Showing posts sorted by date for query prinsip mendasar analisa teknikal. Sort by relevance Show all posts
Showing posts sorted by date for query prinsip mendasar analisa teknikal. Sort by relevance Show all posts

Saturday, December 26, 2020

Kombinasi Indikator MACD dan Stochastics

Di pos "Cara Menarik Garis Trend/Trendline" Mas Herlambang meminta tanggapan saya tentang cara ia mengkombinasikan beberapa indikator dan anggapan bahwa indikator satu dan yang lainnya saling mendukung. Begini yang ditulis Mas Herlambang:

". . . pada platform trading yang saya pakai ada 3 kolom grafik, teratas candlestick, tengah stochastic, bawah MACD.

Selama ini dalam menggunakan stochastic saya gabung dengan MACD. Sebelum memutuskan entry, saya lihat dahulu MACD. Berdasarkan pengamatan dari grafik beberapa saham dan dengan data time-frame yang berbeda-beda, kalau MACD line berada di bawah, dan kemudian memotong trigger dan menuju ke atas, berarti saatnya entry (menurut saya). Kemudian baru saya lihat stochastic posisinya bagaimana, kalau %K dan %D berpotongan dan menuju ke atas, memang layak untuk entry.

Begitu juga sebaliknya, langkah yang saya ambil untuk exit posisi.

Bagaimana menurut mas Iyan? Mohon pencerahannya."

Setelah membaca ulang jawaban yang saya tulis di pos tersebut, saya merasa jawaban tersebut melenceng dari pertanyaan yang diajukan Mas Herlambang.

[Silahkan baca juga pos "Pakai Berapa Macam Indikator Analisa Teknikal?"]

Jawaban yang lebih tepat adalah sebagai berikut:

 


Menurut saya, pengamatan Mas Herlambang sudah tepat.

Kondisi MACD (Moving Average Convergence Divergence) line berada di bawah dan menuju ke atas adalah sinyal uptrend.

Kondisi Stochastics %K menembus ke atas %D adalah tanda saham berbalik arah dari kondisi oversold (jenuh jual). Hal ini adalah sinyal beli yang diberikan Stochastics.

Jadi kalau Mas Herlambang memutuskan entry (beli saham) kalau kedua kondisi (bullish) di atas terpenuhi, hal tersebut adalah Trading Plan yang bagus.

Tapi yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah KOMBINASI kedua kondisi indikator analisa teknikal tersebut?

Kombinasi gimana maksudnya, mas Iyan, tanya anda dalam hati.

Oke, saya jelaskan yaa.

Di pos "Prinsip Mendasar Analisa Teknikal (Technical Analysis)" saya tulis bahwa Analisa Teknikal terbagi atas dua metode utama: Trend-following dan Oscillator.

Indikator trend-following berfungsi memprediksi apakah saham yang sedang bergerak naik (uptrend) atau turun (downtrend) cenderung akan melanjutkan aksinya atau cenderung berbalik arah. Sedangkan indikator oscillator berfungsi memprediksi suatu saham yang bergerak dalam kisaran apakah sudah jenuh jual atau jenuh beli.

Dengan menggunakan indikator analisa teknikal MACD dan Stochastics berarti Mas Herlambang menggunakan satu indikator Trend-following dan satu indikator Oscillator.

Hal ini, menurut saya, adalah cara yang tepat mengkombinasikan indikator Analisa Teknikal. Kalau anda ingin memakai lebih dari satu indikator Analisa Teknikal, sebaiknya anda mulai dengan satu indikator Trend-following ditambah satu indikator Oscillator.

Mengapa?

Karena dengan menggunakan satu indikator Trend-following dan satu indikator Oscillator, anda kemungkinan akan mendapat kombinasi yang lebih baik daripada kalau anda menggunakan dua indikator dari jenis yang sama.

Kok bisa?

Saya jelaskan lebih lanjut yaa.

Di pos "Beli Saham Apa?" saya menganjurkan anda untuk membeli saham yang sedang uptrend. Pertanyaannya: Bagaimana cara tahu suatu saham sedang uptrend atau tidak?

Nah, untuk mencari tahu apakah suatu saham sedang uptrend, anda bisa menggunakan indikator Trend-following seperti MACD.

Masalahnya, setelah indikator Trend-following memberi sinyal bahwa suatu saham sedang uptrend, kapan sebaiknya anda membeli saham tersebut?

Apakah langsung beli saat itu juga?

Atau tunggu dulu?

Kalau tunggu, apakah tunggu turun atau tunggu tambah naik lagi?

Untuk menjawab pertanyaan ini, anda bisa menggunakan indikator Oscillator seperti Stochastics: beli ketika saham sedang naik dari posisi Oversold (jenuh jual).

 

---###$$$###---

 

Nah, hal yang saya jabarkan di atas adalah teori-nya. Praktek-nya tidak semudah teori.

Yang penting: kalau anda sudah tahu mengapa sebaiknya mengkombinasikan indikator analisa teknikal Trend-following dan Oscillator, pengetahuan analisa teknikal anda sudah jauuuh di atas rata-rata.


 

 

Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2020 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Monday, October 5, 2020

Pakai Berapa Macam Indikator Analisa Teknikal?

Misalkan anda baru mulai belajar Analisa Teknikal dan ingin mencoba indikator-indikator analisa teknikal yang ada. Berapa banyak (jenis) indikator Analisa Teknikal yang sebaiknya anda pakai?

Di pos "Cara Menarik Garis Trend/Trendline" saya diminta Mas Herlambang menanggapi cara ia mengkombinasikan beberapa indikator dan anggapan bahwa indikator satu dan yang lainnya saling mendukung.

Setelah membaca ulang jawaban yang saya tulis, saya merasa jawaban tersebut melenceng dari pertanyaan yang diajukan Mas Herlambang.

[Kalau Mas Herlambang membaca pos ini, saya minta maaf bahwa jawaban saya ngelantur. Secepatnya akan saya tulis pos tersendiri untuk menjawab pertanyaan anda tersebut dengan lebih baik.]

Jawaban tersebut lebih cocok sebagai jawaban pertanyaan di judul pos ini: Sebaiknya Pakai Berapa Macam Indikator Analisa Teknikal?

 

 

Beginilah jawaban yang saya tulis saat itu:

"Pada jawaban di atas saya sudah menyarankan agar anda belajar indikator SATU-PER-SATU.

Berusaha mempelajari BEBERAPA indikator pada waktu yang bersamaan berarti menambah banyak VARIABEL interpretasi.

Menginterpretasi satu indikator saja suda sulit, apalagi kalau pada saat bersamaan memakai lebih dari satu (indikator)?

Belajar apapun HARUS SABAR, harus SATU-PER-SATU. Setelah nyaman dan mengerti SATU indikator, barulah saatnya menambah indikator lain.

INGAT: Kalau satu indikator saja masih belum mengerti dengan mendalam, sebaiknya TIDAK menambah indikator lain.

Indikator APAPUN seharusnya BISA mendatangkan untung KALAU anda tahu cara tepat menginterpretasi hasil perhitungan indikator tersebut."


Lalu saya lanjutkan:

"Indikator memang bisa mendukung satu dengan yang lain.

TAPI . . .

Sebelum menguasai satu indikator (setidak-tidaknya tahu dasar-dasarnya), JANGAN menghabiskan waktu mencoba mendalami yang lain.

Saya berikan ilustrasi ya, supaya jelas.

Misalkan anda adalah seorang tentara yang maju ke medan tempur. Anda dipersenjatai PISTOL, SENAPAN, PISAU.

Apakah pistol, senapan, pisau ini saling mendukung? Tentu saja. Tapi hanya KALAU anda tahu cara menggunakan pistol, senapan, dan pisau dengan tepat.

Maksudnya?

Kalau anda berusaha memakai pisau untuk melumpuhkan musuh anda yang berdiri 50 meter di depan anda (padahal anda punya senapan), saya rasa pisau tersebut bukannya membantu tapi malahan membuat anda rentan dilumpuhkan musuh anda.

Kembali ke indikator.

Anda perlu tahu Indikator yang anda pakai apakah adalah PISTOL, SENAPAN, PISAU.

Jangan memakai pisau kalau lebih tepat memakai pistol.

Jangan memakai pistol kalau lebih tepat memakai senapan.

Jangan memakai senapan kalau lebih tepat memakai pisau.

Kesimpulannya:

Kalau anda tahu cara tepat memakai pistol, senapan, pisau, anda sangat mungkin akan makin sering menang di medan tempur.

Tapi karena anda adalah tentara baru yang belum tahu teknik menggunakan pistol, senapan, pisau, cobalah anda pelajari dulu tekniknya satu-per-satu. (Dan pelajari lebih dalam dari kulitnya; jangan hanya kulitnya saja.)

Jangan sekali-kali berpikir bahwa hanya karena ada dipersenjatai pistol, senapan, pisau berarti anda pasti menang di medan tempur. Yang tidak kalah pentingnya (bahkan bisa jadi lebih penting) adalah KEAHLIAN dalam memakai senjata-senjata tersebut."



Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2020 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, January 26, 2019

Simple Moving Average atau Exponential Moving Average?

Di pos "Target Laba Main Saham (Bagian I)," seorang pembaca—Maha Syauqi—bertanya:

". . . Pak Iyan, kalau boleh tahu sering pakai EMA atau SMA? Untuk karakter Daytrader/Swing pada 3 Formasi harinya disetting angka berapa kalau Om Iyan dalam trading? Soalnya kalau saya pakai SMA kadang suka telat, tapi kalau pakai EMA banyka sinyal palsu haaa. . ."


---###$$$###---


Jawaban saya:

Saya memakai (indikator Analisa Teknikal) Simple Moving Average (SMA).

[Catatan: SMA = Simple Moving Average; EMA = Exponential Moving Average.]

Lumrah kalau anda ingin tahu parameter Simple Moving Average yang dipakai orang lain.

Apakah saya memakai 10 hari? 20 hari? 30 hari/ 50 hari? atau 200 hari kah?

Nah, perlu saya tegaskan bahwa tidak relevan (untuk anda) bung Iyan memakai SMA dengan parameter apa. Yang penting adalah anda memilih indikator Analisa Teknikal (SMA, EMA, dll) dan parameternya(5, 10, 20, 30, 50, 200, dll) lalu memakainya SECARA KONSISTEN.

Kalau anda memutuskan memakai Simple Moving Average, silahkan. Kalau anda memilih Exponential Moving Average, monggo.

Kalau anda menentukan parameter SMA di 10 hari, silahkan. Kalau pilih 50 hari, juga gak salah.

Yang penting adalah anda mencoba indikator analisa teknikal (dan parameternya) SECARA KONSISTEN.

Mengapa harus KONSISTEN?

Karena hanya dengan memakai indikator Analisa Teknikal secara konsisten anda akan tahu apakah indikator tersebut sesuai dengan karakter (main saham) anda.

Kalau setelah anda coba beberapa saat tapi tidak menguntungkan, berarti ada yang salah.

Apa yang (kemungkinan) salah?

1. Anda salah meng-interpretasi-kan sinyal yang diberikan indikator. Dalam bahasa gamblang: anda (masih) tidak tahu cara benar memakai indikator tersebut.

2. Indikator yang anda pilih adalah untuk jangka (relatif) panjang, sedangkan anda trading jangka pendek. Atau sebaliknya.

3. Indikator Trend Following dipakai di saat market sideways (tidak ada trend).

4. Indikator Oscillator dipakai di saat market Uptrend/Downtrend.

Dan masih banyak kemungkinan kesalahan lainnya.


---###$$$###---


Perlu anda perhatikan bahwa Moving Average adalah indikator Trend Following.

Kalau anda daytrading, Moving Average di daily chart akan selalu terlambat karena sifatnya yang trend following (mengikuti trend).

Artinya, saham sudah naik banyak, barulah Moving Average bergerak naik. Atau kebalikannya: saham sudah turun, barulah Moving Average bergerak turun. And akan selalu terlambat.

Silahkan baca juga pos "Prinsip Mendasar Analisa Teknikal (Technical Analysis)."






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2019 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Wednesday, September 2, 2015

Indikator Analisa Teknikal Average True Range (Bagian II)

Pos ini adalah lanjutan dari pos "Indikator Analisa Teknikal Average True Range (Bagian I)."

Di pos "Indikator Analisa Teknikal Average True Range (Bagian I)" anda sudah tahu bahwa ketika terjadi Gap Up atau Gap Down, rentang harga High/Low tidak mencerminkan rentang sesungguhnya (True Range).

Apa ada solusinya?

Tentu saja. 

Solusi yang diberikan J. Welles Wilder adalah sebagai berikut:


a. Saat Tidak Gap Down/Gap Up

Saat tidak terjadi Gap Down/Gap Up, True Range adalah sama dengan Range yaitu High dikurangi Low.

True Range = Range = High - Low.

Untuk lebih jelasnya, silahkan lihat Figure 1 di bawah ini.

Figure 1. True Range Saat Tidak Ada Gap Up/Gap Down


b. Saat Terjadi Gap Up

Saat terjadi Gap Up, True Range adalah High hari itu dikurangi Previous Close.

True Range = High - Previous Close.

Untuk lebih jelasnya, silahkan lihat Figure 2.

Figure 2. True Range Saat Terjadi Gap Up


c. Saat Terjadi Gap Down

Saat terjadi Gap Down, True Range adalah Previous Close dikurangi Low hari tersebut.

True Range = Previous Close - Low.

Untuk lebih jelasnya, silahkan lihat Figure 3.

Figure 3. True Range Saat Terjadi Gap Down


2. Rumus Cara Menghitung Average True Range

Berdasarkan solusi J. Welles Wilder di atas, rumus untuk mendapatkan nilai True Range adalah:

True Range = max[(High - Low), abs(High - Prev Close), abs(Prev Close - Low)]

Kalau saya jabarkan dalam kata-kata: True Range adalah nilai maximum (terbesar) dari nilai (High - Low), nilai abs(High - Prev Close), nilai abs (Prev Close - Low).

[Perhatikan bahwa fungsi abs (absolut, bukan asal bapak senang) adalah menjadikan (High - Prev Close) dan (Prev Close - Low) selalu bernilai positif. Ingat: yang ingin didapatkan di sini adalah RENTANG harga. Jadi, kita tidak mempermasalahkan apakah harga naik (positif) atau turun (negatif).]

Perhatikan juga bahwa dengan rumus di atas, anda TIDAK PERLU tahu apakah terjadi Gap Up/Gap Down atau tidak.

Mengapa?

Karena kalau terjadi Gap Up, secara otomatis rumus akan memilih nilai abs(High - Prev Close) karena nilai tersebut adalah yang terbesar. Kalau terjadi Gap Down, secara otomatis rumus akan memilih nilai abs(Prev Close - Low) karena nilai tersebut adalah yang terbesar. Kalau tidak terjadi Gap Up/Gap Down, secara otomatis rumus akan memilih nilai (High - Low) karena nilai tersebut adalah yang terbesar.

Keren, kan?

Lalu bagaimana cara mendapatkan Average True Range (ATR)?

Average True Range adalah RATA-RATA dari sejumlah True Range.

Average True Range = (TR1 + TR2 + TR3 ... + TRn)/n

Jadi kalau anda ingin menghitung rata-rata dari 10 True Range, jumlahkan ke 10 True Range tersebut lalu dibagi 10.

Nilai default n untuk Average True Range adalah n = 14.

----#$#----

Nah, sekarang anda sudah tahu cara menghitung Average True Range. Lalu, Average True Range ini termasuk analisa teknikal jenis apa: trend-following atau oscillator? Mau tahu? Silahkan lanjut baca ke "Indikator Analisa Teknikal Average True Range (Bagian III)." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2015 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Monday, September 1, 2014

Hubungan Indikator Analisa Teknikal Dengan Harga Saham

Pada tanggal 05 Juli 2014, bung Herlambang bertanya di pos "Arti Istilah 'Saham Bonus'":
2. "...grafik tengah ada keterangan garis lurus stochastic %K, garis putus-putus stochastic %D. Sy perhatikan jika garis stochastic %K dan %D berpotongan dan naik, maka selalu naik terus, apakah disitu berarti saatnya beli ? dan jika garis stochastic %K dan %D berpotongan dan turun, maka selalu turun terus, apakah disitu berarti saatnya jual ?"
Figure 1. Chart AAPL with Stochastics (%K%D). [Source: finance.yahoo.com]

Ini adalah pertanyaan yang bagus karena tersirat bahwa bung Herlambang berusaha mencari korelasi (hubungan) antara indikator analisa teknikal Stochastics dengan gerak harga saham.

Saya sudah menjawab pertanyaan tersebut di bagian komentar pos "Arti Istilah 'Saham Bonus'", tapi saya merasa topik ini penting untuk didiskusikan lebih detil dalam pos tersendiri.

Mari kita mulai.

---0---

Benar bahwa kalau garis Stochastic %K memotong ke atas %D, biasanya garis %K lanjut naik.

Juga benar bahwa kalau garis Stochastic %K memotong ke bawah %D, biasanya garis %K lanjut turun.

Masalahnya, mayoritas pemain saham mengambil kesimpulan yang SALAH bahwa:
  • kalau garis Stochastic %K memotong ke atas %D, maka garis %K selalu lanjut naik.
  • kalau garis Stochastic %K memotong ke bawah %D, maka garis %K selalu lanjut turun.

Kenapa kesimpulan ini salah?

Sebelum kita lanjut, saya perlu mengingatkan anda bahwa hampir SEMUA indikator analisa teknikaltermasuk Stochastics—adalah hasil perhitungan matematis data harga (atau volume) masa lalu. Pada kasus stochastics, stochastics akan naik kalau harga naik; stochastics akan turun kalau harga turun.

Nah, dari pernyataan "kalau garis Stochastic %K memotong ke atas %D, maka garis %K selalu lanjut naik" tersirat bahwa karena Stochastics naik berarti harga akan naik.

Dengan kata lain, pada pernyataan tersebut tersirat hubungan sebab-akibat sebagai berikut: Sebab Stochastics naik, akibatnya harga saham naik.

Ini tidak masuk akal karenaseperti saya sebutkan di atas—perhitungan matematis Stochastics didapatkan dari harga. Jadi, tidak mungkin Stochastics yang mempengaruhi harga. Apalagi mempengaruhi harga saham di MASA DEPAN.

Intinya, HARGA sahamlah (di masa lalu dan saat ini) yang membentuk Stochastics.

Jadi hubungan sebab-akibat yang benar adalah:
  • Sebab harga naik, akibatnya Stochastics naik.
  • Sebab harga turun, akibatnya Stochastics turun.


Hubungan sebab-akibat ini penting anda ketahui dan resapi karena banyak pemain saham kecewa dengan analisa teknikal karena mereka mengharapkan prediksi yang ABSOLUT dari indikator analisa teknikal yang mereka gunakan.

Padahal sudah saya tulis dengan gamblang di pos "Prinsip Mendasar Analisa Teknikal (Technical Analysis)":

Prinsip Keempat: Prediksi dari analisa teknikal bersifat TIDAK absolut.
Tidak absolut? Kok begitu?
Artinya, hanya karena analisa teknikal memberi sinyal bahwa saham akan naik, tidak berarti saham tersebut harus naik. Analisa teknikal (seperti juga analisa fundamental dan analisa-analisa lainnya) bersifat prediksi atau, dengan kata lain yang lebih gamblang, nebak. Intinya, ketika kita menebak, tebakan kita bisa salah.
  
Pesan moral pos ini: 
  • Semua indikator analisa teknikal adalah perhitungan matematis dari harga (atau volume) saham. 
  • Indikator analisa teknikal TIDAK mempengaruhi naik-turunnya harga saham.
  • Harga sahamlah yang mempengaruhi naik-turunnya indikator analisa teknikal.
  • Indikator analisa teknikal tidak mungkin salah.
  • Prediksi anda berdasarkan indikator analisa teknikal BISA salah.
  • Jadi, jangan menyalahkan indikator analisa teknikal kalau harga saham bergerak berlawanan dengan terkaan anda.

"Oke," kata anda. "Tapi mengapaseperti bung Iyan tulis di atas kalau garis Stochastic %K memotong ke atas %D, biasanya garis %K lanjut naik. Kebalikannya, bahwa kalau garis Stochastic %K memotong ke bawah %D, biasanya garis %K lanjut turun. Bagaimana penjelasannya?"

Tentu saja ada penjelasan yang masuk akal untuk itu. Mau tahu? Silahkan lanjut baca ke pos "Mengapa Stochastics Yang Naik Biasanya Lanjut Naik; Yang Turun Biasanya Lanjut Turun?" [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]"







 

Pos-pos yang berhubungan:

    [Terima kasih bung Herlambang telah menginspirasi saya untuk menulis pos ini.]

    [Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

      Saturday, August 9, 2014

      Konsultasi Cara Membuat Trading Plan yang Menguntungkan

      Kalau anda sudah main saham beberapa waktu, mungkin anda sudah sadar bahwa kalau mau mendapatkan untung konsisten dari trading ataupun investasi saham, anda harus menyiapkan Trading Plan (rencana trading).

      Main sahaminvestasi ataupun tradingtanpa trading plan adalah layaknya berlayar tanpa alat navigasi: kemungkinan amat sangat kecil anda tiba dengan selamat di tujuan. Jauh lebih besar kemungkinan kapal anda menerjang karang, tenggelam, dan anda dimakan hiu.

      Tapi menasehati pemula main saham membuat trading plan adalah seperti menasehati seseorang yang baru mulai belajar membaca A, B, C, untuk menulis buku.

      "Gimana mau nulis buku," protes anda. "Menulis satu kata saja belum becus."

      Tepat sekali.

      Sebelum seseorang mulai mencoba menulis buku, ia harus lebih dulu tahu abjad A sampai Z. Setelah itu ia harus belajar arti kata, lalu mulai belajar membaca. Dari membaca, ia akan belajar contoh-contoh cara menulis kalimat yang mudah dimengerti. Dengan mempelajari kalimat-kalimat ini, lambat-laun ia akan tahu bagaimana cara merangkai kata-kata menjadi kalimat yang indah.

      Demikian juga dengan belajar main saham.

      Sebelum seorang pemula mencoba membuat sendiri trading plan, jauh lebih masuk akal kalau ia belajar melaksanakan trading plan menguntungkan yang sudah disiapkan pemain saham yang lebih berpengalaman. Dengan mencontoh trading plan ini, si pemula lambat-laun akan tahu dasar-dasar trading plan yang menguntungkan.

      Masalah berikutnya: belajar dari mana? Apa ada orang yang rela mengajarkan anda trading plan yang menguntungkan?

      Cukup banyak buku berbahasa Inggris yang menjelaskan trading plan yang dipakai si penulis. Tapi masalahnya, penjelasan trading plan ini tidak mendetil. Kalaupun ada yang detil, trading plan tersebut belum tentu cocok untuk saham di Bursa Indonesia. 

      Bagaimana dengan buku berbahasa Indonesia?

      Sepengetahuan saya, sampai saat ini tidak ada buku bahasa Indonesia yang membahas Trading Plan dengan detil. 

      Maka dari itu saya menghadirkan Konsultasi Cara Membuat Trading Plan yang Menguntungkan.

      Di konsultasi ini saya akan menjabarkan dasar-dasar membuat trading plan (berdasarkan ANALISA TEKNIKAL) yang lengkap mulai dari menentukan saham apa yang layak dibeli, menetapkan harga beli, menentukan titik cut-loss, menentukan kapan harus menjual, dan mengajarkan cara mengelola modal.

      Anda hanya perlu melaksanakan Trading Plan tersebut.

      (Trading Plan pada konsultasi ini sifatnya universal dan versatile sehingga bisa anda terapkan pada saham Indonesia ataupun saham di bursa Amerika Serikat ataupun bursa luar negeri lainnya.) 

      Biaya konsultasi: Rp 20 juta (Tidak menerima peserta baru sampai ada pemberitahuan lebih lanjut).

      Jangka waktu konsultasi: 8 minggu 6 minggu.

      Setiap minggu anda akan mendapatkan satu dari 4 Modul berikut: 

      1. Beli Saham Apa dan Mengapa
      2. Beli kapan dan di harga berapa
      3. Cara menjual dan cara cut-loss
      4. Manajemen Modal

      Selama masa konsultasi, anda bebas berkonsultasi dan bertanya melalui email.



      Konsultasi Cara Membuat Trading Plan yang Menguntungkan ini:

      1. Ditujukan untuk individu yang mau BELAJAR membuat dan melaksanakan trading plan dengan Analisa Teknikal.

      2. Melatih anda untuk sabar dan konsisten dalam melaksanakan trading plan.

      3. Tidak cocok untuk individu yang baru mau mulai main saham. Silahkan coba main saham dulu beberapa bulan lalu pertimbangkan apakah anda perlu ikut konsultasi ini.

      4. Bukan untuk individu yang bermimpi cepat kaya tanpa usaha dan tanpa kerja keras.




      Syarat & Ketentuan Untuk Ikut Konsultasi Cara Membuat Trading Plan yang Menguntungkan:  

      1. Anda sudah (pernah) bertransaksi (beli-jual) saham.

      2. Anda sudah membaca pos "Cara Membeli Saham Untuk Pemula", "Cara Main Saham Untuk Pemula: Setelah Beli", "Cara Cut-Loss Untuk Stop Kerugian Saham", "Cara Menjual Saham Agar Profit Maksimal", "Prinsip Mendasar Analisa Teknikal (Technical Analysis)", "Analisa Teknikal Saham Untuk Pemula".

      3. Anda memperkenalkan diri via email ke terusbelajarsaham@gmail.com, dengan (sedikit-dikitnya) informasi nama, usia, profesi, kota domisili, sudah berapa lama main saham, perusahaan broker yang anda pakai, bingkai waktu main saham (jangka panjang atau jangka pendek), apakah untung atau rugi selama ini, modal yang sudah dicemplungkan, dan informasi lain yang menurut anda penting untuk saya ketahui.

      4. Saya berhak menolak layanan pada siapapun tanpa memberikan alasan apapun.




      Disclaimer, Peringatan, dan Bantahan:

      1. Konsultasi ini adalah layanan belajar membuat dan melaksanakan trading plan.

      2. Walaupun saya yakin bahwa anda akan mendapatkan untung kalau anda melaksanakan trading plan yang diajarkan dengan konsisten, konsultasi ini TIDAK MENJAMIN keuntungan.

      3. Semua transaksi saham beresiko rugi.

      4. Semua keputusan anda dalam melakukan jual-beli saham adalah tanggung-jawab anda sendiri. Artinya, semua keuntungan yang didapat adalah hak anda; sebaliknya, semua kerugian yang anda derita adalah juga tanggung-jawab anda.

      5. Saya dan blog Terus Belajar Saham TIDAK BERTANGGUNG JAWAB atas segala kerugian anda dalam bentuk apapun.




      Pertanyaan Yang Mungkin Anda Tanyakan:  

      Tanya: Modal main saham saya Rp 5 juta. Perlukah saya ikut konsultasi ini?
       
      Jawab: Tidak.

      Kalau modal anda hanya Rp 5 juta—atau bahkan kurang—tidak masuk akal menghabiskan semua modal anda untuk membayar biaya konsultasi ini.


      Tanya: Kalau gitu, siapa yang sebaiknya ikut konsultasi ini?

      Jawab: Menurut saya, anda patut mempertimbangkan ikut konsultasi ini kalau modal main saham anda MINIMUM 5x lipat dari biaya konsultasi ini. Artinya, kalau modal anda Rp 49 juta atau lebih, anda patut mempertimbangkan ikut konsultasi ini.

       
      Tanya: Mengapa begitu?

      Jawab: Kalau anda main saham dengan modal, misalkan Rp 50 juta, dan anda merugi 10% berarti anda rugi Rp 5 juta. Untuk pemula, rugi 10% adalah hal yang hampir pasti terjadi. Bahkan tidak sedikit pemula yang rugi 50% atau lebih.

      Dengan ikut konsultasi ini anda akan tahu cara main saham yang benar dan bisa mencegah kerugian yang fatal.

      Dengan kata lain, kalau dengan ikut konsultasi ini anda bisa mengurangi kerugian sebesar biaya konsultasi, konsultasi ini adalah investasi yang menguntungkan.

      Tambahan lagi, kalau anda punya modal minimum 5x lipat dari biaya konsultasi, saya berkeyakinan tinggi bahwa dalam jangka panjang keuntungan yang anda dapatkan akan berlipat-lipat melebihi biaya konsultasi.

       
      Tanya: Apakah setelah mengikuti konsultasi ini saya pasti untung?

      Jawab: Seperti yang saya tulis di Disclaimer, Peringatan, dan Bantahan di atas: kalau anda menjalankan dengan konsisten Trading Plan yang diajarkan, saya yakin anda akan untung. Tapi saya tidak bisa menjamin.

       
      Tanya: Kenapa tidak berani menjamin, Pak?

      Jawab: Karena sukses atau tidaknya anda dalam belajar main sahamseperti belajar main gitar atau belajar main bulutangkistergantung usaha, latihan, dan kerja keras anda.

      Saya bisa mengarahkan anda ke jalan yang benar, saya bisa mengajarkan, tapi anda yang harus melaksanakan.

      Tanpa berlatih, berlatih, dan berlatih, tidak mungkin seseorang bisa memainkan alat musik dengan baik. Demikian juga dengan belajar saham.

      Tambahan lagi, sukses atau gagal dalam bermain saham juga sangat tergantung kesabaran dan kekonsistenan anda dalam melaksanakan trading plan.

      Nah, kalau anda menjamin bahwa anda akan berlatih, berlatih, berlatih, kerja keras, kerja keras, kerja keras, sabar, sabar, sabar, dan konsisten, konsisten, konsisten melaksanakan trading plan, saya berani menjamin anda akan untung.


      Tanya: Kenapa jangka waktunya 8 minggu 6 minggu? Kenapa tidak mengirimkan sekaligus 4 Modul?

      Jawab: Cara belajar yang baik dan efisien (menurut saya) adalah belajar step-by-step dan perlahan-lahan. Artinya, belajar modul berikutnya seharusnya dilakukan setelah anda memahami dengan baik modul sebelumnya.

      Tambahan lagi: manfaat utama dari konsultasi ini adalah jasa "konsultasi"nya. Saya berikan waktu 8 minggu 6 minggu tidak hanya untuk mempelajari modul-modul yang diberikan tapi juga untuk BERTANYA dan berKONSULTASI tentang hal-hal yang kurang anda mengerti.


      Tanya: Kok mahal, Pak?

      Jawab: Saya akui, biaya konsultasi ini tidak murah.

      Dan yang membuat mahal bukan hanya materi yang diberikan. Yang tidak kalah mahal adalah jasa KONSULTASInya karena saya harus meluangkan banyak WAKTU dan pikiran untuk mengerti kondisi anda, lalu mengarahkan anda ke arah yang benar.

      Kalau dipandang dari sisi bahwa waktu luang saya tidak banyak dan saya harus meluangkan banyak waktu dan pikiran untuk konsultasi, saya merasa biaya yang saya kutip masih amat sangat murah.

      Coba anda bandingkan dengan biaya seminar/pelatihan saham yang ditawarkan pihak-pihak lain yang menggembar-gemborkan diri sebagai "pakar": pakar analisa teknikal, pakar analisa fundamental, pakar candlestick, pakar option, pakar forex, pakar commodities, dan pakar-pakar lainnya baik dari dalam negeri ataupun luar negeri.

      Anda diharuskan membayar sampai puluhan juta Rupiah untuk MENDENGAR ocehan mereka. (Seharusnya mereka yang mendengarkan masalah anda dan mencari solusi untuk anda.) Dan pelatihan/seminar mereka berikan secara masal (ke banyak peserta), bukan konsultasi secara pribadi, one-on-one.

      Perhatikan juga bahwa jangka waktu seminar/pelatihan mereka hanya dalam hitungan beberapa jam atau beberapa hari. Setelah seminar berlalu, semangat anda mungkin menggebu-gebu, tapi sangat mungkin anda tetap saja tidak tahu harus mulai dari mana.


      Tanya: Saya tertarik untuk ikut. Kapan ada diskon, Pak?

      Jawab: Waktu adalah sumber daya yang tak terbarukan. Dengan berjalannya waktu berarti waktu saya di dunia ini semakin sedikit.

      Nah, sesuai prinsip ekonomi, sumber daya yang makin sedikit berarti harganya akan makin mahal.

      Dengan logika di atas, rencana saya adalah untuk menaikkan tarif konsultasi secara bertahap dengan berjalannya waktu. Artinya, alih-alih ada diskon, malahan tarif konsultasi ini akan semakin tinggi di masa depan.

      Jadi kalau anda sudah ada NIAT untuk ikut konsultasi, sebaiknya anda lakukan sedini mungkin.

      Tambahan lagi, semakin cepat anda belajar dan tahu dasar-dasar trading plan yang menguntungkan, semakin kecil biaya cut-loss yang anda derita kala anda mencoba-coba membuat trading plan sendiri. 

      Kalau masih ada pertanyaan lainnya tentang jasa konsultasi ini, silahkan email saya di terusbelajarsaham@gmail.com.






      Pos-pos yang berhubungan:
      [Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]