Thursday, October 18, 2012

Cara Main Saham Untuk Pemula: Setelah Beli (Bagian III)

Pos ini adalah lanjutan dari "Cara Main Saham Untuk Pemula: Setelah Beli (Bagian II)."

Apa yang harus anda lakukan kalau saham yang sudah anda beli lagi di harga lebih rendah  (average down) masih juga turun?

Nah, situasinya pelik karena tidak ada jawaban yang absolut. Semuanya tergantung. Tergantung kondisi pasar (bullish atau bearish), tergantung fundamental saham, tergantung teknikal saham, tergantung berapa besar turunnya.

Tetapi sebagai pemula yang baru main saham di bawah 2 tahun, pengetahuan anda tentang kondisi pasar, fundamental dan juga teknikal saham relatif masih minim. (Maaf, jangan tersinggung.) Jadi untuk sederhananya, kalau saham masih juga turun setelah anda membeli untuk kedua kali, saran saya adalah: cut-loss.

"Lah," keluh anda. "Kalau begitu caranya, kemungkinan saya akan cut-loss terus. Dan yang lebih ngeselin, setelah saya cut-loss, saham tersebut cuma turun dikit lagi lalu berbalik naik. Apa tidak sebaiknya saya tunggu aja?"

Saya paham keberatan anda. Tapi mari kita pikirkan bersama.

Kalau (relatif) SEMUA saham yang anda beli masih juga turun pada saat anda membeli untuk kedua kali, bukan cut-loss yang harus disalahkan. Yang harus anda kaji ulang adalah alasan MENGAPA anda membeli saham-saham tersebut. (Untuk menyegarkan ingatan anda tentang APA dan MENGAPA membeli suatu saham, silahkan baca pos "Cara Membeli Saham Untuk Pemula (Bagian I).")

Ingat: anda masih dalam proses belajar mencari alasan MENGAPA suatu saham layak dibeli. Kalau saham yang anda beli berdasarkan alasan ini semuanya malah turun, berarti MENGAPA-nya ini yang salah.

Saya kutip dari pos "Cara Membeli Saham Untuk Pemula (Bagian I)": 


.... Ketika anda membeli saham, catat alasan "Mengapa." Kalau hasilnya untung, lanjutkan. Kalau buntung, coba perbaiki alasan tersebut atau cari alasan yang baru. Pergerakan saham ada polanya. Carilah pola-pola gerak saham yang menghasilkan untung.

Dengan melalui proses di atas, perlahan-lahan anda akan menemukan jawaban “Mengapa” suatu saham layak dibeli....


Saya ulangi sekali lagi: kalau alasan anda membeli suatu saham selalu menuai rugi, perbaiki alasan tersebut. Atau cari alasan lain yang baru. Dengan mengikuti proses ini, niscaya anda akan menemukan jawaban saham APA dan MENGAPA yang mendatangkan untung.

Nah, sekarang mengenai saham yang setelah anda cut-loss malah berbalik naik: tidak ada larangan untuk membeli lagi saham yang sudah anda jual. Seandainya setelah anda cut-loss lalu anda menemukan alasan bahwa saham itu akan naik: beli lagi. Lupakan luka lama. Anggap pembelian ini sebagai posisi baru dengan titik cut-loss yang baru. 


Titik Cut-Loss

Di sini saya menyimpang sedikit untuk membicarakan tentang cut-loss. Saya selalu menekankan pentingnya cut-loss. Tapi yang tidak kalah pentingnya adalah menentukan titik cut-loss yang sesuai kondisi. (Ada baiknya anda membaca dulu pos "Cara Cut-Loss Untuk Stop Kerugian Saham.")

Cara cut-loss yang paling mudah diterapkan oleh pemula adalah metode persentase: kalau saham turun sekian persen, anda cut-loss. Tapi metode persentase ini ada kelemahannya terutama pada saham yang volatilitasnya tinggi.

Kalau anda menetapkan untuk cut-loss kalau saham turun 5% tapi saham yang anda beli seringkali naik-turun hingga 20%, hampir pasti anda akan cut-loss setelah membeli saham tersebut. Inilah sebabnya mengapa dalam menentukan titik cut-loss, pemain saham sebaiknya mempertimbangkan volatilitas saham.

Karena mempertimbangkan volatilitas cukup sulit untuk pemula dan karena saham yang bervolatilitas tinggi biasanya adalah saham “gorengan,” inilah sebab utama mengapa saya memperingatkan pemula untuk menghindari saham-saham jenis ini. Intinya: hindari saham berfluktuasi tinggi jika anda belum mempertimbangkan volatilitas ketika menentukan titik cut-loss.


3. Setelah anda beli, saham (relatif) tidak naik tidak turun

Sekarang kita sampai pada kemungkinan ketiga: setelah anda beli, saham (relatif) tidak naik tidak turun.

Kejadian ini sepertinya bukan suatu masalah pelik: kalau belum rugi, kenapa musti pusing? Biarkan saja tuh saham, kan belum rugi, mungkin begitu pikiran anda. Benarkah solusi ini adalah yang terbaik? Silahkan lanjut baca ke pos "Cara Main Saham Untuk Pemula: Setelah Beli (Bagian IV)."






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2012 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]  

17 comments:

  1. Dear Pak Iyan,

    Kemarin saya mengecek beberapa website broker saham, salah satunya adalah IPOT. Di website disebutkan bahwa komisi broker adalah 0,19% per transaksi untuk transaksi beli dan 0,29% per transaksi untuk transaksi jual. Untuk mudahnya saya bulatkan 0,2 % untuk transaksi beli dan 0,3% untuk transaksi jual. Sepintas lalu kelihatannya sih kecil komisi tersebut. Tapi setelah saya lihat-lihat dan hitung-hitung lagi ternyata komisi broker ini besar sekali. Saya jadi bingung apakah perhitungan yang saya lakukan benar atau salah.

    Misalnya kita punya modal 10 juta untuk main saham dalam setahun. Bulan pertama 10 juta ini dipakai secara keseluruhan untuk membeli 1 jenis saham saja dan tidak lama berselang saham tersebut kita jual. Dari transaksi ini kita sudah mengeluarkan biaya komisi broker 0,2 %+ 0,3% atau 0,5 % dari 10 juta modal kita. Katakanlah secara total kita melakukan 5 kali transaksi beli dan 5 kali transaksi jual dalam sebulan dan transaksi tersebut selalu impas (tidak untung dan tidak rugi), bukankah berarti kita sudah mengeluarkan 5x (0,5%) = 2,5% dari 10 juta untuk komisi broker untuk bulan tersebut?

    Misalnya saja kita bisa mempertahankan 10 juta tersebut di bulan ke 2 sampai bulan ke 12 dan seperti bulan pertama, transaksi di bulan ke 2 sampai di bulan ke 12 selalu menghasilkan transaksi yang impas (tidak untung dan tidak rugi). Maka kita harus membayar 2.5% x12 bulan= 30 % komisi broker dalam setahun.

    Jumlah ini besar sekali, apalagi kalau mempertimbangkan tulisan Pak Iyan yang mengatakan bahwa orang sekelas Buffet atau Soros hanya menghasilkan average gain 25-30% dari modal tahunan mereka. Lalu dengan besarnya pengeluaran kita untuk komisi broker, bagaimana kita bisa menikmati gain yang kita dapatkan? Mohon pencerahannya Pak Iyan.

    Salam,

    willem

    ReplyDelete
  2. Fee IPOT, dibanding sekuritas online trading lain, memang termasuk yang tinggi. Tapi rata-rata fee broker di Indonesia adalah 0,15% beli dan 0,25% jual.

    Pengamatan Willem bahwa fee ini besar, nah, itu tergantung dari kacamata mana. Untuk pemain modal kecil, absolut fee yang dibayar sebenarnya sangat kecil.

    Menggunakan contoh Willem dengan modal Rp 10 juta dan membeli saham sejumlah itu, fee beli yang dibayar adalah 20ribu. Kalau setelah itu kita jual, fee jual 30 ribu. Total 0.5% dari Rp 10juta adalah Rp 50ribu. Kalau Willem cuma bertransaksi 5x dalam sebulan, perusahaan broker cuma mendapat Rp 250ribu. Uang senilai ini relatif kecil dibandingkan investasi ratusan juta rupiah oleh sekuritas untuk menyediakan platform trading bagi anda. Belum lagi mereka juga harus mengeluarkan biaya maintenance system dan membayar gaji pegawai setiap bulannya.

    Tapi, di lain pihak, kalau dilihat dari kacamata persentase modal kita, saya setuju dengan Willem bahwa fee ini terasa besar. Tapi kenyataan yang ada adalah seperti itu.

    Poin di atas adalah salah satu sebab di pos "Target Laba Main Saham Bagian I" saya menyatakan target laba untuk Pemula adalah RUGI tidak lebih dari 20% per tahun.

    Buffet dan Soros adalah pemain jangkan panjang dan return mereka yang 25-30% sudah termasuk biaya-biaya yang mereka keluarkan.

    Fee transaksi yang besar adalah juga salah satu alasan mengapa investor selalu dianjurkan berinvestasi jangka panjang. Kalau tidak jual, tidak bayar fee.

    Nah, kalau Willem memang keberatan dengan fee yang terasa mahal, coba pertimbangkan menjadi investor jangka panjang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. pak iyan saya ingin bertanya :) broker fee itu hanya dikenakan pada saat melakukan jual beli saja ya pak? kalau selama 5 tahun uang kita tidak melakukan jual dan beli berarti tidak dikenakan broker fee kan pak...?

      Delete
    2. pak iyan saya mau beratanya :) apakah broker fee hanya dikenakan saat beli / jual saja? Apa tidak ada potongan bulanan atau tahunan untuk uang kita? Kalau tidak bearti kalau kita tidak melakukan juall / beli selama 5 tahun , kita tidak dikenakan biaya apapun kan pak... terimakasih :)

      Delete
    3. Broker fee jual-beli dipungut HANYA kalau anda melakukan transaksi jual-beli. Kalau anda tidak jual-beli, tidak kena broker fee.

      Tapi untuk rekening online-trading, ada fee data-feed (utk real-time data) sekitar Rp 33.000,- (utk saat ini).

      Delete
  3. Pak Iyan,
    Mau nanya nih..
    Saya awam banget untuk di bidang saham, tapi mau belajar nih pak sebelum terlambat. hehe
    Apa bapak pernah menganalisis return yang dihasilkan portofolio bapak dibandingkan dengan return emas per tahun?
    kalau pernah boleh di share dong pak, lebih tinggi mana returnnya.

    trus saya mau tanya pak iyan investasi saham untuk jangka panjang atau jangka pendek ya?

    kalau saya sendiri ingin belajar investasi saham jangka panjang, anggap saja nabung tapi tidak di bank jadi ga kemakan inflasi. dan saya sendiri tipe orang yang kurang mau risiko tinggi, lebih baik gain sedang tp risiko tidak terlalu tinggi.

    ada kiat2 khusus untuk investasi jangka panjang pak? sepertinya kalau dilihat banyak sekali saham saham bluechip menurut kacamata saya, seperti unilever, indofood, bca, jasamarga. saya menilai saham tersebut bluechip karena menurut saya keberlangsungan perusahaan itu sangat panjang, mengingat hampir seluruh masyarakat membutuhkan produk dari perusahaan-perusahaan tersebut.. thanks

    ReplyDelete
  4. Membandingkan return saham dengan return emas tidak relevan, sama saja membandingkan jeruk dengan apel. Sepuluh tahun terakhir ini emas (dan komoditas lainnya) sedang hot. Tahukah anda di tahun 1980-1990an harga emas terus menerus turun?

    Saya pemain saham jangka pendek.

    Untuk investasi jangka panjang, silahkan baca pos "Mau Investasi Saham? Baca Dulu Buku Peter Lynch "One Up on Wall Street."

    ReplyDelete
  5. Pak Iyan,,, saya sangat bersyukur sekali ketemu dengan blog bapak. sangat menambah pengetahuan saya di bidang saham.

    di tunggu postingan berikutnya pak...
    thanks...

    ReplyDelete
  6. Artikel yang menarik, says sedang belajar saham.. masih Menentukan broker yg bagus khususnya untuk di jogja.
    DAn kemarin lagi coba Idx trading... baca nya Susah.. apakah ada tutorial Untuk idx virtual trading? Banyak sekali istilah yang Kurang saya mengerti.

    Jujur says pengen main saham karena untuk tambah penghasilan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belajar hal baru memang selalu sulit. Di situlah keseriusan dan kegigihan anda diuji.

      Delete
  7. bos trading saham apa sama dengan trading forex, saya sih tertarik pada saham IPO

    apakah ketika kita buy pada 100 trus harga naik ke 130 kita untung ?

    apakah ketika kita sell pada 100 trus harga naik ke 80 kita untung ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1. Trading saham MIRIP dengan trading forex. Mirip tapi tidak sama.

      2. Kalau belum realize profit, belum untung.

      3. Di Bursa Efek Indonesia, anda tidak bisa sell short.

      Delete
  8. Pak Iyan, senang sekali saya membaca blog anda. saya ingin memberi komentar pertanyaan mbah dukun. Jangan sekali-kali trading forex karena yang ada adalah rugi dan rugi dan rugi.

    Di kantorku yang kuketahui ada 4 orang diam2 rugi 50 juta keatas gara main forex. familiku uang pension nya 150 Juta habis dan akhirnya bercerai. korban terakhir anakku, tamat ITB, karena belum bekerja, melamar ke perusahaan forex.karena belum mendapat rekanan, ia minta modal kepada saya, saya kasihan, saya beri 200 juta. dalam waktu 3 bulan ambles 150 Juta. untung sekarang ia sudah keluar dan bekerja ditempat yang sesuai bidangnya.
    kenapa bisa rugi, karena kita diposisikan sebagai penjual atau pembeli sesuatu nilai(forex,emas,index saham) yang tidak ada nilai tambahnya, kemungkinan untung/rugi adalah 50% : 50% sementara kita harus membayar fee. semakin banyak kita melakukan transaksi semakin banyak kerugian. Mungkin anda faham tehnikal/pergerakan suatu saham tetapi itu tidak menjamin.
    Lain hal kalau saham, yang kita beli adalah perusahaan yang pada kebanyakan nilai/equity dan keuntungannya bertambah terus (IHSG naik berarti lebah banyak perusahaan untuk untung)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pak Syaiful, terima kasih untuk sharingnya.

      Saya tidak berpengalaman dengan forex, jadi saya tidak bisa banyak berkomentar.

      Main saham, seperti juga main forex, juga lebih banyak yang rugi daripada yang untung. Tapi, setahu saya, yang membuat forex lebih riskan rugi adalah faktor "leverage" yang amat sangat besar.

      Katakanlah dengan modal $1 kita bisa main $100, "leverage" 1:100. Kalau posisi kita turun 1% saja, modal kita habis. Yang selalu digembargemborkan adalah bisa untung 100-200% dalam waktu singkat; kemungkinan rugi 100%nya tidak pernah disebut.

      Dengan faktor resiko yang begitu besar, banyak orang amblas kilat ketika bermain forex. Tapi saya yakin, ada sebagian (kecil) orang yang sukses dalam bermain forex.

      Delete
  9. Di forex kita bisa kena margin call, klo beli saham di bursa Indonesia, harga terrendah adalah 50, klo kita beli pakai uang sendiri, bs hold long term, tanpa kena biaya apa2 :) http://beialert.wordpress.com

    ReplyDelete
  10. Pak, saya senang baca artikel yah bapak.
    Saya mau bertanya"pada saat kita membeli saham sebanyak 2lot dengan harga rp50 perlembar. Kan di gambar bapak kan gak disitu, kayakmana kita membeli sesuai keadaan Kita""

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Vikardin Hulu,

      Mohon maaf saya tidak mengerti pertanyaan anda. Boleh tolong diperjelas?

      Delete

Pertanyaan dan komentar anda akan saya jawab sesegera mungkin. Maaf, saya tidak menerima pertanyaan dan komentar anonim. Promosi, iklan, link, dll, apalagi hal-hal yang tidak berhubungan dengan main saham TIDAK AKAN ditampilkan.