Sunday, September 8, 2013

Cara Menjual Saham Agar Profit Maksimal (Bagian III)

Pos ini adalah lanjutan dari "Cara Menjual Saham Agar Profit Maksimal (Bagian II)."

Untuk membaca seri ini dari awal, silahkan klik di sini "Cara Menjual Saham Agar Profit Maksimal (Bagian I)."


Trading Plan terakhir adalah sebagai berikut:

Harga modal WSKT: 800
Harga WSKT sekarang: 880.
Jumlah sisa saham: 50 lot.
Cut-loss kalau WSKT turun ke 800.
Batas waktu: 20 hari.
Realized Profit: Rp 2 juta.


Menurut anda masih ada yang kurang dari Trading Plan ini.

Apa ya yang kurang?


Setelah berpikir cukup lama akhirnya saya sadar: Maksud anda mungkin target harga?

Betul sekali bung Iyan, kata anda. Target harga jual masih belum ada.

Ah, sang murid sudah mulai pintar nih.

Betul sekali. Trading Plan di atas masih perlu data target harga. 

Oke, bagaimana cara menentukan target harga ini?

Sederhana saja. Anda masih ingat bahwa karena anda menentukan cut-loss 10%, target jual pertama adalah ketika saham naik 10%. Nah, target harga ke-2 adalah ketika saham naik 10% dari target harga pertama.


Trading Plan terkini lengkap dengan target harga ke-2:

Harga modal WSKT: 800
Harga WSKT sekarang: 880.
Jumlah sisa saham: 50 lot.
Cut-loss kalau WSKT turun ke 800.

Target harga ke-2: 880 + (10% x 880) = 970 (pembulatan ke fraksi harga terdekat).
Batas waktu: 20 hari.
Realized Profit: Rp 2 juta.



Melihat Trading Plan ini, ada 3 kemungkinan yang bisa terjadi dalam 20 hari ke depan:
  1. Saham turun sampai harga cut-loss di 800.
  2. Saham turun tidak sampai 800 tapi juga naik tidak sampai target harga ke-2 di 970.
  3. Saham naik sampai target harga ke-2 di 970.
Apa langkah yang harus anda lakukan dari masing-masing kemungkinan ini? Mari kita telaah satu-per-satu.


1. Saham turun sampai harga cut-loss

Kalau dalam 20 hari ke depan harga saham WSKT  sempat turun sampai harga cut-loss di 800, langkah anda sangat jelas: anda harus langsung cut-loss.

Cut-loss di harga 800 yang merupakan harga modal berarti anda impas.

Karena sebelumnya anda sudah menjual SETENGAH saham dengan keuntungan Rp 2 juta, total keuntungan anda adalah:

Rp 2 juta + 0 = Rp 2 juta.


2. Saham turun tidak sampai harga cut-loss tapi juga naik tidak sampai target harga jual

Kalau kondisi ini yang terjadi, anda harus jual saham WSKT di hari ke-20. Jadi di sini anda menjual bukan berdasarkan target harga tetapi berdasarkan target waktu (deadline). Jadi, berapapun harga WSKT di hari ke-20, anda jual.

Misalkan pada hari ke-20 anda menjual WSKT di harga Rp 900.

Keuntungan yang anda dapat:

50 lot x 500 lembar/lot x (Rp 900 - Rp 800) = Rp 2,5 juta.

Karena sebelumnya anda sudah menjual SETENGAH saham dengan keuntungan Rp 2 juta, total keuntungan anda adalah:

Rp 2 juta + Rp 2,5 juta = Rp 4,5 juta.


3. Saham naik sampai target harga ke-2

Kalau dalam kurun waktu sebelum 20 hari trading saham WSKT menyentuh harga target ke-2 di 970, apa yang harus anda lakukan?

Mudah toh bung Iyan, kata anda. Karena mencapai target harga jual, berarti kita jual di 970.

Bagaimana kalau setelah anda jual, saham WSKT masih naik? Kalau ini terjadi, artinya anda tidak menjual WSKT dengan profit maksimal.

Oh iya ya, kata anda sambil menggaruk kepala anda yang tidak gatal. Terus harusnya gimana?

Nah, di sini anda harus kembali melaksanakan konsep dasar TRAILING STOP.

Anda masih ingat definisi TRAILING STOP di pos sebelumnya? Saya ulangi lagi di sini:
Trailing Stop pada posisi long (membeli) adalah titik cut-loss yang dinaikkan dari titik cut-loss sebelumnya.

Jadi, target harga di Trading Plan terakhir bukan target harga untuk menjual saham. Fungsi target harga tersebut adalah untuk menentukan apakah anda harus menaikkan titik cut-loss sebelumnya ke titik cut-loss yang lebih tinggi lagi.

(Kalau anda membaca dengan seksama, di atas saya selalu menulis target harga bukan target harga jual.)

Apa artinya?

Mau tahu? Silahkan lanjut baca ke pos "Cara Menjual Saham Agar Profit Maksimal (Bagian IV)."







 

Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2013 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

    20 comments:

    1. Menarik juga detail rencana ini. Kalau pada trading nyata, Bung Iyan pesan ke brokernya lewat telepon apa sudah sedetail ini dari awal? Atau harus telepon berkali-kali setiap kali ada target tercapai?

      ReplyDelete
      Replies
      1. Trading Plan saya susun tergantung seberapa Bullish anggapan saya terhadap suatu saham.

        Bung Willy tentu setuju bahwa TIDAK semua saham cocok memakai TRAILING STOP seperti di atas. Saya belum selesai membahas konsep di atas, akan saya lanjutkan lagi di pos berikutnya. :D

        Broker saya lebih banyak berfungsi untuk melakukan ORDER ENTRY. Artinya, Trading Plan adalah tanggung jawab saya sepenuhnya.

        Delete
    2. Saya baru belajar saham pak, pertanyaan saya jika kita menempatkan modal kita di suatu perusahaan yg sudah mapan misalnya Telkomsel atau Indofood (yang kemungkinan bangkrut nyaris tidak ada), lalu kita tidak pernah mengecek pergerakan nilai saham, apa yg akan terjadi? bisakah kita mendapat keuntungan jika nilai saham perusahaan tsb naik? atau malah bisa merugikan? mohon penjelasannya

      ReplyDelete
      Replies
      1. Apakah pergerakan harga saham anda pantau atau tidak, tidak merubah gerakan saham.

        Kalau saham naik, berati anda untung. Itu pasti.

        Terus terang saya tidak mengerti apa mau anda. Kenapa beli saham kalau tidak pernah mau dilihat lagi sahamnya? Mendingan juga beli barang-barang lain yang bisa dipergunakan.

        Delete
      2. Saya rasa maksud rekan Gigih adalah strategi buy-and-hold yang ekstrim, tanpa pernah mengecek sahamnya sama sekali setelah beli dan hanya berharap mendapatkan untung dari capital gain dan dividen kalau ada.

        Saya rasa bisa, tetapi itu TIDAK termasuk strategi investasi yang intelijen. Itu lebih termasuk strategi SPEKULASI JANGKA PANJANG, dengan harapan harga saham akan terus naik dalam ke depannya. Mengapa saya sebut strategi rekan Gigih sebagai spekulasi, dan bukan investasi? Karena investasi saham (ala Value Investing) haruslah memenuhi kriteria ini:
        1) kita harus benar-benar menganalisis suatu perusahaan dan kemantapan bisnis yang dikerjakan perusahaan tersebut sebelum membeli sahamnya;
        2) kita harus bersungguh-sungguh melindungi diri dari kerugian yang fatal;
        3) kita berharap mencetak hasil yang secukupnya, dan tidak berlebih-lebihan.

        Kalau cuma sekedar beli dan tahan tanpa pernah dianalisis, ya jelas itu tidak pantas disebut investasi. Bagaimana kalau seandainya rekan Gigih mau lepas saham, ternyata Indonesia kembali dihantam krisis dashyat seperti pas 1998 dan 2008? Sudah rekan Gigih pertimbangkan kemungkinan itu?

        Jika rekan Gigih tertarik akan strategi investasi ala Intelligent Investor, silakan baca2 di blog saya:
        http://billythepip.blogspot.com/

        Delete
      3. maksud saya bukannya tidak pernah cek sama sekali, tapi cuma 2-3 bulan sekali misalnya, jadi apakah investasi saham di perusahaan yg sudah bonafit bisa menguntungkan? atau, apakah nilai saham dari sebuah perusahaan besar akan terus meningkat (kecuali terjadi krisis keuangan) dan bisa dijadikan investasi layaknya properti atau emas, terima kasih pak iyan dan om willy

        Delete
      4. Tidak ada jaminan harga saham perusahaan bonafid akan naik.

        Investasi di pasar finansial (seperti saham) tidak bisa disamakan dengan investasi properti atau investasi beli emas batangan. Masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Topik ini mungkin suatu hari akan saya bahas dalam pos tersendiri.

        Delete
    3. Selamat sore dan salam kenal Pak Iyan,
      Sy rosa.. Saya adlh mahasiswa tgkat akhir dan sdang dlm proses penyusunan skripsi, tp sy masih bingung unk menentukan judul penelitian. Menurut bpk, permasalahan apakah di sekitar dunia pasar modal yg layak unk diteliti dan akan memberikan manfaat unk perkembangan dunia pasar modal? Sblmnya sy sdh mengajukan judul yg mengukur efektivitas rasio2 dlm analisis fundamental thdp return prshaan tertentu, tp kemudian sy ragu krn sy lihat sdh lmyan banyak penelitian sejenis, walaupun variabel dan alat ukurnya beda.. Sy mulai berpikir bahwa ini akan kurang berkontribusi unk bidang yg saya teliti.. Bagaimana menurut Bpk? Apakah dr pengalaman bpk di dunia pasar modal, kiranya ada suatu permasalahan yg layak unk diteliti??
      Terima ksh sblmnya pak….

      ReplyDelete
      Replies
      1. Salam kenal juga Rosa.

        Terus terang saya tidak bisa merekomendasi penelitian yang cocok untuk skripsi anda.

        Tapi menurut saya tidak ada salahnya Rosa menulis skripsi seperti yang sudah anda ajukan judulnya. Walaupun sudah banyak penelitian sejenis, yang penting adalah anda menulis dari pandangan anda (yang sangat mungkin berbeda dengan pandangan peneliti lainnya).

        Kalau Rosa bandingkan, apa yang saya tulis di blog ini bukan hal revolusioner; semua sudah pernah dibahas penulis lain. Hanya saja saya menulis dari pandangan dan pendapat saya.

        Semoga membantu.

        Delete
      2. Halo Rosa,

        kalau saya yang akan menulis tugas akhir, saya akan menulis sesuatu analisis akan kecenderungan tingkah laku para investor Indonesia ketika terjadi bear market (seperti sekarang). Tapi memang biasanya skripsi yang akan kita tulis lebih banyak ditentukan oleh maunya dosen kita sendiri.

        Selamat berjuang ya.

        Delete
      3. Terima kasih banyak pak iyan atas masukannya. Ya, terkadang penelitian yg sama jika diolah dari sudut pandang yg berbeda sangat mungkin unk menghasilkan output yg berbeda.. Trma ksh banyak pak atas pencerahannya. Salam sukses selalu....

        Delete
      4. Salam kenal pak willy,
        Terima ksh banyak atas masukannya... Tp kalau boleh tanya lebih jauh, kira2 apakah indikator yg dpt kita gunakan unk meneliti perilaku investor?? Apakah dari segi volume transaksi (jual dan beli) saja atau ada indikator lainnya pak?
        Trma kasih sebelumnya pak.......

        Delete
      5. Jawaban singkatnya? Tidak ada!

        Untuk meneliti perilaku investor, konsep Price Action (Aksi Harga) yang bersih tanpa indikator sebenarnya sudah sangat cukup untuk meneliti perilaku investor. Saya saja sekarang kalau melihat chart hanya ada Candlesticks + 2 garis S/R line yang saja tarik manual kok. Banyak yang tidak percaya memang, tetapi justru akurasi dalam membaca dinamika pasar malah paling akurat ketika tidak ada lagi indikator yang lelet dan menjerumuskan di chart kita.

        Kalau mau tahu lebih jauh ide saya tentang Aksi Harga, coba cek blog saya:
        http://billythepip.blogspot.com/2013/09/the-legend-of-munehisa-homma.html

        Delete
      6. Baik pak. Nanti akan sy cek blognya pak willy.
        Terima kasih atas masukannya pak. :)

        Delete
    4. Boleh tolong bantu jelaskan Pak Willy dan Bung Iyan soal Price action ini, sebenarnya apa pengertian dr Price Action itu sendiri? Tks.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Price Action adalah pergerakan harga saham, yang merupakan dasar dari analisa teknikal. Untuk konsep dasarnya, silahkan baca pos "Analisa Teknikal Saham Untuk Pemula."

        http://terusbelajarsaham.blogspot.com/2013/01/analisa-teknikal-saham-pemula-open-high.html

        Mungkin bung Willy bisa membantu menjelaskan?

        Delete
      2. Kalau saya senang menganggap analisis Price Action sebagai kemampuan membaca dinamika harga berdasarkan prinsip supply and demand murni. Secara praktis, ini berarti kemampuan membaca pola-pola candlestick chart pada key level tertentu.

        Menurut hemat saya, pada kenyataanya di lapangan, Price Action analis terbagi menjadi 2 aliran utama:
        1) Purist. 100% candlestick chart + garis Support / Resistance pada Key Horizontal Level. PA purist terkenal memiliki chart yang paling bersih dari seluruh analis teknikal. :D

        Win rate sangat tinggi, bisa mencapai 90% lebih! Price Action purist sangat jarang melakukan Cut-Loss karena memang target Take Profit (TP)-nya sering kali tercapai dengan mudah. Sayangnya, risk-reward ratio (RRR) cenderung rendah dan biasa-biasa saja. Selain itu, PA purist harus sangat bersabar menunggu sampai pola yang high-probability muncul, dan sering kali dalam 1 bulan pola ini frekuensi munculnya bisa dihitung dengan jari.

        2) Minimalist. Ini bisa dibilang berasal dari analis PA purist tetapi juga memasukkan analisis geometri tambahan (flags, triangles, channels, rectangles, etc) dan indikator2 sederhana sebagai pelengkap (HANYA pelengkap loh. Tetap saja fokus utama PA minimalist adalah pola candlestick + S/R zone). Misalnya exponential MAs. Minimalist disini maksudnya memakai indikator yang sesedikit mungkin agar tidak terjerumus ketika membaca pola candlestick.

        Win rate cenderung rendah dan biasa-biasa saja, bisa sekitar 50% saja atau bahkan kurang. Ya, sekilas memang tidak lebih baik dengan sekedar main lempar koin saja.

        Akan tetapi, RRR yang diincar biasanya sangat tinggi! Saya pernah melihat teman saya trader dari Amerika sukses TP dengan RRR 1:18 (artinya, berani rugi 10 juta rupiah untuk dapat untung 180 juta rupiah!) dan langsung melipatgandakan account-nya dalam waktu relatif singkat! Tapi memang, Price Action minimalist harus bermental baja, rajin terus menerus melakukan Cut Loss sampai mendapatkan pola yang sukses besar.

        Saya pribadi condong ke aliran purist karena saya lebih senang memiliki Win Rate yang tinggi walaupun RRR biasa-biasa saja. Saya juga tetap berdiskusi sama teman yang PA minimalist, karena mereka seringkali memiliki ide trading yang cukup baik dan analisis yang juga praktis.

        Satu saran kecil saya buat kawan Malvin dan para pembaca, hati2 saja setiap kali membaca klaim seseorang dari saham, Forex, atau apa pun yang tradingnya Win Rate (saja!) super tinggi atau RRR (saja!) super tinggi. Win Rate dan RRR harus selalu diperhitungkan bersamaan, kalau cuma sendiri2 ya pasti menyesatkan klaimnya. Biasanya mereka berdua berbanding terbalik, Win Rate yang tinggi biasanya RRR relatif rendah, atau RRR yang tinggi biasanya Win Rate relatif rendah.

        Kapan2 mungkin saya akan menulis tentang Price Action sederhana di blog saya. Sabar ya. :D

        Delete
      3. Baiklah sy nantikan blognya pak Willy soal price action. Terima kasih pak Willy dan Bung Iyan.

        Delete
    5. Pak Iyan setelah saya baca tulisan Anda saya selalu semangat berminat dan yakin ingin buka rekening di broker BNI,

      tapi kali ini saya ada pertanyaan yang membuat say gelisah...
      Pertanyaannya adalah:
      saya tahu dari Pak Iyan kalau Cut Los untuk me minimal kerugian....
      bagaimana jika harga saham turun hingga menyentuh titik Cut LOs di saat bukan jam pre opening atau di jam pre closing... apakah saham tetap bisa terjual..? Apakah TRAILING STOP juga tetap bisa di lakukan ketika masih di luar jam pra pembukaan atau pra penutupan.

      maaf ya Pak mohon di maklum kalau pertanyaan saya agak aneh karena saya masih belum jadi pemula masih berguru dulu pada Pak Iyan

      terimakasih pak Iyan semoga ilmu yang saya dapat dari pak Iyan bermanfaat

      ReplyDelete
      Replies
      1. Mas Didik,

        Cut Loss (menjual saham) HANYA bisa dilakukan saat bursa buka.

        Ketika bursa tutup, tidak ada pergerakan harga.

        Tapi harga saham bisa LANGSUNG ANJLOK pada saat bursa dibuka. Dengan anjlok ini harga saham bisa langsung turun DI BAWAH titk cut-loss anda.

        Bagaimana menyikapi hal ini?

        Silahkan baca pos "Dow Jones Turun 513 Points Semalam. Tindakan Apa Yang Bisa Anda Lakukan?"

        http://terusbelajarsaham.blogspot.com/2011/08/dow-jones-turun-512-points-semalam.html

        Delete

    Pertanyaan dan komentar anda akan saya jawab sesegera mungkin. Maaf, saya tidak menerima pertanyaan dan komentar anonim. Promosi, iklan, link, dll, apalagi hal-hal yang tidak berhubungan dengan main saham TIDAK AKAN ditampilkan.