Friday, January 24, 2020

Mengapa Satu Saham Saja di Portofolio?

Di pos "Cara Belajar Main Saham: 1 Saham Saja di Portofolio" saya tulis bahwa Gerald M. Loeb menyarankan pemula untuk hanya punya 1 (satu) saham (emiten) saja di portofolio.

Mengapa?



Gerald M. Loeb memberikan beberapa alasan: 


1. Ordinarily, new investors buy one stock after another, and should the market go down, the lose on the whole position before they realize their inexperience.

Biasanya, investor pemula membeli lebih dari satu saham dan seandainya pasar sedang turun, mereka merugi dari semua saham tersebut sebelum menyadari ke-tidakberpengalaman mereka.



2. A purchaser of a single stock under this plan is forced to a decision whether to keep it, take a loss or a profit, or exchange it for another.

Orang yang membeli hanya satu (jenis) saham dengan nilai kecil diharuskan memutuskan untuk tetap memegang saham tersebut, jual rugi/untung, atau mengganti saham tersebut dengan saham lain. Dengan kata lain, kalau sampai rugi, ruginya (seharusnya) tidak besar.



3. It is quite different, and many times more valuable in teaching market technique, than the imaginary "paper transactions" in which many tyros indulge. The latter are completely lacking in testing investors' psychological reactions stemming from such important factors as fear of loss, or greed for more gain.

Membeli dan memegang satu (jenis) saham adalah proses belajar yang jauh lebih baik daripada "transaksi simulasi" (transaksi tanpa mempertaruhkan uang sesungguhnya alias transaksi pura-pura) yang sering digeluti pemula. "Transaksi simulasi" tidak memberi pelajaran berharga reaksi psikologis seperti takut rugi atau nafsu untuk untung lebih banyak.



4. This method also teaches that if there is no one outstanding purchase or sale at the moment, one should strive to be out of the picture entirely.

Metode "Satu Saham Saham di Portofolio" juga mengajarkan bahwa kalau tidak ada saham yang layak dibeli, lebih baik tidak punya saham sama sekali.




Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2020 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

Sunday, December 22, 2019

Cara Belajar Main Saham: 1 Saham Saja di Portofolio

The only way to begin is to learn by doing. Here lies the greatest handicap of most investors. They have had no experience.

Satu-satu cara belajar main saham adalah dengan melakukan jual-beli saham. Ini adalah masalah utama mayoritas investor pemula: mereka tidak punya pengalaman.



Years ago, in wondering how one could gain such invaluable market knowledge and yet not pay a prohibitive cost in tuition, I thought of the plan of learning by always maintaining a position not in excess of a hundred shares of an average-priced stock, yet always striving to be long or short the most suitable issue of the moment. This plan takes a minimum of capital. It also results in a minimum of risk, as the beginner is forced to close one commitment before he opens the next.

Beberapa tahun silam, saat memikirkan cara agar seorang pemula bisa mendapat pengalaman main saham tanpa membayar biaya "uang sekolah" (rugi) terlalu besar, saya mendapat ide cara belajar main saham dengan membeli hanya SATU jenis saham sejumlah tidak lebih dari 100 lembar (1 lot). Cara ini memerlukan hanya modal yang kecil. Cara ini juga meminimalisir resiko karena si pemula harus menjual posisi ini sebelum membeli saham lain.

--Gerald M. Loeb di buku The Battle for Investment Survival



Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2019 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, November 23, 2019

Carilah Saham Yang Berpotensi Untung Besar

Having decided to invest only in the more active, listed issues for the start at least, the next point is to learn to "invest for appreciation." Every purchase must be considered almost solely on the basis of what it will return in income and appreciation added together and treated as one.

Setelah memutuskan untuk berinvestasi hanya di saham yang besar dan aktif, langkah selanjutnya adalah belajar berinvestasi agar untung. Setiap transaksi saham harus dipertimbangkan berdasarkan keuntungan yang bisa didapat dari dividen dan kenaikan harga saham.



It is absolutely futile to try to get results except by buying into anticipated large gains. It is far better to let cash lie idle than to buy just to "keep invested" or for "income." In fact, it is really vital, and just this one point, in my opinion, represents one of the widest differences between the successful professional and the loss-taking amateur.

Anda tidak akan mendapatkan hasil yang baik kalau anda tidak berusaha mencari dan membeli saham yang berpotensi memberi untung besar. Anda lebih baik memegang uang tunai daripada membeli saham hanya karena "harus berinvestasi" atau hanya mengharapkan dividen. Menurut saya, poin (untuk mencari potensi untung besar) ini adalah yang membedakan antara pemain saham profesional sukses dan pemain saham amatiran rugi melulu.

--Gerald M. Loeb di buku The Battle for Investment Survival



Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2019 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]