Wednesday, May 22, 2013

Valuasi Indeks Saham Indonesia Terlalu Tinggi?

Saya baru saja membaca artikel di koran Kompas tanggal 06 Maret 2013 yang berjudul "Valuasi Indeks Sudah Terlalu Tinggi."

Figure 1. Artikel Valuasi Indeks Bursa Efek Indonesia Sudah Terlalu Tinggi - Kompas, Rabu 6 Maret 2013

[Kalau anda bertanya-tanya, "Kenapa Bung Iyan kurang kerjaan, di bulan Mei membaca koran bulan Maret?", nah, ini topik berbeda dan akan saya tulis di pos yang lain.]

Artikel tersebut mengutip perkataan Kepala Riset dan Analisa UBS Securities, Joshua Tanja. "Kita berekspektasi indeks akan kembali ke level 4,500. Jadi, untuk saat ini silahkan mengambil keuntungan yang sudah diperoleh dari kenaikan indeks sebelumnya."

Saya kutip lebih lanjut dari artikel tersebut:

Menurut Joshua, valuasi IHSG saat ini sudah terlalu tinggi. Dengan kata lain, IHSG sudah berada di fase jenuh beli. Rasio harga terhadap laba bersih (PER) IHSG menuru Joshua, suda mencapai 16,2 kali. Diperkirakan, tingkat PER yang pas saat ini adalah pada kisaran 13 kali.

Inti dari artikel tersebut: harga saham-saham di Bursa Efek Indonesia sudah terlalu tinggi, alias sudah sangat mahal. Saatnya jual, tunggu turun, lalu beli lagi.

Sebagai informasi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada tanggal 05 Maret 2013 tutup di angka 4751. Dua hari sebelumnya, tanggal 01 Maret, IHSG baru saja membuat rekor tertinggi (sampai saat itu) di angka 4811.

Nah, kalau IHSG di 4800 dinilai sudah terlalu tinggi, bagaimana dengan kondisi pada tanggal 20 Mei 2013 saat IHSG tutup di angka 5214?

Kalau 4800 sudah terlalu tinggi, 5200 seharusnya sudah amat sangat terlalu tinggi dong?

Terus terang, saya tidak tahu.

Lagipula, itu bukan pesan yang mau saya sampaikan di pos ini.

Pesan yang mau saya sampaikan adalah:


1. Jangan serta-merta langsung percaya pada apa yang anda baca, apa yang anda dengar.

Peter Lynch di bukunya One Up On Wall Street menyarankan anda untuk jangan langsung percaya pada siapapun. Di pos "Mau Investasi Saham? Baca Dulu Buku Peter Lynch 'One Up On Wall Street' (Bagian I)" saya merangkum perkataan Peter Lynch sebagai berikut:

Peter Lynch pada Bab Pendahuluan mengatakan bahwa ada satu hal utama yang perlu anda ketahui: Jangan mengikuti mentah-mentah saran para profesional! 

Jangan langsung percaya saran pakar ekonomi, jangan langsung mengikuti saran analis saham, jangan menelan bulat-bulat saran saya di blog ini, jangan pula langsung membeli saham rekomendasi Peter Lynch. 

Mengapa?

Jawabannya ada di nomor 2.


2. Analis bisa (sering) salah.

Tidak hanya analis-analis karbitan yang sering salah; analis kelas kakap yang bekerja di perusahaan sekuritas kelas dunia seperti UBS Securities pun bisa salah.

Coba anda bayangkan. Analis di perusahaan sekuritas kelas dunia tentu saja punya data yang lengkap, juga punya informasi terkini. Analis tersebut kemungkinan berpendidikan tinggi, punya gelar MBA, sudah lulus test CFA (Chartered Financial Analyst).

Data lengkap, informasi up-to-date, pendidikan tinggi, pengetahuan luas, pengalaman segudang. Kok masih salah?

Jawabannya ada di nomor 3.


3. Semua analisa saham, ujung-ujungnya adalah nebak.

Lho kok gitu, protes anda. Analisa fundamental kan berdasarkan laporan keuangan perusahaan. Kok dibilang nebak?

Laporan keuangan perusahaan adalah fakta masa lalu, sedangkan pergerakan harga saham selalu forward looking, memandang ke depan.

Coba anda pikirkan: siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan? Siapa yang tahu apakah perusahaan akan berhasil menghasilkan laba sebesar angka yang diprediksi analis? Siapa yang tahu apakah produk terbaru perusahaan akan laku keras di pasar? Kalau laku keras, berapa banyak yang akan terjual, berapa lama hal itu akan berlanjut?

Analis berbekal data lengkap bisa saja membuat educated guess, prediksi terpelajar. Tapi prediksi adalah tetap nebak. Anda bisa namakan prediksi, forecast, ramalan, prakiraan, target. Apapun namanya, ujung-ujungnya adalah nebak. Masih tidak percaya? Silahkan baca pos "Cara/Tehnik Menganalisa Saham."

Apakah ini artinya saya mengatakan analisa fundamental tidak perlu?

Sama sekali bukan begitu.

Analisa fundamental sangat penting untuk mengukur mahal-murahnya suatu saham. Tapi analisa fundamental bukan tipe analisa yang cocok untuk pasar yang sangat Bullish dan sangat Bearish. (Anda belum tahu arti Bullish dan Bearish? Silahkan baca pos "Arti 'Bullish' dan 'Bearish' di Arti Bullish dan Bearish di Bursa Saham.")

Dengan kata lain, ketika optimisme terlalu tinggi, saham yang sudah mahal, sudah tinggi harganya, bisa naik lebih tinggi lagi. Ketika pesimisme terlalu tinggi, saham yang sudah murah, sudah rendah harganya, bisa turun lebih rendah lagi. 

Karena alasan ini, pesan saya berikutnya adalah:


4. Jangan mendewakan satu cara dalam berinvestasi saham. 

Dunia ini penuh dengan orang-orang fanatik, yang menganggap hanya ada satu cara yang terbaik, hanya ada satu cara untuk melakukan sesuatu. Masalahnya, cara yang mereka anggap terbaik biasanya adalah satu-satunya cara yang mereka tahu, cara yang biasa mereka kerjakan.

Bagaimana mereka tahu dan begitu yakinnya bahwa cara mereka adalah yang terbaik, padahal mereka tidak pernah mempelajari cara yang lain?

Katakan saja anda untung besar investasi di saham tapi tidak pernah beli properti. Apakah dengan itu bisa anda simpulkan bahwa investasi saham adalah investasi yang terbaik? Bagimana kalau misalkan anda untung berlipat-lipat dari investasi properti tapi tidak pernah main saham. Apakah anda bisa dengan yakin menyatakan bahwa investasi properti lebih baik dari investasi saham? 

Saya sudah cukup tua dan berkecimpung cukup lama di dunia saham untuk menyadari bahwa TIDAK ADA CARA SATU-SATUNYA YANG TERBAIK UNTUK SEMUA ORANG. 

Ada cara terbaik untuk saya, ada cara terbaik untuk anda, tapi cara terbaik untuk saya tidak berarti adalah cara terbaik untuk anda.

Lagian, tidak ada analisa yang works all the time, yang selalu berhasil dan tidak pernah gagal. Kalaupun anda penganut aliran teknikal, sadarlah bahwa tidak ada analisa teknikal yang juga works all the time. Untuk lengkagpnya, silahkan baca pos "Prinsip Mendasar Analisa Teknikal (Technical Analysis) Bagian I." 

Kalau anda ingin sukses main saham, berusahalah untuk membuka pikiran anda dengan menerima hal-hal baru. Berusahalah menerima bahwa banyak jalan menuju Roma. Berusahalah menerima bahwa jalan yang anda pilih menuju Roma belum tentu jalan yang terbaik untuk orang lain. Berusahalah menerima perbedaan pandangan, sikap, tujuan, keyakinan, pendapat orang lain.

(Perhatikan: saya tidak meminta anda menerima pandangan orang lain. Yang saya minta adalah anda untuk menerima perbedaan pandangan, sikap, dll.)

Pasar saham hanya akan berfungsi kalau orang-orang punya pendapat yang berbeda. Kalau semua orang mau beli, tidak ada yang menjual, tidak ada saham yang bisa anda beli. Kalau semua orang mau jual, tidak ada yang mau beli, tidak ada saham anda yang terjual. 

Nah, sekarang sedikit intermezzo mengenai mengapa saya beralih dari analisa fundamental.

Saya sendiri sekarang condong memakai analisa teknikal. Saya meninggalkan analisa fundamental karena ketika mulai serius main saham di tahun 1990an, saya mendalami analisa fundamental tapi hasilnya saya rugi habis-habisan. Apakah ini berarti analisa fundamental itu jelek?

Sama sekali tidak.

Saya mengartikan kegagalan saya dikarenakan saya tidak mengerti betul analisa fundamental, dan juga karena analisa fundamental tidak cocok dengan bingkai-waktu main saham saya.

Kemungkinan yang lain adalah: saya memakai analisa fundamental ketika Krisis Moneter (krismon) menghantam Indonesia di tahun 1997. Ketika pesimisme amat sangat tinggi--seperti saya tulis di atas--saham yang sudah murah bisa turun menjadi lebih murah lagi. Kondisi seperti itu tidak berarti analisa fundamental jelek. Hanya saja, menerapkan analisa fundamental pada saat itu harus dibarengi dengan tingkat kesabaran tinggi (suatu karakter yang tidak saya miliki).

Kalau anda mau tahu saran saya menghadapi saham yang mencetak rekor harga tinggi terbaru, silahkan baca pos "Saham Naik ke Harga Tertinggi. Saatnya Jual?"         







Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2013 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

17 comments:

  1. asyik pak Iyan posting lagi :) seperti biasa tulisan bpk mudah dicerna dan dengan bahasa lugas yang mudah dimengerti bagi pemula seperti saya.
    kali komen saya cuma terus menulis pak dan klo bisa lebih sering, hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya maunya menulis lebih sering, tapi waktu luang tidak banyak.

      Trims sudah menyemangati saya untuk lebih produktif menulis.

      Delete
  2. Membaca postingan Bung Iyan kali ini, saya jadi ingat pas pertama sekali saya mulai bermain saham. Sebelumnya saya juga kaku sekali, main saham hanya berdasarkan analisis fundamental saja. 'Kitab suci' saya ya Intelligent Investor karya Benjamin Graham, dan apa2 saya nilai melulu dari segi P/E ratio. Lama kelamaan saya merasa cara saya cenderung picik yang satu dimensional saja dan seperti selalu ketinggalan setiap kali melihat berita tentang kemajuan ekonomi Indonesia. Dari situ saya mulai belajar bahwa Graham sendiri bukanlah seorang dewa yang tidak pernah salah. Sebagai seorang value investor klasik, Graham hanya mau membeli saham yang murah, tetapi benar-benar mengabaikan sisi kualitas perusahaan dan manajemen yang bersangkutan. Dengan kata lain, Graham seringkali terjebak membeli 'saham tidur' atau -lebih kasar lagi- 'saham busuk' yang dia nilai memang masih murah. 'Iman' saya benar-benar runtuh ketika akhirnya mengetahui annual return Graham tercatat hanya sekedar 14.9% per tahun, jumlah yang tidak kecil tetapi juga sama sekali tidak sebesar yang saya harapkan dari bermain saham.

    Saya pun lalu mereformasi cara berpikir saya main saham. Dimulai dari mempelajari cara main saham Buffet dan Fisher yang menekankan pentingnya sisi kualitas manajemen dan keunggulan kompetitif suatu perusahaan. Lalu belajar dari Lynch tentang Fast Grower, Turnaround, dan Cyclical yang sedikit banyak membuat saya mulai memahami tipe2 perusahaan yang maju pesat di Indonesia. Akhirnya saya mendapat pencerahan dari O'Neil dalam memilih supercompany, perusahaan yang menjadi garda terdepan dalam kemajuan suatu bangsa. Sekarang saya bangga sekali setiap kali bermain saham dan melihat betapa saham perusahaan yang saya pegang terus tumbuh dan berkembang seiring dengan majunya ekonomi bangsa ini. Singkatnya, saya menyadari value investing tidak cocok dengan karakter saya, oleh karena itu saya kini telah mantap menjadi seorang nationalist growth investor. Anehnya lagi, saya merasa lebih berhasil dalam bermain saham ketika uang (profit) bukanlah yang menjadi tujuan utama saya dalam bermain saham. Saya tidak munafik bahwa mendapatkan profit dari main saham memang menyenangkan, tetapi saya lebih gembira lagi ketika menyaksikan saham perusahaan yang saya pegang terus tumbuh dan berkembang.

    Makanya saya dulu pernah bertanya pada Bung Iyan, signature move anda itu apa? Mungkin itu terdengar sederhana, tetapi jawaban dari pertanyaan itu bisa jadi yang menentukan sukses tidaknya kita dalam bermain saham karena itu memberikan justifikasi sejati akan mengapa kita mau bermain saham sekarang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya belum bisa mendefinisikan "signature move" saya. Mungkin itu sebabnya saya masih belum berani bilang bahwa saya sudah sukses main saham. :D

      Saya yakin bung Willy meraup untung jauh lebih banyak dari saya karena anda sudah menemukan "signature move" yang cocok untuk anda.

      Saya masih terus belajar, terus mencari "signature move" yang paling cocok untuk karakter saya.

      Delete
    2. Saya yakin Bung Iyan akan berhasil juga kelak menemukan 'signature move'-nya karena mau membuka diri untuk belajar dan mengakui kesalahan. Akan hal kapan anda atau saya mendapatkan 'pencerahan', hanya Yang Di Atas yang paling tahu. Just do our best, and God will do the rest.

      Masalah saya sudah sukses atau belum, kita lihat dulu bagaimana saya akan bertahan ketika bear market besar datang dan mengamuk. Ingat kisah Darvas yang sukses besar pas tahun '50-an sampai ada bukunya, tetapi rugi besar pas tahun '60-an. Anehnya lagi, hampir tidak ada buku yang membahas kejatuhan Darvas.

      Saya tidak ingin lupa daratan seperti banyak rekan2 kita yang baru mencetak sedikit profit dari beberapa main saham selama beberapa tahun tapi langsung self-declare sebagainya masternya main saham. Menurut saya itu sama seperti orang yang dari Indonesia baru main ke negara 4 musim pas musim panas. Mereka merasa hidup itu mudah, tidak jauh berbeda seperti di Indonesia. Pertanyaanya disini, apa mereka bisa bertahan pas musim dingin mendadak datang? Bisa ya, bisa juga tidak. Tetapi saya akan lebih percaya cerita pengalaman orang Indonesia yang sudah bertahan berkali2 dihantam musim panas dan musim dingin di negeri orang, daripada orang yang 'hanya' sekedar liburan ke negara 4 musim pas pertengahan musim panas saja.

      Delete
    3. mantap bung willy, jadi trader harus rendah hati, jgn sombong, apalagi bikin self declare bahkan seminar, dengan iming2 pasti untung "even with zero knowledge". Mana ada???? moga bung willy n bung iyan sukses slalu dan tiap hari bullish knowledge,,,

      Delete
    4. Tidak ada sukses yang instan.

      Koreksi. Mungkin ada yang instan, tapi harus ada tumbalnya. Iiih, serem.

      Delete
    5. Tumbal?? Hiii, sereeemmm....

      Delete
  3. Pada 12 Juni 2013, IHSG sudah turun menembus level 4600-an. Dan sepertinya masih akan terus turun karena dana asing masih banyak yang keluar. Dengan kata lain prediksi analis di atas tidak salah2 amat. 'Hanya' meleset 1 kuartal saja.

    Walaupun demikian, saya juga ingat nasib seorang rekan saya yang pas akhir tahun 2007 dengan berani koar2 kalau IHSG sudah kelewat tinggi valuasinya, dan langsung (entah bagaimana mengaturnya dengan pihak brokernya) pasang posisi short-selling di semua posisi! Ternyata banteng IHSG terus melesat sampai pertengahan 2008, dan rekan2 lain mentertawakannya yang mereka nilai sudah kelewat paranoid sehingga merugi sampai milyaran rupiah. IRONISNYA, rekan ini telah melakukan prediksi yang benar, tetapi terlalu cepat mengambil posisi (yang berarti ya salah juga secara praktis). Seandainya dia bersabar menunggu sampai beberapa bulan ke depan di 2008 sebelum eksekusi short-selling, mungkin saat ini dia sudah pensiun dini dan duduk santai sambil berbagi pengalamannya sebagai 'one of the few' yang mampu bertahan DAN sekaligus jadi kaya-raya ketika beruang ganas datang mengamuk tahun 2008. Sampai saat ini rekan saya ini masih pusing dililit hutang dan terus depresi karena telah melewatkan salah satu kesempatan emas terbesar dalam hidupnya.

    Bung Iyan, sudah lama saya menantikan saat2 ini. Saya percaya tes sejati seorang investor adalah bagaimana dia bertahan ketika bear market datang dan mengamuk. Hanya saja saat ini saya masih ragu apakah ini adalah koreksi yang sehat ataukah deja vu permulaan dari amarah beruang tahun 2008 yang mengerikan. Jika ternyata IHSG terus turun sampai di bawah level 4400-an (yang ini hanya asumsi saya pribadi berdasarkan sistem pribadi), berarti benar kita sedang mengalami bear market besar. We'll see how things will unfold this time.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya tidak menyalahkan analis 100%; yang saya katakan salah adalah orang yang 100% percaya pada pernyataan analis. :D

      Memprediksi arah market memang tidak mudah. Tapi yang lebih sulit adalah mengeksekusi keputusan kita. Walaupun prediksi benar, eksekusi belum tentu menguntungkan karena "timing" bisa salah.

      Delete
    2. Sudah lama saya tidak mengikuti IHSG, dan pagi ini (21 Agustus 2013) saya kaget juga melihat IHSG telah crash ke level 4000-an! Bukan tidak mungkin IHSG terus jatuh lebih dalam, karena biasanya harga saham tidak bergerak naik sampai pertengahan kuartal terakhir.

      Beruang ganas sekali lagi telah lepas di IDX, ujian bagi para investor sejati akhirnya kembali datang di Indonesia! Saya sendiri langsung jingkrak-jingkrak senang karena ini dia kesempatan emas memborong saham2 kelas A yang sedang didiskon gila-gilaan. :D

      Delete
    3. Bung Willy cepat borong saham, supaya IDX stop turunnya. :D

      Delete
    4. Kalo saya GS sih baru mungkin IDX stop turunnya. ;)

      Saya kan selain pengikut Graham juga pengikut O'Neil, dan baru2 ini rekan Iyan menulis sendiri tentang pentingnya huruf 'M'. Saat ini trend sedang kuat ke bawah, sebaiknya bersabar sedikit menunggu sampai trend melambat atau mulai berbalik. Saat2 seperti inilah investor sejati diuji sampai sejauh mana mereka percaya dan konsisten dengan apa yang mereka yakini. :D

      Delete
    5. Arti GS apa ya?

      Bung Willy tepat sekali. "M"arket Direction memang lagi turun.

      Saya sama sekali tidak punya kemampuan membaca market untuk investasi jangka panjang. Apa boleh buat, saya trading saja mengikuti irama pasar.

      Delete
    6. GS bisa berarti 2: George Soros atau Goldman Sachs. :D

      Kalau ini bursa Amerika, saya sudah dengan senang hati minta broker Short Selling sekalian. ;)

      Dari segi fundamental Forex, investor asing lari karena isu2 terkait dengan Fed. Jadi sebenarnya tekanan jual tidak sekuat krisis 2008 yang sampai memangkas IDX 50% lebih begitu, tetapi kita juga tidak pernah tahu masa depan. Mungkin saja IDX jatuh ke level 3000-an sebelum Desember, siapa tahu?

      Bisa saja IDX jatuh sekalian balik ke level 2000-an, tetapi yang ini saya rasa sudah kebangetan prediksinya dan juga sejauh yang saya tahu tidak ada faktor pemicu dari dalam negeri yang signifikan kali ini. Berbeda dengan krisis 2008 dimana dari luar kita punya sub-prime mortgage crisis beserta jatuhnya harga batu bara dunia, dan dari dalam kita punya pecahnya bubble batu bara yang juga terkait skandal BUMI.

      Delete
    7. Oooh, George Soros atau Goldman Sach.

      Market tidak ada yang tahu pasti. Kita lihat saja nanti apa kelanjutannya. Semoga IDX tidak hancur lebur. Tapi, siapa tahu? :D

      Delete
  4. Salam kenal bung iyan.pagi ini sy melanjutkan membaca apa yg jenengan tulis di blog trus belajar saham. Saya hanya menyampaikan terima kasih dan salam hormat saya kpd bung iyan. Suatu pembelajaran yg luar biasa. Pembelajaran yg mengajak kita unt selalu percaya diri dg diri kita sendiri. Dalam filosofi jawa "dadio awakmu dewe" artinya jadilah diri anda sendiri. Menjadi diri sendiri dlm trading saham. Mulai dari mengalisa dg teknik apapun, sampai memutuskan apa yg akn dilakukan. Resiko dan konsekuensi apapun itu pilihan diri kita sendiri. Salah atau gagal itulah belajar. Sekali lg matur nuwun sanget. Mugi2 Gusti Allah paring berkah.

    ReplyDelete

Pertanyaan dan komentar anda akan saya jawab sesegera mungkin. Maaf, saya tidak menerima pertanyaan dan komentar anonim. Promosi, iklan, link, dll, apalagi hal-hal yang tidak berhubungan dengan main saham TIDAK AKAN ditampilkan.