Showing posts with label cut-loss. Show all posts
Showing posts with label cut-loss. Show all posts

Sunday, July 30, 2023

Cut-Loss Seharusnya Mudah. Tapi Kenapa Faktanya Sulit?

Tulis Gerald M. Loeb di buku The Battle for Investment Survival:

 


There is nothing more difficult to practice than accepting losses. This is especially important because there are bound to be times when you sell something and it turns right around and goes up.

There is only one way to look at it and that is to think of the costs of selling at the wrong time as comparable to an insurance premium.


Tidak ada yang lebih sulit untuk dilakukan daripada menerima kerugian (cut-loss). Ini sangat penting karena ada kalanya saat anda menjual (cut-loss) suatu saham, saham tersebut malah berbalik naik.

Hanya ada satu cara menyikapi hal ini yaitu dengan menganggap menjual pada saat yang salah adalah sebanding dengan membayar premi asuransi.

 

---###$$$###---

 

Cut-loss sebenarnya adalah tindakan yang mudah: kalau saham yang anda punya turun sampai harga tertentu, jual.

Sederhana.

Tidak perlu rumus dan analisa yang rumit.

Saham turun sampai harga tertentu, jual.

Tapi mengapa faktanya (relatif) jarang pemain saham yang konsisten melakukan cut-loss saham-saham yang kondisinya rugi?

Saya tidak tahu jawabannya. Tapi tebakan saya adalah bahwa mayoritas manusia tidak suka, tidak rela, tidak mau mengaku salah. Banyak manusia yang sudah jelas-jelas salah, masih tidak mau mengaku salah. Kalaupun mengaku salah dan minta maaf, biasanya ditambah dengan embel-embel, "... tapi ...".

Nah, cut-loss itu adalah salah satu bentuk mengaku salah: anda membeli saham dengan harapan saham itu naik, tapi faktanya saham itu turun. Kalau anda cut-loss, berarti anda mengaku salah.

Pengalaman pribadi saya menyatakan bahwa semakin cepat dan semakin ikhlas saya mengaku salah—dalam hal main saham dan juga dalam hal kehidupan sehari-hari lainnya—semakin cepat masalah selesai dan semakin murah biayanya.

Mengaku salah, cut-loss, adalah langkah penting untuk sukses main saham.

 

Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2022 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

 

Tuesday, December 20, 2022

Langkah Terpenting Untuk Sukses Main Saham

 Tulis Gerald M. Loeb di buku The Battle for Invesment Survival:

 



Accepting losses is the most important single investment device to insure safety of capital. It is also the action that most people know least about and they are least liable to execute. . .

The most important single thing I learned is that accepting losses promptly is the first key to success.

 

Merealisasikan kerugian (cut-loss) adalah tehnik paling penting untuk mengamankan modal. Ini adalah juga aksi yang paling sedikit diketahui investor dan paling kecil kemungkinan dilaksanakan. . .

Hal paling penting yang saya ketahui (dari belajar investasi bertahun-tahun) adalah bahwa merealisasikan kerugian (cut-loss) adalah langkah pertama menuju sukses.


---###$$$###---

 

Kalau anda baca pos-pos di blog ini, saya sering. . . ehm, lebih tepatnya sangat sering sampai-sampai dikira compact-disc rusak. . .menekankan bahwa kalau posisi saham anda rugi, anda harus langsung cut-loss.

Mengapa terus saya ulang-ulang menyarankan "harus cut-loss", "harus cut-loss", "harus cut-loss"?

Karena, walaupun sudah saya ulangi "harus cut-loss" ratusan kali, kemungkinan besar anda masih tidak mau (tidak rela) cut-loss. Betul gak?

Oleh karena itu, saya ulangi sekali lagi: kalau saham yang anda beli turun, secepatnya cut-loss.

Jangan tunggu sampai kerugiannya bertambah besar. Cut-loss segera.

Saya tahu bahwa anda tidak rela cut-loss karena mengharapkan harga saham naik lagi ke harga beli. Saya juga sering berharap begitu kalau saham yang saya beli harganya turun.

Tapi fakta yang lebih sering terjadi adalah saham yang turun, biasanya turun lebih dalam lagi. Memang, setelah turun sampai harga tertentu, saham tersebut biasanya akan naik lagi. Tapi itu biasanya terjadi setelah harga saham turun (relatif) BANYAK dari harga beli anda.

Jadi, daripada menunggu saham turun berbalik naik, langkah yang lebih baik adalah melakukan cut-loss secepat mungkin, sebelum kerugian membengkak.

 

 

Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2022 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Sunday, July 24, 2022

Rugi Main Saham Salah Siapa?

 

Never blame anyone in your life...

Good people give you happiness,

Bad people give you experiences,

The worst people give you a lesson,

& the best people give you memories!

                                    by Jo Moulton


---###$$$###---

 

Salah siapa anda rugi main saham?

Apakah salah market/pasar?

Apakah salah bandar?

Apakah salah anda?


Nah, rugi main saham adalah hal yang biasa. Tidak ada orang yang tidak pernah rugi main saham. Orang yang mengaku tidak pernah rugi main saham adalah orang yang belum merealisasikan ruginya, bukan tidak pernah rugi.

Jadi, kalau anda rugi dalam batas-batas wajar (sampai 10% dari total modal anda), kerugian ini belum tentu adalah salah anda. Bisa saja karena market/pasar tidak mendukung. Bisa juga karena anda dikerjai bandar.


Sekarang saya ganti pertanyaannya menjadi: Salah siapa anda rugi BESAR main saham?

Apakah salah market/pasar?

Apakah salah bandar?

Apakah salah anda?


Rugi main saham (relatif kecil) belum tentu adalah salah anda. Tapi rugi BESAR main saham (hampir pasti) adalah salah anda.

Mengapa?

Karena rugi besar biasanya berawal dari rugi relatif kecil. Saat rugi masih relatif kecil, biasanya anda biarkan saham tersebut (tidak mau cut-loss) dengan harapan saham akan berbalik naik dan rugi berubah menjadi untung.

Masalahnya, yang lebih sering terjadi adalah saham yang sudah turun akan berlanjut turun lebih dalam mengakibatkan kerugian anda semakin besar. Semakin besar kerugian, semakin anda tidak rela cut-loss.  Semakin tidak rela cut-loss, biasanya semakin dalam lagi turunnya saham tersebut.

Yang lebih parah: setelah saham turun banyak, anda membeli lagi saham turun tersebut di harga lebih murah (average down). Lalu saham masih terus turun mengakibatkan membalonnya kerugian.

Kalau saja anda sudah cut-loss saat rugi 5-10%, anda tidak akan "nyangkut" dengan saham yang potensi ruginya 30%, 40%, 60%, bahkan 90%.

Jadi, mohon diingat: rugi main saham adalah hal biasa dan belum tentu salah anda. Tapi kalau anda rugi BESAR main saham, jangan salahkan pasar/market. Jangan salahkan bandar. Jangan salahkan nasib. Silahkan bercermin dan salahkan diri anda sendiri.

 

Pos-pos yang berhubungan:

 

[Pos ini ©2022 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

 

Saturday, July 31, 2021

Iyan Belajar Cut-Loss dari Gerald M. Loeb

Tulis Gerald M. Loeb di buku The Battle for Investment Survival:


But it is sound policy to get out of long positions which begin to prove themselves wrong by declining in price. This is the one automatic proceeding in handling securities, the only proceeding in which no judgment is needed.

Adalah tindakan yang bijaksana untuk menjual saham yang harganya turun. Ini adalah satu tindakan otomatis saat bermain saham, satu-satunya tindakan yang tidak perlu pemikiran lebih lanjut.


Losses must always be "cut.' They must be cut quickly, long before they become any financial consequence. After the elimination of a stock in this manner, the transaction must be, in a sense, forgotten. It must be left out of future consideration so completely that there is no sentimental bar to reinstating the position at higher level, either very soon or at any later date, if the purchase again seems strongly advisable.

Kerugian harus selalu di "potong." Kerugian harus dipotong secepat mungkin sebelum berakibat fatal bagi finansial anda. Setelah saham dijual, transaksi tersebut harus dilupakan sehingga tidak ada perasaan sentimental untuk membeli kembali saham tersebut di harga lebih tinggi, dalam waktu dekat ataupun jauh di kemudian hari, kalau saham tersebut kembali menjadi layak dibeli.

 

Cutting losses is the one and only rule of the markets that can be taught with the assurance that is always the correct thing to do.

Cut-loss adalah satu-satunya aturan pasar yang dapat diajarkan dengan keyakinan penuh bahwa ia adalah hal benar yang harus dilakukan.




---###$$$###---

 

Setelah membaca lagi tulisan Gerald M. Loeb di atas, saya ingat bahwa saya belajar konsep cut-loss saham dari beliau.

Masalahnya . . .

Saat Gerald M. Loeb menyadarkan saya betapa cut-loss itu sangat penting adalah setelah saya rugi habis-habisan. Habis-habisan sampai hampir modar.

Alangkah baiknya kalau saya tahu tentang konsep cut-loss SEBELUM saya rugi besar.

Nah, kalau anda sudah membaca pos-pos di blog ini, saya yakin anda tahu bahwa saya sangat menekankan pentingnya cut-loss saat anda bermain saham. Apalagi saat anda baru mulai belajar main saham.

Mengapa?

Karena anda tidak perlu rugi habis-habisan sampai hampir modar untuk mulai menyadari pentingnya cut-loss. Kalau anda sudah konsisten cut-loss saat baru belajar main saham, proses belajar main saham anda akan jauh lebih menyenangkan daripada proses belajar yang saya alami.

 

Pos-pos yang berhubungan:

[Pos ini ©2021 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

 

Sunday, March 29, 2020

Saham Dibeli Langsung Turun. Sebaiknya Bagaimana?

Pernahkah anda membeli saham, lalu tidak lama kemudian saham tersebut turun? Turun dan terus turun?

Kalau anda sudah main saham cukup lama, kemungkinan anda menjawab: "Bukan cuma pernah. Tapi sering."

Apalagi kalau kondisi pasar sedang panik seperti saat wabah virus Corona melanda di bulan Maret 2020. Harga saham bisa turun dan turun dan turun lebih dalam lagi.

Apa yang sebaiknya dilakukan?




Kalau anda pembaca setia blog ini, anda tahu bahwa saya menyarankan untuk menjual (cut-loss) kalau saham anda turun sampai titik cut-loss yang sudah anda tentukan.

Tapi bagaimana kalau anda sebenarnya YAKIN akan fundamental saham yang anda beli? Tidakkah sebaiknya saham tersebut tetap dipegang saja? Lagipula banyak orang berusaha meyakinkan anda (dan diri mereka sendiri) bahwa saham yang berfundamental bagus akan naik lagi setelah badai berlalu.

Saya setuju bahwa saham berfundamental bagus akan naik lagi kalau BENAR fundamental-nya tetap bagus setelah badai berlalu. Tapi tidak ada yang tahu dengan pasti bahwa fundamental saham akan tetap bagus setelah ada masalah serius (seperti wabah virus Corona) meluluhlantakkan roda perekonomian.

Jadi, apa yang sebaiknya dilakukan?

Saran saya (terutama kepada pemain saham jangka panjang): Jual/cut-loss dulu. Kalau nanti kondisi sudah lebih jelas, silahkan beli lagi.

(Kalau anda trader jangka pendek, anda seharusnya sudah menyiapkan trading plan jangka pendek.)


---###$$$###---


Gerald M. Loeb juga membahas topik ini di buku The Battle for Investment Survival:

The short-term method requires the closing of a trade for a reason, and if later the situation changes, then one can re-establish the position. It sometimes can be done at a profit, and sometimes only at a loss in which case one has in effect paid for insurance.

Metode jangka pendek mengharuskan anda punya alasan untuk menjual saham (menutup posisi), dan kalau setelah itu situasi berubah, anda bisa membeli kembali saham tersebut (membuka posisi baru). Terkadang hal itu bisa memberi untung, dan terkadang mendatangkan rugi. Kerugian ini harus anda anggap sebagai premi asuransi.



Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2020 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Monday, October 17, 2016

Amnesti Saham. Ungkap. Tebus. Lega.

Saya ikut progam amnesti pajak dan membayar tebusan di akhir bulan Agustus 2016.

[Informasi tambahan untuk anda yang sedang menunggu kedatangan surat amnesti pajak anda: Surat keputusan amnesti pajak dari Kanwil Dirjen Pajak saya terima sekitar 50 hari (= 35 hari kerja) SETELAH surat pelaporan harta (SPH) diserahkan.

Nah, kalau surat keputusan amnesti pajak anda belum datang dalam waktu 10 hari kerja seperti yang dijanjikanapalagi kalau anda ikut amnesti pajak di akhir September 2016 di mana antrian membludaksilahkan menunggu dengan sabar. Gak perlu komplain, gak perlu stress. Santai saja. Nanti juga akan sampai.]

Figure 1. Kartu Terima Kasih Telah Memanfaatkan Amnesti Pajak
 
Amnesti pajak ini sifatnya sukarela. Pertanyaannya: mengapa saya sukarela mengeluarkan uang membayar uang tebusan?

Apakah karena saya kelebihan duit?

Apakah karena saya mau bersumbangsih pada pembangunan Indonesia?

Atau karena saya cinta banget sama Bapak Presiden Jokowi yang berkomitmen menyukseskan program amnesti pajak?

Bukan, bukan, dan bukan (jangan marah ya Pak Presiden). Ketiga hal tersebut bukan alasan utama saya ikut amnesti pajak.

Lalu apa dong?

Alasan utama saya ikut amnesti pajak adalah karena lebih baik membayar tebusan 2% daripada menanggung resiko membayar lebih besar di kemudian hari.

Sebagai informasi, Undang-undang Pajak menyatakan bahwa jika anda tidak ikut amnesti pajak dan di kemudian hari ditemukan (oleh petugas pajak) ada harta tambahan yang belum dilaporkan di Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT), anda harus membayar pajak atas harta tersebut sesuai Undang-undang yang berlaku. Nah, berdasarkan undang-undang pajak yang berlaku sekarang, nilai yang harus dibayar bisa sampai 30%.

Mari dipilah-pilih.

Kalau bayar 2%, masalah selesai.

Kalau tidak rela bayar 2%dan ketahuan petugas pajakharus bayar 30%.

Pilih mana?

Rasa-rasanya sih jelas lebih baik bayar 2%.

Itulah alasan utama saya ikut amnesti pajak.

Nah, sampai di sini mungkin mungkin anda bertanya-tanya: Apa sih hubungan amnesti pajak dengan main saham?

Mari saya analogikan.

Amnesti pajak yang sifatnya sukarela mirip dengan cut-loss (jual saham yang posisinya rugi) yang sifatnya juga sukarela.

Kalau saham anda sudah turun 10% dari harga beli (berarti anda rugi 10%), apakah lebih baik anda jual dan dukarela menerima kerugian ini?

Atau apakah lebih baik menunggu sambil berharap-harap cemas saham naik ke harga beli (impas tidak untung tidak rugi) lalu anda jual?

Menunggu dan berharapselain membuat stressada resikonya. Bagaimana kalau harga saham tidak naik ke harga beli tapi malahan terus turun. Bagaimana kalau rugi yang 10% membengkak menjadi rugi 20%? 30%? 40%? 50%? 80%?

Kalau cut-loss sekarang, rugi 10%. Kalau tidak cut-loss, bisa impas tapi bisa juga (kemungkinan besar) rugi menjadi lebih besar.

Pilih mana?

Menurut saya seharusnya anda memilih yang pasti: cut-loss selagi ruginya masih (relatif) kecil. Jangan (terlalu) berharap saham akan naik lagi ke harga impas. Bayarlah kerugian yang masih relatif kecil ini dengan dukarela.


---###$$$###---


Amnesti pajak dan cut-loss sama-sama sifatnya sukarela.

Bedanya, fasilitas amnesti pajak mungkin hanya diberi kesempatan sekali ini saja tapi cut-loss saham bisa anda lakukan kapanpun. Asalkan anda RELA.

Proses Amnesti Saham mudah kok:

Ungkap bahwa posisi saham anda rugi.

Tebus dengan melakukan cut-loss.

Lega.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2016 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, August 20, 2016

Resiko Kalau Tidak Pernah Mau Cut-Loss

"When you play the game of thrones, you win or you die."  - Cersei Lannister

Ketika anda bermain dalam perebutan takhta, anda menang atau anda mati.

"When you play the game of stocks, you cut-loss or you die."  - Iyan Terus Belajar Saham

Ketika anda bermain saham, anda cut-loss atau anda mati.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2016 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Thursday, December 24, 2015

Arti Istilah "Averaging Down" Saham

Average = rata-rata
down = turun

Averaging Down dalam bermain saham artinya adalah menurunkan harga rata-rata saham dengan membeli lagi saham tersebut pada harga yang lebih rendah.

Contoh:

Misalkan anda membeli 5 lot (5 lot x 100 lembar = 500 lembar) saham ANTM di harga Rp 400. Harga ra-rata per lembar saham anda saat tersebut adalah Rp 400.

Beberapa minggu kemudian, namanya juga lagi apes, harga ANTM turun menjadi Rp 300. Karena menurut anda saham ANTM sudah murah, anda membeli lagi 5 lot di harga Rp 300.


Harga rata-rata ANTM anda per lembar saat itu =

{(500 lembar x Rp 400) + (500 lembar x Rp 300)}/1000 lembar = Rp 350.


Nah, harga rata-rata saham ANTM anda turun dari Rp 400 ke Rp 350 karena anda membeli ANTM lagi di harga Rp 300.

Tindakan anda membeli saham ANTM di harga Rp 300 inilah yang dinamakan Averaging Down.

---===$===---

Sekarang anda sudah tahu arti istilah Average Down.

Pertanyaan berikutnya: apakah melakukan Averaging Down adalah tindakan yang benar?

Tony Salibasalah satu top trader yang di-interview Jack Schwager di buku Market Wizards—menganalogikan Averaging Down dengan melubangi perahu yang bocor.

"When you are in a boat that springs a leak, you don't drill another hole to let the water out," begitu kata Tony Saliba.

Ketika anda berada di perahu yang bocor, anda tidak membor satu lubang lagi untuk mengeluarkan air. 

Artinya?

Artinya, menambah lubang di perahu bocor adalah tindakan yangmeminjam kata dari Holy, teman SMA sayasuper guoblok. Alih-alih airnya akan keluar, malahan perahu akan lebih cepat tenggelam.

"Jadi bung Iyan," celetuk anda, "membeli saham lebih banyak lagi saat saham turun adalah tindakan yang salah?"

Secara umum, betul bahwa Averaging Down adalah tindakan yang salah.

"Tapi di pos 'Cara Membeli Saham Untuk Pemula (Bagian III)' bung Iyan menyarankan untuk membeli saham secara bertahap: langsung beli separuh saat itu juga dan beli lagi separuh kalau harga turun. Bukankah ini juga Averaging Down?"

Wah, rupa-rupanya ada juga pembaca yang membaca dengan teliti.

Memang betul di pos "Cara Membeli Saham Untuk Pemula (Bagian III)" saya menyarankan pemula untuk membeli langsung 1/2 bagian saham dan membeli 1/2 bagian lagi di kemudian waktu.

Nah, membeli di kemudian waktu ini TIDAK BERARTI membeli lagi HANYA kalau saham turun. Membeli di kemudian waktu ini bisa dilakukan di harga lebih rendah, di harga sama, ataupun harga lebih tinggi.

Tapi saya akui bahwa di pos tersebut saya memakai contoh membeli lagi saham ketika harga saham turun. Tindakan tersebutmenurut definisi di atas—adalah tetap saja Averaging Down.

"Jadi yang benar gimana dong?" kata anda. "Katanya Averaging Down adalah tindakan salah?"

Saya ulangi kalimat di atas: Secara umum, betul bahwa Averaging Down adalah tindakan yang salah.

Tapi kalau anda adalah pembaca setia blog ini, kemungkinan besar anda pernah membaca pernyataan saya bahwa TIDAK ADA yang ABSOLUT saat bermain saham.

Artinya, sedapat mungkin HINDARI tindakan Averaging Down. Tapi ada saat dan kondisi tertentu di mana anda boleh mempertimbangkan Averaging Down.

Dan Averaging Down boleh anda pertimbangkan HANYA kalau anda sudah menyiapkan Trading Plan untuk semua skenario. Dan yang paling penting: selalu ingat untuk menentukan titik Cut-Loss dan lakukan Cut-loss kalau harga saham mencapai titik tersebut.

Yang harus anda camkan adalah ini: kalau harus memilih antara Averaging Down dan Cut-loss, selaluSELALU, ALWAYS, JANGAN PERNAH RAGU—pilih Cut-loss.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2015 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]