Saturday, February 26, 2011

Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku "One Up on Wall Street" (Bagian IV)




IV. Saham Yang Harus Dihindari

Yang paling dihindari Peter Lynch adalah saham paling panas di industri terkini. Saham jenis ini memang bisa naik tinggi dalam waktu singkat tapi juga bisa ambruk seketika. Kalau anda adalah investor jangka panjang, bukan trader, lebih baik jangan menyentuh saham seperti ini.

Saya tidak mengikuti saran Peter Lynch yang ini; saya sering main saham yang lagi hot. Mengapa saya berani tidak mengindahkan saran ini?

Karena saya selalu memonitor pergerakan harga saham tersebut dan kalau posisinya sudah rugi saya langsung cut-loss. Yang saya sarankan adalah ini: jangan main saham hot sebelum anda belajar cara untuk cut-loss atau stop-loss. Untuk detilnya, silahkan baca pos “Mau Main Saham? Ingat Tiga Hal Maha Penting Ini” dan “Cara Cut-Loss Untuk Stop Kerugian Saham.”


Selain saham terpanas di industri paling ngetrend, anda juga sebaiknya menghindari saham-saham berikut:
  • The Next Something
  • Diworseification
  • The Whisper Stock
  • The Middleman


The Next Something - Anu Yang Berikut

Setelah Aqua membuktikan bahwa banyak orang rela membayar mahal untuk air minum dalam kemasan, ratusan perusahaan terjun ke industri ini. Dalam waktu singkat para pengekor bangkrut satu persatu.

Ketika bubble drink merebak di Indonesia awal 2000an, ratusan gerai menjamuri mal-mal. Coba anda perhatikan di mal sekarang, berapa gerai bubble drink yang bertahan.

Ketika personal computer IBM muncul di tahun 1980an,  ratusan perusahaan ikut terjun ke industri ini. Saking kerasnya persaingan, IBM sendiri di tahun 2000an memutuskan untuk keluar dari industri PC. Kalau raksasa seperti IBM saja sulit bertarung di industri yang ia pelopori, coba bayangkan berapa besar kemungkinan sukses seorang pendatang baru?

Jadi kalau anda tertarik membeli saham yang digembargemborkan sebagai Si Anu Yang Berikut, ingatlah apa yang terjadi dengan pengekor Aqua, pengekor IBM, dan pengekor-pengekor lainnya. Di industri yang paling hot, perusahaan pemimpin pasar saja bisa ambruk cepat, apalagi para pengekor.


Diworseification - Diperburukfikasi

Diworseification (terjemahan saya: diperburukfikasi) ini adalah plesetan Peter Lynch untuk diversifikasi. Artinya, banyak perusahaan, daripada membagikan dividen kepada pemegang saham, memilih melakukan diversifikasi (masuk ke industri berbeda baik secara langsung ataupun dengan membeli perusahaan yang sudah ada) untuk mengembangkan usaha. Masalahnya, diversifikasi ini kebanyakan bukannya menambah banyak pemasukan tetapi malah memperburuk keuangan perusahaan. Mengapa?

Dua sebab yang utama adalah: perusahaan membayar terlalu mahal untuk akuisisi dan perusahaan masuk ke bisnis yang tidak ia kuasai. Dengan membayar terlalu mahal, sangat sulit bagi perusahaan untuk mengembalikan investasinya. Perusahaan juga biasanya tidak mengerti karakteristik bisnis barunya tersebut dan memberlakukan cara yang sama dengan bisnis intinya. Cara ini hampir tidak pernah berhasil.

Coba saja anda perhatikan contoh sederhana berikut: banyak penyanyi sukses yang mencoba akting dan banyak aktor dan aktris yang mencoba menyanyi untuk menambah penghasilan mereka yang sudah besar. Mereka berpikir bahwa karena mereka adalah artis mereka dapat melakukan semua kegiatan seni. Tapi ada berapa penyanyi yang bisa berakting bagus dan ada berapa aktris yang bisa bernyanyi merdu?

Demikian juga dengan perusahaan. Perusahaan yang sukses di bisnis pertambangan hampir tidak mungkin sukses di bisnis perfilman. Perusahaan produsen mobil hampir tidak mungkin sukses menjadi pengelola mal.

Jadi kalau anda punya saham perusahaan yang melakukan diworseification, cepat-cepatlah jual saham tersebut.


The Whisper Stock

Saham Bisik-bisik dinamakan demikian karena biasanya orang membicarkannya dengan bisik-bisik.

“Saham ini akan naik pesat,” bisik Jintan, teman anda,”karena perusahaan menang tender ratusan milyar. Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa, ya.”

Anda tergiur dengan bisikan Jintan dan langsung membeli saham tersebut saat itu juga, tanpa melakukan cek dan ricek, karena takut ketinggalan kereta. Tapi setelah anda beli saham tersebut bukannya naik, malah turun.

Intinya: jangan membeli saham berdasarkan bisikan orang.


The Middleman

Hindari saham perusahaan yang menjual produknya hanya ke satu atau dua pelanggan. Kalau pelanggan tersebut memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak pembelian, pendapatan perusahaan akan turun drastis dengan akibat harga sahamnya melorot tajam.


Anda sudah tahu saham yang layak dibeli dan juga saham yang harus dihindari. Tapi sebenarnya, apa sih yang membuat harga saham naik? Mau tahu? Silahkan lanjut baca ke “Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku ‘One Up on Wall Street’ (Bagian V).”






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

Saturday, February 19, 2011

Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku “One Up on Wall Street” (Bagian III)



III. Saham Idaman

Anda tidak akan menemukan perusahaan sempurna (alias saham idaman), kata Peter Lynch. Tapi kalau ada, perusahaan itu akan memiliki atribut-atribut positif. Tiga belas atribut terpenting adalah:

1. It Sounds Dull—or, Even Better, Ridiculous. Nama Perusahaannya Tidak Keren, atau Bahkan Menggelikan


2. It Does Something Dull. Ia Melakukan Sesuatu Yang Membosankan

Atribut 1 dan 2 membuat perusahaan itu tidak dilirik pasar dan memberi anda kesempatan membeli sahamnya dengan murah.


3. It Does Something Disagreeable. Ia Melakukan Sesuatu Yang Jorok.

Lebih baik lagi kalau perusahaan yang bisnisnya bukan hanya (kedengarannya) membosankan tapi juga jorok atau kotor atau menjijikkan. Contoh yang dipakai Peter Lynch adalah Safety-Kleen, perusahaan jasa pembersih suku cadang mobil dan jasa pembersih saluran restoran.


4. It’s a Spinoff. Ia adalah pecahan dari perusahaan induk.

Contoh dari Peter Lynch adalah “Baby Bell” (Ameritech, Bell Atlantic, Bell South, Nynex, Pacific Telesis, Southwestern Bell, dan US West) pada 1980an yang merupakan spinoff dari ATT, penyedia jasa telepon dan komunikasi. Pemilik saham ATT pada waktu itu mendapat saham Baby Bells gratis. Lima tahun setelah spinoff, saham ATT hampir tidak bergeming sedangkan saham Baby Bells naik 170% (termasuk dividen).

Saham spinoff jarang ditemukan di Indonesia. Yang saya tahu adalah Indofood CBP (ICBP) yang di spinoff dari Indofood Sukses Makmur (INDF). Tapi, sepengetahuan saya, spinoff ini dilakukan dengan menjual ICBP di IPO, bukan dengan memberi saham bonus ICBP kepada pemegang saham INDF. Harga ICBP sekarang (Feb 2011, kisaran harga 4.500an) malah masih di bawah harga IPOnya (Rp 5395).


5. The Institution Don’t Own It, and the Analysts Don’t Follow It. Saham Belum Dibeli Institusi dan Belum Diliput Analis

Saham perusahaan yang belum dibeli institusi dan belum diliput analis cenderung murah. Kalau perusahaan tersebut terus berkembang, suatu saat analis akan mulai meliput, institusi mulai membeli, dan saham akan naik.


6. The Rumors Abound: It’s Involved with Toxic Waste and/or the Mafia. Gosip Bertebaran: Ia Berhubungan dengan Limbah Beracun dan/atau Mafia.

Lagi-lagi anda dapat membeli saham perusahaan ini dengan harga relatif murah.


7. There’s Something Depressing about It. Ada Sesuatu yang Menyedihkan Tentangnya.

Contoh favorit Peter Lynch adalah Service Corporation International (SCI), perusahaan jasa pemakaman.


8. It’s a No-Growth Industry. Ia Termasuk Industri Yang Tidak Berkembang.

Industri yang berkembang pesat mengundang banyak pendatang baru mengakibatkan persaingan ketat. Perusahaan bisa bangkrut kalau tidak waspada dan kalah berkompetisi.

Tidak begitu dengan perusahaan di industry yang tidak berkembang. Karena industrinya tidak berkembang, tidak ada pendatang baru yang tertarik untuk masuk. Perusahaan dapat berkembang dengan nyaman dan aman.


9. It’s Got a Niche. Ia Memiliki Ceruk.

Ceruk ini dapat berupa hak eksklusif, hak paten, atau monopoli karena keadaan. Perusahaan farmasi memiliki ceruk hak paten obat, perusahaan tambang memiliki ceruk izin pertambangan eksklusif.


10. People Have to Keep Buying It. Orang Harus Terus Membeli Produknya.

Lebih baik membeli saham perusahaan farmasi, minuman, makanan, rokok daripada perusahaan mainan. Coba bayangkan: anda mungkin membeli satu jenis mainan cuma sekali tapi anda membeli terus-menerus obat yang sama, minuman yang sama, makanan yang sama, rokok yang sama.


11. It’s a User of Technology. Ia adalah Pemakai Teknologi.

Daripada membeli saham produsen komputer yang harus terus menerus membuat komputer yang makin canggih tapi makin murah, lebih baik anda berinvestasi pada perusahaan yang mendapat manfaat dengan memakai teknologi.


12. The Insiders Are Buyers. Orang Dalam Membeli Saham Perusahaannya.

Pada umumnya, orang dalam lebih banyak menjual saham yang mereka miliki daripada membeli. Kalau orang dalam banyak membeli saham perusahaanya sendiri, sangat mungkin mereka melakukan itu karena tahu perusahaan berprospek cerah di masa datang. Yang pasti, setidak-tidaknya perusahaan itu tidak akan bangkrut dalam waktu dekat.


13. The Company is Buying Back Shares. Perusahaan Membeli Kembali Saham di Pasar.

Membeli saham sendiri di pasar (stock buy-back) adalah cara terbaik dan termudah memberi imbalan untuk investor. Saham yang dibeli kembali akan ditarik dari peredaran yang berarti mengurangi jumlah saham yang beredar (outstanding share). Kalau laba perusahaan tetap tetapi jumlah saham beredar berkurang, keuntungan per saham (earning per share) naik. Naiknya earning per share ini akan mengerek naik harga saham perusahaan tersebut.

Alternatif dari stock buy-back adalah: meningkatkan dividen, mengembangkan produk baru, memulai usaha baru, melakukan akuisisi. Dari keempat alternative ini, meningkatkan dividen sama positifnya dengan share buy-back. Tapi sayangnya manajemen sering kali memilih mengembangkan produk baru, memulai usaha baru, atau melakukan akuisisi yang akhirnya malah memperburuk kondisi perusahaan.

Di atas adalah daftar atribut positif yang dicari Peter Lynch. Bagaimana dengan saham yang dihindarinya? Lanjut baca ke “Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku ‘One Up on Wall Street’ (Bagian IV).”






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

Saturday, February 12, 2011

Beli IPO Garuda di Book-Building, Rugi Besar

Saya selalu menganjurkan pemain saham, terutama pemula, untuk tidak memesan saham IPO saat book-building. Yang saya anjurkan adalah untuk ikut pooling IPO saham yang jatah book-buildingnya kurang dari 5%. Untuk jelasnya, silahkan baca pos “Cara Main Saham IPO untuk Pemula.”

Kalau anda mengikuti anjuran ini, anda tidak akan memesan saham Garuda Indonesia (GIAA)—baik pada saat book-building dan saat pooling—dan tidak stress melihat GIAA turun 20% pada menit-menit pertama tranksaksi di Bursa Efek Indonesia.

Mari kita telaah data IPO GIAA berikut:

Rentang Harga Book-building: Rp 750 - 1100
Harga Penawaran Umum: Rp 750
Jatah book-building: sekitar 50%
Jatah pooling: ?
Tanggal listing: 11 Februari 2011
Harga pada hari pertama: Tertinggi (Hi) 700, terendah (Lo) 580

Harga tertinggi GIAA Rp 700 hanya terjadi dalam beberapa detik awal pembukaan. Setelah itu, GIAA terjun bebas ke 580. Misalkan anda menjual di 600, kerugian dari penurunan harga adalah:

(750 - 600)/750 = 20%

Total rugi = 50% (jatah book-building) x 20%(penurunan harga) = 10%

Dalam hitungan menit, modal anda lenyap 10%.

Penurunan harga ini sudah bisa diterka sejak awal proses IPO karena pemesan book-building GIAA mendapat jatah 50%. Kalau GIAA ramai peminat, pemesan tidak akan mendapat jatah sebanyak ini.

Masalah bertambah besar ketika banyak pemesan tidak membayar pesanannya. Mengapa ini terjadi?

Saya menduga banyak investor yang membandingkan GIAA dengan Krakatau Steel (KRAS). Saat book-building KRAS, investor mendapat  jatah hampir 0%; jadi saat book-building GIAA banyak investor yang memesan jumlah besar, jauh lebih besar dari kemampuan mereka membayar.

Mengapa nekat memesan padahal duitnya tidak cukup? Investor-investor ini berasumsi mereka akan mendapat jatah kecil seperti saat book-building KRAS. Sayangnya perkiraan mereka meleset total dan GIAA memberi jatah 50%an. Karena jatah lebih besar dari kesanggupan bayar, banyak investor yang tidak membayar.

Kalau anda termasuk pemesan book-building yang tidak membayar, anda mungkin lega karena tidak menderita rugi. Tapi yang anda lakukan itu salah: anda seharusnya membayar apa yang mereka pesan. Bayangkan kalau anda adalah penjual nasi goreng tek-tek dan saya memesan sepiring. Ketika anda sedang menggoreng nasi, saya membatalkan pesanan. Apakah anda akan:

     A. Menerima pembatalan dengan legowo
     B. Marah dan memaksa saya untuk membayar
     C. Marah, tidak memaksa membayar tapi tidak akan melayani saya lagi di kemudian hari kalau tidak membayar di muka.


Ingat: kalau anda tidak memesan saham IPO saat book-building, anda tidak akan terseret melanggar etika memesan tapi tidak mau bayar.

Karena banyak pemesan book-building GIAA yang tidak mau bayar, penjamin emisi dan perusahaan sekuritas di masa mendatang sangat mungkin hanya akan menerima pesanan yang disertai pembayaran penuh.

Siapa yang menelan kerugian karena investor yang tidak bayar ini?

Jawaban: perusahaan sekuritas tempat mereka memesan. Kalau mereka memesan langsung ke penjamin emisi (underwriter), underwriter yang menanggung rugi. Kalau mereka memesan lewat perusahaan sekuritas, sekuritas tersebut yang kena getahnya karena underwriter akan memaksanya membayar sesuai pesanan.