Showing posts with label analisis teknikal. Show all posts
Showing posts with label analisis teknikal. Show all posts

Sunday, September 26, 2021

Apakah Harga Saham Murah? Atau Mahal?

Tulis Gerald M. Loeb:

 

I certainly feel that it is more feasible to try to follow profitably a trend upwards or downwards than to attempt to determine the price level. I do not think anyone really know when a particular security is "cheap" or "dear" in the sense that cheapness would occur  around a real market bottom and dearness around a real top.

Saya merasa bahwa lebih baik dan menguntungkan bila anda mengikuti trend harga naik atau turun dibanding berusaha menentukan apakah harga (saham) murah atau mahal. Menurut saya tidak ada orang yang tahu apakah suatu saham murah atau mahal dalam arti murah terjadi saat pasar mencapai titik terendah dan mahal saat pasar mencapai titik tertinggi.

 


 

 

Thus effort should be concentrated first on deciding the trend and next in seeking out the most responsive stocks.

Maka dari itu, sebaiknya anda berusaha memutuskan apakah trend sedang naik atau turun, lalu mencari saham yang paling responsif.

 

 

Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2021 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Tuesday, February 23, 2021

Haruskah Belajar Analisa Teknikal Agar Untung Main Saham?

Di pos "Haruskah Belajar Analisa Fundamental Agar Untung Main Saham" saya menyatakan bahwa tidak harus belajar Analisa Fundamental agar bisa untung main saham.

Kalau begitu, haruskah belajar Analisa Teknikal agar bisa untung main saham?

Haruskah?

 

 

Jawabannya:

Tidak harus belajar Analisa Teknikal agar bisa untung main saham.

Kok gitu?

Lihat saja contoh yang paling jelas: Warren Buffet, investor legendaris dari negeri paman Sam. Sepengetahuan saya, beliau tidak mengerti Analisa Teknikal. Tanpa mengerti Analisa Teknikal ia bisa menjadi (salah satu) investor saham paling sukses di dunia.

Jadi Mas Iyan, kalau tidak harus belajar Analisa Fundamental dan tidak harus belajar Analisa Teknikal agar bisa untung main saham, harusnya belajar apa dong?

Sebelum saya menjawab pertanyaan tersebut, perlu saya tambahkan bahwa selama ini saya tahu persis banyak pemain saham (di Indonesia sini) yang tidak mendalami (mengerti) Analisa Fundamental dan juga tidak mendalami (mengerti) Analisa Teknikal tapi sukses meraih untung di bursa saham.

Rahasianya?

Mereka KONSISTEN.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN main saham IPO.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN main saham Right Issue.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN membeli saham yang sudah turun banyak, dipegang terus, dan hanya dijual kalau sudah naik.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN membeli saham yang lagi lari naik dan di cut-loss kalau turun

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN membeli saham di harga Rp 50 (harga terendah di pasar regular) dan menjual kalau harga naik di atas Rp 50.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN main saham dengan jangka waktu super cepat: beli, naik 1-2 poin langsung dijual.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN main saham jangka waktu pendek: beli hari ini, jual besok.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN main saham jangka waktu menengah: beli hari ini, jual minggu depan.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN main saham jangka panjang: beli hari ini, jual tahun depan.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN main saham Indonesia saja.

Ada pemain saham yang untung karena KONSISTEN main saham Amerika saja.

Ada juga pemain saham yang rugi main saham lalu meninggalkan saham dan untung karena KONSISTEN main Bitcoin.

Cara yang mereka lakukan berbeda-beda, bahkan bertolak belakang, tapi yang sama adalah mereka KONSISTEN.

 

Jadi, agar bisa untung main saham, anda tidak harus belajar Analisa Fundamental ataupun Analisa Teknikal. Yang harus anda lakukan adalah belajar KONSISTEN.

 

---###$$$###---

 

Jangan salah paham.

Saya tidak bilang bahwa belajar Analisa Fundamental dan/atau Analisa Teknikal tidak ada gunanya. Belajar apapun, sedikit banyak pasti ada gunanya.

Yang saya katakan adalah anda TIDAK HARUS belajar Analisa Fundamental dan/atau Analisa Teknikal agar bisa untung main saham.

Karena yang lebih penting daripada analisa apapun adalah  keKONSISTENan.

Tapi Mas Iyan, anda bertanya-tanya, bukankah katanya saat main saham kita harus flexibel? Kalau harus konsisten kan artinya tidak boleh flexibel?

Betul, betul. Mungkin saya juga pernah menyatakan bahwa saat bermain saham anda harus flexibel.

Nah, terus terang, anjuran "harus konsisten" dan "harus flexibel" yang bertolak-belakang inilah yang membuat banyak pemain saham gagal meraih untung.

Tapi saya tekankan lagi bahwa jauh lebih penting untuk belajar KONSISTEN.

Mengapa?

Karena manusia pada umumnya lebih cenderung flexibel daripada  konsisten.

[Kalau anda tidak percaya, coba anda renungkan anda dan kegiatan yang anda lakukan: apakah anda lebih sering konsisten atau lebih sering berubah-rubah. Apakah anda makan malam sepiring nasi berlauk tahu tempe dan sambal cobek tepat jam 7 malam konsisten setiap hari? Atau anda makan dengan lauk berbeda-beda tidak selalu tepat jam 7 malam?]

Dengan kata lain: Flexibel tidak harus belajar tapi sudah bisa sendiri. Tapi konsisten harus dipaksakan barulah bisa konsisten.

 

---###$$$###---

 

Pertanyaan berikutnya: Apakah dengan KONSISTEN anda pasti bisa untung main saham?

Tidak juga.

Lah?

Konsisten tidak serta-merta membuat anda pasti untung main saham. Tapi dengan KONSISTEN anda akan tahu apa yang harus terus dilakukan dengan KONSISTEN dan apa yang harus dirubah.

Maksudnya?

Kalau anda KONSISTEN dan hasilnya untung, lanjutkan.

Kalau anda KONSISTEN dan hasilnya rugi berarti ada yang salah. Cari sumber kesalahan tersebut dan perbaiki.

Artinya: setelah KONSISTEN melakukan sesuatu dan hasilnya (relatif) buruk, itulah saatnya anda perlu  (flexibel) merubah cara anda. Lalu coba lakukan cara yang baru tersebut dengan KONSISTEN.
 
Coba anda bandingkan:

Kalau anda berubah-rubah dan hasilnya untung, yang mana yang harus dilanjutkan?

Kalau anda berubah-rubah dan hasilnya rugi, yang mana yang harus diperbaiki?
 
 
Kesimpulannya: Dengan main saham secara KONSISTEN lambat laun anda akan menemukan cara yang cocok untuk meraih untung di bursa saham.
 
 
[Pos ini ©2021 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Monday, October 5, 2020

Pakai Berapa Macam Indikator Analisa Teknikal?

Misalkan anda baru mulai belajar Analisa Teknikal dan ingin mencoba indikator-indikator analisa teknikal yang ada. Berapa banyak (jenis) indikator Analisa Teknikal yang sebaiknya anda pakai?

Di pos "Cara Menarik Garis Trend/Trendline" saya diminta Mas Herlambang menanggapi cara ia mengkombinasikan beberapa indikator dan anggapan bahwa indikator satu dan yang lainnya saling mendukung.

Setelah membaca ulang jawaban yang saya tulis, saya merasa jawaban tersebut melenceng dari pertanyaan yang diajukan Mas Herlambang.

[Kalau Mas Herlambang membaca pos ini, saya minta maaf bahwa jawaban saya ngelantur. Secepatnya akan saya tulis pos tersendiri untuk menjawab pertanyaan anda tersebut dengan lebih baik.]

Jawaban tersebut lebih cocok sebagai jawaban pertanyaan di judul pos ini: Sebaiknya Pakai Berapa Macam Indikator Analisa Teknikal?

 

 

Beginilah jawaban yang saya tulis saat itu:

"Pada jawaban di atas saya sudah menyarankan agar anda belajar indikator SATU-PER-SATU.

Berusaha mempelajari BEBERAPA indikator pada waktu yang bersamaan berarti menambah banyak VARIABEL interpretasi.

Menginterpretasi satu indikator saja suda sulit, apalagi kalau pada saat bersamaan memakai lebih dari satu (indikator)?

Belajar apapun HARUS SABAR, harus SATU-PER-SATU. Setelah nyaman dan mengerti SATU indikator, barulah saatnya menambah indikator lain.

INGAT: Kalau satu indikator saja masih belum mengerti dengan mendalam, sebaiknya TIDAK menambah indikator lain.

Indikator APAPUN seharusnya BISA mendatangkan untung KALAU anda tahu cara tepat menginterpretasi hasil perhitungan indikator tersebut."


Lalu saya lanjutkan:

"Indikator memang bisa mendukung satu dengan yang lain.

TAPI . . .

Sebelum menguasai satu indikator (setidak-tidaknya tahu dasar-dasarnya), JANGAN menghabiskan waktu mencoba mendalami yang lain.

Saya berikan ilustrasi ya, supaya jelas.

Misalkan anda adalah seorang tentara yang maju ke medan tempur. Anda dipersenjatai PISTOL, SENAPAN, PISAU.

Apakah pistol, senapan, pisau ini saling mendukung? Tentu saja. Tapi hanya KALAU anda tahu cara menggunakan pistol, senapan, dan pisau dengan tepat.

Maksudnya?

Kalau anda berusaha memakai pisau untuk melumpuhkan musuh anda yang berdiri 50 meter di depan anda (padahal anda punya senapan), saya rasa pisau tersebut bukannya membantu tapi malahan membuat anda rentan dilumpuhkan musuh anda.

Kembali ke indikator.

Anda perlu tahu Indikator yang anda pakai apakah adalah PISTOL, SENAPAN, PISAU.

Jangan memakai pisau kalau lebih tepat memakai pistol.

Jangan memakai pistol kalau lebih tepat memakai senapan.

Jangan memakai senapan kalau lebih tepat memakai pisau.

Kesimpulannya:

Kalau anda tahu cara tepat memakai pistol, senapan, pisau, anda sangat mungkin akan makin sering menang di medan tempur.

Tapi karena anda adalah tentara baru yang belum tahu teknik menggunakan pistol, senapan, pisau, cobalah anda pelajari dulu tekniknya satu-per-satu. (Dan pelajari lebih dalam dari kulitnya; jangan hanya kulitnya saja.)

Jangan sekali-kali berpikir bahwa hanya karena ada dipersenjatai pistol, senapan, pisau berarti anda pasti menang di medan tempur. Yang tidak kalah pentingnya (bahkan bisa jadi lebih penting) adalah KEAHLIAN dalam memakai senjata-senjata tersebut."



Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2020 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, January 26, 2019

Simple Moving Average atau Exponential Moving Average?

Di pos "Target Laba Main Saham (Bagian I)," seorang pembaca—Maha Syauqi—bertanya:

". . . Pak Iyan, kalau boleh tahu sering pakai EMA atau SMA? Untuk karakter Daytrader/Swing pada 3 Formasi harinya disetting angka berapa kalau Om Iyan dalam trading? Soalnya kalau saya pakai SMA kadang suka telat, tapi kalau pakai EMA banyka sinyal palsu haaa. . ."


---###$$$###---


Jawaban saya:

Saya memakai (indikator Analisa Teknikal) Simple Moving Average (SMA).

[Catatan: SMA = Simple Moving Average; EMA = Exponential Moving Average.]

Lumrah kalau anda ingin tahu parameter Simple Moving Average yang dipakai orang lain.

Apakah saya memakai 10 hari? 20 hari? 30 hari/ 50 hari? atau 200 hari kah?

Nah, perlu saya tegaskan bahwa tidak relevan (untuk anda) bung Iyan memakai SMA dengan parameter apa. Yang penting adalah anda memilih indikator Analisa Teknikal (SMA, EMA, dll) dan parameternya(5, 10, 20, 30, 50, 200, dll) lalu memakainya SECARA KONSISTEN.

Kalau anda memutuskan memakai Simple Moving Average, silahkan. Kalau anda memilih Exponential Moving Average, monggo.

Kalau anda menentukan parameter SMA di 10 hari, silahkan. Kalau pilih 50 hari, juga gak salah.

Yang penting adalah anda mencoba indikator analisa teknikal (dan parameternya) SECARA KONSISTEN.

Mengapa harus KONSISTEN?

Karena hanya dengan memakai indikator Analisa Teknikal secara konsisten anda akan tahu apakah indikator tersebut sesuai dengan karakter (main saham) anda.

Kalau setelah anda coba beberapa saat tapi tidak menguntungkan, berarti ada yang salah.

Apa yang (kemungkinan) salah?

1. Anda salah meng-interpretasi-kan sinyal yang diberikan indikator. Dalam bahasa gamblang: anda (masih) tidak tahu cara benar memakai indikator tersebut.

2. Indikator yang anda pilih adalah untuk jangka (relatif) panjang, sedangkan anda trading jangka pendek. Atau sebaliknya.

3. Indikator Trend Following dipakai di saat market sideways (tidak ada trend).

4. Indikator Oscillator dipakai di saat market Uptrend/Downtrend.

Dan masih banyak kemungkinan kesalahan lainnya.


---###$$$###---


Perlu anda perhatikan bahwa Moving Average adalah indikator Trend Following.

Kalau anda daytrading, Moving Average di daily chart akan selalu terlambat karena sifatnya yang trend following (mengikuti trend).

Artinya, saham sudah naik banyak, barulah Moving Average bergerak naik. Atau kebalikannya: saham sudah turun, barulah Moving Average bergerak turun. And akan selalu terlambat.

Silahkan baca juga pos "Prinsip Mendasar Analisa Teknikal (Technical Analysis)."






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2019 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, December 9, 2017

Buku Pertama Belajar Analisa Teknikal

Di pos "Belajar Analisa Teknikal atau Analisa Fundamental?" saya menyarankan anda (yang bingung memilih belajar Analisa Teknikal atau Analisa Fundamental) untuk memilih belajar mendalam Analisa Teknikal.

Misalkan anda berniat belajar mendalam Analisa Teknikal. Bagaimana caranya?

Di pos "Cara Terbaik Belajar Main Saham" saya menyatakan bahwa cara terbaik belajar main saham adalah dengan membaca buku main saham yang ditulis penulis berkualitas.

Nah, kalau anda serius ingin belajar Analisa Teknikal, saran saya untuk anda adalah: beli (hard copy/buku cetak) dan baca buku Technical Analysis of the Financial Market yang ditulis John J. Murphy.

Figure 1. Sampul Depan Buku John J. Murphy Technical Analysis of the Financial Markets


Mengapa buku Technical Analysis of the Financial Market?

Karena buku ini membahas Analisa Teknikal dari dasar sehingga pembahasannya (relatif) mudah dimengerti oleh orang yang baru belajar Analisa Teknikal.


Mengapa harus beli hard copy? Bukankah e-book juga sama?

Ada beberapa alasan:

1. Belajar Analisa Teknikal berarti banyak melihat grafik. Melihat grafik berarti anda harus membolak-balik buku ke halaman grafik tersebut berada. Kalau anda pernah melakukan hal ini dengan hard-copy (buku cetak) dan e-book (buku elektronik), anda tahu bahwa membolak-balik halaman di e-book tidak semudah dan senyaman di buku cetak.


2. Ilmu yang anda dapat adalah sebanding dengan "biaya" yang anda keluarkan. Tebakan saya, alasan utama anda-anda yang memilih e-book adalah karena anda berniat mencari dan men-download GRATIS buku tersebut. (Kalau anda bersedia membayar harga e-book resmi, sebaiknya anda beli hard copy saja.)

Kalau anda download GRATIS, saya rasa anda akan TIDAK atau KURANG menghargai buku tersebut karena "biaya" yang anda keluarkan (hampir) nihil. Karena anda kurang menghargai buku tersebut, ilmu yang anda dapatkan akan sesuai dengan "biaya" yang anda bayar. Artinya, karena anda tidak bayar apa-apa, ilmu yang anda dapatkan juga tidak banyak.

Tambahan lagi, kalau anda download GRATIS, kemungkinan besar anda tidak akan membaca buku tersebut. Coba tanyakan pada diri anda sendiri, berapa banyak buku yang anda download gratis tapi tidak pernah anda buka 1 halaman-pun?


---###$$$###---


Jadi, kalau anda SERIUS ingin belajar Analisa Teknikal, beli hard-copy buku Technical Analysis of The Financial Market dan baca dari halaman pertama sampai halaman terakhir.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, November 18, 2017

Belajar Analisa Teknikal atau Analisa Fundamental?

Di pos "Belajar Apa Dulu: Analisa Fundamental atau Analisa Teknikal?" saya menganjurkan anda untuk mempelajari "kulit" kedua analisa tersebut lalu menentukan sendiri mana yang lebih cocok dengan karakter dan kemauan anda.

Tapi misalkan anda sudah mencoba Analisa Fundamental dan Analisa Teknikal tapi tetap masih bingung mau mendalami yang mana. Sebaiknya pilih yang mana: Analisa Teknikal atau Analisa Fundamental?

Figure 1. Pilih Belajar Analisa Fundamental atau Teknikal?

Saran saya: pilih belajar mendalam Analisa Teknikal.

Mengapa?

Pertanyaan tersebut akan terjawab kalau anda tahu apa sebabnya saya sepenuhnya meninggalkan Analisa Fundamental dan beralih ke Analisa Teknikal.

Mari saya ceritakan.

---###$$$###---

Di halaman "About" tertulis bahwa saya mulai serius main saham pada tahun 1997 sebagai investor jangka menengah yang mementingkan Analisa Fundamental. Karena gagal total, saya beralih menjadi pedagang saham purna-waktu (full-time trader) sejak tahun 2003 dan lebih mementingkan Analisa Teknikal.

Perlu saya tekankan di sini bahwa—menurut saya—pada tahun 1997 kemampuan Analisa Fundamental saya sudah di atas rata-rata pemain saham pada umumnya. Artinya, saya sudah tahu cukup banyak tentang Analisa Fundamental. Tapi toh tetap saja saya rugi. Besar.

Saat itu saya menyimpulkan bahwa kerugian yang saya derita dari mencoba Analisa Fundamental (kemungkinan besar) BUKAN karena analisanya yang salah. Tapi karena faktor-faktor lain seperti kondisi ekonomi makro (tahun 1997 Indonesia dilanda krisis moneter), karakter saya, dan lain-lain.

Karena bosan merugi terus, saya mulai mencoba Analisa Teknikal.

Nah, ketika saya mulai belajar Analisa Teknikal pada tahun 2000an awal, kemampuan Analisa Teknikal saya (relatif) sangat minim. Tapi anehnya kerugian saya saat itu justru jauh lebih kecil dibandingkan ketika saya main saham memakai Analisa Fundamental yang sudah saya dalami bertahun-tahun.

Tahu banyak Analisa Fundamental, rugi besar. Tahu sedikit Analisa Teknikal, rugi kecil.

Kalau anda adalah saya pada saat itu, anda pilih mana: terus memperdalam belajar Analisa Fundamental (dan terus rugi entah sampai kapan) atau mulai mendalami Analisa Teknikal (dengan harapan rugi kecil segera berubah menjadi untung)?

Itulah alasan pertama mengapa saya beralih dari Analisa Fundamental ke Analisa Teknikal.

Nah, dari pengalaman di atas saya menyimpulkan bahwa mendalami Analisa Teknikal (relatif) lebih menguntungkan daripada Analisa Fundamental.
 
Dan itulah alasannya mengapa saya menyarankan anda (yang bingung memilih antara Analisa Fundamental dan Analisa Teknikal) untuk memilih Analisa Teknikal: Analisa Teknikal lebih cepat memberi hasil (untung) dibandingkan Analisa Fundamental.

Kalau anda masih ragu, saya tambahkan beberapa lagi keunggulan Analisa Teknikal:
  1. Analisa Teknikal lebih mudah dipelajari dibandingkan Analisa Fundamental.
  2. Analisa Teknikal bisa untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, investasi jangka panjang sedangkan Analisa Fundamental hanya untuk investasi jangka panjang.
  3. Menggunakan Analisa Teknikal anda bisa memutuskan dalam hitungan menit untuk buy, sell, or hold suatu saham. Menggunakan Analisa Fundamental anda harus menghabiskan waktu berpuluh-puluh jam menelusuri laporan keuangan, rekomendasi broker, company report, dan lain-lain.

Masih banyak alasan lain mengapa Analisa Teknikal—menurut saya— lebih unggul daripada Analisa Fundamental. Silahkan lanjut baca ke pos "Keunggulan Analisa Teknikal vs. Analisa Fundamental." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]





Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Wednesday, May 10, 2017

Bagaimana Grafik Bisa Membantu Anda di Bursa Saham

Bagaimana chart/grafik saham bisa membantu anda di bursa saham?

Figure 1. Cover Depan Buku William L. Jiler How Charts Can Help You in the Stock Market


William Jiller di buku How Charts Can Help You in the Stock Market menyatakan bahwa grafik saham tidak menjamin anda akan selalu untung, tapi ada beberapa hal yang bisa dilakukan grafik saham:

1. They can help determine when to buy dan when to sell, by indicating probable levels of support and resistance, and by signalling trend reversals....

Grafik saham bisa membantu menentukan kapan membeli dan kapan menjual, dengan mengindikasikan titik support dan resistance dan dengan memberi sinyal pembalikan trend....

(Silahkan baca juga pos "Support & Resistance Saham: Arti, Definisi, Makna, Karakteristik.")


2. They can call attention—by unusual volume or price behavior—to something happening in an individual company that can be most rewarding....

Grafik saham bisa memberitahu—dari volume yang tidak biasa atau dari perilaku harga—sesuatu sedang terjadi pada suatu perusahaan....


3. They can help determine the current trend—up, down or sideways—and whether the trend is slowing down or speeding up....

Grafik saham bisa membantu mencari tahu trend sekarang ini—naik, turun, atau sideways—dan mencari tahu apakah trend sudah melambat atau sedang melaju...

(Silahkan baca juga pos "Definisi Uptrend, Downtrend, Sideway.")


4. They provide a life history of a stock at a glance, and demonstrate whether one is buying on a rally or on a reaction, and whether the price is historically high or low....

Grafik saham dalam sekilas memberikan sejarah kehidupan suatu saham, dan memperlihatkan apakah seseorang membeli ketika saham sedang naik atau sedang turun, dan apakah harga saat itu tinggi atau rendah secara historikal...


5. They offer a means for confirming (or rejecting) a decision to buy that is based on economic data or other factors, including stock tips and hunches....

Sebelum membeli saham berdasarkan data ekonomi atau faktor lain, seperti tips dan "feeling," grafik saham memberi cara untuk mengkonfirmasi (atau menolak) apakah saham tersebut layak dibeli.


Kalau selama ini anda belum pernah memakai grafik saham dalam bermain saham, pertimbangkan untuk mulai memberdayakan grafik/chart saham.






Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Thursday, February 16, 2017

Beli Saham Naik Yang Mana?

Silahkan lihat Chart 1 dan 2 di bawah ini.

Chart 1

Chart 2

Pada Chart 1 harga saham naik dari sebelumnya bergerak turun/downtrend. Pada Chart 2 harga saham naik dari sebelumnya bergerak horizontal/sideway.

Kalau harus memilih antara membeli saham seperti di Chart 1 atau saham seperti di Chart 2, anda pilih yang mana? Dengan kata lain, menurut anda mana yang lebih Bullish, Chart 1 atau Chart 2?

(Kalau anda belum tahu arti Bullish, silahkan baca pos "Arti 'Bullish' dan 'Bearish' di Bursa Saham." Silahkan baca juga pos )

Coba anda pikirkan dulu beberapa menit.






Sudah?

Nah, menurut Stan Weinstein di buku Secrets for Profiting in Bull and Bear Markets, yang lebih Bullish adalah Chart 2.

(Untuk memudahkan diskusi, kata "Bullish" di pos ini kira-kira artinya adalah "kuat naiknya.")

Chart 3 (Source:Stan Weinstein's Secrets for Profiting in Bull and Bear Markets, page 17)

Chart 4 (Source: Stan Weinstein's Secrets for Profiting in Bull and Bear Markets, page 17)

 
Saya kutip pernyataan Stan Weinstein:

". . . the steeper the angle of descent of a declining trendline (Chart 3), the less bullish its implications are when it's overcome. . . However, the closer to horizontal the trendline is when it's broken on the upside (Chart 4), the more bullish the implications are."

Terjemahannya kira-kira begini:

Semakin curam derajat penurunan garis tren yang sedang turun, semakin tidak bullish implikasinya ketika garis trend tersebut ditembus. Akan tetapi, semakin mendekati horisontal garis tren ketika ditembus ke atas, semakin bullish implikasinya.

Apa artinya?

Artinya, kalau anda harus memilih antara saham naik yang sebelumnya bergerak turun dan saham naik yang sebelumnya bergerak mendatar, sebaiknya pilih saham naik yang sebelumnya bergerak (relatif) mendatar.

Mengapa?

Karena saham yang sebelumnya bergerak mendatar, kalau naik—biasanya—akan naik lebih kencang daripada saham yang sebelumnya bergerak turun.

Kok bisa begitu?

Mau tahu apa sebabnya saham yang sebelumnya bergerak mendatar kalau naik—biasanya—akan naik lebih kencang daripada saham yang sebelumnya bergerak turun? Silahkan lanjut baca ke pos "Beli Saham Naik Yang Mana? Bagian 2." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]

Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Thursday, February 2, 2017

4 Tahap Pergerakan Harga Saham

Stan Weinstein di buku Secrets for Profiting in Bull and Bear Markets menyatakan bahwa ada 4 tahapan pergerakan harga saham:

Tahap 1: The Basing Area (Area Dasar)
Tahap 2: Advancing Phase (Fase Naik)
Tahap 3: The Top Area (Area Puncak)
Tahap 4: The Declining Phase (Fase Turun)

Silahkan lihat Figure 1.

Figure 1. Grafik Tahapan Pergerakan Harga Saham Menurut Stan Weinstein

Menurut Stan Weinstein, waktu paling ideal bagi investor jangka panjang untuk membeli saham adalah ketika saham naik (breakout)  dari Basing Area (Tahap 1) ke Advancing Phase (Tahap 2).

Perhatikan bahwa Stan Weinstein tidak menyarankan investor jangka panjang untuk membeli saham ketika saham bergerak datar (Tahap 1 dan Tahap 3) dan juga tidak menyarankan—bahkan melarang—investor jangka panjang membeli saham ketika saham bergerak turun (Tahap 4).

Yang disarankan Stan Weinstein adalah membeli saham ketika saham NAIK (dari Basing Area ke Advancing Phase).

Kalau anda investor jangka panjang, coba anda analisa diri sendiri: apakah selama ini anda lebih sering membeli saham di Tahap 1, Tahap 2, Tahap 3, atau Tahap 4?

Kalau hasil analisa menunjukkan anda sering membeli saham di Tahap 1, 3, atau 4, dan hasilnya rugi, coba pertimbangkan saran Stan Weinstein.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2017 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, September 10, 2016

3 Pola Grafik Saham Paling Menguntungkan

Menurut Investor's Business Daily, ada 3 pola grafik saham yang paling umum dan menguntungkan:

[Silahkan download pdf file-nya dengan meng-klik link berikut: Investor's Business Daily The 3 Most Common & Profitable Chart Pattern.]


1. Cup-with-Handle (Cangkir-dengan-Pegangan)

Figure 1. Pola Grafik Saham Cup-With-Handle (Source: Investors.com)


2. Double Bottom

Figure 2. Pola Grafik Saham Double Bottom (Source: Investors.com)


3. Flat Base

Figure 3. Pola Grafik Saham Flat Base (Source: Investors.com)


Coba anda perhatikan ketiga grafik di atas. Apakah anda melihat ada kesamaan?

(Petunjuk: Perhatikan bagian kanan atas grafik-grafik saham tersebut.)

Apa kesamaan yang saya maksud?

Coba anda telaah grafik-grafik saham di atas selama beberapa menit sebelum anda melanjutkan baca ke bawah.






Sudah?

Menurut anda, apa yang sama pada ketiga pola grafik di atas?

Figure 4. Sinyal Beli Pola Grafik Cup-With-Handle


Figure 5. Sinyal Beli Pola Grafik Double Bottom


Figure 6. Sinyal Beli Pola Grafik Flat Base


Kalau jawaban anda adalah "sinyal beli adalah ketika HARGA saham NAIK melewati titik tertentu," berarti penglihatan anda sama dengan saya.

Menurut Investor's Business Daily, ketiga pola grafik saham tersebut adalah pola yang paling menguntungkan.

Apa artinya?

Artinya sangat jelas: kalau anda mau UNTUNG main saham, sebaiknya anda membeli saham yang harganya naik. Bukan yang turun. Bukan yang "murah."

Apakah selama ini investasi/trading saham anda tidak untung?

Coba introspeksi dan pikirkan apakah selama ini anda lebih sering membeli saham yang naik atau saham yang turun atau saham yang (menurut anda) "murah."

Kalau selama ini anda hobi membeli saham yang turun atau saham "murah" dan sering terbukti tidak untung, mungkin sudah saatnya anda mencoba membeli saham yang naik.


---###$$$###---


Tapi bukan hanya itu saja kesamaan pada ketiga pola grafik saham di atas. Menurut saya masih ada satu lagi. Coba anda telaah kembali grafik-grafik di atas.

Mau tahu jawabannya? Silahkan lanjut baca ke pos "3 Pola Grafik Saham Yang Paling Menguntungkan, Bagian 2." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]


Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2016 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, November 7, 2015

Saham Naik 20%. Apakah Saham Tersebut Uptrend, Downtrend, atau Sideway?

Di penutup pos "Analisa Volume Transaksi Saham Untuk Pemula. Perlukah?" saya memberikan pertanyaan berikut:

1. Mana yang relatif lebih bullish: Close > Prv Price tapi Prv Price > Open atau Prv Price > Close tapi Open > Prv Price? Mengapa?

2. Saham XYZ naik 20% dalam 24 bulan terakhir. (Klarifikasi: Naik 20% ini TIDAK TERJADI HANYA pada hari-hari terakhir 24 bulan tersebut.) Apakah saham tersebut uptrend, downtrend, atau sideway? Mengapa?

Pertanyaan #1, semua penjawab menjawab dengan benar.

[Yang relatif lebih bullish adalah pernyataan pertama karena Close > Prv Price lebih bullish dibanding pernyataan kedua  Prv Price > Close (= Close < Prv Price).]

Pertanyaan #2, cukup banyak penjawab menjawab dengan benar TAPI alasan yang dikemukakan tidak tepat.

Jadi sebenarnya, apa jawaban yang tepat untuk pertanyaan #2?

Mari kita telaah.

Pada pernyataan "Saham XYZ naik 20% dalam 24 bulan terakhir" yang jelas tertulis adalah naik 20%.

Naik. Bukan turun. Jadi jawaban "downtrend" bisa anda eliminasi.

Lalu, naiknya 20%. Bukan cuma 1-2%. Jadi jawaban "sideway" bisa anda eliminasi.

Pilihan jawaban yang tersisa hanyalah "uptrend."

Jadi, jawaban yang benar adalah "uptrend."

Tapi jawaban "uptrend" juga masih kurang tepat/spesifik.

Mengapa?

Karenaseperti dikemukakan penjawab yang menjawab "tidak bisa ditentukan tanpa informasi tambahan"dalam jangka waktu 24 bulan tersebut bisa saja terjadi harga saham XYZ sempat naik 50%, lalu turun 40%, lalu sideway, lalu naik 10%. Jadi, dalam masa 24 bulan tersebut bisa saja ada saat "uptrend," ada saat "downtrend," ada saat "sideway."

Pengamatan yang benar.

Tapi dari pernyataan "saham XYZ naik 20% dalam 24 bulan terakhir" anda tetap BISA mengambil kesimpulan yang spesifik.

Memang betul dalam jangka waktu 24 bulan tersebut bisa saja ada saat "uptrend," ada saat "downtrend," ada saat "sideway," tapi hal tersebut TIDAK MERUBAH fakta bahwa saham XYZ dalam 24 bulan terakhir naik 20%.

Jadi, jawaban yang benar dan spesifik adalah saham XYZ UPTREND dalam BINGKAI-WAKTU 24 bulan terakhir. Dalam bingkai waktu lain, tidak bisa ditentukan tanpa informasi tambahan.

Konsep bingkai-waktu (time-frame) sangat penting anda pahami karena ketika membahas trend, anda harus menyamakan persepsi bingkai-waktu yang dipakai. Tanpa persepsi bingkai-waktu yang sama, diskusi tentang trend bisa menjadi debat kusir yang tiada akhirnya.    






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2015 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]