Showing posts with label investasi saham. Show all posts
Showing posts with label investasi saham. Show all posts

Tuesday, May 30, 2023

Bursa Efek Selayang Pandang

Selagi bersih-bersih, saya menemukan brosur Bursa Efek Selayang Pandang. Brosur tersebut sudah lawas, tapi isinya masih relevean untuk investor saham saat ini.

 
 
 Silahkan anda baca dan semoga bermanfaat.
 
 
 
 
Poin nomor 6, 7, dan 8 tentang "Apa yang menentukan pergerakan harga saham?" patut dicerna para pemain saham. 
 

 
 
Poin nomor 11 menyatakan bahwa anda harus mencari tahu sendiri cara bermain saham yang cocok untuk anda.


Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2023 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Sunday, December 26, 2021

Averaging Down: Tips & Saran

Apa itu "Averaging Down"?

Averaging Down dalam bermain saham artinya adalah membeli lagi saham (yang anda sudah punya) di harga lebih rendah dengan tujuan menurunkan harga beli rata-rata.

Di pos "Arti Istilah 'Averaging Down'" saya kemukakan bahwa secara umum, melakukan Averaging Down adalah tindakan yang salah.

Masalahnya, saya merasa bahwa banyak pemain saham sering melakukan Averaging Down. Mayoritas melakukan Averaging Down karena mereka tidak tahu bahwa itu tindakan yang salah. Tapi tidak sedikit pula pemain saham yang tahu bahwa Averaging Down adalah tindakan yang salah tapi tetap saja mereka lakukan.

Karena itu, di bawah ini saya akan memberikan tips dan saran Averaging Down agar tindakan yang salah tersebut tidak menjadi fatal.

 

Tips dan Saran "Averaging Down" Pertama

Karena tindakan Averaging Down secara umum adalah tindakan yang salah, saran saya yang pertama adalah: JANGAN melakukan Averaging Down.

Daripada melakukan Averaging Down, lebih baik anda cut-loss (jual rugi) saja saham tersebut.

Tapi mas Iyan, sergah anda, saya tidak mau cut-loss. 

Nah, kalau anda masih juga tidak mau cut-loss, silahkan lanjut ke Tips Kedua

 

Tips dan Saran "Averaging Down" Kedua

Kalau anda bersikukuh masih ingin melakukan Averaging Down walaupun sudah tahu bahwa tindakan itu salah, belilah lagi saham tersebut hanya kalau sudah turun (relatif) banyak.

Artinya begini: kalau anda punya saham CAPE dan CAPE biasanya bergerak naik-turun 10% per hari, JANGAN Average Down ketika CAPE turun hanya 10% (atau kurang) dari harga beli anda. Belilah CAPE kalau harganya sudah turun lebih dari 10%, misalkan 20 atau 30%.

Mengapa?

Karena kalau anda membeli lagi CAPE saat ia turun sedikit, dan CAPE masih turun lebih dalam, kerugian anda akan bertambah banyak.

Mohon diingat bahwa anda melakukan Averaging Down dengan harapan setelah anda beli CAPE lagi, CAPE akan berhenti turun dan berbalik naik. Masalahnya, kalau anda belinya terlalu dekat (dari harga beli pertama), kemungkian besar CAPE masih akan turun lebih dalam lagi.


Tips dan Saran "Averaging Down" Ketiga

Saat melakukan Averaging Down (pertama), belilah saham dalam jumlah relatif sedikit dari saham yang sudah anda miliki.

Artinya begini: Kalau anda sudah punya saham CAPE sebanyak 100 lot, dan saham CAPE turun dan anda mau membeli lagi, belilah lagi (pertama kali) dalam jumlah 50 lot atau kurang.

Artinya juga, JANGAN BELI saham yang di Average Down dalam jumlah LEBIH BANYAK dari yang sudah anda miliki.

Mengapa?

Masih alasan sama seperti di atas: setelah anda beli lagi saham CAPE, saham tersebut masih bisa turun lagi.



Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2021 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Monday, August 23, 2021

Kapan Saat Membeli Lagi Saham Yang Sudah Punya?

Tulis Gerald M. Loeb:

Belief that a stock is in buying range justifies a small initial purchase. If the stock declines, it should be sold at a small and quick loss. But if it advances and the indications which supported the original purchase continue favorable, additional purchase can be made at prices which the buyer still considers abnormally low. But once the price has risen into estimated normal or overvaluation areas, the amount held should be reduced steadily as quotations advance.

 

 

Kalau menurut anda saham layak dibeli, cobalah beli saham tersebut dalam jumlah (relatif) kecil. Kalau setelah itu harga saham turun, saham tersebut harus dijual cepat saat rugi masih sedikit. Tapi kalau harga saham naik, silahkan beli lagi saham tersebut kalau menurut anda harga masih (relatif) murah. Setelah harga saham naik ke harga wajar atau bahkan lebih dari wajar, sebaiknya saham tersebut dijual sedikit-demi-sedikit saat harga naik.


---###$$$###---

 

Menelaah tulisan Gerald M. Loeb di atas, anda bisa mendapatkan poin-poin berikut:

  1.  Kalau menurut anda saham layak dibeli, silahkan (coba) beli (dalam jumlah sedikit).
  2. Anda tidak tahu saham tersebut akan naik atau akan turun.
  3. Kalau turun, langsung cut-loss.
  4. Kalau naik, silahkan dipegang (saham yang sudah ada), atau boleh juga beli lagi kalau menurut anda harga saham masih akan naik lagi.
  5. Kalau naiknya sudah (relatif) banyak, silahkan mulai dijual sedikit-demi-sedikit. Tidak perlu langsung menjual semua.
  6. PENTING: Beli saat harga saham naik.
  7. Juga PENTING: Jangan menambah beli kalau harga saham turun. Kalau harga turun, CUT-LOSS.



Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2021 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

 

Thursday, June 5, 2014

Saham Termahal Di Bursa Efek Indonesia

Tahukah anda apa saham paling mahal saat ini secara Rupiah di Bursa Efek Indonesia?

Apakah saham Gudang Garam (GGRM)?

Harga (Close) GGRM di Rp 53.500 pada tanggal 03 Juni 2014 membuat GGRM masuk kategori saham mahal secara Rupiah. Tapi GGRM bukan saham paling mahal.

Gimana kalau HM Sampoerna (HMSP)?

Dengan harga Close Rp 68.400 pada tanggal 03 Juni 2014, HMSP lebih mahal daripada GGRM. Tapi, HMSP juga bukan saham paling mahal di Bursa Efek Indonesia.

Nyerah?

Saham paling mahal secara Rupiah di Bursa Efek Indonesia saat ini—Juni 2014adalah Multi Bintang Indonesia (MLBI). Harga (Close) MLBI pada tanggal 03 Juni 2014 adalah Rp 1.100.000 per saham.

[Catatan: Saham MLBI melakukan stock-split 1 saham lama menjadi 100 saham baru, Cum Date 05 November 2014.]

Anda tidak salah baca. Harga per lembar saham MLBI adalah satu juta seratus ribu rupiah.

Karena membeli saham di pasar regular BEI minimum adalah 1 lot dan sejak Januari 2014 satu lot adalah 100 lembar (silahkan baca pos "Dampak Perubahan Satuan Lot & Fraksi Harga Saham") berarti kalau anda mau membeli saham MLBI, anda harus menyiapkan uang minimum Rp 110 juta.

Perlu saya ingatkan bahwa saham ini TERMAHAL SECARA RUPIAH. Tapi secara analisa fundamental, saham tersebut belum tentu mahal. Bisa saja saham MLBI ini masih murah menurut indikator analisa fundamental tertentu. Silahkan baca pos "Apa Inti Analisa Fundamental." 

Dengan harga Rupiah mahal, apakah saham MLBI masih menarik untuk dibeli?

Terus terang saya tidak tahu.

Tapi menurut saya, pemain saham yang membeli MLBI bukan tipe trader karena saham ini tidak liquid (tidak banyak transaksinya). Pembeli MLBI kemungkinan besar adalah tipe investor jangka panjang yang mengharapkan dividen. (Kalau anda tidak tahu arti dividen, silakan baca pos "Arti Istilah 'Dividen' Saham.")

Nah, tentang dividen, pada bulan Juni 2014 ini MLBI akan membayarkan dividen final tahun 2013 dengan jadwal sebagai berikut:

Cum Dividen: 05 Juni 2014
Ex Dividen: 06 Juni 2014
Tanggal Pembayaran Dividen: 24 Juni 2014
Dividen per saham: Rp. 46.076.


Sedikit informasi tambahan tentang saham MLBI:

Harga tertinggi MLBI adalah Rp 1.500.000 per saham, terjadi pada bulan Mei 2013.

Harga MLBI di Januari 2009 adalah sekitar Rp 60.000.

Dividen per saham tahun 2009: Rp 16.150.
Dividen per saham tahun 2010: Rp 21.279.
Dividen per saham tahun 2011: Rp 24.074.
Dividen interim per saham tahun 2012: Rp 6.950.
Dividen final per saham 2012: Rp 14.566
Dividen interim per saham tahun 2013: Rp 9.500.
Dividen final per saham tahun 2013: Rp 46.076.

(Sumber: Laporan Keuangan Multi Bintang Indonesia di multibintang.co.id dan Data KSEI untuk saham MLBI.)


Mari kita berandai-andai.

Misalkan anda membeli MLBI di tahun 2009 di harga Rp 60.000. Jumlah dividen yang anda dapat dari tahun 2009 sampai dengan Juni tahun 2014 adalah Rp 138.595. Setelah dipotong PPh (pajak penghasilan) dividen 15%, jumlah yang anda terima Rp 117.805.

Dividen selama 5 tahun terakhir ini hampir 2 x lipat harga beli saham MLBI tersebut. Jadi kalau anda memegang saham MLBI sejak tahun 2009, saham tersebut sudah terbayar dari dividen yang anda dapat. Dan anda masih mengantongi dividen hampir selipat dari harga beli saham.

Tambahan lagi, saham MLBI anda masih laku dijual Rp. 1.100.000 per lembar, 19 x lipat dari harga beli. Jadi total jenderal anda mendapat untung 20 x lipat dalam 5 tahun.

Nah, kalau saya adalah investor jangka panjang, saham yang akan saya pegang untuk jangka panjang adalah saham seperti MLBI ini.

Aaah, berandai-andai emang enak ya.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Monday, April 28, 2014

Cara Investasi Saham Jangka Panjang Dengan Analisa Teknikal

Banyak pemula main saham mengira bahwa satu-satunya analisa untuk investasi saham jangka panjang adalah analisa fundamental.

 Salah.

Mereka juga mengira bahwa analisa teknikal hanya untuk trading saham jangka pendek.

 Juga salah.

Memang, kebanyakan investor jangka panjang adalah penganut analisa fundamental. Tapi ini tidak berarti analisa teknikal tidak bisa digunakan untuk investasi saham jangka panjang.

Tidak percaya?

Silahkan baca buku Secrets for Profiting in Bull and Bear Markets yang ditulis Stan Weinstein. Di buku ini Stan Weinstein menjelaskan dengan rinci cara investasi saham jangka panjang dengan analisa teknikal.

Figure 1. Cover Buku Stan Weinstein Secrets for Profiting in Bull and Bear Markets

[Catatan: Melihat foto Stan Weinstein di cover buku tersebut, anda mungkin menerka bahwa ini buku jadul. Betul, buku ini pertama kali terbit tahun 1988 dan bisa dikategorikan jadul.  Tapi konsep yang ditawarkan Stan Weinstein tetap relevan untuk saat ini.]


Filosofi yang diajukan Stan Weinstein adalah sebagai berikut:

1. Never buy or sell a stock without checking the chart.

Jangan pernah membeli atau menjual saham tanpa mengecek grafik saham.

2. Never buy a stock when good news comes out, especially if the chart shows a significant advance prior to the news release.

Jangan pernah membeli saham ketika keluar berita bagus, terutama bila terlihat di grafik bahwa harga saham sudah naik banyak sebelum berita keluar.

3. Never buy a stock because it appears cheap after getting smashed. When it sells off further, you'll find out that cheap can become far cheaper!

Jangan pernah membeli saham karena kelihatannya murah setelah harga saham anjlok banyak. Ketika saham turun lebih dalam lagi, anda akan tahu bahwa yang murah bisa menjadi lebih murah.

4. Never buy a stock in a downtrend on the chart.

Jangan pernah membeli saham yang grafiknya downtrend. (Belum tahu arti istilah downtrend? Silahkan baca pos "Arti Istilah Saham Trending Trendless.")

5. Never hold a stock that is in downtrend no matter how low the price/earnings ratio. Many weeks later and several points lower, you'll find out why the stock is going down.

Jangan pernah memegang saham yang sedang downtrend tak peduli seberapapun rendah price/earnings ration-nya. [Kalau anda belum tahu arti price/earnings ration, silahkan baca pos "Arti Istilah Price-to-Earnings Ratio."] Beberapa minggu kemudian dan beberapa point lebih rendah, anda akan tahu mengapa saham tersebut turun.

6. Always be consistent. If you find that you're sometimes buying, sometimes selling in practically identical situations, then there is something terribly wrong with your discipline.

Selalu konsisten. Kalau anda kadang membeli, kadang menjual pada situasi yang sama persis, berarti ada masalah besar dengan disiplin anda.

Figure 2. Hal-hal Yang Harus Diperhatikan di Grafik Menurut Stan Weinstein

Jadi kalau anda ingin investasi saham jangka panjang tapi tidak minat membaca laporan keuangan perusahaan, silahkan pelajari cara investasi saham yang dijabarkan Stan Weinstein di buku Secrets for Profiting in Bull and Bear Markets.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

    Tuesday, October 15, 2013

    Jawab Pertanyaan Ini Sebelum Investasi Saham

    Anda tertarik untuk memulai investasi saham? Sebelum anda mengambil langkah lebih lanjut, ada baiknya anda jawab dulu pertanyaan berikut:

    Apakah anda sudah punya rumah?

    Lho? anda bertanya dalam hati. Gak salah tuh? Saya kan mau investasi saham, bukan properti. Kok malah ditanya sudah punya rumah atau belum?

    Mungkin anda merasa tidak ada hubungan antara investasi saham dengan memiliki rumah/tempat tinggal sendiri. Tapi Peter Lynch di buku One Up on Wall Street menyatakan bahwa pertanyaan tersebut adalah hal pertama yang harus anda jawab sebelum anda memutuskan untuk mulai investasi saham. (Silahkan baca pos "Mau Investasi Saham? Baca Dulu Buku Peter Lynch 'One Up on Wall Street' (Bagian I).")

    Mengapa begitu? Apa sebenarnya hubungan memiliki rumah sendiri dengan investasi saham?

    Memang tidak ada hubungan langsung. Tapi menjawab pertanyaan di atas akan menuntun anda menentukan prioritas yang benar.

    Artinya?

    Artinya: sebelum anda berinvetasi saham, anda harus terlebih dahulu mencukupi kebutuhan primer anda.

    Kok gitu?

    Mari kita bahas bersama.

    Anda masih ingat 3 kebutuhan primer manusia?

    Betul: pangan, sandang, papan.

    Nah, kalau sampai anda berpikiran mau investasi saham, saya berasumsi bahwa anda sudah makan cukup dan sudah berpakaian layak. Dengan kata lain, kebutuhan pangan dan sandang anda sudah terpenuhi.

    Tapi bagaimana dengan kebutuhan papan alias rumah tinggal? Saya yakin saat ini anda sudah punya tempat tinggal. Tapi mungkin saja tempat tinggal itu bukan milik anda sendiri. Mungkin anda tinggal di rumah orang tua atau di rumah saudara. Bisa juga anda tinggal di rumah sewa atau kontrakan atau kos.

    Dengan kondisi seperti itu dan kalau anda punya tabungan, mana yang harus didahulukan: beli rumah atau investasi saham? 

    Menurut saya, jawaban pertanyaan ini sangat jelas: beli rumah.

    (Catatan: "beli rumah" yang saya maksud tidak harus berarti membeli rumah secara kontan. "Beli rumah" yang saya maksud termasuk membeli rumah dengan mencicil atau KPR.)

    Mengapa?

    Anda butuh rumah untuk berteduh, bersantai, beristirahat, membina keluarga. Dengan memiliki rumah sendiri anda tidak perlu lagi bayar sewa. Lagipula, harga rumah kemungkinan besar akan naik karena inflasi dan karena makin berkurangnya lahan.

    Coba anda bandingkan dengan saham.

    Saham tidak bisa anda pakai untuk berteduh, bersantai, beristirahat, membina keluarga. Saham juga tidak bisa anda gunakan untuk memenuhi kebutuhan jasmani apapun (secara langsung).

    Dengan kata lain, anda tidak perlu investasi saham untuk bisa hidup nyaman tapi anda perlu rumah milik sendiri untuk bisa hidup nyaman.

    Nah, satu-satunya alasan anda investasi saham adalah untuk mencari untung. Laba. Profit. Tapi berapa besar kemungkinan anda (seorang pemula) mendulang untung dari saham? Kecil, sangat kecil. (Silahkan baca pos "Main Saham Cepat Kaya?") Malahan, jauh lebih besar kemungkinan anda rugi. Dan kalau rugi, kerugiannya bisa amat sangat besar. Uang Rp 1 Milyar yang anda belikan saham bisa saja tersisa hanya Rp 10 juta.

    Berbeda dengan rumah. Anda membeli rumah untuk tempat tinggal, untuk berteduh, bersantai, istirahat, membina keluarga. Tapi pada saat yang bersamaan, harga rumah kemungkinan besar akan naik. Kalaupun tidak naik, tidak masalah. Toh rumah tersebut anda gunakan untuk kebutuhan jasmani anda. Yang tidak kalah penting, rumah yang anda beli seharga Rp 1 Milyar hampir tidak mungkin harganya turun menjadi Rp 10 juta.

    Nah, perlu saya perjelas di sini bahwa saya TIDAK menyarankan anda untuk investasi properti. Saya bukan pakar properti dan tidak kompeten memberi saran tentang investasi properti. Yang saya sarankan adalah anda memenuhi kebutuhan primer/utama dulu sebelum berpikir untuk investasi saham. Karena rumah adalah salah satu kebutuhan utamakalau anda belum punya SATU rumah milik sendirisebaiknya anda dahulukan beli rumah dan tunda niat anda investasi saham.

    Tapi, protes anda, saya cuma punya uang Rp 1 juta. Bagaimana bisa beli rumah dengan uang segini? Apakah tidak sebaiknya saya lipat-ratuskan uang Rp 1 juta tersebut supaya saya bisa bayar down-payment (dp) membeli rumah?

    Protes anda masuk akal.

    Kalau anda belum punya rumah dan ingin mencoba main saham dengan modal Rp 1 juta, saya rasa tidak ada salahnya anda coba untuk menghapus rasa penasaran anda.

    Ada 3 alasan mengapa saya menyatakan begitu.

    Pertama, anda benar bahwa uang Rp 1 juta (kemungkinan) tidak cukup untuk membayar uang-muka/down-payment membeli rumah.

    Kedua, kalaupun anda rugi Rp 1 juta (alias rugi 100%), kerugian ini secara Rupiah relatif kecil. Artinyadengan asumsi Upah Minimum Regional sekitar Rp 2 jutaanda hanya perlu bekerja setengah bulan untuk mencari ganti kerugian ini.

    Ketiga, kalau akhirnya anda sadar bahwa tidak mudah melipatratuskan uang anda dengan main saham, besar kemungkinan anda akan memprioritaskan membeli rumah dulu.

    Nah, anjuran beli rumah dulu sebelum investasi saham lebih relevan kepada anda yang sudah menabung bertahun-tahun untuk membeli rumah. Jadi kalau anda sudah menabung puluhan atau ratusan juta rupiah untuk uang-muka KPR rumah, jangan berganti haluan dan menggunakan uang tersebut untuk investasi saham.

    Ingat: Beli rumah dulu. Kalau sudah punya rumah sendiri, barulah pertimbangkan investasi saham.








    Pos-pos yang berhubungan:
    [Pos ini ©2013 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

      Saturday, June 4, 2011

      Enam Kategori Saham Menurut Peter Lynch

      Menurut Peter Lynch, saham bisa dibagi dalam enam kategori. Dengan memilah saham ke dalam kategori-kategori ini anda tahu kira-kira apa yang bisa anda harapkan dari mereka.

      Slow Growers (Bertumbuh lamban)
      Harga saham relatif tidak akan naik tinggi. Anda cuma berharap mendapat dividen.

      Stalwarts (Bertumbuh menengah)
      Jual saham ini kalau sudah naik 30-50%.

      Fast Growers (Bertumbuh cepat)
      Ini adalah kategori saham yang diincar Peter Lynch dengan harapan mendapat untung ratusan persen. Jangan mengharapkan dividen; harapkan harga saham naik kencang. Buy-and-hold (beli-dan-pegang) selama perusahaan masih berkembang dan harga saham masih naik.

      Cyclicals (Bersiklus)
      Timing sangat penting untuk kategori saham ini. Belilah ketika harga saham sudah sangat rendah ketika kondisi ekonomi terpuruk dan juallah ketika harga saham naik kala ekonomi membaik. Saham ini bukan untuk di buy-and-hold selamanya.

      Turnarounds (Berubah arah)
      Ini adalah perusahaan yang bangkit dari koma. Anda tidak perlu buru-buru membeli saham jenis ini. Jangan beli ketika si pasien baru melek setelah koma bertahun-tahun. Belilah ketika si pasien siap-siap keluar dari rumah sakit.

      Asset Plays (Aset terpendam)
      Investor handal biasanya adalah yang pertama menyadari adanya aset terpendam pada suatu perusahaan. Ia akan perlahan-lahan membeli saham perusahaan tersebut; lambat laun harga saham pun akan terkerek naik. Belilah ketika anda tahu ada pihak-pihak tertentu yang membeli terus saham ini. Jual ketika aset "terpendam" tersebut sudah diketahui masyarakat luas.







      Pos-pos yang berhubungan:
      [Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

      Saturday, October 16, 2010

      Investasi Saham atau Trading Saham, Mana Lebih Baik? (Bagian II)

      Protected by Copyscape Online Plagiarism Tool

      Pos ini adalah lanjutan dari "Investasi Saham atau Trading Saham, Mana Lebih Baik? (Bagian I)."

      Setelah membaca Bagian I, anda mungkin menjadi bingung dan bertanya, "Jadi sebenarnya mana yang lebih baik, investasi saham atau trading saham?"

      Saya tidak bermaksud membingungkan anda tetapi ingin menunjukkan satu prinsip penting yang harus anda pegang jika mau sukses main saham:

      Hanya karena pakar menganjurkannya, tidak berarti hal itu baik untuk anda.
       

      [Prinsip ini harus juga anda terapkan pada semua saran di blog ini: jangan ditelan bulat-bulat; bandingkan dulu dengan kondisi anda.]

      Mengapa?

      Karena anjuran pakar sifatnya umum tetapi anda adalah unik. Begini contohnya: pakar kesehatan menganjurkan kita untuk berolahraga, suatu anjuran yang baik. Tapi "berolahraga" itu tidak spesifik. Apakah artinya kita harus angkat beban atau lari atau berenang atau main badminton? Apakah kita harus melakukannya setiap hari, dua hari sekali, tiga hari sekali, atau setiap minggu? Kalau berolahraga melebihi kemampuan fisik, kita malahan bisa sakit atau cedera, bukannya sehat.

      Jadi, untuk menentukan apa yang baik untuk kita, kita jangan menerima langsung semua yang dianjurkan pakar, tetapi harus terlebih dahulu menganalisa diri kita sendiri. Untuk menjawab pertanyaan "Mana yang lebih baik, investasi saham atau trading saham" anda harus terlebih dahulu menimbang tiga hal berikut:

      1. Tingkat kesabaran anda
      2. Waktu yang dialokasikan
      3. Toleransi terhadap resiko

      Tingkat kesabaran

      Kalau anda tipe sabar, investasi lebih cocok; kalau tidak sabar, trading lebih cocok.

      Saya rasa ini cukup jelas. Jika anda tipe tidak sabar tapi memilih strategi beli-dan-pegang, anda akan tergoda menjual ketika saham baru naik sedikit. Setelah anda jual, saham mungkin akan naik dan terus naik. Anda kehilangan kesempatan untung lebih banyak karena ketidaksabaran anda.


      Waktu yang dialokasikan

      Kalau anda tidak bisa meluangkan banyak waktu, jangan memilih trading. Pilihlah investasi.

      Investasi jangka panjang memberi anda kesempatan untuk mengambil keputusan tanpa buru-buru. Strategi ini juga membebaskan anda dari keharusan memantau harga saham setiap menit.


      Lain dengan trading. Kalau anda memilih trading tapi anda sering sibuk dengan kegiatan lain, saham anda mungkin sudah turun ketika anda sempat memantau harganya.


      Toleransi terhadap resiko

      Kalau anda punya toleransi tinggi terhadap resiko, pilih investasi; kalau tidak, pilih trading.

      Kalimat di atas terdengar kontradiktif, tapi tidak demikian. Investasi jangka panjang berarti kita beli-dan-pegang saham terus menerus.
      Artinya, seorang investor harus tahan mental melihat saham yang ia miliki turun dari Rp 5000 ke 4000 ke 3000 ke 2000 ke 1000. Selama kondisi perusahaan memenuhi kriteria yang ia terapkan, si investor tetap memegang saham tersebut.

      Tapi perlu juga anda perhatikan bahwa selama anda memegang saham suatu perusahaan, kondisi perusahaan bisa berubah dari baik menjadi buruk karena hal-hal yang tidak kita perhitungkan.

      Ada baiknya saya ilustrasikan dengan contoh. Misalnya kita beli-dan-pegang saham pabrik A di harga Rp 1000. Setelah 1 tahun, saham itu naik menjadi 1200. Anda senang karena, di atas kertas, sudah untung 20%. Tiba-tiba pabrik A hangus dilalap api. Saham A anjlok dari Rp 1200 menjadi 500. Dalam sekejab, posisi untung 20% berbalik menjadi rugi 50%. Saham A mungkin saja naik lagi ke 1200, tapi tidak ada jaminan hal itu akan terjadi. Kalaupun terjadi, mungkin memakan waktu lama.

      Berbeda dengan trading. Trading berarti kita hanya memegang saham dalam waktu pendek. Kalau saham naik, kita jual; kalau turun sampai titik cut loss, juga kita jual. Kita tidak terpengaruh oleh resiko perusahaan atau resiko pasar jangka panjang.

      Saya sendiri memilih menjadi trader karena toleransi saya terhadap resiko sangatlah rendah. Saya tidak tahan melihat saham yang saya miliki turun. 

      Misalkan saya membeli saham KIJA di 165. Beberapa hari kemudian KIJA turun ke 155. Untuk investor buy-and-hold, posisi rugi Rp 10 (6%) adalah hal yang tidak perlu dipikirkan. Tapi bagi saya, kerugian 6% ini membuat saya tidak enak makan, tidak enak tidur. Daripada tidak bisa tidur, lebih baik KIJA tersebut saya jual dan menelan rugi 6%.

      Setelah menganalisa tiga hal di atas, anda siap menentukan sendiri mana yang lebih baik untuk anda, investasi saham atau trading saham. 






      Pos-pos yang berhubungan:
      [Pos ini ©2010 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

      Saturday, October 9, 2010

      Investasi Saham atau Trading Saham, Mana Lebih Baik? (Bagian I)

      Protected by Copyscape Online Plagiarism Tool

      Sejak Warren Buffet menjadi orang kedua terkaya di dunia versi majalah Forbes pada tahun 1990an, hampir semua pakar menyatakan bahwa satu-satunya strategi main saham yang menghasilkan adalah investasi saham jangka panjang (buy-and-hold) seperti yang dilakukan Mr. Buffet. Kalau anda tidak percaya, si pakar akan menyebut nama Warren Buffet. Lah, wong orang yang melakukan investasi saham buy-and-hold berhasil menjadi orang terkaya di dunia, berarti buy-and-hold adalah strategi terbaik, begitu argumentasi si pakar.

      Namun sejak tahun 2008, kala Amerika diterpa krisis sub-prime mortgage yang membangkrutkan Lehman Brothers, banyak orang mulai bertanya-tanya apakah buy-and-hold adalah satu-satunya strategi tepat main saham. Mengapa baru timbul keraguan saat itu? Tidak lain karena investor yang beli-dan-pegang saham Amerika sejak tahun 2000 sampai dengan 2008 mendapat imbal hasil nol, bahkan negatif.

      Kalau beli-dan-pegang tidak menguntungkan pada periode tersebut, mungkinkah strategi trading saham lebih baik?

      Mungkin saja. 


      Tapi untuk menentukan mana yang lebih baik, kita harus membandingkan imbal hasil (return) kedua strategi tersebut. Nah, di sini kita dihadang masalah. Di satu pihak kita dapat dengan mudah menghitung imbal hasil buy-and-hold: kita hanya perlu membandingkan harga saham waktu kita beli dan harga saham sekarang. Tapi di pihak lain kita sulit menentukan imbal hasil trading saham karena ada ribuan bahkan jutaan cara melakukan trading. Dengan begitu banyaknya cara trading saham, yang manakah yang layak kita pakai sebagai bahan perbandingan?

      Memang, secara teoritis trading saham bisa jauh lebih menguntungkan daripada buy-and-hold. Begini maksud saya: kalau kita bisa membeli saham di harga terendah tahunan (low of the year) dan menjual di harga tertinggi pada tahun itu (high of the year), dan melakukan itu setiap tahun selama bertahun-tahun, imbal hasil kita akan amat sangat lebih tinggi dari strategi beli-dan-pegang. 


      Masalahnya, tidak pernah ada satu orangpun yang berhasil melakukan hal ini dan hampir tidak mungkin ada yang bisa melakukan hal ini secara konsisten.

      Mungkin kesulitan yang saya sebut di atas adalah alasan lain (selain Warren Buffet sang investor buy-and-hold yang menjadi orang terkaya di dunia) mengapa pakar selalu merekomendasi strategi beli-dan-pegang saham. Dengan menganjurkan strategi ini si pakar dapat dengan mudah menghitung imbal hasil dari data yang ada. "Kalau anda mulai buy-and-hold pada tahun 2000," kata si pakar, "sekarang ini investasi anda naik 5%. Tapi kalau anda mulai sejak tahun 1990, investasi tersebut sudah naik 500%." 


      Tapi kalau si pakar merekomendasikan trading, ia sulit menghitung imbal hasil teoritis yang kita dapat karena ia tidak tahu harus memakai data yang mana. Daripada sulit menjelaskan, lebih baik ia merekomendasikan beli-dan-pegang saja.

      Nah, kalau tidak ada data imbal-hasil trading saham untuk kita bandingkan dengan strategi beli-dan-pegang, bagaimana kita bisa menyatakan mana yang lebih baik?


      Lanjut ke "Investasi Saham atau Trading Saham, Mana Lebih Baik? (Bagian II)"








      Pos-pos yang berhubungan:
      [Pos ini ©2010 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]