Showing posts with label logika. Show all posts
Showing posts with label logika. Show all posts

Sunday, February 27, 2022

Mau Untung Main Saham? Harus Konsisten

Pada tahun 1911, dua orang penjelajah, Amundsen dan Scott, berlomba menjadi orang pertama yang mencapai Kutup Selatan.

Mereka berdua harus berjalan kaki menempuh jarak sekitar 2.300 km dalam suhu teramat dingin dan cuaca buruk dari base camp mereka untuk sampai di Kutub Selatan. Kedua penjelajah itu sama-sama dilengkapi peralatan yang memadai dan didukung tim penjelajah yang berpengalaman.

Hanya saja, Amundsen dan Scott memilih cara yang berbeda untuk mencapai tujuan yang sama.

Scott memerintahkan timnya untuk maju sejauh mungkin kalau cuaca sedang baik lalu beristirahat pada saat cuaca buruk untuk menghemat tenaga.

Amundsen memerintahkan timnya untuk maju konsisten setiap hari sejauh 20 mil (32 km). Tidak peduli apakah cuaca baik atau buruk. Walaupun cuaca sedang baik dan timnya bisa maju lebih dari 20 mil, Amundsen memerintahkan timnya untuk berhenti dan menyimpan tenaga untuk keesokan harinya.

Tim mana yang sukses terlebih dahulu mencapai Kutub Selatan?

Tim Amundsen.

Mengapa?

Karena mereka KONSISTEN.

(dikutip dan diterjemahkan dari newsletter Marc and Angel)

 

---###$$$###---

 

Perlu saya tekankan kembali bahwa melakukan sesuatu secara KONSISTEN tidak menjamin anda pasti untung main saham.

Kalau anda sudah konsisten tapi masih rugi, berarti ada yang salah dengan cara yang anda lakukan. Analisa dan perbaiki.

Kalau anda konsisten beli saham turun tapi rugi (masih turun lagi), coba analisa apakah anda belinya terlalu cepat. Mungkin anda harus lebih sabar menunggu sampai saham sudah tidak turun, baru deh dibeli.

Kalau anda konsisten beli saham naik tapi rugi (setelah dibeli saham turun), coba analisa apakah anda belinya terlalu lambat. Mungkin anda harus beli lebih cepat. Atau kalau tidak beli lebih cepat, belilah setelah saham naik tersebut turun (retrace).

Dengan main saham dengan cara konsisten, anda bisa memperbaiki cara yang rugi dan melanjutkan cara yang untung.

 

 

Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2022 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 


Tuesday, February 23, 2021

Haruskah Belajar Analisa Teknikal Agar Untung Main Saham?

Di pos "Haruskah Belajar Analisa Fundamental Agar Untung Main Saham" saya menyatakan bahwa tidak harus belajar Analisa Fundamental agar bisa untung main saham.

Kalau begitu, haruskah belajar Analisa Teknikal agar bisa untung main saham?

Haruskah?

 

 

Jawabannya:

Tidak harus belajar Analisa Teknikal agar bisa untung main saham.

Kok gitu?

Lihat saja contoh yang paling jelas: Warren Buffet, investor legendaris dari negeri paman Sam. Sepengetahuan saya, beliau tidak mengerti Analisa Teknikal. Tanpa mengerti Analisa Teknikal ia bisa menjadi (salah satu) investor saham paling sukses di dunia.

Jadi Mas Iyan, kalau tidak harus belajar Analisa Fundamental dan tidak harus belajar Analisa Teknikal agar bisa untung main saham, harusnya belajar apa dong?

Sebelum saya menjawab pertanyaan tersebut, perlu saya tambahkan bahwa selama ini saya tahu persis banyak pemain saham (di Indonesia sini) yang tidak mendalami (mengerti) Analisa Fundamental dan juga tidak mendalami (mengerti) Analisa Teknikal tapi sukses meraih untung di bursa saham.

Rahasianya?

Mereka KONSISTEN.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN main saham IPO.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN main saham Right Issue.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN membeli saham yang sudah turun banyak, dipegang terus, dan hanya dijual kalau sudah naik.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN membeli saham yang lagi lari naik dan di cut-loss kalau turun

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN membeli saham di harga Rp 50 (harga terendah di pasar regular) dan menjual kalau harga naik di atas Rp 50.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN main saham dengan jangka waktu super cepat: beli, naik 1-2 poin langsung dijual.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN main saham jangka waktu pendek: beli hari ini, jual besok.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN main saham jangka waktu menengah: beli hari ini, jual minggu depan.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN main saham jangka panjang: beli hari ini, jual tahun depan.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN main saham Indonesia saja.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN main saham Amerika saja.

Ada juga pemain saham yang rugi main saham lalu meninggalkan saham dan untung karena KONSISTEN main Bitcoin.

Cara yang mereka lakukan berbeda-beda, bahkan bertolak belakang, tapi yang sama adalah mereka KONSISTEN.

 

Jadi, agar bisa untung main saham, anda tidak harus belajar Analisa Fundamental ataupun Analisa Teknikal. Yang harus anda lakukan adalah belajar KONSISTEN.

 

---###$$$###---

 

Jangan salah paham.

Saya tidak bilang bahwa belajar Analisa Fundamental dan/atau Analisa Teknikal tidak ada gunanya. Belajar apapun, sedikit banyak pasti ada gunanya.

Yang saya katakan adalah anda TIDAK HARUS belajar Analisa Fundamental dan/atau Analisa Teknikal agar bisa untung main saham.

Karena yang lebih penting daripada analisa apapun adalah  keKONSISTENan.

Tapi Mas Iyan, anda bertanya-tanya, bukankah katanya saat main saham kita harus flexibel? Kalau harus konsisten kan artinya tidak boleh flexibel?

Betul, betul. Mungkin saya juga pernah menyatakan bahwa saat bermain saham anda harus flexibel.

Nah, terus terang, anjuran "harus konsisten" dan "harus flexibel" yang bertolak-belakang inilah yang membuat banyak pemain saham gagal meraih untung.

Tapi saya tekankan lagi bahwa jauh lebih penting untuk belajar KONSISTEN.

Mengapa?

Karena manusia pada umumnya lebih cenderung flexibel daripada  konsisten.

[Kalau anda tidak percaya, coba anda renungkan anda dan kegiatan yang anda lakukan: apakah anda lebih sering konsisten atau lebih sering berubah-rubah. Apakah anda makan malam sepiring nasi berlauk tahu tempe dan sambal cobek tepat jam 7 malam konsisten setiap hari? Atau anda makan dengan lauk berbeda-beda tidak selalu tepat jam 7 malam?]

Dengan kata lain: Flexibel tidak harus belajar tapi sudah bisa sendiri. Tapi konsisten harus dipaksakan barulah bisa konsisten.

 

---###$$$###---

 

Pertanyaan berikutnya: Apakah dengan KONSISTEN anda pasti bisa untung main saham?

Tidak juga.

Lah?

Konsisten tidak serta-merta membuat anda pasti untung main saham. Tapi dengan KONSISTEN anda akan tahu apa yang harus terus dilakukan dengan KONSISTEN dan apa yang harus dirubah.

Maksudnya?

Kalau anda KONSISTEN dan hasilnya untung, lanjutkan.

Kalau anda KONSISTEN dan hasilnya rugi berarti ada yang salah. Cari sumber kesalahan tersebut dan perbaiki.

Artinya: setelah KONSISTEN melakukan sesuatu dan hasilnya (relatif) buruk, itulah saatnya anda perlu  (flexibel) merubah cara anda. Lalu coba lakukan cara yang baru tersebut dengan KONSISTEN.
 
Coba anda bandingkan:

Kalau anda berubah-rubah dan hasilnya untung, yang mana yang harus dilanjutkan?

Kalau anda berubah-rubah dan hasilnya rugi, yang mana yang harus diperbaiki?
 
 
Kesimpulannya: Dengan main saham secara KONSISTEN lambat laun anda akan menemukan cara yang cocok untuk meraih untung di bursa saham.
 
 
[Pos ini ©2021 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, August 4, 2018

Trading Saham Cepat atau Investasi Jangka Panjang?

Di pos "Tanggapan Pilih Mana: Investasi Saham Jangka Panjang atau Trading Saham Jangka Pendek?" saya menyatakan bahwa anda harus mencari tahu sendiri apakah anda lebih cocok investasi saham jangka panjang atau trading saham cepat. Nah, di pos ini saya akan membahas topik tersebut dari sudut pandang lain.

MISALKAN anda BISA trading saham jangka pendek dan juga BISA investasi saham jangka panjang. Sebaiknya pilih yang mana?

Victor Sperandeo di buku Trader Vic —Methods of a Wall Street Master menyarankan:

Figure 1. Sampul Depan Buku Victor Sperandeo Trader Vic - Method of a Wall Street Master

Be an investor in the early stages of bull markets. Be a speculator in the latter stages of bull markets and in bear markets.

Terjemahannya kira-kira begini:

Jadilah investor (jangka panjang) pada permulaan pasar yang Bullish. Jadilah spekulator di akhir pasar Bullish dan saat pasar Bearish.

(Kalau anda belum tahu arti Bullish dan Bearish, silahkan baca pos "Arti 'Bullish' dan 'Bearish' di Bursa Saham.")

Saran Victor Sperandeo sangat penting dicamkan karena yang sering dilakukan pemain saham adalah kebalikan dari saran tersebut: Jadi investor saham jangka panjang saat pasar Bearish (alias nyangkut) dan jadi trader cepat saat pasar Bullish (alias kebelet jual).

Menjadi nvestor saham jangka panjang saat pasar Bearish—sebenarnya—tidak salah. Masalahnya: mayoritas investor saham jangka panjang saat pasar Bearish adalah karena saham yang mereka beli harganya turun. Dengan kata lain: mereka terpaksa menjadi investor jangka panjang karena sahamnya nyangkut. Bukan karena pilihan.

Menjadi trader cepat saat pasar Bullish juga—sebenarnya—tidak salah. Tapi, mayoritas trader saham cepat saat pasar Bullish adalah karena saham yang mereka beli harganya naik dan mereka ingin cepat-cepat merealisasikan profit. Masalahnya: setelah dijual, harga saham malah meroket. 

Oke, oke, kata anda. Tapi bagaimana caranya saya tahu market sedang Bullish atau sedang Bearish?

Pertanyaan yang sangat bermutu.

Saya sangat setuju dengan saran Victor Sperandeo di atas tapi saran tersebut akan saya sederhanakan agar anda TIDAK PERLU tahu apakah market sedang Bullish atau Bearsih.

Saran Iyan Terus Belajar Saham adalah sebagai berikut:

Jadilah investor saham jangka panjang saat saham anda naik. Jadilah trader jangka pendek saat saham anda turun.

Artinya, kalau saham yang anda beli naik, biarkanlah ia naik. Tapi kalau saham yang anda beli turun, lekas-lekaslah jual.

Jangan terbalik.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2018 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, February 24, 2018

Mengapa Harga Saham Naik Turun?

Kalau anda memperhatikan saham yang aktif diperdagangkan di bursa, harga saham tersebut (biasanya) berfluktuasi naik-turun selama jam perdagangan bursa.

Nah, pernahkah anda memikirkan MENGAPA harga saham bergerak naik-turun dalam hitungan jam, menit, atau bahkan detik?

Figure 1. Mengapa Harga Saham Berfluktuasi Naik-Turun?

Apakah karena faktor fundamental perusahaan?

Rasa-rasanya sih tidak masuk akal kalau fundamental perusahaan berubah-rubah dalam hitungan jam, menit, atau bahkan detik.

Atau karena ada berita tentang emiten saham yang mempengaruhi harga saham?

Rasa-rasanya sih tidak setiap jam (apalagi setiap menit atau detik) ada berita tentang setiap emiten saham.

Kalau bukan karena fundamental dan bukan juga karena berita, lalu apa dong yang menyebabkan harga saham bergerak naik-turun setiap hari?

Menurut G. C. Selden di buku Psychology of the Stock Market:

Most experienced professional traders in the stock market will readily admit that the minor fluctuations, amounting to perhaps five or ten dollars a share in the active speculative issues, are chiefly psychological. They result from varying attidudes of the public mind, or, more strictly, from mental attitudes of those persons who are interested in the market at the time.

Terjemahannya kira-kira begini:

Mayoritas pemain saham profesional berpengalaman mengakui bahwa fluktuasi minor harga saham yang aktif diperdagangkan adalah semata-mata karena faktor psikologis. Gerak naik-turun ini adalah hasil dari perilaku publik yang berbeda-beda, atau lebih tepatnya, hasil dari perbedaan pandangan para pemain saham yang berpartisipasi di bursa pada saat itu.

Apa artinya?

Artinya, dalam jangka pendek, fundamental perusahaan bukanlah faktor dominan yang menentukan harga saham. Dalam jangka pendek, faktor dominan yang menentukan harga saham adalah pandangan para pemain saham yang berpartisipasi jual-beli saham tersebut pada saat itu.

Artinya juga, kalau anda main saham dalam jangka pendek, fundamental perusahaan, seharusnya, bukanlah faktor penentu untuk membeli atau menjual saham. Dengan kata lain, analisa fundamental tidak cocok untuk trading saham jangka pendek.

Jadi, analisa apa yang cocok untuk main/trading saham jangka pendek?

Analisa Teknikal.

Mengapa?

Karena Analisa Teknikal adalah rekaman "perbedaan pandangan para pemain saham yang berpartisipasi di bursa."

Kalau anda bisa meng-interpretasi dengan benar pergerakan harga saham via Analisa Teknikal, anda bisa menebak kecenderungan harga saham apakah dalam waktu dekat akan naik, turun, atau tidak-naik-tidak-turun.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2018 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, January 27, 2018

Apakah Anda (Merasa) Sudah Terlalu Tua Untuk Belajar Saham?

Untuk anda yang berusia 40 tahun, 50 tahun , 60 tahun, atau 70 tahun ke atas, mungkin anda tertarik untuk belajar main saham. Tapi anda berpikir, "Apakah saya sudah terlalu tua untuk mulai belajar main saham?"

Jadi, apakah benar anda sudah terlalu tua untuk mulai belajar main saham?

Figure 1. Apakah Anda Sudah Terlalu Tua Untuk Mulai Belajar Saham?

Memang, kalau anda mulai belajar main saham sejak usia muda, (kemungkinan) hasilnya akan lebih optimal.

Tapi tidak berarti bahwa kalau anda sudah berusia di atas 40, 50, 60, bahkan 70 tahun, anda sudah terlambat.

Henry Ford—pendiri perusahaan Ford Motor Company— berkata:

"Anyone who stops learning is old, whether at twenty or eighty."

Siapapun yang berhenti belajar berarti ia sudah tua, tidak peduli apakah usianya 20 atau 80 tahun. 


Kalau anda berusia 80 tahun tapi masih semangat mau mulai belajar main saham, anda masih muda.

Kalau anda berusia 20 tahun tapi merasa sudah pintar dan tidak perlu belajar main saham lagi, anda sudah tua.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2018 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, November 18, 2017

Belajar Analisa Teknikal atau Analisa Fundamental?

Di pos "Belajar Apa Dulu: Analisa Fundamental atau Analisa Teknikal?" saya menganjurkan anda untuk mempelajari "kulit" kedua analisa tersebut lalu menentukan sendiri mana yang lebih cocok dengan karakter dan kemauan anda.

Tapi misalkan anda sudah mencoba Analisa Fundamental dan Analisa Teknikal tapi tetap masih bingung mau mendalami yang mana. Sebaiknya pilih yang mana: Analisa Teknikal atau Analisa Fundamental?

Figure 1. Pilih Belajar Analisa Fundamental atau Teknikal?

Saran saya: pilih belajar mendalam Analisa Teknikal.

Mengapa?

Pertanyaan tersebut akan terjawab kalau anda tahu apa sebabnya saya sepenuhnya meninggalkan Analisa Fundamental dan beralih ke Analisa Teknikal.

Mari saya ceritakan.

---###$$$###---

Di halaman "About" tertulis bahwa saya mulai serius main saham pada tahun 1997 sebagai investor jangka menengah yang mementingkan Analisa Fundamental. Karena gagal total, saya beralih menjadi pedagang saham purna-waktu (full-time trader) sejak tahun 2003 dan lebih mementingkan Analisa Teknikal.

Perlu saya tekankan di sini bahwa—menurut saya—pada tahun 1997 kemampuan Analisa Fundamental saya sudah di atas rata-rata pemain saham pada umumnya. Artinya, saya sudah tahu cukup banyak tentang Analisa Fundamental. Tapi toh tetap saja saya rugi. Besar.

Saat itu saya menyimpulkan bahwa kerugian yang saya derita dari mencoba Analisa Fundamental (kemungkinan besar) BUKAN karena analisanya yang salah. Tapi karena faktor-faktor lain seperti kondisi ekonomi makro (tahun 1997 Indonesia dilanda krisis moneter), karakter saya, dan lain-lain.

Karena bosan merugi terus, saya mulai mencoba Analisa Teknikal.

Nah, ketika saya mulai belajar Analisa Teknikal pada tahun 2000an awal, kemampuan Analisa Teknikal saya (relatif) sangat minim. Tapi anehnya kerugian saya saat itu justru jauh lebih kecil dibandingkan ketika saya main saham memakai Analisa Fundamental yang sudah saya dalami bertahun-tahun.

Tahu banyak Analisa Fundamental, rugi besar. Tahu sedikit Analisa Teknikal, rugi kecil.

Kalau anda adalah saya pada saat itu, anda pilih mana: terus memperdalam belajar Analisa Fundamental (dan terus rugi entah sampai kapan) atau mulai mendalami Analisa Teknikal (dengan harapan rugi kecil segera berubah menjadi untung)?

Itulah alasan pertama mengapa saya beralih dari Analisa Fundamental ke Analisa Teknikal.

Nah, dari pengalaman di atas saya menyimpulkan bahwa mendalami Analisa Teknikal (relatif) lebih menguntungkan daripada Analisa Fundamental.
 
Dan itulah alasannya mengapa saya menyarankan anda (yang bingung memilih antara Analisa Fundamental dan Analisa Teknikal) untuk memilih Analisa Teknikal: Analisa Teknikal lebih cepat memberi hasil (untung) dibandingkan Analisa Fundamental.

Kalau anda masih ragu, saya tambahkan beberapa lagi keunggulan Analisa Teknikal:
  1. Analisa Teknikal lebih mudah dipelajari dibandingkan Analisa Fundamental.
  2. Analisa Teknikal bisa untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, investasi jangka panjang sedangkan Analisa Fundamental hanya untuk investasi jangka panjang.
  3. Menggunakan Analisa Teknikal anda bisa memutuskan dalam hitungan menit untuk buy, sell, or hold suatu saham. Menggunakan Analisa Fundamental anda harus menghabiskan waktu berpuluh-puluh jam menelusuri laporan keuangan, rekomendasi broker, company report, dan lain-lain.

Masih banyak alasan lain mengapa Analisa Teknikal—menurut saya— lebih unggul daripada Analisa Fundamental. Silahkan lanjut baca ke pos "Keunggulan Analisa Teknikal vs. Analisa Fundamental." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]





Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, October 28, 2017

Tanggapan Pilih Mana: Investasi Saham Jangka Panjang atau Trading Saham Jangka Pendek?

Di bulan Maret 2016 di pos "Pilih Mana: Investasi Saham Jangka Panjang atau Trading Saham Jangka Pendek" saya bertanya kepada pembaca blog ini:

Pilih Mana:

1. Investasi saham jangka panjang (tahunan)
2. Investasi saham jangka bulanan
3. Trading saham jangka mingguan
4. Trading saham jangka harian
5. Tidak masalah investasi jangka tahunan, bulanan, ataupun trading jangka mingguan, harian. Yang penting untung.

Figure 1. Investasi Saham Jangka Panjang atau Trading Saham Jangka Pendek?

Terima kasih untuk anda yang sudah memilih dan meninggalkan komentar.

Yang mana adalah pilihan terbaik?

Yuk kita bahas.

---###$$$###---

Menurut saya, kalau pengalaman main saham anda lebih dari 5 tahun, pilihan yang terbaik adalah Nomor 5: Yang penting untung.

Tapi kalau pengalaman main saham anda kurang dari 5 tahun, pilihan yang terbaik adalah Nomor 5: Tidak masalah investasi jangka tahunan, bulanan ataupun trading jangka mingguan, harian.

Lho? Bukankah sama-sama Nomor 5?

Betul. Tak peduli berapa tahun pengalaman anda main saham, pilihan yang terbaik—menurut saya—adalah Nomor 5. Hanya saja, penekanannya yang berbeda.

Untuk anda yang sudah main saham lebih dari 5 tahun, saya asumsikan anda sudah—sedikit banyak—tahu bingkai waktu main saham yang cocok dengan karakter anda. Mungkin anda fokus dengan swing trading mingguan. Tapi anda juga tidak menutup kemungkinan untuk bereksperimen dengan bingkai waktu yang lain. Yang Penting Untung.

Masalahnya sedikit berbeda untuk anda yang pengalaman main sahamnya kurang dari 5 tahun.

Di pos "Target Laba Main Saham" sudah saya tulis bahwa target pemula main saham bukanlah untuk mencari untung tapi untuk tidak rugi terlalu banyak.

Jadi, kalau pengalaman main saham anda kurang dari 5 tahun, sebaiknya fokus anda bukan pada bagian "Yang penting untung" tapi pada "Tidak masalah investasi jangka tahunan, bulanan, ataupun trading jangka mingguan, harian."

Mengapa?

Ketika anda mulai main saham, hampir pasti anda main saham berdasarkan pandangan orang lain. Maksud saya, kemungkinan besar anda terjun main saham karena MEMBACA, MENDENGAR, MENONTON berita tentang pemain saham atau investor sukses di Indonesia ataupun di dunia: Anda ingin kaya seperti mereka dengan bermain saham.

Caranya?

Ikuti cara mereka.

Kalau anda baca/dengar/nonton bahwa si Anu bisa untung 5-10% per bulan dari trading saham jangka harian, anda tertarik untuk trading saham jangka harian.

Kalau anda baca/dengar/nonton bahwa si Itu bisa untung 8-15% per bulan dari trading saham mingguan, anda tertarik untuk trading saham jangka mingguan.

Kalau anda baca/dengar/nonton bahwa Warren Bufftet menjadi investor saham terkaya di dunia dari investasi saham jangka panjang, anda tertarik untuk investasi saham jangka panjang (tahunan).

Masalahnya...

Anda bukan si Anu. Anda bukan si Itu. Dan yang pasti, anda juga bukan Warren Buffet.

Anda adalah anda.

Bingkai waktu yang cocok dan menguntungkan untuk si Anu, Itu, Warren Buffet, BELUM TENTU cocok dan menguntungkan untuk anda.

Jangan salah mengerti. Saya tidak bilang anda jangan mencontoh bingkai waktu si Anu, Itu, atau Warren Buffet. Boleh kok.

Hanya saja, JANGAN LANGSUNG BERKESIMPULAN bingkai waktu mereka adalah bingkai waktu terbaik untuk anda.

Artinya, misalkan anda mulai main saham dengan trading saham harian dan tidak untung. Jangan menutup kemungkinan untuk mencoba trading jangka mingguan atau investasi jangka bulanan.

Misalkan juga anda mulai main saham dengan investasi jangka tahunan. Tapi anda stress melihat portofolio yang naik turun. Nah, jangan menutup kemungkinan untuk beralih ke bingkai waktu yang lebih pendek.

Pesan moral: Silahkan mulai belajar main saham dengan bingkai waktu pilihan (awal) anda. Kalau menguntungkan, lanjutkan. Kalau tidak menguntungkan, silahkan bereksperimen dengan bingkai waktu yang lain.

Dengan kata lain: JANGAN terlalu yakin bahwa pilihan (awal) anda adalah yang terbaik. Buka diri anda bahwa opsi lain BISA JADI lebih baik/cocok untuk anda. 






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, October 7, 2017

Bisakah Konsisten Untung Main Saham Dengan Mengikuti Berita?

Di halaman "Kurikulum," pada tanggal 18 Juni 2016 saudara Erwin Sanz bertanya:

"...sejauh mana pak Iyan mengacuhkan suatu berita/kabar/rumor. Pak Iyan sering berkata bahwa sudah meninggalkan FA (Fundamental Analysis), hanya fokus ke TA (Technical Analysis) dan tidak/jarang membaca berita atau rumor karena percaya bahwa harga sudah mencermikan semuanya.

Pengalaman saya setahun ini ternyata setiap hari kita dibombardir dengan berita (rumor) yang mempengaruhi pergerakan harga (trend) baik yang secara tiba-tiba ataupun perlahan dan (sepertinya) alangkah lebih baik jika kita mampu memanfaatkannya untuk melakukan antisipasi."

Figure 1. Bisakah Konsisten Untung Main Saham Hanya Dari Berita?

Ini pertanyaaan yang sangat baik. Dan saya yakin banyak di antara anda yang juga berpikiran sama dengan saudara Erwin Sanz. Saya pun saat baru mulai main saham juga berpikiran sama dengan saudara Erwin Sanz: kalau saya tahu berita lebih dahulu daripada orang lain, saya bisa untung dari saham.

Dengan pandangan seperti itu, di awal tahun 2000an saya berlangganan (dan membaca) koran lokal: Kompas, Investor Daily, Bisnis Indonesia. Saya juga berlangganan (dan membaca) koran luar negeri: Wall Street Journal, Financial Times, Investor Business Daily.

Saya juga berlangganan (dan membaca dari halaman depan sampai halaman belakang) majalah luar negeri: Fortune, Business Week, Forbes, Far Eastern Economic Review, Inc., Entrepreneur.

Saya juga berlangganan TV berbayar Indovision khusus untuk menonton channel bisnis CNBC (channel CNBC selalu menyala sejak saya masuk kamar tidur sampai saya meninggalkan kamar tidur besok paginya, setiap hari, termasuk weekend.)

Hasilnya: mata sepet, kepala cenut-cenut, capek, kurang tidur, sukar konsentrasi. Tapi main saham tetap rugi (bahkan rugi lebih banyak). 

Nah, itu yang saya lakukan di awal tahun 2000an saat internet masih belum umum dan social media masih belum panas seperti sekarang.

Dengan luasnya jaringan internet dan menjamurnya social media sekarang ini, berita di koran, berita di majalah, atau berita di TV sudah tidak cukup cepat. Via internet anda bisa baca/dengar/nonton berita apa saja, kapan saja secara LIVE (langsung). Untuk mengikuti rumor/gosip, anda bisa nimbrung di newsgroup, forum, chatroom.

Masalahnya—dengan begitu banyaknya berita/informasi/rumor yang ada di internet—kalau anda berusaha mengikuti semua berita saham, saya rasa anda tidak punya energi lagi untuk menganalisa saham. Kalaupun masih tersisa energi, kemungkinan besar anda tidak untung karena analisa saham anda tumpul karena sudah kecapean berlari mengejar gerbong berita.

Nah, jawaban saya ke saudara Erwin Sanz adalah sebagai berikut:

"Sekali lagi saya tegaskan, saya tidak memakai berita untuk membuat keputusan trading.

Belasan tahun lalu, ketika media cetak masih berperan besar menyebarkan berita penting, sudah saya simpulkan bahwa saya TIDAK BISA konsisten untung dengan mengandalkan berita. Apalagi sekarang saat internet dan social media jauh lebih cepat menyebarkan berita daripada media cetak.

Saya tidak bilang anda tidak bisa untung konsisten dengan (mengikuti) berita. Mungkin saja bisa. Tapi saya sangsi.

Kenapa?

Ada beberapa sebab:

1. (Hampir) Tidak mungkin anda SELALU menjadi orang yang pertama mendengar suatu berita.

2. Kalaupun anda bisa selalu pertama mendengar suatu berita dan bereaksi pertama (beli saham atau jual saham), belum tentu reaksi anda benar. Bisa saja anda pikir berita tersebut akan membuat saham naik, tapi kenyataannya malah turun. Atau sebaliknya.

Itulah sebabnya saya sudah lama trading TANPA harus tahu berita.

Biasanya, setelah suatu saham bergerak dan saya bereaksi, barulah saya bertanya ke teman-teman apakah ada berita tentang saham tersebut."


---###$$$###---


Nah, kalau anda sudah bisa untung konsisten dengan membaca/menonton berita di koran, majalah, TV, abaikan apa yang saya tulis di atas. Lanjutkan terus apa yang sudah anda lakukan.

Tapi kalau anda belum untung (atau bahkan rugi) saat main saham berdasarkan berita media, silahkan coba solusi berikut:

Hentikan usaha anda mengejar berita/rumor/gosip.

Belajar Analisa Teknikal untuk mengikuti perGERAKan harga saham.

Kalau harga saham NAIK (ke harga tertentu)—kenaikan harga ini mungkin karena ada berita bagus tentang saham tersebut—BELI.

Kalau harga saham TURUN (ke harga cut-loss)—penurunan harga ini mungkin karena ada berita buruk tentang saham tersebut—JUAL.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

 

Saturday, November 7, 2015

Saham Naik 20%. Apakah Saham Tersebut Uptrend, Downtrend, atau Sideway?

Di penutup pos "Analisa Volume Transaksi Saham Untuk Pemula. Perlukah?" saya memberikan pertanyaan berikut:

1. Mana yang relatif lebih bullish: Close > Prv Price tapi Prv Price > Open atau Prv Price > Close tapi Open > Prv Price? Mengapa?

2. Saham XYZ naik 20% dalam 24 bulan terakhir. (Klarifikasi: Naik 20% ini TIDAK TERJADI HANYA pada hari-hari terakhir 24 bulan tersebut.) Apakah saham tersebut uptrend, downtrend, atau sideway? Mengapa?

Pertanyaan #1, semua penjawab menjawab dengan benar.

[Yang relatif lebih bullish adalah pernyataan pertama karena Close > Prv Price lebih bullish dibanding pernyataan kedua  Prv Price > Close (= Close < Prv Price).]

Pertanyaan #2, cukup banyak penjawab menjawab dengan benar TAPI alasan yang dikemukakan tidak tepat.

Jadi sebenarnya, apa jawaban yang tepat untuk pertanyaan #2?

Mari kita telaah.

Pada pernyataan "Saham XYZ naik 20% dalam 24 bulan terakhir" yang jelas tertulis adalah naik 20%.

Naik. Bukan turun. Jadi jawaban "downtrend" bisa anda eliminasi.

Lalu, naiknya 20%. Bukan cuma 1-2%. Jadi jawaban "sideway" bisa anda eliminasi.

Pilihan jawaban yang tersisa hanyalah "uptrend."

Jadi, jawaban yang benar adalah "uptrend."

Tapi jawaban "uptrend" juga masih kurang tepat/spesifik.

Mengapa?

Karenaseperti dikemukakan penjawab yang menjawab "tidak bisa ditentukan tanpa informasi tambahan"dalam jangka waktu 24 bulan tersebut bisa saja terjadi harga saham XYZ sempat naik 50%, lalu turun 40%, lalu sideway, lalu naik 10%. Jadi, dalam masa 24 bulan tersebut bisa saja ada saat "uptrend," ada saat "downtrend," ada saat "sideway."

Pengamatan yang benar.

Tapi dari pernyataan "saham XYZ naik 20% dalam 24 bulan terakhir" anda tetap BISA mengambil kesimpulan yang spesifik.

Memang betul dalam jangka waktu 24 bulan tersebut bisa saja ada saat "uptrend," ada saat "downtrend," ada saat "sideway," tapi hal tersebut TIDAK MERUBAH fakta bahwa saham XYZ dalam 24 bulan terakhir naik 20%.

Jadi, jawaban yang benar dan spesifik adalah saham XYZ UPTREND dalam BINGKAI-WAKTU 24 bulan terakhir. Dalam bingkai waktu lain, tidak bisa ditentukan tanpa informasi tambahan.

Konsep bingkai-waktu (time-frame) sangat penting anda pahami karena ketika membahas trend, anda harus menyamakan persepsi bingkai-waktu yang dipakai. Tanpa persepsi bingkai-waktu yang sama, diskusi tentang trend bisa menjadi debat kusir yang tiada akhirnya.    






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2015 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]