Showing posts with label pemula. Show all posts
Showing posts with label pemula. Show all posts

Friday, July 10, 2015

Cara Terbaik Belajar Main Saham

Bagaimana cara terbaik belajar main (trading/investasi) saham? 

Apakah harus kuliah di universitas? Atau harus ikut training/pelatihan/seminar tentang trading/investasi saham? 

Figure 1. Cover Buku Stephen King "On Writing"

Stephen King menulis di buku On Writing:

You don't need writing classes or seminars any more than you need this or any other book on writing. . .
You learn best by reading a lot and writing a lot, and the most valuables lessons of all are the ones you teach yourself.

Terjemahannya kira-kira begini:
Anda tidak perlu ikut kelas atau seminar menulis seperti juga anda tidak perlu buku ini ataupun buku lain tentang menulis. . .
Anda belajar terbaik dengan banyak membaca dan banyak menulis, dan pelajaran paling berharga adalah pelajaran yang anda ajarkan pada diri sendiri.

"Tapi bung Iyan," celetuk anda. "Emangnya apa sih hubungan menulis dengan main saham?"

Tidak ada hubungan langsung antara menulis dengan main saham.

Tapi ada hubungan langsung antara cara belajar menulis dan cara belajar main saham.

Kok bisa?

Kalau anda menggantikan kata "menulis" dengan "main saham", nasehat Stephen King menjadi sangat relevan untuk belajar saham:

Anda tidak perlu ikut kelas atau seminar main saham seperti juga anda tidak perlu buku ini atau buku lainnya tentang main saham. . .
Anda belajar terbaik dengan banyak membaca dan banyak main saham, dan pelajaran paling berharga adalah pelajaran yang anda ajarkan pada diri sendiri.

Saya sangat setuju dengan wejangan Stephen King.

Nah, sebelum memulai main saham, anda perlu banyak membaca buku-buku tentang trading saham ataupun investasi saham yang ditulis pemain saham berpengalaman. Cari dan belajarlah dari buku yang membahas pengalaman, cara analisa, strategi, psikologi, logika, konsep, suka-duka bermain saham.

Hindari buku-buku yang ditulis orang yang pengalamannya KURANG dari 10 tahun.  Sedapat mungkin, hindari buku-buku yang judulnya bombastis (Cara Mudah Kaya dari Saham, Kaya dari Saham Hanya dengan Analisa 30 Menit, dan sejenisnya).

Hindari juga buku-buku yang yang isinya penuh janji surga, hanya bicara yang manis-manis, dan tidak memaparkan resiko yang akan anda hadapi saat bermain saham. Buku-buku seperti ini, biasanya, hanyalah kamuflase untuk menjual seminar, software, atau trading system.

"Jadi, bung Iyan," kata anda, "buku apa saja yang perlu saya baca?"

Daftar buku-buku saham yang bagus bisa anda lihat di halaman "Buku."

Nah, membaca buku-buku berkualitas bagus akan membuat anda tahu cara benar bermain saham.

Tapi . . .

Belajar main saham adalah seperti belajar menulis atau belajar melukis. Atau belajar main bulutangkis. Atau belajar main piano.

Anda tidak akan bisa main piano hanya dengan membaca buku cara main piano. Anda juga tidak akan bisa main piano hanya dengan kuliah di fakultas musik atau ikut pelatihan/seminar/workshop tentang cara bermain piano.

Satu-satunya cara agar anda bisa main piano dengan baik adalah dengan duduk di depan piano dan berlatih memainkan piano tersebut. Berjam-jam, berhari-hari, bertahun-tahun.

Begitu juga dengan main saham.

Anda tidak akan bisa main saham hanya dengan membaca buku cara main saham. Anda juga tidak akan bisa main saham hanya dengan kuliah di fakultas saham atau ikut pelatihan/seminar/workshop tentang bermain saham.

Satu-satunya cara agar anda bisa main saham dengan baik adalah dengan berlatih membeli dan menjual saham. Berkali-kali, berhari-hari, bertahun-tahun.

Tapi berbeda dengan berlatih piano, berlatih membeli dan menjual saham ada resiko ruginya. Dan kerugian ini bisa berjumlah besar dan terjadi dalam waktu yang singkat.

Kalau anda merugi besar berkali-kali, modal anda akan ludes. Kalau modal ludes, anda tidak bisa lagi berlatih membeli dan menjual saham.

Jadi, saat mulai belajar main saham, hal terpenting yang harus anda camkan adalah agar modal anda tidak habis dalam waktu singkat.

Dengan kata lain, anda sendirilah yang HARUS mempertahankan modal selama mungkin sehingga anda bisa terus berlatih membeli dan menjual saham.

Perlu anda ketahui bahwa saat mulai belajar main saham, anda (hampir) PASTI akan merugi.

(Mungkin anda bisa untung untuk beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun. Tapi suatu saat anda akan merugi. Dan kerugian ini hampir pasti lebih besar dari SEMUA keuntungan yang telah anda peroleh.)

Nah, yang membedakan apakah anda bisa naik kelas menjadi pemain saham berpengalaman adalah apakah anda keukeh terus belajar walaupun didera kerugian.

Anda bisa keukeh terus belajar membeli dan menjual saham kalau anda merugi tidak lebih dari 20% per tahun untuk beberapa tahun pertama. Tapi kalau kerugian anda mendekati 100% dari modal (atau bahkan lebih karena menggunakan fasilitas pinjaman/margin), mau-tidak-mau suka-tidak-suka harus berhenti membeli dan menjual saham.

Tambahan lagi, kerugian yang besar akan sangat menyiksa secara psikologis. Jadi, walaupun bisa mendapatkan suntikan modal baru, kemungkinan besar anda sudah kapok bermain saham.

"I see, I see," kata anda sambil menganguk-anggukan kepala. "So, bung Iyan, bagaimana caranya mempertahankan modal selama mungkin?"

Ingin tahu jawabannya? Silahkan baca pos "Beli Saham. Jual Untung/Cut-Loss. Ulangi."






   
Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2015 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Friday, April 18, 2014

Bijaksanakah Membeli/Menjual Saham Hanya Berdasarkan Bid/Offer?

Menjelang pemilihan caleg (atau calon bupati atau calon gubernur atau calon presiden atau calon-calon lainnya) anda mungkin melihat baliho-baliho pas foto raksasa caleg disertai pesan seperti ini: "Mohon doa restu. Coblos Akil Modar, nomor urut 4 dari PSK (Partai Suka Korupsi)."

Selain baliho, para calon juga menempel poster di tembok, pagar, tiang listrik.

"Pilih saya," kata poster yang satu, "Jujur menjalankan amanat rakyat."

"Anti-korupsi," kata poster yang lain tidak mau kalah gombal. "Pilihlah saya."

Pertanyaan saya: Ketika tiba saatnya anda untuk memilih, apakah anda memilih berdasarkan janji surga, slogan gombal, pepesan kosong di baliho atau poster si caleg?

"Tentu tidak," jawab anda. "Hanya orang bodoh saja yang percaya pada kata-kata bohong seperti itu."

"Kalau anda tidak memilih berdasarkan baliho dan poster," tanya saya, "bagaimana cara anda menentukan pilihan?"

"Saya memilih berdasarkan track-record dan prestasi masa lalu si calon," jawab anda. "Kalau ia seorang incumbent (petahana), saya akan lihat apakah ia merealisasikan janji-janjinya pada pemilu sebelumnya. Kalau ia belum pernah menjabat, saya akan coba melihat track-record dan prestasi di pekerjaan terdahulunya."

100% setuju.

Anda memilih TIDAK berdasarkan iklan, janji, slogan yang digembuskan si caleg. Anda memilih berdasarkan hasil nyata, berdasarkan fakta dan bukti.

Amat sangat bijaksana.

"Tapi," tanya anda, "apa hubungan pemilihan caleg dengan pos ini yang berjudul Bijaksanakah Membeli/Menjual Saham Berdasarkan Bid/Offer?"

Sudah saya tunggu-tunggu pertanyaan ini.

Hubungannya adalah:
Membeli saham hanya berdasarkan Bid/Offer sama saja dengan memilih caleg hanya berdasarkan baliho atau poster.

Hah?

Mari kita bahas.

Di pos "Istilah 'Bid' dan 'Offer' Ketika Bermain Saham" saya mendefinisikan Bid dan Offer sebagai berikut:

Figure 1. Tampilan Bid/Offer Inco 17 April 2014 di HOTS Daewoo Securities

Bid = penawaran beli, minat beli, antri beli.
Offer = penawaran jual, minat jual, antri jual.

Nah, yang namanya minat beli tidak berarti pasti dapat; yang namanya minat jual tidak berarti pasti laku.

Hanya karena anda berminat menjadi pacar Taylor Swift tidak berarti anda akan menjadi pacar Taylor Swift. Minat anda akan terlaksana hanya kalau Taylor Swift bersedia menjadi pacar anda. 

Dengan kata lain, Bid (minat beli) anda akan terlaksana hanya kalau ada pihak lain yang menjual saham ke anda pada harga Bid tersebut; Offer (minat jual) anda akan terlaksana hanya kalau ada pihak lain yang membeli saham dari anda pada harga Offer tersebut.

Masalahnya, sebelum minat beli dan/atau minat jual anda terlaksana, banyak hal yang bisa terjadi dan bisa anda lakukan.

Salah satu hal penting yang bisa anda lakukansebelum order Bid/Offer terlaksanaadalah membatalkan (withdraw) atau merubah (amend) Bid/Offer tersebut secara sepihak.

Agar lebih jelas, mari kita lihat ilustrasi berikut:

Misalkan harga WTON saat ini adalah 800 dan anda memasang Bid 100 lot di 750. Memasang Bid ini ibaratnya anda berkata pada pasar, "Kalau WTON turun ke 750, gue mau beli 100 lot."

Beberapa saat kemudian saat WTON turun ke 755, anda berkata dalam hati, "Harga 750 kayaknya masih terlalu mahal. Gue turunin aja deh ke 730."

Karena order Bid anda belum terlaksana, anda boleh saja mencabut Bid di 750 dan memasukkan order baru Bid di 730. Ini ibaratnya anda berkata pada pasar, "Kalau WTON turun ke 730, baru deh gue beli."

Saat WTON turun ke 735, anda bergumam, "Kok WTON turun terus ya. Turunin Bid ke 700 aja ah."

Dan hal ini bisa anda lakukan berulang-ulang di bursa. Dan hal ini sah-sah saja.

(Kalau anda berbelanja di pasar dan terus-menerus menurunkan harga penawaran anda, siap-siap saja dibacok si penjual.

"Kaos ini 10.000 boleh gak, bang?"

"11.000 deh."

"Kalau 9.000 boleh gak, bang?"

"Hah?! Tadi nawar 10.000. Kok malah turun 9.000? Boleh deh 10.000"

"Kalau 8.000 boleh gak, bang?"

"Elo mau belanja atau main-main sih? Kalau gak minat, enyah aja deh!")

 
Dari ilustrasi di atas, anda bisa melihat bahwa Bid dan Offer adalah ibarat pepesan kosong, ibarat omdo (omong doang) di bursa saham. Dan di bursa saham, omdo ini bisa saja dipakai pihak-pihak tertentu untuk mempengaruhi pasar.

Artinya, bisa saja pihak-pihak tertentu (bandar) menempel Bid untuk membuat kesan seakan-akan saham tersebut banyak yang mau beli. Atau sebaliknya, bisa juga si bandar menempel Offer untuk membuat kesan seakan-akan saham tersebut banyak yang mau jual. Untuk lebih jelas, silahkan baca pos "Dampak Perubahan Satuan Lot dan Fraksi Harga Saham (Bagian 3).

Pemula yang melihat Bid berjumlah puluhan ribu lot mungkin saja berkesimpulan, "Wah, saham ini banyak yang mau beli. Sebelum ketinggalan, lebih baik saya beli sekarang juga." Masalahnya, bisa saja setelah anda beli, si bandar mencabut Bid dan saham melorot. Saat itu anda hanya bisa gigit jari menyadari sudah digombalin bandar.

Kebalikannya: pemula yang melihat Offer berjumlah puluhan ribu lot mungkin saja berkesimpulan, "Wah, saham ini banyak yang mau jual. Daripada saham saya tidak laku-laku, lebih baik saya jual sekarang juga." Masalahnya, bisa saja setelah anda jual, saham malah meroket.

Nah, sekarang anda sudah tahu bahwa Bid dan Offer bisa jadi hanyalah pepesan kosong. Pertanyaannya: Bagaimana cara yang benar menyikapi pepesan kosong ini?

Cara yang benar adalah untuk TIDAK membeli ataupun menjual saham hanya berdasarkan Bid dan Offer.

Anda memilih caleg tidak berdasarkan janji-janji surga di baliho dan poster. Anda seharusnya juga tidak membeli saham hanya berdasarkan Bid dan Offer.

"Tapi, bung Iyan," kata anda masih kurang puas, "masa sih posisi Bid/Offer tidak ada gunanya sama sekali untuk memilih saham?"

Oke, sebenarnya ada cara membaca Bid/Offer untuk menentukan apakah saham layak dibeli. Mau tahu? Silahkan lanjut baca ke pos "Cara Membeli Saham Berdasarkan Bid/Offer." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.] 






Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Sunday, February 16, 2014

Support & Resistance Saham: Arti, Definisi, Makna, Karakteristik (Bagian 3)

Pos ini adalah lanjutan dari pos "Support & Resistance: Arti, Definisi, Makna, Karakteristik (Bagian 2)."

Untuk membaca seri ini dari awal, silahkan klik di sini "Support & Resistance: Arti, Definisi, Makna, Karakteristik (Bagian 1)."

 
Dari pos sebelumnya anda sudah sudah tahu makna Support & Resistance bagi pemain saham. Sekarang tiba saatnya kita membahas karakteristik Support & Resistance.


Karakteristik Support & Resistance

Ada 3 karakteristik Support & Resistance yang penting anda ketahui:


1. Support & Resistance tergantung pada indikator* yang anda pakai.

Apa arti dari pernyataan ini?

Artinya, titik Support & Resistance menurut indikator yang satu akan berbeda dengan titik Support & Resistance menurut indikator yg lain.

Dengan kata lain, titik Support & Resistance menurut garis Trend akan berbeda dengan titik Support & Resistance menurut Moving Average, berbeda dengan titik Support & Resistance menurut Parabolic SAR, berbeda dengan titik Support & Resistance menurut titik Fibonacci Ratio, berbeda juga dengan titik Support & Resistance menurut Pivot Point. Dan seterusnya.

Karena beraneka-ragamnya indikator Analisa Teknikal, dan karena masing-masing pemain saham kemungkinan besar memakai indikator yang berbeda, ini berarti pula bahwa—untuk saham PGAS, misalnyatitik Support & Resistance menurut anda kemungkinan besar berbeda dengan titik Support & Resistance menurut saya, berbeda pula dengan titik Support & Resistance menurut analis dari perusahaan broker anda.

[* Catatan: yang saya maksud "indikator" di sini mencakup tidak hanya indikator Analisa Teknikal pada umumnya tapi juga termasuk price-action (gerak harga), tampilan grafik, skala grafik, dan lain-lain.] 



2. Support & Resistance tergantung bingkai waktu grafik yang anda pilih.

Grafik/chart yang paling umum dipakai pemain saham (Indonesia) adalah grafik harian (daily chart). Perlu anda ketahui bahwa selain grafik harian, ada juga grafik dalam bingkai waktu lebih panjang (grafik mingguan/Weekly chart, grafik bulanan/Monthly chart), dan grafik dalam bingkai waktu lebih pendek (misalnya grafik 60-menit/60-minute chart).

Nah, titik Support & Resistance di bingkai waktu (time frame) yang satu akan berbeda dengan titik Support & Resistance di bingkai waktu yang lain.

Artinya, titik Support & Resistance di Daily Chart akan berbeda dengan titik Support & Resistance di Weekly Chart, akan berbeda pula dengan titik Support & Resistance di Monthly Chart, akan berbeda pula dengan titik Support & Resistance di 60-minutes chart.

(Tentang apa manfaat melihat grafik dengan bingkai waktu berbeda akan saya bahas di pos tersendiri di masa depan.)

Apa pengaruh bingkai waktu pada Support & Resistance?

Pada umumnya, semakin pendek bingkai waktu yang anda pilih, makin sempit rentang antara Support & Resistance. Contoh: kalau misalkan Support & Resistance jangka pendek KIJA adalah 220 & 235 (rentang Rp 15), Support & Resistance jangka lebih panjangnya bisa jadi adalah 200 dan 260 (rentang Rp 60).



3. Resistance yang  tertembus secara meyakinkan akan beralih peran menjadi Support; Support yang tertembus secara meyakinkan akan beralih peran menjadi Resistance.

John J. Murphy di buku Technical Analysis of the Financial Market menyatakan bahwa peralihan peran ini adalah aspek yang sangat menarik tapi tidak banyak diketahui orang.

(Mungkin pada waktu John J. Murphy pertama kali menulis tentang hal ini, karakteristik ini belum diketahui banyak orang. Tapi untuk sekarang ini, karakteristik ini wajib dipahami semua analis teknikal.)

Bagaimana Resistance beralih peran menjadi Support? Bagaimana Support beralih peran menjadi Resistance? Sebelum saya menjelaskan hal ini lebih detil, silahkan anda perhatikan dulu Figure 3 dan Figure 4 di bawah ini.


Figure 3. Resistance Berubah Menjadi Support [Source: Technical Analysis of The Financial Market, p.62]

Figure 4. Support Berubah Menjadi Resistance [Source: Technical Analysis of The Financial Market, p.62]

Mengapa Resistance bisa beralih peran menjadi Support?

Akan lebih mudah dimengerti kalau saya jelaskan dengan ilustrasi.

Misalkan sudah beberapa kali anda perhatikan bahwa kalau saham WSKT (Waskita Karya) yang anda miliki naik ke harga 600, setelah itu ia berbalik turun. Hal ini anda artikan bahwa Resistance WSKT ada di harga 600.

Nah, ketika WSKT naik lagi ke harga 600, anda memasang Offer jual di 600. Setelah laku, dasar lagi apes, kali ini WSKT tidak berbalik turun tapi malah terus naik.

605, 610, 615, 620, 625, 630.

"Saham sialan," umpat anda ke monitor komputer. "Begitu gue jual, dia langsung naik. Nanti kalau turun ke 600, gue beli lagi deh."

Keesokan hari WSKT benar turun: 625, 620, 615, 610, 605.

Anda lekas-lekas memasang order beli (Bid) di 600. Tapi masalahnya, bukan cuma anda yang berpikiran seperti itu. Pemain saham lain yang belum sempat membeli WSKT juga berniat membeli di 600 dan memasukkan order Bid 600. Alhasil, volume Bid di 600 menjadi sangat tebal.

Anda menunggu sambil berdoa agar order beli anda lekas "match" (terlaksana). Celakanya, sebagian pemain saham lain tidak sabar menunggu. Mereka bersedia membeli lebih mahal sedikit dan mulai membeli di harga 605. Karena aksi beli ini, pemain saham lainnya ikut-ikutan memborong saham ke atas. WSKT bergerak naik lagi: 605, 610, 615, 620, 625, 630.

Dari ilustrasi ini anda bisa melihat bahwa Resistance WSKT di 600 sekarang beralih peran menjadi Support.


Bagaimana dengan kebalikannya: mengapa Support bisa beralih peran menjadi Resistance?

Misalkan juga sudah beberapa kali anda perhatikan bahwa kalau saham BSDE turun sampai ke Rp 1000, setelah itu ia berbalik naik. Hal ini anda artikan bahwa Support BSDE ada di harga 1000.

Nah, ketika BSDE turun lagi ke 1000, anda memasang order beli di 1000. Banyak juga pemain saham lain yang memasang order Bid di 1000 karena—kalau tebakan anda dan mereka benar—BSDE seharusnya berbalik naik setelah menyentuh harga 1000.

Beberapa menit kemudian order beli anda "match" (terlaksana). Tapi lagi-lagi masih apes, kali ini BSDE tidak berbalik naik tapi melanjutkan turunnya.

990, 980, 970, 960, 950.

Anda kecewa berat karena kondisi anda sekarang rugi.

Tapi, keesokan harinya, BSDE merangkak naik. 960, 970, 980, 990.

"Nah, kalau BSDE naik ke 1000," pikir anda,"akan gue jual saham tolol itu. Rugi fee biarin dah, daripada rugi lebih banyak lagi."

Berdasarkan niat tersebut, Anda memasang jual (Offer) di 1000. Masalahnya, bukan cuma anda yang berpikir seperti itu; pemain saham lain yang membeli BSDE di 1000 juga berpikiran sama: mereka juga memasang Offer jual di 1000. Alhasil volume Offer di 1000 sangat tebal.

Anda menunggu sambil berdoa agar BSDE anda lekas laku. Celakanya, sebagian pemain saham lain tidak sabar menunggu. Mereka bersedia rugi sedikit dan mulai menjual di harga 990. Karena aksi jual ini, pemain saham lainnya ikut-ikutan menjual ke bawah. BSDE bergerak turun lagi: 990, 980, 970...930.

Dari ilustrasi di atas, anda bisa lihat bahwa Support BSDE di 1000, sekarang beralih peran menjadi Resistance.

Nah, sekarang anda sudah tahu bahwa Resistance yang  tertembus secara meyakinkan akan beralih peran menjadi Support dan Support yang tertembus secara meyakinkan akan beralih peran menjadi Resistance. Tapi hal yang lebih penting anda pahami adalah implikasi/pengaruh karakteristik ini bagi anda sebagai pemain saham.

Apa pengaruh karakteristik ini bagi pemain saham? Silahkan lanjut baca ke pos "Support & Resistance Saham: Arti, Definisi, Makna, Karakterstik (Bagian 4)." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

    Wednesday, January 15, 2014

    Support & Resistance Saham: Arti, Definisi, Makna, Karakteristik (Bagian 2)

    Pos ini adalah lanjutan dari pos "Support & Resistance: Arti, Definisi, Makna, Karakteristik (Bagian 1)." 


    Setelah membaca pos "Support & Resistance: Arti, Definisi, Makna, Karakteristik (Bagian 1)" anda sudah tahu bahwamenurut sayabahasa Indonesia Support adalah Penopang, Resistance adalah Penghalang.

    Anda juga sudah tahu definisi Support dan Resistance ala John J. Murphy dan definisi Support dan Resistance ala Iyan.

    Sekarang saatnya saya coba menjawab pertanyaan: apa makna Support dan Resistance untuk pemain saham?


    Makna Support dan Resistance

    Apakah ada gunanya tahu Support dan Resistance?

    Nah, sebelum kita diskusi lebih lanjut, anda perlu tahu bahwa Support dan Resistance adalah salah satu konsep dari Analisa Teknikal. Kalau anda membahas Support dan Resistance, berarti anda sedang membicarakan Analisa Teknikal. (Analisa Fundamental tidak mengenal Support dan Resistance.)

    Jadi, mengapa Analisa Teknikal mempelajari Support dan Resistance?

    Mari kita bahas.

    Anda masih ingat definisi Support dan Resistance ala Iyan? Nih, saya tulis ulang di sini:

    Support/Penopang adalah titik/kisaran harga di mana saham yang sedang turun berbalik arah menjadi naik.
    Resistance/Penghalang adalah titik/kisaran harga di mana saham yang sedang naik berbalik arah menjadi turun.

    Pertanyaan saya untuk anda:

    Kalau anda tahu titik/kisaran harga di mana saham yang sedang turun akan berbalik arah menjadi naik, kira-kira apa yang akan anda lakukan?

    Coba anda pikirkan.

    Satu lagi pertanyaan saya untuk anda:

    Kalau anda tahu titik/kisaran harga di mana saham yang naik akan berbalik arah menjadi turun, kira-kira apa yang akan anda lakukan?

    Coba anda pikirkan juga.

    Sudah?

    Coba bandingkan jawaban anda dengan jawaban saya di bawah ini.

    Kalau anda tahu titik/kisaran harga di mana saham yang sedang turun akan berbalik arah menjadi naik, anda SEHARUSNYA membeli saham tersebut di titik/kisaran harga tersebut.

    Mengapa?

    Karena—kalau anda benar—setelah anda beli, saham akan naik dan anda bisa menjual saham tersebut di harga lebih tinggi dan mendapat untung.

    Wow, gumam anda dalam hati.

    Kalau anda tahu titik/kisaran harga di mana saham yang naik akan berbalik arah menjadi turun, anda SEHARUSNYA menjual saham tersebut di titik/kisaran harga tersebut.


    Mengapa?

    Karena—kalau anda benar—setelah anda jual, saham akan turun dan anda bisa (kalau mau) membeli kembali saham tersebut di harga lebih murah. Kalaupun anda tidak niat membeli kembali saham tersebut, anda sudah menjual saham di harga paling tinggi.

    Wow, wow, wow.

    Nahseperti yang sering saya katakanitu teorinya. Prakteknya tidak semudah itu.

    Perhatikan bahwa pada kalimat di atas saya menambahkan bagian "—kalau anda benar—".

    Masalahnya, tidak ada yang tahu PASTI di mana titik/kisaran di mana gerak harga saham akan berbalik arah.

    Hah? Terus gimana dong? teriak anda.

    Tenang, Bro and Sis. 

    Kalau anda sudah baca pos "Valuasi Indeks Saham Indonesia Terlalu Tinggi?" anda tahu bahwa, menurut saya, semua analisa saham, ujung-ujungnya adalah nebak.

    Tapi, kalau anda sudah baca pos "Arti Istilah Saham Trending, Trendless (Bagian II)" anda juga tahu bahwa dengan menggunakan Analisa Teknikal kita bisa menebak apakah gerak saham sedang uptrend, downtrend, atau sideway. Saya tulis juga bahwa di pos tersebut: "Dengan analisa teknikal juga kita bisa menebak apakah gerak saham cenderung akan lanjut atau cenderung berubah arah."

    Nah, dengan Analisa Teknikal jugalah kita akan mencoba menebak titik/kisaran Support dan Resistance suatu saham.

    Apakah mudah?

    Sama sekali tidak. Menebak Support dan Resistance malahan sangat sulit

    Apakah tebakan kita pasti benar?

    Tidak juga.

    Sulit dan tidak pasti benar, gerutu anda. Ngapain dipelajari?

    Karena, walaupun sulit dan belum tentu selalu benar, menebak Support dan Resistancekalau lagi benarakan sangat menguntungkan.

    Tambahan lagi, untuk analis teknikal, titik Support dan Resistance sering dipakai sebagai "execution point" atau titik eksekusi untuk membeli atau menjual saham. Jadi, dengan berusaha menebak Support dan Resistance, anda akan membeli saham di kisaran Support dan menjual saham di kisaran Resistance. Tidak cuma asal-asalan.

    Terus, gimana cara menebak titik Support dan Resistance? tanya anda penuh semangat.

    Sabar, sabar. Jangan keburu nafsu gitu ah. Sebelum kita berdiskusi bagaimana cara menentukan/menebak Support dan Resistance, anda perlu tahu dulu karakteristik dari Support dan Resistance.

    Mari kita lanjut ke karakteristik Support dan Resistance. Silahkan lanjut baca ke pos "Support & Resistance: Arti, Definisi, Makna, Karakteristik (Bagian 3)."






    Pos-pos yang berhubungan:
    [Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

      Wednesday, January 8, 2014

      Support & Resistance Saham: Arti, Definisi, Makna, Karakteristik (Bagian 1)

      Kala menonton atau mendengar analis saham ngoceh di TV atau radio, anda mungkin pernah mendengar kalimat "...saham Astra Agro Lestari (AALI) Support di 1200, Resistance di 1360." Mendengar kedua kata ini, mungkin anda selalu bertanya dalam hati ,"Support dan Resistance ini sebenarnya apaan sih?"

      Kabar gembira! Anda tiba di tempat yang tepat karena Support dan Resistance adalah topik yang akan saya bahas di pos ini.

      Untuk memudahkan pemahaman, pembahasan Support dan Resistance akan saya mulai dengan membahas padanan bahasa Indonesia kata Support dan Resistance, dilanjutkan ke definisi, lalu makna Support dan Resistance bagi pemain saham, dan diakhiri dengan sifat-sifat dasar (karakteristik) Support dan Resistance. 



      Bahasa Indonesia Support dan Resistance

      Agar bisa lebih mudah mengerti Support dan Resistance, langkah pertama adalah mencari padanan kata Support dan Resistance dalam bahasa Indonesia.

      Setelah saya pikirkan berbulan-bulan, saya rasa saya menemukan kata-kata yang cocok. Menurut saya:

      Support = Penopang

      Resistance = Penghalang

      Anda mungkin bertanya: Penopang apa dan Penghalang apa?

      Karena kita sedang membicarakan saham, penopang dan penghalang yang saya maksud adalah Penopang dan Penghalang harga saham, lebih tepatnya Penopang dan Penghalang gerak harga saham.



      Definisi Support dan Resistance

      Mengapa disebut Support dan Resistance?

      Nah untuk menjawab pertanyaan ini anda harus tahu lebih dulu definisi kedua kata ini dalam konteks main saham.

      Menurut John J. Murphy di buku Technical Analysis of The Financial Market (saya intisarikan):

      Support is a price level or area on the chart where buying interest is sufficiently strong to overcome selling pressure. Usually a support level is identified by a previous trough.
      Support/Penopang adalah titik/kisaran harga pada grafik di mana minat beli cukup kuat untuk mengalahkan tekanan jual. Biasanya titik support adalah lembah sebelumnya
      Resistance is a price level or area on the chart where selling pressure is sufficiently strong to overcome buying interest. Usually a resistance level is identified by a previous peak.
      Resistance/Penghalang adalah titik/kisaran harga pada grafik di mana tekanan jual cukup kuat untuk mengalahkan minat beli. Biasanya titik resistance adalah puncak sebelumnya.

      (Kalau anda belum tahu atau sudah lupa apa itu "lembah" dan "puncak" pada grafik saham, silahkan baca pos "Definisi Uptrend, Downtrend, Sideway.")

      Agar anda lebih mudah mengerti, silahkan lihat Figure 1 dan Figure 2 di bawah.

      Figure 1. Support dan Resistance Pada Uptrend [Source: Technical Analysis of The Financial Market, p.55]
      Figure 2. Support dan Resistance Pada Downtrend [Source: Technical Analysis of The Financial Market, p.56]
       
      Definisi Support dan Resistance ala John J. Murphy adalah definisi yang bagus, tapi agak ruwet. Seorang pemula kemungkinan sulit mengerti definisi tersebut, apalagi kalau ia tidak dibantu dengan melihat contoh (visual) di grafik.

      Oleh karena itu, berdasarkan Figure 1 dan Figure 2, saya berusaha membuat definisi Support dan Resistance yang lebih sederhana. Menurut saya:

      Support/Penopang adalah titik/kisaran harga di mana saham yang sedang turun berbalik arah menjadi naik.
      Resistance/Penghalang adalah titik/kisaran harga di mana saham yang sedang naik berbalik arah menjadi turun.

      Definisi ala Iyan Terus Belajar Saham ini tidak sempurna. Tapi dengan definisi ini, anda tidak perlu tahu apakah ada minat beli kuat yang mengalahkan tekanan jual; anda juga tidak perlu tahu apakah ada tekanan jual kuat yang mengalahkan minat beli.

      Kalau harga turun berbalik arah naik, ini artinya minat beli lebih kuat sehingga mengalahkan tekanan jual. Kalau harga naik berbalik arah turun, ini artinya tekanan jual lebih kuat sehingga mengalahkan minat beli.

      Dengan kata lainpada definisi sayaminat beli dan tekanan jual sudah tersirat dari pergerakan harga. Saham yang sedang turun akan berbalik arah naik HANYA kalau minat beli lebih kuat dari tekanan jual; saham yang sedang naik akan berbalik arah turun HANYA kalau tekanan jual lebih kuat dari minat beli.

      Nah sekarang kita kembali ke pertanyaan: Mengapa disebut Support/Penopang dan Resistance/Penghalang?

      Disebut Support/Penopang karena harga saham yang sedang bergerak turun diTOPANG (di kisaran harga Support) sehingga harga saham tersebut malah berbalik arah menjadi naik.

      Disebut Resistance/Penghalang karena harga saham yang sedang bergerak naik diHALANG (di kisaran harga Resistance) sehingga harga saham tersebut malah berbalik arah menjadi turun.

      Coba anda cerna dulu kalimat-kalimat di atas sebelum anda melanjutkan baca.

      Sudah?

      Oke, sekarang kita lanjut ke pertanyaan: apa makna Support dan Resistance bagi pemain saham? Silahkan lanjut baca ke pos "Support & Resistance Saham: Arti, Definisi, Makna, Karakteristik (Bagian 2)."






      Pos-pos yang berhubungan:
      [Pos ini ©2014 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

        Thursday, December 12, 2013

        Apa Inti Analisa Fundamental?

        Anda sedang belajar Analisa Fundamental?

        Belajar Analisa Fundamental artinya anda sudah mulai membaca laporan keuangan perusahaan.  Artinya anda juga mulai belajar Earning Per Share (EPS) (silahkan baca pos "Arti Istilah Earning Per Share"), Price-to-Earnings-Ratio (PER) (silahkan baca pos "Arti Istilah Price-to-Earnings-Ratio"), Price-to-Book Value (PBV), Debt-to-Equity-Ratio, dan indikator-indikator fundamental lainnya.

        Stop!

        Sebelum anda mendalami Analisa Fundamental lebih lanjut, sudah tahukah anda apa tujuan menghitung dan membandingkan indikator-indikator tersebut? Dengan kata lain, apa sebenarnya inti dari Analisa Fundamental?

        Belum tahu?

        Kebetulan. Di pos ini saya akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut.

        "Apa gunanya tahu inti dari Analisa Fundamental?" mungkin begitu gumam anda dalam hati.

        Ada, sedikit-dikitnya, 2 alasan:
        1. Kalau anda tahu apa yang anda cari, anda akan lebih mudah menemukan hal yang anda cari tersebut.
        2. Berbekal pengetahuan prinsip dasar/inti Analisa Fundamental  anda akan mengerti mengapa Analisa Fundamental begitu populer, jauh lebih populer dari Analisa Teknikal ataupun analisa-analisa jenis lainnya.
        Yuk, kita mulai.


        Prinsip Dasar/Inti Analisa Fundamental


        Apa sebenarnya prinsip dasar dari Analisa Fundamental? Tanpa bertele-tele, inti dari Analisa Fundamental adalah membeli saham murah.

        Lebih tepatnya:

        Inti dari Analisa Fundamental adalah membeli saham yang nilainya (relatif) murah.

        Yang harus anda camkan di sini adalah bagian kalimat "yang nilainya (relatif) murah."

        Mengapa?

        Karena saham yang nilainya murah tidak sama dengan saham yang harga Rupiahnya murah. Dengan kata lain, saham Rp 50 belum tentu lebih murah dari saham seharga Rp 20.000. 

        Karena murah mahalnya suatu saham tidak tercermin dari harga Rupiah saham tersebut, maka dari itu anda butuh Analisa Fundamental. Fungsi dari Analisa Fundamental adalah membandingkan saham berdasarkan indikator tertentu yang sejenis untuk mencari saham yang nilainya lebih murah.

        Nah, dengan tujuan mencari saham yang nilainya murah inilah anda menghitung PER atau PBV atau Price-to-CashFlow atau Price-to-Sales atau Price-to-Asset atau Debt-Equity-Ratio atau indikator-indikator lainnya.

        Berbekal, misalkan, PER sekelompok saham yang anda perhatikan, anda bisa mulai membandingkan PER saham tersebut satu dengan yang lain untuk mencari saham yangsecara PERnilainya paling murah.

        Itu saja.

        Itulah prinsip dasar dari Analisa Fundamental.

        Tapi prinsip yang sederhana dari Analisa Fundamental ini tidak berarti penerapannya juga sederhana.

        Mencari saham yang "nilainya" murah bukanlah pekerjaan mudah. Anda perlu meneliti dengan seksama laporan keuangan perusahaan, dan hal ini menyita waktu dan perlu usaha keras. Anda mungkin perlu juga membandingkan indikator kualitatif yang tidak mudah diterjemahkan menjadi angka. Lagipula, sesuatu yang murah menurut analisa anda belum tentu murah menurut analis-analis yang menulis di surat-kabar atau muncul di TV atau radio.

        Memang, Peter Lynch (dan juga saya) menyarankan anda untuk tidak langsung percaya analis-analis saham (Silahkan baca pos "Mau Investasi Saham? Baca Dulu Buku Peter Lynch 'One Up on Wall Street'"). Tapi kalau anda seorang pemula, seberapa yakin anda bahwa analisa anda lebih baik dari analisa pengamat saham yang sudah berpengalaman? 

        Satu hal lagi yang paling penting: Kalaupun anda berhasil menemukan saham yang nilainya (relatif) murah, tidak berarti saham tersebut pasti memberi anda untung.

        Bahwa menerapkan Analisa Fundamental untuk mencari saham "murah" adalah pekerjaan yang sukar akan saya bahas pada pos tersendiri. Pesan utama pos ini adalah bahwa inti dari Analisa Fundamental adalah mencari saham yang nilainya (relatif) murah.


        Mengapa Analisa Fundamental Populer

        Di pos "Saham Yang Layak Dibeli Menurut Analisa Teknikal" saya menulis bahwa ketika anda "shopping" apa yang anda cari? Anda mencari "good deal"; anda mencari diskon; anda mencari produk yang sedang promosi beli satu gratis satu. Intinya, ketika berbelanja anda berusaha mencari produk yang harganya lebih murah dari biasanya. Makin murah makin baik.

        Tidak bisa dipungkiri bahwa mendapatkan sesuatu dengan harga semurah mungkin adalah keinginan semua manusia.

        Jadi, tidaklah mengherankan kalau investor saham menerapkan prinsip di atas dalam membeli saham: cari saham yang (relatif) murah.

        Nah, prinsip dasar Analisa Fundamental untuk mencari saham yang murah cocok dengan sifat manusia yang ingin mendapatkan barang murah. Tidak heran kalau analisa ini adalah analisa yang paling populer di kalangan investor saham.

        (Perlu saya ingatkan bahwa "paling populer" tidak berarti paling cocok untuk anda.)

        Anda sudah tahu apa yang dicari Analisa Fundamental. Anda juga sudah tahu mengapa Analisa Fundamental populer. Nah, segera lanjutkan mendalami Analisa Fundamental!


        [Catatan:

        Bung Willy, top komentator di blog ini yang nge-blog di Billy the Pip, tidak sepakat dengan pernyataan saya tentang inti Analisa Fundamental (silahkan baca komentar-komentar di bawah). Menurut bung Willy:

        Inti dari Analisa Fundamental modern adalah membeli saham bagus yang relatif murah.

        Definisi bung Willy sangat baik. Tapi, ada beberapa alasan mengapa saya tidak mencantumkan kata "bagus."

        Pertama, bagus-jelek sifatnya subjektif. 

        Kedua, bagian kalimat "nilainya (relatif) murah" bermakna bahwa tujuan Analisa Fundamental bukanlah mencari saham murah semurah-murahnya, tapi saham yang DALAM ASPEK TERTENTU (ini yang saya maksud dengan "nilai") RELATIF  MURAH terhadap saham lain .

        Kalau aspek yang anda pakai adalah "bagus," berarti saham yang anda cari adalah saham "bagus" yang relatif murah. Kalau aspek yang anda pakai adalah "growth" (perkembangan), berarti saham yang anda cari adalah saham "growth" yang relatif murah.

        Kalau anda telusuri dengan teliti, kata kunci pada setiap Analisa Fundamental adalah "murah." 

        Ketiga, ketika membuat definisi, saya berusaha agar definisi tersebut seglobal mungkin. Definisi yang saya kemukakan mencakup Analisa Fundamental klasik (kuno) dan Analisa Fundamental modern.

        Maka dari itu saya tetap teguh bahwa:

        Inti dari Analisa Fundamental (klasik ataupun modern ataupun lainnya) adalah membeli saham yang nilainya (relatif) murah.

        Terima kasih bung Willy sudah membantu saya memperjelas isi pos ini.]






        Pos-pos yang berhubungan:
        [Pos ini ©2013 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]