Saturday, July 16, 2011

Makna "Dow Jones" Bagi Pemain Saham Indonesia (Bagian II)

Pos “Makna ‘Dow Jones’ Bagi Pemain Saham Indonesia (BagianI)” menjelaskan apa itu Dow Jones Industrial Average. Nah, setelah anda tahu apa itu Dow Jones Industrial Average (DJIA), kini saatnya anda memahami makna dan hubungan DJIA bagi pemain saham Indonesia.

Anda sudah tahu dari pos sebelumnya bahwa DJIA adalah indeks saham-saham di Amerika Serikatyang merupakan pusat keuangan dunia, setidaknya sampai saat ini. Karena perekonomian Amerika Serikat begitu mendominasi perekonomian negara-negara lain, pergerakan harga saham-saham di sana juga mempengaruhi pergerakan saham di negara-negara lain. Kalau DJIA naik, saham di negara-negara lain biasanya ikut naik; kalau DJIA turun, saham di negara-negara lain biasanya ikut juga turun.

Kata kunci kalimat di atas adalah “biasanya.” Artinya, hal itu yang biasa terjadi tapi tidak selalu harus begitu.

Sering juga terjadi DJIA naik pada malam hari Waktu Indonesia Barat (WIB) tapi keesokan paginya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia tidak naik atau malah bergerak turun. Kebalikannya, kadang DJIA turun tapi esok pagi IHSG Indonesia tidak turun, malahan naik. 

Mengapa bisa begini?

DJIA memang mempengaruhi bursa-bursa saham lain di dunia termasuk Bursa Efek Indonesia (BEI). Tapi walaupun IHSG Indonesia terpengaruh pergerakan DJIA, IHSG lebih condong mengikuti pergerakan bursa-bursa saham Asia pada hari yang sama, terutama bursa saham Singapura yang tercermin dari Strait Times Index (STI). Perhatikan juga bahwa BEI buka pada jam 09:30 WIB*, setelah bursa-bursa saham Asia lain (Jepang jam 07:00 WIB, Singapura jam 08:00 WIB, Hongkong 08:30 WIB, China 08:30 WIB) buka. Daripada mengikuti DJIA di Amerika Serikat, bisa dikatakan IHSG lebih condong “mengekor” bursa-bursa regional Asia.

[* NB: Mulai 02 Januari 2013, BEI buka pada jam 09:00 WIB.]

Artinya, anda jangan serta-merta menyimpulkan karena DJIA semalam naik maka IHSG pagi hari ini pasti naik. Itu yang “biasanya” terjadi, tapi tidak ada kepastian. Perhatikan dahulu pergerakan indeks-indeks saham regional Asia yang sudah buka pada pagi itu seperti Nikkei (Jepang), Strait Times (Singapura), Hang Seng (Hongkong), Shanghai Composite (China). Kalau DJIA naik dan Nikkei, Strait Times, Hang Seng, Shanghai naik, kemungkinan besar IHSG akan naik.

Tapi ada satu informasi lebih penting lain yang bisa anda dapat dengan memperhatikan pergerakan DJIA vs. IHSG: anda bisa membandingkan level bullish (atau bearish) indeks yang satu (DJIA) relatif terhadap yang lain (IHSG).

Maksud saya begini, kalau DJIA naik 1% tetapi IHSG naik 2% berarti saham-saham Indonesia lebih diminati investor daripada saham-saham Amerika; IHSG lebih bullish daripada DJIA. Kalau DJIA naik 1% tapi IHSG cuma naik 0.2% berarti saham-saham Indonesia kurang diminati; IHSG kurang bullish dibanding DJIA. Lebih-lebih lagi kalau DJIA naik 1% tapi IHSG turun 1%, ini berarti saham-saham Indonesia tidak diminati oleh investor; IHSG bearish padahal DJIA bullish. 

Bagaimana menginterpretasikan level bullish IHSG relatif terhadap DJIA? Silahkan lanjut baca ke pos "Pengaruh Gejolak Dow Jones Pada IHSG Bursa Indonesia."






Pos-pos lain yang berhubungan:
[Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, July 2, 2011

Empat Komponen Harga Saham Yang Perlu Anda Ketahui

“BNII harganya berapa,” tanya Barli kepada pialangnya.

“Bid 3800, Offer 3825, Pak,” jawab si pialang.

“Bid BBNI 3800 sebanyak 200 lot,” perintah Barli.

Begitu kira-kira percakapan pemain saham dengan pialangnya ketika ia melakukan Bid atau Offer suatu saham.

Memang, sebelum memutuskan membeli atau menjual saham, anda harus tahu posisi Bid dan Offer saham tersebut. (Untuk lebih jelas tentang arti Bid dan Offer, silahkan baca pos “Istilah ‘Bid’ dan ‘Offer’ Ketika BermainSaham.”) Tapi bid dan offer ini hanyalah satu dari empat komponen harga saham.

Keempat komponen harga saham adalah: OPEN, HIGH, LOW, CLOSE. Mari kita telaah komponen-komponen tersebut.


OPEN

OPEN adalah harga transaksi pertama suatu saham pada hari bersangkutan. Yang dimaksud transaksi adalah jual-beli yang sudah terjadi, yang bahasa Inggrisnya adalah trade done atau order matched. Kalau pada tanggal 1 Juli 2011 saham INDS ditransaksikan pertama kali pada harga Rp 4950, harga 4950 inilah yang disebut harga OPEN. 

Perhatikan: harga OPEN tidak harus sama dengan harga terakhir (CLOSE/LAST) pada hari sebelumnya. Sebagai contoh: UNTR pada tanggal 28 Juni 2011 ditutup di harga Rp 23.650, sedangkan pada tanggal 29 Juni UNTR OPEN di harga Rp 23.900.


HIGH

HIGH adalah harga tertinggi yang dicapai suatu saham pada saat/hari itu. Ketika perdagangan saham masih berlangsung, harga HIGH adalah harga tertinggi pada saat itu. Hanya ketika bursa sudah tutup, harga HIGH adalah harga tertinggi untuk hari itu. 


LOW

LOW adalah harga terendah yang dicapai suatu saham pada saat/hari itu. Ketika transaksi saham masih berjalan, harga LOW adalah harga terendah pada saat itu. Ketika bursa tutup, harga LOW adalah harga terendah untuk hari itu.


CLOSE/LAST

CLOSE--sering juga disebut LAST-- adalah harga transaksi terakhir suatu saham pada saat/hari itu. Ketika perdagangan saham masih berlangsung, harga CLOSE adalah harga terakhir yang terjadi sampai saat itu.

Harga CLOSE ini biasanya adalah harga Bid atau harga Offer pada saat itu, tergantung apakah transaksi terakhir terjadi di harga Bid atau harga Offer. Ketika bursa sudah tutup, harga CLOSE adalah harga transaksi terakhir pada hari itu.

Dari contoh Order Book BBRI 04 Juli 2011 jam 16:00 di samping ini yang saya ambil dari IPOT (Indo Premier Online Trading), coba perhatikan Prv, Op, Hi, dan Lo.

Prv (Previous) adalah harga CLOSE pada hari sebelumnya, yaitu di 6700.

Op (OPEN) BBRI di 6800, tidak harus di harga Prev 6700.

Hi (HIGH) BBRI pada hari itu adalah 6900.

Lo (LOW) BBRI pada hari itu adalah 6700.

Perhatikan juga bahwa pada tampilan IPOT di atas, tidak ada harga CLOSE/LAST. Tapi anda dapat menyimpulkan dari harga Bid 6850 dan Offer 6900 bahwa harga CLOSE/LAST adalah salah satu dari kedua harga tersebut.


(Harga CLOSE/LAST bisa dipantau di layar Done by Stock pada IPOT. Saya akan menulis pos tersendiri untuk subjek ini.)






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, June 25, 2011

Metropolitan Land (MTLA), Satu Lagi IPO Tahun 2011 Yang Langsung Anjlok


Semester pertama 2011 adalah periode buruk untuk investor IPO di Bursa Efek Indonesia. Saham-saham IPO yang naik, naiknya sedikit; yang turun, langsung anjlok. Metropolitan Land (MTLA) termasuk kategori yang langsung anjlok.

Data IPO Metropolitan Land, (MTLA): 

Harga Penawaran Umum: Rp 240

Jatah pooling: 7%
Tanggal listing: 20 Juni 2011
Harga pada hari pertama: Tertinggi (Hi) 260, terendah (Lo) 185, Tutup 240 


Pada detik-detik pertama perdagangan, MTLA menyentuh harga tertinggi Rp 260 lalu hanya dalam lima menit langsung anjlok ke harga Rp 190an. Barulah pada jam 14 MTLA naik ke kisaran 200an dan kemudian pada jam15.50 MTLA diborong sampai 245 dan ditutup di 240.

Sampai dengan tanggal 24 Juni 2011, saham MTLA ini masih bertengger di kisaran harga Rp 230 - 240. 

Sungguh tidak mudah mendapat untung dari bermain saham.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]