Monday, February 25, 2013

Analisa Teknikal Saham Untuk Pemula, Bagian 2

Pos ini adalah lanjutan dari pos "Analisa Teknikal Saham Untuk Pemula, Bagian 1."

Anda sudah mulai meng-input data harga Open, High, Low, Close saham. Apa saja yang perlu anda perhatikan dari data-data ini? Mari kita telaah satu persatu.


A. Open (Buka)

Yang perlu anda perhatikan dari Open adalah apakah harga Open ini di Prv Price (harga penutupan kemarin), di atas Prv Price, atau di bawah Prv Price.

Kalau harga saham Open di Prv Price, hal ini tidak berindikasi apa-apa. (Open di Prv Price yang saya maksud ini tidak selalu harus TEPAT di titik Prv Price; satu poin di atas atau pun satu poin di bawah bisa juga termasuk kategori ini.)
 
Kalau harga saham Open di atas Prv Price, saham tersebut relatif Bullish. Semakin tinggi Open di atas Prv Price, semakin Bullish.

Kalau harga saham Open di bawah Prv Price, saham tersebut relatif Bearish. Semakin rendah Open di bawah Prv Price, semakin Bearish.

(Kalau anda belum mengerti arti kata Bullish dan Bearsih, silahkan baca dulu pos "Arti 'Bullish' dan 'Bearish' di Bursa Saham.")

Perlu anda perhatikan bahwa harga saham pada umumnya Open di harga Prv Price (harga penutupan kemarin). Karena sifatnya yang umum, kondisi ini tidak mencerminkan apa-apa.

Lain halnya dengan saham yang harga Open-nya di atas ataupun di bawah harga Prv Price.

Mengapa?

Mari kita pikirkan bersama. 

Kalau harga saham dibuka di atas Prv Price, penyebabnya adalah dorongan beli yang kuat. Pembeli saham yakin bahwa saham tersebut masih murah walaupun ia membeli di harga jauh lebih tinggi dari Prv Price. Aksi beli inilah yang membuat saham tersebut (relatif) Bullish.

Di tabel 1 anda bisa melihat pada tanggal 27 Februari 2013 TLKM Open > Prv Price. Pada sore hari tersebut TLKM ditutup naik 3.05%.

Tabel 1. Telkom Open Di Atas Prv Price Pada Tanggal 27 Feb 2013

Kebalikannya, kalau harga saham dibuka di bawah Prv Price, penyebabnya adalah dorongan jual yang besar. Penjual saham yakin bahwa saham ini layak diobral jauh di bawah harga Prv Price. Aksi jual ini membuat saham tersebut (relatif) Bearish.

Di tabel 2 anda bisa lihat pada tanggal 12 Desember 2012 UNVR Open < Prv Price. Pada hari itu UNVR ditutup turun 10.79%.

Tabel 2. UNVR Open Di Bawah Prv Price Pada Tanggal 12 Des 2012

Kalau gitu, anda berpikir, saya beli saja saham yang Open di atas Prv Price. Kalo bullish kan berarti saham masih akan naik? Dengan mudah bisa saya jual saham tersebut di harga lebih tinggi.

Nah, itu teorinya. Prakteknya tidak semudah itu. Karena itu, ada baiknya saya beri peringatan terlebih dulu.

PERINGATAN! WARNING:
Jangan langsung melakukan aksi jual-beli saham berdasarkan apa yang anda baca di pos ini dan lanjutannya. Analisa teknikal yang anda pelajari di sini masih terlalu minim untuk dipakai sebagai dasar jual-beli saham. Lagipula, anda perlu lebih dari satu data untuk membuat keputusan terpelajar.

OK. Mari kita lanjut.

Perhatikan saya memakai kata relatif di depan kata Bullish (dan Bearish). Artinya, tingkat Bullish suatu saham tidaklah sama. Tingkat/level Bullish ini tergantung pada banyak hal (seberapa tinggi di atas Prv Price, seberapa lama daya tahannya, pergerakan naik turun harga, dll).

Bahkan ada juga kondisi saham Open di atas Prv Price yang tidak termasuk Bullish. Misalkan Prv Price saham IDKM adalah Rp 1500. Di pagi hari, IDKM Open di 1550 tapi beberapa menit kemudian IDKM turun lagi menjadi 1500.

Mengapa hal seperti ini terjadi?

Salah satu kemungkinan adalah karena kesalahan order. Artinya: sebenarnya Yesico mau JUAL IDKM di harga 1550 tapi dia malah memasukkan order BELI di 1550. Ketika Yesico masih shock memandangi monitor komputer, pemain-pemain saham yang dari hari sebelumnya ingin menjual di harga 1510, 1520, 1530, 1540, 1550 langsung menggunakan kesempatan ini untuk menjual. Tidak heran beberapa menit kemudian harga saham turun ke harga Prv Price di 1500.

Nah, kondisi seperti di atas tidak termasuk kondisi Bullish karena harga Open di atas Prv Price hanya bertahan dalam waktu singkat.

Tapi secara umum, harga saham Open di atas Prv Price mengindikasikan kondisi Bullish. Semakin lama harga bertahan di atas Prv Price, semakin tinggi tingkat Bullish-nya. Semakin tinggi Open di atas Prv Price, juga semakin Bullish.

Kebalikannnya, harga saham Open di bawah Prv Price mengindikasikan kondisi Bearish. Semakin lama harga bertahan di bawah Prv Price, semakin tinggi tingkat Bearish-nya. Semakin rendah Open di Prv Price, juga semakin Bearish.

(Saya akan menulis tingkatan Bullish dan Bearish ini di pos tersendiri.)

Data berikut yang akan kita analisa adalah High and Low. Silahkan lanjut baca ke pos "Analisa Teknikal Saham Untuk Pemula, Bagian 3."








Pos-pos yang berhubungan:
[Pos ini ©2013 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

Saturday, January 19, 2013

Analisa Teknikal Saham Untuk Pemula, Bagian 1

Anda sudah mulai bermain saham dan ingin belajar analisa teknikal.

Bagaimana memulainya?

Banyak pemain saham pemula—karena disarankan penulis atau pelatih saham karbitan—yang langsung menyelami indikator analisa-analisa teknikal yang (relatif) rumit: Moving Average, Bollinger Band, MACD, Stochastic, Elliot Wave Theory, Angka Fibonacci, dan sebagainya.

Cara ini tidak tepat karena hal ini sama saja dengan anda disarankan mengemudikan pesawat terbang pada hari pertama masuk sekolah pilot. Menurut anda kira-kira apa yang akan terjadi? (Saya sih tidak mau naik pesawat tersebut.)

Saran saya: Belajar analisa teknikal—seperti belajar ilmu apapun—harus dimulai dari dasar. Nah, apa sebenarnya dasar dari analisa teknikal?

Dasar utama dari analisa teknikal adalah HARGA saham. Dan harga saham biasanya dibagi menjadi empat komponen:
    A. OPEN (Buka)
    B. HIGH (Tinggi)
    C. LOW (Rendah)
    D. CLOSE/LAST (Tutup)
      (Kalau anda belum tahu arti Open, High, Low, Close, silahkan baca dulu pos "Empat Komponen Harga Saham Yang Perlu Anda Ketahui.")

      Jadi, kalau anda benar serius mau belajar analisa teknikal, langkah pertama adalah dengan mencermati harga Open, High, Low, Close dari saham yang anda pantau. Setiap hari.

      Mengapa harus setiap hari?

      Karena harga Open, High, Low, Close pada satu hari TIDAK layak dijadikan indikasi untuk transaksi saham.

      Mengapa begitu, tanya anda.

      Mengacu pada ilmu statistik, satu data tidak sepatutnya digunakan untuk mengambil kesimpulan. Kita perlu data lebih dari satu.

      Berapa banyak, tanya anda lagi.

      Makin banyak, makin baik.

      Lah, kalau terlalu banyak, sanggah anda, saya jadi super bingung.

      Bukan cuma anda yang bingung; saya juga. Memang sulit mencermati data dalam bentuk angka kalau datanya banyak. Maka dari itu data harga saham berhari-hari tersebut—agar mudah dibaca—ditampilkan dalam bentuk grafik. Tampilan grafik harga saham yang umum adalah Bar Chart dan Candlestick Chart.

      Figure 1. Komponen Open, High, Low, Close Harga Saham Dalam Bar/Candlestick Chart
      [Sumber: Technical Analysis of the Financial Market hal. 298]


      Jadi, grafik saham yang biasa anda lihat adalah kumpulan harga Open, High, Low, Close berhari-hari dari saham tersebut.

      Perhatikan:
      1. High adalah selalu titik paling tinggi.
      2. Low adalah selalu titik paling rendah.
      3. Kalau Close di atas Open, artinya harga saham naik pada hari itu.
      4. Kalau Close di bawah Open, artinya harga saham turun pada hari itu.
      5. Open pada hari ini BELUM TENTU sama dengan Close pada hari sebelumnya. (Silahkan teliti lagi pos "Empat Komponen Harga Saham Yang Perlu Anda Ketahui.")
      6. Kalau Close di atas Close Kemarin (Prv Price), artinya harga saham naik dibanding kemarin.
      7. Kalau Close di bawah Close Kemarin (Prv Price), artinya harga saham turun dibanding kemarin. 

      Input Data Open, High, Low, Close Secara Manual

      Anda sudah tahu bahwa grafik bersumber dari data Open, High, Low, Close. Nah, sebelum mendalami grafik, saya anjurkan anda untuk meng-input secara manual data Open, High, Low, Close pada program spreadsheet (seperti Microsoft Excel, dan sejenisnya) seperti contoh di bawah ini:

      Figure 2. Data Harga Open High Low Close ASII November 2008

      Prev Price = Close hari sebelumnya.
      +/- = Close - Prev Price
      +/-% = (+/-)/Prev Price

      Lakukan ini setiap hari untuk semua saham yang anda pantau.

      Kok perlu meng-input data Open, High, Low, Close ini secara manual? protes anda. Kan sudah ada grafiknya?

      Belajar menulis huruf tidak bisa anda lakukan hanya dengan memelototi huruf a, b, c, d, e; belajar menulis harus anda lakukan dengan melihat contoh huruf dan MENULIS huruf tersebut.

      Demikian pula dengan analisa teknikal: anda harus meresapi angka Open, High, Low, Close. Dan cara meresapinya adalah dengan menulis atau mengetik ulang angka-angka tersebut. Dengan melakukan hal ini anda akan bisa menguasai dasar analisa teknikal dengan baik.

      Ingat: memeloti angka tersebut selama berjam-jam kalah faedahnya dibandingkan menulis kembali angka-angka tersebut. (Anda seharusnya bersyukur dan merasa beruntung karena tidak perlu menggambar sendiri grafik tersebut karena sudah dilakukan oleh komputer).

      Jangan khawatir; anda tidak perlu meng-input data secara manual untuk selamanya. Tapi coba lakukan hal ini MINIMUM tiga bulan supaya otak anda mulai bisa mengkorelasi harga Open, High, Low, Close dalam tampilan grafik. Kalau anda melakukan hal ini dengan sungguh-sungguh, saya yakin ketika melihat grafik Candlestick, anda mulai bisa menterjemahkan grafik tersebut dalam angka-angka.

      Ingat: grafik bersumber dari angka. Hanya dengan memahami angka-angka yang membuat grafik tersebut, perlahan-lahan anda akan memahami grafik tersebut.  
         
      Nah, sekarang anda sudah tahu fondasi analisa teknikal. Apa langkah selanjutnya yang perlu anda perhatikan dari Open, High, Low, Close ini? Silahkan lanjut baca ke pos "Analisa Teknikal Saham Untuk Pemula Bagian 2."






      Pos-pos yang berhubungan:
      [Pos ini ©2013 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

      Monday, December 31, 2012

      Kapan Kondisi Ideal Untuk Investasi Saham?

      Figure 1. E.B.White's A Writer Who Waits for Ideal Conditions

      Apakah ada kondisi ideal untuk investasi atau trading saham?

      E.B.White--penulis asal Amerika Serikat--mengatakan bahwa penulis yang menunggu kondisi ideal untuk mulai bekerja akan meninggal tanpa menulis sepatah katapun.

      Kalau kita terapkan kalimat mutiara tersebut dalam konteks bermain saham, bunyinya kira-kira begini:

      Pemain saham yang menunggu kondisi ideal untuk memulai investasi saham akan keburu mampus tanpa membeli saham apapun.

      Artinya?

      Tidak ada waktu ideal untuk mulai investasi atau trading saham. Yang penting adalah anda memulainya. Hanya dengan memulai bermain saham anda akan tahu apakah saham adalah investasi yang cocok untuk anda. Kalau cocok, lanjutkan; kalau tidak, berhenti.

      Dalam belajar apapun, yang harus melangkah untuk memulainya adalah anda. Bukan suami/istri anda, bukan bapak/ibu anda, bukan anak anda, bukan teman anda. Dan langkah pertama bermain saham adalah dengan membuka rekening transaksi saham. (Silahkan baca pos "Bagaimana Cara Membeli Saham Indonesia" dan "Sekuritas/Broker Mana Yang Bagus?")

      Banyak orang hanya berkhayal kaya dari saham. Tapi semuanya hanya angan-angan, mimpi di siang bolong. Bagaimana mau sukses kalau untuk memulai saja tidak mau?

      Apakah anda tipe seperti ini?






      Pos-pos yang berhubungan:
      [Pos ini ©2012 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]