Friday, September 10, 2010

Target Laba Main Saham (Bagian II)

Protected by Copyscape Online Plagiarism Tool

Pos ini adalah bagian kedua dari empat pos:

  1. Target Laba Main Saham (Umum)
  2. Target Laba Investasi Saham (Jangka Panjang)
  3. Target Laba Trading Saham (Jangka Pendek)
  4. Contoh Kasus Laba/Rugi Main Saham

 
Target Laba Investasi Saham (Jangka Panjang)

 
Pada pos "Target Laba Main Saham (Umum)" saya menganjurkan pemain saham untuk menentukan target -20%, +10%, atau +20% per tahun tergantung pengalaman. Target-target tersebut cukup wajar tapi kurang tepat karena kita tidak membandingkan mereka dengan kondisi pasar.

Mengapa kita perlu membandingkan target dengan kondisi pasar?
 
Sebab utama adalah karena kondisi pasar mempengaruhi hasil investasi jangka panjang. Kalau pasar naik, saham juga naik; investor untung. Kalau pasar turun, saham juga turun; investor rugi. Artinya: investor lebih mudah untung waktu pasar naik daripada waktu pasar terpuruk. 

Kalau pasar terus turun dalam jangka waktu yang lama, investor jangka panjang sulit mendapat untung—malahan lebih mungkin rugi—pada periode tersebut. Karena alasan inilah investor perlu membedakan target sesuai kondisi pasar.

Okelah kalo begitu, anda menyetujui. Tapi apa yang kita pakai sebagai tolak ukur kondisi pasar?
  
Di Indonesia, kondisi bursa saham secara keseluruhan diukur dengan Indeks Harga Saham Gabunga (IHSG) Bursa Efek Indonesia. IHSG inilah yang saya sarankan kita pakai sebagai tolak ukur target laba investasi saham.

Mari kita mulai.

 
Pemula (pengalaman sampai dengan 2 tahun)

Target pemula adalah rugi tidak lebih dari 20% modal setiap tahun.

Target pemula investasi saham tidak berbeda dengan target pemula main saham (umum): jangan rugi terlalu banyak. 

Untuk jelasnya, silahkan anda membaca pos "Target Laba Main Saham (Bagian I)."


Menengah (pengalaman sampai dengan 6 tahun)

Target investor saham berpengalaman menengah adalah untung/rugi setengah dari persentase naik/turunnya IHSG.

Jadi kalau IHSG naik 30%, target kita adalah untung 15% ([1/2] x 30% = 15%).

Kalau IHSG turun 20%, target kita rugi maksimal 10% ([1/2] x 20% = 10%).

Contoh cara menghitung:
IHSG
Target
Awal Tahun
Akhir Tahun
+/-
Persentase +/-
1000
1500
+500
+50%
+25%
1500
1200
-300
-20%
-10%
Catatan: (Persentase +/-) = (+/-) dibagi (IHSG Awal Tahun).

 
Target investor berpengalaman menengah memang relatif kecil. Yang penting adalah anda sudah bisa mendapat untung waktu pasar naik dan juga mampu meminimalisir kerugian waktu pasar anjlok.

Rugi maksimal setengah dari turunnya IHSG kedengaran sangat mudah. Tapi kenyataannya berbeda 180 derajat. Mengapa?

Waktu IHSG turun 20%, banyak saham yang turun lebih dari 20%, malahan ada yang turun 50% atau bahkan lebih. Kalau anda hanya rugi 10%, kondisi anda sudah jauh lebih baik dari investor lain dan sudah dapat dikategorikan sukses.


Mahir (pengalaman di atas 6 tahun)

Target investor mahir adalah untung 100% dari kenaikan IHSG dan rugi maksimal 20% dari penurunan IHSG.

Jadi kalau IHSG naik 30%, target kita adalah untung 30% (100% x 30% = 30%).

Kalau IHSG turun 30%, target kita rugi maksimal 6% (20% x 30% = 6%).

Contoh cara menghitung:
IHSG
Target
Awal Tahun
Akhir Tahun
+/-
Persentase +/-
2000
3000
+1000
+50%
+50%
2500
1500
-1000
-40%
-8%
Catatan: (Persentase +/-) = (+/-) dibagi (IHSG Awal Tahun).

 
Investor mahir bukan hanya mampu membiarkan keuntungan beranak-pinak ketika pasar naik tapi juga bisa meminimalisir kerugian ketika pasar terpuruk.

Waktu pasar turun, satu-satunya cara agar investor tidak rugi adalah dengan menjual semua saham yang ia miliki. Ia lalu duduk manis menanti dengan sabar sampai pasar memberi sinyal bahwa penurunan itu sudah berakhir.

Bila anda bisa mencapai target di atas, selamat! Anda sudah lulus dan berhak menyandang gelar Magister Investasi Saham. 

Bermodal gelar tersebut anda siap bekerja keras untuk mengejar untung sebesar-besarnya ketika pasar naik dan siap terus belajar untuk menekan rugi sekecil-kecilnya saat pasar turun.

Mau tahu target laba trading saham (jangka pendek)? Lanjut ke "Target Laba Main Saham (Bagian III)."






Pos-pos yang berhubungan:

Artikel bermutu yang patut dibaca:
[Pos ini ©2010 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

10 comments:

  1. Mas Iyan,

    saya sudah invest di reksadana.. dan hasilnya setelah satu tahun cukup bagus.. hasilnya tersebut saya ambil untuk mencoba invest di forex tapi hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan..

    apakah Mas Iyan pernah mencoba forex?
    boleh tolong dijelaskan bedanya dengan saham?

    kalo di forex, kita deposit uang dan itu untuk beli pair currency.
    kalo di saham, apakah prosesnya juga sama, kita deposit uang dulu terus buat beli (long buy) ato juga jual (short sell) saham?

    kalo saya baca2, ada yg istilah T+3 itu apaan ya?
    istilah T+3 ini yg saya tau kalo di reksadana dana, artinya kalo kita cairkan reksadana, dananya akan masuk maksimal 3 hari setelah kita cairkan.


    saya berencana menjadi seorang investor saham, bukan trading, karena sibuk dengan kerjaan kantor.
    tapi ingin yang sistem online dan dengan modal yang minim dan tanpa biaya perbulan.
    apakah IPOT itu kena biaya maintain per bulan?
    apakah ada sekuritas yang seperti saya inginkan?
    kalo di OD (Danareksa) ditulis ada biaya 33rb/bulan walaupun kebijakan ini belum dilaksanakan.

    mohon pencerahannya ya Mas Iyan.
    makasi banyak Mas.


    Regards
    Santoso

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya tidak pengalaman main Forex, jadi saya jawab "sepengetahuan" saya ya.

      1. Saham di Indonesia TIDAK bisa short-sell. Anda harus deposit uang kalau mau mulai transaksi saham.

      2. Silahkan baca pos "Pasar Regular, Tunai, Negosiasi di Bursa Saham Indonesia."

      http://terusbelajarsaham.blogspot.com/2012/07/pasar-regular-tunai-negosiasi-bursa.html

      3. IPOT ada biaya data-feed 33rb/bulan, sama dengan informasi anda tentang OD (Danareksa). Fee ini adalah untuk data-feed online trading.

      Setahu saya E-Trading tidak mengenakan fee data-feed ini. Silahkan tanya langsung ke sana.

      Delete
    2. Kok saya jadi penasaran dengan pendapat kawan Santoso tentang 'invest di Forex'. Maksud anda mungkin 'trading di Forex' ya? Saya sekarang jarang melihat orang betulan 'invest di Forex', soalnya biaya swap cukup bikin pusing kalau kita simpan pair sampai berbulan-bulan (tetapi sebaliknya juga benar, kalau kita bisa dapat positive swap jika mau carry trade, cuma ini masanya sudah lewat sejak nilai tukar Yen terapresiasi dengan sangat dramatis).

      Sekalian deh untuk pembaca setia blog Bung Iyan, saya mau bagi sedikit rekor Laba Investasi Saham kelas dunia setahu saya:
      1) Warren Buffet. Rekornya rata-rata 20% per tahun. Sumber: situs Berkshire Hathaway.
      2) Peter Lynch. Rekornya rata-rata 30% per tahun. Dengan catatan, Lynch mengakui kalau dia seringkali hanya benar 6 dari 10 kali keputusan yang diambil dalam bermain saham. Sumber: buku One Up on Wall Street.
      3) Long-Term Capital Management. Rekornya rata-rata 40% per tahun. LTCM ini fund management yang dipimpin dua peraih Nobel Ekonomi dan satu regu pasukan elite jenius dari universitas terbaik dunia (MIT, Harvard, Caltech, dsb). Sumber: buku When Genius Failed.

      Delete
  2. Mas iyan..saya mau nanya..
    Saya punya modal 5jt..
    Saya sudah positif ingin bermain saham..
    Yang saya tanyakan apa benar sekarang utk buka rekening awal sampai 5jt mas?
    Jika iya..apa 5 jt itu sudah bisa langsung saya belikan saham??
    Terimakasih atas bimbingan mas iyan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setahu saya sekarang ini banya broker online trading yang menerima setoran awal Rp 1 juta bahkan kurang.

      Setoran anda bisa dibelikan saham kalau rekening anda sudah siap.

      Untuk jelasnya, silahkan tanyakan ke perusahaan broker di mana anda berencana membuka rekening.

      Delete
  3. Sore Mas Iyan..
    Izin bertanya..apakah mungkin salah satu saham perusahaan dalam 6 tahun dapat meningkat nilainya sampai 1000 persen?? Soalnya saya melihat data seperti itu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Putra Aji Nugroho,

      Mungkin saja harga saham naik 10 kali lipat dalam 6 tahun. Tapi tentu saja, tidak banyak perusahaan yang sahamnya naik fantastis seperti itu.

      Delete
    2. Siap..terima kasih Mas Iyan..Terus berkarya dan berbagi ilmu

      Delete
  4. Dear Mas Iyan,

    Nama saya Arya.
    Saya baru mulai baca-baca blognya dan saya suka sekali karena penjelasannya yang detail.
    Setelah baca-baca, saya rasanya lebih cocok sebagai investor saham, bukan trader.
    Sepengetahuan saya investor itu lebih fokus ke buy and hold, beli saham perusahaan berfundamental baik, dan jangka panjang. Mohon koreksinya.
    Saya ada beberapa pertanyaan:
    1. Misal saya mulai investasi di Januari, dan pada bulan Agustus saya sudah merugi sebesar 30% (lebih dari 20%). Pada saat itu apa yang baiknya dilakukan? Hold atau Jual? Karena saya awalnya berpatokan ke prinsip Buy and Hold seperti yang disebut diatas.
    2. Menurut Mas Iyan, sebagai investor, lebih baik Buy secara periodik (misal per bulan) atau beli sekali tapi besar (misal per tahun)?

    Thanks before :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Arya,

      Kalau anda baca di halaman "About", saya awalnya berniat jadi investor tapi beralih menjadi trader.

      Nah, pertanyaan anda tentang investasi lebih cocok kalau ditanyakan ke investor.

      Saya akan menjawab dari pandangan saya sebagai trader/pemain saham.

      1. Untuk investasi jangka panjang, anda tetap sebaiknya Cut-Loss kalau kerugian mencapai persentase tertentu. Nah, persentase tertentu ini yang harus anda tentukan sendiri.

      2. Jangan terpaku pada beli secara periodik. Kalau jadi investor, sebaiknya beli saham yang sedang UPTREND. Kalau sedand DOWNTREND, jangan dibeli.

      Delete

Pertanyaan dan komentar anda akan saya jawab sesegera mungkin. Maaf, saya tidak menerima pertanyaan dan komentar anonim. Promosi, iklan, link, dll, apalagi hal-hal yang tidak berhubungan dengan main saham TIDAK AKAN ditampilkan.