Saturday, January 1, 2011

Cara Cut-Loss Untuk Stop Kerugian Saham (Bagian IV)


Selamat Tahun Baru 2011. 

Masalah besar akan timbul kalau anda tergoda memakai semua modal untuk membeli hanya saham-saham golongan B (yang menurut contoh di atas harus anda jual kalau turun 10%). Dengan modal Rp 100 juta, anda dapat membeli 5 saham golongan B masing-masing sejumlah Rp 20 juta di mana anda harus cut-loss kalau masing-masing saham tersebut turun Rp 2 juta. Nah, kalau semua saham tersebut turun dan anda harus cut-loss, kerugian anda adalah Rp 10 juta (10% dari modal). 

Lebih parah lagi kalau anda hanya membeli saham-saham yang gejolaknya lebih liar lagi, katakan saja saham golongan C yang, misalkan, harus anda cut-loss kalau turun 20%. Dengan total modal Rp 100 juta, anda dapat membeli 10 saham tipe ini di mana anda harus cut-loss kalau masing-masing saham turun Rp 2 juta. Coba anda hitung: kalau semua saham turun dan anda harus cut-loss, anda akan rugi Rp 20 juta atau 20% dari modal. 

Ingat, tujuan utama anda mempertimbangkan volatilitas dalam bermain saham adalah untuk mengurangi potensi kerugian dari saham yang bergejolak tinggi. Kalau anda memakai metode nominal tetapi anda hanya membeli saham yang gejolaknya tinggi, potensi kerugian anda malah menjadi jauh lebih besar dibanding kalau anda memakai metode cut-loss persentase. 

Rugi 10%, apalagi 20%, dalam waktu singkat sangat membahayakan masa depan investasi atau trading saham anda. Itulah sebabnya, Dr. Elder di buku Come into My Trading Room menyarankan anda untuk menambah satu aturan lagi: kalau anda sudah rugi 6% pada bulan berjalan, anda harus stop main saham dan baru boleh mulai lagi di bulan berikut. 

Mari kita lihat implikasinya. Karena cut-loss per saham adalah 2% dari modal dan cut-loss maksimum per bulan adalah 6%, artinya anda pada saat bersamaan hanya boleh memegang 3 saham berbeda. Kalaupun anda hanya membeli saham golongan C (cut-loss kalau turun 20%), dengan modal Rp 100 juta pun anda hanya boleh beli 3 saham masing-masing sejumlah Rp 10 juta. Sisa modal Rp 70 juta harus tetap berupa dana tunai dan tidak boleh dipakai untuk beli saham. 

Anda bisa lihat bahwa dengan tambahan aturan ini, kalaupun anda membeli saham bergejolak tinggi, nominal kerugian maksimum anda per bulan tetap sama. Lebih penting lagi, tambahan aturan rugi maksimum 6% per bulan mendorong anda untuk mendiversifikasi portofolio saham anda: jangan hanya beli saham golongan B dan C saja, tetapi juga beli saham golongan A. 

Mengapa harus stop main saham kalau sudah rugi 6% dalam bulan berjalan? Dalam kondisi rugi, pikiran anda biasanya kalut. Kalau anda tetap main saham padahal tidak bisa berpikir jernih, kemungkinan besar anda akan rugi lebih banyak lagi. Semakin nafsu anda memaksa mengembalikan kerugian, semakin besar kemungkinan anda melakukan kesalahan lebih besar. Itulah sebabnya anda harus stop main saham dulu; jernihkan pikiran. 

Pada pos "Target Laba Main Saham (Bagian III)" saya menyarankan trader/pedagang saham untuk stop main saham kalau sudah rugi 10% pada bulan berjalan. Angka rugi maksimum 6% atau 10% bukanlah suatu yang mutlak dan boleh anda tentukan sendiri. Intinya: anda, selain menentukan jumlah cut-loss per saham, harus juga menentukan jumlah cut-loss maksimum per bulan.

Semoga pos ini memberi anda ide cara untuk cut-loss/stop-loss. Apapun cara cut-loss yang anda pakai, ingatlah dua hal penting ini:

  • Anda harus langsung menentukan titik cut-loss pada saat anda membeli saham.
  • Anda tidak boleh merubah titik cut-loss ke arah yang berpotensi merugikan lebih besar.  


Sekarang anda sudah tahu cara menentukan harga/titik cut-loss. Langkah berikutnya adalah belajar apa yang harus anda lakukan kalau saham turun ke harga cut-loss. Silahkan baca pos "Cara Melakukan Cut-Loss Saham."








Pos-pos yang berhubungan:

13 comments:

  1. nice info pak, so pasti postingan anda menambah ide utk cutloss,ato lebih tepat stop loss :D he he he
    numpang ijin nyimak utk postingan selanjutnya

    salam kenal
    kelana,sby

    ReplyDelete
  2. Trims komentarnya, Anonim.

    Cut-loss atau stop-loss sebenarnya sama saja, cuma beda tipis tergantung definisi. Kebetulan saya lebih memilih istilah "cut" karena kesannya lebih darurat; "stop" kesannya lebih santai. Karena saya menganggap "loss" sangat berbahaya, jadi harus di "cut" jangan cuma di "stop" dengan santai.

    Saya tunggu komentar dan masukan anda berikutnya. Sekali lagi, terima kasih.

    ReplyDelete
  3. Info yang sangat mencerahkan pak Iyan. Suatu saat nanti pasti saya juga akan atau harus melakukan cut loss. Saya baru mencoba bermain saham, dan kebetulan 3 saham dalam portfolio saya posisinya naik jadi belum pernah melakukan cut loss. Sekali lagi,info yang sangat berguna pak Iyan. Terima kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saham-saham anda naik, maksimalkan profit dengan trailing-stop.

      Trailing stop ini sama saja dengan cut-loss metode persentase. Karena harga saham sudah naik, titik cut-loss juga dinaikkan. Kalau titik ini sudah memberikan keuntungan, bisa disebut trailing stop.

      Saya akan coba bahas trailing stop di pos tersendiri.

      Delete
    2. Terima kasih pak Iyan,

      Untuk system OT yang saya pakai tidak mempunyai fitur Cut Loss otomatis, jadi seandainya mau cut loss juga dilakukan secara manual.Dan mungkin, baik cut loss manual maupun automatic masing masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.
      Kami tunggu pos untuk trailing stop pak. Trm ksh

      Delete
  4. Nice share Pak.
    Ditunggu sharing stop loss berdasarkan analisa teknikalnya ya...

    Salam kenal dan salam cuan
    Marden

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga dan terima kasih untuk koment anda.

      Delete
    2. Boleh share referensi buku atau link untuk belajar stoploss berdasarkan analisa teknikal, ga, Pak Iyan?
      Terima kasih..

      Delete
    3. Saya tidak tahu link atau buku ttg stoploss analisa teknikal.

      Delete
  5. Mantap Mas Iyan, saya jdi banyak dapat pencerahan dari cut loss ini, namun mas klu seandainya setelah kita menentukan titik cutloss misalnya 5% namun kita mengalami loss baru menyentuh titik 4 % dan harga sideway sampai beberapa bulan lamanya, apa yg harus kita lakukan ? kita hold aja dulu atau kita cutloss karena sudah terlalalu lama menunggu ? makasih mas iyan atas bantuannya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Faisal,

      Untuk tahu jawaban pertanyaan anda, silahkan baca pos "Cara Main Saham Untuk Pemula: Setelah Beli." Terutama bagian diskusi ketika saham (relatif) tidak-naik-tidak-turun.

      http://terusbelajarsaham.blogspot.com/2012/08/cara-main-saham-pemula-setelah-beli.html

      Delete
  6. Pak Iyan infonya mencerahkan terima kasih banyak

    Pak, kalau menurut Pak Iyan sendiri, enaknya cut loss itu dilakukan pada persentase berapa yang menurut Pak Iyan ideal?

    Jujur saja, saya melakukan cut loss 5%-10% itu ketinggian, tapi kalau hanya cut 2% harga balik naik..

    Lalu perbandingan rasio cut loss : take profit enaknya berapa ya Pak? misal saya tetapkan cut loss 5%, berarti saya harus tetapkan take profit ebesar 5% atau 2 kalinya?

    Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya berusaha utk konsisten cut-loss di bawah 5%.

      Intinya, take profit anda harus lebih besar daripada cut-loss. Jadi, kalau saham lagi naik, biarkan dia naik. Tapi kalau saham turun, harus cut-loss secepat mungkin.

      Delete

Pertanyaan dan komentar anda akan saya jawab sesegera mungkin. Maaf, saya tidak menerima pertanyaan dan komentar anonim. Promosi, iklan, link, dll, apalagi hal-hal yang tidak berhubungan dengan main saham TIDAK AKAN ditampilkan.