulisan tentang "teman" Ellen May, dan kemudian karena tertarik dengan kearifan Bapak dalam menyikapi masalah tersebut, saya mulai baca pos Bapak dari pos pertama Bapak.

    Saya investor (semoga jadi investor) pemula, baru masuk dunia saham 10 hari lalu, jadi masih sangat hijau :)

    Awalnya sebelum masuk saya membaca buku-buku tentang Warren Buffet, yg saya ambil intisarinya bukan pengin sekaya beliau (Ga mungkin rasanya sekaya beliau hanya dari saham, mungkin 1/00 atau 1/000 bahkan 1/1.000.000 kekayaan beliau saja sudah syukur :D ).

    Meski dibekali dengan semua tentang Fundamental Analysis (dan di buku-buku tersebut agak "menyerang" orang Technical Analysis) ternyata ketika masuk ke dunia saham yg sebenarnya, saya malah jadi trader harian. Ternyata membaca ticker membuat saya pengin trading terus. Dan Alhamdulillah sampai sekarang masih untung terus, mungkin keberuntungan pemula saja :)

    Dan, terus terang saya kaget baca tulisan 1-4 ini, bahwa target pemula (sampai dengan 2 tahun) adalah rugi kurang dari 20%. Saya baru sadar tampaknya kemarin-kemarin saya diuntungkan dengan kondisi pasar.

    Saya senang sekali dengan tulisan Bapak yg jujur memperlihatkan bapak pernah rugi (bahkan rugi sangat besar) di masa lalu, jarang ada penulis yg mau mengakui apalagi mempublikasikan "kekalahan"nya :)

    btw saya mau tanya, menurut logika saya, seharusnya pada akhirnya pemenang saham (jika dikatakan main saham) adalah orang atau institusi yg berdana besar, karena mereka bisa men-drive harga. Apakah hal ini benar ? Bahwa seperti juga di kasino, pada akhirnya bandar selalu menang.


    Terimakasih banyak atas blog nya, saya mau lanjut baca-baca tulisan Bapak dulu.

    Salam,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Agra, terima kasih untuk komentar dan pertanyaannya.

      Fundamental Analysis memang sering "menyerang" Technical Analysis. Padahal kalau tidak ada Technical Analysis, tidak akan ada saham yang OVERSOLD/OVERBOUGHT (udah murah masih dijual/udah mahal masih dibeli). Kalau gak ada saham OVERSOLD, analis fundamental gak akan mendapatkan saham murah kan?

      SELAMAT kalau anda sudah mendapatkan untung dari main saham. Pertahankan prestasi baik anda. Tapi perlu saya ingatkan: jangan pernah meremehkan pasar.

      Institusi memang lebih besar kemungkinan menang di saham karena punya modal besar dan pengetahuan luas.
      Tapi pemain saham kecil bisa IKUT menang. Caranya?

      Si kecil HARUS MENGIKUTI si besar. Pemodal kecil TIDAK BISA men-drive harga: maka dari itu sebaiknya pemodal kecil IKUT TREND yang diciptakan pemodal besar.

      Semoga membantu.

      Delete
  24. Pak iyan, apakah data return 2010-2013 available?
    Saya salut dengan konsistensinya returnnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aldi,

      Saya konsisten return-nya kecil, begitu kan maksud Aldi? Ngeledek ya? :-)

      Data return 2010 2013 ada, tapi saya enggan menghitungnya.

      Mengapa?

      Di tahun 2011 saya rugi 30%-an karena sedang DEPRESI. Karena depresi, main saham jadi ngaco, jadi rugi besar,. Karena rugi besar, depresinya jadi TAMBAH BERAT. Hampir bunuh diri...tapi untung saja masih takut mati. Hehehe...

      Hal ini adalah salah satu alasan mengapa saya TIDAK MENGANJURKAN orang untuk main saham. Jangan pikirkan untungnya saja. Kalau rugi, bisa stress berat.

      Mungkin suatu hari saya akan menulis pos tersendiri tentang hal ini.

      Delete
    2. Wah, pak iyan bisa saja. Return terus positif dari 2003-2009, suatu pencapaian luar biasa. Saya mulai masuk dunia saham thn 2007-2008, ketika krisis finansial melanda. Porto lsg hancur lebur dan saya depresi, tapi saya malah banyak belajar dan menimba pengalaman. Pengalaman saya baru seumur jagung, belum sepanjang dan mumpuni seperti pak iyan.

      Menurut saya untuk berhasil dalam dunia saham faktor yg paling penting adalah kemampuan untuk mengontrol emosi, apalagi buat seorang trader. Untuk metode trading bisa dipelajari; dan setiap orang akan memiliki metodenya sendiri sesuai dengan karakter dan profil risikonya masing2.

      Refleksi pribadi, saya agak menyesal dulu terlalu tercebur ke dalam analisis fundamental. Setelah saya baca buku2 trader sukses seperti darvas, donchian atau livermore... Saya baru tersadar bahwa kita terkadang tak perlu mengetahui fundamental suatu perusahaan untuk mendapatkan suatu return besar, namun price dan volume adalah kriteria utama disamping memahami psikologi pasar.

      Seringkali saya menganalisis suatu emiten dan berdasar penilaian saya bahwa perusahaan itu sudah undervalued. Namun apa yg terjadi, seringkali pula analisis saya banyak salahnya. Bukannya hrg naik, namun stagnan atau malah terus turun. Kemudian saya mulai mencari dan membaca buku lagi, dan akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa konsep valuasi memang merupakan suatu konsep yang sangat relatif, semuanya tergantung kepada asumsi yang dipakai.

      Senang saya bisa belajar dari blog bapak.

      Delete
    3. Aldi, terima kasih untuk pujian dan sharing-nya.

      Saya merasa return positif saya tahun 2003-2009 biasa-biasa saja, malah tergolong buruk karena mayoritas DI BAWAH return indeks. Setelah pernah rugi besar sebelumnya, target saya BUKAN untung sebesar mungkin, tapi RUGI SEKECIL mungkin.

      Pengalaman Aldi mirip dengan saya: awalnya terobsesi dengan analisa fundamental tapi gagal dan berubah haluan ke analisa teknikal.

      Terlalu banyak pemula yang merasa bahwa analisa fundamental adalah SATU-SATUNYA cara untuk sukses main saham. Masalahnya, analisa fundamental sangat sulit dan tergantung (seperti kata Aldi) asumsi.

      Karena analisa fundamental sangat sulit, tidak heran toh kalau di dunia hanya ada SATU Warren Buffet.

      Saat ini saya hampir tidak pernaha mau tahu valuasi saham menurut analisa fundamental. Selama saham naik, walaupun kata analis sudah mahal, saya tetap beli saham tersebut. Selama saham turun, walaupun kata analis sudah murah, saya tetap jual saham tersebut.

      Saya juga sangat senang Aldi sudah berbagi pengalaman di blog ini. Mari kita sama-sama Terus Belajar.

      Delete
  25. Bung Iyan,

    Saya salah satu pembaca setia blog ini, saya baru terjun ke dunia saham Maret 2014. April 2014 saya dapat untung +9% (ini merupakan kebetulan) akan tetapi Mei 2014 saya merugi -8% (ini kenyataan menyakitkan). Betul seperti di sub bab lain yang seperti Bung Iyan kalau udah merugi lebih baik untuk keluar sejenak dan saya melakukan itu keluar sejenak mereview portofolio saya.

    Saya sendiri pekerja yang sulit menentukan kapan bisa melihat harga pergerakan saham. Jadi saya menyesali tidak bisa memonitor kerugian saya di bulan Mei 2014. Saya sih inginnya bisa trader akan tetapi modal yang saya gunakan belum bisa memenuhi standar seorang trader murni dan pastinya waktu yang saya tidak bisa tiap hari memonitori harga saham.

    Akan tetapi untuk tahun ini saya udah ikhlas untuk menganggap tahun ini pembelajaran, berapapun yang saya dapat bisa saya gunakan sebagai penghasilan tambahan.

    Dan satu permohonan saya buat Bung Iyan, segeralah buat buku karena saya dari januari 2014 saya berulang-ulang membaca blog ini. Kalau ada buku bisa saya gunakan disaat senggang karena membaca dari monitor membuat sakit mata apalagi seusai melihat grafik. :)

    Happy trading Bung Iyan,
    -BIN-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Bin, terima kasih sudah setia mengikuti blog ini.

      Untung 9% lalu rugi 8% masih termasuk hasil yang bagus. Ingat: selagi belajar main saham, RUGI SEDIKIT saja sudah termasuk bagus.

      Kalau anda tidak bisa terus-terusan mengikuti pergerakan saham, sebaiknya anda pilih bingkai waktu main saham yang lebih panjang. Jadi, anda cukup memonitor harga saham pada sore hari saat bursa sudah tutup atau pada pagi esok harinya.

      Tentang membuat buku: saya selalu memacu diri untuk melakukannya, tapi saya sering malas menulis. Terima kasih untuk dorongan dari anda.

      Delete
  26. Om iyan,
    Saya tertarik dan ingin berkutat dengan saham..saya memiliki banyak pertanyaan om..
    Saya ingin memantapkan pengetahuan saya sebelum masuk ke dunia saham..
    Pertanyaan pertama saya..
    Apakah trading forex dengan investasi saham itu sama om??
    Saya masih bingung soal ini om..hehe
    Terimakasih atas kesempatan bertanya diblog ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Om chantry,

      Saya bukan pemain forex, jadi saya kurang tahu detil forex. Tapi saya coba jawab sebisa saya ya.

      Trading forex tidak saham dengan investasi saham. Lah, trading saham dan investasi saham saja sudah berbeda.

      Trading forex mungkin lebih mirip dengan trading saham. Tapi perbedaan utama adalah forex "leverage"nya tinggi. Artinya, dengan modal US$ 100 mungkin anda bisa membeli kontrak seharga US$ 10,000. Kalau rugi $100, berarti modal anda habis. Kalau untung $100, berarti anda untung 100%.

      Di saham--kalau anda main tanpa margin--anda hanya bisa membeli saham sebesar modal anda. Kalau punya modal Rp 1 juta, maksimum beli adalah Rp 1 juta. Dan di Bursa Efek Indonesia, anda sulit menjual "short". (Di forex, anda bisa transaksi "long" ataupun "short".)

      Masih banyak perbedaan yang lain. Tapi semoga membantu.

      Delete
  27. akhirnya genap setahun di saham sejak awal tahun 2014. Returnnya hanya mencapai 18%, masih kalah dengan IHSG yang returnya 22,29%, dan reksadana syariah saya yang returnya mencapai 32% ... mari kita terus belajar ... yakin pasti bisa ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak rugi saja sudah prestasi yang bagus. Apalagi mendapat untung 18%. Lanjutkan!

      Delete
    2. Hampir genap tahun kedua di saham, loss YTD -21%. reksadana syariah loss YTD -28%. Sebenarnya kalau ikut saran Pak Iyan di blog ini mengenai cut-loss, saya yakin loss nya tidak akan sebanyak itu. Cuma terkadang saya malah stubborn hold my losses , dan keep wait, hold and hope, sampai akhirnya lossnya tambah besar, baru cut-loss (sampai ada saham diatas 25% loss baru dicut). Jadi pelajaran di tahun bearish ini , semoga tahun depan jauh lebih baik ...

      Delete
    3. Bung hendrasdr,

      Cut-loss itu memang tidak mudah. Oleh karena itulah saya SELALU BERULANG-ULANG KALI TAK HENTI-HENTI mengingatkan untuk KONSISTEN cut-loss.

      Delete
  28. 2008 - 2012 pertengahan .... ini masa2 belajar, uang sekolah kalau kata senior2

    2012 mid - 2013 awal +80% 1 saham
    2013 q3 - 2014 Jan +40 % 1 saham

    Ternyata di saham itu harus sabar dan butuh waktu untuk temukan formula yang pas .... tapi uang sekolah yg mahal ternyata memberikan hasil yang luar biasa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Otty,

      Terima kasih sudah sharing hasil main saham anda yang sangat bagus.

      Delete
  29. Bung Iyan, salam kenal ya ...
    Saya respek dg artikel diatas...anda menyampaikan dg sangat jujur atas kualitas trading dari tahun ke tahun pd awal2 saat menjadi trader.. .Lebih dari itu saya salut dg kemampuan anda menulis apa adanya dg kalimat2 yg mengalir dan tak ada kesan menggurui. Sangat berbeda dg tulisan2 trader2 lain yg memberi kesan tak pernah rugi ...

    ReplyDelete
  30. Bung Indra, salam kenal juga.

    Terima kasih untuk komentar anda.

    Saya berusaha menulis sejujur dan terbuka mungkin. Mengapa? Karena orang yang tidak jujur pada dirinya sendiri TIDAK AKAN BISA menjadi trader yang untung. Kan TIDAK MUNGKIN seseorang tidak pernah rugi ketika bermain saham. Apalagi ketika baru mulai belajar.

    Ini sama seperti bayi belajar jalan. Masa sih ada bayi bisa langsung jalan tanpa merangkak dulu? Tanpa berusaha berdiri tapi jatuh lagi jatuh lagi?

    Tentang "tak ada kesan menggurui", nah ini saya kurang setuju. Saya merasa saya SERING MENGGURUI pada tulisan2 di pos. Yang pasti, saya SELALU MENGGURUI untuk CUT-LOSS.

    ReplyDelete
  31. Terima kasih atas tulisannya yg berkurikulum. Bulan ini saya mulai beli saham untuk investasi. Pertanyaan saya kapan saat tepat jual saham? Tks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Chandy,

      Kapan saat tepat jual saham TERGANTUNG pada maunya masing-masing pemain saham.

      Tapi secara UMUM, saham SEBAIKNYA dijual kalau turun. Jadi, menjual saham JANGAN TERGANTUNG apakah untung atau rugi. Kalau harga turun (sampai harga tertentu yang sudah anda tentukan), ya JUAL.

      Silahkan baca juga pos "Cara Menjual Saham Agar Profti Maksimal."

      http://terusbelajarsaham.blogspot.com/2013/05/cara-menjual-saham-profit-maksimal.html

      Delete
  32. terima kasih Pak . Tulisanx sangat membantu , transparan , mudah dpahami

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih juga sudah meninggalkan komentar.

      Delete
  33. terima kasih post nya, sangat menginspirasi

    ReplyDelete
  34. Terima kasih pak Iyan mau sharing pengalaman berharganya di dunia saham. The more we share, the more we have. Bless you pak Iyan.

    ReplyDelete
  35. Halo , selamat malam bung Iyan atas blognya yang sangat bermanfaat..
    Saya mau tanya bung , setelah CUT LOSS ,bagaimana cara menentukan posisi selanjutnya untuk membeli ?
    Contoh :
    Saya beli saham X di Rp8.000 , lalu saya cut loss saham X di Rp7.000.
    Nah , utk pembelian selanjutnya gimana? Siapatau saham X tsbt terus2 anjlok? Pada intinya saya ingin mengetahui gimana menentukan posisi beli setelah Cut loss..

    Terima kasih bung Iyan ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kapan membeli dan kapan menjual DITENTUKAN oleh Trading Plan yang anda siapkan.

      Kalau trading plan memberi sinyal BELI, ya harus beli lagi (walaupun baru saja cut-loss).

      Delete
    2. Terima kasih banyak atas jawabannya
      Kiranya bisa menambah pengetahuan saya

      Delete
  36. halo pak Iyan,
    maaf mengganggu, dalam rangka mendekati setahun bermain saham saya sedang mencoba menghitung return saya, namun saya baru sadar bahwa menghitung return agak menjadi rumit karena saya beberapa kali melakukan penambahan modal pada tahun berjalan, contohnya modal awal saya adalah 40jt, kemudian setelah 6 bulan saya menambah menjadi total modal 200 juta, lalu pada bulan ke 10 saya menambah lagi menjadi total 400jt, pada akhir tahun jumlah modal dan gain saya adalah 458jt. Apa bapak punya tips untuk menghitung return tahunan tersebut? Terimakasih banyak atas waktunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau anda mencatat value portofolio anda SEBELUM penambabahan modal, anda bisa menghitung return SEBELUM penambahan modal tersebut. Lalu, hitung return tersebut kalau jangka waktu disetahunkan.

      Dengan penambahan modal beberapa kali, lakukan hal yang sama lalu diambil rata-ratanya.

      Contoh:

      Modal 40jt 6 bulan pertama berkembang menjadi 44jt.

      Berarti return 10% dalam 6 bulan = 20% dalam setahun.

      Modal 44jt ini ditambah menjadi 200jt pada akhir bulan ke 6. Pada bulan ke 10, nilai portofolio 250jt.

      Return 50jt/250jt = 20% dalam 4 bulan (= 60% dalam 12 bulan).

      Delete
  37. Pak Iyan, bagaimanakah caranya menghitung return IHSG?
    Apakah dari IHSG ( akhir tahun - awal tahun ) / awal tahun x 100 % ?
    Terimakasih sebelumnya.

    ReplyDelete
  38. Terus di update om blognya,,,saya mulai masuk saham umur 17thn di tahun 2009...
    Sampai sekarang masih jalani ini juga... cuti beberpa tahun untuk mempelajari kesalahan
    Dan buku2 referensi om memang bgus tuh - soalnya dpt blog om dari ingin beli buku peter lynch - makasih om sudah mau membagi pengalaman dan ilmunya dengan kejujuran,memang bener tuh harus menetapkan profit yg realistis,warren buffet aja cuma menghasilkan rata2 return 25%
    Om beli buku2nya dimana ya?dijual ga?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Carlin,

      Buku-buku saya biasanya beli di Amazon.com.

      Saya pecinta buku, jadi buku saya tidak ada yang dijual. Maaf ya.

      Tetaplah semangat terus belajar main saham.

      Delete
  39. Selamat malam lagi pak Iyan,
    Tidak terasa hari ini genap setahun saya trading  saham. 
    Puji Tuhan dan juga sebuah kredit besar khusus untuk pak Iyan dengan segala kebaikan, pengetahuan, filsafat, cara berpikir dan nasihatnya sehingga hingga detik ini saya tidak bangkrut. 
    Pak Iyan jugalah yang mengenalkan saya dengan buku-buku import yang membuat saya tidak menjadi katak dalam tempurung, terjebak dengan buku lokal yang (maaf) kadang kurang kualitasnya.
    Hampir setiap hari saya cek blog ini untuk sekedar melihat bagian Komentar terbaru karena dari sini saya bisa melihat pertanyaan2 dari sesama pemula dan bisa membaca jawaban dari bapak.
    Per tanggal 1 Juni 2015 saya membeli saham pertama saya, hingga hari ini total modal secara bertahap yang saya gunakan 400juta, dengan equity terakhir 462jt (exclude deviden). 
    Karena tidak memiliki data yang lengkap terutama diawal2 trading, perkiraan return saya selama setahun ini sedikit diatas 15%.
    Ternyata trading saham memang bukan jalan pintas menjadi kaya meskipun sebenarnya pun untuk sekedar profit tidak lah terlalu sulit juga.
    Pengalaman saya selama ini ternyata yang paling sulit itu bukanlah Cut Loss tetapi Take Profit. Saya mudah untuk kejam melakukan Cut dengan saham yang merah, tapi sungguh susah sekali menjual saham yang sudah untung karena secara dibawah sadar saham yang sudah hijau saya anggap sebagai "teman" sehingga tidak akan mengkhianati saya. Toh terbukti berkali-kali saham saya yang sudah profit pun bisa berbalik menjadi loss.
    OK demikian sharing dari saya.
    Semoga bukan sekedar beginner's luck dan semoga tahun berikutnya semakin konsisten dan bisa mendapatkan return yang lebih baik karena keinginan saya ingin menjadi full time trader juga seperti anda.
    Terimakasih sekali lagi untuk bapak.
    BTW return dari bapak dari 2010 sd 2016 belum di update nih
    :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Erwin,

      Return anda kemungkinan besar > 15% karena anda menambahkan modal beberapa kali.

      Seharusnya sih anda baru menambah modal SETELAH 1 tahun main saham. Tapi mayoritas orang toh tidak sabar. Apalagi kalau untung.

      Sebagai pemula, return anda SANGAT BAIK.

      Dan tahukah anda kenapa?

      Seperti yang Erwin tulis, "trading saham bukan jalan pintas menjadi kaya meskipun sebenarnya untuk sekedar profit tidaklah terlalu sulit juga."

      Sekali lagi, kenapa?

      Karena anda "KEJAM" melakukan CUT saham yang rugi.

      Karena anda sudah konsisten CUT saham yang rugi, sepertinya anda sudah hampir lulus dari pemula main saham.

      Tahapan setelah bisa konsisten Cut-Loss adalah belajar Take Profit.

      Tetap semangat.

      N.B.: tentang data return saya tahun 2010-2106, kemungkinan tidak akan saya publikasikan dalam waktu dekat. Males ngitungnya. :-)

      Delete
  40. Om buat acaralah untuk kumpul2 kominitas investor saham,jujur aku sih sekarang lagi ga ke saham lagi fokus ke forex,tapi nih lagi nunggu boom pasar keuangan dekade ini.kalo aku masuk sekarang menurutku ga cocok untuk tipe value investing yg masuk dan keluarnya 5 thn kemudian,membahas saham mana yg berprospek bagus 20 tahun kemudian...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf, saya tidak berminat kumpul-kumpul. Saya lebih suka menyendiri.

      Delete
  41. Halo pak Iyan,
    Kalau saya perhatikan lagi dr return bapak 2002-2009 sudah selalu positif, tidak pernah ada tahun yang rugi.
    Tapi ada yg menggelitik sy untuk bertanya.., dalam rentang waktu lebih pendek, yaitu bulanan.. apakah masih ada bulan-bulan yg hasilnya negatif/loss untuk seorang trader full time sekelas dan seberpengalaman pak Iyan?
    Dan kalau tidak ada bulan yg loss, mulai kapan bapak bisa sekonsisten itu?
    Hal ini untuk cross check dengan pengalaman saya dan untuk mepersiapkan diri saya ke depannya..
    :-)
    Terimakasih banyak atas jawabannya..

    ReplyDelete
  42. Dari tahun 2010 sampai dengan saat ini (Oct 2016)RELATIF JARANG ada 2 bulan berturut-turut rugi.

    Lumayan konsisten ya?

    TAPI...

    Di tahun 2011, saya dalam 1 MINGGU rugi sekitar (dalam kurs USD saat itu) USD 120 ribu. Jadi, di akhir tahun 2011 portofolio saya turun sekitar 25% HANYA karena rugi yang terjadi dalam 1 MINGGU tersebut.

    Artinya, pemain saham BISA RUGI BESAR walaupun sudah cukup berpengalaman dan cukup berhati-hati.

    Tentang rugi USD 120ribu tersebut, suatu saat (kalau saatnya sudah tepat) akan saya bahas di pos tersendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wow terimakasih jawabannya pak Iyan
      "Relatif jarang" berarti masih ada bulan2 yg rugi ya.. sangat konsisten tapi lumayan sedikit menghibur saya supaya tidak hilang pede karena trader sekaliber bapak pun masih bisa loss dalam hitungan bulanan.

      Kemudian bahkan ada rugi 120 ribu USD dalam 1 minggu.. bermain saham memang benar2 berpotensi bencana ya kl tidak super hati2..
      padahal tgl 29 Januari 2011 pak Iyan dalam jawabannya ke rekan Oguds mengatakan bisa rugi hanya -1% di bulan Januari karena konsisten cut loss, akhirnya karena depresi (reply bapak ke rekan Aldi 30 April 2014) bisa kebobolan juga dengan nominal fantastis..
      Kejujuran dan sharing pak Iyan telah mengingatkan para pemula seperti saya supaya tidak lengah..

      Note: kl 25% nya adalah 120rb USD apa bisa saya asumsikan total portofoilio di 2011?
      Lalu di reply bapak di salah 1 comment yg lain (saya lupa post yg mana) bapak pernah bilang menggaji diri awalnya 2.5% per bulan, lalu dengan semakin bertambahnya portofolio menjadi 1% dr modal, apa bisa juga di asumsikan kira2 pendapatan seorang full time trader?
      Mohon maaf ya pak kl lancang berasumsi seperti itu (apalagi kl asumsi saya salah).. tp sejujurnya itu adalah hal yg selalu membuat saya penasaran untuk ditanyakan (tp tidak berani dan tidak pantas) mengenai modal yg dibutuhkan dan juga mengenai pendapatan seorang full time trader profesional.. sekali lagi mohon maaf dan terimakasih atas segala jawabannya
      :-)

      Delete
    2. Betul, relatif JARANG ya berarti kadang-kadang masih terjadi.

      Kalau tidak sedang depresi, mungkin saya tidak loss sebesar itu. Tapi ya namanya lagi depresi ya...mau bagaimana lagi.

      Jadi, kalau lagi depresi, JANGAN MAIN SAHAM.

      Tentang apakah boleh anda berasumsi tentang total portofolio saya di 2011: tentu saja boleh. Tapi harus anda ingat: asumsi adalah nebak dan nebak bisa saja salah. :-)

      Tentang modal yang dibutuhkan untuk bisa HIDUP hanya dari main saham, lagi-lagi itu tergantung gaya hidup anda. Intinya: kalau biaya hidup anda (gaji yang harus anda bayarkan ke diri sendiri) sebulan > 2.5% modal anda, berarti anda HARUS UNTUNG minimal 2.5% SETIAP BULAN agar modal anda tidak tergerus.

      Untung KONSISTEN 2.5% SETIAP BULAN bukan hal yang mudah. (Tidak terlalu sulit kalau anda sudah berpengalaman, tapi tetap saja tidak selalu mudah.)

      Kalau anda puas dengan "gaji" per bulan sebesar 1% (atau kurang) dari modal anda, kemungkinan anda bertahan sebagai full-time trader akan semakin besar.

      Delete
  43. Dear pak Iyan
    A. Sedikit curcol dari saya
    Tidak terasa tanggal 1 Juni kemarin saya genap 2 tahun mencoba berkecimpung di dunia saham
    Memulai tahun kedua dengan begitu mulus sampai pertengahan bulan Agustus return saya
    sudah sekitar +14%, kayaknya dapet profit kok gampang banget, dalam hati mulai besar kepala "Heheh.. kayaknya tahun kedua return guwe minimal
    50% bisa dapet nih" Bayangan keluar dari kerja kantoran, lalu bayangan bisa beli mobil baru, beli ini-itu mulai bermunculan..

    Namun apa yang terjadi hanya dalam jangka waktu sebulan yakni dipertengahan bulan September
    bukan hanya return 14% itu melayang, modal dan return tahun pertama saya pun sudah berbalik -6% !!!

    Ternyata saya sadari kesalahan di tahun pertama masih terbawa yaitu selalu merasa bahwa trading profit, meminjam istilah Minervini, adalah "house money" yang rasa kepemilikannya kurang ketimbang modal awal

    Akhirnya bulan September itu saya menetapkan diri untuk mengambil keputusan bahwa berapapun profit yang saya hasilkan akan saya take tiap akhir bulan.

    Hal ini bertujuan untuk menipu diri bahwa setiap awal bulan mulai dengan modal awal (yang
    harus dilindungi mati-matian), sedangkan profit yang sudah didapat bulan sebelumnya.. lupakan!

    Rupanya sistem ini cukup membuahkan hasil yang lumayan, setelah jatuh bangun sepanjang tahun ini
    setidaknya per 31 Mei kemarin saya berhasil membalikkan kedudukan dengan return akhir
    sekitar +11% atau +14% jika include deviden (masih jauh dibawah IHSG yang sekitar 20%)

    B. Selain curcol saya juga ada pertanyaan pak:
    1. Saya sering baca bahwa konon 90% pemain saham akan kehilangan uang dan berhenti, apa menurut
    pak Iyan ini mitos atau fakta? Apa ada sumber yang dapat dipercaya?
    2. Apa pak Iyan memperhitungkan deviden (jika ada) dalam perhitungan return ?
    3. Kalau boleh tau kira-kira return pak Iyan dalam periode yang sama dengan saya berapa persen sebagai referensi saja?
    Trader berpengalaman seperti bapak pasti menang banyak ya saat IHSG relatif bullish seperti tahun kemarin sampai sekarang :-)
    4. Apa pak Iyan pernah penasaran dengan hasil return trading teman-teman yang "berguru" di blog terusbelajarsaham
    terutama yang cukup rajin muncul seperti Sam Samijan, El Heze, Pintu Jati, Herlambang, Setiawan_jak dll?
    5. Saya baca di buku Jack Schwager, ada pertanyaan ke salah satu wizard kalau tidak salah Ed Seykota
    "Apakah suatu saat sistem trend following tidak akan bekerja lagi?" . Kalau pak Iyan ditanya Jack, kira-kira
    apa jawaban bapak?
    6. Pertanyaan just curious, dengan modal relatif lumayan besar seperti pak Iyan (asumsi saya sekitar 10M-maaf kalau ngaco hehe), apakah
    sudah bisa untuk menggoreng saham terutama yang kapitalisasi nya kecil-kecil dan turnover harian sedikit (dibawah 1M)?
    Apakah pak Iyan pernah mencoba pengalaman "menggoreng"?

    Akhirnya saya ucapkan terimakasih, berkat jasa pak Iyan jua saya masih bisa bertahan sampai sekarang..
    :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Erwin

      A. Terima kasih untuk curcolnya.

      Langkah anda untuk take/realize profit sudah cukup tepat. Silahkan baca juga pos "Tahukah Anda Nilai Portofolio Saham Anda?"

      https://terusbelajarsaham.blogspot.co.id/2017/01/berapa-nilai-portofolio-saham-anda.html

      B.
      1. Tentang 90% pemain saham rugi dan berhenti, menurut saya ini adalah FAKTA. Data yang mendukung ini agak sulit didapat, tapi coba saja anda lihat dan tanya-tanya orang sekeliling anda yang PERNAH main saham. Berapa banyak yang masih main saham SETELAH 2 tahun? 5 tahun?

      Fakta yang saya tahu: mayoritas kenalan saya yang dulu main saham, sekarang sudah berhenti total. Kalau berhenti, kemungkinan besar karena mereka rugi. Kalau untung--apalagi untung besar--kan gak masuk akal kalau mereka berhenti.

      2. Dividen dibayarkan ke rekening bank saya yang khusus untuk transaksi saham. Artinya, dividen TERMASUK dalam perhitungan return.

      3. Saya akhir-akhir ini jarang menghitung return %. Yang lebih penting utk saya saat ini adalah Nilai Portofolio TIDAK BERKURANG setelah dipotong gaji yang saya bayarkan ke diri sendiri.

      Jadi, selama Nilai Portofolio bertambah (setelah dipotong gaji/cost), saya sudah senang. Walaupun pertumbuhannya cuma beberapa %.

      4. Saya berusaha utk TIDAK MAU TAHU terlalu banyak tentang return orang lain. Tahu terlalu banyak kadang hanya menuai stress.

      Kalau ada pembaca yang mau curcol tentang hasil main saham mereka (seperti anda), saya sangat senang. Kalau mereka tidak mau berbagi, tidak masalah juga.

      5. Menurut saya sistem Trend Following TETAP AKAN BEKERJA. TAPI, INDIKATOR Trend Following anda BELUM TENTU akan terus "works."

      Apa dasar saya berani berkata begitu?

      Sifat dasar manusia (greed, fear, etc.) tidak akan berubah. Tapi indikator dan parameter yang bekerja di saat lalu, bisa saja tidak "works" lagi.

      6. Saya belum cukup pintar, belum cukup modal, dan belum cukup koneksi untuk menjadi penggoreng saham.

      Jauh lebih mudah menjadi FOLLOWER daripada jadi LEADER (bandar).

      Jadi, lebih baik saya belajar menjadi FOLLOWER (pengikut) yang bijak.

      Delete

Pertanyaan dan komentar anda akan saya jawab sesegera mungkin. Maaf, saya tidak menerima pertanyaan dan komentar anonim. Promosi, iklan, link, dll, apalagi hal-hal yang tidak berhubungan dengan main saham TIDAK AKAN ditampilkan.