Kata Gerald M. Loeb:
In considering a commitment a clear idea should be had of the levels at which one expects to close it out either at a profit or at a loss. Obviously, if one anticipates making only a very small amount, one's chances of being successful are rather small.
Saat anda mempertimbangkan untuk membeli saham, anda harus tahu jelas di harga berapa anda akan menjual untung/rugi saham tersebut. Kalau anda mengharapkan untung kecil, kecil kemungkinan anda untuk sukses.
Menurut saya yang dimaksud Gerald Loeb adalah sebagai berikut:
Misalkan anda berniat membeli saham EXCL seharga Rp 1.000.
Nah, sebelum membeli saham tersebut anda wajib menentukan harga jual kalau rugi (cut-loss) dan harga jual kalau untung.
Katakanlah anda hanya bersedia rugi Rp 50. Artinya, anda akan cut-loss EXCL kalau turun ke harga 950. Katakanlah juga anda berharap EXCL bisa naik ke harga 1.200 dan anda akan jual di harga tersebut.
Jadi dengan kata lain, anda bersedia untuk ambil resiko rugi 5% untuk mencoba meraih kemungkinan untung 20%.
Nah, yang ditekankan Gerald Loeb adalah anda berharap bisa untung 20%.
Bukan 1%. Bukan 2%. Bukan 5%.
Intinya, anda harus berusaha mencari POTENSI UNTUNG yang (relatif) besar dibandingkan resiko yang siap anda tanggung.
Harus saya ingatkan bahwa yang namanya "potensi untung" itu belum tentu jadi kenyataan.
Tapi kalau anda selalu membeli saham dengan potensi untung lebih kecil dari resiko, kecil kemungkinan anda akan meraih untung bermain saham.
Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2020 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]
Wednesday, May 27, 2020
Friday, April 24, 2020
Sebelum Membeli Saham: Jawab Pertanyaan Ini
Membuka rekening di perusahaan broker saham?
Betul.
Menyiapkan uang?
Tentu saja.
Belajar analisa fundamental?
Silahkan.
Belajar analisa teknikal?
Monggo.
Tapi kalau tujuan anda adalah ingin untung main saham, hal-hal di atas tidaklah cukup.
Lalu apa lagi dong?
Mengutip Gerald Loeb di buku The Battle for Investment Survival:
In actually entering the security market it seems fundamental that one should know why a commitment was opened, what one expected to make, how long it was expected to take, and what one was willing to risk. Personally, I cannot see how one can expect to figure the proper size of a position or the time to close it out unless it was first opened with a full understanding of these points.
In my opinion, commitments should not be closed haphazardly or, even worse, allowed to remain open without justification.
Jadi, sebelum anda membeli saham, hal yang paling penting yang harus anda lakukan adalah bertanya pada diri anda sendiri:
- Mengapa anda tertarik membeli saham tersebut.
- Berapa besar untung yang anda harapkan.
- Berapa lama anda bersedia menunggu.
- Berapa (persen atau Rupiah) anda bersedia rugi.
Kalau anda bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, silahkan beli. Kalau belum bisa menjawab, tunda dulu niat anda untuk cepat kaya dari bermain saham.
[Perlu saya garis bawahi bahwa bisa menjawab pertanyaan di atas tidak berarti anda pasti akan untung. Tapi kalau anda tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, anda beresiko rugi besar.]
Pos-pos yang berhubungan:
- "Mengapa" Anda Membeli Saham Yang Anda Beli?
- Trading Saham Cepat atau Investasi Jangka Panjang?
- Mau Main Saham? Ingat Tiga Hal Maha Penting Ini
- Jawab Pertanyaan Ini Sebelum Anda Investasi Saham
[Pos ini ©2020 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]
Sunday, March 29, 2020
Saham Dibeli Langsung Turun. Sebaiknya Bagaimana?
Pernahkah anda membeli saham, lalu tidak lama kemudian saham tersebut turun? Turun dan terus turun?
Kalau anda sudah main saham cukup lama, kemungkinan anda menjawab: "Bukan cuma pernah. Tapi sering."
Apalagi kalau kondisi pasar sedang panik seperti saat wabah virus Corona melanda di bulan Maret 2020. Harga saham bisa turun dan turun dan turun lebih dalam lagi.
Apa yang sebaiknya dilakukan?
Kalau anda pembaca setia blog ini, anda tahu bahwa saya menyarankan untuk menjual (cut-loss) kalau saham anda turun sampai titik cut-loss yang sudah anda tentukan.
Tapi bagaimana kalau anda sebenarnya YAKIN akan fundamental saham yang anda beli? Tidakkah sebaiknya saham tersebut tetap dipegang saja? Lagipula banyak orang berusaha meyakinkan anda (dan diri mereka sendiri) bahwa saham yang berfundamental bagus akan naik lagi setelah badai berlalu.
Saya setuju bahwa saham berfundamental bagus akan naik lagi kalau BENAR fundamental-nya tetap bagus setelah badai berlalu. Tapi tidak ada yang tahu dengan pasti bahwa fundamental saham akan tetap bagus setelah ada masalah serius (seperti wabah virus Corona) meluluhlantakkan roda perekonomian.
Jadi, apa yang sebaiknya dilakukan?
Saran saya (terutama kepada pemain saham jangka panjang): Jual/cut-loss dulu. Kalau nanti kondisi sudah lebih jelas, silahkan beli lagi.
(Kalau anda trader jangka pendek, anda seharusnya sudah menyiapkan trading plan jangka pendek.)
---###$$$###---
Gerald M. Loeb juga membahas topik ini di buku The Battle for Investment Survival:
The short-term method requires the closing of a trade for a reason, and if later the situation changes, then one can re-establish the position. It sometimes can be done at a profit, and sometimes only at a loss in which case one has in effect paid for insurance.
Metode jangka pendek mengharuskan anda punya alasan untuk menjual saham (menutup posisi), dan kalau setelah itu situasi berubah, anda bisa membeli kembali saham tersebut (membuka posisi baru). Terkadang hal itu bisa memberi untung, dan terkadang mendatangkan rugi. Kerugian ini harus anda anggap sebagai premi asuransi.
Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2020 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]
Kalau anda sudah main saham cukup lama, kemungkinan anda menjawab: "Bukan cuma pernah. Tapi sering."
Apalagi kalau kondisi pasar sedang panik seperti saat wabah virus Corona melanda di bulan Maret 2020. Harga saham bisa turun dan turun dan turun lebih dalam lagi.
Apa yang sebaiknya dilakukan?
Kalau anda pembaca setia blog ini, anda tahu bahwa saya menyarankan untuk menjual (cut-loss) kalau saham anda turun sampai titik cut-loss yang sudah anda tentukan.
Tapi bagaimana kalau anda sebenarnya YAKIN akan fundamental saham yang anda beli? Tidakkah sebaiknya saham tersebut tetap dipegang saja? Lagipula banyak orang berusaha meyakinkan anda (dan diri mereka sendiri) bahwa saham yang berfundamental bagus akan naik lagi setelah badai berlalu.
Saya setuju bahwa saham berfundamental bagus akan naik lagi kalau BENAR fundamental-nya tetap bagus setelah badai berlalu. Tapi tidak ada yang tahu dengan pasti bahwa fundamental saham akan tetap bagus setelah ada masalah serius (seperti wabah virus Corona) meluluhlantakkan roda perekonomian.
Jadi, apa yang sebaiknya dilakukan?
Saran saya (terutama kepada pemain saham jangka panjang): Jual/cut-loss dulu. Kalau nanti kondisi sudah lebih jelas, silahkan beli lagi.
(Kalau anda trader jangka pendek, anda seharusnya sudah menyiapkan trading plan jangka pendek.)
---###$$$###---
Gerald M. Loeb juga membahas topik ini di buku The Battle for Investment Survival:
The short-term method requires the closing of a trade for a reason, and if later the situation changes, then one can re-establish the position. It sometimes can be done at a profit, and sometimes only at a loss in which case one has in effect paid for insurance.
Metode jangka pendek mengharuskan anda punya alasan untuk menjual saham (menutup posisi), dan kalau setelah itu situasi berubah, anda bisa membeli kembali saham tersebut (membuka posisi baru). Terkadang hal itu bisa memberi untung, dan terkadang mendatangkan rugi. Kerugian ini harus anda anggap sebagai premi asuransi.
Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2020 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]
Subscribe to:
Posts (Atom)


