Monday, December 6, 2010

Mau Main Saham? Ingat Tiga Hal Maha Penting Ini (Bagian II)

Protected by Copyscape Online Plagiarism Tool

Pos ini adalah lanjutan dari "Mau Main Saham? Ingat Tiga Hal Maha Penting Ini (Bagian I)."

Yang lebih mengesalkan Karim adalah, setelah ia jual, ENRG malah mulai bergerak naik. Tiga bulan kemudian, ENRG bertengger di kisaran 180. "Kalau ENRG turun ke 120, saya beli balik lah," Karim berpikir. Tapi ENRG bukannya turun, tapi naik ke 250 dan Karim membeli di harga tersebut karena ia yakin ENRG akan naik terus.

Tepat setelah Karim beli, ENRG kembali turun. Siklus di atas terulang kembali, dan lagi-lagi Karim rugi.

Dari ilustrasi di atas, Karim HANYA rugi 20%. Kenyataan di bursa menunjukkan bahwa banyak investor yang enggan cut-loss waktu rugi sedikit, akhirnya menjual saham ketika rugi sudah membengkak.

Coba anda bayangkan kalau Karim membeli saham di harga Rp 1000 lalu saham tersebut turun ke Rp 100. Ia rugi 90% dan kondisi ini bisa-bisa mengancam kesehatan finansialnya.

Saya yakin kasus yang menimpa Karim bukan suatu yang langka. Mungkin anda pun pernah mengalaminya. Saya sendiri mengalami hal tersebut berpuluh-puluh kali ketika saya baru mulai main saham. Kalau saja waktu itu ada yang mengajarkan saya untuk cut-loss, tentu saya tidak akan rugi 40-70% di 5 tahun pertama saya berkecimpung main saham.

Mungkin anda masih ngeyel dan berkata,"Selama ini saya tidak pernah cut-loss. Kenyataannya saham saya setelah turun sementara, akhirnya naik ke harga lebih tinggi dari harga beli."

Betul, kalau kondisi pasar lagi bullish, saham setelah turun malah naik lebih tinggi lagi. Tapi kalau anda memakai ini sebagai acuan investasi atau trading saham, anda akan menderita rugi telak ketika kondisi bullish berubah menjadi bearish. Ingat: pada kondisi bearish, saham tidak naik ke harga beli anda tapi terus-menerus turun. Saham yang anda beli di Rp 5.000 bisa turun ke harga 5oo. Kalau anda tidak cut-loss, saham tersebut harus naik 10 kali lipat hanya untuk balik modal. Kenaikan 10 kali lipat ini mungkin saja terjadi tapi kalaupun terjadi tidaklah mungkin dalam waktu singkat. Yang lebih mungkin terjadi adalah anda menjual saham tersebut sebelum ia mencapai Rp 5.000 lagi.

Memang, berdasarkan pengalaman, cut-loss adalah hal yang sulit dilakukan pemain saham, baik oleh investor ataupun trader/pedagang. Sampai hari inipun saya masih sering ragu untuk melakukannya. Tapi cut-loss adalah tindakan yang amat-sangat penting kalau mau selamat di bursa saham. Saya sendiri baru bisa konsisten cut-loss setelah bermain saham lebih dari 5 tahun. Dan hanya setelah konsisten melakukan cut-loss, saya mulai meraih keuntungan konsisten.

Percayalah, sebelum anda belajar teknik main saham yang lain, yakinkan dulu diri anda betapa pentingnya cut-loss. Tidak ada yang bisa menyelamatkan anda dari kehancuran financial bila anda tidak pernah mau cut-loss.

Mau tahu cara cut-loss? Silahkan baca pos "Cara Cut-Loss Untuk Stop Kerugian Saham."







Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2010 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

16 comments:

  1. Iya, benar ini..
    Cut loss amat penting..
    Saya baru main saham beberapa bulan, dalam sebulan bisa rugi s/d 20% karena ga rela cut loss..
    harga sudah turun jauh, baru panik pengen cut loss..
    Coba pas turun dikit udah kita cut loss, tentu bisa financial kita ga akan terancam.

    Pelajaran yang berharga..
    Dan mahal..

    ReplyDelete
  2. absen pendatang baru pak iyan,tulisannya sangat bagus pak iyan,terima kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah diabsen. Harap rajin masuk kelas. :-)

      Delete
  3. baca cerita karim dan ENRG ngekek sendiri,... kayaknya deja vu ...

    salam kenal
    Marden

    ReplyDelete
  4. pak iyan,, maaf saya sedikit bingung
    1. setelah membaca posting main saham ingat hal maha penting. ada artikel yang mencontohkan pak karim enggan menjual ketika saham enrg naik dengan berharap akan naik lagi tp (di contoh cerita) kelanjutannya malah turun(pemahaman saya krtika naik ya segrra dijual karena bisa turun juga)
    2. pada postingan saham naik waktunya jual , pemahaman saya bahwa ada hukum ekonomi yang berlaku karena ada aksi buy and hold di pasar. (pemahaman saya jangan segera jual,karena ada potensi kenaikan yang lebih lagi)

    mohon koreksi atas pemahaman tersebut apabila saya salah menafsirkan.
    pemahaman saya, dalam melakukan aksi jual ata tidak ketika saham tersebut. adalah berdasar dari analisa perusahaan tsb. pertanyaan saya
    adakah cara sederhana bagaimana kita menentukan kapan waktunya jual ketika harga saham naik? seperti saat kita menentukan titik cutloss dengan presentase?
    sebelumnya terimakasih atas jawaban bapak,
    btw saya sangat berterimakasih dan salut kepada bapak, disela kesibukan pak iyan masihmau berbagi ilmu kepada kami melalui tulisan di blog. isinya bagus dan bermanfaat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1. Hanya karena Karim berharap saham ENRG akan naik, tidak berarti saham tersebut akan naik. Itu contoh agar anda jangan berANDAI-ANDAI.

      2. Setahu saya, saya tidak pernah menyatakan saham naik waktunya jual. Saham naik justru waktunya beli.

      Tapi anda perlu ingat, tidak semua saham yang naik akan terus naik. Tidak ada yang pasti.

      Tidak ada cara sederhana untuk menentukan waktu jual. Cara yang rumit ada, tapi tidak ada yang sederhana. Yang paling sederhana sudah saya tulis di pos "Cara Main Saham Untuk Pemula: Setelah Beli"?

      http://terusbelajarsaham.blogspot.com/2012/08/cara-main-saham-pemula-setelah-beli.html

      Intinya, BELI (jangan jual) saham UPTREND. JUAL (jangan beli) saham DOWNTREND.

      Langkah pertama adalah tahu apa itu UPTREND, DOWNTREND, SIDEWAY. Silahkan baca pos "Definisi Uptrend, Downtrend, Sideway."

      http://terusbelajarsaham.blogspot.com/2013/07/definisi-uptrend-downtrend-sideway.html

      Delete
  5. sorry master, sy mw tanya. ada ga istilah stop profit dalam trading???
    soalnya saya pake stop profit, kalo udah 20% saya jual. kecuali kalau masih bullish.

    soalnya stop profit belum pernah ada yang ngulas, baik di buku, blog, apalagi seminar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setahu saya belum ada yang menggunakan istilah "stop profit."

      Stop profit, saya rasa, sama saja dengan "take profit". Atau kalau menggunakan contoh anda ("kalo udah profit 20% saya jual), itu sama saja dengan TARGET PRICE.

      Delete
  6. Pak iyan, saya mau tanya mengenai stop loss untuk saham yg super strong uptrend. Kalo kita mau pake moving average 20d atau 50d mungkin terlalu telat karena gap antara buy point dan MA terlalu besar shg loss bisa besar. Jika pakai previous support bisa jadi sangat terlambat jg karena jarak antara current price dan previous support terlalu lebar.

    Apa kita bisa pakai SL 5-10% dari buy point? Bagaimana pengalaman pak iyan, ada saran?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Moving Average adalah indikator trend-following. Jadi, MA selalu lebih lambat daripada gerak harga saham.

      Aldi betul bahwa saham yang strong uptrend (apalagi super strong uptrend. :-) ) harganya jauh DI ATAS 50-day atau 20-day MA. Menurutu Aldi, jarak previous Support juga cukup jauh.

      Nah, kita harus mendefinisikan Previous Support ini.

      Kalau anda main saham jangka panjang, Previous Support ini bisa saja jauh di bawah harga saham sekarang. Tapi untuk trader, Previous Support harus cukup dekat.

      Apakah bisa pakai Stop Loss 5-10% dari buy point? Bisa dan boleh saja.

      Tapi, membeli saham yang strong uptrend KETIKA saham meroket berarti ENTRY POINT anda adalah sebagai trader. Kalau ENTRY sebagai trader, EXIT/CUT-LOSS point juga harus sebagai trader. Artinya, cobalah memakai titik Support versi trader.

      Apa contoh Support versi trader untuk saham yang lagi meroket?

      1. Low hari tersebut.
      2. Low kemarin.
      3. Low 5 hari terakhir.

      Kalau saham masih melanjutkan strong uptrend-nya, seharusnya harga saham TIDAK TURUN mencapai Low hari tersebut/kemarin/5-hari terakhir.

      Semoga membantu.

      Delete
  7. Terima kasih pak, sangat mencerahkan jawabannya, as always :)

    ReplyDelete
  8. Untuk contoh Resisten versi trader untuk saham yang lagi meroket? apakah kebalikannya bung iyan? Bagaimana pengalaman pak iyan, ada saran?
    Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saham lagi naik seperti roket, biarkan ia naik. Agak sulit menentukan Resistance-nya, karena kalau saham lagi meroket, Resistance bisa ditembus dengan mudah (makanya dibilang meroket :-)).

      Jadi, kalau saham naik dan sudah untung, tak ada salahnya jual sebagian untuk Take Profit. Silahkan baca pos "Cara Main Saham Untuk Pemula: Setelah Beli."

      http://terusbelajarsaham.blogspot.com/2012/08/cara-main-saham-pemula-setelah-beli.html

      Delete
  9. Pak Iyan,saya mau bertanya (masih newbie)
    Kenapa kebanyakan orang selalu khawatir kalau investasinya sedang downtrend? Karena saya berpikir kalau suatu saat investasi tersebut pasti juga naik lagi, tinggal tunggu waktu saja walaupun memakan waktu lama. Jadi tinggal sabar saja menunggu kurva tersebut untuk naik lagi kalau tidak mau rugi (?)
    Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asumsi anda SALAH.

      Kalau semua investasi pasti naik lagi, berarti semua investasi pasti menguntungkan. Ini sangat naif.

      Delete

Pertanyaan dan komentar anda akan saya jawab sesegera mungkin. Maaf, saya tidak menerima pertanyaan dan komentar anonim. Promosi, iklan, link, dll, apalagi hal-hal yang tidak berhubungan dengan main saham TIDAK AKAN ditampilkan.