Thursday, May 30, 2013

Apakah Harga Saham Sudah Mahal?

Banyak pembaca yang bertanya,"Menurut Bapak Iyan, apakah harga saham ABCD sudah mahal?"

Kalau anda membaca halaman About, anda sudah tahu bahwa saya tidak memberikan rekomendasi saham spesifik.

Apakah TLKM sudah mahal? Apakaha WSKT sudah mahal?

Saya tidak bersedia menjawab.

Lho, kok pelit banget sih, gerutu anda.

Terus terang, saya memang pelit dalam hal tertentu. Tapi pelit bukanlah penyebab saya tidak bersedia menjawab apakah suatu saham sudah mahal atau masih murah. Saya tidak bersedia menjawab karena saya TIDAK TAHU.

Saya ulangi: Saya tidak tahu apakah saham sudah mahal atau belum.

Lagian, saya lebih baik tidak tahu.

Lho?

Yang meneliti apakah saham masih murah atau sudah mahal adalah analis fundamental. Saya bukan penganut analisa fundamental; saya penganut analisa teknikal.

Kalau sudah baca pos "Saham Yang Layak Dibeli Menurut Analisa Teknikal" anda tahu bahwa analisa teknikal menganjurkan membeli saham yang cenderung naik, bukan saham yang murah. Kalau saham cenderung naik, lambat-laun ia akan menjadi mahal.

Masalahnya, saham yang sudah mahal, biasanya malah naik terus dan jadi tambah mahal. (Kalau anda sudah main saham cukup lama, saya yakin anda pernah mencermati hal ini.) 

Bukan hanya itu. Saham yang sudah naik banyak bukan hanya makin naik terus, tapi juga naiknya makin cepat. Makin tinggi harganya, makin cepat naiknya.

Nah, kalau saya membaca atau mendengar bahwa saham ADHI atau TOTL atau WSKT atau WIKA atau KLBF atau KIJA atau LPCK atau MPPA sudah mahal, makin kurang keberanian saya untuk membeli saham-saham tersebut. Padahal saham-saham yang sudah mahal, kalau mereka bergerak naik, naiknya malahan amat sangat pesat .

Inilah sebabnya saya tidak tahu, tidak mau tahu, dan (berusaha) tidak peduli apakah saham sudah mahal atau tidak. Walaupun saham sudah naik banyak, kalau analisa teknikal yang saya pakai memberi sinyal beli, saya akan beli.

Membeli saham yang sedang naik, apalagi yang sudah naik banyak (dan menjadi mahal) tentu saja tidak saya anjurkan untuk pemula. Mengapa? Karena saham yang sudah naik tinggi, biasanya volatilitasnya juga tinggi. Artinya, saham tersebut cenderung naik tajam dan turun tajam. Kalau anda beli pada moment yang salah, besar kemungkinan anda akan rugi.

Lagipula, inti dari pos ini bukan menganjurkan anda untuk membeli saham yang mahal. Inti pos ini: anda tidak perlu tahu apakah saham sudah mahal atau belum karena pada dasarnya tidak ada yang tahu.

Saham yang sudah naik banyak, sudah mahal, bisa menjadi lebih mahal lagi. Maka dari itu, kalau saham yang anda miliki sedang naik pesat, biarkan ia naik. Tidak perlu coba-coba menerka-nerka apakah ia sudah kemahalan, apakah sudah saatnya jual. Apalagi pengetahuan anda dalam menganalisa saham masih minim (jangan tersinggung).

Kalau analis-analis profesional dengan data lengkap, pengalaman segudang, pendidikan tinggi, masih saja sering salah menebak harga saham yang wajar (Silahkan baca pos "Valuasi Indeks Saham Indonesia Terlalu Tinggi?"), bagaimana dengan prospek anda menebak apakah suatu saham sudah mahal?

Apakah ini berarti saham yang naik akan naik terus?

Tentu saja tidak. Saham yang naik, terus naik, pada akhirnya akan turun. Tidak ada saham yang terus naik dan tidak pernah turun. Tapi tidak ada juga yang tahu sampai di harga berapa saham tersebut akan naik sebelum akhirnya berbalik turun. 

Kalau turun, bagaimana?

Kalau turun, ya harus cut-loss.

Kalau anda sudah tahu cara cut-loss (silahkan baca pos "Cara Cut-Loss Untuk Stop Kerugiaan Saham") anda tidak perlu khawatir apakah saham yang anda beli sudah mahal. Kalau BENAR sudah mahal, saham tersebut akan turun dan anda jual rugi di titik cut-loss. Kalau saham tersebut masih naik, berarti belum mahal. Nyatanya masih ada (banyak) yang beli.

Kalau saham naik pesat jauh di atas titik cut-loss, kapan jualnya supaya saya tetap untung?

Kalau saham sudah berpotensi memberikan laba, anda perlu memakai teknik menjual yang disebut TRAILING STOP. Untuk jelasnya, silahkan baca pos "Cara Menjual Saham Agar Profit Maksimal."
 






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2013 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]  

6 comments:

  1. Dari posting2 yang saya baca sampai sekarang, saya menyimpulkan kalau Bung Iyan adalah penganut aliran Growth Investing, bukan Value Investing. Cukup sederhana memang, hanya banyak pemain saham yang lugu (mohon sesama rekan jangan tersinggung) kebingungan karena kedua aliran ini memiliki paradigma yang berbeda. Tidak ada aliran yang paling benar, yang ada hanya aliran yang paling sesuai dengan karakter masing-masing.

    Ringkasnya begini:
    1) Value investing (the champ: Warren Buffet)
    Beli ketika harga saham di bawah harga wajar. Jual ketika fundamental tidak lagi kuat. Signature move: margin of safety.

    2) Growth investing (the champ: William O'Neil)
    Beli ketika harga saham berpotensi tumbuh sangat besar. Jual ketika harga saham berpotensi jatuh sangat besar. Signature move: market direction.

    Seperti biasa, Bung Iyan boleh mengoreksi saya jika ada yang kurang tepat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya rasa Bung Willy benar.

      Sangat jelas bahwa saya bukan penganut Value Investing karena saya tidak tertarik beli saham murah. Saya lebih tertarik beli saham yang uptrend alias bergerak naik.

      Delete
  2. bukannya kalo harga saham yg baik menandakan kinerjanya bagus kan? jadi klo bagi pemula kenapa tidak? kendatipun demikian ada baiknya membeli saham ketika murah krna saham yg baru berpotensi akan naik? buat saya yg pemula berpikirnya seperti itu hehe..
    mohon diluruskan pak kalo salah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Rahayu, mungkin yang anda maksud "bukannya kalo harga saham yang Naik menandakan kinerjanya bagus kan?"

      Saya luruskan sedikit ya: saham yang naik belum tentu menandakan kinerjanya bagus. Bisa saja harga saham naik karena "digoreng" oleh bandar. Yang lebih tepat adalah: kalo harga saham naik, biasanya adalah KARENA kinerjanya bagus.

      Mengapa Pemula TIDAK saya sarankan beli saham yang lagi naik? Karena saham yang lagi naik kencang, biasanya gejolak harganya juga kencang. Artinya, naiknya kencang, turun juga kencang.

      Sebelum Pemula membeli saham seperti ini, mereka terlebih dulu HARUS MENGERTI konsep Trend dan HARUS DISIPILIN Cut-Loss dan MENGERTI konsep Trailing Stop.

      Silahkan baca pos "Arti Istilah Saham Trending Trendless", "Cara Cut-Loss Untuk Stop Kerugian Saham", dan "Cara Menjual Saham Agar Profit Maksimal."

      http://terusbelajarsaham.blogspot.com/2013/06/arti-istilah-saham-trending-trendless.html

      http://terusbelajarsaham.blogspot.com/2010/12/cara-cut-loss-untuk-stop-rugi-main_13.html

      http://terusbelajarsaham.blogspot.com/2013/05/cara-menjual-saham-profit-maksimal.html

      Kalau belum mengerti ketiga hal ini, membeli saham yang sudah naik banyak, bisa menuai bencana. Tapi kalau sudah paham ketiga hal ini, membeli saham yang sedang naik bisa sangat menguntungkan.

      Delete
  3. bulan pertama saya mulai main saham, sy persis mengalami yg bung iyan sebutkan di kalimat terakhir. akibat dari sok tahu dan sok pinter, main entry saham bluechip. duduk tenang dan mimpi untung banyak. ilmu masih kosong, tapi berasa pinter jumawa. itulah saya saat pertama kali main saham. akibat dari entry yg ngawur, asal, ndak tahu kalo saham yg saya beli sudah naik banyak dan reversal. akhirnya rugi. didiamkan, makin rugi. udah tahu sedikit mengenai cutloss, tapi ndak tahu teknil riilnya. ya udah namanya main saham ngawur kalo saya inget waktu itu. sekali lagi untung nemu blog ini sebelum saya bangkrut lebih banyak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Agung, terima kasih banyak untuk sharing-nya. Semoga membantu pembaca-pembaca lain yang baru belajar main saham.

      Delete

Pertanyaan dan komentar anda akan saya jawab sesegera mungkin. Maaf, saya tidak menerima pertanyaan dan komentar anonim. Promosi, iklan, link, dll, apalagi hal-hal yang tidak berhubungan dengan main saham TIDAK AKAN ditampilkan.