Saturday, January 19, 2013

Analisa Teknikal Saham Untuk Pemula, Bagian 1

Anda sudah mulai bermain saham dan ingin belajar analisa teknikal.

Bagaimana memulainya?

Banyak pemain saham pemula—karena disarankan penulis atau pelatih saham karbitanyang langsung menyelami indikator analisa-analisa teknikal yang (relatif) rumit: Moving Average, Bollinger Band, MACD, Stochastic, Elliot Wave Theory, Angka Fibonacci, dan sebagainya.

Cara ini tidak tepat karena hal ini sama saja dengan anda disarankan mengemudikan pesawat terbang pada hari pertama masuk sekolah pilot. Menurut anda kira-kira apa yang akan terjadi? (Saya sih tidak mau naik pesawat tersebut.)

Saran saya: Belajar analisa teknikalseperti belajar ilmu apapunharus dimulai dari dasar. Nah, apa sebenarnya dasar dari analisa teknikal?

Dasar utama dari analisa teknikal adalah HARGA saham. Dan harga saham biasanya dibagi menjadi empat komponen:
    A. OPEN (Buka)
    B. HIGH (Tinggi)
    C. LOW (Rendah)
    D. CLOSE/LAST (Tutup)
      (Kalau anda belum tahu arti Open, High, Low, Close, silahkan baca dulu pos "Empat Komponen Harga Saham Yang Perlu Anda Ketahui.")

      Jadi, kalau anda benar serius mau belajar analisa teknikal, langkah pertama adalah dengan mencermati harga Open, High, Low, Close dari saham yang anda pantau. Setiap hari.

      Mengapa harus setiap hari?

      Karena harga Open, High, Low, Close pada satu hari TIDAK layak dijadikan indikasi untuk transaksi saham.

      Mengapa begitu, tanya anda.

      Mengacu pada ilmu statistik, satu data tidak sepatutnya digunakan untuk mengambil kesimpulan. Kita perlu data lebih dari satu.

      Berapa banyak, tanya anda lagi.

      Makin banyak, makin baik.

      Lah, kalau terlalu banyak, sanggah anda, saya jadi super bingung.

      Bukan cuma anda yang bingung; saya juga. Memang sulit mencermati data dalam bentuk angka kalau datanya banyak. Maka dari itu data harga saham berhari-hari tersebutagar mudah dibacaditampilkan dalam bentuk grafik. Tampilan grafik harga saham yang umum adalah Bar Chart dan Candlestick Chart.

      Figure 1. Komponen Open, High, Low, Close Harga Saham Dalam Bar/Candlestick Chart
      [Sumber: Technical Analysis of the Financial Market hal. 298]


      Jadi, grafik saham yang biasa anda lihat adalah kumpulan harga Open, High, Low, Close berhari-hari dari saham tersebut.

      Perhatikan:
      1. High adalah selalu titik paling tinggi.
      2. Low adalah selalu titik paling rendah.
      3. Kalau Close di atas Open, artinya harga saham naik pada hari itu.
      4. Kalau Close di bawah Open, artinya harga saham turun pada hari itu.
      5. Open pada hari ini BELUM TENTU sama dengan Close pada hari sebelumnya. (Silahkan teliti lagi pos "Empat Komponen Harga Saham Yang Perlu Anda Ketahui.")
      6. Kalau Close di atas Close Kemarin (Prv Price), artinya harga saham naik dibanding kemarin.
      7. Kalau Close di bawah Close Kemarin (Prv Price), artinya harga saham turun dibanding kemarin. 

      Input Data Open, High, Low, Close Secara Manual

      Anda sudah tahu bahwa grafik bersumber dari data Open, High, Low, Close. Nah, sebelum mendalami grafik, saya anjurkan anda untuk meng-input secara manual data Open, High, Low, Close pada program spreadsheet (seperti Microsoft Excel, dan sejenisnya) seperti contoh di bawah ini:

      Figure 2. Data Harga Open High Low Close ASII November 2008

      Prev Price = Close hari sebelumnya.
      +/- = Close - Prev Price
      +/-% = (+/-)/Prev Price

      Lakukan ini setiap hari untuk semua saham yang anda pantau.

      Kok perlu meng-input data Open, High, Low, Close ini secara manual? protes anda. Kan sudah ada grafiknya?

      Belajar menulis huruf tidak bisa anda lakukan hanya dengan memelototi huruf a, b, c, d, e; belajar menulis harus anda lakukan dengan melihat contoh huruf dan MENULIS huruf tersebut.

      Demikian pula dengan analisa teknikal: anda harus meresapi angka Open, High, Low, Close. Dan cara meresapinya adalah dengan menulis atau mengetik ulang angka-angka tersebut. Dengan melakukan hal ini anda akan bisa menguasai dasar analisa teknikal dengan baik.

      Ingat: memeloti angka tersebut selama berjam-jam kalah faedahnya dibandingkan menulis kembali angka-angka tersebut. (Anda seharusnya bersyukur dan merasa beruntung karena tidak perlu menggambar sendiri grafik tersebut karena sudah dilakukan oleh komputer).

      Jangan khawatir; anda tidak perlu meng-input data secara manual untuk selamanya. Tapi coba lakukan hal ini MINIMUM tiga bulan supaya otak anda mulai bisa mengkorelasi harga Open, High, Low, Close dalam tampilan grafik. Kalau anda melakukan hal ini dengan sungguh-sungguh, saya yakin ketika melihat grafik Candlestick, anda mulai bisa menterjemahkan grafik tersebut dalam angka-angka.

      Ingat: grafik bersumber dari angka. Hanya dengan memahami angka-angka yang membuat grafik tersebut, perlahan-lahan anda akan memahami grafik tersebut.  
         
      Nah, sekarang anda sudah tahu fondasi analisa teknikal. Apa langkah selanjutnya yang perlu anda perhatikan dari Open, High, Low, Close ini? Silahkan lanjut baca ke pos "Analisa Teknikal Saham Untuk Pemula Bagian 2."






      Pos-pos yang berhubungan:
      [Pos ini ©2013 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

      Monday, December 31, 2012

      Kapan Kondisi Ideal Untuk Investasi Saham?

      Figure 1. E.B.White's A Writer Who Waits for Ideal Conditions

      Apakah ada kondisi ideal untuk investasi atau trading saham?

      E.B.White--penulis asal Amerika Serikat--mengatakan bahwa penulis yang menunggu kondisi ideal untuk mulai bekerja akan meninggal tanpa menulis sepatah katapun.

      Kalau kita terapkan kalimat mutiara tersebut dalam konteks bermain saham, bunyinya kira-kira begini:

      Pemain saham yang menunggu kondisi ideal untuk memulai investasi saham akan keburu mampus tanpa membeli saham apapun.

      Artinya?

      Tidak ada waktu ideal untuk mulai investasi atau trading saham. Yang penting adalah anda memulainya. Hanya dengan memulai bermain saham anda akan tahu apakah saham adalah investasi yang cocok untuk anda. Kalau cocok, lanjutkan; kalau tidak, berhenti.

      Dalam belajar apapun, yang harus melangkah untuk memulainya adalah anda. Bukan suami/istri anda, bukan bapak/ibu anda, bukan anak anda, bukan teman anda. Dan langkah pertama bermain saham adalah dengan membuka rekening transaksi saham. (Silahkan baca pos "Bagaimana Cara Membeli Saham Indonesia" dan "Sekuritas/Broker Mana Yang Bagus?")

      Banyak orang hanya berkhayal kaya dari saham. Tapi semuanya hanya angan-angan, mimpi di siang bolong. Bagaimana mau sukses kalau untuk memulai saja tidak mau?

      Apakah anda tipe seperti ini?






      Pos-pos yang berhubungan:
      [Pos ini ©2012 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] 

      Saturday, December 15, 2012

      Cara Main Saham Untuk Pemula: Setelah Beli (Bagian IV)


      Kalau saham yang anda beli (relatif) tidak naik tidak turun, langkah berikut apa yang terbaik?

      Sebelum berdiskusi lebih lanjut, ada baiknya kita perjelas dulu definisi "saham (relatif) tidak-naik-tidak-turun" ini.

      Saham yang saya maksud bukan saham yang tidak ada kejadian ("match" atau "trade done") sama sekali. Contoh saham tipe ini: saham yang tidak aktif (tidak ada yang beli dan jual), atau juga saham yang sudah turun ke harga minimum yang ditentukan Bursa Efek Indonesia (Rp50 pada saat ini) di mana saham tersebut sudah tidak bisa turun lebih lanjut di Pasar Regular, tetapi juga tidak ada yang mau beli di harga tersebut.

      Yang saya maksud dengan saham yang (relatif) tidak-naik-tidak-turun adalah saham "aktif" yang bergerak dalam kisaran harga tertentu, istilah kerennya: bergerak "sideway." Lagi-lagi kita harus menyamakan persepsi arti "bergerak dalam kisaran" ("sideway") ini agar diskusi kita relevan untuk investor jangka panjang dan juga untuk pemain saham jangka pendek.

      Saham tidak-naik-tidak-turun yang saya maksud adalah saham yang tidak naik sampai ke harga di mana anda akan mulai menjual dan juga tidak turun sampai ke harga di mana anda harus cut-loss.

      [Catatan: Definisi saham tidak-naik-tidak-turun di  sini lebih spesifik daripada definisi umum saham sideway yang saya tulis di pos "Definisi Uptrend, Downtrend, Sideway (Bagian III)." Mengapa? Karena kita sudah menentukan harga batas atas dan batas bawah saham tidak-naik-tidak-turun ini.]

      Contoh: Misalkan anda membeli saham INTP di harga Rp 10.000 dan menetapkan untuk cut-loss kalau INTP turun ke Rp. 9.000 dan akan mulai menjual kalau saham tersebut naik ke harga 10.500. Tapi INTP hanya turun ke 9700, lalu naik ke 10.300. Lalu turun lagi ke 9.500, naik lagi ke 10.200. Lalu turun lagi ke 9.600 sebelum naik lagi ke 10.300. Lalu turun lagi ke .... Saya rasa anda mengerti maksud saya.

      Apa yang harus anda lakukan untuk saham seperti ini?

      Saran saya: Jual.

      Lah, kok bisa? anda protes. Kan belon turun sampai harga cut-loss?

      Protes anda sangat beralasan. Tapi mari kita pikirkan bersama mengapa sebaiknya anda menjual saham yang tidak-naik-tidak-turun ini.

      Ketika bermain saham, kita tidak perlu terpaku hanya pada satu saham. Tapi saya juga selalu menyarankan agar pemula jangan punya terlalu banyak macam saham dalam portofolio. Fokus pada 5 saham berbeda. Jangan punya lebih dari 10.

      Kalau anda menuruti saran ini dan fokus hanya pada 5 saham, tetapi semua saham ini tidak-naik tidak-turun dalam jangka waktu yang lama, sedangkan banyak saham lain (yang tentu saja tidak anda miliki) naik pesat, bagaiman perasaan anda?

      Anda tentu sangat kecewa. Tetapi semua modal anda sudah ditanamkan pada 5 saham yang tidak-naik-tidak-turun ini. Kalau anda tidak menjual, anda tidak punya modal untuk beli saham lain. Kalau anda tidak menjual, anda kehilangan kesempatan untuk meraup untung dari saham lain. Opportunity lost.

      Ini adalah alasan pertama untuk menjual saham yang tidak-naik-tidak-turun.

      Mari kita lihat skenario kebalikannya: kalau semua saham anda tidak-naik tidak-turun, tetapi semua saham lain malah anjlok tajam, bagaimana perasaan anda?

      Anda tentu senang. Tetapi, kesenangan anda ini tidak akan berlangsung lama.

      Mengapa?

      Karena ada dua kemungkinan yang bisa terjadi:

      1. Saham anda yang tidak-naik-tidak-turun, karena setia-kawan dengan saham-saham lain, akhirnya akan ikut anjlok mencapai harga cut-loss anda.

      Ini adalah alasan kedua untuk menjual saham yang tidak-naik-tidak-turun.

      2. Saham anda tetap tidak-naik tidak-turun, tetapi saham-saham lain yang sudah anjlok parah akhirnya naik lagi. Kalau anda membeli saham ini setelah mereka anjlok, anda bisa untung besar. Tapi sayangnya anda tidak punya uang untuk membeli karena semua modal anda terpasung di saham yang tidak-naik-tidak-turun.

      Ini adalah alasan ketiga untuk menjual saham yang tidak-naik-tidak-turun.

      Intinya: tidak menjual saham yang tidak-naik-tidak-turun ada "opportunity cost"nya, ada "biaya kesempatan" yang hilang karena anda tidak bisa membeli saham lain.

      OK, kata anda, masuk akal juga. Tapi jualnya di harga berapa? Kapan?

      Silahkan lanjut baca ke pos "Cara Main Saham Untuk Pemula: Setelah Beli (Bagian V)."






      Pos-pos yang berhubungan:
      [Pos ini ©2012 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]