Saturday, April 7, 2012

Contoh Warkat/Sertifikat Saham Rig Tenders (RIGS)

{Terima kasih YP untuk scan warkat saham RIGS ini.}

Berikut ini adalah contoh warkat/sertifikat saham RIGS (Rig Tenders Indonesia):
 

Figure 1. Contoh Warkat/Sertifikat SahamRig Tenders







Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2012 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Friday, April 6, 2012

Arti Istilah "Scriptless Trading" di Bursa Efek Indonesia

{Terima kasih YP untuk informasinya dan scan contoh warkat saham sehingga saya dapat menulis blog ini.}

Pada tahun 2000, Bursa Efek Jakarta (sebelum berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia) mulai melaksanakan perdagangan saham tanpa warkat alias "scriptless trading." Sebenarnya apa yang dimaksud dengan "scriptless trading" ini?

Untuk mengerti apa itu "scriptless trading," lebih mudah kalau anda mengetahui terlebih dulu kebalikan dari "scriptless trading" yaitu "scriptful trading" alias perdagangan dengan warkat.


Perdagangan dengan warkat ("scriptfull trading")

Sebelum tahun 2000, perdagangan saham di Bursa Efek Jakarta dilakukan dengan menggunakan warkat. Apakah warkat itu?

Warkat adalah selembar kertas bukti kepemilikan suatu saham. Kalau saham kita bandingkan dengan rumah, warkat saham adalah sertifikat rumah. Setelah kita membeli saham, kita akan mendapat warkat--atau sertifikat saham--sebagai bukti bahwa kita adalah pemilik sah saham tersebut. Warkat ini bisa anda simpan sendiri atau bisa juga disimpan di perusahaan broker saham di mana anda membeli saham tersebut.

Figure 1. Contoh Warkat/Sertifikat Saham INCO

Ketika perdagangan dengan warkat ("scriptful trading") masih berlangsung, setiap sore setelah pasar tutup, pegawai "back-office" broker saham harus menyiapkan warkat saham-saham yang dijual oleh pemain saham pada hari itu untuk diserahkan kepada Kliring Deposit Efek Indonesia (KDEI) beberapa hari kemudian. Pada saat menyerahkan warkat saham yang dijual pemain saham, sekuritas saham akan menerima warkat saham-saham yang dibeli investor pada hari yang sama.

Figure 2. Contoh Warkat/Sertifikat Saham Rig Tenders

Bisa anda bayangkan betapa ruwetnya proses ini. Dan sangat memakan waktu. Kalau di perusahaan broker ada 100 investor yang masing-masing membeli satu saham yang berbeda, petugas "back-office" harus menyortir warkat saham-saham ini. Masalahnya, jumlah lembar saham di setiap warkat tidak selalu sama. Bisa 100 lembar, bisa 500 lembar (satu lot), bisa juga angka-angka lainnya. Tidak heran kalau pada masa "scriptful trading" karyawan "back-office" perusahaan sekuritas sering pulang jam 12 malam.

Dengan bertambahnya jumlah pemain saham dan juga bertambahnya saham yang diperdagangkan di bursa, penggunaan warkat menjadi penghambat kelancaran perdagangan saham. Itulah sebabnya Bursa Efek Jakarta memutuskan untuk menghapus perdagangan dengan warkat dan menggantinya dengan "scriptless trading" (perdagangan tanpa warkat).


Perdagangan tanpa warkat ("scriptless trading")

Kalau transaksi dengan warkat ("scriptful trading") kita samakan dengan transaksi memakai uang tunai, transaksi tanpa warkat ("scriptless trading") adalah transaksi melalui transfer bank. Uangnya tetap berpindah-tangan, tetapi pada transaksi transfer bank, uang tersebut langsung didebit dari rekening pengirim dan dikredit ke rekening penerima secara elektronik. Tidak ada pertukaran uang tunai dalam proses tersebut.

Dengan dilaksanakannya "scriptless trading," pegawai "back-office" perusahaan broker saham tidak perlu lagi menyortir warkat-warkat saham yang diperjualbelikan nasabahnya. Saham yang dibeli nasabah akan dikredit dan saham yang dijual akan didebit oleh Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) secara elektronik ke rekening perusahaan sekuritas. Perusahaan sekuritas saham kemudian akan mengkredit dan mendebit saham ke sub-rekening investor di perusahaan tersebut. Mudah dan praktis.

Tapi kemudahan dan kepraktisan ini ada kelemahannya. Apa bukti bagi nasabah/investor saham bahwa mereka adalah pemilik sah dari saham yang mereka beli dan sudah dibayar? Tanpa warkat, bukti kepimilikan hanya dalam bentuk elektronik dan hanya bisa diakses perusahaan broker saham. Bisa saja perusahaan broker saham tidak mengkredit kepimilikan saham kepada pemilik yang sah.


Rekening AKSES (Acuan Kepemilikan Sekuritas)

Untuk menghapus kekhawatiran seperti disebut di atas, setiap pemilik rekening perdagangan saham sekarang diharuskan juga mempunyai rekening AKSES (Acuan Kepemilikan Sekuritas) di KSEI. Dengan adanya rekening AKSES ini, KSEI akan langsung mengkredit dan mendebit saham yang diperjualbelikan investor ke rekening AKSESnya, bukan lagi ke rekening atas nama perusahaan broker saham. Dan investor bisa mengecek sendiri saham-saham yang ia miliki melalui internet.

Dengan adanya AKSES, investor saham dapat berinvestasi dengan tenang di Bursa Efek Indonesia tanpa harus khawatir kalau saham-sahamnya akan dibawa kabur oleh perusahaan broker nakal.

Saya simpulkan bahwa "Scriptless trading" tidak hanya mengurangi beban pekerjaan "back-office" perusahaan broker, tapi juga memberi rasa aman kepada investor, dan juga memberi kemudahan dan kepraktisan bagi investor untuk mengetahui status kepemilikan sahamnya.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2012 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]  

Saturday, March 17, 2012

Cara Membeli Saham Untuk Pemula (Bagian III)

Pos ini adalah lanjutan dari pos “Cara Membeli Saham untukPemula (Bagian II).” 

Setelah membaca pos “Cara Membeli Saham Untuk Pemula (Bagian II)” sangat mungkin anda bingung dan bertanya-tanya: jadi di harga berapa saya harus membeli suatu saham.

Anda akan lebih mengerti setelah membaca pos ini karena harga beli saham tergantung pada "Kapan" dan "Bagaimana" anda membeli. 


III. Kapan dan Bagaimana

Kapan dan Bagaimana anda membeli suatu saham adalah faktor utama penentu harga beli saham tersebut. 

Ada 2 cara “kapan” anda membeli saham: saat itu juga atau nanti.

Ada 2 cara “bagaimana” anda membeli saham: antri beli ("bid") atau langsung beli di harga offer (hit "offer"). 

Kalau anda mau membeli saat itu juga, anda harus langsung beli di harga "offer". 

Kalau anda mau membelinya nanti, anda bisa antri beli ("bid") di bawah harga "offer" saat itu atau anda bisa menunggu sampai saat yang ditentukan untuk beli dan anda langsung beli di harga "offer."

Maksudnya begini: andaikan saham MNCN saat ini “offer” di harga Rp 1800 dan anda baru tertarik untuk beli di harga 1700. Anda bisa melakukan “bid” di harga 1700 atau anda bisa juga tidak nge-“bid” tapi menunggu MNCN turun sampai “offer” di 1700 dan langsung anda beli di harga tersebut.

Ingat: Kalau anda mau langsung mendapatkan suatu saham, anda harus beli di harga "offer." Itu satu-satunya cara memastikan anda mendapat saham itu. Tapi sudah saya katakan di pos sebelum ini bahwa seringkali setelah anda beli suatu saham, saham tersebut malah langsung turun. Tapi ketika anda mengantri beli "bid" di harga bawah, saham tidak mau turun ke harga "bid" anda. Jadi kapan sebaiknya anda membeli saham langsung di harga "offer" dan kapan mengantri di "bid"? 

Solusi mudah untuk masalah di atas adalah untuk membagi pembelian dalam 2 tahap.

Artinya begini: kalau anda mau membeli saham BWPT sebanyak 10 lot dan BWPT sekarang “offer” di Rp 1600, langsunglah beli 5 lot sekarang juga di harga 1600. Untuk sisa 5 lot yang masih anda mau beli, silahkan anda “bid” di bawah atau beli langsung di kemudian waktu. Membeli saham secara bertahap seperti ini saya namakan “laddering in” (masuk bertahap/berjenjang).

Mari kita lihat skenarionya: Kalau setelah anda beli BWPT naik, setidak-tidaknya anda sudah punya 5 lot. Kalu setelah anda beli BWPT turun, kan anda memang masih mau membeli 5 lot lagi.

Nah, misalkan anda membeli 5 lot kedua di harga 1550 pada keesokan hari, rata-rata harga beli anda adalah (1600 + 1550)/2 = 1575. Harga rata-rata 1575 ini lebih baik daripada kalau anda membeli langsung 10 lot di 1600. 

Inti dari pos ini: anda tidak harus membeli saham sekaligus semua; anda bisa membeli secara berjenjang. Memang, kalau saham langsung naik setelah anda beli, anda akan menyesal karena baru membeli setengah dari total yang anda inginkan. Tidak ada solusi yang sempurna.

Membeli secara bertahap bukan solusi sempurna karena memang tidak ada cara sempurna dalam bermain saham. Tapi membeli saham secara bertahap/berjenjang adalah solusi terbaik bila anda selalu ragu-ragu ketika mau membeli saham.

Anda mungkin sering bertanya-tanya: sudah murahkah saham SMGR? masih bisa turun gak? beli sekarang atau nunggu? Tidak ada seorang pun yang tahu. Daripada anda gigit jari melihat saham incaran anda keburu naik sebelum anda sempat beli, belilah separuh dulu. Beli separuh lagi belakangan.

Sekarang anda sudah tahu bagaimana cara membeli saham. Apa langkah selanjutnya? Lanjut baca ke "Cara Main Saham Untuk Pemula: Setelah Beli (Bagian I)." 






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2012 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]