Showing posts with label buku main saham. Show all posts
Showing posts with label buku main saham. Show all posts

Monday, April 24, 2023

Jual Saham Saat Harga Turun

Tulis Gerald M. Loeb di buku The Battle for Investment Survival:

 


 

I know that people who will watch their losses and cut them short and I know that people who will watch their profits and when they tend to diminish, begin to take some of them, will fare the best in the long run. It over-shadows almost any other investment principles I know.


Saya tahu bahwa orang yang mengawasi posisi sahamnya yang rugi dan secepatnya di cut-loss dan saya tahu bahwa orang yang mencermati posisi sahamnya yang untung dan saat keuntungan berkurang, mulai menjual sebagian saham tersebut, akan sukses dalam jangka panjang. Kedua hal ini adalah lebih penting dari semua prinsip investasi yang saya ketahui.

 

---###$$$###---

 

Kalau anda cermati nasehat Gerald Loeb di atas, intinya adalah: JUAL kalau (harga) SAHAM TURUN.

Yang paling penting adalah anda selalu menjual saham yang posisinya rugi, selagi ruginya masih kecil.

Yang tidak kalah penting adalah anda menjual saham yang posisinya untung pada saat harga saham itu turun. Anda tidak perlu menjual SEMUA; silahkan jual sebagian saja. Lalu pantau lagi. Kalau masih turun, jual habis. Kalau naik lagi, hold sampai turun lagi.  



Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2023 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Tuesday, December 20, 2022

Langkah Terpenting Untuk Sukses Main Saham

 Tulis Gerald M. Loeb di buku The Battle for Invesment Survival:

 



Accepting losses is the most important single investment device to insure safety of capital. It is also the action that most people know least about and they are least liable to execute. . .

The most important single thing I learned is that accepting losses promptly is the first key to success.

 

Merealisasikan kerugian (cut-loss) adalah tehnik paling penting untuk mengamankan modal. Ini adalah juga aksi yang paling sedikit diketahui investor dan paling kecil kemungkinan dilaksanakan. . .

Hal paling penting yang saya ketahui (dari belajar investasi bertahun-tahun) adalah bahwa merealisasikan kerugian (cut-loss) adalah langkah pertama menuju sukses.


---###$$$###---

 

Kalau anda baca pos-pos di blog ini, saya sering. . . ehm, lebih tepatnya sangat sering sampai-sampai dikira compact-disc rusak. . .menekankan bahwa kalau posisi saham anda rugi, anda harus langsung cut-loss.

Mengapa terus saya ulang-ulang menyarankan "harus cut-loss", "harus cut-loss", "harus cut-loss"?

Karena, walaupun sudah saya ulangi "harus cut-loss" ratusan kali, kemungkinan besar anda masih tidak mau (tidak rela) cut-loss. Betul gak?

Oleh karena itu, saya ulangi sekali lagi: kalau saham yang anda beli turun, secepatnya cut-loss.

Jangan tunggu sampai kerugiannya bertambah besar. Cut-loss segera.

Saya tahu bahwa anda tidak rela cut-loss karena mengharapkan harga saham naik lagi ke harga beli. Saya juga sering berharap begitu kalau saham yang saya beli harganya turun.

Tapi fakta yang lebih sering terjadi adalah saham yang turun, biasanya turun lebih dalam lagi. Memang, setelah turun sampai harga tertentu, saham tersebut biasanya akan naik lagi. Tapi itu biasanya terjadi setelah harga saham turun (relatif) BANYAK dari harga beli anda.

Jadi, daripada menunggu saham turun berbalik naik, langkah yang lebih baik adalah melakukan cut-loss secepat mungkin, sebelum kerugian membengkak.

 

 

Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2022 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Tuesday, September 27, 2022

Jangan Beli Saham "Aman"

Tulis Gerald M. Loeb di buku The Battle for Investment Survival:

 


 

One often hears about the "safety" in trading for cash or the advisability of confining commitments to "safe" stocks. Personally, I have long regarded these thoughts as fallacious in actual practice.

Anda mungkin sering mendengar nasehat untuk hanya membeli saham yang "aman." Menurut saya, ini adalah pandangan yang salah.


By a "safe" stock one generally means an issue that is fairly slow and steady in its movements, or an issue which is selling relatively low and apparently not at a vulnerable level. As to a position in "safe" stock, it is likely to be most exasperating during a rising market when other shares are scoring rapid advances; and during a period of decline when one is long, then the slow action of the safe stock will lull one into a sense of false security.

Yang biasanya dimaksud saham "aman" adalah saham yang pergerakannya lambat dan stabil, atau saham yang harganya relatif rendah. Masalahnya, membeli dan memegang saham "aman" ini akan sangat menjengkelkan saat pasar sedang naik dan saham-saham lain naik dengan cepat; dan pada saat saham turun, pergerakan turun yang perlahan-lahan memberi sensasi aman yang keliru. 

 

The issue which is safe because it is low and cheap is ordinarily a poor mover, usually creeping or backing and filling without getting much of anywhere while the sensational trading moves are practically all in shares which have broken out of the accumulation stage.

Saham yang "aman" karena harganya rendah dan murah adalah biasanya saham yang geraknya sempit, sedangkan gerakan fantastis biasanya terjadi pada saham yang menembus tahap akumulasi.

 

---###$$$###---

 

Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2022 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

 

Sunday, June 26, 2022

Trading Jangka Pendek Lebih Baik Daripada Investasi Jangka Panjang

 Tulis Gerald M. Loeb di buku The Battle for the Investment Survival:

 

A critic helps us by observing that he feels there is less peace of mind in the short than in the long run, to say nothing of its being more difficult. He visualizes holding something comfortably for appreciation as against worrying (as he puts it) about getting in or out.

Cukup banyak pengamat saham yang menyatakan bahwa tidak ada ketenangan pikiran dalam trading jangka pendek dibanding investasi jangka panjang, tanpa mengatakan bahwa investasi jangka panjang adalah lebih sulit. Ia membayangkan memegang saham dengan santai dan mendapat untung dibanding membeli dan menjual saham terus-menerus.

 


 

Of course, one always thinks of holding the one stock that is outstanding in any given cycle. But in practice very few can single out this one stock and the right time to own it.

Tentu saja, setiap orang ingin memegang saham yang bagus di siklus apapun. Masalahnya, tidak banyak orang yang bisa  menentukan saham bagus apa yang harus dipegang (untuk jangka panjang) dan saat terbaik untuk membeli saham tersebut. 

 

The short turn tends to get one the right stocks in practical way because it is based on movement and current prices, and not on expectations that might be poorly conceived. Short-turn trading, properly done, is certainly the safest form of speculation that exists.

Trading jangka pendek cenderung mengarahkan seseorang ke saham yang tepat karena didasarkan pergerakan harga dan harga terakhir, dan bukan berdasarkan ekspektasi tanpa dasar. Trading jangka pendek, bila dilakukan dengan tepat, adalah bentuk spekulasi paling aman yang ada. 

 

It is necessary to redefine "short-turn trading." Years ago it might have meant hours or days or weeks. Today in an investment rather than a tax sense it means six months to a year and a half.

Kita perlu meredefinisi "trading jangka pendek." Dulu trading jangka pendek berarti trading dalam hitungan jam atau hari atau minggu. Sekarang trading jangka pendek berarti enam bulan sampai satu setengah tahun.


---###$$$###---

 

 

Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2022 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, April 30, 2022

Cara Tepat Membeli (Lagi) Saham

Tulis Gerald M. Loeb di buku The Battle for Investment Survival:

 


 

The right way to do it is to pyramid. I have a buying power of 1,000 shares. I think Studebaker is going up. I buy 100 shares. It doesn't go up when it should, or worse, goes down. I sell it out. The loss can be charged to insurance, or experience, or as necessary cost of getting started right. Next, I buy 100 Chrysler. It begins to advance as I anticipated. So I buy 200 more. It still does well, so I buy another lot. And so on. .  .  

 If these principles were always practiced, one would always be long the right quantity of the right stock, because the measure of what stock to buy and how much of it to buy is the action of the market itself.

 

Cara yang tepat adalah melakukan piramid. Saya punya modal untuk membeli 1,000 saham. Saya pikir Studebaker akan naik. Saya beli 100 saham. Ia tidak naik seperti yang diharapkan, atau lebih buruk, turun. Saya jual. Kerugian tersebut dianggap sebagai asuransi, atau pengalaman, atau biaya yang harus dibayar untuk memulai dengan tepat. Selanjutnya, saya beli 100 saham Chrysler. Ia mulai naik seperti yang diharapkan. Jadi saya beli 200 lembar lagi. Ia masih juga naik, jadi saya beli lagi. Dan begitu seterusnya.

Kalau prinsip in selalu dilaksanakan, anda akan selalu memegang saham tepat dengan jumlah tepat, karena tolok-ukur saham apa yang layak dibeli dan berapa banyak yang layak dibeli ditentukan oleh pergerakan harga saham tersebut sendiri.

 

---###$$$###---

 

Poin-poin penting dari anjuran Gerald M. Loeb di atas:

  1. Tidak perlu takut membeli saham karena anda khawatir saham akan turun.
  2. Kalau setelah dibeli harga saham turun (sampai titik cut-loss yang sudah ditentukan sebelumnya), jual. Secepatnya. Jangan ragu.
  3. Kalau setelah dibeli saham naik, cari kesempatan baik untuk membeli lagi.
  4. Kalau masih juga naik, jangan takut untuk membeli lagi.
  5. JANGAN beli saham yang turun.
  6. LEBIH JANGAN lagi membeli lagi saham yang tambah turun (Average Down).
  7. BELI saham yang naik.
  8. Jangan takut memBELI LAGI saham naik yang masih naik (Average Up).
  9. Tidak perlu takut membeli saham karena anda khawatir saham akan turun. Dan siklus ini berlanjut lagi ke nomor 2 sampai nomor 9.

 

Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2022 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

Sunday, March 27, 2022

Beli Saham Naik Yang Mana?

Tulis Gerald M. Loeb di buku The Battle for Investment Survival:

I am inclined to favor doing one's major forecasting from the tape or, to put in another way, from the price movement. This to me is elemental and necessary to success. Thus, once convinced the market is headed up, I should tend to follow the strongest of the active issues—those reacting the least in weakness and rallying the most in strength.

 


Saya cenderung mengutamakan prediksi pasar dari pergerakan harga (saham). Untuk saya, ini adalah hal yang mendasar dan diperlukan untuk sukses. Karena itu, begitu saya yakin pasar akan naik, saya akan mengikuti saham terkuat dari saham-saham yang aktif—yaitu yang turun paling sedikit saat koreksi dan naik paling banyak saat rally.


---###$$$###---

 

Di pos "Beli Saham Apa?" saya menganjurkan anda untuk membeli saham yang naik/uptrend.

Masalahnya, saat market atau sektor sedang uptrend, banyak saham yang naik. Dari sekian banyak yang naik, saham mana yang sebaiknya dibeli? Rasa-rasanya sih kurang bijaksana kalau SEMUA saham naik tersebut anda beli.

Nah, Gerald M. Loeb menganjurkan agar anda membeli saham yang paling kuat: yang naiknya paling banyak saat market rally dan turunnya paling sedikit saat koreksi.

Jadi, semisalkan saham-saham batu-bara sedang naik, anda sebaiknya memilih membeli emiten batu-bara yang (persentase) naiknya paling tinggi saat rally dan (persentase) turunnya paling sedikit saat koreksi.



Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2022 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

 

Sunday, November 28, 2021

Mengamati Pergerakan Harga Saham. Apakah Berfaedah?

Of all the factors that go to make up a well-rounded opinion on the general market trend and, more especially, the individual stocks selected for a commitment, I would easily rank the actual price movement first.

Dari semua faktor yang memberi gambaran jelas trend pasar secara umum, dan saham yang layak dibeli, saya dengan yakin mengatakan bahwa di urutan teratas adalah pergerakan harga.



I feel that practically all relevant factors, important and otherwise, are registered int the market's behavior and, in addtion, the action of the market itself can be expected under most circumstances to stimulate buying and selling in a manner consistent enough to allow reasonably accurate forecasting of news in advance of its actual occurence.

Saya merasa bahwa semua faktor relevan, penting ataupu tidak, sudah terlihat di tingkah laku pasar, dan aksi di pasar juga bisa memprediksi berita sebelum berita tersebut tersebar luas.


These price and volume changes not only will add the most important confirmation (or vice versa) to market expectations based on analysis or advance information, but also will supply the most vital clues in the shape of calling attention to unfamiliar issues worth checking in other directions.



Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2021 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Friday, October 29, 2021

Faktor Utama Pembentuk Harga Saham

 Tulis Gerald M. Loeb di buku The Battle for Investment Survival:


 

The most important single factor in shaping security markets is public psychology. . .

Faktor terpenting yang membentuk harga saham adalah psikologi publik/pasar.


Sometimes for years certain popular shares will be persistently overvalued by the public, which continues to pay an unreasonabel sum in proportion to the theoritical valuation. And likewise, frequently, theoritic undervaluation will persit for years. It does not help one's account to feel sure one is short theoretically overvalued stocks that are currently rising or long those theoretically undervalued but actually sinking in price.

Terkadang publik menghargai tinggi bertahun-tahun saham-saham yang popular, dan terus membayar harga jauh tinggi dari valuasi teoritis. Begitu pula, harga jauh rendah dari valuasi teoritis bisa bertahan bertahun-tahun. Seseorang bisa rugi banyak kalau short saham yang secara teoritis mahal tapi terus naik atau long saham yang secara teoritis murah tapi terus turun.

 

One should bend every effort to determine what the tendencies of the public are, right or wrong, and profit from them.

Anda harus berusaha sekuat tenaga dan pikiran untuk mencari tahu kecenderungan publik/pasar, tidak masalah apakah kecenderungan itu benar ataupun salah, dan mendapat keuntungan dari situ.

 

 

Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2021 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, August 29, 2020

Beli 20 Jenis Saham atau 2 Saja?

 Pilih mana:

1. Beli 20 jenis saham masing-masing senilai Rp 1 juta. Total Rp 20 juta.

2. Beli 2 jenis saham masing-masing senilai Rp 10 juta. Total Rp 20 juta.

Silahkan anda pikirkan dahulu.

Sudah?

 


Menurut Gerald Loeb:

. . . large commitments, meaning thereby a few relatively large blocks of shares, are preferable to a great many small positions.

. . . beberapa jenis saham dengan nilai relatif besar adalah lebih baik daripada banyak jenis saham dengan nilai kecil.

 

 Mengapa lebih baik beberapa saham dengan nilai besar?

Confining oneself to situations convincing enough to be entered on a relatively large scale is a great help to safety and profit. One must know far more about it to enter the position in the first place, and one will retreat from a mistake much quicker if failure to retreat means an important loss.

Membatasi diri pada situasi yang meyakinkan untuk masuk dalam nilai besar sangat membantu untuk meraih untung dan mencegah rugi besar. Seseorang akan mencari tahu banyak sebelum membeli saham tersebut dan akan mundur cepat dari kesalahan apabila tidak mundur berarti rugi besar. 

 

Mengapa menghindari banyak jenis saham dengan nilai kecil?

A large number of small holdings will be purchased with less care and ordinarily allowed to run into a variety of small losses without full realization of the eventual total sum lost. Thus overdiversification acts as a poor protection against lack of knowledge.

Banyak jenis saham dalam nilai kecil biasanya dibeli dengan kepedulian rendah dan biasanya dibiarkan rugi tanpa menyadari rugi kecil di sana-sini kalau dijumlah bisa-bisa jadi rugi besar. Jadi, diversifikasi yang berlebihan adalah tameng bahwa anda tidak tahu apa yang anda lakukan.

 

---###$$$###---


Saya mau mengaku.

Saya selalu berusaha untuk melaksanakan petuah Gerald Loeb di atas. Tapi cukup sering saya melanggarnya.

Apalagi saat market sedang bullish dan banyak saham yang naik (saya senangnya membeli saham yang naik).

Saham INII naik. Saya beli.

Saham ITUU naik. Beli juga.

Saham GOYA naik. Beli.

Saham SANA naik. Gak dibeli gak tahan. Beli dikit aja.

Saham SINI naik juga. Kok menarik ya. Beli lah.

Tidak terasa, eeh sudah punya 15 saham di portofolio. Kecil-kecil nilainya. Tapi efek pusingnya sama dengan saham yang bernilai besar.

Dan faktanya: kalau jenis saham terlalu banyak di portofolio, biasanya saya rugi.

Saya harap anda lebih baik daripada saya dalam melaksanakan nasehat Gerald Loeb di atas.



Pos-pos yang berhubungan:

 [Pos ini ©2020 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Sunday, July 26, 2020

Mengapa Sebaiknya Modal Awal Main Saham Kecil Saja?

Di pos "Modal Awal Main Saham" saya tulis bahwa Gerald Loeb menyarankan pemula untuk mulai main saham dengan modal relatif kecil dari total modal yang dimiliki.

Mengapa?



Kata Gerald Loeb:

A backlog of cash is a great help in meeting emergencies and in freeing one's judgment so that commitmentss are opened and closed for financial cause and not affected by need, fear, greed, or other human failings which are fatal to profitable security investment.

Persedian uang tunai yang banyak akan membantu anda berpikir dengan jernih sehingga aksi anda membeli atau menjual saham adalah berdasarkan keputusan tanpa dipengaruhi perasaan takut, serakah, ataupun sifat-sifat manusia lainnya yang bisa berakibat fatal saat berinvestasi saham.

Jadi, dengan memakai modal relatif kecil dari total modal anda tidak akan stress kalau harga saham turun banyak dan anda berpotensi rugi. (Okelah, kalaupun stress, stressnya seharusnya tidak berat-berat banget sampai terpikir mau bunuh diri.)

Mengapa?

Karena kerugian ini relatif kecil dengan total modal yang anda miliki.

Dengan modal relatif kecil, anda pun bisa lebih santai saat harga saham naik dan tidak terburu-buru menjual karena takut keuntungan akan hilang kalau saham tiba-tiba turun.

Mengapa?

Karena keuntungan ini relatif kecil dibanding total modal yang anda miliki.

Dengan kata lain, kalau anda tidak dibayangi rasa takut, rasa serakah, lebih besar kemungkinan anda melaksanakan jual-beli saham sesuai dengan Rencana Trading (Trading Plan) yang sudah anda tentukan sejak awal.



Pos-pos yang berhubungan:
 [Pos ini ©2020 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Sunday, June 28, 2020

Modal Awal Main Saham

Gerald Loeb menyarankan pemula agar memulai main saham dengan modal kecil relatif terhadap total modal yang dimiliki.



Tulis Gerald Loeb:

I suggest that at the start the size of commitments in one sense be kept small—that is, the relationship of funds employed to total capital.

Artinya, kalau anda punya total uang investasi Rp 100 juta, jangan langsung cemplungkan Rp 100 juta untuk main saham.

Mulailah dulu dengan Rp 10 juta, atau Rp 5 juta, atau bahkan Rp 1 juta.

Dan yang paling penting, JANGAN belajar main saham dengan duit pinjaman.

Jangan. Jangan. JANGAN.

Artinya juga, JANGAN pakai fasilitas margin (pinjam uang) dari broker anda.

Belajar main saham boleh dilakukan hanya kalau anda punya uang "lebih." Kalau belum punya uang "lebih," jangan mulai main saham.

Setelah berpengalaman main saham 1-2 tahun dan sudah konsisten tidak rugi banyak, silahkan tambahkan modal anda secara bertahap.



Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2020 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Wednesday, May 27, 2020

Tentukan Risk-Reward Ratio Sebelum Membeli Saham

Kata Gerald M. Loeb:

In considering a commitment a clear idea should be had of the levels at which one expects to close it out either at a profit or at a loss. Obviously, if one anticipates making only a very small amount, one's chances of being successful are rather small.

Saat anda mempertimbangkan untuk membeli saham, anda harus tahu jelas di harga berapa anda akan menjual untung/rugi saham tersebut. Kalau anda mengharapkan untung kecil, kecil kemungkinan anda untuk sukses.


Menurut saya yang dimaksud Gerald Loeb adalah sebagai berikut:

Misalkan anda berniat membeli saham EXCL seharga Rp 1.000.

Nah, sebelum membeli saham tersebut anda wajib menentukan harga jual kalau rugi (cut-loss) dan harga jual kalau untung.

Katakanlah anda hanya bersedia rugi Rp 50. Artinya, anda akan cut-loss EXCL kalau turun ke harga 950. Katakanlah juga anda berharap EXCL bisa naik ke harga 1.200 dan anda akan jual di harga tersebut.

Jadi dengan kata lain, anda bersedia untuk ambil resiko rugi 5% untuk mencoba meraih kemungkinan untung 20%.

Nah, yang ditekankan Gerald Loeb adalah anda berharap bisa untung 20%.

Bukan 1%. Bukan  2%. Bukan 5%.

Intinya, anda harus berusaha mencari POTENSI UNTUNG yang (relatif) besar dibandingkan resiko yang siap anda tanggung.

Harus saya ingatkan bahwa yang namanya "potensi untung" itu belum tentu jadi kenyataan.

Tapi kalau anda selalu membeli saham dengan potensi untung lebih kecil dari resiko, kecil kemungkinan anda akan meraih untung bermain saham.





Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2020 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Sunday, March 29, 2020

Saham Dibeli Langsung Turun. Sebaiknya Bagaimana?

Pernahkah anda membeli saham, lalu tidak lama kemudian saham tersebut turun? Turun dan terus turun?

Kalau anda sudah main saham cukup lama, kemungkinan anda menjawab: "Bukan cuma pernah. Tapi sering."

Apalagi kalau kondisi pasar sedang panik seperti saat wabah virus Corona melanda di bulan Maret 2020. Harga saham bisa turun dan turun dan turun lebih dalam lagi.

Apa yang sebaiknya dilakukan?




Kalau anda pembaca setia blog ini, anda tahu bahwa saya menyarankan untuk menjual (cut-loss) kalau saham anda turun sampai titik cut-loss yang sudah anda tentukan.

Tapi bagaimana kalau anda sebenarnya YAKIN akan fundamental saham yang anda beli? Tidakkah sebaiknya saham tersebut tetap dipegang saja? Lagipula banyak orang berusaha meyakinkan anda (dan diri mereka sendiri) bahwa saham yang berfundamental bagus akan naik lagi setelah badai berlalu.

Saya setuju bahwa saham berfundamental bagus akan naik lagi kalau BENAR fundamental-nya tetap bagus setelah badai berlalu. Tapi tidak ada yang tahu dengan pasti bahwa fundamental saham akan tetap bagus setelah ada masalah serius (seperti wabah virus Corona) meluluhlantakkan roda perekonomian.

Jadi, apa yang sebaiknya dilakukan?

Saran saya (terutama kepada pemain saham jangka panjang): Jual/cut-loss dulu. Kalau nanti kondisi sudah lebih jelas, silahkan beli lagi.

(Kalau anda trader jangka pendek, anda seharusnya sudah menyiapkan trading plan jangka pendek.)


---###$$$###---


Gerald M. Loeb juga membahas topik ini di buku The Battle for Investment Survival:

The short-term method requires the closing of a trade for a reason, and if later the situation changes, then one can re-establish the position. It sometimes can be done at a profit, and sometimes only at a loss in which case one has in effect paid for insurance.

Metode jangka pendek mengharuskan anda punya alasan untuk menjual saham (menutup posisi), dan kalau setelah itu situasi berubah, anda bisa membeli kembali saham tersebut (membuka posisi baru). Terkadang hal itu bisa memberi untung, dan terkadang mendatangkan rugi. Kerugian ini harus anda anggap sebagai premi asuransi.



Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2020 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Tuesday, February 18, 2020

Investasi Saham Jangka Panjang atau Trading Saham Cepat?

Investasi saham jangka panjang. Atau trading saham jangka pendek?

Gerald Loeb membahas juga topik ini di buku The Battle for the Investment Survival.



. . . are we learning to trade for the quick turn or to invest for the long pull?

. . . apakah kita belajar trading saham cepat atau investasi untuk jangka panjang?


Ini yang ditulis Gerald Loeb:


1. We are investing for appreciation, and the length of time one holds a position has nothing to do with it.

Kita berinvestasi untuk mendapat untung, dan hal ini tidak ada hubungannya dengan jangka waktu seseorang memegang saham.

Dengan kata lain, Gerald Loeb menyatakan bahwa tidak masalah trading saham jangka pendek ataupun investasi saham jangka panjang. Yang penting untung.



2. I lean towards rather short turns for many reasons. . . To begin with, experience is gained much more rapidly that way.

Saya (Gerald Loeb) cenderung memilih trading jangka pendek karena banyak alasan. . . Alasan pertama, pengalaman akan lebih cepat didapat dari trading jangka pendek.

Kok bisa?

Dengan trading saham jangka pendek, misalkan bingkai waktu 1 minggu, seseorang akan membeli dan menjual saham sebanyak 52 kali dalam setahun (dengan asumsi 1 tahun = 52 minggu).

Dengan investasi saham jangka panjang, misalkan bingkai waktu 1 tahun, seseorang akan membeli dan menjual saham sebanyak 1 kali dalam setahun.

Melakukan jual-beli saham 52 kali memberikan 52 pengalaman. Melakukan jual-beli saham 1 kali memberikan hanya 1 pengalaman.



3. Short-term investing once mastered has very much more the elements of dependable business than the windfalls or calamities of the long pull. One simply can't continue to buy and sell successfully without being "good."

Investasi saham jangka pendek, setelah anda tahu caranya, akan memberikan penghasilan yang lebih konsisten daripada investasi jangka panjang yang kadang untung kadang buntung. Seseorang tidak bisa konsisten untung jual-beli saham kalau ia tidak "jago."
 


4. There is a much more peace of mind in frequent turns . . . Long worrying declines, without apparent reason until the near bottom, are avoided.

Pikiran akan lebih tenang dengan trading cepat . . . karena kita terhindar dari saham yang turun terus-menerus dalam periode yang lama.



5. One can take a fresh view often.

Dengan trading saham cepat, seseorang bisa selalu melihat dari perspektif baru.




Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2020 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

Friday, January 24, 2020

Mengapa Satu Saham Saja di Portofolio?

Di pos "Cara Belajar Main Saham: 1 Saham Saja di Portofolio" saya tulis bahwa Gerald M. Loeb menyarankan pemula untuk hanya punya 1 (satu) saham (emiten) saja di portofolio.

Mengapa?



Gerald M. Loeb memberikan beberapa alasan: 


1. Ordinarily, new investors buy one stock after another, and should the market go down, the lose on the whole position before they realize their inexperience.

Biasanya, investor pemula membeli lebih dari satu saham dan seandainya pasar sedang turun, mereka merugi dari semua saham tersebut sebelum menyadari ke-tidakberpengalaman mereka.



2. A purchaser of a single stock under this plan is forced to a decision whether to keep it, take a loss or a profit, or exchange it for another.

Orang yang membeli hanya satu (jenis) saham dengan nilai kecil diharuskan memutuskan untuk tetap memegang saham tersebut, jual rugi/untung, atau mengganti saham tersebut dengan saham lain. Dengan kata lain, kalau sampai rugi, ruginya (seharusnya) tidak besar.



3. It is quite different, and many times more valuable in teaching market technique, than the imaginary "paper transactions" in which many tyros indulge. The latter are completely lacking in testing investors' psychological reactions stemming from such important factors as fear of loss, or greed for more gain.

Membeli dan memegang satu (jenis) saham adalah proses belajar yang jauh lebih baik daripada "transaksi simulasi" (transaksi tanpa mempertaruhkan uang sesungguhnya alias transaksi pura-pura) yang sering digeluti pemula. "Transaksi simulasi" tidak memberi pelajaran berharga reaksi psikologis seperti takut rugi atau nafsu untuk untung lebih banyak.



4. This method also teaches that if there is no one outstanding purchase or sale at the moment, one should strive to be out of the picture entirely.

Metode "Satu Saham Saham di Portofolio" juga mengajarkan bahwa kalau tidak ada saham yang layak dibeli, lebih baik tidak punya saham sama sekali.




Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2020 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

Sunday, December 22, 2019

Cara Belajar Main Saham: 1 Saham Saja di Portofolio

The only way to begin is to learn by doing. Here lies the greatest handicap of most investors. They have had no experience.

Satu-satu cara belajar main saham adalah dengan melakukan jual-beli saham. Ini adalah masalah utama mayoritas investor pemula: mereka tidak punya pengalaman.



Years ago, in wondering how one could gain such invaluable market knowledge and yet not pay a prohibitive cost in tuition, I thought of the plan of learning by always maintaining a position not in excess of a hundred shares of an average-priced stock, yet always striving to be long or short the most suitable issue of the moment. This plan takes a minimum of capital. It also results in a minimum of risk, as the beginner is forced to close one commitment before he opens the next.

Beberapa tahun silam, saat memikirkan cara agar seorang pemula bisa mendapat pengalaman main saham tanpa membayar biaya "uang sekolah" (rugi) terlalu besar, saya mendapat ide cara belajar main saham dengan membeli hanya SATU jenis saham sejumlah tidak lebih dari 100 lembar (1 lot). Cara ini memerlukan hanya modal yang kecil. Cara ini juga meminimalisir resiko karena si pemula harus menjual posisi ini sebelum membeli saham lain.

--Gerald M. Loeb di buku The Battle for Investment Survival



Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2019 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, November 23, 2019

Carilah Saham Yang Berpotensi Untung Besar

Having decided to invest only in the more active, listed issues for the start at least, the next point is to learn to "invest for appreciation." Every purchase must be considered almost solely on the basis of what it will return in income and appreciation added together and treated as one.

Setelah memutuskan untuk berinvestasi hanya di saham yang besar dan aktif, langkah selanjutnya adalah belajar berinvestasi agar untung. Setiap transaksi saham harus dipertimbangkan berdasarkan keuntungan yang bisa didapat dari dividen dan kenaikan harga saham.



It is absolutely futile to try to get results except by buying into anticipated large gains. It is far better to let cash lie idle than to buy just to "keep invested" or for "income." In fact, it is really vital, and just this one point, in my opinion, represents one of the widest differences between the successful professional and the loss-taking amateur.

Anda tidak akan mendapatkan hasil yang baik kalau anda tidak berusaha mencari dan membeli saham yang berpotensi memberi untung besar. Anda lebih baik memegang uang tunai daripada membeli saham hanya karena "harus berinvestasi" atau hanya mengharapkan dividen. Menurut saya, poin (untuk mencari potensi untung besar) ini adalah yang membedakan antara pemain saham profesional sukses dan pemain saham amatiran rugi melulu.

--Gerald M. Loeb di buku The Battle for Investment Survival



Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2019 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, October 26, 2019

Mau Belajar Saham? Ya Harus Jual Beli Saham

. . . one must learn by experience the basic principles of successful dealing in securities through trading in active listed leaders, and particularly and must acquire the ability to control personal emotions or fear of loss, or greed for the larger profit, etc., which affect most people's decisions and are very costly.

Seseorang harus belajar prinsip dasar transaksi saham dengan melakukan jual beli saham besar yang aktif, dan harus belajar mengontrol emosi takut rugi, atau emosi serakah ingin untung lebih banyak.



Those who will select and master one medium are far better off than those who must dabble in realty, foreign exchange, commodities, obscure unlisted stocks, foreign bonds, etc.

Mereka yang memilih dan mendalami satu medium adalah jauh lebih baik daripada mereka yang mencoba-coba (bertransaksi) saham, valuta asing, komoditas, saham tak dikenal, obligasi luar negeri, dan sebagainya.

--Gerald M. Loeb di buku The Battle for Investment Survival






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2019 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]