Thursday, September 16, 2010

Target Laba Main Saham (Bagian III)

Protected by Copyscape Online Plagiarism Tool

Pos ini adalah bagian ketiga dari empat pos:

  1. Target Laba Main Saham (Umum)
  2. Target Laba Investasi Saham (Jangka Panjang)
  3. Target Laba Trading Saham (Jangka Pendek)
  4. Contoh Kasus Laba/Rugi Main Saham

 
Target Laba Trading Saham (Jangka Pendek)

 
Target laba trading saham berbeda dengan target investasi saham (jangka panjang) karena trading yang bersifat jangka pendek harus dibarengi dengan target yang bingkai waktunya juga pendek. 

Mengapa?

Kondisi pasar secara keseluruhan—yang sangat dominan mempengaruhi investasi jangka panjang—tidak begitu dominan pengaruhnya pada trading (dagang) saham yang bersifat jangka pendek. Yang saya tekankan di sini adalah bagian "tidak begitu dominan." Artinya, secara teoritis trader seharusnya bisa mendapat untung saat pasar naik ataupun turun.

Pasar yang naik-turun adalah kesempatan emas bagi trader untuk mencari untung. Saat pasar naik, trader bisa untung dengan cara membeli saham untuk dijual di harga lebih tinggi. Saat pasar turun, trader tetap bisa untung dengan cara membeli di harga rendah untuk dijual di harga lebih tinggi.

Tentu saja, kebalikannya juga bisa terjadi. Trader bisa rugi waktu pasar naik dan juga rugi waktu pasar turun.

Karena sifat trading seperti yang dikemukakan di atas--bisa untung waktu pasar turun, tapi juga bisa buntung waktu pasar naik--kita harus mempersempit bingkai waktu (time frame) perhitungan target dari per tahun menjadi per bulan. Selain itu, kita juga harus menetapkan target rugi maksimal yang diperbolehkan.

Mari kita mulai.



Pemula (pengalaman sampai dengan 2 tahun) 

Target pemula adalah rugi tidak lebih dari 5% modal per bulan dengan tambahan syarat tidak boleh rugi lebih dari 10% bulan.

Maksud elo? tukas Anda.

Begini: kalau pemula sudah rugi 10% pada tanggal 13 Maret, ia harus berhenti trading di bulan itu. Ia baru boleh mulai trading lagi di bulan April.

Mengapa begitu?

Trader yang sedang rugi biasanya akan merugi lebih banyak lagi kalau ia tidak menutup semua posisinya. Dengan adanya posisi rugi yang besar, trader tidak bisa berpikir jernih. Ia cenderung memaksa diri agar cepat mendapat untung untuk menutup kerugiannya. Semakin ia memaksa pasar untuk memberi untung, semakin banyak ia merugi. 

Karena alasan tersebut, trader harus berhenti trading setelah mencapai rugi maksimal yang sudah ditetapkan. Jernihkan pikiran beberapa saat, baru kembali trading. 


(Ide ini adalah variasi dari jurus cut-loss yang dikemukakan Dr. Alexander Elder di bukunya Come into My Trading Room.)

 

Menengah (pengalaman sampai dengan 6 tahun) 

Target pemain menengah adalah untung 1% per bulan dengan addendum tidak boleh rugi lebih dari 5% per bulan.

Pemain berpengalaman menengah sebaiknya menitikberatkan perhatiannya pada bagian "tidak boleh rugi lebih dari 5% per bulan" dan bukan pada target untungnya.

Jangankan untung. Kalau anda bisa tidak rugi saja anda sudah jauh lebih baik dari trader lain. Ingat: anda dapat menutup rugi kecil dengan mudah dari untung yang anda dapat.

 
Mahir (pengalaman di atas 6 tahun) 

Target pemain mahir adalah untung 3% per bulan dengan addendum tidak boleh rugi lebih dari 3% per bulan.

Investor mahir bukan hanya mampu memaksimalkan keuntungan tapi juga bisa meminimalisir kerugian. Kadang-kadang ia merugi 3%, tapi saat kondisi memungkinkan, ia meraih laba 3, 5, atau bahkan 10% per bulan.
Bila anda bisa mencapai target ini, selamat! Anda sudah lulus dan berhak menyandang gelar Magister Dagang Saham.

Bermodal gelar tersebut anda siap bekerja keras untuk mengejar untung sebesar-besarnya dari naik-turunnya harga saham.

Mau lihat contoh kasus laba/rugi main saham? Lanjut ke "Target Laba Main Saham (Bagian IV)."






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2010 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

32 comments:

  1. terima kasih atas ilmunya mas... sangat bermanfaat bagi saya yang masih hitungan bulan mulai belajar main saham.
    tapi ada satu yang mengganjal. bukankan saat kita rugi karena harga saham turun. kerugian ini masih bersifat potensial. bukankah kita bisa hold aja terus menunggu harga kembali?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hanya karena anda belum menjual tidak berarti anda belum rugi.

      Memang, anda bisa hold dan "berharap" saham naik ke harga anda beli. Tapi kenyataan pada saat itu tidak bisa dipungkiri: saham anda turun dan anda rugi. Lagipula, dari mana anda tahu saham akan naik lagi. Bagaimana kalau turun lagi?

      Merasa belum rugi karena belum menjual adalah salah satu cara pemain saham membohongi diri sendiri bahwa dirinya belum rugi.

      Tindakan yang paling tepat adalah menghitung nilai portofolio berdasarkan harga di mana anda bisa menJUAL saham pada saat itu (marked to market). Bukan berdasarkan harga beli.

      Delete
  2. Tanya pak Iyan, Seumpama Perusahaan A menjual saham, dan sahamnya turun naik, nah pertanyaannya: siapa (bukan apa) yang menaik turunkan saham pak? otomatis atau manual oleh karyawan perusahaan A atau operator bursa saham? Terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemungkinan ada dua: operator (bandar) saham atau investor.

      Kalau naik turun tanpa sebab jelas, kemungkinan besar bandar lah yang sedang beraksi. Tapi kalau saham naik atau turun dalam trend jangka panjang, kemungkinan investor jangka panjang yang beraksi.

      Delete
  3. Terimakasih pak Iyan Hampir Jelas. Gini saja pak pertanyaannya: 1.Kalau di Perusahaan A tsb maju, apa otomatis sahamnya naik? 2.Tetapi kalau dipermainkan oleh bandar kalau saham naik apa perusahaan otomatis maju pak? dan apa mungkin perusahaan maju pesat sedangkan sahamnya jatuh menuju nol karena permainan bandar?
    Terimakasih

    ReplyDelete
  4. 1. Kalau fundamental perusahaan maju/terus membaik , harga saham tidak serta-merta LANGSUNG naik. Harus ada investor yang membeli saham tersebut, barulah saham akan naik.

    Saham berfundamental baik pasti banyak peminatnya; cepat atau lambat saham tersebut akan naik.

    2. Saham yang naik karena digoreng bandar, TIDAK membuat perusahaan jadi maju. Saham seperti ini akan turun lagi dengan sendirinya.

    Sebab fundamental perusahaan membaik, akibatnya saham naik.
    Kebalikannya tidak berlaku (saham naik tidak membuat perusahaan maju.)

    3. Perusahaan maju pesat dalam konteks apa? Kalau maju pesat karena penjualan naik banyak, tapi tidak mendapat laba malahan rugi, bisa saja perusahaan bangkrut dan saham menjadi nol.

    Kalau fundamental perusahaan membaik drastis, TIDAK MUNGKIN saham jatuh jadi nol. Bandar tidak akan melawan TREND dalam menggoreng saham.

    Kalau perusahaan bagus sekali tapi ada bandar yang menjual sampai harganya murah, investor dan bandar lain akan membeli saham tersebut.

    ReplyDelete
  5. Terimakasih pak jadi jelas, jadi saham A adalah kepercayaan pembeli kepada perusahaan A. Saham A dengan perusahaan A hubungannya flexible dan tidak berbanding lurus, tetapi tergantung kepercayaan pembeli terhadap saham A (trader & investor) dan perusahaan A (investor). Tul gak pak? coba2 nyimpulin.
    Terimakasih lagi sebelumnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kesimpulan anda cukup tepat.

      Tapi perlu anda catat: saham diincar pembeli kalau harganya diHARAPkan naik. Saham akan naik kalau fundamental perusahaan bagus. Jadi, fundamental perusahaan adalah faktor utama kenaikan jangka panjang suatu saham.

      Delete
  6. Orang yg punya duit buanyaakk, sdh mahir main saham, khatam peraturannya...yg jadi bandar. Menurut bapak ada berapa bandar besar di Indonesia? Lokal berapa, asing berapa?
    Kalau dengerin radio, kayaknya yg paling berperan besar menaikkan/menurunkan nilai saham adalah org asing.
    Jadi walau fundamental perusahaan bagus, bisa saja nilai sahamnya turun..tapi turun sampai berapa, apakah bp punya perhitungannya?

    trims pak Iyan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bandar besar biasanya punya hubungan khusus dengan emiten. Saya sendiri tidak tahu dan tidak perlu tahu ada berapa bandar saham di Indonesia. Tidak penting.

      Asing atau lokal juga tidak penting. Yang penting, kalau naik BELI, kalau turun JUAL. Teorinya gampang, tapi prakteknya sulit.

      Kalau fundamental bagus, tapi sahamnya turun, pasti akan diborong orang banyak.

      Yang lebih sering terjadi adalah fundamental jelek, tapi naik terus. Kalau yang begini, orang lain tidak berani borong.

      Delete
  7. Pak Iyan ... Saya baru selesai merekap trading setahun ... Pemula banget nih baru 15 bulan trading. Mainnya jangka pendek dan saya gagal antisipasi di bulan April-Mei ... Return sempat sebesar TAXI tahun ini dan finish di return setara returnnya PGAS. Pertanyaannya, kalau sudah ganti tahun gini, itung modal awal tetep di modal awal trading atau cash tersisa di bulan Desember 30, ya pak? Terus terang saya jadi agak drop nih, recovery oktober-desember cuma nutup separo, sebenarnya return ini tercapao di bulan Oktober akhir, tapi tergerus di akhir November dulu baru agak membaik akhir tahun. Thanks pak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagaimana cara menghitung adalah terserah anda. Yang penting adalah anda menggunakan cara yang konsisten dan TIDAK MENIPU diri sendiri (tidak menutup mata kalau rugi dan melek mata hanya kalau untung).

      Cara saya menghitung Return adalah berdasarkan nilai portofolio (cash dan nilai saham marked to bid price) pada tanggal tertentu dibandingkan dengan nilai portofolio pada tanggal acuan.

      Delete
  8. Apakah tdk mungkin pak 20% per bulan? Logika sy sederhana. Gap high dan low harian saham 2-6%. Kita bs ambil 1% per hari aja udh 20% lebih per bulan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau anda tanya saya "apakah mungkin", jawaban saya selalu adalah MUNGKIN.

      Apakah mungkin anda disambar petir 20 kali dalam sebulan? Mungkin.

      Apakah mungkin anda bisa terbang seperti Superman? Mungkin.

      Apakah mungkin anda untung 20% per bulan? Mungkin.

      Kalau modal main saham anda relatif kecil (Rp 1 juta sampai beberapa ratus juta), MUNGKIN saja untuk beberapa bulan pertama anda untung 20% per bulan. Setelah itu? Silahkan anda coba sendiri.

      Delete
    2. Saya masih total nubie dan kebetulan saya juga punya pemikiran sama dengan saudara Pintu Jati. Kalo kita bisa ambil daily profit 1% dan compounded tiap hari, hasilnya jadi luar biasa.

      Tapi karena saya masih bener2 ijo di dunia saham, saya akan belajar banyak dalam hari-hari ke depan. Termasuk baca2 ulang blog pak Iyan yang sangat berharga ini.

      Sekali lagi, terima kasih atas tulisan pak Iyan.

      Delete
    3. Hahaha ternyata gak seserem yg ditulis diblog.. stlh bbrpa buln mendalami sy bs profit 30-70% per buln.. baca buku nicolas darvas mas legenda pasar modal dg profit 28% perbuln.(itu dulu masih manual, skang Sudh online bs lebih maksimal)

      Delete
    4. Hahaha, baru main saham dan bisa untung 30-70% langsung SESUMBAR.

      Untung anda yang 30-70% itu berapa juta Rupiah? Sudah bisakah untung 30-70%/bulan dengan modal milyaran atau puluhan milyar?

      Anda belum lahir aja saya sudah baca buku Nicholas Darvas.

      Nanti kalau udah rugi, baru tahu rasa.

      Kalau memang sudah pintar, gak usah OMONG GEDE. Enjoy it while it last.

      Delete
    5. Bukan omong gede mas. Paaling tdk mematahkan teori anda bahwa harus rugi bertahun2 dulu..menakutkan bg orng yg br mulai belajar saham. Untunglh ketemu bukunya nikolas darvas yg itu bener cerita nyata bisa dipelajari bisa ditiru bisa dimodifikasi... kasihan yg br belajar dan percaya teori anda nanti akan membenarkan diri dalam kerugian bertahun2

      Delete
    6. Anda untung 30-70%/bulan, baru berapa lama?

      Modal anda berapa?

      KALAU memang anda bisa untung 30-70%/bulan terus-menerus sampai bertahun-tahun, itupun kemungkinan hanya kasus untuk anda saja.

      Nanti kalau anda sudah bisa untung 30-70%/bulan terus-menerus, silahkan tulis blog dan paparkan teori anda.

      Kalau anda tidak suka "teori" saya bahwa harus rugi bertahun-tahun dulu, TIDAK USAH MAMPIR dan BERKOMENTAR di blog ini.

      Tambahan lagi, saya TIDAK PERNAH ber"teori" bahwa seseorang harus rugi bertahun-tahun. Yang saya paparkan adalah JANGAN MEMASANG TARGET TIDAK MASUK AKAL. Kalau kebetulan anda bisa mencapai target tidak masuk akal tersebut, itu berarti anda luar biasa hebat (atau, kemungkinan besar, hanya beruntung dan hanya untuk jangka waktu pendek).

      Blog ini hanya untuk orang-orang biasa yang berminat belajar. Bukan untuk orang pintar dan hebat seperti anda yang sudah bisa untung 70%/bulan.

      Delete
    7. Malam pak Iyan

      Sebelum bertanya, saya ingin menyampaikan ungkapan "kagum" saya dengan pak Pintu Jati, karena :
      1. Baru 3 kali kirim comment, salah 1 nya langsung menjadi "favorit" bapak, saya yang sudah mengirim berbelas comment
      saja tidak mampu menjadi favorit :-D
      2. Baru belajar beberapa bulan langsung bisa profit 30-70% per bulan
      Nampaknya kondisi pak Pintu, berkebalikan dengan saya, saat ini saya sedang mengalami salah satu kondisi terburuk di market
      Portofolio yang sempat naik 14.47% hanya dari 1 Juni ke 1 Agustus dengan mudahnya berbalik arah, per hari ini profit total tinggal 0.73%
      Menjadi over-confidence karena dengan mudahnya mendapatkan kenaikan portofolio persen demi persen, kesalahan lama yang sama kembali berulang
      yaitu telat merealisasikan profit
      Profit yang sudah didepan mata dibiarkan lenyap dengan begitu cepat, beberapa contoh EXCL dari +15% menjadi -12%, GGRM +10% jadi -8% dll
      Ujung-ujungnya profit hanya berakhir menjadi cut loss kerugian

      1. Kenapa ya pak meskipun sudah tahu konsep trailing stop, teori disciplined trader dll kita tetap saja melanggarnya? Ini benar-benar mengherankan saya
      2. Saat ini moral saya sedang down setelah penurunan portofolio yang secara nominal paling besar yang pernah saya alami (sekitar 63jt) hanya
      dalam 1 bulanan, apa yang biasa pak Iyan lakukan ketika mengalami kondisi yang tidak menyenangkan seperti ini untuk
      memperoleh lagi kepercayaan diri?
      Lalu bagaimana juga di kondisi sebaliknya ketika sedang bullish supaya tidak terlalu menjadi over-confidence?
      3. Penurunan ini sebenarnya belum menggerus modal saya, tapi "hanya" profit saja. Kenapa ya kalau yang hilang adalah profit bukan modal
      kita tidak terlalu sedih dan panik?
      Bagaimana mengatur mindset kita agar bisa sedih ketika profit kita hilang? Ya saya paham konsep trailing stop tapi jika mindset kita belum benar saya rasa
      kesalahan ini akan terus berulang
      4. Apakah menurut pak Iyan kondisi pasar akan selalu berulang, maksud saya ini adalah pertama kali nya saya mengalami kejadian saham yang naik cepat
      tiba-tiba berbalik dengan lebih cepat dan membuat saya terkejut dan terpaku.
      Apakah pak Iyan yang sudah banyak pengalaman menganggap kejadian ini biasa-biasa saja dan
      polanya akan selalu terulang di kemudian hari? Apakah nothing new in stock market atau justru di market selalu muncul hal-hal baru yang unpredictable?
      5. Untuk cut loss/trailing stop apakah bapak lebih suka menggunakan limit order atau market order atau hanya mental stop-loss? dan apa alasannya?
      Selama ini saya belum terlalu sreg menggunakan auto trading hingga hanya mengandalkan mental stop-loss/trailing stop sehingga
      ketika batas limit terlewati banyak yang miss (baca: banyak alasan) untuk tidak melakukan eksekusi

      Terimakasih banyak atas jawabannya :-)

      Delete
    8. Dear Erwin Sanz,

      A.1. Jangan deh jadi komentator "FAVORIT" yang ngeselin.

      A.2. Untung 30-70% per bulan biasanya adalah beginner's luck (keberuntungan seorang pemula). Dan hampir pasti modal trading-nya relatif kecil (beberapa juta Rupiah).

      B.1. Sampai saat ini pun saya masih CUKUP SERING TIDAK 100% KONSISTEN cut-loss. Artinya, disiplin dan konsisten adalah hal yang SANGAT SULIT dilakoni.

      B.2. Setiap pemain saham PASTI akan mengalami keruntuhan moral. Yang membedakan pemain saham berpengalaman dengan yang tidak adalah bagaimana menbangun kembali moral yang sudah runtuh tersebut.

      Bagaimana caranya?

      Ini adalah masalah psikologi trading, dan psikologi adalah suatu yang personal.

      Sebagai info: Saya sudah berkali-kali runtuh moralnya dan pernah beberapa kali (karena stress yang amat sangat besar yang disebabkan rugi yang amat sangat menyiksa) memutuskan utk BERHENTI main saham. Tapi setelah beberapa saat, saya mulai lagi.

      Bagaimana cara agar kepercayaan diri bisa kembali?

      Nah, ini tidak mudah dan perlu waktu. Cara yang saya lakukan adalah dengan mengecilkan POSITION SIZE dan berusaha melaksanakan trading plan se-DISIPLIN mungkin. Kalau mulai bisa untung lagi (walaupun kecil), kepercayaan diri akan berangsur-angsur kembali.

      Tentang moral yang jatuh ini dan moral yang overconfidence akan saya bahas pada pos tersendiri.

      B.3. Nah, cara saya membuat saya SELALU SEDIH, STRESS, dan PANIK walaupun hanya profit yang hilang adalah dengan MARK TO MARKET. Artinya, saya SELALU menilai portofolio berdasarkan nilai MARKET, bukan nilai modal beli.

      Saya juga berencana menulis hal ini pada pos tersendiri.

      B.4. Kondisi pasar akan selalu berulang. Bentuk perulangan itu, kemungkinan besar, tidak 100% sama. Tapi mirip-mirip.

      Menurut saya, nothing new in this world (bukan hanya di stock market). Semua telah pernah terjadi. Masalahnya adalah kita yang tidak tahu bahwa hal tersebut sudah pernah terjadi.

      B.5. Saya memakai mental stop-loss. Kenapa bukan auto-trading stop-loss?

      Karena saya trading via broker manusia. Mohon diingat: saya sudah trading SEBELUM ada online-trading.

      Untuk anda (dan pemain saham lain) yang main saham via online trading, auto-trading cut-loss adalah pilihan paling baik.

      Delete
    9. Dear pak Iyan

      Ikut nimbrung lagi. Pertanyaan saya lagi2 soal FTT. Rasanya saya sudah sering tanya ttg FTT di blog Pak Iyan..

      Pak Iyan, saya memang bercita2 jdi FTT spt Pak Iyan (saya sudah pernah curhat sebelumnya). Tapi nampaknya, lingkungan sekitar saya tdk mendukung. pekerjaan sebagai FTT dianggap sangat berisiko. Lagian, trading buat sambilan saja sudah bisa. Begitu kata orang2 terdekat saya.

      Pak Iyan sendiri tahu bahwa trading itu sangat2 berisiko. Pak Iyan sendiri bahkan beberapa kali memutuskan BERHENTI main saham, seperti yang Pak Iyan tulis diatas.

      Pertanyaan saya:

      apakah dari Pak Iyan pribadi, Pak Iyan tidak menyesal mengambil keputusan menjadi seorang FTT yang sangat berisiko?

      Jika FTT sangat berisiko, mengapa Pak Iyan memilih terjun menjadi seorang FTT? Kira2 apa yang memotivasi Pak Iyan?

      Terima kasih

      Delete
    10. Dear El Heze,

      Anda pernah menyatakan bahwa ingin menjadi FTT (full time trader). Dan saya juga sudah pernah bilang bahwa FTT belum tentu adalah pekerjaan idaman anda.

      Anda tidak akan tahu sebelum nyemplung sampai basah kuyup. Kalau sudah basah kuyup (pernah rugi sangat besar, pernah stress berat, pernah hampir mau bunuh diri, dll) dan masih tetap mau jadi FTT, baru lah bisa dikatakan bahwa FTT adalah profesi yang tidak bisa anda tinggalkan.

      1. Saya (hampir) TIDAK PERNAH menyesal memutuskan menjadi FTT.

      Yang sering saya sesalkan adalah saya tidak terjun ke dunia saham dari awal karir saya.

      Yang sering saya sesalkan juga adalah saya tidak cut-loss lebih cepat.

      2. Kalau beresiko tinggi, mengapa saya bersikukuh memilih menjadi FTT?

      Menurut saya, FTT adalah profesi paling cocok utk saya. Kesimpulan ini saya dapatkan setelah saya introspeksi diri selama beberapa bulan (di tahun 2000an awal) SEBELUM saya memutuskan untuk menjadi FTT.

      Hal ini agak sulit dijelaskan. Jadi, mungkin suatu saat akan saya jelaskan di pos tersendiri.

      Intinya: Jangan jadi FTT hanya karena uang. (Pekerjaan idaman seharusnya TIDAK ADA HUBUNGAN dengan jumlah uang yang didapat. Tapi lebih karena kepuasan batin.)

      Delete
    11. Dear pak Iyan,
      Dari pengalaman bapak belasan tahun bermain saham, apa bapak menemukan perbedaan bermain saham jaman awal-awal dulu dibanding dengan sekarang terutama dari faktor external?
      contohnya yang saya maksud: cari profit jaman dulu lebih mudah dari sekarang (atau sebaliknya) karena .... , analisa teknikal kini semakin banyak false dan semakin tidak reliable (atau sebaliknya), usia suatu jurus semakin tidak bertahan lama karena faktor perkembangan teknologi yang membuat banyak orang2 cepat menggunakan jurus yang sama, analisa fundamental semakin tidak terpakai di dunia pasar saham (atau sebaliknya) dll , atau malahan bapak tidak merasakan adanya perbedaan bermain saham dulu dan sekarang
      Mungkin kl tidak keberatan pak Iyan bisa berbagi pengalaman ini dengan pemula, supaya pemula bisa bersiap-siap dan tidak terkejut bahwa pasar saham sangat dinamis dan harus tetap terus belajar supaya tidak tertinggal.
      Terimakasih

      Delete
    12. Dear Erwin,

      Apakah anda pernah dengar orang (yang lebih) tua bilang: "Dulu mah lebih enak. Apa-apa lebih gampang"?

      Itu adalah pernyataan orang-orang yang DULU pernah sukses. Tapi sudah tidak sesukses dulu karena mereka bilang dengan jelas bahwa "dulu lebih enak."

      Artinya: kalau sekarang anda gampang untung dari saham, itu tidak akan bertahan lama.

      Apa yang sekarang mudah sukses, pasti akan mengundang orang banyak untuk ikutan. Alhasil yang mudah untung itu akan menjadi lebih sulit.

      Tambahan lagi market akan selalu berubah. Bisa dari sisi teknologi, dari sisi peraturan, dll.

      TAPI...

      Prinsip DASAR main saham TIDAK AKAN berubah. Sampai kapanpun, manusia tidak bisa lari dari sifat SERAKAH (Greedy), MALAS BERPIKIR, MALAS MEMAKAI AKAL SEHAT, IKUT-IKUTAN (herd mentality), dan juga PANIK di saat yang salah.

      Apa bukti PRINSIP DASAR main saham tidak berubah?

      Buku "Reminiscences of a Stock Operator" ditulis Edwin Lefevre di tahun 1920an tapi buku tersebut adalah buku FAVORIT banyak pemain saham sampai sekarang.

      Artinya?

      PRINSIP DASAR main saham tidak berubah, tapi EKSEKUSI main saham pasti berubah karena perkembangan zaman.

      Adapt or Die.

      Catatan: Blog ini saya namakan TERUS BELAJAR: MAIN SAHAM karena saya pun masih terus belajar. Saya masih gak berani mengklaim bahwa saya adalah PAKAR saham.

      Delete
  9. Pak Iyan,

    Salam kenal, saya Edna, pembaca setia blog ini sejak tahun lalu. Sudah main saham di sela2 ngurus anak, masak, nyapu, dll. sejak akhir 2011. Pertama main, pikiran sy sama spt Pintu Jati & JJ, ingin untung 5 % per bulan ( setelah baca buku E.M). Ternyata lsg rugi 15% di bulan pertama....hiksss...nangis bombay. Tapi berhubung sy suka dgn dunia saham, baca2 berita, belajar analisa teknikal (daripada nyapu terus..bosen) maka sy bertahan sambil terus belajar. Tahun 2012 ,rugi sy impas.
    Thn 2014- 2015, cuma bisa untung 18 %, berarti 9 % setahun. Ternyata yg ditulis di buku2 itu, prakteknya susah beneer. Tapi betul spt Pak Iyan bilang, kita harus belajar terus, supaya intuisi main saham terasah.
    Makasih utk sharing ilmunya ya Pak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Edna,

      Saya sangat senang membaca komentar anda.

      Anda termasuk yang BENAR-BENAR SERIUS BELAJAR MAIN SAHAM. Pemula yang sudah sadar sulitnya (untung) main saham tapi tidak menyerah adalah calon pemain saham sukses.

      Dan anda sudah bertahan 4 tahun bermain saham. Sebentar lagi anda akan naik kelas dari PEMULA menjadi MENENGAH.

      Bisa untung 18% di tahun 2014-2015 adalah prestasi yang bagus. Tetap semangat.

      Anda sudah membuktikan bahwa belajar saham TIDAK SEMUDAH yang digembar-gemborkan penjual buku/seminar/pelatihan. Tapi, sebenarnya, juga TIDAK TERLALU SULIT kalau anda tidak menyerah dan bisa bertahan 2-3 tahun(dan tidak rugi terlalu banyak pada masa-masa itu).

      Delete
    2. salam kenal mas iyan saya setuju dengan artikel di atas bisnis saham sebernarnya hampir sama dengan bisnis sektor ril kadang naik kadang turun cuma sistem saja yang berbeda contoh di dunia pertanian harga cabe di tingkat petani bisa 5000, 10000 bahkan kadang mencapai 60.000 dengan asumisi modal 50 juta perhektar dengan produksi rata 4 ton per hektar, bisa dibanyangkan berapa kerugian yang diderita petani kalau panen dengan harga 5000 dan kalau mendapat harga tertiggi berapa keuntungan yang hasilkan., menurut saya untung rugi adalah hal yang biasa dalam bisnis , kalau tidak mau rugi ya jadi karyawan saja dan menerima gaji setiap ahir bulan

      Delete
  10. Selamat sore mas Iyan, saya mau bertanya. Sebagai seorang yang baru akan belajar dan mencoba saham, berapakah kisaran modal yang baik untuk mencoba? Apakah rentan 100rb - 1jt cukup? Terima Kasih

    ReplyDelete
  11. Malam pak Iyan,
    Menurut bapak kapan seseorang sebaiknya berhenti bermain saham selain setelah ia bangkrut atau mengalami kerugian fatal?
    Saya selalu yakin bahwa dunia saham sama seperti semua bidang lainnya tidaklah untuk semua orang.

    Namun masalahnya rasa-rasanya tidak ada orang yang tidak tertarik bergelut di saham apalagi kalau sudah pernah mencicipi manisnya dapat uang dengan "mudah"
    Seperti kata Livermore "The game of speculation is the most uniformly fascinating game in the world" sampai mereka lalai kalau sebenarnya mereka tidak "berbakat".
    Kapan saat yang tepat untuk sadar diri dan berkata "cukup"?
    Terimakasih
    :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya sih, pemain saham berhenti main saham karena bangkrut atau rugi fatal. Dan itupun ia berhenti main saham bukan karena ia mau berhenti; ia berhenti karena dipaksa keadaan: modalnya habis.

      Nah, kalau anda tanya KAPAN sebaiknya seseorang berhenti bermain saham SELAIN karena kehabisan modal, jawabannya adalah: saya tidak tahu.

      Tapi kalau anda MERASA bahwa main saham bukan untuk anda, itu adalah tanda-tanda ada baiknya anda berhenti dulu.

      Kalau setelah berhenti beberapa saat anda merasa HARUS dan TIDAK BISA TIDAK untuk mulai main saham lagi, berarti anda perlu mencoba lagi.

      Kalau setelah berhenti beberapa saat anda merasa hidup anda lebih tenang dan menyenangkan, berarti main saham TIDAK COCOK untuk anda.

      Delete

Pertanyaan dan komentar anda akan saya jawab sesegera mungkin. Maaf, saya tidak menerima pertanyaan dan komentar anonim. Promosi, iklan, link, dll, apalagi hal-hal yang tidak berhubungan dengan main saham TIDAK AKAN ditampilkan.