Saturday, February 25, 2012

Cara Membeli Saham Untuk Pemula (Bagian II)

Pos ini adalah lanjutan dari “Cara Membeli Saham UntukPemula (Bagian I).” 

Anda sudah tahu mau beli saham “Apa.” Anda juga bisa menjawab “Mengapa” anda membeli saham tersebut. Kini saatnya anda melakukan aksi beli dan menentukan jumlah dan harga beli.


II. Jumlah Berapa dan Harga Berapa

Jumlah/nilai saham yang anda beli tergantung pada modal anda. Untuk pemula saya anjurkan memegang maksimum 5 saham. Mengacu pada anjuran ini, cara paling sederhana menentukan jumlah/nilai saham yang harus anda beli adalah dengan membagi 5 modal anda. 

Jadi kalau anda punya modal Rp 10 juta, nilai saham GIAA (Garuda Indonesia) yang boleh anda beli adalah Rp 2 juta (Rp 10 juta dibagi 5). Tolong dicatat bahwa nilai Rp 2 juta ini adalah kurang lebih, tidak harus tepat-pas-tidak-lebih-tidak-kurang Rp 2 juta. 

(Kalau anda ingin tahu cara lebih ruwet untuk menentukan jumlah/nilai saham yang harus dibeli, silahkan baca pos “Cara Cut-Loss Untuk Stop Kerugian Saham Bagian II.”)

Nah, setelah anda berminat membeli saham senilai Rp 2 juta, langkah berikut adalah menentukan di Harga Berapa anda akan membeli saham itu. 

“Gampang dong,” tukas anda. “Harga GIAA kemarin kan ditutup di 510. Jadi saya akan beli di harga 500. Masa sih gak turun 10 perak lagi?” anda berandai-andai.

Sah-sah saja. Tapi perlu anda ketahui bahwa harga saham berfluktuasi—naik turunmembuat proses membeli saham tidak sesederhana yang anda pikirkan. Artinya, hanya karena anda mau membeli GIAA di 500 tidak berarti anda akan mendapatkannya di harga tersebut. 

Mengapa?

Ada beberapa alasan. Alasan pertama adalah belum tentu GIAA akan turun ke 500. Hanya karena kemarin GIAA turun sampai 510, tidak ada jaminan bahwa hari ini GIAA akan turun ke 500. Alasan kedua, kalaupun anda sudah  “bid” GIAA di 500 dari pagi dan GIAA benar turun ke harga ini, tidak ada jaminan juga bahwa anda akan kebagian saham ini karena bisa saja antrian “bid” anda di belakang. (Anda baru pasti mendapatkan GIAA di 500 kalau harga terendah GIAA pada hari itu di bawah 500.)

(Untuk jelasnya mengenai “bid” dan “offer”, silahkan baca pos “Istilah ‘Bid’ dan ‘Offer’ Ketika Bermain Saham.”)

Kalau anda tidak mau pusing dengan harga beli dan sangat bernafsu untuk secepat mungkin mendapatkan saham yang anda incar, cara paling mudah adalah dengan langsung membeli di harga “Offer” pada saat itu. Jadi kalau GIAA “bid” di 500 dan “offer” di 510, anda bisa langsung mendapatkan GIAA kalau anda membeli di 510. Memang, kalau anda yakin sekali dengan analisa anda dan menurut anda GIAA murah di harga 500, membeli di 510 tidak salah untuk dicoba. 

Perlu anda sadari tindakan membeli langsung di harga “offer” biasanya membawa dilema. Kalau anda sudah pernah meng-hit beli saham di harga “offer,” sangat sering anda merasa bahwa setelah anda beli, saham langsung turun.

Apakah ini berarti anda harus selalu sabar menunggu beli di harga “bid”? 

Tidak juga. Karena ketika anda sabar menunggu beli di harga “bid,” sangat sering saham tersebut tidak turun mencapai harga dan antrian bid anda. Kerap terjadi, saham bukannya turun ke harga “bid” malahan langsung naik. Nah lho.

Jadi harus bagaimana? 




[Pos ini ©2012 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Monday, January 9, 2012

Cara Membeli Saham Untuk Pemula (Bagian I)

(Catatan: Untuk anda yang SERIUS ingin belajar main saham, silahkan buka dan baca halaman "Kurikulum.")


Anda sudah buka rekening di sekuritas saham dan sudah tidak sabar untuk membeli saham. (Kalau anda belum punya rekening di sekuritas saham, silahkan baca pos "Bagaimana Cara Membeli Saham Indonesia" dan "Sekuritas/Broker Saham Mana Yang Bagus?")  Sebelum membeli saham, apa saja yang harus anda pertimbangkan? 

Menurut saya, anda harus melakukan tiga tahap tanya-jawab yaitu: 

I. Apa dan Mengapa 
II. Jumlah Berapa dan di Harga Berapa
III. Kapan dan Bagaimana

Mari kita telaah satu-persatu.

(Proses ini adalah salah satu bagian dari "Trading Plan" atau Rencana Trading.) 


I. Apa dan Mengapa 

Sebelum membeli saham, pertanyaan yang pertama harus anda jawab adalah: saham apa dan mengapa. Pemain saham biasanya tahu “Apa” yang mau ia beli. Tapi “Mengapa” ia membeli, mayoritas pemain saham tidak bisa menjawab. Jadi sebagai pemula, anda harus membiasakan diri bertanya “Mengapa,” apa alasan anda mempertaruhkan uang hasil kerja keras anda di saham, misalnya, ASRI (Alam Sutera Realty).

Alasan anda membeli suatu saham harus sespesifik mungkin. Jadi, jangan menjawab, “Karena saya mau mendapat untung.” Semua orang membeli saham karena mengharapkan untung. Yang harus anda jawab adalah mengapa saham tersebut berpotensi naik dan memberi anda keuntungan. Apakah karena saham itu murah, atau karena perusahaan sedang berekspansi, atau karena produknya laku keras. Atau bisa juga karena analisa teknikal Moving Average atau Stochastic atau MACD memberi sinyal bahwa saham cenderung akan naik. (Silahkan baca pos "Saham yang Layak Dibeli Menurut Analisa Teknikal.")

Memang, sangat sulit menjawab “Mengapa” suatu saham patut dibeli, apalagi kalau anda masih pemula. Anda perlu mempelajari cara menganalisa saham, baik dari segi fundamental, teknikal, ataupun analisa-analisa lainnya. (Silahkan baca pos “Cara/Teknik Menganalisa Saham.”) Diperlukan pengalaman bertahun-tahun bermain saham sebelum anda bisa menemukan alasan tepat “Mengapa” anda membeli saham. 

Karena itu, sebagai pemula, anda sebaiknya mulai dengan mencoba saran orang lain yang lebih berpengalaman dari anda. Saran ini bisa anda dapat dari membaca (buku, surat kabar, riset analis) atau langsung dari seseorang (broker, teman, saudara).

“Saya membeli UNVR karena menurut analis harganya murah dan fundamentalnya baik,” begitu misalnya jawaban anda. Sah-sah saja. Yang harus anda perhatikan adalah bagaimana track-record analis tersebut. Apakah sarannya pada masa silam cukup akurat? Kalau anda belum tahu track-recordnya, belilah saham yang ia sarankan dalam jumlah kecil. Dengan berjalannya waktu, coba ukur keakuratan analisanya. 

Bisa juga anda mengikuti saran dari buku yang anda baca. “Peter Lynch di buku ‘One Up on Wall Street’ menyarankan membeli saham yang labanya terus naik. "Karena laba perusahaan A naik terus, saya memutuskan untuk membeli sahamnya” adalah contoh jawaban yang cukup baik.

Kalau anda mendapat saran dari teman untuk membeli saham UNTR (United Tractor), jangan langsung membeli. Tanyakan alasan “Mengapa.” Kalau teman anda tidak bisa menjawab dengan memuaskan, jangan beli.   

Intinya: anda harus bisa menjawab “Mengapa” anda membeli suatu saham, tidak masalah apakah jawaban itu hasil pemikiran anda sendiri ataupun hasil pemikiran orang lain. Jangan sekali-kali membeli saham tanpa alasan karena jawaban pertanyaan “Apa” dan “Mengapa” ini adalah faktor utama penentu apakah anda akan untung atau buntung.

Perhatikan bahwa “Apa” dan “Mengapa” adalah dua pertanyaan yang berhubungan erat dan tidak bisa dipisahkan. Langkah yang paling umum adalah anda memutuskan “Apa”  yang mau dibeli, lalu anda mencari jawaban “Mengapa.”  Tapi bisa juga anda sudah menentukan alasan “Mengapa,” lalu baru anda tentukan “Apa” yang harus dibeli. 

Maksud saya begini: bisa saja anda sudah menentukan mau membeli saham Semen Gresik (SMGR). Artinya, anda sudah tahu “Apa” yang mau anda beli; sekarang anda perlu menjawab “Mengapa.”

Bisa juga anda melakukan kebalikannya. Misalkan anda menentukan hanya akan membeli saham dengan Price Earning Ratio (PER) (Silahkan baca pos "Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku 'One Up on Wall Street', Bagian V) di bawah 10. Anda sudah tahu “Mengapa”nya, jadi anda tinggal memilih-milih “Apa” saham yang harus dibeli. 

Tapi, protes anda, saya pemula banget dan tidak tahu sama sekali “Apa” yang harus saya beli, apalagi “Mengapa.” Terus saya harus mulai dari mana? 

Kalau anda tidak tahu harus mulai dari mana, saran saya adalah sebagai berikut: Pilihlah 5 sampai 10 saham yang menarik perhatian anda. Saham-saham pilihan ini adalah "Apa" yang akan anda beli.

Hindari saham-saham “gorengan” alias saham-saham kecil yang fluktuasi harganya sangat besar. Mulailah dengan saham-saham berkapitalisasi besar—yang masuk kategori “blue chip.” (Silahkan baca pos “Arti Istilah Saham 'BlueChip'”).

Mengapa ? 

Kemungkinan anda rugi besar di saham “blue chip” relatif jauh lebih kecil daripada di saham gorengan. Baca baik-baik kalimat sebelum ini: saya tidak bilang kemungkinan anda rugi relatif kecil, tapi kemungkinan anda rugi BESAR relatif lebih kecil.  Sebagai pemula, yang harus anda control adalah janganlah rugi besar sehingga mengancam keselamatan finansial anda.

Setelah menetapkan "Apa", pantaulah saham-saham tersebut. Baca berita, pelajari fundamental, ikuti pergerakan harga saham-saham tersebut. Setelah itu, tentukan apakah anda adalah investor jangka panjang atau trader jangka pendek? (Silahkan baca pos “Investasi Saham atau Trading Saham, Mana Lebih Baik”). Lalu tentukan analisa saham bagaimana yang lebih tepat untuk anda, apakah analisa fundamental atau analisa teknikal atau analisa cara lain. (Silahkan baca pos “Cara/Teknik Menganalisa Saham”).

Ketika anda membeli salah satu dari saham "Apa", catat alasan "Mengapa." Kalau hasilnya untung, lanjutkan. Kalau buntung, coba perbaiki alasan tersebut atau cari alasan yang baru. Pergerakan saham ada polanya. Carilah pola-pola gerak saham yang menghasilkan untung.

Dengan melalui proses di atas, perlahan-lahan anda akan menemukan jawaban “Mengapa” suatu saham layak dibeli. Suatu saat, dengan pengalaman yang cukup, anda tidak perlu lagi berpaku pada saran orang lain; anda bisa memformulasikan jawaban sendiri untuk menjawab “Mengapa” anda membeli suatu saham. Saat itulah anda sudah “naik kelas” dari pemain saham pemula menjadi pemain saham berpengalaman.

Saturday, September 10, 2011

Arti Istilah "Lot" dan "Odd Lot" di Bursa Efek Indonesia

Lot adalah istilah pemain saham untuk satuan volume saham. Saat ini, satu lot di Bursa Efek Indonesia (BEI) sama dengan 500 lembar saham.

(Catatan: Mulai tanggal 06 Januari 2014, Bursa Efek Indonesia merubah satuan lot menjadi 1 lot = 100 lembar saham.)

Di BEI semua order jual dan beli di pasar regular harus dalam besaran lot. Kalau anda mau beli, anda harus beli minimum satu lot; kalau anda mau jual, anda harus jual minimum satu lot.  Pada bid dan offer saham di Order Book, yang biasanya tertera adalah besaran lot, bukan lembar saham. Jadi kalau volume bid tertera 12800 itu artinya 12800 lot, bukan lembar. 

Sekarang anda sudah tahu bahwa satu lot di BEI artinya 500 lembar saham. Nah, apa yang dimaksud dengan “Odd Lot”?

Kalau diterjemahkan secara harafiah “Odd” artinya aneh, jadi “Odd Lot” artinya lot yang aneh. Di mana letak keanehan ini? 

Arti sebenarnya dari “Odd Lot” adalah jumlah saham yang tidak genap satu lot, alias tidak sampai 500 lembar. Ini berarti kalau anda punya saham sejumlah 280 lembar, saham ini dikategorikan “Odd Lot.” Kalaupun anda punya 499 lembar—kurang satu lembar dari 500—saham ini tetap “Odd Lot.”

Permasalahan dari saham “Odd Lot” adalah anda tidak bisa menjualnya di pasar regular. Mengapa? Karena seperti telah saya sebut di atas, semua order jual dan beli (bid dan offer) di pasar regular harus dalam besaran minimum satu lot. Jadi kalau anda hendak mentransaksikan saham “Odd Lot” anda harus melakukannya di pasar non-regular. Kalau anda ingin tahu prosesnya lebih lanjut, silahkan tanyakan kepada broker anda. 

Kalau anda tipe pemikir, anda mungkin bertanya-tanya,”Kalau saya tidak pernah membeli saham dalam jumlah ‘Odd Lot,’ bagaimana mungkin saham saya bisa jadi ‘Odd Lot’?” Pertanyaan yang sangat baik.

Jumlah saham anda bisa menjadi “Odd Lot” biasanya karena aksi korporasi (corporate action) emiten. Aksi korporasi ini misalnya bonus saham dan right-issue. Misalkan saham BRPT melakukan aksi korporasi memberikan bonus saham dengan rasio 500 saham lama mendapat 110 saham bonus. Kalau anda memiliki 5000 lembar saham (10 lot) anda akan mendapat 1100 saham bonus (2 lot plus 100 lembar). Seratus lembar saham sisa inilah yang menjadi saham “Odd Lot.” 

Perlu anda perhatikan bahwa besaran jumlah saham per lot ini tidak sama pada tiap bursa. Di Amerika Serikat, satu lot sama dengan 100 lembar saham. Jadi kalau anda bertransaksi di bursa di luar Indonesia, periksa dulu berapa jumlah saham per lot.

Pernah juga satuan lot dibedakan berdasarkan jenis saham. Contohnya: setelah krisis moneter tahun 1997, Bursa Efek Jakarta pernah membedakan satuan lot untuk saham perbankan dan lot untuk saham-saham lain. Pada saat itu satu lot saham perbankan = 5000 lembar saham, sedangkan satu lot saham non-perbankan = 500 lembar.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]