Saturday, August 31, 2013

Cara Investasi Saham William O'Neil (Bagian IV-Tamat)

Pos ini adalah lanjutan dari "Cara Investasi Saham William O'Neil (Bagian III)."

Untuk membaca seri ini dari awal, silahkan klik di si "Cara Investasi Saham William O'Neil (Bagian I)."


Nah, sekarang kita sampai pada Bagian III dari buku How To Make Money in Stocks.


III. Investing Like a Profesional (Berinvestasi Layaknya Profesional)

Kalau Bagian II saya katakan sebagai bagian terpenting dari buku ini, Bagian III (Bab 13 - Bab 20) adalah bagian yang ter-TIDAK-penting.

Kok?

Saya berikan sedikit gambaran tentang bab-bab tersebut.

Bab 13, 14, 15 dipakai William O'Neil untuk mempromosikan produk dagangannya: koran Investor Business Daily (IBD).

Blah-blah-blah.

Bung Iyan kenapa anti-iklan ya? pikir anda.

Nah, anda salah mengerti.

Saya tidak anti-iklan.

Yang saya anti adalah MEMBAYAR untuk membaca iklan. Anda tentu setuju bahwa iklan seharusnya GRATIS untuk pembaca.

Anda dan saya membayar sejumlah uang untuk tahu isi buku How To Make Money In Stocks. Tidak sepatutnya O'Neil menggunakan buku yang sudah kita bayar untuk mempromosikan dagangannya. Lain halnya kalau O'Neil membagikan gratis buku How To Make Money In Stocks ini.

Anda ingat di pos "Cara Investasi Saham William O'Neil (Bagian II)" saya menganjurkan anda untuk tidak melompati bagian lain buku ini? Nah, saya mengaku salah. Tidak semua buku ini perlu dibaca seksama. Untuk Bab 13, 14, 15, silahkan anda baca sepintas lalu saja karena penjelasan O'Neil tentang koran IBD tidak relevan kalau anda main saham Indonesia.

(Catatan: Jangan mengartikan bahwa koran Investor Business Daily jelek. Koran tersebut bagus, hanya saja tidak relevan untuk anda yang hanya main saham Indonesia.) 

Bagaimana dengan bab-bab selanjutnya?

Bab 16: The Art of Tape Reading
Bab 17: Shoud You Buy Options, Nasdaq Stocks, New Issues, Convertiblen Bonds, Tax Shelters, Foreign Stocks?
Bab 18: How Could You Make a Million Dollars Owning Mutual Fund.

Ketiga bab ini tidak terlalu penting, tapi tidak ada salahnya dibaca. Tidak perlu dengan seksama. Silahkan anda baca dengan cepat.

Di Bab 19: Improving Management of Pension and Institutional Portfolios lagi-lagi O'Neil mempromosikan jualannya.

Blah-blah-blah.

Sekarang kita sampai ke bab terakhir buku ini:

Bab 20: Important Guidelines to Remember (Panduan Penting Untuk Diingat)

Bab 20 ini merangkum poin-poin penting di buku ini. Bab 20 adalah bab terpenting dari Bagian III buku ini.


Nah, anda sudah tahu pendapat dan pandangan saya tentang buku How To Make Money in Stocks. Saatnya untuk anda baca buku tersebut dan menilai sendiri. Saya tunggu komentar, pertanyaan, pendapat, dan pandangan anda.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2013 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

    Saturday, August 24, 2013

    Saham Turun, Tidak Dijual. Sudah Rugi Atau Belum?

    Misalkan anda membeli saham Semen Baturaja (SMBR) di harga Rp 600. Dasar lagi apes, SMBR perlahan-lahan turun. Sebulan kemudian SMBR bertengger di harga Rp 450.

    Posisi anda di atas kertas rugi, tapi anda belum berminat menjual saham ini.

    "Selama belum aku jual berarti belum rugi," kata anda dalam hati menghibur diri sendiri.

    Justifikasi anda adalah sebagai berikut: kalau belum dijual, saham masih bisa naik lagi. Jadi, sebelum saham dijual, tidak bisa dibilang sudah rugi.

    Benarkah logika tersebut?

    Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat skenario berikut.

    Katakan saja Dian, putri anda tercinta* yang berusia 10 tahun menderita demam 40° C. Karena demam tak kunjung turun, anda membawa Dian ke rumah sakit. Dokter ahli langsung memberi obat dan infus dan mengharuskan Dian dirawat-inap.

    * (Kalau anda tidak punya putri, coba bayangkan putra anda. Tidak punya juga? Coba bayangkan seseorang yang sangat anda kasihi, misalkan istri atau suami anda, ibu atau ayah anda, kakak atau adik anda, pacar, anjing atau kucing atau burung peliharaan anda. Pokoke seseorang atau sesuatu yang sangat anda cintai.)

    Pada pagi hari ketiga Dian dirawat-inap, ketika anda sedang membeli secangkir kopi di kantin rumah sakit setelah menunggui Dian semalam suntuk, telepon genggam anda berdengung.

    "Pak, saya suster Melda," kata suara di sisi lain telepon. "Mohon segera datang ke ruangan Dian."

    Anda campakkan cangkir kopi di meja dan langsung berlari ke lantai 3 rumah sakit, ke ruangan di mana Dian dirawat.

    Hal pertama yang anda lihat adalah istri anda meraung-raung di pinggir kasur Dian. Suster Melda dan suster Hani, juga dokter Syahrial berdiri diam.

    "Ada apa?" kata anda sambil bergantian memandangi Dian, lalu istri anda, lalu dokter Syahrial.

    "Segala upaya sudah kami lakukan," kata dokter Syahrial. "Maaf sedalam-dalamnya, Pak. Putri anda...sudah berpulang."

    Anda memelototi sosok Dian di tempat tidur. Jantung anda berdetak sepuluh kali per detik, bibir anda kering.

    "Berpulang gimana?" tanya anda. Anda tahu artinya "berpulang" tapi tidak mungkin si putri tercinta "berpulang."

    "Maaf, Pak," kata suster Melda. "Dian sudah wafat."

    "Tidak. Tidak mungkin. Apa buktinya?"

    "Denyut jantung Dian sudah berhenti sepuluh menit, Pak," kata dokter Syahrial.

    "Tidak. TIDAK," kata anda. "Dian belum mati. Selama ia belum dikubur, berarti ia belum mati. BELUM MATI."

    Lah?

    Nah, menurut anda masuk akalkah argumen bahwa selama Dian belum dikubur, berarti ia belum mati. Padahal ia sudah tidak bernafas, padahal jantungnya sudah berhenti berdenyut. Betapapun besar cinta anda pada Dian tidak akan merubah fakta bahwa ia sudah tidak bernyawa.

    Sudah anda pikirkan?

    Coba anda bandingkan dengan logika bahwa saham yang sudah turun tapi belum dijual berarti belum rugi.

    Hanya karena belum anda kubur, tidak berarti Dian belum mati.

    Hanya karena (saham yang turun) belum anda jual, tidak berarti anda belum rugi.

    Jual ataupun belum, faktanya adalah harga saham sekarang di bawah harga beli. Apakah anda berniat menjual atau tidak, tidak merubah fakta bahwa pada saat itu anda rugi.   

    Reaksi menyatakan belum rugi kalau belum dijual adalah reaksi normal pemain saham, baik pemula ataupun veteran. Intinya, hampir semua orang tidak mau mengaku salah. Belum jual berarti belum rugi. Belum jual berarti belum salah.

    Tapi, kalau belum jual, kata anda, saham masih bisa naik lagi kan.

    Betul. Tidak salah.

    Tapi saham juga bisa turun lebih dalam lagi. Sudahkan anda memikirkan kemungkinan ini? 

    Jadi, bagaimana seharusnya anda menyikapi saham yang harganya turun jauh di bawah harga beli?

    Anda harus menganggap SUDAH RUGI.

    Perhatikan: Saya tidak mengharuskan anda untuk menjual saham yang sudah rugi ini. Silahkan saja kalau anda tetap bersikeras tidak mau jual. Saya tidak berhak memaksa anda.

    Tapi satu hal yang saya haruskan anda lakukan: terimalah fakta, walaupun faktanya pahit. Jangan bersembunyi di dunia khayal. Kalau harga saham turun, artinya sudah rugi. Tidak peduli apakah sudah dijual atau belum.

    Mengapa harus menganggap sudah rugi?

    Menganggap SUDAH RUGI berarti anda mengaku salah. Dan hanya dengan mengaku salah anda bisa belajar dari kesalahan tersebut. Dengan belajar dari kesalahan ini, lambat-laun anda akan makin paham cara main saham yang menguntungkan.

    Jadi, tanyakan sekali lagi ke diri anda sendiri: kalau saham yang anda beli turun, tapi belum dijual, apakah sudah rugi atau belum?

    Kalau anda setuju bahwa saham turun berarti sudah rugi, bagaimana langkah selanjutnya untuk saham ini? Silahkan baca pos "Saham Turun, Sudah Rugi. Harus Bagaimana?" [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.]






    Pos-pos yang berhubungan:
    [Pos ini ©2013 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]  

      Saturday, August 17, 2013

      Cara Investasi Saham William O'Neil (Bagian III)

      Pos ini adalah lanjutan dari pos "Cara Investasi Saham William O'Neil (Bagian II)."

      Untuk membaca seri ini dari awal, silahkan klik di sini "Cara Investasi Saham William O'Neil (Bagian I)."

       
      Dari 7 bab tentang CAN SLIM™, bab berapa yang paling penting?

      Mari kita perhatikan jumlah halaman pada masing-masing bab CAN SLIM™ ini (saya mengacu pada buku versi bahasa Inggris):

      Tabel 1. Jumlah Halaman Bagian I Buku How To Make Money In Stocks

      Menurut anda, kalau mengacu pada jumlah halaman, kira-kira bab berapa yang paling penting?

      Jumlah halaman Bab 7 (Market Direction/Arah Pasar) tiga sampai enam kali lipat jumlah halaman bab-bab lainnya. Dari fakta ini, sangat jelas bahwa menurut O'Neil, huruf M dari CAN SLIM™ jauh lebih penting daripada huruf-huruf CAN SLI.

      Ah, kata anda dalam hati, bung Iyan sok tahu. Masak sih mengukur penting tidaknya suatu bab dari jumlah halaman.

      Bagus. Bagus. Anda sudah belajar tidak langsung percaya pada perkataan siapapun.

      Mari kita lihat opini kedua, opini sang penulis. Apakah tafsiran saya didukung oleh si penulis secara gamblang?

      Walaupun tersirat jelas dari jumlah halaman bahwa Bab 7 adalah bab yang paling penting di Bagian I, O'Neil tidak mau mengambil resiko kalau-kalau anda tidak menangkap makna tersirat ini. Tulis O'Neil di paragraf pertama bab tersebut:

      You can be right on every one of the factors in the first six chapters, but if you're wrong about the direction of the general market, three out of four of your stocks will plummet with the market averages....
      Anda bisa saja melakukan dengan benar semua faktor di enam bab sebelumnya, tapi bila anda salah tentang arah pasar secara keseluruhan, tiga dari empat saham anda akan tumbang mengikuti pasar....

      Anda masih juga tidak menangkap makna tersirat dan tersurat bahwa Bab 7 sangat penting?

      William O'Neil menutup Bagian I buku How To Make Money In Stocks dengan kalimat berikut:

      Never fight the market—it's bigger than you are.
      Jangan pernah melawan pasar—ia lebih besar dari anda.

      Dengan kata lain, arah pasar sangat dominan dalam menentukan apakah anda untung atau buntung dalam berinvestasi saham. 

      Jangan bilang saya belum mewanti-wanti anda untuk membaca Bab 7 dengan seksama.


      II. Be Smart From the Start

      Menurut William O'Neil Bagian I adalah bagian terpenting buku ini. Tapi menurut saya, Bagian II-lah yang terpenting.

      Mengapa? 

      Karena nasihat-nasihat O'Neil di sini berlaku untuk semua metode main saham, bukan hanya untuk CAN SLIM™.

      Bagian II ini terdiri dari lima bab:

      Bab 8: Sembilan Belas Kesalahan Yang Dilakukan Investor
      Bab 9: Kapan Menjual dan Cut-Loss
      Bab 10: Kapan Menjual Untuk Realisasi Profit
      Bab 11: Haruskah Diversifikasi, Investasi Jangka Panjang, Memakai Margin, Jual Short, dan lain-lain
      Bab 12: Bagaimana Membaca Grafik

      Baca lima bab ini dengan seksama. Dan resapi maknanya perlahan-lahan.

      Sebagai informasi, di Bab 8 versi Indonesia ada beberapa bagian yang terjemahannya tidak tepat dan berpotensi salah anda tafsirkan.

      Pada nomor 1 di Sembilan Belas Kesalahan Yang Dilakukan Investor:
      1. Terlalu toleran terhadap kerugian-kerugian kecil.
      Versi asli: Stubbornly holding onto losses when they are very small and reasonable.
      Seharusnya: Bersikeras tidak mau jual rugi ketika kerugiannya sangat kecil dan masuk akal.
      Justru ini artinya adalah anda harus toleran pada kerugian-kerugian kecil dan jangan membiarkan kerugian kecil malah menjadi kerugian besar.


      Pada nomor 3:
      3. Membeli ketika harga rata-rata turun.
       Versi asli: Averaging down in price rather than up when buying.
      Terjemahan yang benar: Membeli lagi saham ketika saham turun daripada ketika saham naik.
      Jadi artinya bukan
      membeli ketika harga rata-rata turun,
      tetapi membeli lagi saham yang sama ketika harga turun untuk menurunkan harga rata-rata.


      Pada nomor 12:
      12. Berusaha meraup keuntungan dengan prinsip "Biar Sedikit Asal Untung" dari saham-saham berkinerja buruk.
      Versi asli: Cashing in small, easy-to-take profits while holding onto losses.
      Seharusnya: Mengambil untung yang jumlahnya kecil tapi bersikeras tidak mau jual saham yang rugi.

      Sudah selesai membaca Bagian II buku ini?

      Ulangi dan baca SEKALI lagi.

      Sudah? Kok cepet banget?

      Nah, sekarang kita sampai pada Bagian III buku How To Make Money in Stocks.

      Lanjut baca ke "Cara Investasi Saham William O'Neil (Bagian IV-Tamat)."






      Pos-pos yang berhubungan:
      [Pos ini ©2013 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]