Saturday, May 14, 2011

Arti Istilah "IPO" di Bursa Saham

"IPO" adalah singkatan dari Initial Public Offering, atau dalam bahasa Indonesia, Penawaran Umum Perdana. Dengan kata lain, "IPO" adalah kali pertama masyarakat umum bisa membeli saham perusahaan tersebut. Sebelum "IPO" ini, saham belum diperdagangkan di bursa.

Dengan melakukan IPO sebuah perusahaan mendapat dana segar dengan menjual sahamnya kepada publik dan saham tersebut seterusnya akan diperdagangkan di bursa.

Siapa yang boleh membeli saham "IPO"?

Semua warga negara Indonesia yang punya uang boleh membeli (memesan) saham IPO di Indonesia. Untuk saham yang ramai peminat, janganlah terlalu berharap akan mendapat jatah sesuai pesanan karena jumlah saham yang anda dapat bisa-bisa hanya 1% atau kurang dari jumlah yang anda pesan. 

Investor bisa memilih membeli saham tersebut pada saat IPO atau membeli setelah saham diperdagangkan di bursa. Perhatikan bahwa jika anda membeli saham yang telah diperdagangkan di bursa, anda membeli dari investor yang sudah membeli saham tersebut sebelumnya, yang artinya transaksi anda tersebut tidak masuk ke kas perusahaan.

Kalau dibandingkan dengan membeli mobil, membeli saham IPO adalah ibarat membeli mobil baru langsung dari dealer mobil baru; membeli saham di bursa adalah ibarat membeli mobil second dari penjual mobil bekas.







Pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, May 7, 2011

Arti Istilah "Dividen" Saham

Dividen adalah bagian dari laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Perhatikan bahwa dividen ini tidak sama dengan laba perusahaan.

Contoh: Misalkan saja Bank Rakyat Indonesia (BBRI) membukukan laba per saham Rp 500. Ini bukan dividen. Kalau pemegang saham BBRI memutuskan untuk membayar Rp 200 per saham dari laba tersebut kepada pemegang saham, Rp 200 inilah yang disebut dividen.

Ada perusahaan yang memutuskan tidak membagikan laba kepada pemegang saham karena perusahaan memerlukan dana tersebut untuk, misalnya, ekspansi bisnis. Perlu anda catat bahwa perusahaaan yang membukukan untung tidak wajib membagikan dividen. Ada atau tidaknya dividen ditentukan oleh pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Dari contoh di atas anda bisa lihat bahwa dividen tidak harus sebesar laba yang dibukukan perusahaan. Ada perusahaan yang semua labanya dibagikan sebagai dividen, ada juga perusahaan yang membagikan sebagian kecil labanya sebagai dividen. Untuk membandingkan dividen saham satu dengan saham yang lain pelaku pasar modal mengenal istilah “Dividend Pay Out Ratio” yang lebih sering disebut “Pay Out Ratio” saja.

Pay Out Ratio ini adalah perbandingan dividen dengan laba perusahaan saat itu. Dengan memakai contoh di atas, Pay Out Ratio saham BBRI adalah sebagai berikut:

(Rp 200 / Rp 500) x 100% = 40%

Kalau misalkan United Tractor (UNTR) membukukan laba Rp 1000 per saham dan membagikan seluruh laba ini dalam bentuk dividen, Pay Out Ratio saham tersebut pada tahun itu adalah:

(Rp 1000 / Rp 1000) x 100% = 100% 

Peringatan: bagus tidaknya suatu saham tidak bisa diukur dari besarnya dividen. Perusahaan yang tidak membagikan dividen bisa saja berkembang sangat pesat, perusahaan yang Peter Lynch sebut Fast Grower, sehingga harga sahamnya menanjak cepat. Perusahaan yang membagikan dividen besar bisa saja harga sahamnya stagnan atau malah terus turun. Peter Lynch mengkategorikan perusahaan seperti ini sebagai Slow Grower. Untuk jelasnya, silahkan baca pos "Enam Kategori Saham Menurut Peter Lynch" dan "Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku “One Up on Wall Street” (Bagian II)."







Saturday, April 30, 2011

Main Saham Bisa Untung Berapa?

Pada pos “Main Saham IPO Bisa Untung Berapa?” saya menulis bahwa rata-rata laba main saham IPO adalah sekitar 1% dari modal. Itupun kalau untung. Bagaimana dengan main saham pada pasar regular? Untungnya bisa berapa?

Banyak pemula berangan-angan untung besar dari main saham: mereka bermimpi untung 5-10% per bulan, atau 60-120% per tahun. Sebagai informasi, investor handal seperti Warren Buffet dan trader handal seperti George Soros hanya mendapat imbal-hasil rata-rata 20-30% per tahun. Kalau investor dan trader handal hanya mendapat untung 20-30% per tahun, masuk akalkah kalau pemula mengharapkan untung 60-120%?

Kalau begitu, bagaimanakah ekspektasi yang masuk akal?

Pada pos “Target Laba Main Saham (Bagian I)” saya menyarankan anda menentukan target keuntungan berikut:


Pengalaman sampai dengan 2 tahun: Rugi kurang dari 20% per tahun
Pengalaman 2 sampai dengan 6 tahun: Untung 10% per tahun
Pengalaman di atas 6 tahun:Untung minimal 20% per tahun


Dari target di atas, anda bisa lihat bahwa bagi pemula tidak rugi sudah merupakan prestasi yang membanggakan. Mengapa? 

Karena siapapun yang punya modal untuk membuka rekening saham dapat langsung bertransaksi saham, tidak peduli apakah ia bisa atau tidak, mengerti atau tidak. Pemula yang tidak tahu apa-apa tentang saham harus langsung berlomba dengan pemain saham profesional yang sudah berpengalaman. Kalau saya ibaratkan dengan lomba renang, pemula yang baru belajar berenang harus berlomba dengan atlet renang nasional. Coba anda pikirkan, kira-kira siapa yang akan menang?

Sebelum anda mulai main saham, sadarlah bahwa di bursa saham berlaku hukum rimba atau bahasa kerennya: Survival of the Fittest. Atau Smartest, atau Luckiest.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]