Showing posts with label ekspektasi. Show all posts
Showing posts with label ekspektasi. Show all posts

Saturday, June 29, 2024

Perlu Win-Rate Berapa Agar Untung Main Saham?

Di pos "Lain Bidang Lain Ahlinya" Christian dan UnitedHooligans bertanya tentang win-rate main saham saya.

Win-rate yang dimaksud adalah porsi saham dibeli yang dijual untung dibanding porsi saham dibeli yang dijual rugi.

Terus terang, saya tidak dan belum pernah mengukur dengan pasti win-rate saya sebenarnya. Tapi menurut perkiraan, win-rate saya (hampir pasti) kurang dari 40%, atau bahkan kurang dari 30%. (Artinya dari 100 saham yang saya beli, hanya 40 saham atau kurang yang hasilnya untung; sisanya rugi).

UnitedHooligans bertanya, "... winrate metode bpk hanya berkisar 30 sd 40%, lalu bagaimana sejarahnya bpk dahulu kala hingga bs menemukan, mendisiplinkan diri serta menguatkan hati untuk terus menggunakan metode tsb padahal winrate nya tidak terlalu besar. Yg sy bayangkan normalnya utk trader2 pemula spt sy biasanya akan sibuk mencari metode yg bs memberikan winrate tinggi setidaknya >50% sebelum memutuskan setia dengan satu metode."

Menjawab pertanyaan di atas, saya memberitahukan fakta tentang Batting Average di olahraga baseball. Batting Average adalah persentase keberhasilan memukul (hit) baseball yang dilempar pitcher.

Batting Average PALING TINGGI SEPANJANG MASA dalam sejarah baseball Amerika Serikat adalah 0.366. Artinya, dari 1000 kali mencoba memukul baseball yang dilemparkan, yang berhasil dipukul adalah 366 kali.

Tentu saja main baseball tidak sama dengan main saham. Tapi saya rasa tidak ada salahnya kita bandingkan win-rate profesi lain yang terukur dengan data akurat dalam jangka waktu lama dengan ekspektasi win-rate pemain saham agar bisa sukses/untung main saham.

Nah, kalau hit-rate TERTINGGI SEPANJANG MASA di baseball adalah di bawah 37%, apakah perlu bagi pemain saham, apalagi pemula, berusaha mencari win-rate main saham di atas 50%?

Kalau anda melakukan hal ini, hampir pasti seumur hidup anda akan berganti-ganti trading plan karena win-rate trading plan anda tidak mencapai di atas 50%.

Saya tidak menyatakan bahwa anda tidak perlu mencari win-rate trading plan yang lebih baik dari trading plan anda sekarang. Yang saya tekankan adalah jangan menghabiskan waktu mencari win-rate trading plan yang (hampir) tidak masuk akal.

Dan yang lebih penting anda pahami adalah anda TIDAK PERLU win-rate di atas 50% agar bisa untung main saham.

Kok bisa?

Untung main saham tidak ditentukan hanya oleh win-rate ratio.

Win-rate ratio 30% atau kurang bisa menghasilkan untung kalau dari 30% saham yang untung tersebut, keuntungannya lebih besar dari kerugian 70% saham yang rugi.

Dengan kata lain, ketika anda untung, untungnya haruslah cukup besar untuk menutupi kerugian-kerugian yang frekuensinya lebih sering.

Bagaimana caranya?

 

Nomor 1: Cut-loss saham rugi secepat mungkin.

Nomor 2: Optimalkan profit saham yang untung.


Nah, agar bisa untung main saham dengan win-rate ratio 40% atau kurang, Trading Plan anda harus memenuhi kedua kriteria di atas.

Apakah mudah membuat Trading Plan yang memenuhi kriteria tersebut?

Tidak. Terus terang tidak.

Setelah menemukan Trading Plan yang memenuhi kedua kriteria di atas, apakah mudah melaksanakannya dengan disiplin?

Tidak. Terus terang tidak.

Tapi meracik dan menjalankan dengan disiplin Trading Plan yang memenuhi kedua kriteria di atas tersebut adalah lebih mudah daripada berusaha mencari win-rate >50%.

 

Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2024 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Wednesday, April 7, 2021

Mau Sukses Main Saham? Terkadang Anda Harus Beruntung

It took 29 years, that included 10 weeks on the road this season because of the coronavirus, for VanDerveer and the Cardinal to be crowned NCAA women’s basketball champions again.

“We had some special karma going for us,” VanDerveer said. “Had the comeback against Louisville, dodge a bullet against South Carolina, dodge bullet against Arizona. Sometimes you have to be lucky. I’ll admit it, we were very fortunate to win.”

Perlu waktu 29 tahun, termasuk 10 minggu perjalanan darat di musim (pertandingan) ini karena virus corona, sebelum VanDerveer dan (tim) Cardinal mendapatkan mahkota juara bola basket wanita NCAA lagi.

"Kami mendapat karma baik belakangan ini," kata VanDerveer. "Menang setelah tertinggal melawan Louisville, menghindari peluru melawan South Carolina, menghindari peluru lagi melawan Arizona. Terkadang anda harus beruntung. Saya akui, kami sangat beruntung bisa menang." 

 

---- Tara VanDerveer - Head Coach Stanford Women Basketball, 68 years old, after winning 2021 NCAA Women Basketball National Championship.

 

  

 

Saat masih hijau, 40-50 tahun lalu, saya yakin 100% bahwa kalau seseorang belajar keras, bekerja keras, berusaha keras tanpa putus-asa, suatu hari ia pasti akan sukses, pasti akan menjadi nomor 1, pasti kaya, pasti menggapai apa yang ia inginkan.

Dengan berjalannya waktu, bertambahnya umur dan rambut putih, saya (akhirnya) menyadari bahwa belajar keras, bekerja keras, berusaha keras, tidak menjamin seseorang pasti sukses, pasti kaya, pasti mendapatkan apa yang ia inginkan.

Memang, dengan bekerja keras saya yakin seseorang akan bisa hidup (relatif) nyaman dan (yang pasti) tidak kelaparan.

Tapi kalau seseorang ingin sukses luar biasa, ingin menjadi nomor 1 (menjadi presiden, misalnya), ingin kaya raya, ingin mendapatkan apa yang ia inginkan, kerja keras saja tidak cukup. Pada akhirnya nasib dan keberuntungan yang menentukan.

Terkadang anda harus beruntung, kata VanDerveer.

"Tapi Mas Iyan," sergah anda. "Masa sih kita harus mengandalkan nasib saja agar bisa sukses main saham?"

Jangan salah mengerti.

Saya tidak bilang bahwa seseorang tidak perlu belajar keras, tidak perlu bekerja keras, tidak perlu berusaha semaksimum mungkin, cukup mengandalkan nasib dan bisa sukses main saham.

Untuk sukses main saham, anda HARUS bekerja keras dan berusaha keras. Itu tidak bisa ditawar.

Tapi yang sangat penting anda sadari adalah ini: tingkat kesuksesan yang anda dapatkan—setelah anda bekerja dan berusaha sekeras mungkin— tergantung pada keberuntungan anda.

Warren Buffet, investor saham legendaris dari Amerika Serikat, pun mengakui bahwa ia bisa menjadi salah satu investor paling kaya di dunia karena dirinya beruntung.

Masih tidak percaya?

Saya juga pernah membaca artikel tentang simulasi komputer yang dilakukan Alesandro Pluchino dan kawan-kawan di Universitas Catania di Italia yang mencoba mencari tahu apa yang berperan paling penting dalam menggapai sukses: apakah bakat (talent), kepandaian (intelligence), atau keberuntungan (luck)?

Dari simulasi tersebut Alesandro Pluchino berkesimpulan bahwa orang yang paling sukses adalah orang yang paling beruntung. Bukan yang paling berbakat. Bukan yang paling pintar.

“The maximum success never coincides with the maximum talent, and vice-versa,” kata periset-periset tersebut.

Kesuksesan paling maksimal tidak berhubungan lurus dengan bakat/kepandaian paling maksimal; kesuksesan paling minim juga tidak berhubungan lurus dengan bakat/kepandaian paling minim.

Terkadang anda harus beruntung.

 

---###$$$###---

 

Nah, apa hubungan "terkadang anda harus beruntung" dengan main saham?

Banyak sekali hubungannya. Saya berikan 1 contoh ya.

Misalkan anda dan teman anda (katakanlah namanya Ahok) bekerja keras menganalisa saham yang layak dibeli. Dari analisa tersebut anda dan Ahok berkesimpulan bahwa saham A, B, C, D, E, F, G, H, I, J paling berpotensi memberi keuntungan maksimum kalau anda beli dan pegang selama 1 tahun. Karena potensi saham-saham tersebut kelihatannya sama saja, anda memutuskan membeli Saham A-E; Ahok memutuskan membeli saham F-J.

Setelah berlalu 1 tahun, portofolio anda naik 18%. Cukup baik, kan?

Tapi masalahnya, portofolio Ahok naik 88%.

Kok bisa?

Padahal ketika anda dan Ahok menganalisa, potensi saham-saham tersebut kelihatannya tidak berbeda jauh.

Kok bisa?

Saya tidak tahu jawabannya. Yang saya tahu adalah "terkadang anda harus beruntung."

Yang saya tahu juga dari contoh di atas: si Ahok jauh lebih beruntung dari anda.

 

 


Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2021 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

Tuesday, February 23, 2021

Haruskah Belajar Analisa Teknikal Agar Untung Main Saham?

Di pos "Haruskah Belajar Analisa Fundamental Agar Untung Main Saham" saya menyatakan bahwa tidak harus belajar Analisa Fundamental agar bisa untung main saham.

Kalau begitu, haruskah belajar Analisa Teknikal agar bisa untung main saham?

Haruskah?

 

 

Jawabannya:

Tidak harus belajar Analisa Teknikal agar bisa untung main saham.

Kok gitu?

Lihat saja contoh yang paling jelas: Warren Buffet, investor legendaris dari negeri paman Sam. Sepengetahuan saya, beliau tidak mengerti Analisa Teknikal. Tanpa mengerti Analisa Teknikal ia bisa menjadi (salah satu) investor saham paling sukses di dunia.

Jadi Mas Iyan, kalau tidak harus belajar Analisa Fundamental dan tidak harus belajar Analisa Teknikal agar bisa untung main saham, harusnya belajar apa dong?

Sebelum saya menjawab pertanyaan tersebut, perlu saya tambahkan bahwa selama ini saya tahu persis banyak pemain saham (di Indonesia sini) yang tidak mendalami (mengerti) Analisa Fundamental dan juga tidak mendalami (mengerti) Analisa Teknikal tapi sukses meraih untung di bursa saham.

Rahasianya?

Mereka KONSISTEN.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN main saham IPO.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN main saham Right Issue.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN membeli saham yang sudah turun banyak, dipegang terus, dan hanya dijual kalau sudah naik.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN membeli saham yang lagi lari naik dan di cut-loss kalau turun

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN membeli saham di harga Rp 50 (harga terendah di pasar regular) dan menjual kalau harga naik di atas Rp 50.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN main saham dengan jangka waktu super cepat: beli, naik 1-2 poin langsung dijual.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN main saham jangka waktu pendek: beli hari ini, jual besok.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN main saham jangka waktu menengah: beli hari ini, jual minggu depan.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN main saham jangka panjang: beli hari ini, jual tahun depan.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN main saham Indonesia saja.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN main saham Amerika saja.

Ada juga pemain saham yang rugi main saham lalu meninggalkan saham dan untung karena KONSISTEN main Bitcoin.

Cara yang mereka lakukan berbeda-beda, bahkan bertolak belakang, tapi yang sama adalah mereka KONSISTEN.

 

Jadi, agar bisa untung main saham, anda tidak harus belajar Analisa Fundamental ataupun Analisa Teknikal. Yang harus anda lakukan adalah belajar KONSISTEN.

 

---###$$$###---

 

Jangan salah paham.

Saya tidak bilang bahwa belajar Analisa Fundamental dan/atau Analisa Teknikal tidak ada gunanya. Belajar apapun, sedikit banyak pasti ada gunanya.

Yang saya katakan adalah anda TIDAK HARUS belajar Analisa Fundamental dan/atau Analisa Teknikal agar bisa untung main saham.

Karena yang lebih penting daripada analisa apapun adalah  keKONSISTENan.

Tapi Mas Iyan, anda bertanya-tanya, bukankah katanya saat main saham kita harus flexibel? Kalau harus konsisten kan artinya tidak boleh flexibel?

Betul, betul. Mungkin saya juga pernah menyatakan bahwa saat bermain saham anda harus flexibel.

Nah, terus terang, anjuran "harus konsisten" dan "harus flexibel" yang bertolak-belakang inilah yang membuat banyak pemain saham gagal meraih untung.

Tapi saya tekankan lagi bahwa jauh lebih penting untuk belajar KONSISTEN.

Mengapa?

Karena manusia pada umumnya lebih cenderung flexibel daripada  konsisten.

[Kalau anda tidak percaya, coba anda renungkan anda dan kegiatan yang anda lakukan: apakah anda lebih sering konsisten atau lebih sering berubah-rubah. Apakah anda makan malam sepiring nasi berlauk tahu tempe dan sambal cobek tepat jam 7 malam konsisten setiap hari? Atau anda makan dengan lauk berbeda-beda tidak selalu tepat jam 7 malam?]

Dengan kata lain: Flexibel tidak harus belajar tapi sudah bisa sendiri. Tapi konsisten harus dipaksakan barulah bisa konsisten.

 

---###$$$###---

 

Pertanyaan berikutnya: Apakah dengan KONSISTEN anda pasti bisa untung main saham?

Tidak juga.

Lah?

Konsisten tidak serta-merta membuat anda pasti untung main saham. Tapi dengan KONSISTEN anda akan tahu apa yang harus terus dilakukan dengan KONSISTEN dan apa yang harus dirubah.

Maksudnya?

Kalau anda KONSISTEN dan hasilnya untung, lanjutkan.

Kalau anda KONSISTEN dan hasilnya rugi berarti ada yang salah. Cari sumber kesalahan tersebut dan perbaiki.

Artinya: setelah KONSISTEN melakukan sesuatu dan hasilnya (relatif) buruk, itulah saatnya anda perlu  (flexibel) merubah cara anda. Lalu coba lakukan cara yang baru tersebut dengan KONSISTEN.
 
Coba anda bandingkan:

Kalau anda berubah-rubah dan hasilnya untung, yang mana yang harus dilanjutkan?

Kalau anda berubah-rubah dan hasilnya rugi, yang mana yang harus diperbaiki?
 
 
Kesimpulannya: Dengan main saham secara KONSISTEN lambat laun anda akan menemukan cara yang cocok untuk meraih untung di bursa saham.
 
 
[Pos ini ©2021 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Wednesday, January 27, 2021

Haruskah Belajar Analisa Fundamental Agar Untung Main Saham?

Apakah dengan belajar Analisa Fundamental anda pasti bisa untung dari investasi/main saham?

Dengan kata lain: Haruskah anda belajar Analisa Fundamental agar bisa untung main saham?

Jawabannya adalah: TIDAK harus belajar Analisa Fundamental agar bisa untung main saham.

Kenapa saya begitu yakin?

Di halaman "About" saya tulis bahwa sejak tahun 2003 saya sudah meninggalkan Analisa Fundamental dan beralih penuh ke Analisa Teknikal. Sampai sekarang saya masih main saham dan bisalah untung sedikit-sedikit.

Kalau begitu, pikir anda dalam hati, berarti kalau mau untung main saham harus belajar Analisa Teknikal?

Mau tahu jawabannya?

Silahkan lanjut baca ke pos "Haruskah Belajar Analisa Teknikal Agar Untung Main Saham?"

 

 

Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2021 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

 

Sunday, November 15, 2020

Pilih Mana: Main Saham Untung atau Rugi Sedikit?

I believe in being a B++. I believe that the happiest and best position to occupy in life is somewhere comfortably above average, but not too exceptional. This means that you can be quite successful, if you want to be, without being too neurotic about it. The top is too exposed, too vulnerable.

Lucy Kellaway, Financial Times, Monday, 03 January 2005, page 4.

 

Terjemahannnya kira-kira begini:

Saya percaya (kelebihan) menjadi seorang B++. Saya percaya bahwa posisi paling baik dan bahagia dalam kehidupan adalah jauh di atas rata-rata, tapi tidak terlalu luar biasa. Ini berarti anda bisa cukup sukses, kalau anda mau, tapi tidak perlu terlalu berharap. Posisi paling atas terlalu terekspos, terlalu berbahaya.

 

---###$$$###--- 


Bagaimana dengan anda?

Apakah anda selalu bercita-cita, berambisi, menjadi yang terbaik, yang teratas, yang terhebat? Menjadi manusia A?

Atau anda puas kalau sudah berkecukupan? Cukup naik kelas, cukup naik jabatan, cukup makan? Menjadi manusia B++?

Nah, mayoritas pemain saham berambisi meraih nilai A.

Masa sih? tanya dalam hati hati.

Setiap pemain saham, termasuk pemula, berambisi untuk meraih untung (nilai A). (Hampir) Tidak ada yang berambisi untuk RUGI sedikit (nilai B).

Tapi faktanya berlawanan dengan ambisi: mayoritas pemain saham (pemula) rugi. Ada yang rugi kecil (nilai C), ada yang rugi besar (nilai D), ada yang rugi sangat besar (nilai F).

Kalau faktanya seperti itu, tidakkah sebaiknya ambisi untung itu direvisi turun menjadi tidak rugi?

Nah, seperti yang saya tulis di pos Target Laba Main Saham, target seorang pemula adalah untuk RUGI TIDAK TERLALU BANYAK. Untuk seorang pemula, rugi tidak terlalu banyak ini adalah nilai B++.

Kalau begitu anda pilih yang mana: berambisi untung tapi nyatanya rugi banyak, atau berambisi rugi sedikit dan nyatanya rugi sedikit?

 

 

Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2020 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Thursday, October 25, 2018

Main Saham Tidak Pernah Rugi. Mungkinkah?

Di pos "Main Saham Cepat Kaya?", seorang pembaca, Septian Benny, bertanya:

"Mas, menurut anda apakah tidak ada investor yang tidak pernah rugi dalam bermain saham? Saya adalah pemula, apakah dengan membeli saham BUMN menjadikan saya aman dari kerugian?"


Saya rasa kekhawatiran Bung Septian Benny adalah kekhawatiran mayoritas pemula yang berniat mulai main saham. Mereka ingin main saham tapi takut rugi.

Kekhawatiran ini sangat masuk akal. Semua orang terjun main/investasi/trading saham karena pengen untung. Bukan rugi.

Jadi, mungkinkah main saham tapi tidak pernah rugi?

Figure 1. Dixit Card 03 from Dixit Revelations Board Game

Jawaban saya:

Menurut saya, TIDAK ADA investor/pemain saham yang tidak pernah rugi dalam bermain saham.

TIDAK ADA.

Tapi ini tergantung definisi anda apa yang dimaksud "rugi."

Banyak orang yang sahamnya turun menganggap belum rugi karena belum menjual.

Nah, hanya karena anda belum menjual tidak berarti anda belum rugi.

Memang, anda bisa "hold" saham tersebut dan berharap saham naik ke atas harga beli anda. Tapi kenyataan pada saat itu tidak bisa dipungkiri: saham turun dan anda rugi (kalau harus jual saat itu). Lagipula, tidak ada jaminan bahwa harga saham akan naik lagi. Bagaimana kalau kebalikannya yang terjadi: saham turun terus?

Merasa belum rugi karena belum menjual saham adalah salah satu cara pemain saham membohongi diri sendiri bahwa ia belum rugi.

Lalu, bagaimana sebaiknya?

Kalau saya sih selalu memakai harga terakhir untuk mengukur apakah posisi saya untung/rugi. Artinya, kalau harga saham turun dari harga beli, saya anggap sudah rugi. Tidak peduli apakah saham tersebut sudah saya jual atau belum.

Menjawab pertanyaan anda tentang "apakah dengan membeli saham BUMN menjadikan saya aman dari kerugian?": Membeli saham BUMN juga tidak menghindarkan anda dari kemungkinan rugi. Membeli saham apapun berpotensi rugi, tidak terkecuali saham BUMN, saham blue-chip, saham perusahaan ternama.

Yang harus dicamkan: Untung main saham artinya anda mendapat untung lebih banyak daripada rugi. Tidak berarti anda tidak pernah rugi.


---###$$$###---


Kesimpulan:

Secara faktual, (hampir) TIDAK MUNGKIN anda tidak pernah rugi saat bermain saham.

Secara psikologis, BISA SAJA anda tidak pernah rugi saat bermain saham (kalau anda menganggap saham turun belum dijual berarti belum rugi).


---###$$$###---


Informasi tambahan: sudah cukup lama saya SELALU RUGI saat main saham. Tapi nilai portofolio investasi/main saham saya naik.

Kok bisa?

Mau tahu? Silahkan lanjut baca ke pos, "Selalu Rugi tapi Nilai Portofolio Saham Naik. Kok Bisa?" [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2018 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Friday, August 24, 2018

Kuliah Apa Agar Bisa Untung Main Saham?

Di pos "Investasi Saham atau Trading Saham, Mana Lebih Baik? (Bagian II)" seorang pembaca blog ini, Nandini, bertanya, ". . . kuliah S2 apa ya kalo saya ingin berkarir jadi di broker di suatu perusahaan (nantinya sih berkhayal hanya bekerja dari rumah)."

Intinya, Nandini ingin tahu jurusan pendidikan formal apa yang bisa mempersiapkan dirinya agar bisa untung main saham.

Figure 1. University Card from 7 Wonders Board Game

 Jawaban saya:

Saya pribadi berpendapat bahwa belum ada jurusan PENDIDIKAN FORMAL yang mempersiapkan seseorang untuk berkarir sebagi "pemain" (investor atau trader) saham.

Mengejar gelar MBA mungkin mempersiapkan anda untuk mengelola keuangan perusahaan, tapi tidak mempersiapkan anda untuk mengelola portofolio saham.

Lagipula, hampir semua teori tentang investasi ataupun portofolio saham yang diajarkan di universitas adalah teori yang dibuat profesor-profesor yang bukan pemain saham. Teori-teori mereka mungkin bagus, tapi banyak asumsi-asumsi yang dipakai tidak sesuai dengan kondisi pasar sesungguhnya.

Kalau anda tidak percaya pendapat saya, saya harap anda percaya pada Peter Lynch dan Joel Greenblatt (dua orang penulis buku best-seller tentang investasi saham).

Peter Lynch (penulis buku "One Up on Wall Street") dan Joel Greenblatt (penulis buku "The Little Book that Still Beats the Market" dan "You Can Be a Stock Market Genius") berpendapat bahwa pendidikan MBA tidak banyak membantu untuk sukses bermain saham. Perlu anda ketahui bahwa Peter Lynch dan Joel Greenblatt adalah investor saham ulung. Dan mereka punya gelar MBA dari universitas ternama. Tapi mereka dengan gamblang menyatakan bahwa gelar MBA tidak banyak membantu mereka menjadi investor saham ulung.

Jadi, saran saya adalah agar anda TERJUN LANGSUNG ke dunia transaksi saham. Tapi dalam proses belajar, janganlah mencemplungkan uang dalam jumlah nominal besar.

Terjun langsung bisa dengan langsung menjadi pemain saham, atau bisa juga dengan bekerja di perusahaan broker saham.

Kalau anda mau mahir mancing ikan, anda tidak perlu kuliah 4 tahun untuk belajar biologi ikan. Akan lebih produktif kalau anda langsung memancing ikan di kolam/laut mendompleng pemancing atau nelayan yang sudah berpengalaman.

Pesan moral:

Pendidikan formal bukan faktor penting untuk sukses main saham. Walaupun anda tidak lulus SD—asalkan anda bisa baca, tulis, hitung (duit) dan rajin berlatih jual beli saham—anda tetap berpeluang sukses main saham.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2018 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Monday, April 3, 2017

Belajar Main Saham Perlu Duit

Beberapa saat lalu saya, abang saya mengirimkan pesan WhatsApp berjudul "Kisah Nyata Soal Pedagang Glodok."

Menurut saya, tulisan tersebut bagus dan relevan dengan blog ini. Di bawah ini adalah tulisan lengkap pesan tersebut:


Ko Abun sepanjang hidupnya rajin cari uang dan sangat hemat dalam membelanjakan uangnya.

Pada usia 25 tahun dia menikahi gadis cantik anak koleganya.

Umur 37 Abun sudah memiliki deposito 30 milyar di bank, tapi hidupnya tetap sederhana dan banyak makan makanan yang berlemak.

Abun tidak pernah piknik, dan tidak pernah beramal saking hematnya.

Usia 42 tahun Abun kena serangan jantung dan meninggal, meninggalkan warisan 45 milyar.

Istrinya kemudian kawin sama mantan pelayan tokonya.

Si pelayan toko bilang, "selama ini aku pikir aku kerja buat ko Abun, tahunya dia yang kerja buat saya."

Jadi, sebelum anda jadi Abun yang meninggalkan janda kaya, nikmatilah hidup dan gunakan uangmu untuk beramal, jadi orang baik.


D U I T

Duit...tak bisa dibawa mati, tapi tak ada duit rasanya mau mati.

Duit...tak bisa beli kasih sayang, tapi kasih sayang bisa melayang bila tak ada duit.

Duit...tak bisa beli tidur nyenyak, tapi tak ada duit tidur pun tak nyenyak.

Duit...tak bisa beli kesehatan, tapi untuk sehat diperlukan duit.

Duit...tak bisa beli kebijaksanaan, tapi untuk mendapatkan ilmu diperlukan duit.

Duit...orang bodoh nampak cerdik bila ada duit, tapi orang cerdik nampak bodoh bila tak ada duit.

Duit...bukan segalanya, tapi segalanya perlu DUIT.


(Catatan: Mohon maaf saya tidak tahu siapa penulis asli tulisan tersebut sehingga tidak memberi kredit kepada sang penulis. Kalau anda tahu siapa penulis aslinya, mohon informasikan.)


---###$$$###---


Pesan moral yang saya dapatkan dari tulisan di atas:

1. Duit bukan segalanya, tapi (hampir) segalanya perlu duit.

2. Kalau mau mendapatkan ilmu main saham, anda harus rela keluar duit.

3. Kalau anda seorang pegawai dan mau kaya mendadak, carilah bos seperti ko Abun.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Wednesday, December 28, 2016

Benarkah Anda Benar-benar Ingin Main Saham?

Mengapa anda tertarik untuk belajar investasi/trading/main saham?

Tebakan saya: anda ingin mendapatkan untung besar. Ingin menjadi kaya. Atau, kalau sudah kaya, ingin tambah kaya.

Benar gak?

"Ah, bung Iyan tahu aja nih," jawab anda sambil senyum-senyum kecil. Lalu anda sambung dengan bertanya,"Emangnya motivasi ini salah?"

Tidak. Tidak salah.

Tapi. . .

Jangan main saham (atau melakukan hal apapun) hanya SEMATA-MATA demi uang.

Kok begitu?

Jim Koch, pendiri The Boston Beer Co. yang memproduksi bir Samuel Adams, berkata:

"When you think about starting a business, try to find one that you think will make you happy. Because the chances it is going to make you rich are really pretty small, but the chances it will make you happy are pretty big," Koch said. "And what would you rather be? Happy or rich? You know, unless you're a sociopath, you'd rather be happy."

(http://www.cnbc.com/2016/09/29/sam-adams-founder-unless-youre-a-sociopath-being-happy-is-better-than-being-rich.html?__source=newsletter|eveningbrief)

Bahasa Indonesianya kira-kira berbunyi:

"Ketika anda berpikir untuk memulai suatu usaha, cari usaha yang anda pikir akan membuat anda bahagia. Karena kemungkinannya sangat kecil usaha tersebut akan membuat anda kaya, tapi kemungkinannya cukup besar untuk membuat anda bahagia," kata Koch. "Dan anda lebih memilih mana? Bahagia atau kaya? Anda tahu, kecuali anda seorang sociopath, anda lebih memilih bahagia."


----###$$$###----


Jangan salah mengira bahwa Jim Koch (dan saya) mengkhotbahi anda untuk tidak suka uang.

Bukan begitu.

Dalam menjalani hidup, kita semua perlu uang. Uang penting.

Tapi yang harus anda juga ingat adalah bahwa uang bukanlah segalanya. Dan uang bukanlah hal terpenting dalam hidup.

Coba anda pikirkan: kalau tanpa (membayar dengan) uang anda bisa mendapatkan apa yang anda inginkan/butuhkan, apakah anda perlu uang?

Lagipula, ketika anda mencapai titik tertentu, lebih banyak uang tidak akan membuat anda tambah bahagia.

Jadi, menurut saya, hidup akan terasa lebih berarti kalau anda melakukan sesuatu yang anda suka, sesuatu yang anda "enjoy."

Kalau begitu, pertanyaan berikutnya adalah: dari mana anda bisa tahu apakah anda "enjoy" main saham?

Satu-satunya cara adalah dengan MENCOBA main saham.

Nah, saat MENCOBA main saham, hal paling terpenting adalah memastikan anda TIDAK RUGI terlalu BANYAK.

Caranya?

Silahkan baca pos "Beli Saham. Jual Untung/Cut-Loss. Ulangi."

Mengapa penting memastikan agar anda TIDAK RUGI terlalu BANYAK?

Karena saya yakin seyakin-yakinnya bahwa anda tidak mungkin "enjoy" main saham kalau anda rugi sangat banyak.

Nah, setelah mencoba main saham beberapa saat, anda akan tahu jawaban apakah anda "enjoy" main saham atau tidak.

Kalau "enjoy," lanjutkan. Kalau tidak "enjoy," tidak perlu malu dan ragu untuk berhenti.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2016 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, December 3, 2016

Jalan Menuju Sukses Main Saham

Mau tahu jalan menuju sukses main saham?

Seperti kata pepatah "Banyak jalan menuju Roma," begitu juga dengan main saham: banyak jalan menuju sukses main saham. Tapi, jalan manapun yang anda tempuh, hampir pasti jalan tersebut tidak mulus seperti jalan tol tapi malahan penuh lubang berisi kerikil-kerikil tajam.

Kalau anda mengira bahwa menjadi kaya (atau profit setiap hari, atau mendapat passive income seumur hidup, atau tidak usah bekerja lagi, atau janji surga-janji surga lainnya) dari main saham adalah semudah membayar jutaan Rupiah untuk ikut seminar/pelatihan saham, silahkan lihat Figure 1 di bawah tentang "Road to Success" yang dipublikasikan perusahaan National Cash Register.

Figure 1. The Road to Success Allegorical Cartoon by the National Cash Register

Ketika anda menyusuri jalan menuju sukses main saham, anda akan menemui banyak tantangan, halangan, rintangan. Bukan itu saja, anda juga akan berhadapan dengan banyak orang yang berusaha membujuk rayu dan menjanjikan bahwa anda PASTI sukses dalam waktu singkat asalkan anda membeli produk/seminar/pelatihan yang mereka jual.

Siapa sih yang tidak tertarik untuk bisa untung tidak terbatas dengan cara membayar hanya beberapa juta Rupiah?

Masalahnya, kalau memang semudah itu untuk sukses main saham, rasa-rasanya sih tidak ada orang yang mau bekerja di bidang lain. Untuk apa susah-susah bekerja sebagai buruh, petani, pegawai swasta, pegawai negeri, pengusaha, atau bahkan pejabat kalau bisa mendapat penghasilan tidak terbatas hanya dengan duduk santai di depan komputer berjual-beli saham?

Coba anda pikirkan juga: kalau misalkan anda sama sekali tidak bisa main gitar/memasak/berenang dan ada orang yang menjanjikan bahwa anda PASTI bisa main gitar/memasak/berenang sehebat gitaris/koki/perenang kelas dunia dalam beberapa hari dengan syarat anda membeli gitar/kompor/baju renang yang mereka jual, apakah anda percaya?

(Kalau anda percaya dan hasilnya anda dirugikan, jangan salahkan si penjual. Yang salah adalah yang percaya.)

Mohon dicamkan: dalam hidup ini, TIDAK ADA JALAN PINTAS MENJADI MAHIR.

Satu-satunya cara untuk bisa menjadi ahli/mahir dalam suatu bidang adalah dengan berlatih berjam-jam setiap hari selama berhari-hari, berminggu-minggu, bertahun-tahun.

Anda tidak mungkin bisa mahir main gitar, piano, biola, saxophone kalau anda HANYA membayar guru untuk mengajari tapi anda tidak pernah latihan.

Anda tidak mungkin bisa mahir main bola basket, golf, sepakbola kalau anda HANYA ikut seminar/pelatihan tapi anda tidak pernah latihan.

Sekedar latihan saja tidak cukup.

Kalau mau bisa mahir main alat musik atau mahir olahraga tertentu, anda harus latihan berjam-jam setiap hari selama bertahun-tahun.

Begitu juga dengan main saham.

Anda tidak mungkin bisa mahir main saham hanya dengan membeli software atau ikut seminar/pelatihan selama beberapa hari. Anda harus berlatih berjam-jam setiap hari selama bertahun-tahun.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2016 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

    Sunday, March 2, 2014

    Resiko & Masalah "Value Investing" Bagi Pemula

    Anda baru saja selesai membaca buku tentang Warren Buffet, tentang bagaimana ia menjadi salah satu investor terkaya di dunia karena menerapkan investasi jangka panjang "value investing."

    Terinspirasi buku tersebut, anda memutuskan untuk mengikuti jejak Warren Buffet menjadi "value investor". Mulailah anda menyelami analisa fundamental untuk mencari saham yang value/nilai-nya murah. (Silahkan baca pos "Apa Inti Analisa Fundamental.")

    Anda mengumpulkan data-data perusahaan, membaca laporan keuangan, menghitung rasio finansial. Setelah 3 bulan kurang tidur melakukan semua hal ini, anda menemukan saham PT Bagus Murah (kode saham PTBM) seharga Rp 2000 per lembar yang menurut anda memenuhi kriteria "value investing."

    Keesokan harinya, anda memasukkan order untuk membeli saham PTBM di harga 1950. Sebelum sesi perdagangan selesai, order beli anda terlaksana.

    "Ah, PTBM," pikir anda, "engkau adalah langkah pertamaku untuk menjadi Warren Buffet Indonesia."

    Nah, sambil menunggu cita-cita anda terwujud, izinkan saya bertanya: pernahkah anda memikirkan, kalau PTBM "value"nya murah di Rp 2000, kenapa anda bisa mendapatkan saham tersebut bahkan di bawah harga yangmenurut andamurah tersebut?

    Yang pasti bukan karena anda pintar membujuk penjual untuk memberi diskon. Toh, membeli saham di bursa tidak ada interaksi langsung anda penjual dan pembeli.

    Juga bukan karena saham PTBM yang anda dapatkan adalah saham KW(kualitas)2 atau KW3 karena saham tidak ada KW1 atau KW2 atau KW3: semua saham KWnya sama.

    Kalau begitu, apa penyebab anda bisa membeli PTBM di harga yangmenurut andanilainya murah?

    Untuk menjawab pertanyaan ini, anda terlebih dulu perlu tahu definisi "value." Nah, Jean V. Dubois mendefinisikan "value" suatu benda sebagai berikut:


    " . . . . The value of thing is always relative to a particular person, is completely personal and different in quantity for each living human—'market value' is a fiction, merely a rough guess at the average of personal values, all of which must be quantitatively different or trade would be impossible."

    Bahasa Indonesianya kira-kira begini:

    Nilai suatu benda selalu tergantung pada masing-masing individu, adalah sepenuhnya personal dan berbeda kuantitasnya untuk setiap manusia—'nilai pasar' adalah fiksi, hanyalah tebakan kasar dari rata-rata nilai menurut setiap individu, yang mana kuantitasnya harus berbeda atau jual-beli tidak mungkin terjadi.


    Dalam konteks main saham, definisi di atas menyatakan bahwa anda bisa mendapatkan saham yang—menurut andanilainya murah HANYA KALAU ada individu-individu lain yang menjual saham tersebut.

    Nah, mengapa individu-individu tersebut bersedia menjual di hargayang menurut andamurah? Apakah karena mereka murah hati? Apakah karena mereka ingin anda menjadi Warren Buffet Indonesia?

    Tentu saja tidak.

    Alasan mereka menjual di harga tersebut adalah karena menurut mereka harga saham tersebut nilainya mahal. Oke, kalaupun tidak mahal, setidak-tidaknya tidak murah.

    Kok begitu?

    Karena kalau semua pemain saham merasa bahwa nilai saham tersebut murah, tidak ada seorangpun yang menjual dan anda tidak akan mendapatkan saham di harga tersebut.
     

    Nah, menurut anda (pembeli) harganya murah; menurut penjual harganya tidak murah. Jadi, siapa yang benar?

    Pertanyaan tersebut akan terjawab hanya dengan berjalannya waktu.

    Artinya, kalau di masa depan harga saham PTBM naik, berarti valuasi si pembeli yang benar. Kalau di masa depan harga saham PTBM turun, berarti valuasi si penjual yang benar.

    Oke, mari kita misalkan dulu bahwa saham naik: anda yang benar. Kalau hal ini terjadi, cerita selesai. Cita-cita anda menjadi Warren Buffet bisa segera menjadi kenyataan.

    Tapi, menurut anda sejujurnya, berapa besar kemungkinan hal ini terjadi?

    Anda seorang "value investor" pemula yang masih hijau, baru saja menyelami analisa fundamental selama beberapa bulan, baru pertama kali membeli saham. Penjual bisa saja sudah main saham puluhan tahun, mungkin juga adalah investor yang kantongnya tebal, yang sudah mengerti analisa fundamental dan teknikal luar-dalam sebelum anda lahir.

    Nah, berapa besar kemungkinan bahwa anda yang benar?

    Kalau anda objektif, anda akan menjawab, "Kemungkinannya kecil."

    Setuju.

    Oke, mari kita lanjut dengan kemungkinan kedua: saham turun, berarti penjual yang benar. Kalau hal ini yang terjadi, anda menghadapi masalah besar pertama anda sebagai "value investor."

    Masalah besar? Masalah besar gimana?

    Mari kita bahas.

    Menurut analisa anda saham PTBM nilainya murah di harga Rp 2000. Tapi setelah anda beli, PTBM bukannya naik tapi malahan turun. Dan turunnya tidak tanggung-tanggung; dalam 3 bulan PTBM turun dari harga beli anda di 1950 ke 1500.

    Nah, harga PTBM yang turun menandakan bahwa valuasi anda salah. Apa yang seharusnya anda lakukan kalau anda salah?

    Kalau anda salah, seharusnya anda cut-loss. (Silahkan baca pos "Cara Cut-Loss Untuk Stop Kerugian Saham.")

    Masalahnya, analisa fundamental hampir TIDAK PERNAH secara gamblang menganjurkan cut-loss. Oleh sebab itu, banyak "value investor" pemula yang menyimpulkan bahwa investasi jangka panjang tidak perlu cut-loss, bahwa kalau harga saham turun, langkah selanjutnya adalah menunggu. Menunggu apa? Menunggu harga saham naik. (Silahkan baca pos "Arti Istilah 'Trading Plan'.")

    Menunggu saham naik bisa menjadi masalah besar untuk investor jangka panjang. Tapi masih ada masalah lain yang lebih berbahaya lagi karena cukup banyak "value investor" yang "cerdas" memakai logika.

    Logika yang mereka pakai bunyinya begini: kalau PTBM murah nilainya di 2000, bukankah PTBM di harga 1500 berarti nilainya LEBIH MURAH lagi? Kalau lebih murah, bukankah sebaiknya ia membeli lagi PTBM di harga yang lebih murah ini?

    Tindakan membeli lagi di harga lebih murah biasa disebut dengan istilah "averaging down." (Silahkan baca pos "Arti Istilah 'Averaging Down' Saham.")

    Masalahnya, bagaimana kalau setelah anda "average down" PTBM di harga 1500, harga PTBM melanjutkan anjloknya, katakanlah, ke harga 1000. Kalau 1950 murah, 1500 lebih murah, bukankah 1000 SANGAT LEBIH MURAH? Kalau sangat lebih murah, bukankah seharusnya anda beli LEBIH BANYAK lagi di harga 1000?

    Kalau setelah ke-sekian kali anda "average down" lalu harga PTBM naik, anda mungkin bisa balik modal atau bahkan untung. Tapi bagaimana kalau PTBM turun anda "average down", PTBM masih turun anda tetap "average down", dan PTBM masih saja turun dan anda sudah tidak punya uang untuk "average down" lagi?

    Pada saat itu saya yakin anda mulai menerima kenyataan pahit bahwa "value investing" tidak semudah yang anda bayangkan. Dan cita-cita anda untuk menjadi Warren Buffet Indonesia harus ditunda dulu untuk beberapa saat.


    Pesan yang ingin saya sampaikan di pos ini adalah:
    1. Value investing sangat sulit, tidak semudah penjelasan di buku atau seminar tentang Warren Buffet.
    2. Anda bisa mendapatkan saham yang menurut anda nilainya murah HANYA KALAU ada individu lain yang menganggap saham itu nilainya mahal (atau setidak-tidaknya tidak murah).
    3. Saham yang menurut anda nilainya murah bisa turun dan menjadi lebih murah lagi.
    4. Cut-loss bukan hanya harus dilakukan untuk trading saham jangka pendek tapi juga harus dilakukan untuk investasi saham jangka panjang.
    5. Terus membeli saham yang sedang terus turun karena menurut anda nilainya semakin murah adalah tindakan bodoh.







    Pos-pos yang berhubungan:
    [Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

      Saturday, April 30, 2011

      Main Saham Bisa Untung Berapa?

      Pada pos “Main Saham IPO Bisa Untung Berapa?” saya menulis bahwa rata-rata laba main saham IPO adalah sekitar 1% dari modal. Itupun kalau untung. Bagaimana dengan main saham pada pasar regular? Untungnya bisa berapa?

      Banyak pemula berangan-angan untung besar dari main saham: mereka bermimpi untung 5-10% per bulan, atau 60-120% per tahun. Sebagai informasi, investor handal seperti Warren Buffet dan trader handal seperti George Soros hanya mendapat imbal-hasil rata-rata 20-30% per tahun. Kalau investor dan trader handal hanya mendapat untung 20-30% per tahun, masuk akalkah kalau pemula mengharapkan untung 60-120%?

      Kalau begitu, bagaimanakah ekspektasi yang masuk akal?

      Pada pos “Target Laba Main Saham (Bagian I)” saya menyarankan anda menentukan target keuntungan berikut:


      Pengalaman sampai dengan 2 tahun: Rugi kurang dari 20% per tahun
      Pengalaman 2 sampai dengan 6 tahun: Untung 10% per tahun
      Pengalaman di atas 6 tahun:Untung minimal 20% per tahun


      Dari target di atas, anda bisa lihat bahwa bagi pemula tidak rugi sudah merupakan prestasi yang membanggakan. Mengapa? 

      Karena siapapun yang punya modal untuk membuka rekening saham dapat langsung bertransaksi saham, tidak peduli apakah ia bisa atau tidak, mengerti atau tidak. Pemula yang tidak tahu apa-apa tentang saham harus langsung berlomba dengan pemain saham profesional yang sudah berpengalaman. Kalau saya ibaratkan dengan lomba renang, pemula yang baru belajar berenang harus berlomba dengan atlet renang nasional. Coba anda pikirkan, kira-kira siapa yang akan menang?

      Sebelum anda mulai main saham, sadarlah bahwa di bursa saham berlaku hukum rimba atau bahasa kerennya: Survival of the Fittest. Atau Smartest, atau Luckiest.






      Pos-pos yang berhubungan:
      [Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]