Friday, July 24, 2015

Tahap-tahap Belajar Main Saham

Di pos "Cara Terbaik Belajar Main Saham" saya menulis bahwa pemula yang ingin mendapat untung dari saham harus bermain saham (jual-beli) berkali-kali, berhari-hari, bertahun-tahun.

Mengapa harus sampai bertahun-tahun?

Karena untuk bisa mendapat untung secara konsisten, seorang pemula harus melewati proses pembelajaran main saham selama beberapa fase/tahap. Dan setiap fase itu bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan sampai beberapa tahun.

Fase-fase apa saja yang harus dilalui?

Di buku Mastering the Trade, John Carter menulis bahwa ada 5 fase yang biasanya dilalui pemain saham.

Figure 1. Sampul Buku John F. Carter "Mastering the Trade"

Fase 1: Destined to losesix months to a year. Ditakdirkan untuk rugi—enam bulan sampai setahun.

Fase 2: Fear-based tradingtwo to six months. Trading saham berdasarkan rasa takut—dua sampai enam bulan.

Fase 3: Search for the Holy Grailsix months to death. Mencari cara main saham (analisa atau indikator atau trading plan, dll) paling mujarab—enam bulan sampai mati.

Fase 4: Learning how not to lose. Belajar cara untuk tidak rugi.

Fase 5: Become consistently profitable. Mendapat untung secara konsisten.


John Carter menyatakan bahwa hampir SEMUA pemain saham melewati tahapan-tahapan seperti di atas.  Hanya saja ketika mereka sampai ke Fase 3, biasanya, mereka sudah kehabisan modal dan tidak bisa lanjut ke Fase 4.


Pertanyaan saya untuk anda:
  1. Di Fase manakah anda berada saat ini?
  2. Sudahkah anda memastikan agar modal anda bisa bertahan sampaisetidak-tidaknya—Fase 4?






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2015 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Friday, July 10, 2015

Cara Terbaik Belajar Main Saham

Bagaimana cara terbaik belajar main (trading/investasi) saham? 

Apakah harus kuliah di universitas? Atau harus ikut training/pelatihan/seminar tentang trading/investasi saham? 

Figure 1. Cover Buku Stephen King "On Writing"

Stephen King menulis di buku On Writing:

You don't need writing classes or seminars any more than you need this or any other book on writing. . .
You learn best by reading a lot and writing a lot, and the most valuables lessons of all are the ones you teach yourself.

Terjemahannya kira-kira begini:
Anda tidak perlu ikut kelas atau seminar menulis seperti juga anda tidak perlu buku ini ataupun buku lain tentang menulis. . .
Anda belajar terbaik dengan banyak membaca dan banyak menulis, dan pelajaran paling berharga adalah pelajaran yang anda ajarkan pada diri sendiri.

"Tapi bung Iyan," celetuk anda. "Emangnya apa sih hubungan menulis dengan main saham?"

Tidak ada hubungan langsung antara menulis dengan main saham.

Tapi ada hubungan langsung antara cara belajar menulis dan cara belajar main saham.

Kok bisa?

Kalau anda menggantikan kata "menulis" dengan "main saham", nasehat Stephen King menjadi sangat relevan untuk belajar saham:

Anda tidak perlu ikut kelas atau seminar main saham seperti juga anda tidak perlu buku ini atau buku lainnya tentang main saham. . .
Anda belajar terbaik dengan banyak membaca dan banyak main saham, dan pelajaran paling berharga adalah pelajaran yang anda ajarkan pada diri sendiri.

Saya sangat setuju dengan wejangan Stephen King.

Nah, sebelum memulai main saham, anda perlu banyak membaca buku-buku tentang trading saham ataupun investasi saham yang ditulis pemain saham berpengalaman. Cari dan belajarlah dari buku yang membahas pengalaman, cara analisa, strategi, psikologi, logika, konsep, suka-duka bermain saham.

Hindari buku-buku yang ditulis orang yang pengalamannya KURANG dari 10 tahun.  Sedapat mungkin, hindari buku-buku yang judulnya bombastis (Cara Mudah Kaya dari Saham, Kaya dari Saham Hanya dengan Analisa 30 Menit, dan sejenisnya).

Hindari juga buku-buku yang yang isinya penuh janji surga, hanya bicara yang manis-manis, dan tidak memaparkan resiko yang akan anda hadapi saat bermain saham. Buku-buku seperti ini, biasanya, hanyalah kamuflase untuk menjual seminar, software, atau trading system.

"Jadi, bung Iyan," kata anda, "buku apa saja yang perlu saya baca?"

Daftar buku-buku saham yang bagus bisa anda lihat di halaman "Buku."

Nah, membaca buku-buku berkualitas bagus akan membuat anda tahu cara benar bermain saham.

Tapi . . .

Belajar main saham adalah seperti belajar menulis atau belajar melukis. Atau belajar main bulutangkis. Atau belajar main piano.

Anda tidak akan bisa main piano hanya dengan membaca buku cara main piano. Anda juga tidak akan bisa main piano hanya dengan kuliah di fakultas musik atau ikut pelatihan/seminar/workshop tentang cara bermain piano.

Satu-satunya cara agar anda bisa main piano dengan baik adalah dengan duduk di depan piano dan berlatih memainkan piano tersebut. Berjam-jam, berhari-hari, bertahun-tahun.

Begitu juga dengan main saham.

Anda tidak akan bisa main saham hanya dengan membaca buku cara main saham. Anda juga tidak akan bisa main saham hanya dengan kuliah di fakultas saham atau ikut pelatihan/seminar/workshop tentang bermain saham.

Satu-satunya cara agar anda bisa main saham dengan baik adalah dengan berlatih membeli dan menjual saham. Berkali-kali, berhari-hari, bertahun-tahun.

Tapi berbeda dengan berlatih piano, berlatih membeli dan menjual saham ada resiko ruginya. Dan kerugian ini bisa berjumlah besar dan terjadi dalam waktu yang singkat.

Kalau anda merugi besar berkali-kali, modal anda akan ludes. Kalau modal ludes, anda tidak bisa lagi berlatih membeli dan menjual saham.

Jadi, saat mulai belajar main saham, hal terpenting yang harus anda camkan adalah agar modal anda tidak habis dalam waktu singkat.

Dengan kata lain, anda sendirilah yang HARUS mempertahankan modal selama mungkin sehingga anda bisa terus berlatih membeli dan menjual saham.

Perlu anda ketahui bahwa saat mulai belajar main saham, anda (hampir) PASTI akan merugi.

(Mungkin anda bisa untung untuk beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun. Tapi suatu saat anda akan merugi. Dan kerugian ini hampir pasti lebih besar dari SEMUA keuntungan yang telah anda peroleh.)

Nah, yang membedakan apakah anda bisa naik kelas menjadi pemain saham berpengalaman adalah apakah anda keukeh terus belajar walaupun didera kerugian.

Anda bisa keukeh terus belajar membeli dan menjual saham kalau anda merugi tidak lebih dari 20% per tahun untuk beberapa tahun pertama. Tapi kalau kerugian anda mendekati 100% dari modal (atau bahkan lebih karena menggunakan fasilitas pinjaman/margin), mau-tidak-mau suka-tidak-suka harus berhenti membeli dan menjual saham.

Tambahan lagi, kerugian yang besar akan sangat menyiksa secara psikologis. Jadi, walaupun bisa mendapatkan suntikan modal baru, kemungkinan besar anda sudah kapok bermain saham.

"I see, I see," kata anda sambil menganguk-anggukan kepala. "So, bung Iyan, bagaimana caranya mempertahankan modal selama mungkin?"

Ingin tahu jawabannya? Silahkan baca pos "Beli Saham. Jual Untung/Cut-Loss. Ulangi."






   
Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2015 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Thursday, June 4, 2015

Karakteristik Trader Saham Top Dunia

Di bagian penutup buku Market Wizards: Interviews with Top Traders, Jack D. Schwager menulis bahwa metode yang dipakai "market wizards" yang ia wawancarai melingkup analisa teknikal murni, analisa fundamental murni, atau kombinasi keduanya. Jangka waktu trading mereka berkisar dari hitungan menit sampai ke tahunan.

Dengan kata lain, semua top trader tersebut menggapai sukses trading saham/komoditas/forex dengan caranya sendiri-sendiri, yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Figure 1. Cover Buku Market Wizards: Interview with Top Trader

Walaupun gaya trader-trader top tersebut berbeda-beda, Jack Schwager menyimpulkan bahwa ada beberapa persamaan yang menyolok. Saya kutip dari buku tersebut:


1. All those interviewed had a driving desire to become successful traders—in many cases, overcoming significant obstacles to reach their goal. 

Semua yang diwawancarai mempunyai dorongan kuat untuk menjadi trader sukes—dalam banyak kasus, mereka harus melewati banyak halangan untuk mencapai cita-cita mereka.


2. All reflected confidence that they could continue to win over the long run. Almost invariably, they considered their own trading as the best and safest investment for their money. 

Semua merefleksikan percaya diri bahwa mereka akan tetap bisa untung dalam jangka panjang. Hampir tanpa pengecualian, mereka juga merasa bahwa cara trading mereka adalah cara investasi terbaik dan teraman untuk uang mereka.


3. Each trader had found a methodology that worked for him and remained true to that approach. It is significant that discipline was the word most frequently mentioned. 

Setiap trader sudah menemukan metode yang tepat untuk dirinya dan konsisten melaksanakan metode tersebut. Sangat penting bahwa disiplin adalah kata yang paling sering mereka sebut.


4. The top traders take their trading very seriously; most devote a substantial amount of their waking  hours to market analysis and trading strategy. 

Para trader top memandang sangat serius trading mereka; mayoritas mengabdikan sejumlah besar waktu mereka untuk analisa pasar dan strategi trading.


5. Rigid risk control is one of the key elements in the trading strategy of virtually all those interviewed. 

Kontrol resiko yang ketat adalah elemen kunci dari strategi trading semua yang diwawancarai.


6. In a variety of ways, many of the traders stressed the importance of having the patience to wait for the right trading opportunity to present itself. 

Dalam berbagai cara, banyak dari para trader menekankan pentingnya untuk sabar menunggu datangnya kesempatan trading yang tepat.


7. The importance of acting independent of the crowd was a frequently emphasized point. 

Pentingnya bertindak mandiri tanpa terpengaruh khalayak ramai adalah poin yang sering ditekankan.


8. All the top traders understand that losing is part of the game.

 Semua top trader mengerti bahwa rugi adalah bagian dari permainan.


9. They all love what they are doing. 

Mereka semua mencintai apa yang mereka kerjakan.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2015 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]