Saturday, August 13, 2011

Dow Jones Turun 513 Points Semalam. Tindakan Apa Yang Bisa Anda Lakukan? (Bagian II)



Biasanya, saham yang sudah turun drastis akan naik sedikit kalaupun akhirnya anjlok lagi. Yang terjadi pagi itu BBRI setelah anjlok ke 6600 pada pembukaan, pada pukul 10:00an sempat naik ke harga 6800. Jadi kalau anda "offer" di 6700 atau 6750, saham BBRI anda akan laku terjual. 

Tentu saja tindakan ini ada resikonya. Resikonya? Tidak ada jaminan saham anda akan naik ke harga "offer" anda. Bisa saja saham tersebut langsung turun lebih tajam dari  harga pembukaan.


3. Beli saham yang turun drastis

Saya mengatakan di atas bahwa saham yang turun drastis biasanya akan naik dulu sedikit kalaupun selanjutnya anjlok lagi. Mengikuti kaidah ini, kalau saham yang anda miliki anjlok jauh di bawah harga cut-loss, anda bisa mencoba membeli lagi saham tersebut di harga rendah untuk menurunkan harga rata-rata beli saham tersebut. Istilah keren tindakan ini adalah “average down.”

Tujuan anda meng-“average down” adalah untuk menjual semua saham yang anda miliki ketika saham tersebut naik sedikit. Karena harga beli rata-rata anda lebih rendah dari harga beli pertama, kerugian anda akan lebih kecil. 

PERINGATAN!  Strategi ini adalah strategi trading jangka pendek (bukan buy-and-hold) dengan resiko sangat tinggi dan sebaiknya tidak anda lakukan kalau anda berpengalaman bermain saham kurang dari 2 tahun.

Melanjutkan contoh BBRI di atas, katakan anda punya BBRI 10 lot dengan modal Rp 7000. Pada pembukaan pasar BBRI anjlok ke Rp 6600—di bawah harga cut-loss anda di Rp 6850—dan anda memutuskan membeli 10 lot BBRI lagi di harga 6600 ini dan langsung  meng”offer” semua (20 lot) saham tersebut di Rp 6750. Kalau laku di 6750, berarti anda mendapat untung Rp 150 dari 10 lot yang baru anda beli dan rugi Rp 250 dari 10 lot awal dengan total kerugian Rp 100. Ini kurang lebih sama dengan anda meng-“cut-loss” 10 lot saham awal BBRI anda di harga 6900. 

Secara teori, strategi di atas sangatlah baik, tetapi eksekusinya sangatlah sulit. Membeli saham ketika harga turun drastis memerlukan nyali baja. Lagipula bisa saja setelah anda membeli di harga rendah, saham tersebut malahan anjlok lebih rendah lagi. Kalau ini yang terjadi, bukannya kerugian berkurang malahan kerugian membengkak.

Di atas saya sudah memperingati anda untuk tidak melakukan strategi ini kalau anda berpengalaman bermain saham kurang dari 2 tahun. Ada satu hal lagi yang harus saya peringatkan: jangan melaksanakan strategi ini dalam jumlah uang melebihi kemampuan anda. Artinya, kalau posisi saham anda rugi dan anda tidak punya uang tunai untuk membeli lagi, jangan sekali-kali meminjam uang (memakai fasilitas “margin”/pinjaman dari perusahaan sekuritas) untuk melakukan “average down.” Sangat mungkin anda akan terkena “margin call” dan bangkrut disapu badai bursa. Belilah tambahan saham hanya kalau anda sendiri masih punya uang yang sudah dialokasikan untuk main saham. 

Nah, begitulah kira-kira pilihan yang bisa anda lakukan kalau saham anda di Bursa Efek Indonesia turun drastis. Saya tidak membahas strategi “short sell” dan strategi dengan “option” karena sampai saat ini di Indonesia “short sell” sulit dilakukan dan “option” belum diperdagangkan.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]
 

Saturday, August 6, 2011

Dow Jones Turun 513 Points Semalam. Tindakan Apa Yang Bisa Anda Lakukan? (Bagian I)

Jumat, 05 Agustus pukul 03:00 WIB (Kamis, 04 Agustus jam 16:00 waktu New York) , bursa saham Amerika ditutup turun drastis. Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 513 points (4.3%), S&P 500 turun 60.3 points (4.8%), Nasdaq Composite anjlok 136.7 points (5.1%).

Dini hari tersebut bursa-bursa Asia hancur lebur mengikuti jejak Amerika. Nikkei 225 Jepang, Strait Times Singapura, Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite Index langsung anjlok 3% pada pembukaan perdagangan.

Pada pukul 08:45 WIB, melihat kondisi bursa Amerika dan Asia yang hancur lebur anda yakin saham-saham Indonesia juga akan anjlok. Nah, kalau anda punya saham Indonesia, apa saja pilihan yang bisa anda lakukan pada saat Bursa Efek Indonesia (BEI) buka pada puku 09:30 pagi itu? 

Semuanya tergantung apakah anda investor jangka panjang atau trader jangka pendek dan juga tergantung pengalaman anda (pemula, menengah, mahir). Tapi secara umum ada tiga opsi/pilihan yang bisa anda lakukan:
  1. Tidak melakukan apa-apa
  2. Jual (cut-loss/stop-loss) saham yang anda miliki
  3. Beli lagi saham anda yang turun drastis
Mari kita telaah ketiga pilihan tersebut.


1. Tidak Melakukan Apa-apa

Ini yang umumnya dilakukan para pemain saham karena tidak melakukan apa-apa adalah pilihan termudah. Tapi yang termudah biasanya bukanlah yang terbaik. Lagipula, pilihan ini biasanya tidak dipilih tetapi lebih karena si pemain saham terkesiap melihat saham yang dimilikinya turun drastis dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Saya masih ingat kala pertama kali mengalami saham turun drastis pada saat pasar dibuka. Saya hanya menatap monitor dengan mulut ternganga, otak saya membeku, kalut memikirkan kerugian yang saya derita, tapi tak tahu apa yang harus saya lakukan.

Kalau anda adalah investor jangka panjang tindakan tidak melakukan apa-apa bisa jadi adalah pilihan yang tepat. Menjual ketika pasar sedang panik biasanya berarti anda menjual di harga rendah. Memang, sangat mungkin saham-saham  akan turun lebih rendah lagi. Tapi karena anda sudah memegang saham tersebut dalam jangka waktu lama ada baiknya anda menunggu beberapa hari sampai panik mereda sebelum memutuskan tindakan yang harus anda lakukan:jual atau tetap memegang saham tersebut.

Tapi kalau anda adalah trader/pedagang jangka pendek, tidak melakukan apa-apa adalah tindakan salah. Sebagai trader anda seharusnya sudah menentukan titik cut-loss saham anda pada saat anda membeli saham tersebut. Karena pasar turun drastis, kemungkinan saham anda sudah melampaui titik cut-loss  yang anda tentukan tersebut. Jadi seyogyanya anda harus mencoba untuk menjual (cut-loss) saham-saham tersebut. 


2. Jual (cut-loss/stop-loss) saham yang anda miliki

Misalkan anda punya saham BBRI dan titik cut-loss sudah ditentukan pada harga Rp 6850. Melihat DJIA, S&P500, Nasdaq dan indeks-indeks bursa Asia berguguran, anda memutuskan untuk menjual saham tersebut pada saat pasar dibuka.

Katakanlah anda memasukkan order jual BBRI pada harga Rp 6850 pada sesi pre-opening, padahal BBRI tutup pada harga Rp 7100 pada tanggal 04 Agustus 2011. Masalahnya pastikah saham tersebut laku terjual pada harga cut-loss anda?

Pada kondisi normal, kalaupun anda memasukkan order jual saham di pre-opening dengan harga jauh di bawah harga penutupan kemarin, kemungkinan besar saham tersebut akan laku di kisaran harga penutupan kemarin. Jadi kalau anda memasukkan order jual BBRI di 6850 padahal harga penutupan kemarin 7100, kemungkinan BBRI anda akan laku di harga 7000 atau 7050. Tapi karena semalam bursa Amerika hancur lebur dan disusul anjloknya bursa-bursa Asia, kondisi hari itu bukanlah kondisi normal.

Kenyataannya, BBRI dibuka di pre-opening pada harga Rp 6600, 500 rupiah di bawah harga close kemarin! Ini berarti BBRI langsung anjlok melewati titik cut-loss anda di Rp 6850. Apa yang harus anda lakukan? Tunggu dan berharap BBRI naik sampai ke harga  6850 atau langsung menurunkan harga jual BBRI anda tersebut ke 6600? 

Pemain saham biasanya membuat keputusan tergantung pada harga berapa ia membeli saham tersebut. Kalau anda membeli BBRI di harga Rp 6000, tidaklah terlalu menyakitkan untuk langsung menjual di  6600. Tapi kalau anda membeli BBRI di harga Rp 7100 kemarin sore, sangat mungkin anda tidak rela menjual di harga 6600 ini.

Seharusnya harga jual saham anda tidak tergantung pada harga beli tapi hanya tergantung harga cut-loss atau stop-loss yang sudah anda tentukan. Jadi kalau harga saham anda sudah turun ke bawah titik cut-loss tersebut, anda harus rela menjual saham tersebut. Yang boleh anda lakukan hanyalah berusaha menjual di harga terbaik.

Kalau anda seorang pemula, tidak ada salahnya anda langsung menjual di harga bid saat itu (6600). Tapi kalau anda siap mengambil resiko, anda bisa coba meng-"offer" saham BBRI tersebut beberapa poin di harga pembukaan tersebut. Karena BBRI dibuka di 6600, cobalah anda pasang "offer" di harga 6700 atau 6750.

Mengapa ini layak dicoba?

Ingin tahu jawabannya? Lanjut baca ke pos "Dow Jones Turun 513 Points Semalam. Tindakan Apa Yang Bisa Anda Lakukan? (Bagian II)."






[Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saturday, July 23, 2011

Arti Istilah "Cum" dan "Ex" Dividen

“JPFA kok langsung turun 300 perak pagi ini?” tanya Riva, seorang dealer di sekuritas saham, bingung karena saham JPFA turun menjadi Rp 4675 dari harga Rp 4975 hari sebelumnya.

“Hari ini JPFA Ex Dividen Rp 365 ,” jawab Aniza.

Apa sebenarnya maksud Cum dan Ex dividen, atau Cum dan Ex, Cum dan Ex lainnya di pasar saham? 

Cum dan Ex adalah istilah yang dipakai pelaku pasar untuk membedakan hari terakhir seorang investor masih mendapat hak atas sahamnya dan hari berikutnya di mana hak tersebut sudah tidak berlaku. Hak yang dimaksud tersebut bisa dividen, saham bonus, rights, dan lain-lain.

Cum = hari terakhir bursa di mana pemegang saham masih memiliki hak atas kepemilikan saham.

Ex = satu hari kerja bursa setelah Cum dan merupakan hari pertama di mana hak atas kepemilikan saham sudah kadaluwarsa.

Mari kita lihat contoh saham JPFA yang membagikan dividen dengan jadwal berikut: 

Dividen tunai: Rp 365.
Cum dividen: 30 Juni 2011
Ex dividen: 01 Juli 2011
Tanggal pembayaran: 14 Juli 2011

Dengan mengacu jadwal di atas, investor/pemain saham yang memiliki saham JPFA sampai bursa ditutup pada tanggal 30 Juni 2011 berhak mendapat dividen JPFA sebesar Rp 365. Investor/pemain saham yang membeli JPFA pada tanggal 01 Juli 2011tanggal Ex dividen—tidak lagi berhak atas dividen tersebut.  

Anda perlu memperhatikan bahwa tanggal Ex adalah selalu satu hari kerja bursa setelah hari Cum. Perhatikan pula bahwa tanggal pembayaran dividen biasanya sekitar 10 hari kerja dari tanggal Ex dividen.

"Jadi sebenarnya berapa lama sih saya harus memegang saham JPFA untuk mendapat dividen?” tanya anda masih kurang jelas. 

Kalau anda membeli JPFA pada hari Cum dan menjual pada hari Ex, anda berhak mendapatkan dividen saham tersebut. Artinya, walaupun anda hanya memiliki saham tersebut selama satu hari, asalkan anda memegang saham tersebut sampai bursa tutup pada hari Cum, anda tetap berhak atas dividen.

Tiba-tiba anda mendapat ide cemerlang. “Kalau saya membeli saham pada hari Cum dan menjual pada hari Ex, saya bisa mendapatkan keuntungan dividen dengan mudah,” begitu pikir anda. 

Sayangnya, banyak pelaku pasar lain yang sudah terlebih dulu berpikiran sama dengan anda. Karena itu, yang biasa terjadi pada hari Ex adalah harga saham tersebut akan turun sejumlah besarnya dividen.

Coba saja perhatikan saham CPIN yang Cum dividen tunai sebesar Rp 39.80 pada tanggal 16 Juni 2011; harga penutupan pada hari itu adalah Rp 1880. Pada saat ia mulai diperdagangkan pada hari Ex—17 Juni 2011saham tersebut turun ke 1840, sebesar dividen yang sudah kadaluwarsa tersebut. Jadi bila anda membeli saham pada hari Cum dengan rencana mendapatkan dividen dan lalu menjual di hari Ex, belum tentu anda akan mendapat keuntungan.

Ini tidak berarti saham tersebut tidak akan naik lagi pada hari-hari berikutnya. Sering juga terjadi saham yang turun pada hari Ex dividen, beberapa hari kemudian kembali naik ke harga yang lebih tinggi dari harga Cum.

Coba anda perhatikan kembali saham CPIN. Pada tanggal 22 Juni 2011, tiga hari setelah hari Ex, CPIN ditutup di harga 1930. Demikian pula JPFA. Lima hari bursa setelah Ex, tanggal 08 Juli 2011 JPFA ditutup di harga 5250.

Memang, kebanyakan saham turun harganya pada hari Ex dividen tapi ada juga saham yang malahan naik. Contohnya Astra International, ASII. Saya ingat sudah beberapa kali saham ASII turun sedikit pada pembukaan perdagangan hari Ex dividen lalu langsung naik ke harga yang lebih tinggi dari harga hari sebelumnya. Artinya, investor yang memiliki saham ini selain mendapatkan dividen juga mendapat capital gain kalau ia menjual saham tersebut.

Intinya, tidak ada yang absolut di bursa saham. Kebanyakan saham akan turun pada hari Ex tapi ada juga yang naik. Beberapa hari setelah Ex, ada yang saham naik lagi tapi ada juga yang terus turun. Tapi saya berharap setelah membaca pos ini anda setidak-tidaknya tahu arti "Cum" dan "Ex" dan juga tahu alasan mengapa saham-saham Ex dividen langsung anjlok pada saat pembukaan perdagangan.






Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]