Saturday, August 24, 2013

Saham Turun, Tidak Dijual. Sudah Rugi Atau Belum?

Misalkan anda membeli saham Semen Baturaja (SMBR) di harga Rp 600. Dasar lagi apes, SMBR perlahan-lahan turun. Sebulan kemudian SMBR bertengger di harga Rp 450.

Posisi anda di atas kertas rugi, tapi anda belum berminat menjual saham ini.

"Selama belum aku jual berarti belum rugi," kata anda dalam hati menghibur diri sendiri.

Justifikasi anda adalah sebagai berikut: kalau belum dijual, saham masih bisa naik lagi. Jadi, sebelum saham dijual, tidak bisa dibilang sudah rugi.

Benarkah logika tersebut?

Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat skenario berikut.

Katakan saja Dian, putri anda tercinta* yang berusia 10 tahun menderita demam 40° C. Karena demam tak kunjung turun, anda membawa Dian ke rumah sakit. Dokter ahli langsung memberi obat dan infus dan mengharuskan Dian dirawat-inap.

* (Kalau anda tidak punya putri, coba bayangkan putra anda. Tidak punya juga? Coba bayangkan seseorang yang sangat anda kasihi, misalkan istri atau suami anda, ibu atau ayah anda, kakak atau adik anda, pacar, anjing atau kucing atau burung peliharaan anda. Pokoke seseorang atau sesuatu yang sangat anda cintai.)

Pada pagi hari ketiga Dian dirawat-inap, ketika anda sedang membeli secangkir kopi di kantin rumah sakit setelah menunggui Dian semalam suntuk, telepon genggam anda berdengung.

"Pak, saya suster Melda," kata suara di sisi lain telepon. "Mohon segera datang ke ruangan Dian."

Anda campakkan cangkir kopi di meja dan langsung berlari ke lantai 3 rumah sakit, ke ruangan di mana Dian dirawat.

Hal pertama yang anda lihat adalah istri anda meraung-raung di pinggir kasur Dian. Suster Melda dan suster Hani, juga dokter Syahrial berdiri diam.

"Ada apa?" kata anda sambil bergantian memandangi Dian, lalu istri anda, lalu dokter Syahrial.

"Segala upaya sudah kami lakukan," kata dokter Syahrial. "Maaf sedalam-dalamnya, Pak. Putri anda...sudah berpulang."

Anda memelototi sosok Dian di tempat tidur. Jantung anda berdetak sepuluh kali per detik, bibir anda kering.

"Berpulang gimana?" tanya anda. Anda tahu artinya "berpulang" tapi tidak mungkin si putri tercinta "berpulang."

"Maaf, Pak," kata suster Melda. "Dian sudah wafat."

"Tidak. Tidak mungkin. Apa buktinya?"

"Denyut jantung Dian sudah berhenti sepuluh menit, Pak," kata dokter Syahrial.

"Tidak. TIDAK," kata anda. "Dian belum mati. Selama ia belum dikubur, berarti ia belum mati. BELUM MATI."

Lah?

Nah, menurut anda masuk akalkah argumen bahwa selama Dian belum dikubur, berarti ia belum mati. Padahal ia sudah tidak bernafas, padahal jantungnya sudah berhenti berdenyut. Betapapun besar cinta anda pada Dian tidak akan merubah fakta bahwa ia sudah tidak bernyawa.

Sudah anda pikirkan?

Coba anda bandingkan dengan logika bahwa saham yang sudah turun tapi belum dijual berarti belum rugi.

Hanya karena belum anda kubur, tidak berarti Dian belum mati.

Hanya karena (saham yang turun) belum anda jual, tidak berarti anda belum rugi.

Jual ataupun belum, faktanya adalah harga saham sekarang di bawah harga beli. Apakah anda berniat menjual atau tidak, tidak merubah fakta bahwa pada saat itu anda rugi.   

Reaksi menyatakan belum rugi kalau belum dijual adalah reaksi normal pemain saham, baik pemula ataupun veteran. Intinya, hampir semua orang tidak mau mengaku salah. Belum jual berarti belum rugi. Belum jual berarti belum salah.

Tapi, kalau belum jual, kata anda, saham masih bisa naik lagi kan.

Betul. Tidak salah.

Tapi saham juga bisa turun lebih dalam lagi. Sudahkan anda memikirkan kemungkinan ini? 

Jadi, bagaimana seharusnya anda menyikapi saham yang harganya turun jauh di bawah harga beli?

Anda harus menganggap SUDAH RUGI.

Perhatikan: Saya tidak mengharuskan anda untuk menjual saham yang sudah rugi ini. Silahkan saja kalau anda tetap bersikeras tidak mau jual. Saya tidak berhak memaksa anda.

Tapi satu hal yang saya haruskan anda lakukan: terimalah fakta, walaupun faktanya pahit. Jangan bersembunyi di dunia khayal. Kalau harga saham turun, artinya sudah rugi. Tidak peduli apakah sudah dijual atau belum.

Mengapa harus menganggap sudah rugi?

Menganggap SUDAH RUGI berarti anda mengaku salah. Dan hanya dengan mengaku salah anda bisa belajar dari kesalahan tersebut. Dengan belajar dari kesalahan ini, lambat-laun anda akan makin paham cara main saham yang menguntungkan.

Jadi, tanyakan sekali lagi ke diri anda sendiri: kalau saham yang anda beli turun, tapi belum dijual, apakah sudah rugi atau belum?

Kalau anda setuju bahwa saham turun berarti sudah rugi, bagaimana langkah selanjutnya untuk saham ini? Silahkan baca pos "Saham Turun, Sudah Rugi. Harus Bagaimana?" [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2013 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]  

    30 comments:

    1. Saya semakin yakin kalau diam2 Bung Iyan ada kerja sampingan sebagai penulis skenario sinetron. Hehehehehe.....

      Di sisi lain, skenario Bung Iyan sebenarnya terkait langsung dengan stop-loss kan. Kalau platform trading online dari broker yang Bung Iyan pakai apa bisa pasang stop-loss otomatis? Bung Iyan pakai broker dari Bomar atau Ipot sekarang?

      Kalau broker saya punya (Kiwoom Hero, dulu Dongsuh), tidak bisa. Jadi harus pesan stop-loss ke broker via telepon, makanya tidak begitu praktis. Beda tapi kalau di Forex, itu saya sesukanya mau pasang stop-loss, take-profit, trailing stop dan macam2 lagi. Itu juga sebabnya saya kalau trading mainnya di Forex, tapi kalo investasi mainnya di saham. :D

      Kalau Bung Iyan di Bomar atau Ipot bisa pasang stop-loss, take profit, dan trailing stop via online, mungkin saya akan mempertimbangkan kembali trading di saham.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Aah, bung Willy ngeledek. :D

        Bung Willy lagi-lagi betul: pos ini memang tentang cut-loss. Kalau belum merasa RUGI, pemain saham biasanya tidak mau CUT-LOSS.

        Saya aktif trading via broker kecil full-service. Jadi tidak bisa trailing stop otomatis. (Bomar Securities sudah tutup, kalau tidak salah, sejak awal tahun 2000an.)

        Setahu saya IPOT bisa pasang stop-loss, take-profit, trailing stop, dll secara otomatis via IPOT ATM (Automated Trading Machine). Tapi fee online-trading IPOT termasuk tinggi dan non-negotiable (waktu terakhir saya tanyakan). Jadi saya tetap tidak aktif memakai IPOT.

        Delete
    2. Akhir-akhir ini hampir semua saham turun drastis mengikuti IHSG. Banyak investor yang rugi termasuk saya sendiri sebagai investor pemula.

      1) Jika boleh tahu Mas Iyan dan Mas Willy, sudah loss berapa % dari modal yang ditanamkan, atau justru malah dapat profit?

      2) Saya sendiri sebagai pemain baru, dg modal 5 juta sudah lost sekitar 50%. Ini karena kesalahan besar saya dalam menggunakan dana margin tidak hati-hati. Sehingga diforcell oleh sekuritas :) Apa yang mas-mas akan lakukan setelah kejadian seperti ini untuk beberapa hari/minggu ke depan, sehingga jawaban/uraian mas dapat saya jadikan sebagai masukan/referensi?

      Terima kasih sebelumnya.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Saya pemain saham jangka pendek. Saham turun banyak belum tentu saya rugi banyak, tapi saham naik banyak belum tentu juga saya untung banyak.

        Karena konsisten cut-loss, anjloknya IDX beberapa minggu ini membuat saya rugi total 1-2% dari portofolio. Nah, ini bukan karena saham yg saya miliki turun cuma sedikit. Ini karena sebagian besar posisi saya adalah CASH.

        Ketika trend market adalah turun, jauh lebih baik TIDAK main saham daripada mencoba-coba dan akhirnya buntung. Kalaupun mencoba, coba dalam jumlah sekecil mungkin.

        Saya tidak tahu apa langkah terbaik selanjutnya. Tapi satu hal sudah pasti: CUT-LOSS SECEPAT MUNGKIN. Jangan biarkan rugi kecil menjadi rugi besar.

        Bung Willy, saya tunggu komentarnya.

        Delete
      2. Halo Bung Pelangi, langsung to the point saja ya:

        1) Saya seorang swing trading, dan hanya trading di saham kalau IHSG trend jelas naik (pakai simple MA saja sebenarnya langsung terlihat kok). Ketika MA terlihat cenderung stagnan atau mulai berbalik, saya langsung bersiap2 sell semua posisi saham ketika ada retracement. Puji Tuhan saya selalu berhasil Cut-loss sekitar 7-8% saja sesuai ajaran O'Neil. Tapi yah, sebenarnya tidak banyak juga saya trading di saham. Saya lebih senang trading di Forex karena banyak pair yang liquid dan buka 24 jam setiap hari kecuali pas weekend. Selebihnya saya lebih banyak main jadi position trading (investasi) di saham, jadi saham ada yang sudah saya simpan sampai bertahun-tahun... dan profit. Kalau simpan saham bertahun-tahun tapi tetap buntung itu namanya jadi 'the nyangkuters', dan disinilah gunanya analisis fundamental -mau ala Graham, Buffet, Lynch, O'Neil, terserah!- supaya kita tidak terjebak menyimpan saham busuk. :D

        2) Waduh, sebagai pemula kawan Pelangi berani sekali dari awal langsung main dengan margin?? Ya sudah, anggap saja margin call ini sebagai pelajaran langsung dari guru yang paling kejam karena anda langsung dikasih ujian dan baru diajar setelah itu. Saran saya, berhenti dulu pakai margin, setidaknya selama beberapa bulan ke depan. Atau lebih baik lagi, berhenti sama sekali main saham sampai trend jelas berbalik ke atas. Ingat apa yang kawan Iyan tulis beberapa saat lalu tentang huruf 'M' dari main saham ala O'Neil. Market jauh lebih kuat daripada kita, jadi jangan dilawan.

        Pas trend sudah kembali pulih naik, kawan Pelangi bisa mulai main saham lagi. Kali ini jangan pakai margin dulu, main saja dengan dana seadanya. Juga mainnya swing trading pada timeframe Daily ke atas dulu, lupakan main daytrading di Hourly atau scalping di Minute timeframe karena kawan Pelangi jelas belum siap skill maupun mental di situ. Kalau sudah dapat feel-nya dan konsisten profit di Daily ke atas, baru boleh coba daytrading dan scalping lagi. Ok? Remember, trend is our friend till the end. ;)

        Delete
    3. Betul sekali kata om willy dan om iyan ini, cut loss adalah segalanya, saya berhasil cutt loss di 5%, gak kebayang ruginya kalo tidak segera cut loss bisa berpuluh2 persen dengan kondisi skrng (IHSG per hari ini turun 3%an)

      ReplyDelete
      Replies
      1. CUT-LOSS adalah hal terpenting dalam bermain saham. Kalau tidak Cut-Loss, rugi kecil bisa jadi rugi besar.

        Sayangnya, kebanyakan pemain saham tidak mau mengaku salah, mengaku kalah dengan melakukan Cut-Loss ketika rugi masih kecil. Barulah ketika rugi sudah amat sangat besar, mereka TERPAKSA HARUS CUT-LOSS.

        Delete
    4. Ayo rekan-rekan Penerus Belajar Saham! Pada saat terjadi kepanikan luar biasa karena beruang ganas akhirnya lepas di IDX, peluang luar biasa juga telah muncul untuk memborong saham-saham terbaik Indonesia yang diobral gila-gilaan. Justru pada saat-saat semuanya panik seperti inilah kita-kita yang Intelligent Investor harus setamak-tamaknya membeli saham! Ayo kita terapkan analisis teknikal dan fundamental kita to the limit! :D

      ReplyDelete
      Replies
      1. Bung Willy, saya justru TIDAK BERANI beli saham pada saat saham turun gila-gilaan, ketika topan taifun tornado datang menerjang.

        Berlayar ketika topan datang sangatlah berbahaya. Saya memilih menunggu topan reda sebelum memutuskan untuk berlayar atau tidak.

        Ada sebagaian orang yang hobi menerjang badai dan sukses. Tapi lebih banyak yang menerjang badai dan eh...tewas.

        Delete
      2. Benar Bung Iyan, tetapi perhatikan juga kalau saya TIDAK bilang untuk beli SAAT INI JUGA SEKARANG JUGA. Yang penting adalah kalimat saya yang terakhir: 'Ayo kita terapkan analisis teknikal dan fundamental kita to the limit!'

        Kan saya juga pengikut O'Neil, masa saya lupa pentingnya huruf 'M'? Dan kalau Bung Iyan punya buku O'Neil yang 4th edition, pada halaman 418 O'Neil dengan penuh percaya diri menulis: 'Don't Let the Gloom Bugs Fool You!' Intinya adalah O'Neil mengingatkan semua orang ketika Amerika di tengah krisis 1982 bahwa peluang besar tetap akan muncul.

        Semakin suram semuanya terlihat, semakin cerah sebenarnya peluang kita untuk bangkit setelah beruang ganas kembali terlelap. Jika Indonesia bisa bertahan pas beruang mengamuk pas 1998 dan 2008, saya percaya kita pun akan bisa bangkit lagi setelah krisis 2013 berlalu. Semua orang pasti terlihat jenius dan percaya diri pas banteng melesat, tetapi hanya para Intelligent Investor sejati -mau ala Graham, Buffet, Lynch, O'Neil, Fisher, Darvas, Kheng Hong, terserah!- yang tidak akan pernah kehilangan harapan atau patah semangat ketika beruang ganas mengamuk. :D

        Delete
      3. Nah, begini baru jelas.

        Saya khawatir para pemula salah mengerti tentang ajakan bung Willy dan LANGSUNG BORONG saham saat ini juga. :D

        Delete
      4. Wah gawat kalau LANGSUNG BORONG saham saat ini juga. Walaupun sudah saya dan kawan Iyan ulang berkali2 sampai2 saya yakin sudah ada yang muak membacanya, mohon para rekan jangan pernah sekalipun melupakan huruf 'M' - 'Market Direction'. Mau sehebat apa pun analisis fundamental para rekan di 'CAN SLI', tetap saja kita akan celaka kalau analisis teknikal 'M' bergerak ke arah yang salah. ;)

        Walaupun demikian, jangan patah semangat. Pesan utama saya disini tidak berubah: 'Tamaklah ketika semua orang panik!' :D

        Delete
    5. Thanks atas wawasannya Pak Iyan dan Mas Willy.

      Ada yang ingin saya tanyakan lagi :)

      1) Mas Willy, apa yang dimaksud dengan "M" itu (dalam bahasa Indonesia yang sesederhana mungkin dan sejelasnya :) )?
      2) Untuk Pak Iyan. Pak, kalau buy/sell pakai full service (langsung sama broker) seperti yang Pak Iyan lakukan selama ini, apakah juga melalui antrian dulu di bid/offer seperti halnya kita menjalankannya di trading online?
      3) Biasanya butuh nunggu berapa lama saham yang kita perintahkan kepada broker untuk sell/buy akan dieksekusi/dilaksanakan?
      4) Bagaimana investor bisa tahu saham yang kita perintahkan untuk sell/buy sudah dijalankan/dieksekusi oleh broker Pak?

      Terimakasih sebelumnya :)

      ReplyDelete
      Replies
      1. 1. "M" adalah huruf M (Market Direction = Arah Pasar) dari CAN SLIM di buku "How To Make Money in Stocks.

        http://terusbelajarsaham.blogspot.com/2013/08/cara-investasi-saham-canslim-oneil.html

        2. Full-service broker atau online-trading tetap harus melalui antrian bid/offer.

        3. Eksekusi tergantung anda ngantri atau langsung jual/beli di harga offer/bid. Broker HANYA memasukkan order sesuai perintah anda.

        4. Anda bisa lihat buy/sell order yang sudah terjadi di menu Trade Done by Stock. Order yang belum match bisa dilihat di menu Order Queue atau Order Tracking.

        Delete
      2. 1) Sudah dijawab rekan Iyan. Saya sarankan kawan Pelangi belajar dari awal lagi tentang definisi uptrend, downtrend, dan sideways oleh rekan Iyan disini:
        http://terusbelajarsaham.blogspot.com/2013/07/definisi-uptrend-downtrend-sideway.html

        Jangan memandang enteng konsep2 sederhana seperti ini. Jika kawan Pelangi menganggap konsep Price Action ini kelewat mendasar, lalu mengapa anda bisa sampai memilih sisi yang salah ketika bermain saham di dunia nyata sampai kena Margin Call?

        Kalau saham uptrend, kita buy (atau istilah kerennya, go LONG). Kalau saham downtrend, kita sell (atau istilah kerennya, go SHORT). Itu saja teori dasar dari huruf 'M'. Baru kalau yang satu ini sudah benar2 paham, kita bisa main dengan analisis teknikal yang lebih rumit. Ok? :D

        Delete
    6. Pak, terkait jawaban no. 4. Itu berarti, walaupun investor menggunakan full service lansung berhadapan dengan broker, kita masih tetap install program software tradingnya di komputer seperti trading online ya Pak? Kalau di software milik saya, saya biasa lihat di sub menu portofolio bagian order.

      Mas Willy, itulah kesalahan saya, mungkin karena faktor greed kali :) Perkiraan saya waktu itu, setelah lebaran tempo hari saham-saham akan mulai naik, begitu beli sebanyak-banyaknya, eh malah turun drastis dan saya biarkan. Karena penggunakan dana margin ada tenggang waktunya dan kena bunga harian, sehingga ketika jatuh tempo untuk melunasi pinjaman tidak saya lunasi, ya mau tidak mau pihak sekiritas menjual paksa saham kita yang sudah turun jauh :).

      Saya lihat hari ini, kayaknya IHSG mulai naik/rebound. Selamat berjuang untuk Pak Iyan dan Mas Willy. Semoga Sukses.

      Jangan lupa kita dukung KPK dalam pemberantasan korupsi ya Pak. Mengingat, ternyata sudah bertahun-tahun duit rakyat dikorupsi oleh pejabat-pejabat negara yang tidak bertanggungjawab dan tidak punya malu selama ini, sehingga kesengsaraan rakyat tidak kunjung habis. Merdeka !

      ReplyDelete
      Replies
      1. Walaupun memakai broker full-service, sebaiknya anda punya akses data real-time (dari sistem online-trading). Dengan akses ini, anda bisa (kadang2) mengecek status dan antrian order. Dengan melakukan ini, broker tidak berani membohongi anda.

        Merdeka!

        Delete
      2. Halo kawan Pelangi,

        main saham pakai margin itu sama sekali tidak dianjurkan untuk jangka panjang, karena bunganya itu loh. Langsung puyeng saya kalau bunga hariannya juga dimasukan.

        Saya juga sempat mengulas masalah margin pada pembahasan Intelligent Investor baru2 ini:
        http://billythepip.blogspot.com/2013/08/main-saham-ala-intelligent-investor_27.html

        Paling efektif memakai margin kalau jadi daytrader supaya tidak kena bunga, tetapi ya saat ini kan rekan Pelangi belum dapat feel-nya? Apa pun yang terjadi, kita harus terus melindungi diri dari kerugian yang fatal.

        Saya pribadi -ini pendapat pribadi saya, jadi jangan dipercaya mentah2 juga karena saya juga bisa salah- justru belum yakin kalau IHSG mulai berbalik naik, IHSG menurut saya hanya retrace sedikit dalam satu momentum yang kuat ke bawah (coba baca artikel Bung Iyan tentang downtrend). Sudah banyak trader pemula yang tanpa ampun terhantam oleh sinyal2 palsu semacam ini, jadi mohon jangan terjebak lagi sama kesintingan Tuan Pasar.

        Selamat berjuang juga untuk para rekan semuanya.

        Merdeka!

        Delete
    7. Bung Willy, trading forex pakai sekuritas apa ya. thanks

      ReplyDelete
      Replies
      1. Halo kawan Adi,

        kalau mau bahas Forex sebaiknya tulis comment di blog saya saja ya. Saya agak kurang enak sama kawan Iyan untuk membahas Forex disini karena blog 'Terus Belajar Saham' ini kan fokus untuk main saham, bukan Forex. :)

        Delete
    8. wuih... post ini rame bgt komentarnya... brg bagus kyk BBCA begitu turun 5% aja tanpa ampun lgsung aku cutloss. Bagaimanapun juga kl enga cutloss kita rugi waktu.. Waktu terbatas, enga bisa kita nyangkut lama-lama.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Setuju!

        memang, kalau mau sukses trading harus konsisten cut-loss.

        Delete
      2. Maaf, kali ini saya kurang setuju!

        Jika rekan Bobby dari awal sudah tahu dan yakin BBCA saham yang bagus, mengapa justru dicutloss? Mengapa justru tidak memborong lebih banyak saham BBCA lagi ketika harga BBCA sedang dibanting seperti sekarang?

        Ada bedanya antara cutloss untuk trading yang spekulatif (ini saya setuju kita harus tanpa ampun cutloss sebelum terlambat) dengan panik menjual saham untuk investasi jangka panjang (jangka panjang kok langsung dilepas dan diobral lagi harganya, tidak patut dibanggakan itu), apalagi kalau sudah tahu saham yang dipegang itu 'barang bagus'.

        Delete
      3. Betul juga. Seharusnya saya tanya dulu ke Bobby, apakah Bobby trading atau investasi.

        Saya adalah SPEKULAN, bukan investor, jadi saya harus cepat cut-loss.

        Delete
      4. Saya pengunjung baru blog ini dan saya suka tulisan2 bung iyan. Menyambung komentar bung iyan di atas ada yang ingin saya tanyakan. Kalau tipe investor saham apa perlu juga menetapkan cut loss. Atau cut loss hanya untuk tipe trader atau spekulan saja ? Terima kasih.

        Delete
      5. Mas Widad,

        Investor saham, apalagi yang pemula, TETAP HARUS menetapkan cut-loss.

        Mengapa?

        Cut-loss berarti anda mengakui bahwa anda SALAH. Kalau anda baru belajar investasi, mungkinkah anda tidak pernah SALAH?

        Setiap investor pemula PASTI banyak melakukan kesalahan, baik dalam analisa maupun dalam eksekusi.

        Beda cut-loss investor dan trader adalah di besaran cut-loss nya.

        Kalau trader, mungkin turun 5% sudah cut-loss. Kalau investor, mungkin tunggu turun 10-15% baru cut-loss.

        Delete
    9. Pak Iyan,

      Sekarang IHSG lagi bullish, tetapi hampir semua saham2 pilihan (screening) saya sedang sideways.. Cth: PWON, BKSL, ASRI. No comment saya sama saham2 pilihan saya, karena saya nggak bisa tentukan apakah akan naik lagi atau koreksi.

      Jujur saja, saya tunggu saham2 saya koreksi dulu, tapi kok terkesan jalan di tempat ya?

      Kalau menghdadapi kasus seperti ini Pak Iyan, apa saran Pak Iyan? Apakah saya nggak trading dulu sambil nunggu koreksi atau bagaimana? Karena kalau saya trading di saham2 yang teknikalnya saya nggak seberapa paham polanya (meskipun agak likuid), risikonya juga besar.


      Terima kasih

      ReplyDelete
      Replies
      1. Anda sudah menyiapkan Trading Plan?

        Kalau sudah, artinya anda harus KONSISTEN menjalankan Trading Plan tersebut.

        Delete
      2. Trading plan saya adalah saya hanya trading di saham2 pilihan..

        Delete

    Pertanyaan dan komentar anda akan saya jawab sesegera mungkin. Maaf, saya tidak menerima pertanyaan dan komentar anonim. Promosi, iklan, link, dll, apalagi hal-hal yang tidak berhubungan dengan main saham TIDAK AKAN ditampilkan.